Please help him.

Naruto is Masashi Kishimoro

Pair Sasuke – Hinata

Rate T semi M

Ganre Romance, Friendship maybe humor?

Warning AU, OOC, typo, ect.

DON'T LIKE DON'T READ.

.

.

.

Happy reading.

Chapter 2.

.

.

.

Hinata memajamkan mata menikmati pemandangan di sore hari. Tanpa sadar Hinata meraba cincin di jari manisnya, senyum lembut terukir di wajah cantiknya saat mengingat proses lamaran Sasuke kepadanya.

"Hinata," tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Hinata tersentak mendengar suara itu. Ya ampun! apa aku begitu merindukan Sasuke-kun, sampai aku berhalusinasi mendengar suaranya.

"Hinata!"

Hinata mengkrutkan kening mendengar suara Sasuke untuk kedua kalinya.

"Hinata!" seru Sasuke menaikkan volume suaranya satu oktaf.

Mendengar suara Sasuke ketiga kali membuat Hinata segera berbalik dan terkejut melihat Sasuke berdiri di belakangnya.

"Aku sudah mengetuk pintunya berkali-kali dan kau tidak membukakan pintunya juga. Jadi, bibi Hitomi langsung menyuruhku masuk di dalam kamarmu." Sasuke menghampiri Hinata dan memeluknya.

"S-sudah be-berapa lama Sasuke-kun di sini?" tanya Hinata gugup.

"Cukup lama untuk melihatmu memperhatikan Cincin pemberianku." ucap Sasuke mencium pipi kanan Hinata.

Pipi Hinata merona dan menunduk malu, terutama saat melihat seringai di wajah Sasuke.

Cup

Sebuah ciuman kembali mendarat di bibir Hinata. Dengan senyum kemenangan Sasuke hendak menciumnya kembali namun Sasuke sampat kaget ketika mendengar suara deheman Hiashi, ayah dari Hinata.

Tak salah lagi. Hiashi melihat Sasuke mencium Hinata.

"Kalian belum menikah mana boleh di biarkan di dalam kamar hanya berdua!" ucap Hiashi tegas.

Tubuh Sasuke menjadi kaku seolah membatu mendengar ucapan Hiashi, Hinata hanya terkikik geli melihat respon Sasuke. Ia meraih sebelah tangan Sasuke dan membawanya keluar kamar.

.

.

.

Hari yang di nantikan pun tiba. Hinata memakai gaun pengantin membalut sempurna tubunya. Hinata nampak sangat cantik memakai gaun itu. Para pengiring pengantin mengikuti Hinata menuju altar, menghampiri Sasuke yang terlihat gagah menggunakan texudo berwarna putih.

Upacara pengucapan ikrar pernikahan berjalan dengan Khidmat. Semuanya larut dalam acara itu dan meresapi janji yang telah Sasuke maupun Hinata ucapkan.

Hinata menoleh kepada Sasuke yang sudah siap untuk berdansa dengannya. Sasuke tampak begitu tampan.

Sasuke mengulurkan tangan kepada Hinata. Dengan senang hati Hinata menyambut uluran tangan Sasuke.

Alunan musik terdengar merdu membuat siapa pun yang ada di sana hanyut dalam suasana yang romantis.

Hinata menunduk malu saat ia mulai berdansa dengan Sasuke.

"Kau sudah tidak kikuk lagi saat berdansa," bisik Sasuke.

Hinata mendongkak menatap Sasuke kemudian ia tersenyum lembut. "Itu karna suamiku yang mengajariku dengan sabar." ucap Hinata malu-malu.

"Aku yakin suamimu pasti mengharapkanmu memberikannya hadiah."

Seringai nakal nampak di wajah Sasuke, membuat Hinata merona dan hampir pingsan. Hinata sedikit tersandung namun Sasuke langsung membetulkan posisinya.

"Sasuke," seru Hinata kaget saat menahan pinggangnya saat ia hampir terjatuh.

"Hm," Sasuke tersenyum senang dan menatap dalam Hinata.

Hinata memalingkan wajah, menunduk menyembunyikan wajahnya ke bidang dada Sasuke. Melihat sikap Hinata yang seperti itu membuat Sasuke mengeratkan pelukkannya dan membawa Hinata semakin dekat dengannya.

"Sas-" ucapan Hinata terhenti begitu melihat tatapan Sasuke yang mampu membuat lidahnya terasa kelu.

"Hinata," ucap Sasuke pelan.

