Freunde Für Immer

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! : alur pasaran, typo bertebaran, gaje, dan segala kekurangan lainnya

.

Chapter 2 : Panggilan BK

"Kau sudah tahu dimana letak kesalahanmu, Haruno-san?"

"Ya, Pak..."

"Nah, Uchiha-san, jawabanmu sudah benar. Sekarang kau boleh duduk." Perintah seorang pria jangkung berambut perak—yang lebih kelihatan seperti uban, dengan mata sayu khasnya. Yap, siapa lagi kalau bukan Hatake Kakashi? Guru Biologi dengan hobi telat serta memberi PR menumpuk.

Semua anak langsung bertepuk tangan ketika Sasuke meletakkan boardmarkernya di meja guru dan melangkahkan kakinya kembali ke mejanya di barisan pojok paling belakang. Ya, pengecualian bagi Sakura yang dari tadi merengut, dan malah mendelik kesal ketika Uchiha bungsu itu melewati bangkunya yang dibalas oleh Sasuke dengan seringai merendahkannya, seakan-akan seringaian itu bermakna; 'Kau ini bodoh sekali. Masa begitu saja tidak bisa?' atau mungkin, 'Seharusnya yang lebar itu wawasanmu. Bukan jidatmu,' atau yang lebih parah, 'Mati sana.'

For Your Information, dan entah ini kebetulan atau kesialan, ketika Sasuke masuk di kelas barunya, ia disuruh menempati bangku kosong yang ada dibelakang bangku Sakura. Padahal ia berharap sekelas dengan Hinata, atau minimal—tidak sekelas dengan Sakura walau itu berarti ia tidak masuk kelas unggulan. Itu sudah cukup. Sayangnya, disekolah ini, pengelompokan kelasnya dibagi berdasarkan hasil tes IQ. Seandainya ia tahu kalau Sakura berada dikelas unggulan, mungkin ia akan menjelek-jelekkan nilainya saat itu.

Sakura bersungut-sungut, kemudian menghapus pekerjaannya yang salah dan menyalin jawaban milik Sasuke. Ah, ia bisa mendengar suara desisan dari belakang bangkunya yang mengatakan 'dasar bodoh' dalam volume pelan, namun sayangnya, desisan itu terdengar oleh pedengaran tajam Sakura. Langsung saja ia mendorong kursinya dengan badannya, membuat Sasuke terpepet oleh mejanya sendiri. Dan adegan selanjutnya, terjadilah acara dorong-mendorong oleh keduanya. Kakashi diam-diam mengamati adegan itu dan terkekeh misterius dibalik maskernya.

Sejak awal pertemuannya dengan Sasuke, Sakura memang sudah tak menyukai pemuda itu—lebih tepatnya membenci. Yeah, dia akui, Sasuke memang bukan murid biasa. Kecerdasannya diatas rata-rata, ia juga pandai dalam bidang olahraga. Bisa dibilang, nyaris sempurna. Bahkan, dalam seminggu ini kepopoulerannya langsung melejit. Jika di hitung, mungkin 99,9% siswi disekolah ini mengidolakan Uchiha bungsu itu—dan Sakura termasuk dalam 0,1%-nya. Tak jarang pula beberapa dari mereka menyatakan perasaannya pada Sasuke. Namun ujung-ujungnya ditolak dengan kata-kata sarkatis.

Yeah, harus Sakura akui kalau Sasuke itu pintar. Tapi bukan berarti ia bisa seenaknya meremehkan dan merendahkan orang lain, 'kan? Sifatnya begitu dingin dan arogan. Tiap kata yang diucapkannya selalu saja mengandung unsur sarkastis. Siapa yang tidak kesal dengan orang yang seperti itu? Ya, pastinya para fans fanatiknya. Bahkan Sakura heran kenapa masih ada saja orang yang mengidolakan seorang alien ayam menyebalkan seperti Sasuke. Mungkin dunia sudah terbalik.

.

