Hey, guys!^^ Author balik with chapter two~~
Makasih buat semuanya yang udah follow sama kasih review buat ff ini Terus ikutin kelanjutannya yaa
Happy reading and sorry for typo ya^^
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
"Dimana aku?" Baekhyun terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia tidak dapat mengingat apapun, hal terakhir yang dia ingat adalah Chanyeol meninggalkannya dan dia menangis dalam diam sampai tertidur karena lelah. Dan disinilah dia sekarang, di sebuah kamar bertema biru pastel.
"Ah, benar. Aku pasti masih berada di dalam neraka." Baekhyun berkata saat dia teringat bahwa dirinya sudah 'dibeli' Chanyeol dan sekarang dia adalah 'milik' Chanyeol. Baekhyun berjalan kearah sebuah cermin full-body yang terletak di sebelah kasurnya. Kemeja putih polos yang saat ini dikenakannya bukanlah miliknya. Kemeja ini terlalu besar untuk tubuh Baekhyun dan terlihat simple, namun terlihat elegan. Pasti kemeja milik Chanyeol.
"Selamat sore, Tuan Muda Byun. Kami sudah menyiapkan hidangan untuk tuan. Apakah tuan ingin memakannya disini atau di ruang makan?" Seorang perempuan—atau si kepala koki, Kwon Yuri—yang secara tiba-tiba memasuki kamar membuat Baekhyun terkejut. Sebenarnya dia sudah mengetuk pintu, namun Baekhyun yang tenggelam dalam dunianya sendiri tidak menyadarinya sama sekali.
"Hidangan?"
"Benar, Tuan Muda. Kami menyiapkan hidangan untuk tuan. Tuan Muda Park mengatakan pada kami bahwa makan malam di atas pukul 7 tidak direkomendasikan oleh pakar kesehatan, maka dari itu Tuan Muda Park tidak pernah makan di atas pukul 7. Dan Tuan Muda Park ingin anda melakukan hal yang sama, Tuan." Yuri menjelaskan dengan rinci. Wow, Baekhyun tidak menyangka kalau seorang Park Chanyeol adalah maniak kesehatan. Dan mengingat Chanyeol adalah orang yang kedisiplinannya sangat ketat, Baekhyun tidak bisa membayangkan jika dirinya diberikan sekian banyak aturan yang harus dia patuhi.
"Maaf, tapi aku tidak akan memakan makanan yang diberikan oleh 'Tuan Muda Park' kalian. Sekarang berikan pakaianku kembali dan biarkan aku meninggalkan tempat seperti neraka ini."
"Saya minta maaf, tapi sebelum Tuan Muda Park pergi, dia memberitahu kami untuk tidak mengijinkan anda meninggalkan rumah ini. Dan ini berlaku sebagai aturan untuk anda. Jadi kami harap anda bisa mematuhinya, Tuan Muda Byun."
Baekhyun terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Yuri. Tidak boleh meninggalkan rumah sama sekali? Baekhyun tidak tau reaksi apa yang harus dilakukannya. Dia tidak pernah menyangka Chanyeol tidak akan mengijinkannya meninggalkan rumah ini, bahkan sejengkal saja. Ayolah, Baekhyun harus tinggal di rumah ini tanpa boleh berjalan-jalan keluar rumah? Apakah ini benar-benar sebuah rumah? Oh, Baekhyun kira tempat ini adalah penjara di neraka.
"Bahkan hanya untuk sekedar berjalan-jalan santai?"
"Benar, Tuan Muda. Anda tidak diijinkan melakukannya."
Baekhyun kembali terdiam. Membayangkan bagaimana dirinya akan melewati hari demi hari di dalam rumah ini, tanpa bisa berinteraksi dengan siapapun selain Chanyeol dan para pelayan.
Baekhyun menghela nafas panjang, menutup matanya, menahan air matanya yang hampir mengalir.
"Tinggalkan aku sendiri."
"Maaf?"
