Jam makan siang seperti ini adalah kenikmatan tersendiri bagi kakak beradik ini. Sasuke mengunyah tomat yang memang selalu ada di bekal makannya, sesekali onyxnya melirik wajah adiknya yang tersenyum dengan mulut yang masih mengunyah makanan masakan Ibu mereka.

Tersenyum ia mengalihkan tatapannya ke atas, memandang awan yang bebas terbang mengikuti tiupan angin. Akan kah hatinya seperti itu, mengikuti angin berhembus atau melupakan semua rasa yang ia simpan selama ini.

Stand By Me

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by KiRei Apple

Pairing : Uchiha Sasuke X Haruno Sakura

Au,typo, ooc, gaje dll

.

.

.

.

.

D.L.D.R

Chapter 2

oOo

Sakura menatap riakan air kolam di depannya dengan pandangan kosong. Kembali teringat tentang masa lalunya, masa lalu yang sangat menyakitkan untuknya.

Flash Back On

'PRANG'

Suara itu lagi yang selalu di dengarnya setiap harinya. Sakura mengintip di balik tembok melihat semua aksi kedua orang tuanya yang semakin hari semakin membuatnya ketakutan. Bukannya ia tidak tahu, ia cukup faham dengan keadaan ini karena ia sudah kelas dua Junior School.

"K-KAU SIALAN KIZASHI!" amuk Ibunya, -Haruno Mebuki dengan melempar pas bunga ke tembok samping suaminya berdiri.

Haruno Kizashi menggeram. Ia muak, dengan semua ini. Kenapa Istrinya tidak mau menerimanya dan memaafkan kesalahannya.

"Aku sudah minta maaf berulang kali Mebuki, kau tidak mau memaafkan aku. Saat itu aku, mabuk dan mau tidak mau aku harus bertanggung jawab."

Mebuki memandang nyalang suaminya penuh dengan amarah dan kebencian. Kenapa tega suaminya yang sudah mempunyai keluarga dengan dua anak melakukan hal yang membuat siapa saja pasti tidak akan terima.

"Kita cerai... Kizashi."

"K-kau bercanda?" Kizashi membelalakan matanya mendengar penuturan Istrinya. Sungguh ini bukan ke inginannya.

Mebuki menangis. "Aku tidak mau membagi cinta Kizashi, Aku akan membawa anak kita."

"Tidak! Sasori, Sakura adalah anakku juga, aku tidak bisa." Tolak Kizashi yang tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya.

"Lalu apa mau-mu?" Desis Mebuki di sela tangisannya.

"Setidaknya biarkan aku bersama Sakura dan kau dengan Sasori. Dan nanti bergantian," Kizashi mendekat memegang bahu Istrinya. Merunduk ia berusaha tegar walau tangannya dapat Mebuki rasakan bergetar hebat. "Aku tahu walau aku mempertahankannya, kau tetap akan pergi Mebuki." ujarnya yang sangat tahu tindakan yang akan di lakukan sang istri.

"Ya. Sekarang juga aku akan pergi bersama Sasori." ujar Mebuki melepaskan tangan suaminya dari bahunya dan pergi untuk membereskan semua barangnya.

.

'Set'

Sakura merasakan tubuhnya berputar dan kini berada di pelukan sesorang yang sangat ia tahu...

"Onii-chan." lirihnya membalas pelukan Kakaknya.

Sasori semakin memeluk tubuh adiknya erat dengan badannya yang bergetar hebat. "Semua akan baik-baik saja." ujarnya kepada adiknya.

Sakura menggeleng dalam pelukan Sasori. "A-aku tidak ingin kita berpisah Onii-chan. Aku ingin kita utuh." Jelas Sakura mengungkapkan keinginannya dan ia menagis.

"Aku pun begitu, tapi keadaan yang mengharuskannya Saku-chan. Onii-chan janji secepatnya akan menjemputmu."

"Aku tidak mau."

Sasori melepas pelukannya dan menatap adiknya nanar. Kenapa nasib keluarganya seperti ini?

"Onii-chan harus menjaga Kaa-san dan kau juga harus menemani Tou-san."

Sakura menggeleng, melangkah mundur. "ONII-CHAN JAHAT! ONII-CHAN TIDAK SAYANG KEPADAKU!" Teriak Sakura berlari melangkah naik menuju kamarnya.

Sasori mengejarnya. Ia terus mengetuk pintu yang di kunci adiknya dari dalam.

