Disclaimer: NarutoMasashi Kishimoto
Warning: typo(s), don't like don't read, OOC like always
Pairing: Sasuke & Sakura
.
.
.
.
Pada suatu hari di suatu pagi,
Tanpa alasan yang begitu jelas aku akan begitu merindukan mu,
Meminta takdir untuk merelakan mu kembali ke tempat ku.
Salahkah?
.
Chapter 1
.
Haruno Sakura menatap sosok dihadapannya dengan beberapa kedipan di mata gadis itu. Terkadang ia akan menutup mata dengan jangka yang sedikit lebih lama dari sebelumnya, dan membuka mereka kembali setelah cukup lama.
Bukan sebuah halusinasi. Raga dihadapannya merupakan sesuatu yang nyata. Sosok mungil dihadapannya benar-benar ada.
Bocah itu—dengan Rambut biru pekat yang semakin menggelap karena begitu tipisnya cahaya bulan. Wajah yang sedikit bulat menggemaskan. Dan pandangan yang begitu dalam nan tajam, seperti menahan segala emosi dan mengunci rapat pintu hatinya.
Benarkah semua anak yang ia temui memiliki pandangan seperti itu?
Pandangan mata yang mengatakan bahwa eksistensinya lah yang terkuat di dunia, namun pula terlihat rapuh.
Sakura tak dapat menahan dirinya sendiri untuk menghampiri anak kecil itu, dan menyelidiki arah penglihatannya yang terlihat menatap jauh—jauh ke masa lampau.
"Ehm—hai…" gadis itu menampakkan sebuah senyuman canggung. Perut nya terasa sedikit mulas menanti apapun jawaban yang akan ia terima. Gugup.
Bocah manis tampak terkejut dan menatap Sakura beberapa detik, seperti mengingat ingat, "Hn" akhirnya sebuah jawaban singkat keluar melalui bibir tipis anak itu.
"Adik… siapa nama mu?" Tanya gadis itu, mengungkapkan rasa penasaran yang kentara.
Anak kecil itu menatap Sakura dengan raut wajah yang tak dapat Sakura mengerti, "Uchiha Sasuke." jantung sang gadis sedikit bereaksi begitu mendengar nama bocah itu. Entah bagaimana, tampak nya dua patah nama yang anak itu ucapkan seperti pernah mengisolasi hidup nya, namun kapan tepat nya ia pun tak tahu.
Sakura mengangguk-angguk, masih menampilkan senyumannya, hanya saja kali ini lebih rileks. "Hm… Sasuke-kun, apa yang sedang kau lakukan disini, malam seperti ini? Apa orang tua mu tidak khawatir?" Sakura kembali melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Aku—tidak tahu…"
Jawaban anak yang bernama Sasuke itu mau tak mau membuat Sakura berusaha meyakinkan dirinya dua kali. Tidak mungkin, anak ini mungkin hanya iseng, batinnya. Namun, mengapa ekspresi anak itu kini terlihat begitu rapuh?
Seakan-akan jika tersenggol sedikit, ia akan langsung terjatuh dan pecah berkeping-keping.
Haruno Sakura tak tahu lagi apa-apa, begitu ia tersadar, buku-buku jarinya telah mengamit milik anak itu.
"Ikut saja dengan ku," seakan mengerti maksud pandangan penuh Tanya itu, Sakura menjawab.
.
Sasuke merasakan tarikan gadis itu semakin membawa nya menjauh dari tempat ia berdiri belum lama ini.
Jika tenaga seorang gadis seperti ini sudah mampu membuatnya terkulai, bagaimana pula jika ia harus dihadapkan dengan beberapa pasukan lelaki—yang tentunya tak seperti lelaki pada umumnya—saat ini.
Terkutuk lah tubuh menyebalkan ini. Tubuh bocah kecil yang begitu lemah ini.
Sasuke menatap gadis yang terus menarik pergelangan tangannya dengan pandangan sedikit kesal—untung saja ia mampu menyembunyikannya.
Namun begitu merasakan hawa kehadiran di sekitar mereka, Sasuke membeku di tempat. Sebelah tangan nya yang tak tergenggam oleh tangan Sakura mengepal kuat. Membuat gadis dihadapannya mengernyit bingung.
Pandangan mata Sasuke begitu mencurigai sesuatu yang seperti mengikuti perjalanan mereka berdua, "Sakura-chan!" panggil orang yang mencurigakan itu.
Sakura? Sakura…..
Tidak, tidak mungkin. Sasuke akui gadis ini memang sedikit—sangat mirip—dengan mantan kekasih nya. Tapi… mengapa bahkan nama mereka pun begitu tidak berbeda?
Atau mungkinkah…. Mungkinkah….