"OHAYO, SAKURA-CHAN!" seruan bernada cempreng setinggi mount everest itu menggema disetiap sudut kelas XII-A. Membuat semua orang menoleh kearah sumber suara itu, terutama bagi si pemilik nama. Pemuda berambut pirang bermodel spike itu masuk kedalam kelas dengan cengiran lebar khasnya, diikuti dengan gadis berambut indigo panjang dibelakangnya dengan wajah yang memerah. Pasalnya, kini ia menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi ini bukan kelasnya. Namun, tak jarang juga beberapa anak yang menyapa mereka berdua. Ya, mereka berdua memang populer di Konoha High. Hinata populer karena kecantikan dan kepiawaiannya bermain alat musik. Sedangkan Naruto populer karena keahliannya dalam olahraga sepak bola. Yeah, prestasi akademiknya memang tidak terlalu bagus. Ia diterima di Konoha High karena prestasi non-akademiknya yang patut diacungi jempol.

"Ah—Hai, Naruto! Hai, Hinata!" sapa Sakura balik sambil memasang senyum ramahnya seperti biasa. "Ada apa? Tumben sekali kalian kemari," tanya Sakura

"K-kami mau mengajakmu m-membeli ramen..." Jawab Hinata sedikit tergagap. Wajahnya bertambah merah ketika Sakura berdehem keras, kemudian nyengir tipis sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Hinata. Kalian pasti tahu apa alasannya.

Naruto yang tidak menyadari peristiwa itu langsung menepukkan kedua tangannya seraya berlutut didepan Sakura, "Mau, ya? Ya, ya, ya?" pinta Naruto sambil memasang puppy eyes sok imutnya. Sakura bergidik ngeri ketika menatap Naruto. Wajahnya bukannya bertambah imut, tapi bertambah amit!

Sakura tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang merinding, "I-iya, baiklah..." jawab Sakura ikut-ikut gagap. Namun, sedetik kemudian raut wajah ramahnya sudah berganti menjadi raut wajah penuh amarah. Dengan gesit, ia menolehkan kepalanya kearah Sasuke yang tengah melongo sambil menatap Hinata—namun ekspresi langka itu tak dihiraukannya—Sakura mengacungkan jari telunjuknya kedepan hidung Sasuke, membuyarkan khayalan indah pemuda berambut emo itu. "Hei, kau, alien ayam menyebalkan! Kau mau ikut tidak?!" tanyanya yang lebih pantas disebut 'sentaknya'.

Sasuke menatap Sakura dengan tampang ogah-ogahan, "Tidak dengan orang sepertimu, terimakasih." Jawabnya santai, kemudian menyeringai tipis pada Sakura. Sedangkan Sakura, ia menggeram kesal seraya mengepalkan sebelah tangannya, diiringi dengan perempatan sudut siku yang entah sejak kapan muncul di jidat lebarnya.

"Hei! Kau tidak boleh seenaknya berbicara kasar kepada seorang gadis, tahu! Itu tidak sopan!" sentak Naruto sok bijak.

"Hn. Lalu?" tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya dengan tangan yang ia lipat didepan dadanya.

"Kau harus minta maaf padanya!" ucap Naruto sedikit menyentak, ia mengepalkan tangannya, berusaha mengendalikan emosinya.

"Kalau aku tidak mau?" tanyanya enteng, namun tak digubris oleh Naruto. Seketika, firasat Hinata dan Sakura memburuk

.

.

.

BRAK!

"HEI, KAU INI SOMBONG SEKALI, YA?!" sentaknya setelah dengan kerasnya ia menggebrak meja Sasuke hingga tangannya terasa kebas.

"S-sudahlah, N-naruto-kun." Ucap Hinata berusaha menenangkan emosi Naruto yang sudah tersulut amarah.

"Aku tidak terima kau berkata begitu pada Sakura-chan! Cepat minta maaf atau—"

"Atau apa?"

BUAGH!

