Min Yoongi hanya inginkan sebuah kebahagiaan di hidupnya. Apakah ia salah?
Sebagai seorang manusia yang dilahirkan ke dunia dengan takdir yang mengikatnya. Min Yoongi sangat paham jika semua telah diatur oleh sang pencipta. Ada seorang kaya dan seorang miskin, ada seorang rupawan dan seorang buruk rupa, serta yang lainnya. Semua perbedaan berada di bumi ini.
Mata itu memandang kosong jalanan yang terdampar di hadapannya. Selalu seperti ini. Ada apa? Apa kehidupannya di dunia ini tak diinginkan? Kenapa mereka tak membunuh Yoongi sejak dulu saja?
.
.
.
.
.
"Yoongi hyung!"
"Yoongi hyung!"
Tak ada jawaban. Anak kecil berusia 13 tahun itu tetap berjalan lurus dengan tatapan mata kosong. Kakinya seakan melayang ketika ia melangkah. Min Yoongi dapat merasakan terpaan angin yang menyapa tubuh kecil itu. Terasa menyejukkan.
"Yoongi hyung!"
Panggilan itu terus datang. Tapi terdengar sangat kecil di telinganya. Min Yoongi sadar, seseorang itu tengah mengejarnya saat ini. Dan dia datang semakin dekat. Hingga menarik tangan Yoongi dan membuatnya terhenti.
"Mau kemana?"
"Pergi."
"Pergi kemana?"
"Pergi."
Masih menunjukkan tatapan mata yang kosong dan kemudian Min Yoongi melepaskan genggaman tangan itu perlahan. Park Jimin namanya. Sahabat seorang Min Yoongi yang terpaut dua tahun dibawahnya.
"Jangan pergi." Jimin berujar sambil menyeimbangkan langkah pelan Min Yoongi. Jimin sadar, ada yang salah dengan sahabatnya ini.
Min Yoongi sama sekali tak mendengar. Dia seakan tuli dan terus berjalan ke depan.
"Kau kenapa? Kau akan pergi kemana? Ayo pulang."
Min Yoongi menggeleng pelan. Sungguh, semua hal yang ia lakukan berlangsung sangat pelan. Dan hal ini membuat Jimin menjadi takut.
"Ayo pulang bersama." Kalimat itu terlontar dari mulut Park Jimin. Ia kini memegang tangan Yoongi dan mencoba mengajaknya untuk berbalik arah. Namun sang lawan bicara hanya diam.
"Ayo pulang, semua akan baik-baik saja. Aku bersamamu."
Min Yoongi menurut. Masih dengan tatapan mata kosong, ia melayangkan kakinya untuk berjalan mengikuti langkah Jimin. Kali ini Jimin menghela napas lega. Jimin masih berjalan sambil menuntun Yoongi, lalu ia menoleh kebelakang. Memperlihatkan sebuah jurang sangat dalam yang membuatnya bergidik ngeri.
Dia berhasil menyelamatkan sahabatnya ini. Sekali lagi.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi Jim."
"Ah, hyung selamat pagi. Kau bangun awal sekali."
Min Yoongi dan Park Jimin, adalah dua orang sahabat sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Pertemuan singkat dan sedikit menakutkan untuk dikenang bagi Jimin.
Ketika itu, Jimin sedang pergi liburan ke Daegu bersama keluarganya. Dia anak yang sangat aktif. Saat itu usianya menginjak 8 tahun. Ketika ia tengah berjalan-jalan di desa Kakeknya itu, dan kemudian kedua matanya menatap seorang anak lelaki tengah berdiri mematung dengan pandangan mata kosong. Di tengah rel kereta api. Anak lelaki itu berjalan dengan sangat pelan mengikuti arah rel. Hingga telinga Jimin menangkap sesuatu yang membuat keringatnya mengucur. Alarm tanda bahwa kereta mendekat dan suara deru mesin alat transportasi panjang itu menggema. Jimin berlari cepat tak mengindahkan panggilan dari sang kakak. Ia mendekati anak lelaki itu dan menariknya keras menyingkir dari rel sebelum kereta itu menghancurkan tubuhnya.
Menakutkan. Itu adalah kata yang terlontar dari bibir Jimin ketika mengingat kejadian tersebut. Sejak hari itu, mereka semakin dekat.
Jimin seorang yang cerewet namun sangat perhatian. Kepribadiannya ceria dan selalu bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Beruntungnya Park Jimin yang selalu dikelilingi kasih sayang semenjak dirinya dilahirkan ke dunia ini. Hal yang terkadang membuat seorang Min Yoongi merasa iri.
