HALOOOOOO BERTEPATAN DENGAN RILISNYA MV LOTTO, AKU JADI KE INGET FF INI.
KENAPA? KARENA DI MV ITU CHANYEOL IS HOT DADDY MATERIAL BANGET SIALLLLL.
UDAH NONTON KAN KALIAN?! UDAH YA PASTI KKKKK~
Sekalian aku mau jelasin kalo fanfict ini berisi tentang park family mini diary, tentang penggalan keseharian mereka aja, ya kebahagiaan mereka pastinya. Namanya juga kan mini diary hehe
Terus masalah disini chanbaek di panggil umma/appa/ayah/ibu/daddy/mommy
Panggilannya umma/appa kok ya, cuma mereka emang suka selingan percakapan pake bahasa inggris, biar gawl gitu gawl /gak/
Selebihnya nanti di bawah Lin mau tanya sesuatu yah, respon yaaa, jangan lupa di review biar semangat eheh
MAKASIH YAAA BUAT YANG SUDAH MEREVIEW^^
baca ff Lin yg lain juga yah eheh
Last.
Selamat membaca!
PARK FAMILY MINI DIARY
Present by. Lin Shouta
Main cast:
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
Support Cast:
- Kim Taehyung as child
- Jesper as child
- Jackson as child
Genre:
Family life, Marriage life, Romance, Drama, MPREG!
Rated:
T/M (bisa berubah seiring dengan alur)
Disclaimer:
Cerita fiksi ini adalah dari pemikiran dan khayalan receh Shouta. Do not copy-cat. Hargai kerja keras seseorang.
WARNING!
YAOI, BOYS LOVE, BOY X BOY, FUJOSHI, LAKI X LAKI, M-PREG!
Kalau kalian suka, silahkan di baca, jika tidak, silahkan tekan tombol back dari awal.
Summary:
Mini diary Byun Baekhyun yang menjadi seorang ibu rumah tangga dari keluarga Park. Mengurus seorang suami serta ketiga anak nya. Susah, sedih, senang mereka lewati bersama. Kehidupan keluarga yang sempurna dan begitu harmonis. Baekhyun bahagia memiliki mereka.
Hope you like it! ^^
Enjoy^^
.
Chapter 2. Their Activities
.
Jesper sedang duduk terdiam di bangku kelasnya. Jarinya bergerak, diikuti mulutnya yang terlihat komat-kamit merapalkan sesuatu. Anak kedua Park Chanyeol dan Byun Baekhyun ini terlihat begitu serius sampai alisnya bertaut.
"Dua puluh dikurang enam, sama dengan..." gumam Jesper pada dirinya sendiri. Jari-jari tangannya masih bergerak. Rupanya anak ini sedang mengerjakan tugas berhitung yang di berikan gurunya.
Jesper duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Ia bersekolah di sekolah yayasan milik keluarga Kim Suho, yang dulunya adalah sahabat Appanya semasa sekolah. Di dalam sekolah keluarga Kim, terdapat Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak yang mana menjadi satu lingkungan sekolah. Berbeda gedung namun masih dalam satu lingkup lingkungan.
Chanyeol dan Baekhyun memilih sekolah ini untuk anak-anaknya karena akan lebih mudah mengontrol aktivitas kedua anaknya yang masih kecil, yaitu Jesper dan Jackson. Dengan berada di satu lingkungan sekolah, akan lebih mudah bukan mengontrol dan mengantar jemput anaknya? Jesper duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, sementara Jackson ada di kelas A Taman Kanak-Kanak. Lalu bagaimana dengan Taehyung?
Taehyung bersekolah di Senior High School pilihannya, Anak sulung dari keluarga Park Chanyeol dan Byun Baekhyun ini sekarang tengah menikmati masa-masa tingkat dua di SMA nya.
Oke, mari kembali pada Park Jesper yang masih sibuk berhitung dengan jari-jarinya.
Raut wajah Jesper kini mulai terlihat bahwa ia benar-benar memperkerja keraskan otaknya. "Berapa sih ini?"
Oh Ziyu -teman sebangkunya- menoleh ke arah Jesper. "Kenapa Njess?"
Jesper menoleh ke arah Ziyu, lalu ia melirik ke buku milik Ziyu yang sepertinya sudah hampir selesai menyelesaikan tugasnya. "Ziyu sudah selesai?"