Mereka berdua merupakan kedua orang yang sama? Mungkinkah kematian seluruh keluarganya adalah sebuah perspektif mengerikan yang sebenarnya tak pernah terjadi?
Berbagai macam harapan menggeledah otak nya saat ini, meminta untuk diperhatikan, meminta tempat untuk memberantakkan, meminta nya untuk berpikir keras.
Sasuke menggeleng pelan. Tidak mungkin. Kalau pun ada yang pantas ia tuduh seperti itu, ialah dunia ini.
Lantas, siapa gadis ini? Siapa gadis yang tampak begitu familiar ini?
"Kau belum pulang, Sakura-chan? Hari sudah malam sekali…" lelaki mencurigakan itu membuahi pertanyaan pada Sakura dengan ekspresi khawatir.
"Belum Naruto, rencana nya aku ingin berbelanja, tapi sepertinya besok saja," Sakura menjawab pertanyaan pemuda berambut jabrik itu dengan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, tak lupa dengan senyum riang yang selalu terpampang di wajahnya.
Pemuda yang Sasuke ketahui bernama Naruto itu menatap nya dengan tatapan bingung, "oh iya, siapa anak ini?" Naruto kembali bertanya dengan menunjuk tubuh kecil Sasuke menggunakan jari telunjuk nya.
"Ah, umm, namanya Sasuke. Imut sekali bukan? Hehe," Sakura menjelaskan. Lengan gadis itu membawa Sasuke menuju dadanya—sebuah pelukan erat.
Apa-apaan gadis ini?! Sasuke membatin.
Naruto menatapi Sasuke dari ujung kaki hingga ujung rambutnya dengan pandangan begitu mengintimidasi, namun terakhir ia menghadiahkan senyum tulus pada Sasuke.
"Salam kenal Sasuke!" sahut Naruto kemudian, jari jemarinya bergulat di atas kepala Sasuke-mengacak rambut Sasuke dengan sedikit cepat. Mau tak mau Sasuke melemparkan tatapan tajam nya pada pemuda itu.
"Em… Naruto, aku akan membawa Sasuke-kun pulang dulu ke rumah, kau tidak keberatan kan?" Sakura menatap Naruto dengan pandangan tidak enak.
"Sakura-chan… jangan bilang kalau anak ini saudara mu? Kalian berdua begitu tidak mirip," ujar Naruto terkejut. Tubuh nya sedikit terlonjak.
Sakura kaget mendengar pertanyaan Naruto dan tertawa terbahak, "baka, tentu bukan, Naruto. Ada sedikit masalah makanya aku membawanya ke rumah ku!"
"Oh, ya… baiklah, perlu ku antar?" tawar Naruto.
Sakura menggelengkan kepala nya pelan, "tidak Naruto, tidak apa, rumah ku hanya tinggal beberapa langkah saja dari sini," tolak nya sopan.
"Yakin? Hari sudah gelap sekali, akan sangat berbahaya bagimu."
Sakura tergelak, "tak apa, lagipula kan ada anak ini," dan Sakura menyipitkan sebelah matanya pada Sasuke, bersamaan dengan senyuman manis di bibirnya.
Sasuke menatap bosan Sakura. hmph, percuma, kau malah akan bertambah kesusahan dengan adanya aku disekitar mu, pikir Sasuke.
"Lagipula kau sendiri tahu bahwa aku tak selemah itu!"
Setelah beberapa kali penawaran beserta tolakan halus—serta tak lupa wajah datar Sasuke—Naruto pun akhirnya merelakan Sakura yang memilih untuk pergi seorang diri—atau mungkin lebih tepat bila disebut pergi bersama seorang anak kecil disebelahnya—dengan sedikit tidak rela.
Sakura melambaikan tangannya dengan cepat ke arah Naruto, sampai lelaki itu benar-benar menghilang dari penglihatan mereka berdua.
"Nah, ayo kita pulang, Sasuke-kun!" Sakura menarik lengan Sasuke dengan tidak terlalu keras setelah menurunkan tubuh anak itu untuk berpijak.
Sasuke tak membalas apa-apa. Ia hanya menatap Sakura yang terus berjalan dengan nyanyian-nyanyian kecil sepanjang langkahnya.
Pulang,
Lucu sekali, bahkan tempat ia berpulang sesungguhnya sudah tak ada lagi di dunia ini, atau dimana pun itu.
.
"Sasuke-kun, baju gantinya aku letakkan di atas kasur mu, nanti setelah keluar langsung ganti saja!" sahut Sakura, memposisikan dirinya di dekat pintu masuk kamar mandi tempat Sasuke berada saat ini, "sehabis ganti baju tidurlah, aku juga akan tidur sebentar lagi."
