Sakura pernah berpikir bahwa orang yang sedang dicari memiliki satu kesamaan seperti kupu-kupu. Ketika kau mengejar dan mencarinya, dia akan semakin gencar menjauhimu. Namun ketika kau tenang dan diam untuk menunggunya, dia akan menghampirimu sendiri.
Sasuke menjadi salah satu dari pembuktiannya. Walaupun dia tidak benar-benar menunggu pria itu karena sudah bertekad untuk menjalani segalanya sendiri, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Sakura membutuhkannya. Tatapan mereka bertemu setelah Sakura menaruh gelas teh di atas meja, bersebelahan dengan dango-nya. Sakura membeku, dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan yang dilihatnya bukanlah khayalan. Walaupun tiga bulan terlampaui sejak pertemuan pertama dan terakhir mereka, Sakura sama sekali tak bisa melupakan wajahnya. Sasuke berjalan melewati meja-meja kosong lain dan berhenti di meja yang ditempatinya sendiri. Kedua belah bibir Sakura masih terbuka karena menganga.
"Sakura?"
Meski namanya terlontar tidak dengan suara parau yang dia ingat, tetapi dia tetap semakin yakin bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah Sasuke setelah mendengarnya.
"S-Sasuke?"
Sasuke mengangguk. Dia duduk tanpa permisi di depan Sakura, persis dengan saat di bar ketika pria itu menduduki kursi tempat dia menaruh dompet dengan menyingkirkannya tanpa permisi.
Ada banyak skenario yang hendak dia katakan pada Sasuke saat ini. Yang memijak urutan teratas adalah basa-basi semacam: "Aku tak menduga bisa bertemu denganmu lagi." Namun, dia tak bisa melontarkannya. Kakinya gemetar. Tangannya yang kini tersembunyi di bawah meja konstan meremas roknya. Jantungnya berdebar-debar keras. Dia mendadak merasa mual—entah karena kehamilannya atau didasarkan oleh hal lain.
Sasuke pun masih diam sejak duduk di hadapannya. Dia menatap wajah Sakura cukup lama hingga bertanya, "Kau pindah kemari?" dengan intonasi yang diselubungi keraguan.
Kedua mata Sakura mengerjap lagi. Dia menatap Sasuke dengan ekspresi kaku. "Kenapa kau berasumsi aku pindah?" ucap Sakura pelan. Dia meneguk ludah. Tangan yang sudah dibalur minyak angin beraroma aromaterapi ditekan ke hidungnya sejenak. Detak jantungnya masih tidak beraturan hingga dadanya terasa sesak.
"Aku tidak berasumsi," kata Sasuke. Dia tampak ragu ketika melanjutkan, "Aku tahu."
"Apa?" Tiba-tiba tubuh Sakura bergidik. Entah mengapa kehadiran Sasuke membuatnya semakin takut. "Aku bisa saja ada di sini untuk liburan, keperluan tertentu, atau apalah. Apa yang membuatmu langsung dapat berasumsi bahwa aku pindah? Apa yang membuatmu tahu?"
Sasuke tampak tenang walaupun dihadapkan dengan nada gertak yang diutarakan Sakura. Untuk sejenak, dia tak yakin pria yang duduk di hadapannya adalah Sasuke. Dia tampak jauh lebih terkendali daripada yang Sakura ingat. Sasuke yang sedang menempati meja yang sama dengannya ini sama sekali tidak cocok untuk menjadi pria yang menggodanya dan digodanya dulu. Sakura tak menduga alkohol bisa mengubah seseorang sejauh itu.
Alih-alih menjawab, Sasuke memanggil pelayan untuk memesan segelas teh. Dia meminta tagihan pesanan Sakura disatukan dengan miliknya. Belum sempat Sakura merespons apa pun, pelayan itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Sakura sontak mengarahkan pandangan pada Sasuke dengan tatapan tak ramah.
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Aku akan membayar pesananmu."
Sakura menyeringai remeh. "Untuk apa?" tanya Sakura sinis. "Untuk membayarku?"
"Apa?!" Ketenangan di wajah Sasuke telah terusik. Dia tampak marah saat menatap Sakura. "Kau pikir aku membayar pesananmu untuk merendahkanmu?" Sorot matanya tajam hingga Sakura sempat cemas menjadi arah pandangannya. "Asumsimu keterlaluan. Kau justru merendahkan dirimu sendiri dengan itu."
