Summary :

Naruto adalah pemuda biasa yang berprofesi sebagai pembuat ramen. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang membuatnya jatuh cinta pada pasta. Dan sebuah kejutan tercipta.

Rating : T

Multichapers (3)

Chapter 2

Romanche – drama – family

Naruto by Masashi Kishimoto

Ramen or Pasta?

Pairing: SasuNaru/ slight NaruAya, SasuSaku, etc.

Warning : AU, Boys Love, OOC(maybe?), Typo (maybe?), dll.

Tidak suka? Jagan gubris macem-macem! ^^

SUARA teriakan ketakutan Naruto pun keluar begitu saja. Terlihat bahwa urat-urat di leher Naruto keluar dengan jelas—tanda bahwa Naruto berteriak sangat kencang seperti penyanyi rock yang beraksi. Ia tambah panik saat orang itu malah membekap mulutnya dan mencengkram pundaknya erat—dan sialnya rasa keberaniannya hilang entah kemana termakan rasa takut. Tubuhnya lemas seperti tak bertulang dan tenggorokannya mulai perih.

"Bisakah kau diam?!" ucap orang itu dengan nada kesal.

Rasa takut Naruto pun perlahan terkikis seiring rasa penasarannya pada orang itu. Cengkraman orang itu melonggar merasa bahwa Naruto sudah tenang. Sekali lagi—Naruto seperti mengenal orang ini.

"Aku Uchiha Sasuke. Kau ingat?" ucap orang itu membetulkan letak syalnya yang melorot dengan mulus. Ia pun menatap Naruto yang terlihat masih loading.

"Ah! Aku ingat!" pekik Naruto mengagetkan Sasuke. "Umm… Anda sedang apa disini?"

Sasuke mendecah sebal, "Berhenti berbicara formal padaku!" ia mengambil sebuah kardus kecil dari sakunya dan mengeluarkan isinya yang berupa batangan termbakau yang digulung kertas khusus. Lalu diselipkannya rokok itu dibelah bibirnya dan dibakarnya ujung rokok itu menggunakan api dari koreknya. Asap kehitaman pun muncul dan ujung rokok menyala—memberikan rasa hangat pada sang empunya mulut.

"Maaf," ucap Naruto.

Jari telunjuk dan tengah Sasuke menjepit rokok yang masih terselip di bibirnya dan mencabutnya. Ia lalu menghembuskan napasnya yang mengeluarkan asap rokok, "Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan." Dihisapnya lagi rokok itu.

"Ah?" Naruto hanya bisa kaget mendengar ajakan pria itu. Setelah memikirkan dua kali ia pun menyetujuinya.

Mereka pun berjalan-jalan dan mengobrol dengan mobil Lamborghini Murcielago milik Sasuke—menembus padatnya jalanan kota Konoha sang kota yang tak pernah tidur. Hingga mereka memutuskan untuk berhenti di kedai bebas yang menjual minuman keras.

"Berikan aku satu gelas bir lagi!" pinta Naruto dengan mata yang sayu dan pipi yang sangat memerah. Tak lupa gerakannya yang sangat lemas dan sempoyongan.

"Hey! Kau sudah meminum tujuh gelas besar lebih bir!" larang Sasuke sambil terus menyesap rokoknya. Ia kaget saat Naruto tiba-tiba merebut rokoknya dan menghirupnya. "Hey! Apa yang kaulakukan?!" direbutnya kembali rokoknya.

"Aku mau itu!" rengek Naruto seperti anak kecil.

"Tidak! Ayo pulang!" Sasuke pun dengan segera merangkul Naruto dan sedikit menyeretnya untuk masuk ke mobil. Ia menaruh Naruto di kursi penumpang depan.

