The Real Truth

.

By: Gia-XY

.

Summary:

Reruntuhan kedua yang kami datangi adalah sebuah istana di tengah sebuah pulau. Istana ini ... aneh ...

.

Disclaimer:

Yu-Gi-Oh! ZEXAL Takahashi Kazuki, Yoshida Shin, Miyoshi Naohito

Story © Gia-XY

.

Warning(s):

SPOILER ALERT, AR, Maybe OOC, Shounen-ai, Gender bender, Some Japanese, Some non-formal language, Vocabulary Crisis, Maybe some typo(s), DLDR, etc.

.

Truth 2

Vision

.

.

"… Ia hidup sebagai orang yang suka mencuri nyawa orang lain di sekitarnya. Hanya tinggal sendirian, Ouji lalu mengambil nyawanya sendiri. Leganda terkutuk …. Ah!" Kedua mata milik Imouto Shark yang menyala hijau terang lalu terbelalak kaget setelah menyelesaikan ceritanya. Nyala hijau di kedua mata Imouto Shark lalu kembali seperti semula, menjadi bloody pink, dan menutup. Imouto Shark lalu ambruk. Untungnya, sebelum ia ambruk di atas tangga batu yang sedang kami telusuri ini, Shark dengan sigap menangkap adik kembarnya itu.

"Rio!" Seru Shark panik. Imouto Shark lalu berusaha tersenyum kepada kembarannya.

"Daijoubu …," ucap Imouto Shark, berusaha meyakinkan Shark bahwa dirinya tidak apa-apa. Aku hanya terdiam, kembali memutar ulang cerita tentang Legenda Istana Terkutuk yang kami tempati saat ini.

Seorang pangeran tinggal di istana ini. Ia kekanakan dan tidak berperikemanusiaan. Ia mencurigai orang-orang, dan mengadili orang-orang seenaknya. Ia hidup sebagai orang yang suka mencuri nyawa orang-orang di sekitarnya. Hanya tersisa dirinya sebagai orang yang hidup, ia lalu mengambil nyawanya sendiri.

Aku lalu menoleh ke bagian bawah tangga dengan tatapan tidak percaya. Gelap, sangat gelap. Entah apa yang ada di ujung sana.

"… Istana Kerajaan Terkutuk …" Aku tahu legenda ini, tapi … darimana …? Dan lagi, aku merasa ada yang janggal dari cerita yang kudengar barusan. Ada bagian yang kurang, tetapi apa …? Dan istana ini, kenapa rasanya … familiar …? Padahal, seumur hidupku, aku belum pernah datang ke istana ini.

Kedua permata ruby milikku terbelalak lebar. Pemandangan di sekitarku lalu berubah. Astral dan yang lainnya menghilang. Aku menoleh ke sekitar, mencari teman-temanku. Sayangnya, bukannya teman-temanku yang kutemukan, aku malah mendapati seorang lelaki yang berjalan turun dengan langkah pelan dari atas tangga dengan napas memburu sambil menggendong seorang gadis di kedua lengannya. Gadis itu sepertinya pingsan, karena aku tidak melhat gadis itu bergerak atau melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa ia sedang tersadar.

Aku menyipitkan kedua permata ruby milikku, berusaha melihat sosok kedua orang itu. Percuma, wajah mereka tidak terlihat. Lelaki itu lalu berjalan melewatiku, seakan aku tidak ada di sini. Aku lalu membalikkan tubuhku, menoleh ke arah kedua sosok itu.

"Aku tidak akan menyerahkanmu pada Nasch …. Sudah cukup ia mengambil segalanya dariku …. Kini giliranku untuk merebut segala sesuatu darinya …. Mungkin ia memenangkan duel itu, tetapi ia tetap gagal merebutmu kembali …, hal yang paling berharga baginya di samping adik kembarnnya, Merag …. Ahahaha … HAHAHAHA!" Lelaki itu tertawa kencang bagaikan seorang maniak. Kedua permata ruby milikku kembali terbelalak mendengar ucapan lelaki itu.Nasch …? Itu bukannya nama samaran yang digunakan oleh varian bernama Durbe itu kemarin? Dan, siapa Merag yang dimaksud oleh lelaki itu?

