Chapter 1A
Disclaimer : Milik Tuhan, agensi, diri sendiri dan Orang tua mereka.
Rate : SEMI M(?) ._.v
Genre : Romance / Drama / Family.
REPUBLISH!
Warning : BL, YAOI, typo(s) bertebaran, penggunaan EYD yang kurang tepat dan hal-hal tidak jelas lainnya. Banyak hal yang kurang masuk akal di Fic ini :P. Bagi yang TIDAK suka YAOI diharapkan untuk tidak membaca dari pada anda membuat keonaran(?). Jika tak suka dengan Couplenya dimohon untuk tidak membaca pula ya. DON'T LIKE DON'T READ.
.
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Siwon (Choi Siwon)
Lee Donghae
.
SELAMAT MEMBACA
(~˘.˘)_,/҉ #LUMOS
.
PROTECT YOU © arriedonghae
.
- Jaeejoong Pov -
"Kau, kau yang tadi, kau malaikat tadi?" suara keluar dari mulut gemetarnya dan membuatnya sedikit janggal.
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya, memamerkan senyum terbaikku. Jantungku tiba-tiba berdetak tak menentu. Aku bahkan tak tau siapa dia dan kenapa aku bisa tersenyum sangat manis padanya. Tak biasanya aku seperti ini kepada orang asing. Ini adalah benar-benar aneh.
Tanpa sadar aku melangkahkan kaki mendekati pemuda itu dan kemudian aku memeluknya. Aku tak sadar melakukannya. Apa yang terjadi pada tubuhku? Serasa ada magnet yang menarikku keraahnya. Tapi kenapa begitu nyaman saat memeluk tubuhnya. Aku semakin mengeratkan pelukanku. Aku tak ingin kehilangan moment ini. Sangant nyaman. Walaupun aku tak atu siapa namja ini namun aku sangat senang berada didekatnya.
"Kau akan segera bertemu denganku, percayalah, aku mencintaimu" ucapku tanpa sadar saat aku tengah nyaman dipelukannya. Aku terbelalak kaget, bingung dengan ucapanku barusan. Aku tadi bilang apa?
.
.
.
Aku merasakan seberkas sinar mengenai mataku saat ini. Alisku bertaut, mengernyit ambigu. 'Umh'... Aku menggeliat(?) merilekskan badanku serileks-rileknya(?). Sudah pagi ternyata. Hah... pagi mengapa begitu cepat datangnya. Padahal aku baru tidur beberapa jam saja karena tadi malan aku mendapatkan giliran lembur kerja. Tapi sudahlah.
Tak berpikir lama kemudian aku segera bergegas menuju kamar mandi, kuarahkannya lengan panjangku yang terbalut baju tidurku berwarna biru langi dan bermotif laut, menggapai gagang pintu kamar mandi di depanku.
Dikamar mandi aku mulai melepas satu persatu pakaian yang menempel ditubuhku seharian kemarin(?). Kemudian, setelah aku bersih tanpa sedikit benang yang menempel ditubuhku segera aku memerbersihkan tubuhku. Menyiramnya dengan air yang lumayan dingan dan membuatku sedikit merinding dibuatnya.
Dalam perjalanan(?) menyabun tunbuhku aku teringat mimpi aneh tadi malam, bukan kali pertamanya aku mimpi seperti itu. Sudah beberapa hari ini aku memimpikan hal yang sama. Tapi entahlah aku juga sedikit lupa mimpi apa itu yang kuingat hanya seoarang namja dengan wajah yang samar-samar dalam pandanganku saat itu, kemudian aku memeluknya dan mengatakan aku menyukainya bukan malahan aku sangat mencintainya. Ah apa yang sebenarnya aku pikirkan dimimpiku itu, lupakan. Toh itu hanya mimpi. Tak perlu memikirkannya lagi.
Segera aku berpakain setelah selesai dan segera menuju dapur kecilku untuk menyiapakan sarapan pagiku.
.
.
Kubuka pintu rumahku dan segera kujatuhkan pandanganku pada jalan disekitarku, masih sepi rupanya. Dan benar saja, tak ada satu orang pun disana kecuali aku. Aku terkikik pelan, mungkin ini terlalu pagi tentunya. Dengan senyum-senyum kecil, aku melangkah melewati jalan yang sepi sendiri.
Hari ini hari pertamaku bersekolah disekolah baruku. SM town high school. Siswa kelas tiga. Aku pindah dari sekolah lamaku di SS high school karena emb... ada sedikit masalah disana. Ya bukan sedikit sebenarnya. Tapi banyak dan cukup membuat harga diriku begitu terinjak-injak walaupun disana ya harga diriku selalu diinjak-injak. Namun kali ini aku tak tahan lagi, ini menyangkut perasaanku yang hancur.
*FLASH BACK*
"Kalian? Mau kalian sebenarnya. Eoh? Belum puaskan kalian selalu menghinaku" aku sangat marah saat itu dan mencoba mempertahankan diriku.
