Bad dog (chap 2)

.

.


.

.

Cast = Park Jimin, Min Yoongi, Jeon Jungkook, Kim Taehyung, etc

Rate = M

Genre = Drama & Romance

Warn! BDSM! Dom!Yoongi Taehyung, Sub!Jimin Jungkook

.

.


.

.

Jimin menghelas napas, mungkin dia akan menghabiskan sisa hidupnya di sini, bersama Yoongi dan hukuman-hukumannya.

.

.

Jimin menatap langit-langit kamar Yoongi dengan diam. Sudah tiga jam dia berada disini sendirian. Tubuhnya bergerak beberapa kali, mencari posisi yang nyaman di atas ranjang empuk itu. Raut wajahnya menjadi tegang setelah dia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubunya.

"Sial."

Jimin mengatupkan kedua pahanya, mengempit kemaluannya yang bergejolak ingin menjalankan panggilan alam. Apa yang harus dilakukannya? Dia tidak bisa pergi kemana-mana karena kedua tangannya terikat pada ranjang. Jimin melihat sebuah pintu di sudut ruangan. 'Itu pasti kamar mandi, tapi bagaimana caranya aku kesana?!' Pikirnya.

Jadi, Jimin memutuskan untuk berteriak memanggil Yoongi.

"Yoongi! Yoongi! Aku butuh ke kamar mandi!"

Tapi hanya suara desahan angin yang menjawabnya. Perasaan Jimin tercampur aduk, antara kesal, panik, juga ingin menangis.

"Yoongi!"

"Yoongi! Tolong, aku benar-benar butuh toilet!"

"Yoongi, aku ingin pipis."

"Yoongi..."

"Yoongi..."

Yoongi? Mungkin pria itu sedang sibuk bersama pekerjaannya yang membosankan. Mungkin pria itu tidak peduli betapa tersiksanya Jimin sekarang. Jimin semakin mengutuk Yoongi.

Tapi suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Jimin dari kegiatannya mengutuk Yoongi. Oh di sana berdiri seorang polisi yang waktu itu, Kim Taehyung!

"Hei kau, tolong, tolong aku butuh kamar mandi. Cepatlah."

Taehyung mengangkat alisnya melihat Jimin yang sedang berposisi aneh. Pahanya merapat, tubuhnya melengkung, tangannya terangkat keatas dan dia terlihat gelisah.

"Oh? Padahal aku ingin menginterogasimu secepatnya. Baiklah, tunggu di sana."

Tanpa Taehyung berkata 'tunggu di sana' Jimin juga tidak akan pergi kemana-mana. Dia tidak bisa, tentu saja. Dia memperhatikan Taehyung yang berjalan ke arahnya, bergerak melepaskan ikatannya dan membantunya berdiri.

Segera, Jimin berlari ke arah pintu di pojok ruangan dan segera menuntaskan hasratnya di sana. Sedang Taehyung hanya menggeleng sambil bergumam, "Yoongi hyung kejam sekali mengikatnya begitu."

Tolong ingatkan Taehyung tentang siapa yang menyerangnya menggunakan senjata tajam malam itu.

Taehyung memanggil beberapa bodyguard Yoongi agar masuk ke dalam kamarnya, berjaga-jaga jika Jimin berulah lagi.

Jimin keluar dengan wajah yang lebih santai. Dia berjalan dan duduk di ranjang Yoongi, lalu menatap Taehyung yang berdiri di hadapannya dengan raut wajah polos. Dia memiringkan sedikit kepalanya saat melihat Taehyung hanya memandanginya dengan raut yang sulit diartikan.

"Kau ingi menginterogasiku, kan? Ayo cepat lakukan." Ucapnya.

Taehyung mendatarkan ekspresinya, lalu mengangguk. "Kuharap kau menjawabnya dengan jujur, karena kau tahu kan, selalu ada hukuman untuk mereka yang tidak jujur. Dan berhenti berakting seakan kau adalah bocah polos yang tidak berdosa."

Jimin mendengus mendengar kalimat panjang milik Taehyung. Berakting sebagai bocah polos? Hey, kenapa Taehyung sulit sekali mengatakan kalau dia itu imut? Kenapa kata gantinya menyakitkan sekali.