Sasuke memiringkan wajah hendak melumat bibir mungil yang ada didepannya, namun saat bibir mereka hampir bertemu. Moment kebersamaan Hinata dan Sasuke langsung hancur begitu mendengar teriakkan Naruto.

"Teme, Hinata-chan! Kapan kalian akan melempar buket bunganya, aku sudah tidak sabar untuk menikahi Sakura-chan " teriak Naruto.

"Baka dobe," gerutu Sasuke tidak senang. Hinata hanya tersenyum melihat Sasuke berwajah masam karena teriakkan Naruto.

Semua orang menantikan pelemparan buket bunga. Sasuke menggenggam kedua tangan Hinata dengan kedua tangannya.

"Ayolah teme, kau lama sekali melemparnya." seru Naruto tidak sabaran.

Hinata dan Sasuke melempar buket bunga, buket itu melayang ke udara. Naruto dan Sakura lah yang paling antusian ingin menangkap buket tersebut.

"TANGKAP BUKETNYA…"

Buket mengarah ke arah Sakura, reflek Sakura melompat untuk menangkap buket tersebut. Sakura hampir terjatuh ke belakang. Segera saja Sakura merasakan seseorang manangkap dan memeluk tubuhnya.

Sambil memegangi buket di tangannya, Sakura menoleh menatap Naruto yang sedang memeluknya.

"Karena Sakura-chan yang mendapatkan bunganya. Itu artinya tak ada lagi alasan bagi Sakura-chan untuk menolak lamaranku!" teriakkan Naruto membuat para tamu termasuk Sasuke dan Hinata bersorak senang dan bertepuk tangan.

"Baka," ucap Sakura terharu dan memeluk Naruto.

"Lihatkan sebentar lagi aku kan menyusulmu menikah teme!" teriak Naruto senang

.

.

Setelah pesta usai, Sasuke dan Hinata menuju kamar. Sasuke menyeringai mesum membayangkan malam pertama mereka.

Sasuke sudah siap melakukan ritual itu tapi, Hinata justru langsung merebahkan diri ke tempat tidur.

Sasuke menyeringai melihat Hinata di tempat tidur. "Hinata," Sasuke mendekat dan merangkak ke atasnya. Hinata mengerti bahwa Sasuke ingin melakukan itu dengannya tapi Hinata sangat lelah dan tidak bisa memenuhi keinginan Sasuke.

"Sasuke-kun, aku lelah!"

"Aku menginkanmu." ucap Sasuke parau menahan napsu.

"Tapi aku lelah sekali, Sasuke-kun" ujar Hinata dengan mata tertutup.

Sasuke mendengus kesal dan melepaskan Hinata dari rengkuhannya. Sasuke membelakangin punggung Hinata, Hinata merasa heran karena Sasuke tak memeluknya sehingga ia menoleh dan melihat Sasuke membelakanginya.

Hinata mengerjapkan mata beberapa kali kemudian ia tersenyum geli melihat kelakuan Sasuke seperti anak kecil. Hinata bahkan mendengar Sasuke mengoceh sendiri meski suaranya tidak terlalu jelas, Hinata terkikik geli melihat Sasuke yang sedang ngambek. Meski sangat malu Hinata memberanikan diri memeluk Sasuke.

Sasuke sedikit tersentak ketika merasakan tangan Hinata di atas perutnya. Sasuke menggenggam tangan Hinata.

"Apa Sasuke-kun marah?"

Sasuke menghela napas dan membalikkan posisinya menghadap Hinata.

"Tidurlah!" bisik Sasuke.

"Tapi.."

"Tidurlah Hinata, jika tidak.." aku tidak akan bisa menahannya. "Kau akan bertembah lelah."

Sasuke menarik Hinata kedalam pelukkannya.

"Sasuke-kun,"

"Hn."

"Aku ingin anak kembar," ucap Hinata menenggelamkan kepalanya di dada Sasuke. Sasuke membuka mata, menunduk melihat Hinata.

Hinata mendongkak melihat Sasuke, tangan Hinata membelai pipi kanan Sasuke, ia tersenyum lembut.

"Pasti menyenangkan jika kita mempuyai anak kembar." Hinata masih tersenyum.

"Kau ingin punya anak kembar?"

"Iya," Hinata kembali menenggelapkan kepalanya di dada Sasuke. "Pasti menyengkan."

"Kalau begitu kita buat sekarang." usul Sasuke antusias.

Hinata mencubit perut Sasuke. "Mesum," guman Hinata.

"Aww..Sakit Hinata, kenapa kau mencubitku?" protes Sasuke.