Setelah dirasa semua beres—Sasuke pun duduk di kursi kemudi. Saat ia hendak menyalakan mobil—pandangannya malah tertuju pada malaikat kecil yang sedang tidur pulas di sampingnya. Entah dorongan darimana ia pun memajukan wajahnya pada wajah Naruto. Dimiringkannya wajahnya sedikit saat hidung mereka sudah saling bergesekan dan detik berikutnya bibir mereka bersatu layaknya puzzle yang pas. Tersadar dari buaian kelembutan bibir Naruto—Sasuke pun salah tingkah dan mulai menyalakan mesin dengan semburat merah di kedua pipinya.

.

.

.

Naruto mengerang kecil saat cahaya matahari dengan nakal menyapa wajahnya. Mata safirnya terbuka dengan ragu karena lengket—mulai beradaptasi dengan ruangan tempat ia berada. Dengan menguap sebentar ia pun menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Rasa kantuk masih menempel padanya dan membuatnya malas untuk bangun. Namun tunggu!

Mata safir itu terbuka dengan terbelalak, "Dimana aku?!" karena tiada yang menjawabnya—Naruto pun segera berlari mencoba keluar dari ruangan ini. Pandangannya sempat terkunci oleh sebuah seragam putih dengan dasi merah yang menggantung di gantungan kayu. Sebuah pikiran pun melintas di otaknya bahwa ini adalah flat milik seorang chef. Diperhatikannya seragam itu hingga ia menemukan tanda pengenal di seragam itu.

"Uchiha Sasuke?" gumamnya sambil membaca tanda pengenal yang berbentuk sebuah pin itu. Dipikirkannya lagi penyebabnya bisa disini, namun ia sama sekali tak mengingat. Ia pun memutuskan untuk mencari sang pemilik flat ini. Langkahnya melambat di sebuah ruangan yang terdapat seorang pria berpakaian kaos biru dongker dengan celana panjang berwarna putih. Pria itu sedang asyik memegang sebuah wajan berisikan pasta spaghetti yang sedang diaduknya dengan cara mengayunkan wajan ke atas sehingga menimbulkan kobaran api di wajan itu—seperti latihan bulu tangkis bagi pemula.

Pria itu menambahkan satu cubit garam dan beberapa kali taburan chili flakes kedalam wajan itu lalu diaduk lagi. Dan sekarang pria itu sepertinya menambahkan keju parmesan ke dalamnya.

Naruto berdehem pelan bertujuan agar pria itu tahu keberadaannya disitu.

"Kau sudah bangun?" Tanya pria yang bernama Sasuke itu sambil mengayunkan wajan.

"Bisakah kau jelaskan bagaimana aku bisa ada disini?" Tanya Naruto parau.

"Duduklah dulu, atau lebih baik kau basuh muka di toilet!" himbau Sasuke yang kini sedang mengambil sehelai mie yang dimasaknya lalu dengan cepat dimakannya untuk dicicipi. Beberapa saat kemudian ia pun mematikan kompor dan menyajikan pasta dengan cara memutar pasta itu dengan garpu hingga menjadikan pasta itu rapi menggulung di piring cekung. Dengan beberapa sentuhan akhir dan mengelap bagian piring itu yang dirasa tercecer minyak—ia pun menaruh piring itu di meja makan. "Cepatlah! Ayo kita sarapan!"

Dengan tampang orang bingung Naruto pun hanya menurut saja. Setelah mencuci muka Naruto pun ikut duduk di meja makan lingkaran yang hanya cukup untuk dua orang. Ia merasa sekarang sedang sarapan di restoran Italia bintang lima—sungguh menakjubkan.

"Sasuke-san? Apakah kau seorang chef?" Tanya Naruto ragu. Ia mengambil garpu dan mulai menggulung spaghetti itu, "Maaf, tadi aku tak sengaja melihat seragammu."

Sasuke menyesap kopinya dengan santai lalu menaruh cangkir itu kembali ke meja dihadapannya, "Iya. Aku adalah seorang chef asli dari Italia. Well, lebih tepatnya aku belajar disana selama sepuluh tahun." Jelasnya sambil menatap Naruto dengan intens.