"—ma …. Yuuma …. Yuuma …!" Kedua permata ruby milikku terbelalak kaget mendengar suara Astral memanggilku. Aku menoleh ke belakang. Teman-temanku, mereka kini sudah kembali ke tempat ini. Kalau begitu, di mana mereka tadi …?

Aku lalu menoleh ke bawah tangga. Lelaki itu dan gadis yang ada di gendongannya … mereka berdua menghilang ….

"Kau tidak apa-apa, Yuuma? Kau sepertinya tadi terbengong dengan wajah kaget selama beberapa detik," jelas Astral padaku. Aku memasang wajah kaget mendengar penjelasan Astral. Aku? Terbengong? Tetapi … tadi bukannya ….

"Sepertinya itu hanya pengelihatan kita, Yuuma …." Aku memasang wajah kesal mendengar suara yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku lalu memasang senyum manis ke arah Astral, berusaha untuk tidak mempedulikan suara barusan.

"Aku tidak apa-apa, Astal," ucapku berbohong.

Astral sepertinya tahu aku berbohong. Tetapi, sebelum Astral sempat membalas ucapanku, aku buru-buru mengajak Astral dan yang lainnya untuk menuruni tangga, berusaha mengalihkan topik. Kami lalu lanjut berjalan menuruni tangga. Entah kenapa, di setiap langkahku, aku selalu merasa semakin lama langkahku semakin berat. Napasku memburu, seakan ada sesuatu yang menekanku. Apa-apaan ini? Perasaan macam apa ini?

"Kau merasakannya juga, 'kan, Yuuma?" Aku memejamkan kedua permata ruby milikku rapat-rapat, menahan kekesalan yang kerasakan begitu mendengar suara itu.

Berisik! Kenapa kau tidak bisa diam, sih?! Aku ingin berkata aku tidak merasakan apa pun, tetapi aku tahu, suara itu tahu segalanya tentangku ….

"Karena aku juga merasakannya, Yuuma …. Aku merasa mengenali tempat ini …." Aku menggertakkan gigiku kesal, masih memejamkan kedua permata ruby-ku sambil berjalan menuruni tangga.Tiba-tiba, aku merasa kakiku yang seharusnya menapak tepat di atas anak tangga, hanya menapak di ujung anak tangga dengan ujung belakang kakiku. Alhasil, kedua permata ruby milikku terbelalak lebar, dan aku terpeleset sukses jatuh.

"AAAAAH!" Aku kembali memejamkan kedua permata ruby milikku rapat-rapat, tidak ingin melihat kejadian saat aku jatuh menabrak anak-anak tangga ini nantinya.

Sudah lebih dari sepuluh detik, seharusnya aku jatuh dan menabrak anak-anak tangga batu yang keras, tetapi kenapa aku melah merasakan sesuatu yang empuk dan hangat yang memeluk tubuhku?

Perlahan, aku membuka kedua permata ruby milikku, berusaha melihat "benda" apa sepertinya menyelamatkanku dari tangga batu yang sedang kuinjak.

"Cepat menyingkir, Bodoh. Hanya karena badanmu kecil, bukan berarti kau bisa bersandar padaku seenaknya." Aku terkesiap kaget, lalu buru-buru menyingkir dari "orang" yang menangkapku, Shark. Aku lalu menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku dan tertawa canggung.

"Gomen, aku tidak sengaja, Shark," ucapku, masih sambil tertawa, berusaha mencairkan sesuana canggung. Imouto Shark dan Kotori ikut tertawa kecil, sedangkan Shark hanya menatapku dengan tatapan jengkel.

"Jangan bengong lain kali," ucap Shark. Ia lalu lanjut menuruni tangga. Tidak ingin tertinggal, aku, Astral, Imouto Shark, dan Kotori, langsung buru-buru ikut menyusulnya.

Ngomong-ngomong, pengelihatan yang tadi itu … apa …? Dan sebenarnya ada apa dengan istana ini? Kenapa aku merasa mengenal istana ini? Kenapa setiap langkahku, aku semakin merasakan sensasi aneh di tubuhku? Apa aku pernah ke sini? Apa aku melupakan sesuatu yang penting? Apa pengelihatan tadi ada hubungannya denganku? Ah, tetapi aku yakin, aku sama sekali tidak pernah mengalami yang namanya amnesia. Kalau begitu … apa …?