"Eung, sebentar lagi." ucap anak berperawakan China-Korea itu.
Jesper terlihat mengerucutkan bibirnya. Demi Tuhan tidak tahukah ia kalau sekarang dirinya terlihat begitu menggemaskan? Ziyu memang anak yang pintar dan berprestasi di kelasnya. Jesper selalu merasa iri dengan Ziyu yang selalu berada di atasnya. Bukan iri dalam artian yang buruk, melainkan ia juga ingin dan bertekad menjadi yang pertama di kelasnya. Agar Appa dan Umma nya semakin bangga padanya.
Ziyu melihat pekerjaan Jesper di bukunya, "Njess belum selesai?"
Jesper menggelengkan kepala, "soal nomor delapan ini susah. Njess sudah menghitungnya berkali-kali." tuturnya.
"Luhan Umma bilang, kalau bilangan di soal pengurangan ada lebih dari 10, simpan 20 di otak dan 6 di tangan," Ziyu memperlihatkan ke enam jarinya di depan Jesper yang sedang memperhatikan dan mendengarkannya dengan seksama. "Lalu hitung mundur, habis 20 adalah 19, 18, 17, 16, 15, 14!"
Ziyu selesai mempraktekan teorinya pada Jesper.
"Jadi 20-6 adalah 14?"
Ziyu mengangguk paten.
"Terimakasih Ziyu." Jesper menampilkan gigi-giginya yang rapih pada Ziyu yang di balas senyuman manis dari anak laki-laki berwajah cantik itu.
Anak laki-laki bermata bulat itu sedang menekuni buku gambarnya. Tangannya bergerak lincah dengan sebuah crayon berwarna hijau terselip di antara jari jempol dan telunjuk kecilnya.
"Anak-anak, sudah selesai menggambarnya?" ucap sang guru di depan.
"Sebentar lagi Seonsangnim!" teriak Jackson dengan nyaring kemudian melanjutkan kembali kegiatan nya.
Sang guru berkeliling memperhatikan hasil karya anak-anak didiknya. Meskipun gambar mereka belum begitu sempurna, tapi untuk kelincahan tangan kecil mereka bisa dibilang cukup bagus dan ini adalah suatu bentuk kemajuan untuk diri mereka.
"Jackson-ah, kau menggambar apa, hm?" tanya sang guru ketika berada di samping meja Jackson.
"Njack menggambar Appa, Umma, Phiyung, Njess hyung dan adik bayi, Seonsangnim." jelasnya dengan sangat lucu.
"Wah adik bayi, apakah Njack punya adik baru?"
Jackson menggeleng, "Tidak, tapi Njack ingin punya adik bayi seperti Daeul hyung." Ow, anak itu sekarang menampilkan wajah sedihnya. Membuat sang guru mengusap-usap kepalanya dengan sayang.
"Njack jangan sedih, nanti Umma dan Appa Njack akan memberikan adik untuk Njack, ne?" ucapnya sebagai kalimat penenang untuk Jackson. Namun, ia tidak tahu bahwa kalimat yang ia ucapkan pada Jackson di anggap mutlak oleh anak itu. Itulah Jackson, yang harus di turuti kemauannya.
"Benarkah Seonsangnim? Appa dan Umma pasti memberikan adik bayi untuk Njack?"
Sang guru yang memiliki nama Irene itu mengangguk dan tersenyum dengan cantik ke arah Jackson. Lalu tiba-tiba anak itu bersorak riang di bangkunya.
"Yeay! Njack mau punya adik baru! Taeoh! Njack mau punya adik baru!" serunya pada Taeoh -teman sebangkunya- anak dari Kim Jongin dan Do Kyungsoo.
"Njack mau punya adik baru?" sahut Taeoh sambil membulatkan matanya. Anak yang memiliki wajah begitu mirip dengan Ayahnya ini juga ikut antusias atas seruan Jackson.
"Ne! Kata Seonsangnim Umma dan Appa Njack akan memberikan Njack adik bayi seperti Daeul hyung!"
"Hore! Selamat Njack!" Taeoh memeluk Jackson, tidak menghiraukan teman-temannya yang kelihatannya tertarik dengan percakapan kedua anak laki-laki itu.
"Sudah sudah Taeoh, Njack. Ayo selesaikan tugas menggambar kalian, anak pintar."