SET

Sakura menepis tangan Naruto yang tadinya sudah mendarat pipi mulus Sasuke, "Astaga, Naruto. Kau ini kekanak-kanakan sekali, sih! Kau mau, menjadi tontonan murid-murid disini?" ujar Sakura membuat Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja, suasana kelas yang tadinya begitu ramai mendadak hening. Semua pasang mata tertuju kearah mereka—Sakura, Hinata, Naruto, dan Sasuke. Seketika, suasana menjadi canggung. Murid-murid yang sedari tadi memandangi mereka lansung mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.

Naruto melemaskan kepalan tangannya yang ditahan oleh Sakura, kemudian menjatuhkannya ke sisi tubuhnya. Namun matanya masih memicing pada Sasuke yang tampak tenang-tenang saja dan malah memasang tatapan merendahkan seraya melipat kedua tangannya didepan dada. "Haah, kenapa orang bodoh sepertimu bisa masuk di sekolah ini, ya? Aku jadi bingung." Ucapnya dengan nada meremehkannya seperti biasa. Arogan.

Naruto hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meredakan nafasnya yang memburu. Ia benar-benar tidak tahan dengan perkataan Uchiha bungsu itu. Namun, ia tetap harus menahan amarahnya. Ia tidak mau sampai harus berurusan dengan BK.

KRING...

Bel masuk berbunyi dengan nyaring, suasana kelas mendadak riuh karena siswa-siswi dikelas itu yang dengan hebohnya menyiapkan kertas untuk ulangan harian aljabar yang diadakan hari ini sambil menggerutu tak suka serta berdoa agar soal ulangan yang diberikan tidak terlalu sulit. Apalagi guru yang mengajar aljabar adalah Orochimaru, guru terkiller dengan segudang soal super susah yang bisa saja ia keluarkan sewaktu-waktu. Tak jarang guru menyeramkan itu mengadakan ulangan dadakan, membuat semua muridnya panik setengah mati.

Namun, semua aktivitas itu terhenti ketika sebuah suara superkeras yang berasal dari speaker kelas berkumandang, membuat semua murid memerhatikan pengumuman yang akan diumumkan lewat speaker itu dengan seksama.

"Panggilan ditujukan kepada, siswa dan siswi yang bernama 'Sakura Haruno', 'Sasuke Uchiha', 'Hinata Hyuuga', dan juga 'Naruto Uzumaki'. Bagi mereka yang merasa namanya dipanggil, diharapkan untuk segera menuju ke ruang BK. Terimakasih."

Oh, yeah. Apalagi yang akan terjadi kali ini? Semua murid sontak menatap mereka berempat lagi.

Sakura, Hinata, dan Naruto saling bertatapan heran, sedangkan Sasuke masih setia dengan pose stoicnya. "Hei, ayam! Apa yang kau lakukan sampai-sampai aku dipanggil, hah?!" sentak Sakura sambil menodongkan jari telunjuknya kearah hidung Sasuke. Pose khasnya.

Sasuke tidak menggubris perkataan Sakura, ia langsung menggenggam erat tangan Sakura—lebih tepatnya mencengkeram—kemudian menariknya keluar kelas.

"HEI!"

· To Be Continued ·


Apdet kilat mumpung gak ada paper ^^ *di deathglare guru killer

KYAA! Makasih banget buat yang udah ngereview, ngefollow, ngefavs, plus ngeread. rasanya pertama kali dapet review itu kaya ada manis2nya gituh. jadi pengen loncat2 sambil teriak2 kegirangan. Tapi, berhubung urat malu daku belom putus, jadi daku tahan keinginan itu T^T (makanya daku teriaknya disini *peace)

untuk pair SasuHina, nanti biar daku pikir2 dulu *emang punya otak?

buat Guest, di Chapter ini udah gak ada tanda gini (?) nya, makasih sarannya.

pokoknya makasih, deh. Jangan lupa RnR lagi, ya... ;)

ditunggu delivery cokelatnya #kodekeras