SNS | 2

.

.


"Min- Xiuh..minh.. hah...huhh.." tangan Baekhyun bergelayut pada pundak Minseok. Ia masih berusaha menetralkan nafasnya.

"dari mana saja kau Baek ?" tanya Minseok sambil memasukkan satu persatu bola basket ke dalam keranjang pernyimpanan bola.

1 menit kemudian, setelah nafas Baekhyun bekerja normal. "kau dipanggil guru besar Lee, di ruang SAS"

"Lee Sooman ?" dahi Minseok berkerut.

Baekhyun manjatuhkan dirinya di lantai lapangan basket. "eoh..dia bilang secepatnya"

"tapi..." Minseok berlagak menciumi ketiak kaos seragam olah raganya. "uh..aku harus ganti seragam dulu"

"palli, dia sudah menunggumu" Baekhyun memukul pantat Minseok untuk cepat bergegas.


"sebentar..." Minseok berhenti di ambang pintu. Ia memicingkan matanya untuk mengintip siapa saja yang berada di ruang SAS saat ini melalui jendela yang sedikit terbuka.

Di dalam ada Luhan, Zitao, dan Sehun, yang sedang sibuk menghadap komputer masing-masing di pojok ruangan. Mereka terlihat seperti robot pekerja. Mata ketiga namja itu seolah diprogram khusus agar tidak dapat mengalihkan pandangannya selain pada layar LED di depannya.

Ada Lee Sooman seonsaengnim, dan...apa yang dilakukan Jongin juga Kris di sana ?

Jongin dan Kris duduk berhadapan dengan Lee saem. Terlihat mereka sesekali mengangguk sesaat setelah Lee saem berbicara.

Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, Minseok mengetuk pintu ruangan tersebut sebanyak tiga kali. "anyeonghaseyo.."

Tiga pasang mata itu menoleh pada Minseok di saat yang bersamaan.

"kau Kim Minseok ?" tanya Lee saem.

"ne seonsaengnim"

"kemarilah"

Minseok mengangguk dan memilih duduk di samping Jongin, yang notabenenya teman sekelasnya.


Setelah menutup pintu kamarnya, Minseok berjalan menuju meja belajarnya. Sebelum itu, ia melemparkan tas beserta blazernya ke sebuah keranjang penyimpanan. Dahinya yang terasa berat ia tumpukan pada meja belajar.

'dia sendiri yang memintanya secara pribadi kepadaku, jadi apa boleh buat ? seharusnya kau senang'

.

.

'seharusnya kau senang...'

.

'seharusnya...'

.

'kau...senang..'

.

'senang...'

.

'senang...'

Kata-kata kepala sekolahnya terus terngiang di kepalanya.

Minseok merubah posisi duduknya menjadi tegap. Mimik wajahnya sangat sulit untuk dijelaskan. Antara senyum bahagia, ingin menangis, malu, takut, ragu, tidak percaya diri jadi satu.

Akhirnya dia tertawa seperti seorang psycho. "HAHA...YA ! AKU SENANG ! SENANG SEKALI !"

Ponsel yang ada digenggamannya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Baekhyun.

Minseok menggeser icon hijau yang terdapat pada muka benda itu. "YOBOSEYO ! GEOKJEONGHAJIMA BYUN BAEKHYUN-SSI ! TENANG SAJA, KAU TIDAK USAH MENGKHAWATIRKANKU ! AKU BAIK-BAIK SAJA ! AKU BAHAGIA ! BAHAGIA SEKALI !"

Di lain tempat, wajah Baekhyun mengernyit menahan denyutan di telinganya.

Setelah selesai menyemprot Baekhyun seperti orang kesetanan, dada Minseok naik turun. Nafasnya sedikit memburu.

