Love Me For Thirty Days

HARI PERTAMA

SABTU

As Qhuinn looked at his best friend's handsome face, he felt as if he'd never not known that red hair, those blue eyes, those lips, that jaw. And it was because of their long history that he searched for something to say, something that would get them back to where they had been. All that came to him was . . . I miss you. I miss you so fucking bad it hurts, but I don't know how to find you even though you're right in front of me."

― J.R. Ward, Lover Mine

Hari ini seorang wanita datang dari Kyoto ke kota pusat Jepang ; Tokyo untuk menemui pacarnya.

Seijuroo terbangun karna sinar matahari pagi. Ia terbangun dengan perasaan bahagia karna seorang wanita-kekasihnya akan datang dari Kyoto ke Tokyo untuknya dan merasa aneh karna ia terbangun sangat awal. Ia menoleh ke sisi kanan ranjangnya dan melihat dada si biru yang naik dan turun dalam kecepatan normal ; menandakan bahwa dia masih tidur dengan nyenyak. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan suram dari Tetsuya. Pelan pelan ia bangun dari kasur mewah berukuran besar itu dan langsung menuju ke kamar mandi, tidak mengucapkan kata selamat pagi atau apapun pada sosok yang masih tidur itu.

Ketika terbangun Tetsuya merasa hampa melihat sisi tempat tidur nya yang lain telah kosong - atau bahkan yang terburuk, seluruh rumah nya kosong tak ada seorang pun selain dia.

Tetsuya harus menunjukkan pada si rambut merah; bahwa dia harus mengikuti aturan yang Tetsuya buat (di dalam kesepakatan kemarin) secepatnya atau sama sekali tidak akan ada perceraian. Dia turun dari tempat tidurnya dengan rambut berantakan dan mata biru yang berkabut di pagi yang buruk ini kemudian pergi untuk membuat secangkir kopi.

Di dalam hatinya, dia berharap Akashi akan meninggalkan sebuah pesan untuknya. Mungkin, seperti catatan kecil di lemari es, pesan teks atau pesan suara. Tapi, dia pergi sebagaimana dia muncul tadi malam, dingin, tegas, dan tanpa emosi.

Pria berambut biru itu meringis memikirkan tentang itu; mengingat kenangan terakhirnya. Tak ada yang menyenangkan, kemudian ia berjengit merasakan lidahnya terbakar karena kopi yang mengepul yang baru saja ia seduh. Kopi itu hampir tumpah mengenai kaki nya jika saja jari jari tangannya tidak gesit menangkap gelas itu. Jika Sei-kun ada disini ; memperdulikan nya seperti dulu, ia fikir akan menjadi lebih baik. Dia menghela napas tanpa sadar.

Pagi terlewati seperti bulu yang terbang terbawa angin badai salju yang kuat; sangat cepat. Tetsuya menghabiskan hari Sabtunya dengan membersihkan rumah. Dia sering kali membersih kan rumah saat Seijuurou tidak ada di rumah, karena itulah dia akan sibuk selagi ia menunggu suaminya pulang. Tapi sekarang ini murni hanya untuk menghilangkan stres. Dan dia membersihkan dalam waktu dua kali lebih lama dari yang dia inginkan, berjarak empat jam. Blunette itu melirik jam yang tampak megah yang menunjukkan angka pukul satu siang. Dan dia lupa sarapannya.

"Sepertinya Sei-kun tidak akan pulang nanti,"

gumam Tetsuya yang malang dengan jijik. Setelah menyimpan mesin vakumnya, dia melangkah ke dapur untuk mengambil beberapa bahan dan sebotol anggur.

"Waktu makan siang ... sendirian ... tidak apa-apa. Tidak buruk juga, aku cukup terbiasa dengan ini,"

dia mencoba tersenyum, ujung bibirnya terpaksa menarik ke atas; menampakkan senyum tapi Kebahagian itu tidak sampai di matanya.

Ia menuangkan anggur ke dalam dua Bordeaux dan meminum salah satunya, Tetsuya tidak menghapus tetesan air matanya yang bening yang kontras dengan warna merah anggurya. Dia terisak-isak dan merasa sia sia telah mengharapkan akhir pekan yang menyenagkan. Kemudian menelan sisa minuman nya dalam sekali teguk.

Sore datang dan berakhir, Tetsuya pastikan matahari akan segera terbenam. Saat itulah dia mendengar suara mesin mobil dari luar tapi dia tidak repot-repot berjalan ke arah pintu dan memberikan ucapan selamat datang seperti biasanya. Sebagai gantinya, dia menunggu - dia menunggu waktu untuk di pedulikan. Sampai ketika Seijuurou memasuki rumah, blunette itu tetap diam dan tetap diam seperti itu namun mata biru itu mengawasi setiap langkah, setiap gerakan dan kontak mata pada Seijuuro. Tidak ada kata-kata manis yang ia ucapkan, tidak ada tatapan yang penuh kasih, melainkan sebuah anggukan tegas dan tatapan tajam. Dia telah membawa semacam dokumen yang penuh dengan Tuhan tahu apa. Mungkin surat kabar perceraian, Tetsuya bukan orang yang peduli sekarang. Sebagai gantinya, dia dengan kekanak-kan menjulurkan tangannya seperti bayi yang sedang menunggu ibunya membawanya tidur.

