Title: I Dreamed a dream

Author: Nikun

Naruto By Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi, OOC, Typo bertebaran, Mpreg (maybe?), cerita sinetron abis, gaje

Italic - flashback


"Kenapa harus kau yang selalu pergi?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat Naruto memberikan tas hitam itu kepada suaminya. Nada keberatan jelas terasa di kalimat itu membuat Sasuke mengecup kembali kening suaminya itu. Ia tersenyum lembut kepada pemuda pemilik iris terbiru yang pernah ia temui itu.

"Aku hanya pergi beberapa hari, mungkin beberapa minggu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"

Naruto mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka. Ia kesal karena ia harus membiarkan suaminya kembali pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang baginya tak pernah ada habisnya itu. Ia tahu bahwa posisi Sasuke memang cukup penting, tapi bisakah suaminya itu menyempatkan diri untuk berlibur untuk beberapa saat saja.

"Tak bisakah orang lain yang melakukannya, kau kan baru pulang beberapa hari yang lalu" Ia tahu itu cukup egois, tapi ia tak bisa menahan perasaannya yang entah kenapa terasa sangat tidak ikhlas membiarkan sang suami pergi.

"Ayolah jangan memasang wajah seperti itu, hanya aku yang bisa melakukan pekerjaan ini dan lagi pula kau tahu ini satu-satunya kesempatanku untuk mendapatkan promosi. Aku janji aku akan menyelesaikannya secepat mungkin"

Naruto mengangguk pelan, bagaimanapun ia harus mendukung suaminya itu. Ia mengecup bibir suaminya sebagai tanda perpisahan sembari menampik semua perasaan tidak rela ia bergejolak di hatinya saat ini.

"Hati-hati, jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku saat kau sudah tiba disana" bisik Naruto sesaat setelah melepaskan ciuman itu.

Sasuke memeluk erat suaminya, ia mengangguk dan berbisik

"Kau juga, jaga dirimu sampai aku kembali dan kutitipkan anak kita padamu"


"Tou-chan"

Suara lemah itu menyadarkan Naruto dari pikirannya sendiri. Ia menatap bocah berumur lima tahun itu yang kini menatapnya khawatir.

"Tou-chan kenapa? Tou-chan sakit?"

Pertanyaan polos itu membuat Naruto ingin tertawa miris. Anaknya itu memang sebuah anugrah, ia merasa sangat beruntung memiliki anak laki-laki itu. Bagaimana tidak, disaat seluruh tubuh kecilnya tertancap berbagai macam alat kesehatan medis yang Naruto sendiri tak tahu apa namanya, malaikat kecil itu malah menghawatirkan kondisi Tou-channya.

"Tidak, Tou-chan tidak apa-apa. Nee, Menma mau apel lagi" Ia mencoba mencerahkan suasana dengan tersenyum dan dengan cekatan ia kembali mengambil sebutir apel dari meja di samping ranjang. Mengupasnya dan berpura-pura bahwa anaknya kini tidak sedang memandang nya dengan tatapan yang sama.

Demi tuhan, tatapan khawatir seperti itu tidak seharusnya dimiliki bocah berumur lima tahun.

"Tou-chan?" sepasang tangan kecil mengenggam tangan tan yang jauh lebih besar dari tangannya yang pucat. Gerakan sederhana itu membuat Naruto berhenti mengupas apel.

"Tou-chan memikirkan Tou-san lagi ya?"

Butuh seluruh kendali diri Naruto untuk tidak kembali menanggis mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Ia menggeleng pelan dan mencoba tersenyum cerah kearah anaknya.

"Kau bicara apa sih, tentu saja bukan. Tou-chan hanya lupa membawakanmu baju ganti saat akan kesini" Sebuah kebohongan yang sudah lama ia tunjukan kepada anaknya sehingga ia sudah ahli menyembunyikan perasaanya dari anak semata wayangnya itu.

Namun Menma sudah berkali-kali melihat kebohongan itu untuk bisa tertipu lagi. Bocah itu tahu setiap kali pandagan di mata biru itu terlihat kosong itu berarti ayahnya sedang memikirkan sesuatu yang benar-benar menganggunya.

"Bohong," Ucap bocah itu pada akhirnya.

Naruto menghela nafas. Hal yang terakhir yang diinginkannya adalah bertengkar dengan anaknya. Ia tak ingin melanjukan pembicaraan ini lagi sehingga ia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh bocah itu.

"Tidurlah. Ingat kata Tsunade baa-chan, kau harus banyak istirahat jika ingin cepat sembuh. Tou-chan tidak akan kemana-mana" ucapnya dengan senyuman namun nada lelah jelas terdengar.

Menma menganggu dan memejamkan matanya.

