Back To Me
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Pairing :
Sasuke x Naruto
Sasuke Uchiha 22 Tahun
Naruto Namikaze 21 Tahun
Warning :
Yaoi (Boy x Boy), Mpreg, Typo dimana-mana, Bahasa tidak sesuai EYD etc.
Rate M
(Mengandung KONTEN DEWASA / SEX / KEKERASAN DLL)
Harap bijak dalam menanggapi segala hal yang ada di dalam cerita ini.
Saya author newbie yang sangat tidak berpengalaman, menulis seenak jidatnya tanpa tahu aturan. Mohon maaf jika ada kesalahan dan persaamaan cerita, itu adalah bentuk ketidak sengajaan dan kesengajaan saya
.
Kritik, saran apapun itu saya terima
.
Don't Like Don't Read
.
Happy Reading
.
.
Flash back
"Gyaaa!" dengan gerakan cepat seorang pemuda blonde beranjak dari ranjang empuknya masuk menuju kamar mandi pribadi miliknya begitu mata safir indahnya melihat jam digital di atas nakas samping tempat tidur menunjukkan angka 6.40 pagi.
"Aish, kenapa ibu tidak membangunkanku sih!" setelah melepaskan pakaiannya, ia mulai berdiri di bawah shower dan menyalakan kran. Dengan perasaan yang didominasi rasa sebal karena bangun terlamabat, pemuda bernama Naruto itu pun segera menyelesaikan aksi mandinya.
Tidak lebih dari 10 menit ia sudah keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Tubuhnya yang ramping ditunjang dengan wajah yang begitu manis untuk ukuran seorang pria menambah kesan rupawan yang membuat semua orang ingin memilikinya. Tanpa berkaca terlebih dahulu dan hanya menyisir rambut pirang lembutnya menggunakan jari, ia segera mengambil tasnya di atas meja belajar dan mulai melangkah pergi meninggalkan kamar luas dengan berbagai fasilitas mewah.
Dengan langkah terburu-buru ia berjalan menelusuri lorong dan segera menuruni tangga, begitu sampai di lantai bawah kakinya bergerak memasuki ruang makan. Di sana terlihat sang kepala keluarga tengah duduk bersantai di kursi meja makan sambil membaca koran ditemani secangkir kopi yang masih mengeluarkan uap panas.
"Selamat pagi!" sapa sang pemuda blonde begitu sampai di meja makan dan mulai mendudukkan dirinya di kursi sebelah kanan sang ayah serta menyimpan tasnya di kursi kosong sebelah yang ia tempati.
Sang ayah berhenti membaca kemudian melirik mendapati anaknya sudah tiba di ruang makan "Kau sudah bangun?" ia melipat koran itu dan menyimpanya di atas meja.
"Ayah biasa melihatnya sendiri." tanpa menjawab lebih pertanyaan sang ayah, tanganya mulai mengambil gelas berisi susu yang telah tersedia untuknya dan mulai meminumnya dengan rakus.
Minato hanya tersenyum melihat anaknya dalam mood yang jelek "Kau terlalu bersemangat Naruto, pelan-pelanlah sedikit." kini ia menggelengkan kepalanya begitu Naruto mengacuhkannya.
"Hahhh!" gelas berisi susu yang ada di tangannya sudah habis dalam waktu sekejap, ia meletaknnya kembali dan mulai mengambil tasnya.
"Siang nanti setelah selesai kuliah, paman Fugaku ingin bertemu." ucap minato sambil meminum perlahan kopinya.
"Memangnya ada acara apa?" ia mulai berdiri dan menyampirkan tas raselnya di bahu sempitnya.
"Kau sudah tahu jika Itachi mempunyai adik,kan?" Naruto hanya mengangukkan kepala "Kemarin dia baru saja datang dari Inggris, karena itu paman Fugaku ingin mengenalkannya sebagai direktur baru NGlobal Crop."
"Apa kak Itachi juga ada?" tanyanya dengan sangat antusias.
"Ayah akan menjemputmu nanti siang kalau begitu." Ucap Minato begitu anaknya setuju untuk menghadari pertemuan.