"Ne Seonsangnim/Ne Seonsangnim!" jawab kedua anak itu berbarengan.
Taehyung bergerak lincah di tengah lapangan bersama teman-teman sekolahnya. Kakinya bergerak cepat dan tangannya bergerak lihai mengoper serta mendribble bola basketnya. Keringat membanjiri keningnya yang tertutup oleh headband hitam kesayangannya -headband pemberian Appa nya- juga jangan lupakan keringat yang turun mengalir ke bagian leher dan turun membasahi tubuhnya.
Ia bukan sedang dalam pelajaran olahraga di kelasnya, melainkan sedang memanfaatkan jam kosong karena Jung Seonsangnim tidak mengajar dengan alasan cuti kehamilan. Ini adalah kegiatan favorite Taehyung di sekolahnya selain tidur di atap sekolah atau di uks. Taehyung begitu menyukai basket, ia juga menjadi kapten di klub basket sekolahnya. Hal itu tak urung membuat wanita-wanita entah itu satu angkatan dengannya, adik kelasnya, ataupun kakak kelasnya begitu memuja Taehyung sampai akhirnya membuat anak itu jengah mendengar pekikan tidak jelas dari suara-suara cempreng mereka.
Taehyung terus mendribble bola, mengecoh lawannya dengan gerakannya yang begitu cepat dan lincah.
"Taehyung!" seru temannya, mengisyaratkan dirinya agar mengoper bola ke arahnya. Taehyung menoleh dan mengoper bola itu dengan cepat. Namun bola itu memantul dan melambung tinggi hingga temannya tidak bisa menggapai bola tersebut, rupanya Taehyung terlalu bersemangat hari ini.
Taehyung membulatkan matanya ketika bola itu melambung mengarah ke seseorang di pinggir lapangan yang sedang membawa tempat sampah di tangannya.
"AWAS!"
BRUK!
Bola itu telak mengenai kepala sosok yang tadi di pinggir lapangan dengan tempat sampah di tangannya. Orang itu pingsan seketika dan tempat sampah yang ada di tangannya ikut terjatuh, membuat sampah di dalamnya berserakan.
"Astaga." Taehyung megang kepalanya. Ia berlari menghampiri orang yang sudah tergeletak di pinggir lapangan itu.
Ia berjongkok, menepuk-nepuk pipi orang itu. "Yah! Bangunlah." Karena tidak terlihat tanda-tanda orang itu akan membuka matanya, akhirnya Taehyung memutuskan untuk menggendong orang itu dan membawanya ke uks.
"Aku akan membawanya ke uks, kalian lanjutkan permainan kalian." ucapnya pada teman-temannya sambil menggendong orang yang pingsan itu dengan gaya brydal.
Taehyung membuka pintu ruang uks dengan susah payah. "Permisi, uisa-nim."
Taehyung masuk sambil menengok ke kanan dan ke kiri, berniat mencari dokter penjaga uks tersebut, namun tidak ada siapapun disana. Apakah tidak ada yang bertugas menjaga uks hari ini?
Tsk! Menyusahkan. Gerutunya.
Akhirnya Taehyung memutuskan untuk merebahkan sosok yang ada di falam gendongannya ke ranjang pasien di dalam uks. Dengan hati-hati ia meletakkan kepala orang itu ke sebuah bantal.
Taehyung bertolak pinggang, "Tsk! Apa yang harus aku lakukan?"
Ia menatap sekeliling ruang uks tersebut dan mendapat sebuah kotak P3K menempel di dinding. Ia berjalan ke arah kotak obat tersebut, mencari balsem atau semacamnya untuk membuat orang itu sadar. Taehyung mengobrak-abrik isi kotak obat tersebut sampai akhirnya mendapatkan sebuah botol minyak kayu putih berukuran sedang.
Lalu ia berjalan menghampiri sosok yang masih terbaring lemah di ranjang tersebut. Taehyung duduk di pinggir ranjang, ia memperhatikan wajah orang yang matanya masih terpejam itu. Ia tidak pernah melihat orang ini di sekolah, mungkinkah ia siswa ajaran baru? Juniornya?
Taehyung membuka tutup botol minyak kayu putih tersebut, ia menuang sedikit ke jari telunjuknya. Lalu ia mengusapkan jarinya ke bawah hidung serta kedua pelipis orang itu, semoga saja hal ini berguna untuk membangunkannya.
"Bangunlah."