"Pertama, siapa nama aslimu?"

"Aku Park Jimin."

"Darimana asalmu?"

"Busan."

"Nama orangtua?"

Jimin diam sebentar. "Aku tidak tahu."

"Oh, maaf." Taehyung menjeda, kemudian dia bertanya lagi, "Apa sebenarnya motifmu menghancurkan kota? Maksudku mencuri, ugal-ugalan, apa tujuanmu?"

"Tujuanku? Tidak ada."

"Aku tahu kau berbohong, Park Jimin."

Jimin menghela napasnya. Taehyung itu sama seperti Yoongi. Sama-sama tampan dan menyebalkan. Tunggu, apa? Tampan? Huh, mungkin Jimin sedang stress sekarang. Parah sekali efeknya, sampai menganggap dua makhluk itu tampan.

"Dengar ya, pak polisi. Aku melakukan apa yang aku suka, dan tujuanku hanyalah bersenang-senang!"

"Apa kau begitu bodoh, Jimin? Pertama kau bilang tujuanmu tidak ada, sekarang tujuanmu bersenang-senang."

Sebuah suara berat menyahut dengan cepat sebelum Taehyung sempat membalas ucapan Jimin. Oh, itu Yoongi, dengan seragam kerjanya yang rapi, mata tajam yang seakan menelanjangi Jimin, serta ucapan berbisa yang begitu menyakiti hati Jimin. Oh, kenapa hati seorang Park Jimin menjadi selemah ini?

Jimin memutar bola matanya, berpura-pura jengah untuk menutupi kekesalannya. "Mau aku menjawab apa, itu terserahku, sialan."

Dan suara pukulan terdengar. Taehyung dan Jimin berjengit kaget. Taehyung yang kaget melihat Yoongi memukul Jimin, dan Jimin yang terkejut saat tinjuan itu mendarat mulus di pipinya.

"Taehyung, kau bisa keluar sekarang. Aku yang akan mengurus ini."

Tanpa berkata lagi, Taehyung meninggalkan kamar itu dengan cepat. Dia tahu betul bagaimana Yoongi jika sedang marah. Berbanding terbalik dengan Jimin yang mengharapkan agar Taehyung tidak pergi. Setidaknya walaupun menyebalkan, Taehyung tidak kasar seperti Yoongi.

"Bagaimana kau bisa bebas?"

Jimin terdiam, kemudian buru-buru menjawab saat mendengar napas Yoongi memberat. "Aku... tadi aku ingin buang air."

"Buka pakaianmu dan berbaring, sekarang." Mata sipit Jimin membulat. Apa katanya? Buka pakaian?

"Kau gila ya?! Aku tidak mau!"

"Jimin-ssi, jangan sampai aku berbuat kasar."

"Memangnya kau pernah memperlakukanku dengan lembut?!"

Yoongi menggeram, "Itu karena kau selalu membangkang! Lakukan sekarang!"

Oh tolong, Jimin ingin menangis. Apalagi ini? Sudah dipukuli, disetrum, dan sekarang? Apa Yoongi ingin melakukan pelecehan seksual padanya? Walaupun Jimin seorang kriminal, dia juga harus diperlakukan seperti manusia!

Jimin melepas kausnya kasar, lalu membantingkan tubuhnya pada ranjang dengan posisi telungkup. Dia memejamkan matanya, berusaha menguatkan hatinya saat Yoongi kembali mengikat tangannya.

Dia meringis sedikit saat Yoongi mengikatnya terlalu kencang. Dia kira, Yoongi hanya akan mengikat pergelangan tangannya, nyatanya tidak. Dia mengikat lengan atas Jimin, juga lutut dan pergelangan kakinya yang masih terbalut celana jeans.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku tidak menyuruhmu bicara."

Jimin kembali diam. Mengintip sedikit, ingin tahu apa yang sedang Yoongi lakukan pada tubuhnya. Tapi dilihatnya Yoongi yang sudah selesai dengan pekerjaannya, sedang mengambil sesuatu di dalam laci nakas.

Matanya membulat melihat apa yang dibawa Yoongi ke hadapannya. Sebuah vibrator dan gag ball besar berwarna merah. Tunggu! Jimin tidak seharusnya diperlakukan begini!