"Ibu aku berangkat!" teriak Naruto setelah melihat jam di pergelangan tangannya menujukkan jam 7.04.
"Mau kemana kau orang dewasa!" teriak seorang wanita keluar dari dari arah dapur begitu mendengar sang anak berpamitan "Kau belum sarapan Naruto!"
"Sudah tidak ada waktu bu, busnya akan segera datang!" Naruto melihat kearah wanita yang sudah berjasa melahirkannya dengan wajah cemberut. "Aku pergi!" ia pun segera membalikkan badannya melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Naruto!" sayang panggilan sang ibu tidak didengarnya.
"Sudahlah Kushina, kalian ini terlalu bersemangat. Seharusnya kau membangunkannya seperti biasa jadi Naruto bisa memakan sarapannya." ucap Minato sambil kembali menyeruput kopinya.
"Dia yang bilang sendiri semalam kan, kalau dia sudah dewasa. Orang dewasa tidak perlu bantuan orangtua untuk membangunkan." Ucap Kushina sambil mendudukkan dirinya di kursi samping kiri Minato.
"Mana ada orang dewasa merajuk karena tidak dibangunkan dan setelah itu meminum susunya dengan rakus." Minato terkekeh pelan mengingat anaknya semalam sesumbar bahwa dirinya sudah dewasa yang alhasil membuat para penghuni rumah termasuk maid tertawa.
Kushina tersenyum lembut yang juga mengingat kejadian semalam "Naruto hanya anak yang baru menginjak usia 19 tahun. Bahkan dia tidak begitu tahu apa artinya tertarik pada lawan jenis. Dia terlalu polos.."
"Biarkanlah dia mencari jati dirinya, kau harus memberikannya sedikit kebebasan."
Kushina menatap inten suaminya "Tidak bisa, dia terlalu istimewa."
"Eto~"
Tak lama berselang para maid keluarga Namikaze datang menyiapkan sarapan.
MueezaLoveNaruto
Hal yang paling disyukuri Naruto adalah mempunyai keluarga yang lengkap meskipun sikap orang tuanya dan sang nenek terlalu protektif, selain itu ia mempunya Itachi yang seperti sosok seorang kakak serta tiga orang sahabat yang senantiasa menemaninya untuk bermain walau tempat yang dikunjunginya selalu sama.
"Hey Naruto! Bagaimana kalau kita pergi ke game center? Atau kita menonton film Action yang kemarin baru tayang?" ajak pemuda bernama Inuzuka Kiba merangkul sang blonde sambil berjalan di koridor kampus setelah jam kuliah terakhir selesai. Sedangkan kedua teman lainya Sai dan Shikamaru berjalan di belakangnya.
"Tidak bisa, ayahku sudah menjemput." jawbannya sambil terus berjalan meninggalkan kiba yang terdiam.
"Kau seperti anak taman kanak-kanak." ucap Kiba yang baru tersadar dan menyusul kembali ketiga temannya.
"Asal kau tahu saja aku ini sudah dewasa!" ujar Naruto penuh percaya diri.
"Itu benar Kiba, Naruto sudah dewasa." ucap Sai dengan senyum diwajahnya "Seharusnya kau tidak mengajaknya ke game center, kau ajak saja-"
Ucapan Sai terhenti oleh Shikamaru yang menutup mulutnya dengan tangannya. Naruto yang tadinya terus berjalan menghentikan langkahnya karena penasaran dengan lanjutan ucapan Sai.
"Ajak ke mana Sai?" tanya Naruto penuh penasaran.
"Maksud Sai sebaiknya kau di ajak ke perpustakaan dan fokus mengerjakan tugas kuliah. Benar begitu kan, Sai?" ucap Shikamaru sambil melepaskan bekapannya.
Sai hanya tersenyum mendengar ucapan Shikamaru "Merepotkan~" desah Shikmaru.
"Hari ini aku akan bertemu dengan kak Itachi." dengan wajah penuh semangat Naruto kembali melanjutkan langkahnya beserta ketiga teman yang setia mengikuti.
