Disclaimer: naruto selalu milik masashi kishimoto, tapi fic ini milikku

Genre: romance, friendship (belum kerasa) ada saran lain?

pair: sasunaru

Rate: T

WARNINGS: typho tak terkendali, jalan cerita hancur, gak nyambung, author masih sangat baru, OOC tingkat akut, ITACHI saya TIADAKAN anggap sasuke anak TUNGGAL, gak jelas, gak layak baca dan masih banyak lagi.


# # #

.

.

.

#Namikaze Naruto POV

.

Tiga hari berlalu begitu saja, oh aku ingin memaki waktu yang selalu terasa begitu cepat saat kita menghindari sesuatu!. Dan belum lagi Sasuke –yang entah bagaimana- tiba-tiba terlihat di semua tempat aku berada, tidak di kantin, lapangan, taman belakang, dan tempat lainnya selama tiga hari ini.

Belum lagi kenyataan hari ini aku harus menyampaikan jawabanku atas pernyataannya saat itu! Yah aku rasa aku akan menerimanya sih…,- walau dengan syarat-.

Tapi jujur aku tidak yakin apa hubungan ini bisa bertahan atau tidak. Secara kami sudah terkenal sebagai rival sejati. Setiap ada rapat OSIS kami pasti berdebat baik tentang hal sepele atau hal penting. Belum lagi sudah jadi rahasia umum kalau aku, kiba, dan shika adalah tiga pasang sahabat yang amat sangat membenci Uchiha Sasuke.

Tapi kalau tidak mencoba kita tidak akan tahu kan? Lagi pula sepertinya Sasuke menyatakan perasaannya dengan tulus waktu itu.

"Hoi, rubah kecil! Mau sampai kapan kau berdiri di luar rumah seperti itu? Cepat berangkat sana! Atau kau sengaja ingin berangkat terlambat? Sekarang sudah hampir jam 7!"

Suara kyuu-nii menyadarkanku dari dunia antah berantah dan juga menyadarkanku jika aku…

"WAAAA….! Aku terlambat, hari ini pelajaran Asuma-sensei! Kenapa kyuu-nii tidak menyadarkanku dari tadi sih!"

Tanpa menunggu reaksi kyuu-niii -yang sepertinya sedang sweetdrop dengan tingkahku- aku langsung berlari menuju halte bis. Aku harap aku belum terlambat!

.

.

.

# # #

.

.

.

Aku mengutuk Uchiha Sasuke sepanjang perjalanan ke kelas, untung saja gerbang belum di tutup! Tapi aku tidak bisa tenang begitu saja, jadwal pertama hari ini adalah Asuma-sensei –guru paling disiplin di sekolah ini-.

Ini semua salah dia yang seenaknya menyatakan perasaan padaku dan membuat aku frustasi sendiri harus menjawab apa! Dan secara tidak langsung membuat aku berlari-lari di sepanjang koridor sekolah.

'BRAK'

Aku membuka pintu kelas dengan amat sangat kasar hingga semua orang menatap ke arahku. Tapi tentunya aku sama sekali tidak peduli, dan aku langsung menghela nafas, merasa sangat lega saat melihat Asuma-sensei belum masuk.

"Apa yang kau lakukan di pintu masuk kelas naruto"

"Eh, asuma-sensei…,"

Dan tanpa ada perintah aku langsung melesat menuju kursi di dekat jendela, begitu merasakan aura 'berbahaya' di sekitar Asuma-sensei.

.

.

.

#skip time#

.

.

.

Kelas sudah sepi, yah mau bagaimana lagi, sekolah sudah bubar sejak 30 menit yang lalu. Aku sendiri sedang kebingungan. Saat jam istirahat tadi Sasuke mengirim SMS dan meminta -memerintah- aku untuk menunggu dia di kelas sepulang sekolah. Tapi aku sudah 30 menit menunggu! dan dia masih belum juga menampakan batang hidungnya.

Kesal dan bosan menguasai pikiranku, aku langsung melangkahkan kaki keluar dari kelas tanpa peduli apa dia akan datang atau tidak.