"Yah! Mau apa kau?!"

"Aku tidak suka kau berhubungan dengan orang selain aku. Dan itu termasuk Taehyung. Jadi terima hukumanmu."

Tanpa pelumas, tanpa lube, atau pelicin lainnya, Yoongi dengan kejam menarik celana Jimin dan memasukkan paksa vibrator itu pada lubang Jimin.

Jimin menjerit merasakan lubang keringnya di masuki benda secara paksa, rasanya pasti sakit sekali. Dia berusaha menendang Yoongi di belakannya, tapi Yoongi terlalu pintar untuk dapat dilukai.

"Hentikan! Hentikan! Ini sakit!"

Yoongi hanya tertawa. "Sakit? Bagaimana dengan orang-orang tidak bersalah yang kau tembak dengan peluru itu? Apa itu tidak sakit?"

"Kumohon, Yoongi. Sungguh, maafkan aku..."

Jimin meringis perih. Wajahnya memerah, dengan dahinya yang berkeringat sangat banyak. Dia menggeliatkan tubuhnya, berusaha menyingkirkan apapun yang menimbulkan rasa sakit di tubuhnya.

Yoongi tertawa lagi, sungguh pemandangan yang mengasyikkan saat melihat seorang kriminal mendapatkan hukuman atas perbuatannya.

"Yoongi, Yoongi maafkan aku... tolong, ini sakit sekali."

Tapi Yoongi tidak mau peduli. Dia mengangkat bahunya, lalu berjalan menuju sofa di dekat pintu. Duduk sambil menonton Jimin yang tengah menggeliatkan tubuhnya sambil terus memohon pada Yoongi untuk menghentikan itu.

"Nggghh..."

Yoongi menyeringai senang. Setelah sekian lama dia menunggu, akhirnya Jimin mendesah juga. Dia semakin penasaran apa yang akan dilakukan Jimin selanjutnya. Jadi dia hanya diam pada posisinya.

"Jimin?"

"Yoongi... aku mohon..."

"Panggil aku dengan 'Sir' kau bocah nakal."

"Sir, kumohon hentikan ini. Aku janji akan jadi baik, aku janji."

Jimin meringis diantara perkataannya. Vibrator itu mengorek masuk ke dalam lubang hangat Jimin dengan lincah. Jimin merasa geli, perih, sekaligus frustasi karena benda itu hanya menyentuh titik sensitifnya sekali saja.

Yoongi tersenyum senang. Merasa Jimin menjadi begitu penurut padanya. Oh haruskah Yoongi memasukkan vibrator pada lubang sialan itu setiap saat agar Jimin sepatuh ini padanya?

Dia berjalan mendekati Jimin yang tersiksa sendirian. Mengelus pipi tembam itu lalu berbisik di telinganya. "Apa yang kau inginkan, Jimin?"

"Nnhh... a-aku... aku... tidak tahu?"

Yoongi mengelus paha telanjang Jimin dengan sensual. "Apa kau suka ini?"

Jimin semakin menggeliat resah. Menggigit bibirnya agar suara desahan itu tidak keluar lagi dari mulutnya yang lancang.

"Bagaimana dengan ini?" Yoongi bergerak mencium bibir penuh itu dengan lambat. Berusaha memancing Jimin ikut dalam permainan basahnya. Membelit lidah Jimin, kemudian menjilati bibirnya.

"Kau suka ini?" Tanya Yoongi dengan wajah yang hanya berjarak 5 cm dari wajah Jimin. Mengecup bibirnya sekali, kemudian berkembang menjadi kecupan yang 'berkali-kali'.

"Mmhh..."

"Aku tidak suka diabaikan, Jimin. Jawab aku..."

"Nggh! Aku suka! Aku suka! Yoongi tolong sentuh aku."

Dan Yoongi tertawa puas setelahnya. Menyentuh Jimin? Oh ini bukan saat yang tepat sebenarnya. Tapi Yoongi juga bukan tipe orang yang tidak bersyukur hingga mengabaikan kenikmatan seperti ini.

"Aku akan menyentuhmu sekarang, you bad dog."

.

.


.

.

"Jeon Jungkook?"

