That Voice
(Suara Itu)
Original link : asianfanficscom/story/view/546759/that-voice-romance-baekyeol
(Beri . di belakang asianfanfics)
Author : ChrissyJjang
Casts : Baekhyun, Chanyeol, Tao, Kris, Lay, Suho, Xiumin, Chen, Luhan, Sehun, Kai, D.O, EXO
Pairing : Chanbaek / Baekyeol
Setting : Phonesex!au
Genre : Romance
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Hope u enjoy~ ^A^
.
.
.
.
.
.
Baekhyun's POV
"Biaya anda 40000 Won dengan tambahan 3000 Won per menit tuan, apakah anda menerima tagihan tersebut?"
"Tentu, sayang."
"Selamat malam tuan." Sambungan berakhir dan aku mendengus pada headseatku, lalu menggeleparkan tubuh ke atas sofa.
Bisa bekerja dari rumah mungkin adalah satu satunya keuntungan dari pekerjaan ini, itu dan kenyataan bahwa aku tidak harus memandang wajah wajah mesum para pelanggan. Aku nyaris tak kuat mendengar erangan dan lenguhan mereka, jadi fakta bahwa aku bisa membayangkan itu adalah Kim Jonghyun SHINee yang menelepon merupakan suatu kelegaan.
"Baekhyun, kita punya seorang pemula di sambungan. Dia terdengar gugup tapi suaranya benar benar bagus, kau bisa menanganinya?" Suara Lay memecah keheningan setelah dua suara beep terdengar di headsetku.
"Sambungkan ia Lay, kau tahu aku suka dengan yang pemalu."
Suara tawa terdengar kemudian diikuti suara beep yang lain. Aku memainkan kuku kuku jariku selama tiga detik sebelum akhirnya Lay menyambungkan dengan pelangganku.
"Halo?" Sebuah suara berat terdengar dan aku seketika terduduk di kursiku.
"Well, hai di sana." Jawabku, membiarkan suaraku jatuh menjadi bisikan seduktif.
"Aku tidak terlalu yakin dengan bagaimana cara kerja ini semua." Ia mengaku, terdengar malu namun suara itu tidak sedikitpun kehilangan nadanya yang menggoda.
Lay benar, suaranya terdengar seperti seks cair. Pelanggan sempurna, jika aku boleh bilang. Seorang pria yang dapat terdengar tampan tanpa perlu menggeram di telepon sungguh adalah favoritku. Mengapa ia menelepon saluran obrolan dewasa? Hell, mana ku tahu. Mungkin ia sudah menikah. Mungkin ia berwajah jelek, tapi aku tentu boleh membayangkan yang sebaliknya. Mungkin ia kalah taruhan. Lagipula siapa yang peduli; aku di sini hanya untuk membuatnya orgasme.
"Well, bagainana kalau kita memulai dengan membuatmu panas dan terganggu, dan kita akan mengerjakan sisanya ketika kita sudah sampai sana." Aku menawarkan, bergumam seksi pada telepon.
"Aku tidak yakin aku akan merasa nyaman dengan hal tersebut."
Ia tersedak ketika suaranya pecah dan aku tidak bisa melakukan apapun kecuali terkikik di mikrofonku.
"Kau sadar sedang berbicara di telepon dengan seorang pekerja Exotica bukan? Aku yakin Lay seharusnya sudah mengatakan hal tersebut. Jika anda salah sambung dan membutuhkan kontak ke penjual pizza terdekat, aku yakin bisa membantu."
Suaraku sedikit kehilangan keseksiannya, menggoda seraya bersandar pada telapak tanganku, melawan hasrat untuk terkikik lagi oleh kesalahan pria yang terdengar tampan itu.
"Tunggu!"
Ia memohon dan alisku naik oleh betapa putus asanya ia tiba tiba terdengar. Membutuhkan waktu 30 detik dalam diam sebelum ia bergumam.
"Aku suka suaramu."
Aku tersenyum pada diriku sendiri oleh tingkahnya yang di luar dugaan.
"Well, aku juga suka suaramu."
Nada suaraku turun kembali tapi kemudian aku tersadar sudah tiga menit di telepon bersama pria ini tanpa membuat ia mencopot celana. Sungguh sial. Untuk dompetnya dan juga untuk diriku sendiri karena boleh jadi, mungkin, hanya sedikit saja, aku ingin mendengar suara seksi itu mendesah kacau di telingaku.