"Kesepakatan itu," dia berkata dengan tegas.

"Kesepakatan itu," ulang si suami yang lebih tinggi.

Dalam sekejap, Tetsuya merasa berat badannya menjadi lebih ringan; saat ia hampir terjatuh tangan itu menahan nya ; tangan yang selalu ada di sisinya dulu dia merindukan tagan ini. Ia menutup matanya, menikmati moment ini, perasaannya, sentuhannya -sentuhan kasih sayangnya, memperlakukan ia seperti seseorang yang paling rapuh. Saat Tetsuya tergelincir dan hampir menyentuh lantai ; tangan Tetsuya malah memeluk lehernya dan sekarang menjadi canggung. Tapi kemudian ia menyandarkan kepalanya pada dada Seijuuro untuk mendengarkan detak jantung nya.

Dia bersenandung kecil sebelum merasakan punggungnya telah terjatuh pada kasur yang lembut. Tetsuya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, tapi Seijuuro tidak menanggapinya sama sekali. Kesunyian yang terasa nyaman, menandakan ada sesuatu yang lain; suatu kerinduan, keinginan; menginginkan setiap sentuhan dari keduanya. dan terasa seperti sengatan listrik saat kulit keduanya bersentuhan. Ciuman Itu memulai segalanya. Seijuurou dapat mengingat setiap lekukan tubuh Tetsuya. ia melingkarkan tangannya ke dada, ke pinggul dan akhirnya ke daerah bawah mereka berdua yang telah bereaksi sejak awal. Dan dia memberi tanda pada kulit putih itu - dari mulai leher sampai dadanya dan meninggalkan hickey seakan tubuh Tetsuya adalah kanvas putih. Permainan itu posesiv dan kasar namun lembut secara berasamaan, penuh cinta, manis dan surgawi. Tetsuya merasa melihat bintang-bintang dan mengerangkan suara manisnya, dan Seijuuro dapat mendengarkan setiap detail suara yang penuh perasaan cinta itu.

Dan sekarang, akhir pekan yang seharusnya di habiskan berdua malah menjadi tidak tepat. Ciuman Seijuurou sangat ringan dan singkat, tidak ada permainan lidah yang terlibat dan eksplorasi. Tetsuya tahu penolakannya, dan ia tidak ingin memperdulikannya sama sekali. Ciuman bibir itu cukup untuk kesepakatan hari ini.

"Buka baju ku," perintahnya.

Dan pria itu melakukannya lebih seperti kepala pelayan daripada seperti seorang suami. Seijuurou duduk bertumpu pada lututnya di kasur membuatnya tinggi menjulang di atas Tetsuya. Tentu, dia mungkin telah kehilangan perasaannya terhadap blunette tapi penglihatan seperti itu masih membuatnya menjadi sulit; semacam dampak negatif yang membuat nya tidak sabar, ia juga membuka kemeja sendiri dan pakaian itu mendarat di berbagai tempat kamarnya, diikuti dua celana sekaligus.

"Apakah kau membutuhkanku untuk-"

"Tidak, aku sudah Siap ..." suara itu keluar dengan isakan,

"masukan saja ..." lanjutnya

" . . Baik."

Dengan ucapan itu, Seijuurou Mengeluarkan miliknya, yang panjang dan besar, dari celana boxer yang masih di pakainya . Dia sudah menduga yang terakhir telah disiapkan sebelumnya, jadi dia tidak mempertanyakan ucapan Tetsuya tersebut. Meski begitu, dia masih memikirkan hal itu dan memasukkan jarinya ke lubang Tetsuya. Tetsuya mendengus tak sabar. Dua jari, tiga - dan saat dia mendengar Tetsuya mendesah (dan sedikit sakit), dia tahu dia telah menemukan titik kenikmatan Tetsuya. Dia menyentuh prostat itu berkali-kali.

"Cukup ... aku hanya menginginkanmu ..."

"Hm."