"Hanya sandwich untuk sarapan. Aku tak tega membangunkanmu."
Jimin tersenyum. Mereka berdua memang tinggal bersama di kota ini. Seoul, kota untuk para perantauan seperti mereka. Dua tahun sejak Yoongi berkuliah di Seoul, Jimin mengikutinya. Karena memang mereka sudah bersahabat sejak lama, dengan senang hati Yoongi menawarkan Jimin untuk tinggal di apartementnya. Toh, ada sebuah kamar kosong disana. Kamar yang biasa digunakan untuk ibu Yoongi ketika beliau berkunjung. Dan Jimin dengan senang hati menerimanya. Juga agar Jimin tak merasa kesepian. Jimin tak suka sepi. Berbeda dengan Yoongi.
"Bagaimana lagumu hyung? Kukira kau menginap di studio tadi malam." Tanya Jimin sambil menarik sebuah kursi. Memang benar, Yoongi lebih sering menginap di studio, karena tempat itu sepi dan gelap. Juga Yoongi merasa lebih hidup jika sudah ditemani semua alat di 'Genius Lab'nya.
Min Yoongi dan Park Jimin sudah bekerja sekarang. Min Yoongi menjadi seorang produser lagu di sebuah agensi ternama. Dan Park Jimin yang sekarang menjadi seorang designer handal. Sama-sama bekerja, namun mereka sama sekali tak berminat untuk mempunyai apartement terpisah. Pernah sekali Jimin meminta ijin untuk pindah apartement, namun Yoongi menolak. Jimin bersikeras, dan menghasilkan Yoongi yang tak bicara padanya selama satu minggu. Sejak saat itu, Jimin tak pernah menanyakan untuk pindah apartement.
"Masih banyak yang harus kukerjakan. Aku hanya sedikit pening dengan semua itu."
Jimin tersenyum. Ia kini mengambil sebuah gelas dan berniat membuat susu. Yoongi tak suka susu, dia lebih suka teh di pagi hari. Untuk itu ia mengambil mug lainnya dan mulai menyeduh teh hangat.
"Jangan terlalu memaksakan diri, hyung. Jangan sampai kau kelelahan. Tubuhmu tak sekuat itu."
Yoongi terdiam. Memang benar, Yoongi mempunyai daya tahan tubuh yang dibawah rata-rata orang normal. Itu berlangsung sejak kecil. Tepatnya sejak ia berusia 8 bulan.
"Salbutamol masih diproduksi di dunia ini. Aku masih bisa tetap hidup. Jangan berlebihan."
"Aku hanya mengingatkanmu hyung." Sahut Jimin dan ia mengambil sandwich bagiannya. "Hyung, bisakah aku minta tolong padamu?"
Yoongi duduk di seberang meja. Ia mengambil mug teh yang diberikan oleh Jimin. Menyesapnya pelan. "Apa?"
"Model yang biasa denganku sedang di rumah sakit dan aku butuh seseorang untuk mencoba rancanganku. Aku takut terjadi hal yang salah. Kau tau kan hyung, fashion show ku dua bulan lagi. Aku tak ada waktu menunggunya sehat hanya untuk mencoba rancanganku kan? Jadi, emm.."
"Seperti apa?"
"Seorang pria. Tingginya sekitar 185 cm. Dan tampan."
Yoongi terlihat berpikir. Pikirannya menerawang mencari seseorang yang kiranya cocok untuk dijadikan model bagi seorang Park Jimin.
Jimin sedikit tersenyum kikuk sebelum sesuatu terlontar dari bibirnya. "Jeon Jungkook?"
Ya Jeon Jungkook. Dia keponakan dari sang pemilik agensi dan tentunya bekerja di kantor yang sama dengan Yoongi. Jimin juga mengenalnya. Lelaki itu pernah mengantar Yoongi pulang ke apartement dan bertemu juga dengan Jimin. Saat itu Yoongi kurang enak badan sehingga dia tak mampu untuk menyetir sendiri, akhirnya ia diantarkan oleh seorang tampan bernama Jeon Jungkook hingga kedalam apartementnya.
"Ah, Jeon Jungkook. Orang itu yang kau inginkan?"
Jimin tersenyum lebar. "Akan kuurus imbalan untuknya jika ia bersedia membantuku hyung."
Yoongi sedikit mengingat lelaki itu. Seseorang yang tertarik padanya.
.
.
.
.
.