"Saku... Onii-chan mohon mengertilah. Onii-chan sayang Saku, dan secepatnya menjemputmu."

Sasori terus mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari sang adik yang membukakan pintu untuknya. Ia hanya mendengar adiknya yang menjerit dan menangis.

"Sasori, ayo kita pergi!" Sang Ibu memanggilnya dari bawah dan inilah waktunya ia harus pergi.

Sasori menempelkan dahinya ke daun pintu kamar adiknya.

"Onii-chan pamit. Jaga Tou-san dan dirimu. Onii-chan menyayangimu."

Sasori berbalik melangkah pergi menuruni tangga dengan air mata yang jatuh dari mata hazelnya.

...

Sakura menegang mendengar perkataan Kakaknya. Melangkah menuju jendela kamarnya ia melihat Kakaknya yang juga menatapnya. Kakaknya tersenyum melambai ke arahnya dan mengucapkan kata yang ia tahu dari gerakan bibirnya 'Onii-chan menyanyangimu.'

Tersenyum ia menempelkan tangannya di kaca. Kenapa semua ini terjadi kepada keluarganya. Ia tidak mau, dan semua orang pasti tidak ingin menginginkan perpisahan terhadap orang-orang yang mereka sayangi.

.

Bergelut dengan fikirannya akhirnya ia berlari melangkah keluar menemui Kakaknya. Setidaknya ia harus mengucapkan salam perpisahan yang baik dan berharap dapat mencegahnya.

Ia terus melangkah keluar rumahnya. Tidak menghiraukan teriakan Ayahnya yang memanggilnya. Tujuannya hanya satu, ya... Kakaknya.

Iris klorofilnya mencari keberadaan Kakak dan Ibunya di tengah-tengah keramaian. Jika tujuannya kembali ke kota Neneknya berarti ia harus menyeberang, fikirnya. Tanpa melihat keadaan sekitar ia berlari menyeberangi jalan itu.

"SAKU-CHAN!"

'TIN... TIN...'

'BRAKK'

Tubuh gadis itu terlempar karena dorongan dari sesorang yang membuatnya terguling di trotoar jalan.

"SASORI!"

Teriakan yang sangat ia kenali, Ibunya. Berbalik, iris klorofilnya membulat.

Tidak!

Ini mimpi!

Mebuki menghampiri tubuh anak sulungnya yang bersimbah darah.

"Sasori... bangun Nak. Sasori... SASORI!"

Sakura berlari tanpa menghiraukan ringisan akibat luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia menghampiri Kakak dan Ibunya.

"Onii-chan." lirihnya yang jatuh terduduk di samping Kakaknya.

Mebuki mendongak menatap anak bungsunya. "Ini semua Salahmu. INI SEMUA SALAHMU!" Teriak Mebuki kepada anak bungsunya.

Bagai di hantam benda tajam mendengar perkataan Ibunya kepada dirinya. "Oka-chan..."

"INI SEMUA SALAHMU. JIKA KAU MENURUT DAN TINGGAL MENGIKUTI AYAHMU SEMUANYA TID..."

'PLAK'

Tamparan yang sangat keras membuat teriakan Mebuki terhenti. Kizashi pelakunya, menampar Istri yang tega menyalahkan kepada anak bungsu mereka. Tidak menghiraukan kerumunan orang yang mulai meneriaki dan meminta tolong memanggil ambulan. Ia berjongkok dan memeluk Sakura yang hanya diam dengan tangisannya.

"Kenapa... Kenapa Kizashi. DIA MEMBUNUH SASORI KIZASHI!"

"DIAM!" Teriak Kizashi kepada Istrinya yang masih saja menyalahkan keadaan ini.

"Kau pembunuh... Kau pembunuh." Mebuki meraung dengan gumaman yang jelas bisa di dengar Sakura dan Kizashi.

Flash Back Off

Hitam!

Tangan besar menutup penglihatan Sakura. Sakura menyentuh tangan besar yang menutupi matanya. Ia sangat tau pemilik tangan ini, wangi khas ini...

"Itachi-nii." ujarnya dengan senyuman merekah di bibirnya.

... ya ia tau dan tangan besar itu perlahan terlepas.

"Kenapa bisa tau sih."

Sakura terkekeh. Ia berbalik menatap Itachi, Kakaknya yang kini duduk di sampingnya.

"Aku sangat merindukanmu Nii-chan."