Sakura hanya diam dan mengalihkan pandangannya. Tangannya memegang perutnya yang mulai membesar meskipun belum kentara.
Pesanan Sasuke yang baru saja datang memecah keheningan di antara mereka.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Aku berutang air mineral padamu," katanya. Dia meneguk tehnya sedikit. "Itu alasanku membayar pesananmu."
Sakura menatap Sasuke lagi dengan tatapan heran. "Air mineral?" tanyanya skeptis. Pria ini pasti sedang bercanda.
"Ya, aku mencuri beberapa gelas air mineral sebelum meninggalkan apartemenmu."
Sakura kehilangan kata-katanya. Jawaban Sasuke terdengar antiklimaks.
"Aku pun berutang satu gaun padamu."
Sontak wajah Sakura memerah mengingat gaunnya yang Sasuke robek agar ditanggalkan dari tubuhnya lebih cepat. Dia menahan diri dari menutup wajah dan mencoba serius menatap Sasuke.
"Aku berasumsi kau pindah karena melihat barang-barang yang dipak di apartemenmu di malam itu. Aku tak menemukanmu saat aku datang lagi ke sana untuk mengganti gaunmu, itulah yang membenarkan asumsiku."
Sakura terdiam lama dengan kaki yang semakin bergetar. Dia memejamkan mata ketika matanya memanas. Ternyata bukan hanya dia yang sempat mencari, tetapi Sasuke juga. Seandainya dia masih tinggal di Osaka waktu itu, mungkin Sakura tak akan terbebani separah ini. Walaupun dia tetap tak tahu akan seperti apa respons Sasuke tentang ini, rasa sesak tetap menyeruak di dadanya.
"Katakan sesuatu."
Sakura menarik napas panjang. Dia nyaris tertawa sarkastis mendengar permintaan Sasuke karena satu-satunya hal yang ingin dia katakan saat ini adalah: "Kau berengsek, Sasuke." Nada bergetar menuturkan ucapannya.
Sasuke tersentak. Raut kesal kembali lagi ke wajahnya. "Apa—"
"Kau berjanji akan menggunakan pengaman saat melakukannya tapi kau tidak menggunakannya dan sekarang … sekarang …" Bibir Sakura bergetar. Dia menggigitnya hingga memutih. Matanya terpejam erat sembari menunduk.
Sakura mengangkat dagunya lagi dan mendapati Sasuke tengah menatapnya dengan mata melebar. Wajahnya tampak seperti kehilangan darah. "Kau …?"
"Aku hamil."
Ekspresi Sasuke tampak seperti seseorang yang akan dijatuhkan ke dalam jurang. Kedua tangannya mengusap kepalanya sendiri dengan kasar. Tangannya menempel di pelipis; telapaknya menopang tulang pipi. Tatapannya tertuju pada permukaan teh dalam gelas yang tenang. Setenang-tenangnya permukaan teh tersebut tetap tak mampu memperbaiki keterkejutan Sasuke.
Dia mengangkat wajah dan menatap Sakura saat mulai pulih dari tamparan telak. Mata Sakura berkaca-kaca selagi dia menggigit bibirnya. Wanita itu tengah menahan tangisnya.
"Sakura, bisakah kita berbicara di tempat yang lebih pribadi?"
Sakura mengangguk lemah. "Apartemenku hanya dua menit dari sini."
Sasuke mengangguk setuju. Dia membayar pesanannya dan pesanan Sakura. Sakura beranjak dari duduk saat Sasuke sudah kembali dan menunjukkan jalan. Sakura membuka pagar dari sebuah apartemen sederhana berlantai dua, dengan dua kamar di setiap lantainya.
Setelah masuk ke dalam apartemen Sakura, mereka hanya duduk di atas sofa yang sama dan saling diam. Sasuke melirik arlojinya, nyatanya hitungan Sakura tepat soal jarak yang dapat ditempuh dalam dua menit. Dia menatap Sakura. Sakura semakin merasa takut hingga tak bisa mengatakan apa pun.
"Sakura," panggil Sasuke.
Sakura mengerjap. Dia mengangkat wajahnya.
"Ceritakan semuanya."