Dua minggu lalu. Malam itu ketika Yoongi sedang mengerjakan lagunya. Di studio pribadi milik Min Yoongi. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari ketika dirinya mulai merasa lelah dan mengantuk. Sebuah sofa berukuran kurang dari dua meter yang selalu menemaninya itu seakan melambai riang. Ia mulai mematikan komputer dan semua alat2 penunjang yang dimilikinya. Pemuda manis itu merenggangkan otot dan bergerak menuju sofa. Menggeliat kecil untuk memposisikan diri senyaman mungkin.
"Yoongi hyung."
Kedua manik Yoongi kembali terbuka ketika suara itu mengetuk telinganya. Pemuda yang menyapa itu adalah Jeon Jungkook. Rekan kerjanya.
Yoongi mengangkat alisnya untuk meminta penjelasan.
Pemuda bermarga Jeon itu mendekat. "Disk miliku ketinggalan."
"Cari saja." Suara serak Yoongi menyahut. Ia kembali memejamkan matanya. Yoongi merasa sangat lelah.
Beberapa saat masih terdengar suara barang-barang yang bergesekan. Agak mengganggu Yoongi tapi ia biarkan saja. Setelah suara itu menghilang, Yoongi merasakan tubuhnya menghangat. Sangat membuat Yoongi merasa nyaman. Ia menggeliat lucu sambil memposisikan dirinya dalam kehangatan itu.
Yoongi yang baru saja akan menyentuh alam mimpi. Ia merasakan sesuatu asing menerpa wajahnya. Sesuatu yang dingin. Yoongi mengabaikannya hingga sebuah benda kenyal menyentuh permukaan bibirnya.
Kedua mata itu langsung terbuka. Menampilkan ekspresi kaget lawan main dihadapannya. Jeon Jungkook. Kini tengah menatapnya dengan tajam. Sadar akan tubuh yang terhimpit, Yoongi mendorong tubuh Jungkook untuk menjauh. Ia mengusap kasar permukaan bibirnya dan menatap sengit Jungkook. Sedangkan sang lawan main hanya menatap Yoongi dengan pandangan yang tak dapat terbaca.
"Kenapa kau melakukan ini?" Hanya butuh penjelasan. Yoongi ingin agar ia tak salah paham. Pemuda bermarga Jeon ini sudah ia anggap sebagai adik kandungnya. Seperti Park Jimin.
"Aku mencintaimu."
Cukup dua kata itu yang kini membuat Yoongi menegakkan badannya untuk sekedar berlalu dari sofa tersebut. Membiarkan selimut cokelat yang tadi melingkupinya hingga terjatuh bebas di lantai.
Yoongi tak akan pernah melupakan saat ini
.
.
.
.
.
Yoongi masih berada di kamarnya. Anak berumur 5 tahun itu meringkuk kedinginan, walaupun sudah ada selimut tebal yang membungkusnya. Air matanya terus mengalir deras. Ia terisak. Dadanya yang sesak terasa semakin sesak ketika ia menangis. Bahkan ia harus merasakan betapa sakit paru-paru di dadanya ketika ia menghirup napas. Ingin rasanya Yoongi mati saja.
Kedua tangannya terangkat. Yoongi menyumpal kedua lubang telinganya dengan tangan mungil itu. Dia semakin merekatkan tangannya di kedua sisi kepala kelika suara-suara itu masih dengan jelas dapat ia dengar. Bibirnya bergetar merapalkan sesuatu yang tak jelas. Tubuhnya bergetar.
"Sekarang itu tugasmu!"
"Anak itu juga tanggung jawabmu! Kenapa harus terus aku yang mengeluarkan uang untuknya!"
Saat itu Yoongi sangat ketakutan. Ingin rasanya ia pergi ke ujung dunia. Harapannya adalah Tuhan yang mencabut nyawanya saat itu juga.
"KAU! Kenapa anak sepertimu hanya bisa menghabiskan uang!"
Itu adalah sebuah kalimat yang menyakitkan hati Yoongi. Dan setelahnya, ia dapat melihat semua mainannya berserakan tak berbentuk lagi.
Anak itu menangis.
Yoongi juga tak ingin mendapatkan tubuh ringkih seperti ini. Yoongi juga ingin menjadi seorang yang normal seperti teman-temannya. Dan sejak hari itu ia menjadi seorang yang lebih sedikit bicara.
.
.
.
.
.
TBC
Iseng coba2 publish FF disini wkwkwk
@galaxynine udah dilanjut nih...
terimakasih udah baca.. RnR..