"Ya," jawab Sasuke sedikit lebih keras jika dibandingkan dengan cara ia berbicara sebelumnya.
Tak lama, Sasuke dapat mendengarkan suara derap langkah Sakura yang semakin menjauh, dan ia menghela napas nya berat.
Bagus sekali, kekuatan Sasuke semakin lama semakin pulih, ia akui ia harus berterimakasih kepada gadis itu.
Sekarang yang jadi pertanyaan, dimana pelayan-pelayan nya? Seingat Sasuke, para pelayan nya pergi tak lama sesudah mereka tiba di dunia manusia. Dengan tujuan pergi menyelidiki keberadaan orang itu dan pasukan milik nya.
Tapi entahlah, Sasuke cukup ragu dengan tujuan yang mereka utarakan.
Apalagi jika di dalam kelompok itu terdapat seorang wanita yang bernama Karin.
Oh, kini Sasuke merasa cukup yakin para pelayan nya pergi meninggalkannya dan bersenang-senang di dunia manusia ini—
—terlebih mereka tak kunjung kembali ke tempat Sasuke berada sampai saat ini juga.
Sasuke menggeram sekaligus mengacak rambut nya yang kini basah oleh air hangat. Setelah berpikir beberapa kali, ia memilih untuk beristirahat saja malam ini. Tubuh nya sudah terlampau letih, sedang pelayan nya pergi meninggalkan tuan mereka sendiri dengan cara yang tidak etis.
Biarlah acara mencari pelayan nya dilakukan besok, atau paling tidak, sampai kekuatannya kembali sehingga cukup untuk menyihir pelayan-pelayan nya.
Sasuke menyambar handuk yang kini tengah berada di pinggiran bath-tub tempat ia membersihkan diri belum lama ini. Menurutnya acara mandi ini lebih baik dihentikan dulu untuk sementara, jika ia tidak ingin berakhir benar-benar menyihir pelayan nya menjadi sesuatu yang aneh—dikarenakan pikiran-pikiran negatif terus menyerang otak nya ketika tubuh kecil nya itu di manjakan oleh pancuran air hangat.
Sasuke mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu ia berhasil menapaki kamar yang telah Sakura ceritakan. Dan benar saja, baju-baju yang gadis itu maksudkan memang sudah bertumpuk di atas kasur beralaskan sprei coklat muda yang cukup besar untuk ditempati tubuh kecilnya.
Sasuke memasangkan baju itu untuk melampisi tubuh kecilnya saat ini. Berikut juga celana hitam selutut yang ditinggalkan gadis itu. Sasuke jadi sedikit penasaran, milik siapa baju ini. Tapi detik berikutnya begitu melihat beberapa corakan motif feminin di permukaan kemeja putih yang ia kenakan, Sasuke langsung yakin, bahwa baju ini pasti milik gadis itu.
Sebenarnya, Sasuke bisa saja menggunakan sihir untuk menciptakan baju yang jauh lebih bagus. Namun merasakan pengorbanan sang gadis, ia rasa ini bukanlah suatu masalah besar.
Apalagi jika sesuatu itu didapatkan secara gratisan dan tak perlu lagi mengeluarkan kekuatannya yang memang dalam masa-masa sekarat.
Sasuke kembali mengingat ingat tentang gadis yang baru ditemuinya hari ini. Wajah gadis itu, begitu mirip, tidak, bahkan ia tak dapat menemukan perbedaan pada raga gadis itu dan kekasihnya dahulu. Kalaupun ada yang bisa ia bedakan, itu hanya sifat pada diri kedua orang yang bersangkutan.
Gadis yang berada di dunia manusia ini jauh lebih cerewet dibanding gadis nya—yang ia cintai sepenuh hati. Perempuan yang hampir ia sanding itu jauh lebih anggun, dan lebih dapat menahan pergolakan emosinya, hampir sama seperti Sasuke—hanya saja, biasanya tetap gadis itulah yang memulai percakapan. Mereka seperti dapat saling mengerti satu sama lain, Sasuke merasa ia tak perlu menceritakan apapun lagi pada wanitanya. Ia cukup merengkuh gadis itu, dan gadis itu hanya diam, berikut membalas rengkuhan Sasuke dan membelai rambutnya yang mencuat tidak biasa.
Bahkan tanpa begitu banyak bertitah, keduanya dapat saling mengerti apa maksud yang ingin di sampaikan.
Matanya terasa hangat, ia lelah. Takdir menelan seluruh kebahagiaannya hanya dalam sekali terkaman. Lalu menusuk nya hingga mati.
Dan begitu Sasuke merasa begitu merindukan gadis nya, merengkuh tubuh hangat yang selalu membuatnya nyaman, cahaya di kamar itu terasa semakin terang.