"Ceritakan apa lagi? Aku hamil, Sasuke. Karena kau. Kau pikir ada pengantar cerita untuk itu?" Sakura mengembuskan napas panjang. Dia masih mencoba untuk menahan tangis. "Yah, ada. Tapi kau sendiri sudah tahu ceritanya karena itu jelas dilakukan oleh kita berdua. Kau—kau merusak hidupku, kau tahu? Aku tidak menyalahkanmu atas kau yang meniduriku karena itu terjadi atas full consent dariku. Aku pun menginginkanmu waktu itu." Dia terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri. Setelah stabil, dia melanjutkan, "Aku menyalahkanmu atas kau yang tidak bisa menahan nafsu sialanmu sebentar saja hanya untuk memakai pengaman!"
Sakura terdiam cukup lama hingga mungkin Sasuke kira dia sudah selesai dengan kata-katanya. Saat Sasuke membuka mulut, Sakura memotong apa pun yang hendak dia katakan dengan berujar, "Selama ini aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hal ini membuat rencana hidupku kacau. Tapi … tapi aku tak bisa …" air mata berurai di pipinya, dia mengisak, "aku tak bisa membunuhnya. Aku tak ingin membunuhnya!"
Sasuke menyentuh Sakura dengan lembut. Walaupun dia tahu Sasuke melakukan itu untuk menenangkannya, Sakura tetap tak merasa nyaman karenanya. Dia menyentak lengannya hingga tangan Sasuke menjauh. Leher pria itu bergerak karena tengah menelan sesuatu. Dia menatap Sakura dengan raut bingung, panik dan pucat. Tatapannya lantas tertuju pada perut Sakura yang kurva kehamilannya tertutupi pakaian longgar.
"Kau mau aku melakukan apa?" tanya Sasuke hati-hati.
Dada Sakura bergemuruh. Dia menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "Menurutmu?" bisiknya sinis.
"Jangan salah paham, Sakura. Aku tahu aku harus bertanggung jawab, tapi aku tak tahu bentuk tanggung jawab seperti apa yang kauinginkan."
Sakura mengusap wajah dan menghapus seluruh air matanya. Dia berusaha menstabilkan deru napas agar isakannya berhenti. Dia tak bisa memungkiri bahwa kehadiran Sasuke dan pria itu yang sudah tahu kondisi ini cukup banyak meringankan bebannya. Dan Sasuke yang menyatakan akan bertanggung jawab sungguh membuat Sakura lega.
"Katakan saja semua yang ada di kepalamu."
"Kau …," Sasuke menggigit lidahnya karena ragu. Dia mengatur napas sebelum melanjutkan, "kau mau kita menikah?"
"Tidak," tegas Sakura. "Aku tidak mau menderita karena menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai, apalagi lelaki yang tidak kukenali."
Sasuke mengangguk. Wajahnya masih bingung dan pucat pasi, tetapi satu gurat di dahinya menghilang. "Aku akan bertanggung jawab atas biaya apa pun yang dibutuhkan untuk bayi ini, baik selama masih berada di kandungan atau setelah dia lahir. Dan aku akan ada setiap kali kau membutuhkan …" Sasuke tampak ragu. Setelah menelan ludah, ekspresinya tampak lebih mantap, "... membutuhkan seseorang untuk menemanimu."
Sakura tidak menentang gagasan Sasuke yang kedua. Sorot matanya memancarkan raut setuju. Tiba-tiba panik mengacaukan air mukanya. Dia menggeleng dan mengisak lagi. "Tapi ini tetap tidak adil!" serunya. "Yang mengalami semua ini tetap hanya aku, padahal yang salah adalah kau! Kau bisa lari dan bersembunyi dari kesalahanmu, sementara akulah yang harus menanggungnya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada kedua orang tuaku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang orang katakan tentang aku. Aku … ini benar-benar tidak adil!"
Dia membiarkan dirinya menangis keras lagi. Sudah dua bulan dia menjalani semua ini, tapi rasa takut tak pernah bisa membuatnya terbiasa. Dia tersentak saat Sasuke tiba-tiba mencengkeram bahunya. Sebelah tangan pria itu memaksa wajah Sakura untuk terangkat ke arahnya. Sakura mendapati gigi Sasuke menggertak. Sasuke tampak marah.
"Kau yang memutuskan untuk tidak menggugurkannya, dan aku menghargai itu. Padahal aku bisa saja memaksamu untuk menggugurkannya agar segalanya lebih mudah bagi kita berdua! Tapi aku tidak melakukannya. Aku tidak melakukannya!"