"Itachi Uchiha lagi?" ucap kiba dengan bosan. Hal ini dikarenakan Naruto selalu pergi bersama Itachi jika ia menolak untuk bermain bersama.
"Tidak juga sih, aku juga akan bertemu dengan adik kak Itachi. Kalau begitu aku pergi duluan!" sambil melambaikan tangannya Naruto pergi dengan tergesa meninggalkan ketiga temannya yang terdiam.
"Adik Itachi?" ucap Sai memecah keheningan mereka.
"Itachi mempunyai seorang adik laki-laki. Dia kuliah di luar negeri, kalau tidak salah namanya Sasuke Uchiha." Ujar Shikamaru meninggalkan teman-temannya.
"Shikamaru kau tahu dari mana?" tanya Kiba penasaran.
MueezaLoveNaruto
Luas, itulah kata pertama yang selalu berada di benak Naruto jika berkunjung ke kediaman Uchiha. Bisa dipastikan jika dia tinggal di sini maka ia akan selalu tertinggal bus untuk pergi kuliah ditambah jika ibunya tidak membangunkan tidurnya. Bayangkan saja jarak gerbang dengan pintu utama rumah membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit jika berjalan kaki. Untung saja setiap ia ke sini selalu menumpang mobil ayahnya ataupun Itachi, hitung-hitung menghemat energi.
Sebelum berangkat menuju kediaman Uchiha, ayahnya sempat mengajaknya ke butik untuk mengganti pakaian. Sekarang penampilannya berbalut kemeja berwana biru muda dengan tuksedo berwana hitam menambah kesan manis pemuda blonde itu. Pintu mobil ayahnya dibuka oleh dua pria berjas hitam, Naruto beserta Minato turun dari mobilnya dan mulai melangkah mengikuti jejak sang ayah. Terlihat di depan pintu yang besar itu sudah ada seorang butler dan beberapa maid yang menyambut kedatangannya. Sang butler bernama Hirosi menyapanya dan mempersilakann untuk mengikutinya.
Setelah melewati lobby yang luas dan menelusuri lorong mereka tiba didepan sebuah pintu kayu bercat coklat tua. Dua orang pria dengan pakaian pelayan yang berdiri di depan pintu itu mulai membukanya.
"Silakan tuan Namikaze." ucap sang butler Hirosi menundukkan badannya.
"Terima kasih." Minato dan Naruto melewati mereka dan masuk menuju ballroom di mana cara berlangsung.
Tak banyak tamu yang hadir di acara yang diadakan oleh keluarga Uchiha ini mengingat acara ini adalah privat. Sewaktu di perjalanan Minato menjelaskan pada Naruto tentang acara macam apa yang akan diharinya. Dan sekarang terlihat tamu-tamu sudah hadir dan tuan rumah Fugaku Uchiha beserta sang nyonya Mikoto Uchiha tengah bercengkrama dengan para tamu.
Minato terus berjalan menghampiri sahabatnya sedangkan Naruto berhenti melangkah mengikuti sang ayah. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan sejauh yang ia lihat banyak stand-stand makanan yang menjadi jamuan untuk para tamu . Namun pandangannya terhenti di suatu sudut stand minuman. Di sana terlihat sosok tinggi putih dengan balutan kemeja putih dan tuksedo berwarna sama dengan miliknya serta rambut hitam yang dikuncir di belakang menambah kesan tampan pria bernama Itachi Uchiha itu tengah mengambil segelas minuman.
Tanpa banyak berpikir Naruto melangkah dengan cepat menuju sang objek yang dicarinya sejak menginjakkan kaki ke ballroom ini. Dengan perasaan menggebu-gebu ia memanggil sesok tersebut begitu berhasil mendekat. "Kak Itachi!"
Medengar namanya diteriakkan oleh suara yang begitu dia kenal, dengan cepat ia menolehkan kepalanya. Ia melihat pemuda blonde yang begitu manis menghampirinya dengan wajah ceria. "Naruto!" ucapnya sambil meletakkan kembali gelas yang sudah dipegangnya.