"Kubilang, tinggalkan aku sendiri." Baekhyun menekankan setiap kata yang dia ucapkan tanpa menatap wajah Yuri. Yuri yang sedikit terkejut pun meninggalkan kamar itu setelah membungkuk sopan pada Baekhyun.
Baekhyun berlutut, menangis sejadi-jadinya. Baekhyun merasa dirinya hancur. Sangat hancur.
Mengapa? Dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan oleh Chanyeol, mengapa dia memutuskan untuk membeli Baekhyun? Dari sekian banyak orang yang bisa dibelinya, mengapa harus Baekhyun? Apa yang telah Baekhyun lakukan sampai dia mendapatkan hal semacam ini?
Seluruh kenangannya berputar seperti film di otaknya. Saat keluarganya masih menjadi keluarga yang hangat. Saat ayahnya membuat lelucon dengan Baekbeom, lalu Baekhyun dan ibunya akan tertawa riang. Saat Baekbeom mengajarinya cara mengendarai sepeda roda dua, saat ibunya memeluk dan menenangkannya saat dia mendapat nilai terendah di kelasnya, dan saat keluarganya memiliki piknik rutin setiap hari minggu.
Dan juga, ingatan saat ayahnya membuat grup mafia hanya karena memiliki dendam pada keluarga Park. Itulah saat dimana semua ini dimulai, saat Baekhyun masih berusia lima tahun. Tidak ada lagi piknik rutin setiap hari minggu, tidak ada lagi pelukan hangat dari ibunya saat dirinya mendapat nilai terendah, melainkan tamparan dan makian, dan saat Baekbeom berubah menjadi pribadi yang sangat dingin dan tidak pernah tersenyum lagi. Seluruh ingatan itu terulang di otaknya.
Tangisan pelannya berubah menjadi suara terisak yang dapat menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Baekhyun membenci ini. Dia membenci semua ini. Dia membenci dunia mafia sialan ini karena telah menghancurkan keluarganya dan dunianya. Dan yang paling parah, Baekhyun membenci kedua orangtuanya, karena bukannya memberikan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan saat bertumbuh besar, mereka justru memperlakukan Baekhyun seperti manusia yang sangat menjijikkan dan tidak berguna. Bahkan ibunya mengatakan dia lebih memilih Baekhyun mati daripada harus merawatnya.
Baekhyun juga melihat seluruh kejadian yang tidak seharusnya dia lihat. Saat ayahnya menembak seorang pria tepat di kepalanya, saat seluruh suruhan ayahnya memukuli seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Baekhyun saat itu, dan masih banyak hal mengerikan lainnya. Semua dia lihat saat dia berusia 12 tahun, masih terlalu muda.
Baekhyun tidak bisa menopang dirinya lagi. Dia merebahkan tubuhnya di lantai. Walaupun penglihatannya kabur karena air mata, Baekhyun dapat melihat seseorang memasuki kamarnya dan berjalan kearahnya. Lalu merasakan tubuhnya dipeluk, dan tak lama kemudian Baekhyun merasa tubuhnya digendong dan direbahkan di atas kasur. Setelah itu, Baekhyun tidak dapat melihat apapun dan terlelap.
.
.
.
.
"Siapa yang memasuki kamarnya?!" Seorang pria membentak seluruh pelayan dan koki yang sekarang berada di hadapannya. Memandangi mereka satu persatu dengan tatapan yang siap membunuh. Tidak mungkin Baekhyun-nya menangis tanpa alasan, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Namun tidak ada satupun pelayan atau koki yang berani membuka mulut mereka. Pria itu menggebrak meja di depannya dan menghasilkan suara yang sangat keras, membuat semua orang di ruangan itu tersentak kaget.
"Kubilang, siapa yang memasuki kamarnya?! Brengsek!" Tatapan ingin membunuh di matanya terlihat dengan sangat jelas. Tidak ada yang ingin membuat Tuan Muda mereka semakin marah, maka si kepala koki berjalan selangkah ke depan, masih sambil menundukkan kepalanya.
"Saya, Tuan Muda."