"eww..." Baekhyun meringis, membayangkan betapa berantakannya Minseok saat ini. "akhir-akhir ini kau memang benar-benar berubah. Kau sering bertingkah aneh. Apa ada yang mengganggumu ? ceritakan padaku"

Benar, Baekhyun tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengira Minseok stres menghadapi tugas-tugas seorang sekretaris kelas yang sangat melelahkan. Pasalnya tadi Baekhyun melihat Minseok mendapat buku dari Na seonsaengnim yang ketebalannya setara dengan tumpukan 3 novel yang masing-masing terdapat 350 halaman. Ia juga mendengar kalau Minseok harus menyalin beberapa data di dalamnya.

Sebenarnya bukan itu yang membuat kepala Minseok ingin pecah. Ini adalah tentang hal lainnya.

"ani...nan gwaenchanha..." sahut Minseok lemah.

"baiklah kalau begitu"

Hening.

"ya ! sebenarnya apa tujuanmu menelponku ?"

"o iya lupa. Habisnya kau tiba-tiba berteriak seperti orang gila begitu ! Aku ja-"

"ayo cepat katakan...aku ingin cepat-cepat pergi tidur" sela Minseok sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

Baekhyun melihat jam dinding di kamarnya sekilas. 'jam 6 sore ? ah..mungkin dia kelelahan' batinnya. "aku Cuma khawatir denganmu. Berhentilah memosting yang tidak-tidak di SNS, lebih baik kau menceritakannya padaku. Jangan bertingkah aneh seperti itu."

"apa maksudmu ?" Minseok berpikir sejenak. "Baek, nanti kuhubungi lagi"

"ba-"

Tuut tuut tuut...

Minseok langsung memutuskan sambungan teleponnya, tak peduli Baekhyun akan mengumpat atau memaki-makinya di luar sana. Ia langsung membuka akun SNS di ponselnya.

...

XiuZi Minseok Kim

Hakuna matata...hakuna matata...hakunaaa...maaataaataaa...

Mungkin aku sedikit gila. Tapi inilah yang kurasakan.

1 hour ago

68 people . Like . 4 Comments . More...

...

Minseok melempar ponselnya begitu saja pada karpet yang selama hampir 10 tahun menjadi selimut lantai kamarnya.

"HACKER GILA !" teriaknya frustasi ketika ia sudah menelungkupkan badannya sempurna di tempat tidurnya.


Xiumin terjaga dari tidurnya. Ia menoleh ke arah jam dinding. Jarum benda itu menunjukkan pukul tujuh lebih dua menit. Ia menghela napas, ternyata ia hanya ketiduran sekitar satu jam. Tentu saja masih dengan seragam sekolah utuh.

"Minseok-ah ! ayo turun, waktunya makan malam !"

"ne, Sungmin hyung !" balas Xiumin pada hyungnya.

"mungkin ini sedikit gila..tapi.." Xiumin memungut ponsel yang sempat ia buang tadi. "ah..siapa peduli"

Lagi-lagi Xiumin membuka akun SNS-nya. Ia menuliskan sesuatu pada timeline-nya. Namun sebelum itu ia mengubah settingan postingannya menjadi 'Only Me'. Yang artinya, orang yang bisa melihat postingan itu hanya Xiumin sendiri. Xiumin juga tidak sebodoh itu. Dia tidak mau diledek 'terkena gangguan jiwa' esok harinya karena dia bertarung komentar dengan akunnya sendiri.

...

XiuZi Minseok Kim

Sebaiknya kau cepat mengaku dan menunjukkan dirimu sebelum aku membunuhmu, Tuan / Nyonya pengganggu ! apa kau tidak tahu kalau aku ini adalah pemilik sabuk hitam ?

Just now

Like . Comment . More...

...

"biar aku yang melakukannya, -hyung !" cegat Xiumin pada Sungmin, saat hyung yang tidak sedarah denganya itu hendak membersihkan meja makan.

Sungmin menghampiri Xiumin yang sedang sibuk dengan piring-piring kotor di bak cuci piring. Ia meraih bahu kiri adik satu-satunya itu.

"wae hyung ?"tanya Xiumin tanpa menoleh.

"jangan terlalu dipaksakan, kau bisa pindah jurusan jika kau mau. Biar aku yang bicara dengan eomma. Aku tahu, untuk jadi seorang programmer itu tidak mudah. Aku tidak ingin adikku ini memiliki kepala licin khas profesor. Kau bisa masuk kelas Multimedia."