Naruto yang ditatap seperti itupun mendadak salah tingkah dan mencari pertanyaan lagi, "Umm… Kalau boleh tahu berapa umur chef?"

"Aku? Umurku dua puluh tahun, kenapa?" jawabnya santai sambil terus menatap Naruto.

"Ah… Aku hanya teringat punya saudara tiri sepertimu dulu. Tapi kami berpisah," ucap Naruto sedikit tergagap karena gugup. "err… Itadakimasu, chef!"

"Hn."

"Umm… Chef? Aku mau tanya, ini pasta apa?"

"Oh itu Aglio e Olio. Pasta yang paling sederhana. Artinya pasta dengan bawang putih dan minyak zaitun. O iya aku juga menambahkan beberapa tabur chili flakes agar sedikit pedas rasanya."

"Enak, chef!" komentar Naruto setelah merasakan baik-baik rasa pasta itu. Ia mengambil segelas air dipinggir piringnya lalu meminum isinya, "Rasa pastanya al dente dan bumbunya pas."

.

.

.

Semenjak itu Sasuke dan Naruto menjadi dekat. Karena saking dekatnya, mereka setiap hati bertemu—sebenarnya itu adalah usaha mati-matian Sasuke. Well—rupanya pria yang merupakan pewaris perusahaan Uchiha corp. ini tertarik dan jatuh cinta pandangan pertama pada pemuda penjual ramen itu. Memang terlihat tabu—namun cinta itu tidak bisa dibuang begitu saja. Dan ia memutuskan jalinan cintanya dengan Sakura yang sudah dirajut selama tiga tahun lamanya. Memang pada awalnya ia sama sekali tak mencintai Sakura—ini hanya perjodohan orang tua mereka semata.

Naruto sangat kaget saat Sasuke menyatakan cinta padanya saat mereka sedang berada di flat Sasuke. Ia hanya tak habis pikir pada Sasuke yang aneh—maksudnya mereka itu sesama laki!

"Maaf, Sasuke! Aku tak bisa!" itulah ucapan Naruto untuk terakhir kalinya bertatap muka dengan Sasuke selama satu bulan ini. Saat itu Sasuke sama sekali tak percaya akan cintanya yang ditolak mentah-mentah—dan ia pun mencoba untuk mendekati Naruto lagi dengan segenggam cinta. Namun ibarat pepatah cinta itu seperti pasir—jika terlalu erat digenggam maka itu akan perlahan menghilang, Sasuke mengalami itu. Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa Naruto telah pindah entah kemana. Menurut informasi yang didapatnya, Naruto telah pindah disebuah apartment di kota ini untuk mencoba hidup mandiri. Dan tidak mungkin ia mencari pemuda cantik itu di kota metropolitan ini—seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Pada akhirnya Sasuke pun menyerah.

.

.

.

*Naruto's Point of view*

Hal pertama saat aku menginjakan kaki di flat ini adalah hampa. Well—aku memang harus memulai hidup sendiri karena umurku telah menginjak tujuh belas tahun. Sejujurnya aku sama sekali tak rela berpisah dengan Ayah angkat dan calon istriku—karena mereka adalah orang-orang yang selalu ada disetiap aku sedih dan senang. Dan tentang Sasuke—aku juga harus menjauhinya karena itu sangat berbahaya. Mengapa aku sebut berbahaya? Karena aku juga mencintainya dan aku tak mau mengingkari janjiku pada Ayah untuk menikahi Ayame saat aku berumur dua puluh lima tahun nanti. Ah—cinta memang menyakitkan bagiku.

Aku pun melamar pekerjaan disebuah restoran Italia. Well—aku memilih ini agar aku bisa melepas rinduku pada Sasuke yang telah mengenalkanku pada pasta. Aku mencintai pasta seperti mencintai Sasuke. Dan setelah mengikuti berbagai persyaratan menjadi salah satu bagian dapur, aku pun lolos dan menyandang gelar sebagai asisten dapur. Well—pangkat yang terlalu rendah, namun tak masalah asalkan aku bisa memasak pasta nantinya.