Tidak, Sasuke yakin bahwa cahaya itu tak akan mungkin berasal dari sinar lampu, cahaya lampu tak akan mampu bersinar seterang ini. Sasuke mempersiapkan tubuhnya, mempersiapkan apapun hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Tapi, ternyata kekhawatirannya tak beralasan.
Karena kini pelayan-pelayan nya muncul bersamaan dengan menghilang nya cahaya itu.
Sekarang ia baru menyadari, ternyata barusan itu adalah mantra pemindahan yang dipraktikkan oleh para pelayan nya—mantra yang dapat men-transisikan berbagai jenama ataupun perseorangan dengan cepat.
Sasuke merasa pelayan nya ini harus bersyukur, karena mereka muncul sebelum Sasuke dapat mengerahkan seluruh kemampuan pemuda itu, dan mengubah mereka menjadi makhluk-makhluk yang tak lagi dapat di diagnosis jenisnya.
Kakashi selaku pimpinan bergerak maju, menyampaikan salam permintaan maaf dari mereka kepada Sasuke, "maafkan kami karena telah terlambat menemukan anda, Sasuke-sama," ujar Kakashi sembari menundukkan punggung nya sopan.
Sasuke dapat melihat, kedua pelayan nya yang lain ikut menundukkan punggung nya, hanya saja mereka berada selangkah dibelakang Kakashi.
Sasuke akui ia cukup merasa lega ketika dirinya kembali menemukan keberadaan para pelayan nya, namun ia lebih memilih menghela napas bosan, "apa saja yang kalian lakukan diluar sana setelah memaksaku mengubah wujud menjadi sesuatu yang menyedihkan seperti ini, dan membuatku menghabiskan seluruh sisa kekuatan ku?" ujarnya panjang lebar. Sasuke akui, dirinya sama sekali tak berniat bertanya. Tutur katanya yang cukup sinis dan panjang seolah menegaskan bahwa ia kini cukup merasa kesal kepada orang-orang dihadapannya. Tapi ia tak menyesal, ia lega karena lidah nya memilih kosa kata dengan begitu akurat.
Hozuki Suigetsu memilih untuk menjawab, "ada seseorang yang kelihatannya sangat tertarik pada dunia manusia," detik berikutnya Suigetsu merasakan tusukan cukup tajam pada tulang rusuknya, dan ia menatap Karin dengan pandangan tidak suka—Meminta Karin untuk segera menarik sikut nya. Karin yang tidak mau terima pun hanya mencibir menatap pemuda itu. Dan pertengkaran mereka pun berlanjut—
—namun terhenti begitu keduanya merasakan aura mencekam yang mereka ketahui pasti berasal dari mana.
Hatake Kakashi terkikik geli dibalik maskernya.
Sasuke kembali mendesah, namun kali ini untuk sekedar memunculkan kesabarannya, yang kini terlihat sudah hampir menghilang di ubun-ubun, "hm, aku maafkan untuk kali ini saja. Sekarang ceritakan apa saja yang kalian dapatkan."
"Kami yakin, sejauh ini, pergerakan kita tak terbaca sama sekali oleh mereka, Sasuke-sama," Kakashi kembali mengangkat bicara.
"Hn, baguslah," respon Sasuke datar.
"Tapi ada satu masalah lagi, Sasuke-sama," ujar Kakashi. Seolah ingin menghapuskan kelegaan yang baru saja terpancarkan oleh tuannya.
Sasuke menatap Kakashi tajam, bersiap mendengarkan apapun saja yang mungkin terucap. Terkadang mata kelamnya yang tegas walaupun tetap saja terlihat sangat imut itu menatap Kakashi-Karin-Suigetsu- bergantian.
Samar-samar Kakashi meneguk ludah nya,
"Ternyata perjalanan kita saat itu berlalu selama lebih dari seratus tahun, Sasuke-sama…"
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N : Moshi-moshi minna-san! Anna desu,, fufu,, akhirnya setelah kurang lebih satu tahun berlalu, kami berdua (Anna dan Clarisse) benar-benar berhasil mewujudkan keinginan kami buat collab bersama! Dan yah, saya tahu ending nya menggantung, sama kayak prologue sbelumnya,,, gomennasai.
Karena tanpa sadar suka aja di jadiin kayak gini,,, kekeke :D
.
Terimakasih yang udah review chapter kemarin, dan ini balasan buat yang gak login :
Scarlet24 : I will wait for next chapter!
Author : thank you! Dan ini chapter lanjutannya! XD
.
Bila ada yang ingin mengkritik, memberi masukan, bertanya, dan apapun itu, bersediakah mengetik di kotak review? ._.
Terimakasih banyak,
Salam,
Anna Clover
Word Count : 2049 (story)