"Tidak akan kuserahkan …. Walau harus mengorbankan nyawa sekalipun … aku tidak akan menyerahkanmu …."

Deg!

Suara … siapa …? Suaranya lebih berat daripada suara wanita yang biasa selalu kudengar bicara di dalam kepalaku. Ini suara lelaki, tepatnya mirip suara lelaki yang ada di pengelihatanku tadi. Tetapi bisa saja, 'kan …?

He-hei …, jangan main-main! Kau! Pasti itu kau 'kan?! Hei, jawab aku!

"Bukannya kau menyuruhku diam? Dan, bukan, itu … bukan suaraku …." Aku menelan ludahku. Tubuhku bergetar ketakutan. Tidak, bukan, ini bukan rasa takut …. Rasanya ada sesuatu, sesuatu yang lain yang kurasakan …. Perasaan macam apa ini …? Gelisah, khawatir, cemas, bingung, semua menyatu jadi satu dalam diriku.

Semoga ini bukan suatu pertanda buruk ….

~XxX~

"Tetapi apa kaupikir aku menerima damage tanpa tujuan apa pun?" Number 96 yang baru saja menerima effect dari kartu yang dipakai Astral, menatap Astral dengan tatapan merendahkan.

"Apa?" Astral berucap dengan nada sedikit kaget.

Grrk!

Aku menoleh ke sampingku, berusaha mengecek apa yang terjadi sampai ada suara seperti benda tergeser. Suara apa yang tadi itu …?

"Apa?" tanyaku refleks, karena mendengar suara aneh itu.

Syuuuung!

Sebuah benda, yang belum terlihat jelas olehku, kini melayang ke arahku. Menyadari benda itu adalah sebuah pisau raksasa, aku langsung terbelalak kaget. Refleks, aku berjongkok dan menunduk sambil memegangi kepalaku.

"HUAAAAA!"

"Aaah!"

"Akh!"

"Yuuma!"

Syuuung!

Pisau besar itu kembali melayang melewati atas kepalaku. Ya, ampun …, kalau saja aku tidak berjongkok tadi, mungkin kepalaku sekarang sudah hancur berkeping-keping.

"Apa yang terjadi?!" tanyaku heran sambil menengok ke arah pisau besar itu.

"Oooh, aku lupa!"

Mendengar suara Vector, aku menoleh ke arah singgasana yang kini ditempati oleh salah satu varian itu. Vector kini menyeringai puas ke arahku.

"Saat Life Point milik Number 96 berkurang, perangkap Himei no Meikyuu ini, salah satunya akan aktif," jelas Vector dengan nada santai, seakan tidak ada satu nyawa pun yang akan melayang karena ulahnya dan Number 96.

"A-apa katamu?!" tanyaku kaget sambil berdiri.

Syuuung!

Pisau besar itu kembali melayang ke arahku. Untungnya aku lebih dulu memundurkan tubuhku, sehingga nyawaku belum sempat melayang karena terkena sabetan pisau besar itu.

"HAHAHAHAHAHAHA!" Vector tertawa senang bak seorang maniak, seakan ia sangat senang melihatku dan Astral menderita. Ah, salah, ia memang senang melihatku dan Astral menderita ….

"Sialan …!" Seruku kesal.

Okay, saatnya aku menjelaskan keadaan yang terjadi sekarang. Saat ini, di ruangan besar yang sejak tadi disebut-sebut dengan sebutan Himei no Meikyuu oleh Vector ini, Astral sedang duel dengan Number 96. Kenapa Astral yang duel, bukannya aku? Yah, tanya saja pada si menyebalkan Vector!

Awalnya, karena sedikit kesalahan, aku tidak sengaja mengaktifkan perangkap yang ada di istana ini, dan kami semua berakhir di dalam penjara yang berbeda, kecuali Kotori dan Rio, mereka berdua dalam satu penjara. Okay, sampai di sana memang salahku, tetapi selanjutnya, bukan aku! Kami sama sekali tidak menyangka Vector ada di istana yang sama dengan kami, dan sampai dengan selama di ruangan yang sama dengan ruangan letak penjara yang mengurung kami. Menurut pengamatanku, sepertinya ruangan ini memang ruangan untuk menghukum para penjahat pada zaman Pangeran yang diceritakan Imouto Shark tadi.