Saat sedang melangkahkan kaki keluar dari kelas, tiba-tiba aku merasa ada tangan yang menarik lenganku. Kaget, dan kesal aku hampir saja meneriaki siapa pun itu, tapi semua tertahan begitu saja di kerongkonganku(?)saat mengetahui siapa orang yang menarik lenganku.

Di sana, di tembok samping pintu, Sasuke berdiri sambil menyandarkan punggungnya dan tangan kanannya yang terjulur memegang lengan kiriku. Aku menatap matanya dan kaget ketika melihat eksitensiku terpantul di bola matanya. Dan tanpa bisa aku cegah jantungku bergetar pelan.

"H-hei, k-kenapa kau b-baru datang? A-aku menunggumu tau!"

Hell.., niatku untuk membentak dia hancur seketika karena aku berbicara dengan terbata-bata, sekilas aku merasa seperti gadis remaja yang jatuh cinta. Ya ampun! apa-apaan itu, kenapa kata-kata seperti itu bisa keluar di dalam otakku.

"Hn, jawabanmu?"

Ah, ya aku harus memberi jawaban untuk pernyatanya yang waktu itu.

"A-aku menerimamu."

Dan walau wajahnya tetap stoic itu tidak menghalangi aku melihat kebahagian yang terpancar jelas dari matanya.

"Tapi aku ingin kita backstreet dulu, kalau kau tidak mau menjalani hubungan backstreet aku juga tidak mau menjalani hubungan denganmu."

"Kenapa?"

Ugh, kenapa sih dia menatapku seperti itu? Dia menatapku seperti menatap seorang anak yang melakukan kesalahan besar dan sedang di introgasi untuk mengakui kesalahanya!

Mengumpulkan keberanian aku menjawab dengan yakin.

"Kau tahu kan Shika dan Kiba adalah sahabatku sejak kecil, dan mereka sangat membenci kamu. Aku tidak ingin di anggap penghianat dengan menjalin hubungan denganmu."

"Lalu kenapa kau menerimaku?"

Telak-, aku sadar aku belum memikirkan hal ini. Kenapa aku tetap menerima dia? Padahal aku tahu kalau aku menerima dia sama saja aku menghianati Shika dan Kiba.

"Aku tidak tahu"

Akhirnya aku menjawab dengan lirih sambil menundukan kepalaku. Aku dapat mendengar Sasuke menghela nafas pelan.

"Oke, tidak usah kau fikirkan pertanyaanku tadi, dan aku setuju untuk melakukan hubungan backstreet denganmu. Jadi..., sekarang kita sudah resmi kan?"

Aku mengangguk pelan, sambil menahan rona wajahku –yang sebenarnya percuma- memberanikan diri, aku mengangkat kepalaku, dan tertegun-

'deg'

Debaran jantung itu kembali muncul saat aku melihat senyumannya lagi, tapi debaran kali ini sangat kencang sampai aku takut dia bisa mendengar suaranya dengan jelas, dan aku bisa merasakan kalau sekarang wajahku memanas.

Sekarang wajahku pasti sudah semerah tomat, dan yang menyebalkan adalah dia tersenyum lebih lebar saat melihat wajahku yang merona hebat. Dan efek senyumnya sungguh hebat padaku...,

Aku merasa jika dia terus tersenyum seperti itu jantungku pasti akan melompat keluar dari tubuhku.

"S-sudahlah aku mau pulang, terserah jika kau mau menginap di sekolah!"

Aku sudah akan pergi meninggalkan dia saat aku merasa ada yang menggenggam telapak tanganku. Ya, siapa lagi kalau bukan Sasuke? Aku ragu apa di sekolah ini masih ada murid lain selain kami berdua.

"Aku antar pulang sampai persimpangan."

Bukan permintaan atau pertanyaan, tapi pernyataan. Dan akhirnya hari ini aku bergandengan tangan dengan dia sampai ke parkiran dan pulang menggunakan Yamaha R-1 miliknya sampai persimpangan rumahku. Dan semua itu di lakukan dalam keheningan.

'aneh'

Bukan, bukan Sasuke yang aneh, tapi aku yang aneh. Biasanya aku membenci keheningan tapi keheningan yang terjadi antara aku dan Sasuke kali ini terasa menyenangkan dan membuatku nyaman.