Dia membawa miliknya yang panjang dengan lelehan precum dan saliva. Tetsuya di bawahnya mengawasi dengan mata penuh nafsu dan kerutan yang menghiasi wajah bercahayanya. Memposisikan dirinya dengan tepat, dia memasukan miliknya yang nampak besar ke dalam Tetsuya. Ruangan itu mungkin akan dipenuhi serentetan suara dan desahan dari keduanya serta bau keringat dan seks. Tapi itu bukan kejadian yang menyenangkan. Malam ini, mereka hanya berhubungan seks, tapi tidak bercinta satu sama lain. Tentu, Seijuurou telah mempercepat dorongnya dan Tetsuya menerimanya secara keseluruhan, tangannya mengocok miliknya sendiri untuk mencapai klimaks. Tapi tidak ada kata-kata manis yang mengiringinya, tidak ada ciuman dan sentuhan, tidak ada hickey yang ditandai cinta. Betapa menyedihkan.

Ketika aktivitas mereka selesai, si rambut merah tidak repot-repot mengelus helai rambut untuk menyamankannya atau bisikan atau apapun. Dia hanya menyelinap ke dalam selimut yang kotor dan licin bekas sesi mereka tadi, dan menyuruh dirinya sendiri untuk tidur. Kelelahan membauat nya ngantuk tapi tiba-tiba dia mendengar Tetsuya berbisik ke telinganya;

"Sei-kun ... tidak peduli apa pun yang terjadi, aku masih mencintaimu."

Sepasang mata merah itu tertutup, dia tersentak dan tertelan. Itu benar, ia menyadarinya sekarang. Dia tidak merasakan apa-apa pada kata kata cinta Tetsuya itu - bukan getaran pada hatinya, bukan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutnya - hanya rasa kasihan dan rasa bersalah. Dia terengah-engah.

"Aku minta maaf ... aku tidak bisa merasakan hal yang sama untuk mu."

"Aku tahu. . ."

Gumam Tetsuya lemah dan lelah. Seijuurou tidak memperdulikan tangisannya. saat dia menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal, terisak-isak dan menangis dengan hatinya yang sakit dan rindu. Malam itu, Tetsuya tidur dengan patah hati lebih parah dari sebelumnya.

Amplop putih itu belum dibuka.

Tbc

Cocot : aku lanjut buat chapter yang kedua. for your information chapter satu aku pake google translate makanya bahasa nya berantakan. anywhy kemaren aku terlalu males nerjemahin ceritanya yg banyak -karna lagi mager padahal cuma 4 lembar sheet. dan aku cuma edit ala kadar nya aja tanpa mikir. dan juga di sibukan tugas kuliah jadi gabisa nyiapin otak buat nerjemahin pake kemampuan aku. Hehe maafin ya jadi merusak cerita gitu. Tapi Chapter 2 ini membuktikan cuma butuh 3 hari (Mood yang baik dan Otak fresh) buat nerjemahin pake kemampuan aku yg masih kurang ini hehe bantuan kamus. Terus aku males alias mager buat baca ulang ceritanya. Jadi aku cuma edit ala kadarnya aja. Awal nya aku fikir bakal lama dan buang waktu buat translate pake kemampuan aku. Gaada mood juga buat merevisi ulang makanya jadi brantakan begitu. Dan jadi merusak sih ya maafin. Tapi chapter ini sudah aku perbaiki dan chapter 1 bakal aku revisi juga. Ternyata ga butuhin waktu terlalu lama buat nerjemahin pake kemampuan aku (skalian belajar mata kuliah) ya walaupun hasilnya gini juga XD

Makasih kemaren yang sudah mereview dan mempavoritkan. Aku bakal bales satu satu review dari chap kamren nih.

PLEASE READ

Anon

pake google tranlate?

iya chapter 1 aku pake gugel translate. Alesannya karna chapter awal aku pengen buruburu mempublish cerita ini. Karna aku gaenak sama Penulis asli ; yang udah lama aku mintain izin dan belum aku post.bakal aku erivisi chaoter sbelumnya. dan maksih ya

EmperorVer

"Amplop putih itu apa?"

Kalian pasti baca kan chap 1 dan 2 di atas selalu di akhirin dengan kata amplop putih belum di buka. Amplop putih disini itu maksudnya surat penceraian yang Seijuuro kasih ke Tetsuya. Tetsuya bakal buka itu amplop kalo nanti Tetsuya menandatangani kan. jadi amplop putih itu belum di buka sama Tetsuya sampai sekarang (chapter ini) kan. semoga udah ngerti ya.

Dan buat yang "Saya-Anda" itu sebenernya udah aku edit jadi "aku-kamu". Cuma kemaren masih ada yg ketinggalan. Jadi begitu hehe

Maksih

ShirShira

Maafin ya bahasanya berantakan. Iya sebenernya yang chapter kemarin aku ga sempet baca ulang (sekilas baca dan edit saya-anda nya aja). Trus karna aku buru buru juga jadi ya bahasanya sangat tidak halus. Aku bakal revisi chapter awal nanti. Makasih masukannya. Hehe

BigThanks For Allah and then Mozu The Mochi, and for Anitayei, CBX, Akakuro-nanodayo, Anon, Dya.lidya, EmperorVer, ShirShira.

-uchiraneki.