"Kau dikenai biaya untuk semua ini, tampan."
Aku menjelaskan dan ia menghela nafas sebelum kemudian tertawa lepas di telingaku, membuat tubuhku meremang turun hingga tulang belakang.
"Jangan khawatir soal itu."
Aku mencebikkan bibir pada ketidaktertarikannya terhadap harga panggilan telepon kami.
"Jadi beri tahu aku, apa yang bisa ku tawarkan padamu jika bukan...pelayananku." Aku bergumam dan ia mendecakkan lidahnya pelan di telepon.
"Siapa namamu?"
Aku terkikik lagi di sambungan telepon pada pertanyaan yang tiba tiba.
"Aku juga suka tawamu."
Ia memberi pengakuan lain, terdengar lebih nyaman daripada ketika aku pertama menjawab panggilannya tadi.
"Aku Baekhyun." Jawabku, mengabaikan pujiannya dengan sengaja.
"Wow, sebuah nama sungguhan. Aku sempat yakin kau akan menjawabku dengan sesuatu yang aneh seperti, Candy (permen)."
Aku menyipitkan mata namun berakhir dengan tertawa atas lelucon coba cobanya.
"Well, aku telah menjawabmu tuan; hargai itu dan mari berlanjut ke topik selanjutnya." Aku berhenti tertawa sebelum lupa diri dan ia bergumam mengiyakan di telingaku.
"Panggil aku Chanyeol."
Tenggorokanku tercekat mendengar namanya. Tanpa suatu alasan khusus, kecuali bagaimana nadanya terdengar panas dan menggoda dengan tiba tiba. Aku menelan air ludah ke kerongkonganku yang kering dan mengumpulkan kembali diriku sebelum ia kembali berbicara.
"Baekhyun, boleh aku bicara jujur padamu?" Aku terbatuk pelan seiring obrolan kami yang berlanjut.
"Maksudmu tentang mengapa kau menelepon? Tentu. Aku akan membencimu jika kau membayar semua uang ini hanya untuk tahu namaku bukan Candy."
Chanyeol tertawa keras, membuatku tersenyum pada diri sendiri.
"Aku baru sadar akhir akhir ini bahwa aku seorang gay."
Aku menaikkan alis dan menggigit bagian dalam pipiku seraya mendengarkan.
"Berapa lama?" Aku berbicara pelan dan ia mendesah sebelum menjawab.
"Mungkin seminggu lalu. Aku hanya tidak dalam posisi untuk membiarkan hal itu diketahui." Aku bergumam paham.
"Kau orang penting." Aku mengangkat bahu pada diriku sendiri, berusaha membuat nadaku terdengar tidak peduli.
"Ya, dan well...aku merasa aneh pada seorang rekan kerjaku akhir akhir ini, jadi aku menelepon kemari untuk...mengaku pada seseorang, yang tidak tahu siapa diriku sehingga tak akan menilai mengenai hal ini."
Aku mengerutkan dahi ketika tau bahwa Chanyeol telah memiliki perasaan pada lelaki lain, yang kemungkinan besar adalah seorang straight. Namun aku, seseorang yang duduk di seberang telepon, hanya bisa berimajinasi tentang suara pria ini, sementara ia berharap aku mampu menjaga rahasia.
"Mengaku kepadaku? Benar benar keputusan yang aneh." Aku mengomel, sedikit kecewa terhadap bagaimana ia mendeskripsikan semua yang terjadi.
"Kau terdengar seperti dia."
Nafasku tertahan dan aku menggeretakkan gigiku dengan kesal atas bagaimana ia memanfaatkanku. Suaraku adalah caraku menghasilkan uang. Orang orang memanfaatkan suaraku hampir setiap hari, tapi entah mengapa ketika Chanyeol berujar aku terdengar seperti laki laki yang ia sukai...ini terasa menyakitkan.
"Namanya bukan Baekhyun, kan?" Aku bercanda dan ia terkekeh di telingaku, membuat jantungku berdegup cepat.
"Sayangnya, bukan. Namanya Luhan jika kau penasaran. Ia benar benar baik dan punya suara yang luar biasa."
Aku bergumam ketika ia membicarakan suara laki laki itu, lalu ia melanjutkan.
"Dia juga amat sangat cantik."