Entahlah, sepertinya aku memiliki perasaan baru terhadap dia. Bukan perasaan suka yang aku rasakan terhadap neji ini berbeda, aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Tapi perasaan ini membuatku nyaman berada di dekat Sasuke.

.

.

.

# # #

.

.

.

Saat ini aku sedang jalan memasuki rumah, aku dan Sasuke sudah berpisah jalan di persimpangan tadi. Dan karena persimpangan tidak begitu jauh dari rumahku aku memutuskan untuk berjalan kaki.

Aku bisa melihat kalau Kyuu-nii sedang duduk di ruang tamu, aku rasa dia sedang menunggu aku pulang. Yah karena 'pembicaraanku' dengan Sasuke di sekolah tadi aku jadi pulang terlambat. Sebentar lagi aku pasti di ceramahi oleh Kyuu-nii.

Walaupun dia terlihat seperti pemuda urakan yang tidak peduli sekitar #author dibunuh Kyuubi# tapi Kyuu-nii itu orang yang sangat cerewet jika sudah berhubungan dengan keluarganya.

"Dari mana saja kau rubah kecil? Baru pulang jam segini? Dan jangan berani-berani berbohong!"

Tuh kan benar, dia cerewet!

"Tadi ada masalah yang harus di bicarakan dengan ketua OSIS."

Aku berkata yang sebenarnya kan? Jadi aku tidak berbohong.

"Kalau tidak ada lagi aku mau mandi."

Menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Kyuu-nii aku langsung pergi secepat mungkin ke kamar.

.

.

.

Tbc/end?

.

.

.

Terserah readers.


a/n: wah aku update cepet! Oke aku mau jawab beberapa pertanyaan dan pernyataan reader di chap 1

typho dan huruf besar?

Oke buat yang satu ini aku ngaku salah, maaf soalnya waktu itu aku ngantuk banget! Jadi maaf kalau typho dan masalah huruf kapital agak nganggu.

Sasunaru atau narusasu?

Jawabannya adalah seratus persen sasunaru

Terasa real?

Hehehe makasih, tapi kisah ini memang aku ambil dari kisah nyata yang aku otak atik dimana-mana! #aku udah izin ke chara utamanya (chara naru)#. Yah walaupun emang banyak banget modifikasi kayak contoh temen naru sebenernya 8 karena kebanyakan aku kurangi jadi 2. Terus setting waktu di kenyataan 17 januari 2008. Terus sebenernya waktu itu chara naru sama sasuke kelas 2 SMP.#di sini belum ada aku, aku kenal chara naru waktu dia kelas 1 SMA#

Masih bersambung?

Nah kalau chap 1 emang bersambung tapi chap 2 aku agak bingung mau aku lanjutin atau aku selesaiin. Jadi aku minta pendapatnya ya!. Tapi kalau mau lanjut sampai setting sekarang bakal jadi panjaaaang banget! Tapi kalau nanya aku, aku suka cerita orang ini sampai setting yang sekarang! Banyak romencenya!

Sasuke manis….,

Bagiku yang manis pemeran sebenernya, waktu bikin ini yang kebayang bukan muka sasuke sama naruto sih! Yah walau sampai sekarang sebenernya aku belum pernah dan tidak akan pernah ketemu langsung sama chara sasuke sih! #Cuma pernah sms-an sama liat foto doang, sisanya cerita chara naru ke aku#

Oneshoot ya?

Hahaha kayaknya oneshoot masih mustahil aku buat. Salah satu ambisi aku sekarang bikin oneshoot #tapi gak pernah kecapai#.

Sasu nembak naru pake berlutut?

Sebenernya chara sasuke waktu nembak chara naruto gak berlutut. Cuma biar romence makin berasa aku buat berlutut deh!

In sasuke pov ya?

Kayaknya gak mungkin, aku udah kasih tahukan? aku belum pernah dan tidak akan penah ketemu chara sasuke. Jadi aku gak bisa nebak apa yang ada di dalem kepala Sasuke

Dan maaf klo a/n panjang banget! Tbc/end nya fic ini tergantung review para readers #bocoran# -kalau minta tbc chap selanjutnya tentang sasunaru yang udah jadian dan lagi studytour sama anak-anak- jadi…, dan ada adegan sasuke mainin gitar.

.

.

.

R&R pleaseeee….,!