Jungkook hanya menoleh saat namanya dipanggil oleh seorang polisi. Tidak berniat menjawab. Moodnya benar-benar hancur kali ini. Bisa-bisanya dia dan Jimin tertangkap oleh polisi-polisi sialan itu. Dan parahnya, ia terpisah dengan Jimin. Sungguh, walaupun Jimin sangat menjengkelkan, Jungkook masih menyayanginya.

Tolong abaikan kalimat terakhir. Jungkook bergidik sendiri memikirkannya.

Polisi itu masuk ke dalam sel Jungkook lalu berdiri tegap di hadapannya. "Mari ikut saya sebentar, anda akan di interogasi."

Jungkook menatapnya malas saat polisi itu memasangkan borgol di kedua tangannya. Dia berjalan malas mengikuti polisi itu menuju ruangan khusus. Duduk di tempat yang sudah disediakan, lalu menyandar pada kursi.

"Kau Jeon Jungkook?"

"Bukan." Jawabnya datar.

"Jangan bodohi aku ya, kau keparat kecil."

"Bukannya kau memang bodoh? Sudah tahu aku ini Jungkook. Kenapa masih bertanya?"

Polisi yang ternyata Taehyung itu menggeram sedikit. Jungkook dan Jimin sama-sama menyebalkan, juga merepotkan. Dia mendekati Jungkook yang duduk sanfai lalu menarik kerah baju Jungkook.

"Kau jangan berani macam-macam ya padaku." Ancam Taehyung. Tapi Jungkook hanya menyeringai serta tatapan meremehkan.

"Memangnya kenapa kalau aku macam-macam? Kau mau membunuhku? Huh, untuk menangkapku saja kau harus meminta bantuan orang lain. Untuk membunuhku, kurasa kau harus bangun dari mimpimu itu."

Taehyung menarik kembali perkataannya. Jeon. Jungkook. Jauh. Lebih. Menyebalkan. Daripada. Park. Jimin.

Taehyung benar-benar akan meledak jika terus berbicara dengan bocah bergigi kelinci itu. Dia melepaskan cengkramannya, lalu menghela napas. "Baiklah, kita langsung saja."

Sebelum Jungkook ingin menyela dengan perkataan pedasnya, Taehyung buru-buru melanjutkan perkataanya. "Nama aslimu?"

Jungkook menatapnya datar. "Baiklah, ganti pertanyaan. Berapa usiamu sekarang?"

"19."

"Kau berasal darimana?" Jungkook tidak menjawab, masih dengan ekspresi datarnya. Beberapa saat, kemudian dia melanjutkan, "Kau polisi kan? Dan aku buronanmu. Kenapa masih bertanya pertanyaan yang tidak penting? Jika kau ingin tahu, motifku melakukan ini karena aku menyukainya. Aku tidak punya orangtua, aku berasal dari Busan. Jika sudah selesai, aku pergi."

"Yah! Kenapa kau tidak sopan sekali, gigi kelinci?!"

"Untuk apa sopan kepada makhluk idiot sepertimu?!"

"Jeon Jungkook! Kembali ke dalam sel mu!"

"Aku sudah akan melakukannya daritadi." Jungkook menggumam, berlalu begitu saja dari hadapan Taehyung yang menganga.

Taehyung akan gila jika dia harus selalu berurusan dengan Jeon Jungkook!

.

.

.


.

TBC :v

.

.

Cuap cuap '-'

Suka nggak sama chap ini? XD duh malu banget sumpah, fic yoonmin pertama yang aku post tapi udah bdsm-an aja xD Maaf ya kalo Vkook/taekook nya sedikit '-' merrka cuma slight aja xD

Big big thanks to my beloved readers = sugasugababy, shienya, yongchan, Jebal Monster, AzaleARMY957, cluekey6800, SooieBabyUke, JiminVivi, Yikyuchan, dewiayukar, Key0w0, vkook naena, IoriNara, vchim, heol, Bang Tae69, Chika Meika, AllSoo, santikamillen, ParkJimin4Ever, Jun-yo, esazame, Guest, Chikaze Nekozawa, Tataechu, meganehood

Thanks banget buat yang udah baca + review/fav/follow ^^

Ga nyangka dapet respon positif, hiks :""


Mind To Review?