Rasa takut Sakura semakin memuncak ketika cengkeraman Sasuke di bahunya semakin keras. Tubuhnya gemetar keras. Ingin dia melihat apa pun selain wajah Sasuke yang diliputi kemarahan, namun tangan Sasuke membatasinya.
"Aku sudah mencoba memberimu solusi tapi kau tetap tak setuju dengan itu. Pola pikirmu yang saling kontradiktif itu sungguh membuatku pusing, Sakura! Kalau kau memang ingin semuanya mengalir dengan adil, gugurkan saja kandunganmu dan selesailah dengan itu! Dengan begitu, kau tidak perlu menanggung kesalahanku, bukan?"
Aliran air mata Sakura semakin keras dan isakannya mengencang. Sasuke tidak melakukan apa pun selama beberapa saat. Dia menjambak rambutnya sendiri setelah melepas sentuhannya dari Sakura. Tatapannya tertuju pada Sakura lagi. Bahunya naik dan turun teratur selama mengatur napas. Dia merangkum wajah Sakura di antara kedua tangannya dan membuat wanita itu menatap lurus ke wajahnya lagi—kali ini sentuhannya lembut.
"Sakura, bukankah sudah kubilang bahwa aku akan ada setiap kali kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu?" Sakura mengatup mulutnya untuk menahan isakan. Dia menatap wajah Sasuke melalui pandangannya yang berkabut. Wajah pria itu diraut ekspresi cemas dan pasrah. "Itu termasuk saat berbicara dengan orang tuamu. Atau saat menghadapi penilaian orang lain terhadapmu. Kau tidak sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri."
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Aku tidak mengenalmu."
"Aku Uchiha Sasuke." Sasuke berdeham. "Sejujurnya aku payah dalam mengenalkan diri. Apa lagi yang ingin kau tahu agar kau mengenalku?"
Sakura menangis lagi. Kali ini dia membiarkan dirinya ditenangkan di dalam dekapan Sasuke. Anehnya, sentuhan Sasuke kali ini sanggup membuatnya tenang hingga tangisnya berhenti. Entah mengapa dia pun merasa Sasuke memeluknya bukan untuk menenangkannya, tetapi mencari pegangan untuk diri sendiri. Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi dada Sakura. Dia jelas bukan satu-satunya orang yang frustrasi karena masalah ini.
Mereka saling menarik diri dan langsung menghindari tatapan satu sama lain. Kalau tadi keduanya duduk menyamping dan saling berhadapan, kini mereka menyandar pada sofa dengan posisi saling bersisian. Suasana yang tercipta benar-benar hening dan menyesakkan. Canggung menyeruak ke dalam dada Sakura hingga dia sungguh-sungguh merasa tidak nyaman.
Sakura melirik ke arah Sasuke tanpa menoleh.
"Sasuke," bisiknya.
Sasuke masih menatapnya dengan sorot mata pasrah.
"Kau sungguh-sungguh mau bertanggung jawab? Semua yang kaukatakan tidak bohong, 'kan?" tanya Sakura cemas. "Karena aku … aku benar-benar tidak sanggup membunuhnya. Rasa takutku untuk membunuhnya jauh lebih besar daripada rasa takutku untuk menghadapi semua ini, bahkan saat aku masih sendirian."
"Aku tak akan menarik kata-kataku."
Dada Sakura terasa diremas keras melihat pucat di wajah Sasuke semakin parah. Sakura menggigit bibirnya.
"Maaf, aku tidak seharusnya menyudutkanmu seolah-olah ini hanya kesalahanmu saja. Ini … ini kesalahan kita berdua karena kita sama-sama melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab waktu itu." Dia mencoba mengatur napas agar lebih tenang. " Aku hanya … aku amat tertekan hingga mencari pihak yang bisa disalahkan, jadi aku menyalahkanmu. Padahal aku tidak seharusnya begitu. Seharusnya aku bersyukur kau masih mau bertanggung jawab. Tidak semua orang bisa berani bertanggung jawab sepertimu."
Sasuke mengangguk. Dia mengembuskan napas lega.
Teriakan, tangisan, bentakan dan hal lain yang mengekspresikan kefrustrasian telah habis. Ketegangan di antara mereka telah menipis.