Taehyung mengambil sebuah kursi dan menaruhnya di pinggir ranjang uks, ia duduk di kursi itu, ia menopang tangannya sambil terus menatap wajah orang yang belum juga kunjung membuka matanya. Selama sepuluh menit ia memperhatikan wajah itu dalam diam, membuat dirinya merasakan kantuk. Akhirnya tak terasa ia menyandarkan kepalanya ke pinggir ranjang dan tertidur.
"Mmmhh.."
Orang yang tertidur di ranjang tadi akhirnya membuka matanya dan bergumam. Ia mengernyit lalu memegang kepalanya karena merasakan pening luar biasa. "Akhh.."
Taehyung terbangun karena mendengar geraman itu. Ia menoleh ke arah orang tersebut. "Kau sudah bangun?"
Orang itu tidak menjawab, ia masih memegangi kepalanya yang serasa berputar. "Kepalamu sakit? Maaf, aku tidak sengaja. Aku berniat mengoper bola ke temanku tapi meleset."
Orang itu membuka matanya dan mata mereka bertemu. Mata elang Taehyung membuat orang itu blushing sampai membuat ia menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, sunbaenim."
Taehyung terkejut mendengar orang itu memanggilnya dengan sebutan senior, bukan namanya. "Kau siswa baru?"
Orang itu mengangguk.
"Kau tidak tahu siapa aku?"
Orang itu menggelengkan kepalanya.
"Siapa namamu?" sergah Taehyung.
"Jungkook, Jeon Jungkook."
"Kelas?"
"1-A"
Jeon Jungkook, 1-A. Ucapnya dalam hati.
Taehyung mengambil satu gelas berisi air putih dan menyerahkannya pada Jungkook. "Minumlah."
Jungkook menerima gelas itu lalu meminumnya setelah menggumamkan kata terimakasih. Jangan lupakan mata elang Taehyung yang terus menatapnya.
"Kau istirahatlah disini, aku akan meminta izin karena kau sakit pada guru di kelasmu dan mengambilkan tasmu." Taehyung berdiri, hendak beranjak ke kelas Jungkook. Namun tangannya lebih dulu tertahan oleh tangan Jungkook.
"T-tidak usah, tidak perlu, Sunbae."
Taehyung melirik sekilas tangan tersebut sebelum menatap Jungkook kembali, "Anggap saja ini sebagai permintaan maafku atas kejadian di lapangan tadi."
"A-ah, baiklah.. Kalau begitu." Jungkook menunduk.
"Bisa kau lepaskan tanganku? Bagaimana caranya aku ke kelasmu kalau kau terus menggenggam erat tanganku?"
Jungkook tersadar dan refleks menarik tangannya yang menggenggam tangan Taehyung. "M-maaf.. Maafkan aku."
Taehyung melangkah acuh keluar uks. Ia sempat berhenti di depan pintu, melirik sosok yang ada di atas ranjang tersebut sambil terkekeh pelan.
Baekhyun sedang sibuk di dapur, ia baru saja selesai berkutat dengan alat-alat dapur, membuat sebuah cupcake redvelvet strawberry. Menu baru yang di ajarkan Kyungsoo. Sampai dering handphone nya mengalihkan perhatiannya.
Ia meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja makan dan melihat siapa yang meneleponnya. Rupanya suaminya menelepon. Baekhyun mengernyit sebelum mengangkat telepon tersebut, bukankah Chanyeol sedang kerja? Ada apa ia menelepon Baekhyun?
"Halo, ada apa Chan?" ucapnya setelah menempelkan handphonenya ke telinga.
"Bee, kau sedang sibuk?"
Baekhyun menatap cupcakenya yang baru jadi 97%
"Hmm tidak, ada apa?" bohongnya.
"Syukurlah kalau begitu. Boleh aku minta tolong padamu?" ucap Chanyeol di seberang sana dengan ragu.
"Katakan." Baekhyun mengapit handphonenya di antara telinga dan pundaknya sembari memberikan topping strawberry di atas cream cupcakenya.
"Aku lupa membawa berkas penting untuk meeting jam 11 nanti, aku tidak bisa meninggalkan kantor sekarang, boleh aku minta tolong padamu untuk membawakannya kesini?"