Apa yang terjadi selanjutnya mengagetkan semua orang di ruangan itu. Chanyeol menamparnya. Bahkan salah satu pelayan sampai mulai menangis karena terlalu takut. Chanyeol kemudian mencengkram rahang Yuri, menatap lurus ke matanya. Untungnya, Chanyeol tidak membawa pistolnya, kalau sampai dia membawanya….kalian tau apa yang akan terjadi.
"Sebelum kau dikirim kesini, apa pembimbingmu mengatakan kalau kau boleh melanggar aturan tuanmu?" Chanyeol berkata, masih mencengkram rahang Yuri. Yuri merasa tubuhnya seakan-akan sudah mati hanya karena melihat tatapan Chanyeol.
"T-tidak, Tuan Muda." Yuri berkata, air mata mulai menggenangi matanya. Chanyeol melepaskan cengkramannya dan kini kembali melihat kearah pelayan-pelayannya.
"Sebelum aku meninggalkan tempat ini tadi, apa yang aku katakan pada kalian?" Hening. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Chanyeol. Chanyeol benar-benar ingin membunuh seseorang saat ini untuk meluapkan kekesalannya.
"Aku mengijinkan kalian memasuki kamar itu,"
"Atau aku tidak mengijinkan kalian memasuki kamar itu."
"Tuan tidak mengijinkan kami memasuki kamar itu, kecuali jika Tuan memerintahkan kami." Seluruh pelayan menjawab dengan kompak. Masih sangat ketakutan.
"Dan apa kalian ingat apa yang akan kulakukan jika aku mendapati siapapun diantara kalian melanggar aturanku?"
"Menembak kepala kami, Tuan Muda." Seluruh pelayan merasa ngeri setelah mengucapkan kalimat mereka, membayangkan jika merekalah yang berakhir menerima tembakan itu.
Chanyeol memutar kepalanya, kembali melihat kearah Yuri, "Kau beruntung hari ini."
Chanyeol kembali melihat kearah pelayan lainnya, "Jika aku mendapati siapapun diantara kalian memasuki kamar itu, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri tanpa berpikir dua kali. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan Muda."
Chanyeol kemudian membantu Yuri yang tadinya terduduk di lantai, untuk berdiri. Dia terjatuh ketika Chanyeol melepaskan cengkramannya tadi dan mendorongnya. Hal ini sungguh sebuah keajaiban di mata para pelayan. Untuk pertama kalinya Tuan Muda mereka membantu salah satu diantara mereka.
"Sekarang jelaskan padaku mengapa kau memasuki kamar itu."
"Saya mengetuk pintunya. Saya mengetuk pintu dan memanggil nama Tuan Muda Byun beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Jadi saya memutuskan untuk masuk dan memeriksa apakah Tuan Muda Byun baik-baik saja. Maafkan saya, Tuan Muda."
Chanyeol menghelas nafas, "Untuk kali ini, aku akan memaafkanmu. Berhati-hatilah mulai sekarang."
Chanyeol kemudian meninggalkan para pelayannya dan berjalan menuju kamar Baekhyun. Dia membuka pintunya dan melihat Baekhyun masih tertidur dengan lelap. Kemudian dia berjalan kearahnya, duduk di atas kasur tepat di sebelah Baekhyun, dan mengelus kepalanya pelan.
"Maafkan aku. Kumohon jangan membenciku." Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Chanyeol. Chanyeol merasakan dadanya sesak saat melihat mata Baekhyun yang sembab karena menangis. Jika ada cara lain untuk menyelamatkan Baekhyun, tentunya dia tidak akan memilih cara ini. Dia tau Baekhyun akan membencinya, namun dia tidak punya pilihan lain.
"Jika ada cara lain untuk menyelamatkanmu, aku tidak akan pernah menggunakan cara ini. Aku mengerti mengapa kau membenciku, itu karena kau masih belum mengetahui alasan dibalik semua ini. Setelah pekerjaanku selesai dan kau sudah mengetahui alasannya, aku akan melepasmu, Baekhyun-ah. Aku janji."