Sakura mengusap perutnya dan mengembuskan napas panjang. Dia melirik ke arah Sasuke lagi.
"Sasuke," katanya. "Bagaimana kau bisa menemukanku di kedai teh tadi?"
"Kebetulan."
Alis Sakura tertarik. "Hm?"
"Aku baru saja selesai dinas untuk hari ini di sini dan hendak mencari makan malam. Aku menemukanmu dalam perjalanan dan teringat soal," Sasuke berdeham, "gaun yang kusobek."
Wajah Sakura memerah. Dia tak kuasa untuk menahan pandangan pada wajah Sasuke.
"O-oh," responsnya. "Kau bekerja di sini? Kau tinggal di sini?"
"Tidak. Aku tinggal dan bekerja di Osaka. Di sini hanya dinas selama seminggu saja, tepatnya lima hari lagi."
Sakura mengangguk. Dadanya memberat lagi membayangkan bahwa akan tetap ada masa dia harus menghadapi semua ini sendiri.
"Kau?"
Sakura mengernyit tidak mengerti. "Apa?"
"Bagaimana dengan keberadaanmu di sini?"
"Oh." Sakura baru memahami pertanyaan Sasuke. "Aku pindah sejak tanggal dua puluh tujuh Juni ke sini."
"Dua hari setelah—"
"Ya," potong Sakura cepat-cepat. Wajahnya memanas lagi. Dia sama sekali tak menduga Sasuke ingat tanggal ketika malam itu terjadi. Mungkin hari itu bertepatan dengan sesuatu yang penting baginya. "Aku pindah untuk mempersiapkan studi tahun depan. Tesnya masih lama memang, tetapi aku sengaja pindah lebih cepat agar lebih fokus dan entahlah, lebih termotivasi?" Sakura meremas kedua tangan yang berada di atas pangkuan dan menatapnya. Dia tersenyum getir. "Tapi manusia memang hanya bisa berencana."
"Aku minta maaf," ucap Sasuke.
Sakura tidak menjawab. Dia tak tahu apakah dirinya bisa memaafkan Sasuke atau dirinya sendiri atas ini.
"Dan sekarang aku tidak berani kembali ke Osaka. Orang tuaku di sana. Sekitar delapan puluh persen orang yang kukenali seumur hidup pun berada di sana. Dengan kondisi seperti ini … aku lebih baik tinggal di tanah asing saja. Jadi, yah, walaupun rencanaku kacau, aku akan tetap tinggal di sini."
"Kau belum memberi tahu orang tuamu?"
"Aku tidak akan melakukannya."
Sasuke tampak terkejut. "Kita harus membahas ini nanti."
Walaupun tidak yakin dia mau mengubah keputusannya soal ini, Sakura tetap mengangguk.
"Oh, iya. Nama lengkapku Haruno Sakura. Aku belum memberitahumu, 'kan?" Sakura mencoba tersenyum. "Kita benar-benar harus saling kenal. Usiaku dua puluh enam tahun."
"Tahun ini?"
"Ya."
"Kita lahir di tahun yang sama."
"Oh, ya? Tanggal berapa, Sasuke?"
"Dua puluh tiga Juli. Kau?"
"Dua puluh delapan Maret."
"Ternyata namamu Haruno Sakura bukan hanya berdasarkan warna rambutmu." Tatapan Sasuke mengarah ke rambutnya.
Sakura tersenyum kecil.
"Kita sepakat tidak akan menikah, 'kan? Lantas bagaimana? Kita mengurus anak ini bersama-sama sebagai rekan dalam menjadi orang tua?" tanya Sakura.
"Hn, seperti itu."
"Kalau begitu, aku tak masalah jika kau punya hubungan dengan wanita lain selama kau masih bertanggung jawab atas anak ini." Sakura mengelus perutnya. "Aku tidak akan mengikatmu. Kita tidak terikat apa pun."
"Hal yang sama berlaku juga untukmu," kata Sasuke. "Kau akan tetap tinggal di sini?"
"Iya. Selain karena alasan yang tadi kukatakan padamu, aku masih ingin melanjutkan studiku di sini setelah kondisi terkendali. Mungkin tiga atau empat tahun lagi, tidak apa-apa." Sakura mendesah.
"Kalau begitu aku tidak yakin bisa menepati ucapanku. Pekerjaanku di Osaka dan aku tidak bisa meninggalkannya."