Vector lalu menawarkan duel dengan ante rule. Vector mempertaruhkan Number yang didapatkannya di reruntuhan ini. Awalnya kukira aku yang akan duel dengan Vector, sayangnya Vector lebih licik dari apa yang ada di bayanganku.

Vector mengeluarkanku dari penjara, lalu menempatkanku di atas sebuah pilar. Ia membuatku meluncur dari penjara tempatku sampai aku hampir jatuh ke jurang yang idak kuketahui kedalamannya. Lalu, Vector membuat Astral duel dengan Number 96. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya Number 96 bisa bersedia untuk bekerja sama dengan Vector. Aku yakin Vector menggunakan cara licik. Apa? Setelah semua yang ia lakukan, tidak aneh kalau aku mengatainya, 'kan?

Awalnya kukira Vector hanya ingin membuat Astral kehilangan fokusnya karena panik memikirkanku. Sayangnya, seperti yang kukatakan tadi, Vector lebih licik dari apa yang kupikirkan. Seperti yang terjadi tadi, setiap Life Point milik Number 96 berkurang, maka akan ada perangkap yang aktif dan mengincarku. Aku yakin, mereka sengaja membuat Astral tidak bisa menyerang.

Dasar, Busuk! Itu namanya bukan lupa, sudah jelas ia sengaja ingin membuat Astral tidak bisa menyerang dan secara tidak langsung juga mencelakakanku! Kemarin ia menipuku dan menghancurkan hubunganku dan Astral, sekarang ia ingin mencelakakanku! Apa … sebegitunya ia membenciku …?

Tidak, tidak! Jangan menangis, Diriku! Makhluk seperti itu tidak pantas untuk ditangisi!

Pisau itu kembali melayang ke arahku. Sialnya, aku sedang berada di pinggir pilar, dan bodohnya, aku malah menghindar ke belakang. Gawat! Kakiku … kakiku tidak menapak!

"YUUMA!" Shark dan Astral berteriak panik. Badanku terjatuh, mengikuti gravitasi bumi. Aku memejamkan kedua permata ruby milikku. Aku akan meninggal sebelum aku sempat bertemu Tou-chan dan Kaa-chan sekali lagi. Habislah sudah! Maafkan aku, Tou-chan, Kaa-chan!

"Eh …?" Aku merasa, badanku yang seharusnya terjauh, tiba-tiba saja seakan berhenti di udara. Aku membuka kedua permata ruby milikku. Ah! Benar saja! Tubuhku terhenti di udara, dan kini aura ungu menyelimuti diriku. Aku lalu menoleh ke arah Vector. Vector kini merentangkan salah satu tangannya ke arahku, dan telapak tangannya terbuka lebar. Seringaian lebar masih terpasang di wajahnya. Tubuhku perlahan terangkat kembali ke atas.

Vector … menyelamatkanku …? Tidak! Jangan tertipu! Ini pasti salah satu rencananya juga! Kalau aku meninggal duluan, ia tidak akan bisa memanfaatkanku untuk memojokkan Astral!

Aku menatap Vector dengan tatapan kesal dan penuh kebencian.

"Temee, Vector! Caramu ini sangat kotor!" Seruku kesal.

"Hahahaha! Kau benar-benar tontonan yang menarik, Yuuma-kun yo!" Ucapnya padaku dengan nada senang. A-apa?! Jadi ia menyelamatkanku hanya karena ingin melihat "tontonan menarik"?! Ukh, siaaaaal!

Tubuhku kini kembali berdiri di atas pilar tadi. Baru saja aku kembali, Kotori tiba-tiba berteriak padaku.

"Menghindar, Yuuma!" Seru Kotori panik. Aku lalu kembali menoleh ke sampingku. Akh! Pisau menyebalkan itu kembali melayang ke arahku!

"Huaakh!" Aku buru-buru merebahkan tubuhku di atas permukaan pilar untuk menghindari pisau besar itu.

Syuuung!

Fuh! Selamat!

Aku menatap pisau besar itu dengan tatapan tidak percaya. Pisau itu benar-benar napsu sekali ingin mencelakakanku, ya?! Persis seperti orang yang mengaktifkannya!

Ngomong-ngomong soal orang yang mengaktifkan, … aku lalu menoleh ke arah Vector.