Dan hari ini adalah hari pertamaku bekerja di Restoran La Mia—sebuah restoran yang cukup ternama di daftar nama-nama restoran bintang lima dunia. Aku sangat tidak sabar!

Aku dan para koki pun memasuki dapur untuk beres-beres menyambut pesanan. Tempat kami bekerja hanya seperti sebuah meja yang sangat panjang dan lebar berjejer kompor dan bahan masakan. Dan posisiku ada di paling ujung—lebih tepatnya di hadapan tempat cuci piring dan bersebrangan jauh dengan tempat chef yang hanya ada sebuah printer kecil pembaca pesanan dari para tamu. Aku kaget saat semua koki disitu terdiam—dan jika Koki Lee tidak memberitahuku bahwa chef sedang dalam perjalanan menuju dapur aku takkan pernah tahu.

"Selamat pagi semua!" sapa sang chef dengan suara sarkastis dan sama sekali tak ramah. Tunggu! Aku mengenal suara ini!

Dengan segera aku menatap chef itu dan mataku terbelalak, "Sasuke?" bisikku pelan. Dan jantungku berdebar saat Sasuke berbalik menatapku dengan sedikit kaget. Kami sempat saling bertatapan saat itu. Untungnya, Sasuke segera sadar dan menyuruh kami untuk fokus sekarang.

Sebuah kertas bertuliskan pesanan pelanggan pun muncul dari printer kecil dihadapan Sasuke selaku kepala dapur, "Lee, dua porsi Pasta Aglio e Olio dan Kiba tiga porsi Alle Vongole! Kerjakan!" perintah Sasuke dengan tegas sedikit membentak. Kertas muncul lagi dan segera Sasuke merobek lalu membacanya, "Neji dua porsi Scallop, Shikamaru tiga porsi Beefsteak, dan Kimimaro empat porsi Foie Grass! Kerjakan!" Sasuke pun mulai berjalan berkeliling—seperti seorang guru yang mengawasi murid-muridnya. Aku sangat takjub akan kewibawaannya!

"Naruto! Ambilkan piring cekung!" perintah Lee sambil terus mengayunkan wajan. Dan aku pun segera mengambilnya di lemari dengan cekatan.

"Naruto! Ambilkan kerang baru di ruangan pendingin!" perintah Kiba.

"Naruto! Ambilkan parsley segar!"

"Naruto! Tolong lap dahiku!"

"Naruto! Ambilkan minum!"

Itulah segelintir perintah mereka yang harus dengan cepat kukerjakan selama restoran ini buka. Untungnya aku sering melakukan ini sewaktu di kedai—jadi menurutku tak masalah.

Hari tak terasa sudah menjadi gelap. Lampu-lampu kota mulai dinyalakan untuk menerangi para manusia ditengah kegelapan. Aku dengan bersusah payah menggotong sekarung sampah dari dapur untuk kubuang ke bak sampah yang terletak didepan jalan keluar pegawai. Rasanya tak jauh berbeda seperti saat bekerja di kedai—badanku serasa remuk semua.

Aku terkaget saat ada seseorang yang mendekatiku. Karena penerangan disini tak banyak jadi aku tak bisa mengenali orang ini. Mempunyai firasat buruk—aku pun mundur dan mulai merinding. Keringat dingin mulai mengucur dari dahiku. Dan aku hendak berteriak saat orang itu menggenggam tanganku erat namun kuurungkan karena aku mengenali orang ini. Dia Sasuke! Ah, rasanya seperti déjà vu.

"Sasuke-san?" tanyaku ragu dan aku kaget saat tiba-tiba Sasuke memelukku erat.