Bahu Sakura merosot meskipun dia sudah sadar akan hal ini sebelumnya. "Aku tahu," ucap Sakura dengan nada mengeluh.
"Keadaannya akan berubah jika kau berkenan pindah ke Osaka lagi. Soal studimu, kau bisa berangkat ke Tokyo saat waktunya sudah tepat. Tidak perlu dari sekarang."
"Aku tidak bisa." Sakura menggigit bibirnya. "Aku juga sudah membayar sewa apartemen ini selama enam bulan. Sayang, 'kan? Dan aku sudah punya pekerjaan di sini. Tidak enak jika aku berhenti padahal belum lama bekerja."
"Tidak apa-apa. Itu hanya saran," kata Sasuke. "Artinya, kau tidak akan sendiri hanya di setiap akhir pekan. Aku akan ke sini setiap satu atau dua minggu, jika kau membutuhkanku."
"Kurasa itu cukup."
Sasuke mengangguk. "Simpan nomor ponselku," titahnya. Dia menyebutkan nomornya ketika Sakura sudah siap menyimpannya di ponsel.
Sakura menelepon nomor Sasuke. Saat ponsel pria itu bergetar, dia berkata, "Itu nomorku. Simpan, ya."
Sasuke menanggapinya dengan tindakan.
"Sasuke," panggil Sakura saat pria itu terlalu serius dengan ponselnya.
Sasuke mengangkat wajah dan menatap Sakura. "Hm?"
"Terima kasih sudah mau bertanggung jawab." Sakura tersenyum. Dia mengelus perutnya dan membuat tatapan Sasuke tertuju ke sana.
Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kau sudah pernah memeriksanya ke dokter?"
"Sudah. Besok pun aku mau memeriksanya lagi."
"Biar kutemani. Urusanku dimulai setelah jam makan siang besok, jadi kita bisa berangkat pagi," ujar Sasuke. Entah mengapa tiba-tiba dia tampak grogi. Dia membersihkan tenggorokan. "Kalau kau mau."
"Iya. Kita bisa berangkat pagi." Sakura menyelipkan rambut ke belakang telinga karena gugup. Bibirnya ditekan untuk menahan senyum. Dia lantas mengelus perutnya lagi. "Besok pekerjaanku dimulai setelah makan siang juga."
Mata Sasuke terarah ke perut Sakura lagi. "Boleh aku menyentuhnya?"
Entah mengapa kali ini Sakura tidak bisa menahan senyum. "Tentu saja boleh."
.
—
.
Sasuke benar-benar menemaninya saat Sakura memeriksakan diri ke dokter. Walaupun pria itu tidak ikut masuk ke dalam ruangan saat dirinya diperiksa, tetapi kehadirannya sudah cukup untuk menghilangkan beban yang Sakura ingat selalu ada setiap dia datang kemari. Setidaknya dia tahu bahwa dia memang tidak sendiri. Sekarang dia punya seseorang yang dapat menjadi temannya berbagi soal kondisi kehamilannya selain dokter, dan itu sungguh-sungguh membantu kestabilan mental Sakura dan memiaskan seluruh rasa takut yang pernah dia rasakan walaupun hanya sedikit.
Selama Sasuke masih berada di Tokyo, dia rutin mengunjungi Sakura dan membantu wanita itu jika memang dibutuhkan. Terakhir Sasuke mengunjungi Sakura adalah ketika wanita itu merasakan mual-mual dan pusing lagi setelah beberapa waktu dia mengalami kehamilan yang ringan. Sakura ingat Sasuke masih berada di apartemennya sampai pukul sebelas malam, dan dia tak menduga pria itu akan ada untuk membangunkannya pagi-pagi serta mengingatkan sarapan.
"Kau mau sarapan apa?" tanya Sasuke di sisi tempat tidur Sakura.
Sakura menggeleng. Walaupun mual dan pusingnya sudah hilang, dia masih tak punya nafsu untuk makan.
"Kau harus sarapan," peringat Sasuke. "Aku akan belikan apa pun yang kau mau."
"Aku tidak menginginkan apa pun," tanggap Sakura. Dia beranjak dari tidur dan menyandar pada kepala ranjang. "Kau semalaman berada di sini, Sasuke? Kau tidur di mana?"
"Hn, di sofa. Sekarang jawab kau mau makan apa. Pasti ada setidaknya satu yang ingin kau makan."
