Yoo Seonho (21)

Lai Guanlin (4)

Sudah 5 hari semenjak kejadian Ny. Lai yang menitipkan Guanlin padanya, Seonho sama sekali belum bertemu lagi dengan bocah berpipi tembam itu.

Ia sendiri sebenarnya tidak ambil pusing, toh tugas kuliahnya jauh lebih memusingkan daripada memikirkan Guanlin. Buktinya saja sekarang ia tengah disibukan dengan lautan kertas A4 dan sebuah laptop didepannya.

Tapi tiba-tiba terlintas fikiran bagaimana perasaan Guanlin saat tau orang tuanya bercerai?

Memang, Guanlin jelas belum mengerti apa itu perceraian bahkan apa itu pernikahan.

Tapi bukankah miris juga rasanya melihat anak balita yang harusnya masih mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya justru harus menjadi anak yang hanya memiliki satu orang tua saja?

I miss the taste of a sweeter life~

I miss the conversation~

Seonho sontak tersadar dari lamunannya ketika ponselnya berdering tanda panggilan masuk.

Ny. Lai

Dahinya menyerngit begitu mendapat id caller yang tertera diponselnya.

Dengan segera ia menggeser tombol hijau lalu menempelkan benda persegi itu ke telinganya.

"Halo Ny. Lai?"

"Halo Seonho! Bisa kah kau ke kamar apartemen ku sekarang? Tadi Guanlin ku tinggal sebentar untuk pergi belanja ke mart bawah, tapi sialnya ada panggilan dari kantor pengadilan..."

Tanpa Seonho dengarkan lebih detail lagi, pemuda bersurai coklat kayu itu sudah tahu dengan jelas apa yang akan dikatakan oleh Ny. Lai.

Ia lalu meng-iya-kan permintaan Ny. Lai dan segera berlari keluar kamarnya tanpa mengganti baju. Toh, kamar Ny. Lai hanya berbeda 2 kamar dari miliknya.

Dengan segera ia membuka kamar Ny. Lai dengan password yang sebelumnya sudah diberi tahu.

Hal pertama yang ia dapatkan hanyalah keadaan sepi dan kosong. Selanjutnya Seonho sibuk mengagumi isi apartemen ini.

Disini terdapat sebuah taman kecil disudut ruangan. Dengan berbagai macam jenis bunga, Seonho sungguh sangat terpana dengan taman buatan Ny. Lai itu.

Terlalu sibuk mengagumi apartemen Ny. Lai, Seonho akhirnya tersadar ketika pendengarannya menangkap suara tangis anak kecil.

Tidak salah lagi, itu suara Guanlin.

Ia lalu dengan terburu-buru berlari memasuki pintu kamar yang terdapat di sudut ruangan lainnya.

Benar saja, disana ada Guanlin yang sepertinya baru saja terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati mamanya disampingnya. Oleh karena itu ia menangis hingga meraung, bahkan selimut berwarna merah maroon itu sudah tergeletak diatas lantai.

"Guanlin, hey jangan menangis." Bujuk Seonho mendekati ranjang Guanlin lalu menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.

"Hiks- Hoho, mama hiks- kemana?" Tanya Guanlin disela tangisannya.

"Mama mu lagi belanja di swalayan, Guanlin. Dia kembali sebentar lagi." Jelas Seonho setengah berbohong.

Tentu saja ia tidak akan memberi tahu Guanlin yang sebenarnya bukan?

Yang Guanlin tahu kan mama dan papanya itu baik-baik saja, keluarga mereka hangat dan harmonis, papa nya yang selalu mengajaknya bermain sedang bekerja diluar kota sehingga membuat ia hanya tinggal dengan mamanya sementara.

"Hiks. Be, benarkah?" Guanlin bertanya lagi, tangisannya sudah mulai reda.

Seonho mengangguk mantap. Toh, berbohong demi kebaikan tidak ada salahnya juga.

Setelahnya Guanlin menubrukan kepalanya ke dada datar Seonho yang dibalas pekikan terkejut oleh sang empunya.

"Hoho, Lin mathih ngantuk." Ujar Guanlin jujur. Suaranya yang masih sedikit serak akibat menangis terdengar lemah.

"Kalau begitu tidurlah lagi." Perintah Seonho lalu menepuk-nepuk punggung mungil Guanlin.

"Hoho jangan pergi theperti mama ya?" Pinta Guanlin. Seonho tentu saja menganggukan kepalanya tanda berjanji tidak akan meninggalkan Guanlin.

Detik berikutnya hanya terdengar dengkuran halus dari kedua manusia yang sudah sama-sama terlelap didalam mimpinya.

TBC