Baekhyun melirik jam di dinding, seharusnya ini adalah waktunya untuk menjemput anak-anaknya. Tapi kali ini suaminya lebih membutuhkannya karena meeting hari ini adalah antara hidup dan matinya. Baiklah, mungkin ia bisa meminta tolong (lagi) pada Kyungsoo untuk sekalian menjemput Jesper dan Jackson.
"Baiklah, aku akan kesana. Dimana berkas itu?"
"Di meja kerjaku, Bee. Ada map biru disana, aku meletakkan berkas-berkasku di dalamnya." jelas Chanyeol.
"Tunggu aku, aku siap-siap dulu." Baekhyun melepaskan apronnya, ia meletakkan beberapa cupcakenya di dalam sebuah box makan berukuran sedang. Ia akan membawa kue ini sebagai ucapan terima kasihnya pada Kyungsoo yang sudah begitu sering ia repotkan.
"Terimakasih, sayang. Hati-hati di jalan."
"Ne, Chan. Aku tutup teleponnya." Baekhyun baru saja akan mematikan sambungan teleponnya dengan Chanyeol sampai suara Chanyeol membuatnya mengurungkan niatnya.
"Tunggu, Baekhyun!"
"Ne?"
"Aku mencintaimu.."
Baekhyun tersenyum menunduk malu mendengar pernyataaan cinta dari Chanyeol. Padahal ia tidak melihat Chanyeol saat mengatakan kalimat itu, Chanyeol hanya mengucapkannya lewat telepon, tapi hal itu sanggup membuat semburat merah di pipi gembil Baekhyun muncul dan hatinya masih sama, berdetak dengan cepat seperti saat mereka baru bertemu dulu.
"Aku juga mencintaimu, suamiku."
Baekhyun baru saja mematikan sambungan teleponnya dengan Kyungsoo untuk meminta tolong menjemput Jackson dan Jesper. Baekhyun sudah memberitahu alasannya pada Kyungsoo mengapa ia tidak bisa menjemput anak-anaknya, dan Kyungsoo mengerti. Baekhyun akan menjemput kedua anaknya nanti di rumah Kyungsoo.
Baekhyun memarkir mobilnya di basement Park Corp. Ia turun dari mobilnya dan membungkuk membalas sapaan satpam yang ditugaskan menjaga pintu masuk. Ia juga membalas sapaan beberapa karyawan yang di pekerjakan oleh suaminya. Tentu saja semua karyawan disini sudah tahu kalau Baekhyun adalah orang penting disini, atau lebih tepatnya adalah istri dari orang yang paling penting di kantor ini.
"Selamat pagi, Tuan Park Baekhyun." Sapa seseorang di balik meja resepsionis di lantai teratas, tepatnya adalah di depan ruangan direktur utama.
"Selamat pagi, Tiffany-sshi. Suamiku di dalam?"
Wanita cantik bernama Tiffany itu tersenyum hingga menampilkan eyesmilenya. "Ne, Tuan Park di dalam dan sudah menunggu anda. Silahkan masuk Tuan."
Baekhyun membalas senyum tersebut tak kalah manis, "Terimakasih, Tiffany-sshi."
Baekhyun mengetuk pintu ruangan Direktur Utama, ruang kerja suaminya.
"Masuk." tegas Chanyeol.
Baekhyun membuka pintu tersebut perlahan, ia masuk lalu menutupnya kembali. Ia melihat suaminya sedang sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas dan laptop di atas meja, entah apa yang di kerjakannya tapi Chanyeol terlihat begitu serius sampai tidak menyadari Baekhyun sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Permisi Tuan Park, saya ingin memberikan berkas untuk bahan rapat anda pukul 11 siang hari ini yang tertinggal." Ucap Baekhyun dengan baku seolah ia adalah karyawan di perusahaan ini.
"Letakkan saja di meja kerjaku." Tegas Chanyeol dengan dingin, ia masih sibuk dengan pekerjaan nya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Baekhyun. Hal itu membuat Baekhyun mendengus lalu meletakkan berkas tersebut di meja kerja Chanyeol.
"Saya permisi." Sungutnya, kemudian berbalik hendak keluar dari ruangan tersebut.
Chanyeol mendongakkan kepalanya, ia menepuk jidatnya. Ia lupa kalau ia meminta tolong pada Baekhyun untuk mengantarkan berkasnya. Ia pikir Baekhyun belum sampai. Chanyeol berdiri, dengan sigap di tahannya tangan Baekhyun yang hendak membuka pintu ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Park?"