Jantungku teremas mendengarnya. Seharusnya sekalian saja ia berkata, 'Baekhyun, kau jelek dan tidak akan pernah bisa secantik Luhan.' Memang bukan hal seperti itu yang ia maksud, namun efeknya sama saja. Karena itu semua bukan aku yang sedang ia bicarakan.
"Aku mengerti. Pernahkah terpikir olehmu untuk memberitahunya?" Aku berujar pelan dan suara Chanyeol tertahan.
"Tidak akan mungkin!"
Aku terduduk kembali, merasa kesal sekaligus lega.
"Seperti yang ku katakan, hal semacam itu tidak boleh ketahuan dariku, bahkan jika ia seorang gay sekalipun." Ia mendengus.
Aku bermain dengan mikrofonku dan bergumam menjawab.
"Itu benar benar sial Chanyeol, tapi aku akan memberitahumu sekarang, bahwa menyembunyikannya tidak akan berguna."
Ia mengerang dan aku menggigit bibir bawahku mendengar suara itu, merasakan tenggorokanku tercekat dan denyut nadiku semakin bergemuruh. Tuhan, mengapa itu semua terdengar begitu seksi.
"Tapi memang begitulah seharusnya! Dan ketika aku benar benar butuh pelampiasan karena semua kesetressan ini...aku bisa meneleponmu. Ya kan?" Ia memohon.
Seketika tenggorokanku kering terbakar, dan aku menarik nafas, berusaha mengabaikan rasa sakit di dadaku.
"Yeah." Aku menjawab cepat dan Chanyeol menghembuskan nafas, membuatku menggigit lidah.
"Kalau begitu, mungkin itu saja yang ingin ku sampaikan." Ia bergumam, terdengar lelah. Aku melihat ke arah jamku, dan baru kemudian sadar waktu.
Kita sudah berada dalam sambungan telepon sekitar 10 menit, yang mana adalah waktu rata rata satu kali panggilan teleponku. Tapi tetap saja aku merasa sedih mendengar ia pergi.
"Ku rasa begitu. Sampai jumpa lagi Chanyeol. Biaya anda 40000 Won dengan tambahan 3000 Won per menit. Apakah anda menerima tagihan tersebut?"
Ia menggeram dan aku tergidik oleh suara menggodanya, siap menutup telepon.
"Ya." Dan aku memutus sambungan secepat mungkin.
Aku menyandarkan tubuh, mengusap wajahku dengan kasar lalu menggeram frustrasi. Pria menyebalkan ini! Lagipula agaknya ia jelek! Barangkali ia gendut, berbulu, dan memiliki penis yang kecil! Aku menggeram pada pikiranku sendiri sebelum sambungan teleponku berbunyi.
"Sudah selesai Baekhyun? Selanjutnya aku punya Carlos Danger di sambungan untukmu." Lay menertawakan nama samaran jelek itu keras keras, dan aku berusaha menyabarkan diri dengan memutar bola mata melebih lebihkan.
"Cepatlah." Aku menjawab. Nada tunggu terasa begitu pendek sementara aku bersandar pada kedua lengan, menutup mata begitu rapat sebelum mulai membayangkan sebuah wajah yang cocok untuk suara seperti Chanyeol.
"Halo?" Sebuah suara laki laki familiar terdengar di speaker dan aku menggumam pelan sebelum membiarkan suaraku jatuh membentuk bisikan menggoda.
"Hai tampan."
.
.
.
.
T/N :
Haiii~
Mashedpootato balik bawa chapter satu nii. Pendek dan masih no NC! Hehe.
Chapter 1 ini masih sekadar buat perkenalan tokoh utama. Belom begitu ada konflik, walau kita udah bisa rada mencium kecemburuan dari pihak Baekhyun ^3^
Terimakasih yang udah review di chapter epilogue : Herlin790, Park Beichan, lunaluna614, Asmaul, SeHunaa12, exindira.
Chapter ini buat kalian gaes~^^
Trimakasih juga buat readers yang udah follow, fav, maupun sekedar lewat. Lain kali sempatkan review ya gaes, sekedar kata "next" sekalipun sangat berarti buat translator. Masukan dan saran juga amat sangat diterima kok ^^
Review bikin translator tau perlu lanjut translate apa enggak. Karena kalo ga ada peminat, lebih baik berhenti translate aja kan ya... TAT
Cepat lambatnya post chap selanjutnya, tergantung reviews kalian kuyy~
Bubuy^^
