.

Pair : Sai x Hyuuga Hinata

Genre : Family, Romance

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto, Will You just Look at Me? by Izumi Nairi :D

Rate : K+

Story's note : AU, mixed storyline, some out of characterI hope no…

.


.

Will You just Look at Me?

Chapter 2

.

"Dia mengalami amnesia retrograde, yaitu jenis amnesia yang membuat penderitanya tidak mampu lagi mengingat masa lalu sebelum kecelakaan terjadi. Pada saat kecelakaan enam bulan yang lalu, kemungkinan Hinata-san mengalami benturan sangat keras sehingga otaknya mengalami trauma yang cukup hebat, menyebabkan dia kehilangan memorinya dalam jangka waktu kurang lebih lima tahun terakhir ini."

Sai hanya menatap wanita pirang berjas putih di hadapannya itu dengan pandangan kosong. Sementara itu, Hanabi yang berada di sebelahnya cuma mengelus pundaknya, mencoba menenangkan ipar sekaligus kakak angkatnya itu. Tatapannya nanar tertuju pada sang dokter.

"T-tapi… Hinata-nee-chan akan ingat lagi, kan? Maksudku, amnesia ini cuma sementara saja, kan, Dokter Tsunade?" tanya Hanabi penuh harap.

"Saya tidak yakin, namun dengan psikoterapi yang baik, dapat membantu Hinata-san untuk mengingat kembali tentang masa lalunya. Anda mungkin bisa membantu dengan mencoba menunjukkan foto-foto dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi. Paling tidak, dia bisa mengetahui kalau dia mengalami amnesia."

Hanabi mengangguk mengerti. Dia kembali menatap Sai yang hanya terdiam.

Gadis itu berpamitan dengan Tsunade, lalu setengah menarik Sai keluar dari ruangan dokter tersebut. Melihat Sai yang hanya menatap lurus dengan pandangan kosong saat mereka berjalan menuju kamar 205, tempat di mana Hinata dirawat, membuat Hanabi merasa pilu. Namun dia juga tidak bisa menghibur Sai karena dia juga merasakan hal yang sama, meskipun tidak separah lelaki berkulit pucat itu.

Tak lama, Hanabi dan Sai tiba di depan kamar Hinata. Gadis itu melirik Sai, kemudian melepaskan gandengannya.

"Sai-nii-san, aku masuk duluan," ujar Hanabi. "Kau—yah, kau bisa di sini dulu kalau kau mau."

Hanabi meninggalkan Sai yang masih memandang hampa, kemudian memasuki kamar tersebut. Ketika dia memasuki ruangan itu, yang dilihatnya adalah ekspresi ingin tahu milik Konohamaru yang sedari tadi menungguinya di dalam. Gadis itu berjalan menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya.

"Bagaimana?" tanya Kohonamaru.

Hanabi menceritakan apa yang dikatakan Tsunade dengan suara pelan, supaya Danzo dan Hinata yang berada di ruangan yang sama tidak mendengar. Konohamaru hanya terlihat terkejut sekali, setelahnya dia cuma menatap Hanabi dengan pandangan serius.

"Aku setuju dengan Dokter Tsunade yang menganjurkan supaya Hinata-nee-san ditunjukkan foto-foto tentangnya, namun aku tidak bisa membiarkanmu setengah memaksanya untuk ingat, kau tahu itu, kan, Hanabi?" ujar Konohamaru setelah Hanabi selesai bercerita. "Maksudku, biarkan Hinata-nee-san ingat dengan sendirinya, kita cuma bisa membantu seperlunya."

"Tentu saja aku tidak akan memaksanya," kata Hanabi ketus. Tapi wajahnya kembali murung. "Tapi, aku benar-benar kasihan dengan Sai-nii-san—dan terutama Mitou-chan…"

"Sekarang ini, sudah sangat baik Hinata-nee-san masih mengingatnya, mengingat kita semua. Itu sudah lebih dari cukup."

Hanabi tidak berkata apa-apa lagi. Matanya menerawang ke balik jendela, melihat langit jingga yang baginya terasa sangat suram dan sepi. Kemudian, terdengar seseorang memanggil namanya.