Kali ini mereka sangat keterlauan, biasanya mereka memang selalu membuat hidupku kacau, aku bisa terima walau meraka selalu menjelek-jelekan ku, menghinaku dan menyiksaku. Tapi sekarang aku tak terima kalau mereka sampai menghina keluargaku. Kami ini memang miskin tapi jangan sampai menganggap kami sampah yang tak berguna. Kami juga punya perasaan seperti orang lain.
"Kalian mau menghinaku silahkan saja.. tapi jangan pernah menghina keluarga ku" makiku pada mereka.
"Ohh.. jadi kau sudah berani melawan kami anak sialan" jawab seseorang dengan tatapan benci.
"Ayo beri saja sia pelajaran" tanggap salah satu dari mereka.
"Kita nikmati saja tubuh Namja cantik ini? Bagaimana? Kalian setuju atau tidak?" kata seseorang yang suaranya tak asing buatku lagi.
Aku terbelalak kaget mendengar ucapannya, bagaimana bisa ia berbicara seperti itu. Apa ia sudah gila? Bagaimana mungkin orang itu akan berencana melakukan hal buruk itu padaku dan melibatkan teman-temannya yang berengsek itu. Sedangkan dia adalah Namjacinguku sendiri.
"Ap.. apa maksudmu perkataanmu, aku ini Kekasihmu harusnya kau melindungiku" makiku pada Namjacinguku itu.
"Kau bodoh Jae, aku memang kekasihmu tapi aku sama sekali tak mencintaimu, kau hanya bahan taruhanku saja... hahaha" jawabnya dengan enteng. Yang benar saja, jadi selama ini ia mebohongiku dan hanya menjadikanku bahan taruhan, oh Tuhan ini sangat keterlaluan.
"Mwo?" aku jelas kaget mendengar penjelasannya.
"Ayo kita bersenang-senag Jae, kau pasti akan menikmatinya, santai saja, kami pasti akan memuaskanmu" Kata namja brengsek itu lagi.
"Jangan, kumohon jangan lakukan itu" pintaku ketakutan.
Namun ia tetep menghiraukan permintaanku. Ia semakin mendekat dan CHU~~. Ia mencium bibirku dengan sangat ganas, kasar dan penuh napsu. Aku berusaha mendorongnya namun sayang tenaganya lebih kuat dariku. Aku hanya bisa pasrah dan menutup rapat-rapat mulutku. Aku semakin koalahan dengan aksi brutalnya itu. Ia menggit bibir bawah ku dan membuat bibitku terbuka. Sesaat kemudian ia memasukkan lidahnya kedalam mulutku dan mengapsen setiap inci ruang didalamnya dengan sangat kasar.
Tak hanya itu saja, tiga temannya yang lain juga tak tinggal diam. Mereka mulia menciumi leherku secara bergantian dan meninggalkan bercak merah yang amat begitu banyak. Salah satu dari mereka mencoba membuka bajuku, aku mencoba memberontak namun sia-sia, jelas-jelas mereka lebih kuat dati pada aku yang sendirian.
Akhirnya mereka berhasil membuka bajuku dengan paksa dan mulai menciumi setiap senti tubuhku.
"Ahhh..." aku mulai kehabisan nafas, tubuhku terasa sangat lemas, pandanganku mulai kabur dan kulihat sesorang berlari menuju arahku dengan tatapan kaget.
BUGG!
BUGG!
Suara itu yang kudengar terakhir kali sebelum aku kehilangan kesadaranku.
.
.
Aku membuka mataku. Dimana ini? Tempat yang begitu asing, sebuah ruangan yang sangat bagus dengan cat biru mudanya.
"Kau sudah sadar" Tanya seseorang padaku. Seorang namja yang sangat tampan dengan senyum yang sangat menawan. Mungkin namja ini seumuran denganku.
"Nde... dimana ini?" jawabku sedikit bingung..
"Kau dikamarku, tadi aku menolongmu saat kau hampir diperkosa namja-namja tadi" katanya lagi.
"Namamu siapa Noona" lanjutnya. "Aku Lee Donghae" dia mengulurkan tangannya.
"Ah.. Kim Jaejoong Imnida, aku seorang Namja dan Gomwo sudah meyelamatkanu Donghae-ssi" jawabku tersenyum sambil berterimkasih padanya.
"Oh kau namja? Tapi kenapa cantik sekali?" tanyanya dengan nada bercanda..
"Oh ne, gomawo" jawabku sedikit malu.
*FLASH BACK END*
Demi kebaikan aku memutuskan pindah dari sekolah yang dibilang sekolah elit itu. Sampai sekarang pun aku masih belum bisa melupakan namja yang menyelmatkanu saat itu. Sejak kejadian itu kami tak pernah bertemu satu sama lain. Mungkin dia sangat sibuk begitu pula aku yang mempersiapkan keperluan sekolahku.
Suatu saat jika aku bertemu dengan Donghae lagi, aku akan berjanji membalas perbuatannya waktu itu. Bagaimanapun caranya.