Chanyeol berdiri dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya meninggalkan kamar Baekhyun. Dia tidak tau bahwa Baekhyun mendengar semua yang dia katakan karena Baekhyun sama sekali tidak tidur. Suara keras yang dihasilkan meja yang dipukul Chanyeol tadi membangunkan Baekhyun, dan dia tidak tidur bahkan sampai saat Chanyeol memasuki kamarnya. Dan saat ini Baekhyun bertanya-tanya, pekerjaan apa yang akan Chanyeol lakukan? Alasan apa? Dan mengapa Chanyeol menyelamatkan Baekhyun?
.
.
.
.
Baekhyun keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk berjalan-jalan keliling rumah yang sangat mirip seperti istana milik Chanyeol ini. Suasana yang sangat baru membuat Baekhyun merasa sangat asing. Para pelayan yang selalu membungkuk sopan tiap kali Baekhyun melewati mereka, terasa asing bagi Baekhyun, karena Baekhyun dulunya dianggap seperti sampah di rumahnya dan tidak ada seorangpun yang menghormatinya. Dan tentunya akan terasa sangat aneh karena kini di sebelah Baekhyun terdapat seorang pria yang menjadi seorang guide atau semacamnya. Pria ini benar-benar seperti guide, membimbing Baekhyun kesana kemari dan menjelaskan apapun tentang rumah ini.
"Dan ruangan ini, adalah ruang senjata milik Tuan Muda. Tuan Muda selalu menyimpan senjatanya disini. Ruangan ini juga sekaligus sebagai ruang komputer, untuk melacak posisi musuh atau mencari data-data pribadi tentang seseorang. Tuan Muda tidak pernah mengijinkan siapapun memasuki ruangan ini, kecuali sahabatnya, si maniak komputer." Pria itu terkekeh pelan, Baekhyun pun ikut terkekeh, namun sebenarnya Baekhyun tidak mengerti apa yang dibicarakan pria itu.
"Sahabatnya sangat ahli dalam melacak posisi, mencari data, hacking, dan hal-hal semacam itu."
"Lalu bagaimana dengan Chanyeol?" Baekhyun bertanya.
"Tuan Muda mengambil bagian dalam hal bunuh-membunuh lawan."
Baekhyun menelan ludahnya. Sebaiknya mulai sekarang dirinya tidak macam-macam dengan Chanyeol, jika tidak, dirinya akan mati dengan sebuah lubang kecil di tengah dahinya.
"B-baiklah. Hmm, bolehkah aku tau namamu?"
"Minseok. Kim Minseok. Panggil saja saya Minseok, seperti yang biasa dilakukan Tuan Muda."
"Berhentilah memanggilku Tuan Muda. Ayah sudah meninggal, itu berarti 'Tuan'mu sudah meninggal. Dan sekarang panggil aku dengan sebutan 'Tuan' karena akulah Tuan barumu." Sebuah suara berat menginterupsi pembicaraan mereka. Saat Baekhyun melihat orang itu, dengan cepat dia menarik tangan Minseok.
"Minseok hyung, masih banyak ruangan yang harus kau jelaskan padaku kan? Ayo."
Namun langkah Baekhyun terhenti ketika sebuah tangan yang lebih besar darinya, menarik tangannya yang tadinya menggenggam tangan Minseok, "Ini adalah rumahku. Jadi aku yang akan menjelaskan semuanya padamu."
"Tidak, terimakasih. Minseok hyung, ayo." Baekhyun menarik tangannya yang tadinya berada di genggaman Chanyeol dan kembali menggenggam tangan Minseok. Minseok menoleh kearah Chanyeol dan menelan ludahnya ketika mendapat tatapan membunuh dari Chanyeol.
"Hm, Tuan Muda Byun, kurasa sebaiknya anda tidak melihat-lihat rumah ini dengan saya." Minseok berkata sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Baekhyun.
"Apa? Mengapa begitu?"
"Karena aku tidak mengijinkannya." Suara berat Chanyeol kembali terdengar, disusul oleh helaan nafas panjang dari Baekhyun.