Itachi tersenyum, merentangkan kedua lengannya lebar. "Jika rindu, mana pelukannya?"

'BRUK'

Sakura menerjang Kakaknya dan memeluknya. Betapa ia rindu Kakaknya yang satu ini setelah dua bulan tidak bertemu karena ia yang besekolah di luar negeri.

"Aku rindu... rindu Nii-chan, sangat."

Itachi terkekeh membalas pelukannya. Ia sangat kenal Sakura karena Sasori adalah sahabatnya. Ia secara garis besar tahu tentang keadaan keluarga sahabatnya. Sasori yang selalu mururung seminggu itu dan sangat mencemaskan adiknya. Ia tidak tau banyak kabar Sakura setelah sahabatnya meninggal. Yang ia tau, Sakura yang tinggal bersama Ayahnya.

Saat kelulusan adiknya, ia melihat Sakura yang duduk bersampingan dengan adiknya. Sungguh senang melihatnya baik-baik saja, tapi satu hal yang membuatnya sedih adalah senyuman dan keceriannnya tidak ada. Mengerti, Ia sangat mengerti masa lalu pahit lah yang membuat Sakura seperti itu.

"Hn. Kau makan dengan baik kan? Apa kalian sering bertengkar?"

Sakura menggeleng, melepaskan pelukannya. "Sasuke-nii akhir-akhir ini seperti sedang ada masalah."

Itachi menaikan alisnya heran. "Masalah?"

Sakura mengangguk. "Sepertinya ia sedang ada masalah dengan pacarnya. Jika aku sebut nama kekasihnya dia jadi dingin kepadaku." lirih Sakura mengingat Sasuke yang selalu dingin jika ia berbicara mengenai kehidupan percintaannya.

Itachi menghela. Ia tahu, sangat tahu apa yang sebenarnya yang di rasakan adiknya ,-Sasuke. Ia pernah melihat buku tulis Sasuke dan tertulis nama Haruno Sakura yang di lingkarinya. Jelas jika adiknya mungkin hingga sekarang masih menyukai Sakura dan memilih menyimpan semuanya karena status mereka sekarang.

"Mungkin dia cemburu." goda Itachi dan Sakura tertawa mendengarnya.

"Itu tidak mungkin. Shion gadis tercantik di sekolah, Nii-chan."

Itachi mengangkat bahu acuh. Lebih baik ia diam dulu dan tidak ingin membuat semuanya runyam. Toh jika Sasuke dan Sakura bersama itu semakin baik bukan? fikirnya.

"Hn."

Sakura menatap langit malam yang bertabur bintang. "Kenapa Sasuke-nii suka kehidupan malam dan membahayakan diri sendiri Nii-chan."

Itachi menghela nafas pelan. 'Andai kau tahu dia berubah seperti itu setelah kau masuk ke keluarga ini Sakura.' lirih Itachi dalam hatinya.

"Dia selalu pulang mabuk, Balapan dan aku dengar dia... Play boy."

"Semoga dia berubah." harap Itachi kepada adiknya itu. Ia menyaksikan sendiri Sasuke yang menangis dan pergi mengendarai Motor sportnya saat harus menerima kenyataan jika Sakura di angkat menjadi adiknya.

Sakura mengangguk. Semoga harapannya dan Itachi terkabul, melihat Sasuke yang meninggalkan kebiasaan buruk itu. "Ya. Semoga dia berubah."

oOo

Sasuke memutar gelas yang berisi wine di tangannya. Inilah kebiasaannya semenjak setahun lalu. Walau ia jarang ketempat ini, tapi rasanya hanya ke tempat ini lah ia bisa melepaskan beban yang selalu membelenggunya.

Ya, dia yang mencintai adiknya bahkan sebelum menjadi adiknya.

Flash Back On

Sasuke kelas tiga Konoha Junior School. Ia tidak tahu itu perasaan ketertarikan dan cinta, itu sama sekali tidak terfikirkan olehnya. Namun semua itu terpatahkan dengan pertemuannya karena seorang adik kelas yang sedang membaca buku di perpustakaan.

Ia yang sedang duduk di taman melihatnya, menopang dagu membiarkan angin berhembus menerbangkan rambut panjangnya. Sungguh pemandanggan itu mengalahkan tatapan sang onyx dari objek manapun yang menatapnya lebih lama.