Pelukan penuh rindu didapatkan Itachi dari sosok pemuda manis kesayanganya itu dan ia pun tak kalah eratnya membalas pelukannya. "Bagaimana kabarmu, Naruto?" pertanyaan yang sama untuk membuka perbincangan meskipun dua hari yang lalu mereka baru bertemu.
"Aku selalu merindukan kak Itachi?" menenggelamkan wajahnya di dada sang Uchiha, Naruto makin erat memeluk.
"Kau ini." Itachi tersenyum lembut mendengar penuturan Naruto yang polos, kemudian tangan kananya sedikit mengacak puncak kepala sang blonde yang amat disukainya.
Naruto melepas pelukannya dan menatap wajah tampan Itachi dengan senyuman lebar "Kak Itachi, bagaimana kalau kita pergi ke kedai Ichiraku?"
"Ketahuan belangmu Naruto, kau hanya merindukan teraktiran ramen dariku." Itachi mencubit hidung lancip mungil Naruto seraya terkekeh melihat reaksi lucu darinya.
"Ish~" Naruto memasang muka cemberut begitu Itachi melepaskan cubitannya. Ia kembali memeluk Itachi dan melesakkan kembali kepalanya ke dada bidang Itachi. Naruto begitu menyukai harum dari tubuh sang Uchiha, begitu nyaman dan penuh kelembutan.
Tak jauh seperti Naruto, Itachi menundukkan sedikit wajahnya sehingga dapat menikmati wangi citrus yang menguar dari helaian rambut blondenya yang sudah menjadi identitas. Puas menikmati sensasi yang begitu disukainya, Itachi melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu sempit Naruto mengarahkan untuk menatapnya. "Katakan Naruto… Katakan bahwa kau ingin menculik pangeran tampan ini bukan hanya untuk ke kedai Ichiraku melainkan pergi menonton juga?" ucapnya dengan wajah serius.
Naruto tersenyum bahagia, inilah yang amat sangat disukainya dari sosok Itachi. Sikapnya yang penuh kelembutan, memberikanya kenyamanan dan keamanan sungguh sosok yang begitu naruto sayangi. Itachi tidak pernah menolak ajakannya dalam situasi apapun seperti sekarang ini. "Tentu saja kak, kita akan pergi ke banyak tempat." Naruto yang tingginya hanya sebahu Itachi berjinjit dan mengecup lembut pipi Itachi dengan cepat.
Itachi terdiam mendapat perlakuan Naaruto "Kau nakal Naruto." Naruto hanya tersenyum lebar "Pertama-tama, akan ku kenalkan kau dengan adikku, bagaimana?"
"Itu ide yang bagus, apakah adik kak Itachi akan menyukaiku?" tanyanya dengan polos.
"Dia akan menyukaimu, tapi dia sedikit pendiam. Ayo…" tanpa banyak bicara Itachi menggenggam tangan Naruto membawanya berjalan melewati para tamu yang sedari tadi menyaksikan tingkah laku keduanya.
Pemuda dengan tubuh tinggi dibalut pakaian serba hitam termasuk kemeja namun sangat kontras dengan kulit putih pucatnya sedang berdiri menghadap jendela yang besar melihat pemandangan taman mawar di luar sana. Setelah menyapa banyak tamu, ia memutuskan untuk berdiam diri di sini menghindar kerumunan orang-orang yang ada di belakangnya. Rambut dengan potongan khas harajuku style membingkai wajah tampan yang tirus menambah kesan keren hingga membuat para gadis tergila-gila.
Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku, ia sungguh merasa bosan dengan suasana acara ini. Keramaian sangat membuatnya sebal dan ingin segera mengakhiri semuanya. Pandangan datarnya terfokus melihat mawa-mawar cantik yang selalu dirawat oleh ibunya hingga-
"Sasuke!"
Mendengar suara memanggil namanya, ia membalikkan tubuhnya dan mendapati sang kakak yang menggandeng sosok dengan surai blonde mendekat kearahnya.
"Itachi." Ucapnya dengan wajah datar.