"Itu karna Sasuke-kun mesum." bibir Hinata cemberut.

"Bukan kan kau sendiri yang bilang ingin punya anak kembar, hm?" Sasuke menyeringai nakal.

Hinata kelabakkan melihat seringai nakal Sasuke, wajahnya merah padam layaknya buah tomat.

"Tapi kau suka kan kalau aku mesum di depanmu?" mulut Hinata menganga kaget melihat seringai di wajah Sasuke berubah menjadi seringai mesum.

"Aku memang ingin punya anak kembar tapi-" Hinata bingung melanjutkan ucapannya.

"Tapi apa? Hmm?" Sasuke semakin menyeringai melihat Hinata tidak melanjutkan perkataannya.

"Jika kita tidak melakukannya, kita tidak mungkin punya anak, sayang." goda Sasuke membuat Hinata semakin salah tingkah.

"Baka," ucap Hinata sebelum membelakangi Sasuke.

Kini giliran Sasuke yang terkekeh geli melihat Hinata merajuk. Sasuke memeluk dan mengubah posisi Hinata menghadap ke arahnya.

Cup

"Sekarang tidurlah Hinata! jika tidak, aku akan menjamin menyerangmu malam ini!" bisik Sasuke parau.

Hinata menurut mengikuti perintah Sasuke jika tidak, dia benar-benar yakin Sasuke akan menyerangnya sekarang juga.

Sasuke mempererat pelukkannya dan mencium puncak kepala Hinata. "Anak kembarnya." gumam Sasuke sebelum memejamkan mata.

.

.

.

Ke esokkan paginya Sasuke mengajak Naruto dan teman-temannya berkumpul di restoran kemarin. Dia ingin meminta bantuan lagi kepada mereka. Sementra itu Naruto dan kawan-kawan mendapat firasat buruk mengenai pertemuannya kali ini.

"Aku ingin punya anak kembar dengan Hinata, bisakah kalian memberitahuku bagaimana melakukannya agar bisa mendapatkan anak kembar?" tanya Sasuke panjang lebar.

Naruto dan kawan-kawan kaget dan menyemburkan makanan mereka kembali. Mereka melirik satu sama lain.

"Kau gila! Bagaimana mungkin kami bisa mengetahuinya? Kami saja belum menikah!" teriak mereka bersamaan.

"Kalian bisa melakukannya dengan pacar masing-masing dan menunjukan'nya kepadaku dan Hinata" jawab Sasuke datar.

Mulut mereka menganga lebar mendengar peryataan Sasuke. Jadi Sasuke ingin kita melakukannya dengan pacar kita sementra dia dan Hinata-chan melihat hal itu. Inner mereka berteriak frustasi.

"Argh…." Teriak mereka frustasi.

"Please, help him," teriak Naruto dan kawan-kawan berlari keluar restoran meninggalkan Sasuke.

The and

Terima kasih kepada para pembaca yang mau membaca fic saya ini.

Mind to review?

.

.

.

Omake

Sasuke memasuki kamar dengan hati senang. Hinata tersenyum senang melihat Sasuke masuk ke kamar dan mencium keningnya.

"Hinata ayo kita buat anak kembar sekarang!"

"Eh?"

"Aku sudah bertanya kepada Kakashi sensei dan Jiraiya sensei bagaimana cara membuat anak kembar." seringai nakal terukir di wajah Sasuke.

"Lihat!" Sasuke menunjukan sebuat buku bersampul orange. Wajah Hinata merah padam melihat buku tersebut, itu adalah buku Icha icha paradise sebuah buku Err..porno?

"Mereka bilang di sini ada banyak teknik untuk membuat anak kembar." ujar Sasuke antusias.

Wajah Hinata pucat pasih mendengar hal itu.

"Aku jadi tidak sabar untuk mempraktekkan'nya denganmu." Sasuke tersenyum polos menoleh ke arah Hinata.

"Nah Hinata, Ayo kita lakukan!" Sasuke berlajan mendekati Hinata dan membawanya ke dalam pelukkannya.

Seringai Sasuke semakin bertambah melihat wajah merah padam sang istri dan sedikit raut ketakutan di wajahnya.

"Kira-kira kita pakai teknik yang mana dulunya?" Sasuke tersenyum mesum.

Jika Sasuke boleh meminta tolong untuk menghadapi sikap polos Hinata. Apakah Hinata boleh meminta tolong untuk menghadapi Sasuke dan buku Icha icha paradise?

Please help me, batin Hinata meminta tolong.