"Kau kemana saja? Aku mencarimu selama ini!" ucapnya dalam pelukannya yang kurasa menyesakanku dan membuatku hampir mati kehabisan oksigen. Aku sedikit lega saat Sasuke melepaskan pelukannya, namun aku kembali tegang saat Sasuke mendadak mencium bibirku dengan ganas. Berulangkali aku mencoba meronta namun nihil—badan Sasuke yang lebih besar dariku membuatku kalah. Dan tak mau munafik lagi, aku pun membalas ciumannya. Lama kami menyatu dalam sebuah ciuman panas pengusir rasa dingin yang menusuk tulang—akhirnya dihentikan. Terlihat saliva jembatan antara bibirku dan bibir Sasuke jelas. Dan aku hanya mampu menyembunyikan wajahku yang kurasa sangat merah seperti tomat busuk.

Sasuke hanya tertawa kecil, "Hey dobe! Kemari! Aku ingin menatap wajah ayumu!" ucapan Sasuke tadi membuatku muak dan malu. Dan aku kembali terkaget saat Sasuke menarik pinggangku dan membawaku ke pelukan dada bidangnya yang kekar. Posisi ini sangat nyaman menurutku.

"Jangan pergi!" bisiknya sambil mencium rambutku dan mendekapku dengan penuh kasih sayang. Dan semenjak saat itu aku pun jujur pada Sasuke tentang perasaanku dan menceritakan semua. Pria tampan itu hanya mengangguk dan menyuruh kami untuk menjalin cinta terlarang dibelakang layar panggung sandiwara kehidupan.

.

.

.

Kini kami tinggal bersama di flat Sasuke dan aku tahu semua sifat Sasuke. Aku hanya tak habis pikir dengan sifat Sasuke yang berubah-ubah. Kadang penyayang, lembut, dingin, arogan, pemarah, egois, pencemburu, pemaksa, namun juga manja. Well, mungkin sifat yang terakhir kusebut hanya diketahui oleh aku dan beberapa orang saja alias langka.

Hari ini hari libur kerja dan kami memutuskan untuk tetap tinggal di apartment daripada berjalan-jalan. Sasuke masih terlelap dalam buaian mimpinya dan aku pun mencoba memasak pasta untuk Sasuke—walaupun mungkin pasta buatanku takkan seenak buatannya.

Suara ketukan pintu pun memaksaku untuk menghentikan aktivitasku memotong bawang putih. Aku pun segera menghampiri pintu dan membukanya. Dan sebuah kejutan—tamu yang datang pada 7 a.m. ini adalah seseorang yang sangat kurindukan dan kukenal.

TBC (To Be Continued)

Ya ampun! Saya lupa sama fict ini! #gomenasai ^^'a

Terlalu sibuk atau menyibukan diri entahlah saya juga nggak ngerti XD #plak

Saatnya bales review untuk readers tercinta :* 3 3 3

Aoisunoire:

Ah, gomenasai ne ^_^'a udah bikin nunggu lama T_T sumpah daku lupa #hiksu
Arigatou untuk reviewnya ;)

MoodMaker:

Nih udah ada jawabannya :D gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

Dee chan - tik:

Ehehehe ini lanjutannya nih :D gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

kkhukhukhukhudattebayo:

Di sini semua jawabannya :D gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

Aristy:

Tentu SasuNaru donk ;) gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

Sachi Alsace:

EEEEHHH? X_X aduh gomene, kayaknya saya lagi ngantuk waktu itu XD oke nanti saya edit lagi XD gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

namikaze laras 97:

Panggil saya Sichi atau Rae aja ^_^ #masalahnya saya belum jadi senpai X'D
Iya iya, ini lanjut XD gomenasai udah nunggu lama ^^'a
Arigatou untuk reviewnya ;)

Siapa sih tamu itu? *jengjengjeng* liat aja di chap 3! #ala Opera Van Java

Ayo yang review, yang review, yang review! Cuma komen ntar dapet kelanjutan cerita & pahala *amin #nada pedagang asongan XD

Mohon bantuannya ^o^