Setiap hari, taman adalah tempat tetap baginya. Entahlah. Setiap hari, ia menikmatinya. Mengingat sebentar lagi ia akan lulus entah kenapa terselip rasa tidak rela. Saat itulah onyxnya bisa bertatapan langsung dengan iris zamrud yang sangat mempesona. Tidak lama ia membuang wajah guna membuang rona tipis dan jantungnya yang berdegup kencang. Tapi, sesal, itulah yang ia rasakan saat gadis itu sudah menghilang dari pandangannya. Kemana sikap ke Uchiha-an ku, dengus Sasuke dalam hati.

.

Menghitung mundur waktu beberapa hari lagi ia akan meninggalkan sekolah ini. Seperti biasa Sasuke memilih menyendiri di tempat yang ia kalim menjadi tempat tetap baginya. Gadis itu adalah Haruno Sakura adik dari Haruno Sasori yang ia tahu adalah sahabat Kakaknya.

Alisnya mengeryit saat melihat gadis yang menjadi objeknya, yang biasanya tersenyum namun kini seperti muram. Ada apa? Tanyanya kepada diri sendiri. Pandangannya kosong, tidak lagi memancarkan kegembiraannya.

"Kenapa kau bodoh Sasuke." dengusnya memaki diri sendiri.

"Ada apa denganku." ujarnya frustasi menjambak rambut ravennya. Sungguh ia sangat suka melihat gadis itu tersenyum dan ingin sekali memeluknya saat ia melihat tatapan seperti tadi. Mungkin kah ia mencintainya? Menggeleng pelan ia beranjak pergi dengan rasa penasaran yang memenuhi fikirannya.

.

Pesta kelulusan tiba. Sasuke mendengus bosan melihat pesta dansa yang di adakan di sekolahnya. Ia sama sekali tidak berminat. Apalagi ajakan, kado dan ungkapan cinta yang ia dapat membuatnya semakin pusing. Sebenarnya ia sedang mencari seseorang yang seharusnya ada. Apalagi semua kelas di undang dalam acara kelulusan ini. Mendesah lelah, ia beranjak pergi ke luar.

Tidak tahu mau kemana, ia menuntun langkahnya ke mana ia melangkah. Tanpa tujuan? Mungkin benar. Saat berjalan melintasi halaman belakang, langkahnya terhenti karena melihat seseorang yang selama ini menghantui fikirannya. Tersenyum ia memutuskan menghampirinya dan duduk di samping gadis yang sedang menatap langit malam.

"Hn." gumamnya membuat gadis itu terlonjak dan menoleh.

"S-sasuke senpai."

"Hn."

Sakura menghela nafas pelan. "Kenapa kau di sini senpai? Pesta sedang berlangsung bukan?" tanya Sakura yang heran karena senpai terkenalnya malah duduk di sampingnya.

"Ya. Aku benci keramaian." jelas Sasuke, Sakura hanya menjawab dengan anggukan. Tapi kenapa kau di sini... sendiri?"

Sakura menggeleng lemah. "Aku hanya menikmati waktu saja."

"Sakura."

Panggil Sasuke membuat onyxnya dan sang zambrud itu bertatapan. "Kenapa?"

Sakura memiringkan kepalanya karena tidak tau apa yang di katakan. "Kenapa apanya Sasuke senpai?"

Sasuke menghela dan menggeleng. Sebaiknya dia tidak menanyakan penyebab dan harusnya menjauhinya dari penyebab itu.

"Tidak ada apa-apa."

Sakura terkekeh dan mengangguk. "Jika ada yang ingin kau bicarakan, silahkan aku akan mendengarkannya kok.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu." dengus Sasuke.

"Kenapa denganku?"

"Berhentilah bepura-pura."

'Set'

Sasuke membawa Sakura dalam pelukannya. "Menangis lah! Jika itu bisa membuatmu melupakan kesedihanmu." Sasuke memeluk dan mengelus surai yang selama ini menjadi daya tariknya.

Dapat ia rasakan tubuh gadis itu menegang, bergetar dalam tangisan. Dan, entah kenapa ia merasakan sakit seperti apa yang Sakura ceritakan di sela-sela tangisannya. Kenapa saat ia tidak bisa di sisinya, gadis yang sangat ingin ia lindungi menghadapi masalah ini.

"Cobalah melihat kedepan dan kau harus kuat. Masih ada yang menyayangimu." ujarnya menyakinkan Sakura jika masih banyak orang yang menyayangi gadis ini, termasuk dirinya.

...