Melihat anaknya kini tertidur, Naruto kini memutuskan untuk berdiri ke balkon kamar rawat anaknya dan setelah memastikan pintu kaca penghubung antara balkon dan kamar sudah terkunci rapat Ia kembali memeriksa handphone miliknya, rasa campur aduk menghampiri benaknya saat ia membuka jajaran kontak dan melihat nama suaminya di urutan teratas dari semua nama lainnya. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan kembali menghubungi kontak itu.

"Moshi, moshi Sasuke Uchiha disini. Aku tidak bisa mengangkat telefon saat ini, tolong tinggalkan pesan setelah bunyi beep—"

"Sasuke, ini aku Naruto. Aku tak tahu apa kau mendengar pesan dariku, jika iya maka mungkin kau lelah mendengar suaraku tapi Sasuke aku hanya ingin memberi tahu jika Menma sudah sadar. Aku masih memohon kepadamu, pulanglah—"

"clek—"

Mata biru itu membulat sempurna saat seseorang diujung telefon mengangkat telefonnya. Keheningan terdengar beberapa saat sebelum akhirnya sebuah suara memenuhi indra pendengarannya.

"Hallo," sebuah suara feminim menyapanya.

Seribu satu pemikiran memenuhi pemikirannya saat ia mendengar suara wanita itu. Ia tak bisa berfikir jernih lagi, seakan ada kabut hitam yang memenuhi pemikirannya saat ini.

"Siapa kamu? Kenapa kau bisa memegang handphone Sasuke?"

"Maaf tuan, saya mohon tuan tenang sedikit" suara wanita itu terdengar sedikit panik saat mendengar lontaran pertanyaan Naruto.

Naruto terdiam sejenak saat sebuah pemikiran absurd kini memenuhi otaknya. Kenapa ada wanita asing yang mengangkat telefonnya yang seharusnya ditunjukan untuk suaminya. Apakah benar dugaannya bahwa Sasuke benar-benar meninggalkannya demi seorang wanita lain. Bahwa perjalanan bisnis itu hanya alasan Sasuke untuk pergi bersama wanita lain.

Tak pernah ia sangka sebelumnya bahwa penghianatan rasanya akan sepahit ini.

"Siapa kau?" Naruto mengulangi pertanyaanya lagi dengan nada dingin, ia mencoba untuk tidak berteriak kepada wanita yang kini berada di ujung sambungan telefonnya.

"Nama saya Sakura, saya adalah istri dari Uchiha Sasuke"

'deg!'

Bagaikan bom, kalimat sederhana itu seperti menjadi pemicu ledakan hebat yang kini memporak porandakan dunianya. Ia tak tahu harus berkata apa. Kedua kakinya lemas seketika, ia harus bersandar pada teralis besi itu agar tidak ambruk.

"Ap-apa maksudmu?" bisiknya. Tak ada nada dingin disana, yang ada hanya ada kebingungan dan kekecewaan.

"Naruto-san kan? Kumohon, Bisakah kita tidak membicarakan ini di telefon"

"Apa maumu?—"

"Aku sungguh tak ingin membicarakan ini lewat telefon, bisakah kita bertemu dan membicarakan ini semua?"

Naruto mencengkram keras teralis besi hingga buku-buku tangannya memutih. Rasa kemarahan kembali menghampirinya bahkan lebih besar dari sebelumnya. Ia tak yakin apakah ia bisa menemui wanita yang menjadi bukti bahwa suaminya selama ini mengkhianatinya.

"Naruto-san?"

Naruto membalikan tubuhnya dan menatap anaknya dari jendela kaca besar yang memisahkan mereka. Demi Menma

"Baiklah,"

"Syukurlah, kalau begitu bisakah kita bertemu lusa siang? Aku akan memberi tahu tempat dan nomor handphone ku"

Naruto menganggu pelan hingga ia sadar Sakura tidak bisa melihatnya.

"Baiklah"

"Terimakasih, nee Naruto-san. Maafkan aku, aku tak tahu harus mengatakan apa saat ini tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga tak siap menghadapi saat seperti ini"

'Tak ada orang yang siap untuk menerima kabar bahwa suaminya telah berselingkuh, dasar Jalang!' jerit nya dalam hati namun alih-alih menyuarakannya Naruto memilih untuk terdiam dan memutuskan mengakhiri sambungan telefon itu tanpa mengucapkan satu kata pun.

Setelah menghabiskan beberapa saat untuk menangkan diri Naruto kembali membuka kontak di handphone nya. Setelah beberapa waktu sebuah suara terdengar di handphone nya.

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi, Hinata-chan?"

"Na-Naruto kun? Ada apa?"

Naruto tersenyum lemah mendengar suara gadis bernama Hinata itu. Gadis itu selalu terlihat gugup setiap berbicara dengannya, bahkan kebiasaan itu terbawa hingga kesambungan telefon seperti ini.