Ukh, menyebalkan, ia masih saja menyeringai ke arahku, seakan benar-benar senang melihat perjuanganku mempertahankan nyawaku sendiri.

Kedua permata ruby milikku terbelalak lebar.

Tiba-tiba saja, sosok Vector yang seharusnya duduk di atas singgasana, terganti oleh sosok lelaki … yang tadi kulihat di tangga …. Wajahnya masih tidak terlihat, tetapi seringaiannya terlihat jelas. Seperti … seringaian Vector …. Di sebelah lelaki itu, kini berdiri perempuan yang tadi digendong oleh lelaki itu di tangga. Kedua pergelang tangan perempuan itu diikat menjadi satu dengan sebuah tali. Walau wajahnya tidak terlihat jelas, aku tahu, wanita itu kesal. Di tempat yang seharusnya menjadi tempat duel Astral dan Number 96, seorang pria kini bersujud dengan kedua orang pengawal yang menyilangkan masing-masing tongkat kayu tombak mereka di bawah wajah lelaki itu.

"Bunuh …." Lelaki yang duduk di singgasana itu berucap dengan nada santai. Seringaian lelaki itu semakin lebar. Di balik nada santainya, terdengar nada puas saat ia memutuskan untuk membunuh lelaki di hadapannya.

Tiba-tiba, tubuhku seakan tersengat listrik, dan semua pemandangan tadi menghilang, berubah kembali menjadi pemandangan duel Astral dan Number 96. Baru saja aku ingin menghela napas lega, tetapi napasku tetahan melihat sesosok monster di arena milik Number 96. Itu … Number reruntuhan ini …? Kenapa aku merasakan sesuatu saat melihatnya …? Seakan … sensasi aneh yang kurasakan sejak memasuki reruntuhan ini kini meningkat drastis ….

"Bukah hanya kita, sepertinya Vector juga merasakannya …." Aku buru-buru menoleh ke arah Vector. Benar saja, wajah Vector kini terlihat risih saat melihat Number itu.

Istana Kerajaan Terkutuk …. Istana macam apa ini …? Bukan hanya menyeramkan, tetapi aku juga mengalami kejadian aneh sejak berada di sini. Dan lagi, apa jangan-jangan … Vector juga merasakannya …, sensasi dan perasaan aneh itu …?

Aneh, semuanya aneh, tidak bisa kumengerti. Ada apa sebenarnya dengan istana ini?

.

"Aku tidak akan menyerahkanmu … pada siapa pun juga …."

.

.

A/N:

Ya, oke, jadi, pertama, saya akan bahas soal suara yang muncul di kepala Yuuma. Mungkin itu akan saya jelaskan di chapter depan saja. Ada yang bisa tebak siapa pemilik suara itu? Atau, darimana asal suara itu? Yah, gak usah ditebak juga gak apa, silakan menunggu update aja kalau berkenan. Ahahaha!

Oh, ya, gender bender bisa terjadi pada orang gak terduga loh. Saya author pecinta gender bender soalnya.

Lalu, arti istilah Jepang:

Ouji: Pangeran

Imouto: Adik perempuan

Daijoubu: Tidak apa-apa

Gomen: Maaf

Himei no Meikyuu: Labyrinth of scream

Tou-chan: Ayah

Kaa-chan: Ibu

Temee: "Kau" dalam bentuk tidak sopan atau untuk menunjukkan bentuk kekesalan

Yuuma-kun yo: Yuuma-kun. (Menurut saya, yo itu Cuma untuk menekankan)

Tidak dijamin 100% tepat, ya.

Chapter ini timeline-nya episode 101 dan 102. Kalau chapter depan timeline-nya sehabis episode 115 dan sebelum episode 116. Dan bagi yang penasaran sama Shingetsu Rei, selamat! Shingetsu Rei akan muncul di chapter depan! Tepatnya, dua chapter lagi, sih. Lalu … Yuuma akan lebih OOC di chapter itu …. Kenapa? Karena saya suka mengeluarkan sisi kepribadian Yuuma yang tidak terlihat. Yuuma memang selalu ceria di depan banyak orang, tetapi menurut saya, ia pasti sebenernya stres karena banyak hal buruk yang menimpanya.

Oke, sekian, maaf atas semua kesalahan yang ada. Thanks for reading!