Aku bisa dibilang sebatang kara. Aku hanya tinggal sendiri di seoul ini. Tak mempunyai banyak teman. Aku juga tak mempuyai orang tua. Mereka meninggal dalam kecelakaan 10 tahun lalu.
Sebenarnya aku mempunyai satu kakak laki-laki, Kim Siwon namanya tapi dia tak tinggal di Korea.
Dia mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang, dan sekarang dia kuliah disalah satu universitas disana, entah apa namanya. Mengambil bidang binis. Impian terbesarnya ingin membangun kembali perusahaan Appa yang kini sama sekali tak berbentuk(?).
Sebenarnya hyung tak ingin kuliah, dia ingin menjagaku, dia tak ingin aku sendiri, tak ingin dongsaeng dan keluarga satu-satunya yang dimilikinya sebatang kara. Tapi aku dengan susah payah dapat meyakinkannya untuk melanjutkan kuliah karena ini kesempatan langka, aku ingin hyung menjadi seorang yang sukses sehingga dia tak perlu menderita seperti ini.
aku juga tak mau menjadi penghalang untuknya. Aku yakin suatu saat hyung akan kembali dan berhasil mewujudkan impiannya.
Seperti hyungku aku mendapat beasiswa prestasi di kedua sekolah itu. Kalau bukan karena beasiswa penuh itu mana mungkin aku dan hyungku mampu bersekolah. Buat makan saja dapat dibilang susah apa lagi untuk menbiayai sekolah uang dari mana. Bukannya ingin menyombongkan diri tapi itulah kenyataannya. Aku dan hyung mempunyai IQ diatas rata-rata. Dan aku sangat bersyukur atas anugrah yang diberikan tuhan yang satu ini.
Oya aku bahkan belum memperkenalkan diriku bukan? Namaku Kim…
BRUG!.
Ohh tidak aku menabrak seseorang. Ahh apa aku terlalu keasikan melamun sehingga tak memperhatikan sekelilingku. Dan akibatnya aku menabrak seseorang. Aku menunduk dan mendapati seseorang jatuh dengan sangat tidak elit tersungkur dihadapanku. Aku memandang orang itu lama hingga kuberanikan diri untuk bicara.
"Miane jogmal mianeyo, aku tak sengaja menabrakmu" ucapku padanya sambil mengulurkan tangan.
Kemudian ia berdiri tanpa bantuanku walaupun tanganku menjulur kearahnya.
Aku bisa memakluminya mungkin dia marah padaku. Huhuuhu, Ia menggeram kesal kerahku dan kemudian aku merasa sangat takut? Atau mungkin panik?
Wow dia begitu tampan pikirku setelah kami saling bertatapan.
Mainly, dengan wajahnya yang tampan, kulit kecoklatan dan bibir yang menggoda.
oh sadar Jae dia namja dan kau berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak berhubungan dan 'naksir' siapapun lagi, ingat pengalaman pahitmu Jae ingat saat-saat semua orang menginjak-injak harga dirimu. Ingat lah.
"Tuan apakah anda terluka?" aku memberanikan bertanya sesopan mungkin.
"Oh, Gwencana, jangan khuatir, aku baik-baik saja" jawabnya.
"Mianhae karena saya telah menabrak tuan" ucapku lagi.
"Tuan? Oh jangan paggil aku tuan, Yunho, Jung Yunho" ucapnya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum memamerkan gigi putihnya. Dan berhasil membuatku sedikit salah tingkah namun aku berhasil menyembunyikannya.
"Ehh, ohh, Kim Jaejoong imnida, senang berkenalan dengan anda Yunho-shi" balasku sambil tersenyum.
"Emb miane Yunho-ssi aku aku harus segera pergi, aku e... sedikit terburu-buru"
akupun meninggalkannya sendiri walaupun ini kurang sopan namun mau bagaimana lagi
Aku tak ingin terlambat dihari pertamaku. Huh tapi aku suka senyum itu.
"Sekali lagi jongmal mianhe Yunho-ssi" aku berteriak dari kejauhan.
.
.
.
Aku terus berjalan hingga menemukan sekolah baruku itu. Lega rasa saat ini. Akhirnya aku sampai desekolah baruku. Tapi kenapa begitu sepi. Oh aku lupa ini memang terlalu pagi untuk datang kesekolah. Tapi tak apalah. Sekalian aku ingin berjalan-jalan.
Tunggu... saat aku sedang melanjutkan langkahku mengelilingi sekolah aku teringat pemuda yang kutabrak tadi pagi. Sepertinya tak asing, aku yakin aku pernah melihat namja itu disutu tempat, tapi dimana? Siapa dia sebenarnya. Kenapa aku tak bisa mengingatnya. Aishhh.
Yunho. Jung yunho. Siapa sebenarnya dirimu.
TBC or Delete?
Tergantung Reader ^^
Mind To Review Again?
Jelek? Aneh? Hancur? Tapi inilah hasilnya XD hahahhahaa #plak