Setahun berlalu, kini ia akan memasuki kelas dua di Konoha High School. Perasaannya masih sama sejak saat itu hingga sekarang. Kadang ia sesekali melihatnya jika ia sengaja menunggunya pulang. Memandangnya dari kejauhan, itulah yang ia lakukan.

Bodoh!

Mungkin itu benar. Hingga saat ini ia sama sekali tidak mengatakan perasaannya. Ia akan mengatakannya saat Sakura masuk ke sekolah yang sama dengannya nanti. Itulah yang akan ia lakukan. Ya, ia tau jika Sakura akan bersekolah yang sama dengannya dari sahabat gadis itu sendiri.

...

Onyxnya sejak tadi menatap air hujan dari jendela kamarnya yang tidak di tutup. Hari ini ia berencana akan menemui sahabat pirangnya, namun terpaksa menunggu hujan reda. Mendesah pelan ia melangkah keluar kamarnya.

"Oh... Ototou."

Panggilan yang sangat Sasuke kenali membuatnya menoleh. Di sana. Kakaknya sedang duduk dan menonton televisi. Melangkah turun ia kemudian menghampiri Kakaknya dan mendudukan dirinya di samping Kakaknya.

"Kau mau kemana?" tanya Itachi saat melihat penampilan adiknya yang bisa di bilang seperti ingin kencan.

"Aku ada janji." jawab Sasuke tanpa minat. Menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa ia memejamkan matanya, sungguh sepertinya ia harus istirahat setelah lelah seharian bermain basket tadi.

Itachi menyeringai mendengar penuturan adiknya. "Kencan eh?"

"Baka!" Ujar Sasuke tanpa minat membuka matanya dan masih nyaman dengan posisinya.

Itachi menghela napas bosan melihat sikap adiknya. Namun itulah Sasuke, walau bagaimana pun dia adalah adik yang sangat baik.

"Tadaima!"

Suara lembut dari seseorang yang sangat mereka kenali. Ya! Itu adalah Ibu, Ayah mereka yang kembali bersama.

Itachi berdiri dan berbalik untuk menyambut kedatangan Ayah dan Ibunya. "Okaeri Kaa..."

"S-sakura-chan!" pekik Itachi melangkah cepat menghampiri Ayah, Ibunya yang bersama Sakura.

Sasuke seketika membuka matanya saat suara sang Kakak. Tapi, bukan itu. Yang membuatnya penasaran adalah nama yang di sebut tadi. Berdiri ia pun berbalik. Sungguh ingin sekali ia berteriak karena akhirnya bisa melihat Sakura. Tapi, kenapa Sakura berada di sini? Apa dia ingin bertemu denganku? Itulah yang ada di benak Sasuke.

"S-sakura..."

Fugaku dan Mikoto menatap heran kepada dua putranya yang ternyata mengenal Sakura. Jika begini, ini tidak sulit bukan?

"Kalian sudah mengenalnya?" tanya Mikoto kepada anak-anaknya.

Itachi dan Sasuke mengangguk.

Tersenyum, Mikoto merangkul bahu Sakura. "Mulai saat ini, Sakura-chan akan tinggal di sini."

"Dia akan menjadi adik angkat kalian."

Flash Back Off

Saat itulah semua berubah. Kenapa semua seperti ini? Sesungguhnya ia sangat senang bisa bersama Sakura, tapi dengan keadaan seperti ini sangat menyiksanya.

Onyxnya semakin mengecil dengan tubuh yang hamir jatuh membentur lantai jika tidak ada lengan yang menyangganya.

"Sakura..."

Sosok itu menyangga tubuh yang sudah tidak bisa berdiri tegak. Selalu! Selalu seperti ini. Ya, ini semua sejak setahun lalu ia menjadi seperti ini. Ia juga sangat tau nama yang di sebutnya. Kapan sahabatnya akan berakhir dari beban hatinya ini, lirihnya dalam hati menatap sendu sahabatnya.

Ia mengaitkan tangan kiri Sasuke ke pundaknya hingga ia menuntunnya keluar dari tempat pelampiasan yang selalu di datangi Sasuke.

"Kenapa kau menyiksa hatimu Teme."

.

.

.

.

.

.

Bersambung

Belum bisa bales. Tapi semua terima kasih untuk semua yang sudah memFol/Fav/Rnr

Maaf banyak typo dan apapun gaje ya. #matakuBerkunang'' XD

Sankyuu ^_^

WRS