COLOUR

Chapter 2

Hiruna memasukkan suapan terakhir sup jagung ke dalam mulutnya. Salah satu tangan putih susunya meraih gelas berisi air minum. Sebelum mendekatkan bibir gelas itu ke mulutnya, Hiruna menangkap bayangan mata biru safir kembarnya yang terpantul di gelas kaca itu. Hiruna menghela nafas lalu secepatnya meneguk habis air itu.

"Jangan buru-buru, Hiruna." Saran Hinata yang sedari tadi memperhatikan putrinya.

"Maaf,bu…." Hiruna menundukkan kepalanya. Hinata tersenyum prihatin. Wanita ini tahu persis apa yang dipikirkan Hiruna."Nah, sekarang bawa piringmu ke belakang, Hiruna." Ujar Hinata lembut. Hiruna mendorong kursi sambil memegang piring makannya dengan hati-hati.

"Nona Hiruna… biar kami saja.." seorang maid hendak menghentikan langkah Hiruna namun melihat isyarat mata Hinata, maid itu membiarkan Hiruna. Sambil membawa piringnya, Hiruna menundukkan kepala. Dan dia mengangkat kepalanya cepat saat melihat pantulan matanya di sendok.

Setelah menaruh piring makannya, Hiruna bergabung dengan ibunya di halaman depan. "Selamat pagi, kak Shizune." Sapa Hiruna sambil menundukkan kepalanya pada Kato Shizune, pengasuhnya.

"Selamat pagi juga, nona Hiruna." Shizune mengangguk. "Silahkan naik,nona." Shizune menyilahkan Hiruna untuk masuk ke dalam mobil. Dari dalam mobil, Hinata tersenyum lembut pada Hiruna.

"Terima kasih, kak Shizune." Hiruna lalu memasuki mobil dengan pelan.

Setelah memastikan kedua majikannya sudah duduk dengan nyaman, Shizune segera duduk di samping Kakashi, di depan. Menyadari Shizune sudah duduk, Kakashi menoleh ke cermin di atasnya.

"Maaf nyonya Hinata, nona Hiruna. Apa anda sudah ingin berangkat sekarang?" Tanya Kakashi sesopan mungkin.

"Tentu saja,Kakashi." Jawab Hinata yang dibarengi anggukan Hiruna.

Mendengar persetujuan majikannya, Kakashi menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan mobil keluar halaman depan kediaman Namikaze. Sampai di gerbang, dua orang pemuda membuka gerbang. Hinata dan Hiruna menurunkan kaca mobil bersamaan.

"Terimakasih, Izumo." Kata Hinata lembut yang dibalas bungkukan Izumo.

"Terimakasih, kak Kotetsu." Ujar Hiruna. "Kembali, nona." Balas Kotetsu.

BMW mewah keluarga Namikaze itu lalu keluar dari gerbang dan melaju mulus. Hiruna menyandarkan kepalanya di jok mobil yang dominan berwarna merah bata. Angin lembut berebut membelai rambut kuning terang Hiruna yang dikuncir satu. Hiruna lalu melayangkan pandangannya ke seluruh jalanan.

"Ibu,memangnya kita mau kemana?" Tanya Hiruna.

"Mansion Hyuga,sayang." Jawab Hinata lembut. Hiruna mengangguk,tanda mengerti. Gadis itu lalu memejamkan matanya. Entah kenapa, dia merasa dibawa ke masa lalu..

Flashback: ON

Hiruna kecil duduk merajuk di atas kasurnya. Pipi tembem miliknya terlihat lucu saat dia menggerutu. "Ayo,nona. Nona Hiyomi sudah menunggu anda." Shizune mengalihkan pandangannya pada seorang gadis kecil seumuran Hiruna yang berdiri di belakangnya.

"Hiruuu…. Ayolah…" Hiyo menarik-narik seprai Hiruna. Hiruna menggeleng cepat, lalu membenamkan kepalanya ke bantal. "Tidak!" serunya.

"Shizune,ada apa? Hanabi bilang ada yang tidak beres disini." Hinata yang baru saja pulang dari salah satu kliniknya masuk. Shizune menunduk.

"I-itu, nyonya. Nona Hiruna tidak mau turun…" ujar Shizune takut. Hinata tersenyum,lalu mendekati tempat tidur Hiruna setelah menepuk bahu Shizune pelan. Shizune yang paham maksud majikannya itu lalu mengangguk dan menggandeng Hiyomi keluar.

"Hiru,sayang… ada apa?" bujuk Hinata. Tangannya meraih bantal yang menutupi wajah Hiruna.

"Ibu… ini hari ulang tahun Hiru,kan?" bisik Hiruna.

"Ya,sayang. Ada apa? Banyak orang yang menunggumu di luar. Ada keluarga Uchiha, Hyuga, Inuzuka, dan juga Nara." Hinata membelai rambut Hiruna pelan.