.
.
.
.
Baekhyun mengikuti Chanyeol dengan wajah kesal.
"Aku lelah. Kita berhenti saja." Baekhyun mengeluh dan berhenti beberapa langkah di belakang Chanyeol.
"Baiklah, ayo kita makan. Kenapa Baekhyunie-ku tidak makan sore ini, hm?" Chanyeol bertanya sambil mencubit pipi Baekhyun gemas.
"Jangan memanggilku 'Baekhyunie', dasar psikopat! Dan jangan kau coba-coba menyentuh wajahku dengan tangan yang kau gunakan untuk membunuh ratusan orang itu!"
"Apa kau lupa kalau ayahmu sendiri juga melakukan hal yang sama denganku? Dan hati-hati ketika bicara. Aku bukan seorang psikopat, tapi aku bisa berubah menjadi psikopat jika kau terus memanggilku dengan sebutan itu." Chanyeol tersenyum—dan bukan senyuman ramah tentunya—lalu berjalan meninggalkan Baekhyun yang mendadak ketakutan karena kata-kata Chanyeol.
Berjalan menuju ruang makan menghabiskan waktu yang cukup lama, salahkan rumah seperti istana yang terlalu luas ini. Saat ini Baekhyun duduk di depan Chanyeol di ruang makan. Hidangan yang terlihat sangat lezat sudah disajikan di hadapan mereka.
Keduanya memakan makanan mereka dalam diam. Setelah selesai makan dan meja makan telah dibersihkan oleh pelayan, Baekhyun memberanikan dirinya untuk meminta Chanyeol menyuruh para pelayannya meninggalkan mereka berdua. Setelah seluruh pelayan itu pergi, kini hanya ada Chanyeol dan Baekhyun di ruang makan.
"Jadi, sepenting apakah hal yang ingin kau bicarakan hingga aku harus mengusir seluruh pelayanku?" Chanyeol terkekeh. Well, Baekhyun tidak pernah menyadari bahwa Chanyeol sangat tampan ketika tersenyum atau tertawa.
"Hmm, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Silahkan."
"P-pekerjaan apa y-yang akan kau lakukan?" Baekhyun berusaha menatap kearah Chanyeol, namun gagal dan dia kembali menunduk.
"Apa maksud 'pekerjaan' yang kau tanyakan? Aku banyak melakukan pekerjaan, jadi, pekerjaan yang mana?"
Ini adalah pertama kalinya Chanyeol dan Baekhyun berbincang tanpa ada Baekhyun yang menangis dan berteriak, serta Chanyeol yang membentaknya dan mengatakan kata-kata yang membuat Baekhyun ketakutan.
"I-itu…..hm…..aku tidak terlalu tau…..t-tapi…..pekerjaan yang kau katakan di kamar-"
"Tunggu, apa kau bilang?"
"Aku dengar semua yang kau katakan. Aku tidak tidur saat itu. Jadi maukah kau menjelaskannya padaku? Please?"
Chanyeol sangat sangat sangat terkejut. Jadi jika Baekhyun mendengar semuanya, itu tandanya Baekhyun juga mendengar saat Chanyeol ingin menyelamatkan dirinya.
"Dan mengapa kau ingin menyelamatkanku?" Bingo. Benar-benar mental breakdown untuk Chanyeol. Dia tidak mungkin mengatakan pada Baekhyun kalau 'pekerjaan'nya adalah membunuh orangtua Baekhyun kan?
"Bisakah kau menjelaskannya padaku? Jadi aku akan mengerti semuanya dan berusaha untuk tidak membencimu."
"Hm, Baekhyun, soal itu….."
.
.
.
To be continue
.
.
.
Gimanaaaa? Bagus gak? Hehehe. Tolong kasih review kalian yaa, dan stay tune untuk chapter berikutnya;)
Maaf kalo author lama update, soalnya author udah deket ujian nih, jadi gabisa update cepet. Tapi author usahain untuk update secepet yang author bisa yaaaaa. Luvluv~