Itachi dan Naruto sampai dihadapan Sasuke yang memandang keduanya dengan datar. Naruto yang melihatnya merasa terintimidasi dan tidak enak hati karena menganggap telah mengganggu sosok yang sama tingginya dengan Itachi.
"Sasuke kenalkan ini Naruto anak dari paman Minato." Itachi membawa Naruto untuk lebih mendekat "Dan Naruto ini Sasuke adikku, usianya hanya satu tahun diatasmu. Aku harap kalian bisa berteman dengan baik." Ucap Itachi dengan senyuman memperkenalkan Sasuke pada dirinya.
Dengan canggung Naruto mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan sedangkan Sasuke hanya melihatnya datar setelah itu memutuskan untuk menyambut tangannya.
Dingin adalah kesan yang kentara ketika tangannya berjabatan dengan tangan Sasuke. Naruto berpikir apakah Sasuke cukup terkena sinar matahari, kenapa tangannya sangat dingin sekali? Dengan senyuman canggung naruto mengakhiri acara jabat tangannya dengan Sasuke, ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang dipirkan oleh orang di depannya. Sasuke adik dari Itachi tapi kenapa keduanya sedikit kontras. Jika Itachi masih bisa berekspresi meskipun seorang Uchiha beda halnya dengan sasuke yang benar-benar dingin sebagai seorang Uchiha.
"Nah Naruto..." Itachi memegang pundak Naruto dan menatapnya lembut "Kau tunggulah di sini bersama Sasuke. Aku akan masuk ke dalam sebentar, setelah itu kita akan pergi." ucap Itachi seraya meninggalkan keduanya.
Sasuke hanya melihat datar kepergian Itachi yang seenaknya menitipkan seseorang, pandangannya ia alihkan pada sosok pendek yang sedang tertunduk.
"Kau… Naruto." ucap Sasuke dingin hingga membuat Naruto mengangkat kepalanya dan memandang Sasuke. "Itachi dan kau akan pergi?"
"Ano~, kita akan pergi ke Ichiraku dan menonton film. Apakah Sasuke ingin ikut?" tanya Naruto dengan takut.
"Kalian kabur?"
"Eto~"
"Kalian menjalin hubungan? Sejauh apa hubungan kau dengan Itachi?" tanya Sasuke dengan wajah yang masih datar dan dingin.
"Ekh!" Naruto terkejut mendengar pertanyaan Sasuke "Apa maksud pertanyaanmu? Hubunganku dengan kak Itachi seperti adik dan kakak. Aku harap kau tidak marah…" ucapnya dengan menundukkan kembali kepalanya.
Sasuke terdiam memperhatikan "Seorang bocah yang terlalu polos."
"Aku sudah dewasa!" sangkal Naruto dengan wajah memerah menatap Sasuke.
"Penuh energy dan berisik seperti perempuan, Dobe." ucap Sasuke dengan seringai menghiasi wajah tampannya.
"Teme!" geram Naruto dengan wajah yang sudah merah menambah kesan manis.
Sasuke yang mendapati reaksi sosok blonde didepannya sesuai prediksi menatap wajahnya dengan inten disertai seringai yang semakin tercetak jelas di wajahnya yang tampan.
End Flash Back
MueezaLoveNaruto
Langit di atas sudah berubah galap sejak berjam-jam yang lalu, namun sosok berambut raven tidak beranjak dari tempatnya. Ia berdiri di depan pagar pembatas lantai teratas gedung rumah sakit dan angin malam berhembus membelai surainya. Padangannya kosong melihat ke arah bangunan lain di kota ini yang dihiasi lampu yang berwarna cantik.
Siang tadi setelah mendapat telepon kabar mengenai pemuda bernama Naruto, ia segera datang kemari untuk memastikan keadaannya. Selama di perjalanan hatinya begitu resah tak karuan mendengar kabar bahwa Naruto dalam penangan tim medis. Sesampainya di rumah sakit, ia mendapati keluarga Naruto tengah berada di depan pintu ruang rawat duduk menanti dengan perasaan cemas.