"Bisakah aku meminta tolong?"

"Te-tentu, Memangnya Naruto kun mau mi-minta tolong apa?"

"Bisakah kau jaga Menma besok? Aku harus keluar kota"

"Tentu saja,"

"Terimakasih ya Hinata"

"Sama-sama Naruto-kun"

Dan sambungan telefon itu terputus. Naruto memasukan handphone nya ke saku celana dan kembali kedalam ruang rawat anaknya.

"Tou-chan?"

Naruto terperanjat kaget saat tiba-tiba suara Menma menyapanya. Rupanya anak itu sedari tadi sama sekali tidak tidur. Tipikal Uchiha yang keras kepala.

Naruto memutuskan duduk di tepi ranjang anaknya, ia harus berhati-hati untuk tidak mengenai berbagai macam kabel yang melintang di sekitar ranjang itu. Ia menatap mata biru anaknya yang serupa dengan miliknya itu dan mengusap lembut helaian hitam rambut anaknya.

"Besok Hinata nee-chan akan kesini, ia akan menjagamu beberapa hari"

"Tou-chan mau kemana?" Walau Menma sudah mengenal Hinata dengan baik tapi tetap saja kehadirannya tidak bisa mengantikan kehadiran Tou-channya itu. Ada sebersit rasa takut yang dirasakan bocah itu saat sosok Naruto tak ada di sampingnya.

"Tou-chan harus keluar kota beberapa hari sayang"

Perkataan Naruto entah mengapa membuat Menma menanggis kencang. Naruto panik, walaupun masih kecil tak biasanya anaknya menanggis seperti ini. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Naruto memilih untuk memeluk tubuh mungil putranya itu.

"Tou-chan jangan pergi hiks, Menma tidak mau Tou-chan juga pergi seperti Tou-san"

Kini Naruto mengerti, tenyata bukan hanya dirinya yang trauma dengan kepergian Sasuke. Selama ini Menma juga merasakannya dan pernyataan Naruto tadilah yang menginggatkan bocah itu akan perkataan Tou-sannya di hari mereka terakhir kali bertemu. Naruto merasa bodoh karena tak memikirkan itu sebelumnya.

"Shuushh, jangan menanggis ya. Tidak, Tou-chan tidak akan pergi dalam waktu yang lama Tou-chan janji Tou-chan akan pulang keesokan harinya" Naruto mengusap lembut air mata dari wajah putranya.

"hiks Janji jari manis?"

"Janji jari manis"

Naruto mengangkat jari manisnya dan menautkan jari mereka. Ia mengelitik pelan perut anaknya hingga bocah itu tertawa geli. Mendengar tawa itu senyum tulus kembali terkembang diwajah Naruto.

"Nah kali ini kau harus benar-benar tidur, Tou-chan akan menemanimu"

Naruto ikut membaringkan tubuhnya disamping tubuh putranya dan mendekap pangeran kecilnya itu. Ia menyenandungkan sebuah lullaby yang dulu sering ia dengar saat ia masih kecil. Ia bernyanyi sampai Menma benar-benar terlelap ke alam mimpi. Melihat wajah tertidur anaknya yang begitu damai membuat hati Naruto terasa hangat walau segala cobaan yang menghadangnya tanpa ampun Menma lah yang menjadi alasannya untuk tetap berdiri kokoh.

Anaknya itu bukan sekedar buah hatinya. Anaknya itu adalah kompas yang menjaga nya agar tidak tersesat. Anaknya itu adalah cahaya yang menuntunya menjauh dari kegelapan. Anaknya adalah satu-satunya hal yang membuat dunianya tetap berputar pada porosnya.

Baginya Menma adalah segalanya dan jika harus berhadapan dengan suami yang telah menghancurkan hatinya itu menjadi satu-satunya cara agar Menma bisa terus bernafas maka hal itu akan ia lakukan. Sial, bahkan jika ia harus menghentikan waktu untuk menyelamatkan putranya pun maka akan ia lakukan.

Keputusannya sudah bulat, ia akan menemui wanita bernama Sakura itu.

Demi Menma, Demi anaknya

Ya, Demi anaknya


AN:

Tadaa~ Nikun mengepost chap 2. Untuk sedikit pencerahan Menma disini adalah anak dari Naruto dan Sasuke, dapet dari mana? Itu masih bakal Nikun ceritain nanti tapi bukan sekarang *wink

Biar gak bingung si Menma itu manggil Naruto Tou-chan dan manggil Sasuke Tou-san soalnya kalau salah satu dari mereka dipanggil Kaa-san rasanya rada aneh heheheh

Feedback and review akan sangat membantu Nikun memperbaiki segala kekurangan Nikun.