"Apa ada ayah?" Tanya Hiruna lirih. Hinata kaget, namun segera pulih. Wanita itu tersenyum prihatin yang diartikan Hiruna kecil sebagai senyuman terluka.

"Hiru, ayah tidak bisa datang…. Ibu mohon,Hiru. Ayah tidak bisa bertemu kita…" Hinata berusaha memberi pengertian pada putrinya.

"Kenapa,bu? Kenapa ayah tidak datang? Waktu Hiru berulang tahun yang ketiga juga, ayah tidak datang. Sebenarnya ayah dimana,bu? Kenapa Hiru tidak bisa bertemu ayah? Padahal Hiru sudah empat tahun… Apa ayah tidak sayang Hiru?"

Hinata tercekat. Iris lavender kelabunya berkaca-kaca. Kedua pundaknya bergetar. Hinata lalu memeluk Hiruna erat. Dengan suara bergetar, dia berbicara pada Hiruna.

"Hi-hiruu…. A-ayah tidak bisa datang.. Ibu mohon,Hiru… Ayah pasti akan menemuimu suatu saat nanti… Ibu mohon,sayang…." Hiruna yang kaget melihat ibunya menangis langsung balas memeluk Hinata.

"Baik,bu. Hiru mengerti… Ibu jangan menangis…" parau Hiruna. Hinata langsung melepaskan dekapannya dan tersenyum sambil menghapus air matanya.

"Sekarang, Hiru berpakaian,ya?" Hinata kembali tersenyum. Hiruna mengangguk pelan. Mata biru safirnya menangkap pandangan Hinata yang diartikannya sebagai pandangan terluka. Pikiran Hiruna segera menyatakan kalau ayahnya sudah sangat jahat meninggalkannya dan ibunya.

"Hiru janji, takkan menyebut ayah lagi, karena itu membuat ibu menangis. Dan kalau ibu menangis, Hiru juga sedih…" batin Hiruna.

Flashback: OFF

"Hiruna, kenapa melamun?" Tanya Hinata. Hiruna menggelengkan kepalanya cepat lalu tersenyum.

"Nah, jadi aku berencana memberi bonus pada kalian…" ujar Hinata.

"Maksud nyonya,kami?" Tanya Shizune. Hinata mengangguk. "Kenapa,nyonya?" Hinata tersenyum lalu mengalihkan pandangan pada Hiruna.

"Karena sudah menjaga Hiruna dengan baik dan mengajarkan Hiruna kata ganti yang sopan." Senyum Hinata.

"Apa maksud nyonya?" Kakashi tidak paham. Tidak biasanya majikannya bersikap misterius.

"I-itu, kak Kakashi. Kata 'enggan'" kata Hiruna malu. Kakashi dan Shizune ber-oh bersama, mengerti.

"Terima Kasih, nyonya." Kata mereka berdua. Hinata tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya pada Hiruna yang menatap kosong jalanan yang mereka lalui.

Hinata mengerti perasaan Hiruna yang merindukan ayahnya, namun menutupi perasaan itu dengan menyatakan bahwa dia membenci ayahnya. Jemari Hinata lalu terulur hendak mendekap Hiruna namun terhenti saat bahu Hiruna bergetar. Hiruna memejamkan matanya dan menghadap ke jendela untuk menyembunyikan air mata yang sudah dilihat Hinata. Hinata menghela nafas lalu menutup matanya perlahan.

"Kumohon, pulanglah…." Batinnya perlahan.

Beberapa saat kemudian, BMW keluarga Namikaze yang dikemudikan oleh Kakashi memasuki lingkungan keluarga Hyuga. Ko Hyuga yang melihat BMW biru khas Namikaze itu segera berdiri hendak membuka gerbang. Dengan cekatan, dibukanya gerbang putih berhias lambang Hyuga itu. Hinata tersenyum melihat rumah lamanya.

"Terimakasih,Ko." Kata Hinata yang dibalas tundukan Ko. BMW keluarga Namikaze itu berhenti di teras rumah. Hinata dan Hiruna turun, lalu memasuki rumah itu. Hinata dan Hiruna disambut beberapa maid. Seorang diantaranya mengantarkan mereka ke halaman belakang. Hiruna bisa melihat dengan jelas 4 orang anggota keluarga Hyuga yang bercengkrama.

"Hiru, ada apa?" Hinata memandang Hiruna yang menatap sepupunya, Hiyo, yang bercanda dengan Neji. Hinata lalu ikut melihat Hiyo. Wanita yang dulu menyandang marga Hyuga itu memeluk pundak Hiruna.

"Hiru baik-baik saja,kan?" tanyanya lembut. Hiruna tersadar lalu meraba keningnya. Dia lalu tersenyum simpul.

"Hiru baik,bu. Tidak kenapa-napa." Hinata hanya tertawa hambar. Masih merangkul Hiruna, dia berjalan ke arah Neji sekeluarga.

"Bu, apa ibu ada perlu?" Tanya Hiruna. Hinata lalu tersenyum penuh arti dan membelai pundak Hiruna.