Sasuke yang melihatnya berjalan terus menghampiri dan bertanya mengenai detail kejadiannya. Tanpa menyadari bahwa ayah dan kakanya mengikuti di belakangnya. Tak lama, tim medis keluar dari ruangan itu, salah seorang dokter menjelaskan bahwa Naruto sudah sadar dan alat-alat yang terpasang ditubuhnya sudah dilepaskan. Keadaanya kini sudah sangat stabil dan bisa di jenguk oleh keluarganya.
Kebahagian begitu terlihat jelas di wajah orang-orang yang sejak tadi menanti termasuk Sasuke. Namu satu hal yang membuatnya sedih bahwa tim dokter mengabarkan sebagian ingatan Naruto hilang, butuh waktu untuk Naruto mengingat kembali memorinya mengingat benturan keras yang dialaminya.
Setelah dokter mengijinkan untuk menemui Naruto, Kushina yang pertama kali masuk keruangan disusul Tsunade dan Minato. Sasuke masih berdiam diri, ia sangsi apakah Naruto mengingatnya. Tepukan dibahunya menyadarkan Sasuke, ayahnya tersenyum mencoba menguatkan. "Temui dan pastikan sendiri, Sasuke." ucap sang ayah. Itachi yang juga berada di sampingnya ikut tersenyum dan membawanya masuk ke ruang rawat Naruto.
Mungkin inilah pertama kalinya perasaan seorang Sasuke Uchiha benar-benar hancur tak tersisakan. Orang yang kau nanti-nantikan di mana dunia mu berada di dirinya melupakan sosok dirimu. Tak ada memori yang membekas di ingatannya, tak mengenal dan tak pernah melihat. Dari ketiga Uchiha yang berada di ruangan itu tak ada satupun yang dikenal Naruto selain ayah, ibu serta neneknya.
Sasuke yang memahami kondisi sosok sang blonde hanya terdiam tak percaya, ia mulai membalikkan badannya meninggalkan ruangan itu. Pertanyaan orang-orang mengenai kemana ia hendak pergi hanya dijawab dengan "Hn."
Angin malam semakin berhembus dingin, Sasuke masih bergeming di tempatnya. Ditengokkanya kepala ke atas melihat bintang-bintang yang sudah bertabur menghiasi langit malam yang gelap dengan bulan purnama yang indah. Perlahan cairan bening dari mata onyxnya mengalir di kedua pipinya, menambah keasan rapuh sosok tersebut.
Pintu yang menghubungkan pada lantai teratas gedung rumah sakit terbuka menampakkan sosok Itachi yang berjalan di belakang Sasuke menghampirinya. Sebanyak empat langkah menjadi pemisah ia dan Sasuke. Itachi tahu adiknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sama halnya dengan dirinya.
"Sasuke…" panggil Itachi lembut, namun Sasuke hanya berdiam diri "Jika Naruto melupakan baik diriku atau pun dirimu. Bagaimana kalau kita membuat memori baru untuknya? Kita tahu Naruto sudah sadar dan ia ingat kalau ia sedang mengandung. Itu sungguh keajaiban, bukan begitu? Kita harus berusaha membuatnya mengingat dan terus berada di sisinya. Kau masih punya kesempatan yang terbuka lebar, Sasuke."
Sasuke hanya mendengarkan tanpa ingin menjawab perkataan sang kakak, hatinyanya benar-benar sesak. Airmatanya tak berhenti mengalir membasahi wajahnya, rasa kecewa atas dirinya sendiri mendominasi perasaanya.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, ruang rawat ini sudah sepi. Hanya ada dirinya dan sosok blonde yang sudah tertidur di ranjang rawatnya. Ia berdiri disamping sosok tersebut, tangannya mengelus pelan surai lembut itu perlahan. "Naruto, kau sempat-sempatnya melupakanku.. Kumohon, ingatlah aku."
Bersambung~
Ini ceritanya sudah dilanjut ^_^
Saya ucapkan terimaksih banyak kepada readers yang bersedia membaca dan yang sudah mereview..
Kritik dan saran selanjutnya saya tunggu..
