Chapter 2


"Ah, Paman..." panggil Taira.

"Hm?" Daiki menanggapi panggilannya tanpa sedikitpun matanya beralih dari kertas file yang dibawanya dari ruang kerja.

"Aku tidur di mana? Dari tadi Paman sama sekali tidak memberitahu tempatku untuk tidur." ujar Taira sembari melirik lorong panjang yang sedikit temaram di rumah Daiki itu.

"Ah, iya aku lupa. Ruangan tempat kau tidur ada di pintu kedua dari sini. Pintunya berada di sebelah kirimu." Daiki memijat pangkal hidungnya kemudian menggelengkan kepalanya pelan.

"Kalau Paman lelah, sebaiknya dilanjut besok pagi saja. Dari pada tidak konsentrasi seperti itu." komentar Taira melihat betapa lelahnya paman yang telah memberinya tumpangan itu.

"Hah, andai aku bisa beristirahat sebelum menyelesaikan semua ini..." keluh Daiki sambil menyandarkan punggung ke sofa.

"Memangnya kalau tidak diselesaikan kenapa, Paman?" tanya Taira lugu.

"Kalau tidak kutemukan solusinya, para pesaingku akan mencuri ideku ini dan semua usahaku sia-sia belaka. Ah, anak kecil mana paham..." Daiki mendengus kemudian kembali menekuni tiap lembar yang berada di dalam file hijau terang miliknya.

Taira memberengut.

"Kau meremehkan anak kecil, Paman? Kalau kau takut datamu ditiru, cukup buat analisis palsu dan taruh di meja kerjamu yang ada di laboratorium. Yang asli di rumah. Simpel kan?"

Hening.

"Hoi, Bocah. Kau pintar juga rupanya!" Daiki menatap Taira tidak percaya.

"Ck, terserah kau sajalah, Paman. Omong-omong, aku boleh meminjam pakaianmu yang kekecilan tidak? Aku tidak mungkin memakai ini terus menerus kan?" Taira memandangi pakaiannya yang sangat lusuh itu.

"Iya iya. Tidak perlu pinjam. Buatmu saja juga tidak apa. Toh tidak mungkin aku memakainya lagi." Daiki menaruh filenya di atas meja dan berjalan memasuki kamarnya yang berada di pintu pertama sebelah kanan lorong. Sementara Taira tak beranjak dari tempatnya berdiri. Menunggu Daiki membawakannya baju ganti.

"Nih. Sudah kuambilkan beberapa. Jadi kau tidak perlu meminta lagi padaku." Daiki menyerahkan tas berukuran sedang kepada Taira yang kesusahan membawanya.

"Errrghhh, memangnya ada berapa baju, Paman? Kok berat sekali?!"

"Lima baju dan lima celana. Ah, dan dua handuk." terang Daiki.

"Ah, banyak juga. Terima kasih, Paman!" tersenyum senang sambil menahan beban berat, Taiga berjalan perlahan ke kamar yang diinstruksikan Daiki padanya tadi.

"Oh ya! Kamar mandi di sebelah kamarku!"

"Roger, Captain!" sahut Taira.

..

Sayup-sayup kicauan burung menyapa pendengaran Daiki yang mulai lepas dari dunia mimpinya bersama nona cantik nan seksi idolanya, Horikita Mai-chan. Merenggangkan badan di atas kasur empuknya, Daiki hendak kembali berlayar dalam mimpi kalau saja aroma menggoda itu tidak menerpa indera penciumannya.

"Hoam...bau menggoda apa pagi-pagi begini?"

"Ah, mungkin tetangga sebelah sedang memasak." Daiki melirik jendelanya yang masih tertutup rapat.

"Oh, berarti dari dalam rumah- SIAPA YANG BERADA DI DALAM RUMAHKU PAGI-PAGI BEGINI?!" teriak Daiki begitu tersadar.

"Ada apa, Paman? Kenapa siang-siang berisik sekali?" tanya Taira yang sedikit terengah karena berlari.

"K-KAU...Oh!" Taira sedikit berjengit ngeri karena volume suara Daiki yang tidak ada kontrolnya itu.

"Kau kenapa sih, Paman?"

"Tidak apa. Aku hanya mimpi." kilah Daiki yang baru saja ingat bahwa ia memberikan tumpangan pada seorang gadis kecil semalam.

"Huh, ada-ada saja. Oh iya, Paman…sudah kubuatkan kopi dan sarapan-ah, mungkin harusnya disebut makan siang sih." Taira menggaruk pipinya sambil tersenyum kikuk.

Daiki hanya mengangguk sambil memandangi Taira yang baju lengan panjangnya digulung hingga siku yang bahkan baju tersebut masih terlalu kebesaran dipakai oleh Taira hingga menutupi lututnya yang polos sehingga hanya kaki mulus putihnya yang terlihat. Sementara apron biru polos menutupi baju berwarna putih itu yang entah kenapa membuat nafsu Daiki sedikit bergejolak.

'Ingat Daiki. Dia hanya bocah!'

"Ah, terima kasih." Taira mengangguk kemudian keluar dari kamar Daiki.

Daiki kemudian menghembuskan napas yang entah sejak kapan ditahannya kemudian memijat keningnya yang berdenyut karena pening.

"Ada apa dengan otakku? Kenapa jadi berhalusinasi macam ini sih?!"

"Sepertinya aku butuh asupan Mai-chan." sambungnya.

.

..

...

TBC