"Astaga. Tubuhmu tidak sakit-sakit, 'kan, sekarang?" Sakura menyuarakan kekhawatirannya.
"Tidak. Ini bukan waktunya kau mengkhawatirkan orang lain, Sakura. Jawab pertanyaanku, kau mau makan apa?"
"Tidak ada," jawab Sakura tanpa ragu.
"Kenapa? Kau masih mual?" tanya Sasuke. "Minumlah dulu." Dia menyerahkan segelas teh hangat yang sudah ditaruh di atas meja nakas pada Sakura. "Kau tidak mengidam? Bukankah itu hal yang lumrah dirasakan oleh wanita hamil?"
"Aku sudah tidak mual, tapi aku tidak nafsu makan saja." Sakura menerima teh dari Sasuke. Dia menahan napas ketika membuka tutup dari gelas, khawatir aroma apa pun akan membuat mualnya kembali. Lantas dia menyesap isinya pelan-pelan. "Terima kasih," katanya sambil meletakkan gelas tersebut di meja nakas kembali. "Mungkin masa mengidamku sudah selesai. Kau terlambat dua bulan jika ingin direpotkan oleh aku yang menginginkan hal-hal yang tak biasa."
"Oh," sahut Sasuke. Ada sesuatu yang Sakura asumsikan sebagai penyesalan di wajahnya. "Kau tidak nafsu makan bukan berarti kau boleh tidak makan. Ingatlah bahwa sekarang tubuhmu bukan hanya milikmu saja," dia berkata dengan tegas. "Sekarang jawab, kau mau makan apa?"
Sakura mendengus. Belum lama dia mengenal Sasuke, tetapi dia sudah tahu bahwa pria itu memang amat disiplin dan keras kepala-mungkin lebih keras kepala daripada dirinya-termasuk dalam hal yang menurut Sakura trivial seperti ini.
"Iya, iya, aku akan makan," jawabnya setengah mengeluh. Dia menyerah karena berniat untuk menghentikan kekhawatiran Sasuke terhadap anak yang berada di kandungannya. Pria itu pasti tidak mau anaknya kelaparan karena alasan remeh dari ibunya. "Tapi kau tidak perlu membeli apa-apa. Aku akan memakan yang ada saja."
Sakura berdiri dan segera berpegangan pada lengan Sasuke saat pandangannya memburam, memburam, hingga menggelap. Kepalanya terasa amat berat selama beberapa saat hingga dia bisa melihat dengan jelas lagi. Terakhir diperiksa, tekanan darahnya memang terhitung rendah. Dia yakin itulah alasan dia sering mengalami hal seperti ini setiap kali beranjak dari duduk atau baringan secara tiba-tiba.
Sasuke refleks memegangi tubuhnya dan membantu berdiri tegak. "Kau baik-baik saja?"
"Positif," jawab Sakura. "Barusan hanya tidak stabil karena berdiri secara tiba-tiba saja." Tangan Sasuke masih memegangi punggungnya. "Hmm, kau sudah boleh melepas peganganmu, omong-omong."
Sasuke melepaskannya dalam sekejap tanpa berkata apa pun setelahnya.
Sakura memasak dua porsi omurice, masing-masing untuk dirinya dan Sasuke karena yakin pria itu pun belum sarapan. Sasuke meminta saus tomat ekstra saat sepiring omurice disajikan di atas meja. Sakura makan tiga kali lipat lebih lama daripada Sasuke karena memang berada dalam kondisi yang tidak bisa makan cepat-cepat. Sasuke tak beranjak selama makanan Sakura belum habis.
"Kau tidak ada urusan hari ini?" tanya Sakura.
"Ada. Akan dimulai tiga jam lagi."
Sakura mengangguk.
"Besok aku harus pulang ke Osaka."
"Hmm," tanggap Sakura sekenanya.
"Kau tidak akan ikut? Aku bisa membantumu setiap hari jika kau berada di sana."
Sakura menggeleng. "Kita sudah pernah membahas ini. Aku baik-baik saja walaupun hanya bisa kau bantu seminggu atau dua minggu sekali."
"Hn." Sasuke beranjak dari duduk. Dia melirik arloji. "Aku harus pergi sekarang."
Sakura mengangguk dan berdiri. Dia berjalan menuju pintu keluar untuk mengantar Sasuke. "Hati-hati," katanya.