"aniyo hyung" Xiumin yang selesai mencuci piring melepas sarung tangan karetnya dan menggantungkannya pada paku yang tertancap di atas wastafel. "aku sudah terbiasa. Menurutku itu menarik. Hyung tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula aku sudah di tingkat 2. Mana mungkin aku pindah jurusan ?" Xiumin tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Sungmin.

"Min"

Xiumin menoleh "ne hyung"

"besok kita jemput appa di rumah sakit"

Xiumin hanya diam.

"baiklah kalau kau tidak mau" lanjut Sungmin.

"a- akan kuusahakan" gugupnya dan melenggang menuju kamarnya yang berada di lantai dua"


Xiumin mengecek akun SNS-nya.

...

XiuZi Minseok Kim

Sebaiknya kau cepat mengaku dan menunjukkan dirimu sebelum aku membunuhmu, Tuan / Nyonya pengganggu ! apa kau tidak tahu kalau aku ini adalah pemilik sabuk hitam ?

1 hour ago

Like . 1 Comment . More...

XiuZi Minseok Kim

Apa itu sangat mengganggumu ?

Ngomong2, aku sedikit takut dengan sabuk hitam itu, apa sabuk itu terlihat seperti milik ayahku ? haha

...

Xiumin menyunggingkan sudut bibirnya. 'orang ini,...tidak bisa membedakan sabuk karate dengan sabuk orang normal pada umumnya. Ini sabuk karate, juga bukan taekwondo.' batinnya. Ia membalas dengan komentar

...

XiuZi Minseok Kim

Apa kau seorang sasaeng fans ? heol ...

Xiuzi Minseok Kim

Hmm...entahlah...hanya saja aku sedikit tertarik untuk bermain-main denganmu ^^

...

Baru saja ia memberi komentar, ternyata si hacker sialan itu langsung menjawabnya.

...

XiuZi Minseok Kim

Sebenarnya apa maumu ?

XiuZi Minseok Kim

Bukannya sudah kubilang, aku ingin bermain-main denganmu.

XiuZi Minseok Kim

Kalau begitu, ayo bertemu denganku langsung

XiuZi Minseok Kim

Jangan sekarang. Aku sedang sibuk manis ^^

XiuZi Minseok Kim

Siapa kau sebenarnya ?

XiuZi Minseok Kim

Aku ?

Lelaki tampan dengan otak jenius

XiuZi Minseok Kim

siapa namamu ?

XiuZi Minseok Kim

Wah...kamu kepo yah ?

XiuZi Minseok Kim

Sungguh keterlaluan...

XiuZi Minseok Kim

Terima kasih ^^

XiuZi Minseok Kim

Kalau aku tahu siapa kau sebenarnya, aku akan segera membunuhmu saat itu juga !

XiuZi Minseok Kim

Tentu jangan, nanti kau menyesal ^^

XiuZi Minseok Kim

Bisakah kau enyah dari hidupku ?!

XiuZi Minseok Kim

Sampai jumpa besok pagi, manis, kutunggu kau di sekolah ^^

...

Xiumin membungkam mulutnya sendiri menggunakan bantal kemudian berteriak "ORANG GILA !"


"Xiu, Jongin, kau sudah ditunggu anak-anak lomba web di ruang SAS" celetuk Suho yang baru saja mendapat sms dari Sehun.

"kajja" Jongin menarik bagian belakang kerah baju Xiumin, dan itu membuat Xiumin mendengus kesal.

"berhenti memperlakukanku seperti kucing, Kim Kkamjong"

"ya !" teriak Jongin tak terima.

Xiumin tak menggubris Jongin.

Sesampainya di ruang SAS, terlihat Kris dan Tao yang mencorat-coret papan putih menggunakan marker. Mereka berdua saling bertukar pikiran, menyusun bagan-bagan sketsa website-nya. Jongin langsung menuju meja Sehun yang juga sedang sibuk membuat bagan sketsa website di kertas HVS.