"Oh sial Baek, maafkan aku." Chanyeol menghela nafasnya. Ia benar-benar merasa bersalah, istrinya sudah jauh-jauh datang kesini dan mendapat sambutan yang tidak enak dari dirinya.
"Huft, kau mengacuhkanku." Baekhyun mengerucutkan bibirnya, menampilkan wajah sedih pada Chanyeol.
"Maafkan aku. Astaga, aku sangat merindukanmu." Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Ia mengecupi puncak kepala Baekhyun dengan sayang.
Baekhyun mendongak menatap suaminya, kini mereka bertatapan. Baekhyun memperhatikan wajah suaminya yang terlihat kusut itu. "Kau lelah? Pusing?"
"Otakku penat, Baek."
Baekhyun melepaskan pelukan mereka, ia menuntun tangan Chanyeol menuju ke sofa yang lebar dan panjang di ruangan kerja suaminya. Ia duduk disana, lalu menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan Chanyeol untuk tidur di sofa menggunakan pahanya sebagai bantalan. Sudah pasti Chanyeol melakukannya.
Chanyeol melingkari lengannya di sekitar perut Baekhyun. "Semua masih sama, selalu terasa menenangkan kalau aku ada di dekatmu." ucapnya sambil memejamkan matanya
Baekhyun mencopot kacamata yang masih menempel di wajah suaminya. Ia tersenyum menatap suaminya, Baekhyun memperhatikan wajah Chanyeol yang tetap terlihat tampan dan semakin tampan meskipun umurnya yang sudah tidak bisa di bilang muda. Ia mengusap lingkar hitam di bawah mata Chanyeol, dalam hati ia merutuki kebodohannya karena baru menyadari ada lingkar hitam di bawah mata bulat yang membuatnya jatuh cinta itu.
"Kau kelelahan, Chanyeol."
Chanyeol tidak menjawab, ia bangkit dari tidurnya, membuat Baekhyun mendelik bingung.
"Aku rasa aku hanya membutuhkan sesuatu yang bisa mengisi energiku kembali." Ucap Chanyeol dengan senyuman penuh arti pada Baekhyun.
Baekhyun mengernyit dengan ekspresi kebingungannya, "Kau ingin makan keluar? Tapi ini belum waktunya jam makan siang, sayang dan rapatmu akan di mulai sebentar lagi."
Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan senyumnya, membuat Baekhyun kebingungan karena Chanyeol tidak mengatakan apapun.
"Ah, kalau begitu, kita delivery pizza saja. Bagaimana?"
Baekhyun mengeluarkan handphonenya, ia baru saja akan menelepon delivery pizza untuk mereka berdua namun tangan Chanyeol mencegahnya.
"Aku tidak ingin makan keluar"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan heran, "Lalu?" tanya nya dengan menaikan sebelah alisnya.
"Makanan ku ada disini."
Itu adalah kalimat terakhir yang Chanyeol ucapkan sebelum mendorong dan menindih Baekhyun di atas sofa. Bibirnya sudah bergerak menyesap dan sesekali menggigit leher Baekhyun yang putih nan mulus itu, membuat tanda kepemilikan berwarna merah keunguan favoritenya. Tangannya juga sudah mulai bebas menggerayangi tubuh istri yang ada di bawah kungkungannya.
Chanyeol dengan tidak sabaran menyingkap blouse putih yang Baekhyun pakai, sehingga membuat nipple merah muda Baekhyun terekspos di hadapan matanya. Dada sintal itu begitu menggoda bagi Chanyeol yang sudah haus akan tubuh putih mulus istrinya.
"Yah! Yah! Chanyeol! Jangan-aaanghhhh.."
Tanpa menunggu lama lagi Chanyeol meraup nipple segar itu, menjilat dan menggigitnya sesekali.
TBC
CUT!
SEGITU DULU YAA XD
Karena banyak yang bilang dan kepengen ff ini di lanjut nah Lin lanjut nih huat kalian^^
Sekalian aku mau minta pendapat kalian dong, kalian suka ff ini romantis manis manis aja? Ada konflik? Atau mau ada selingan scene Chanbark mature nya? Tau mature kan? Ituloh enceh:v
Gimana chapter ini? Dapet feelnya kah?
Review juseyo^^
Thankyou!^^
With Love
Lin Shouta