"Hubungi aku saja jika ada apa-apa."
Walaupun Sakura tak suka membayangkan dia akan mengganggu Sasuke, dia tetap menjawab, "Oke."
"Aku pergi," kata Sasuke.
Sakura hanya menanggapi dengan lambaian tangan.
Saat tak lagi melihat Sasuke, dia pikir tadi adalah kali terakhir dia bertemu pria itu. Asumsinya dipatahkan oleh keberadaan Sasuke yang menjadi seseorang yang mengetuk pintu apartemennya di malam hari. Tangannya menjinjing dua kantung plastik yang tak Sakura tahu apa isinya.
"Oh, hei, Sasuke," sapa Sakura. "Kupikir tadi pagi adalah terakhir kali aku bertemu dengamu sebelum kau pulang."
"Hn," tanggap Sasuke. Sakura memutar mata, mulai jengah mendengar tanggapan dingin itu dari Sasuke.
"Ayo masuk," kata Sakura sembari mundur dan memberi jalan.
Sasuke masuk tanpa mengatakan apa-apa. Dia menaruh dua kantung plastik itu di atas meja. "Untukmu."
Alis Sakura terangkat. "Apa itu?"
Sasuke mengedikkan bahu ke arah plastik tersebut. Sakura menangkapnya sebagai isyarat untuk menyuruh Sakura mencari tahu sendiri.
Dua dus susu untuk wanita hamil. Buah-buahan. Persediaan bahan makanan yang Sakura yakin akan cukup sampai dua minggu ke depan.
Sakura terdiam dan mengerjap. Dia menatap Sasuke. "Terima kasih banyak, Sasuke. Aku sangat menghargai ini. Tapi, kau tahu, kau tidak perlu melakukan semua ini. Um, maksudku, kau … kau bukan suamiku."
Tangan Sasuke terulur untuk menyentuh perut Sakura. Dia mengusapnya. "Aku ayah dari anak ini," katanya.
Wajah Sakura memerah. Dia mendadak merasa malu. Tiba-tiba pergerakannya terlihat seperti seseorang yang tengah salah tingkah. "Oh, ya," katanya. "Tentu saja semua ini untuk anak ini. Ha-ha." Entah mengapa tawa keringnya terdengar menyedihkan di telinganya.
Sasuke menarik tangannya. "Aku tak akan lama di sini," ucapnya.
"Oke. Kau mau minum sesuatu? Atau mau makan dulu?"
"Aku sudah makan. Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mengantar itu." Tatapan Sasuke tertuju pada bungkusan yang sudah Sakura bongkar. "Kurasa sekarang adalah terakhir kali kita bertemu sebelum aku pulang."
"Hmm." Dia tak tahu harus menanggapi seperti apa selain dengan gumaman.
Mereka sama-sama terjebak hening dalam waktu lama.
"Sakura," panggil Sasuke tiba-tiba. Sakura mengangkat wajah setelah sedari tadi enggan menatap Sasuke. "Hubungi aku jika ada apa-apa. Aku mungkin tidak bisa membantumu secara langsung, tapi aku bisa menjadi teman bicaramu."
Sakura mengangguk.
"Aku tidak yakin apakah kau bisa memaafkanku atas kecerobohanku yang membuatmu menanggung semua ini, tetapi kau tetap bisa mengandalkanku walaupun tidak memaafkanku."
Sakura tidak menjawab karena kehilangan kata-kata. Dia hanya tercengang.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Aku harus pergi," katanya.
Sakura mengantar Sasuke ke pintu tanpa bicara apa-apa.
"Hati-hati," ujar Sakura.
Sasuke mengangguk. Dia pergi setelah mengucap, "Jaga dirimu baik-baik."
Esok paginya Sakura menerima pesan dari Sasuke yang berisi tentang kabar bahwa pria itu sudah meninggalkan Tokyo.
Entah mengapa Sakura merasa amat hampa setelahnya.
A/n:
Chapter selanjutnya gak yakin bisa di-publish secepat ini karena drafnya masih berantakan. Kalo saya gak malas edit mungkin bisa cepat ehehe
Menjawab pertanyaan teh munya, sasusaku emang sengaja dibikin OOC pas awal soalnya tindakan mereka dipengaruhi alkohol :'D ke depannya diusahakan masih di koridor IC mereka.
Terima kasih sudah membaca sampai sini!
daffodila.