"tunggu apa lagi, partnermu sudah menunggu sejak tadi Kim Minseok" kata Jongin datar sambil melempar bulatan kertas HVS yang memang sudah dibuang Sehun sejak tadi.

"berisik !"dengus Xiumin tak kalah datar.

Dengan langkah sedikit gemetar Xiumin menghampiri Luhan.

"kau sudah datang ?" sambut Luhan dengan senyum hangatnya. Luhan menutup buku bindernya dan menepuk kursi yang ada di sampingnya. "duduklah"

Setelah duduk dengan benar, Xiumin tersenyum canggung pada Luhan.

"k- kenapa kau me- memintaku sebagai partnermu ?" cicit Xiumin.

"aku dengar hasil designmu diakui kepala sekolah, maka dari itu aku meminta bantuanmu"

"mm...bukankah kau murid Multimedia, seharusnya kau-"

"aku tidak punya bakat dalam bidang design" potong Luhan sambil memainkan touchpad laptopnya. "aku hanya pandai dalam ilmu logika"

"kita murid yang tertukar..." bisik Xiumin pada diri sendiri.

"apa katamu ?" Luhan yang sedikit mendengar perkataan Xiumin menatap Xiumin dengan mimik polosnya.

Demi apa, Xiumin ingin mengumpat sekarang 'DAMN ! HE'S SO HANDSOME !'

"ehm...tidak ada. Hehe.." Xiumin mengangkat sedikit tag name yang ada di dada kanannya. "namaku Kim Minseok, kau bisa memanggilku Minseok, atau Xiumin seperti teman-teman yang lain-"

"tidak" potong Luhan. Ia mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Xiumin. "aku panggil kau 'Zi', dan kau panggil aku 'Lu-ge'" bisiknya, yang tentu saja membuat Xiumin merinding.

"Gege ?" Dahi Xiumin berkerut.

Luhan mengangguk. "wae ? kau tidak suka ?"

"itu...apa tidak terlalu berlebihan ?.."

"tentu tidak" Luhan merengkuh bahu Xiumin dengan lengan kirinya. Ia juga sempat mengelus-elus lengan kiri Xiumin.

"lalu, kenapa kau ingin memanggilku 'Zi' ?"

"itu, karena terlalu banyak yang memanggilmu Xiumin, apalagi Minseok. Aku ingin memanggilmu dengan sebutan yang berbeda."

Tanpa disadari tulang pipi Xiumin memerah. "dari mana kau dapatkan nama 'Zi' ?"

"dari uname akun SNS-mu"

"asal kau tahu, ada orang gila yang menge-hack akun SNS-ku. Dia mengubah nama akunku seenak jidatnya."

"fansmu mungkin" goda Luhan sambil merangkul (lagi) pundak Xiumin.

"tentu bukan, dia hanya seseorang yang tidak punya kegiatan untuk dikerjakan, sehingga dia iseng menggangguku"

"kau yakin ?" Luhan kembali berbisik ke telinga Xiumin.

"YA !" Xiumin mendorong dada Luhan lumayan keras. Ia merasa disindir,...bukan, ia hanya merasa jantungnya sebentar lagi meledak jika diperlakukan seperti itu terus menerus oleh Luhan.

"pffttt..." Luhan menutup mulutnya rapat-rapat demi menahan tawanya.

"Xiuminnie~ ada apa kau berteriak theperti itu thayang ?~~...kau baru thaja membuat ideku kabur melarikan diri dari otakku..." sarkatis Sehun dengan wajah datarnya.

"mian, chingudeul !" Luhan angkat bicara dengan senyum lima jarinya.

Sehun, Jongin, Tao dan Kris hanya mendengus kesal.

Luhan berdehem. "sampai di mana kita tadi ?" Luhan pura-pura sibuk dengan binder dan sketsa website-nya. 'apa kau akan tetap membunuhnya kalau ternyata hackernya adalah aku ?' lanjut Luhan di dalam hati sembari tersenyum penuh arti.

.

.

.

TBC