"Hanabi-chan…"

Gadis itu menoleh. Dia melihat kakaknya tersenyum kepadanya, sambil berisyarat agar dia mendekat. Setelah melihat anggukan kecil Konohamaru, gadis itu berjalan menuju ranjang Hinata.

"Ada apa, nee-chan?" tanya Hanabi. "Apa Danzo-jii-sama melakukan hal yang aneh?"

Danzo—yang berada di seberang ranjang Hinata—cuma mengernyit. Dia tahu kalau Hanabi sedang mencoba untuk melucu—mungkin untuk menenangkan pikirannya—tapi tetap saja rasanya aneh. Sementara Hinata menggeleng pelan.

"Ba-bagaimana dengan kuliahmu, Hanabi-chan?" tanya Hinata. "Kau sering ke sini, p-pasti tugasmu menumpuk."

'Aku sudah lulus universitas, nee-chan. Bahkan sekarang aku sudah mulai bekerja,' batin Hanabi lesu. Namun gadis itu tersenyum lembut dan berkata pelan, "Tidak apa-apa. Aku sudah bilang pada dosenku kalau nee-chan sakit, jadi beliau tidak keberatan kalau aku sering absen."

"Begitu? B-benar, tidak apa-apa?"

"Makanya, kalau nee-chan merasa tidak enak hati, nee-chan harus segera sembuh. Dan aku bisa mengurusi kuliahku," kata Hanabi. "Nee-chan harus segera ingat."

Hanabi tersenyum makin lebar saat dia menyadari air matanya hampir jatuh. Dia menarik napas pelan, dan menatap mata kakaknya yang juga tersenyum padanya. Sementara itu Danzo yang melihat segera pergi dari ruangan itu tanpa berkata-apa-apa. Konohamaru cuma membuang muka.

"A-apa maksudmu dengan 'ingat', Hanabi-chan?" tanya Hinata bingung. "A-apa aku melupakan sesuatu?"

Hanabi mengusap bola matanya. "Kau melupakan banyak hal, tapi aku yakin, nee-chan pasti akan segera ingat."

Kedua kakak beradik itu saling berpandangan. Tidak ada kata-kata yang muncul dari bibir keduanya. Mereka seakan berbicara dalam pikiran, saling berhubungan dari hati ke hati. Pandangan mereka seakan mengutarakan sejuta kata yang tak terkatakan, yang ingin mereka katakan, terutama Hanabi. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menatap mata kakaknya itu.

Perlahan-lahan, bibir Hanabi bergerak, membentuk kata-kata, "Nee-chan… ingat saat Sai-nii-san kembali dari Jerman?"

Kening Hinata berkerut. Namun dia tetap berkata, "A-aku ingat."

Hanabi menatap ke arah jendela sebentar, kemudian kembali memandang mata kakaknya.

"Saat itu," dia memulai, "Sai-nii-san…"

Enam tahun yang lalu…

Hiruk pikuk di bandara Tokyo saat itu membuat seorang gadis perempuan berambut kecoklatan merasa tak nyaman. Dia bergantian melihat jam di tangannya, melihat gadis yang berdiri di sampingnya sambil membawa kertas bertuliskan "Sai-nii-san", dan melihat pintu keluar penumpang pesawat Konoha-Air tujuan penerbangan Jerman-Jepang dengan tampang gusar. Pintu itu masih tertutup, dan itu membuatnya bertambah kesal.

"Kenapa jii-sama menyuruh kita untuk menunggunya?" tanya Hanabi sambil menunjuk pintu keluar. "Kenapa tidak menyuruh siapa saja selain kita berdua? Masih banyak orang di rumah, kan? "

Hinata tersenyum hambar, lalu berkata, "Jangan begitu, Hanabi-chan. S-Sai-nii-san pasti senang k-kalau kita yang menjemput. A-apa kau tidak senang, bertemu lagi de-dengannya?"

"Aku senang, tentu saja," ujar Hanabi sambil mencoba mengubah ekspresinya. "Tapi aku harus kuliah"

Belum selesai dia berkata, pintu keluar bandara terbuka perlahan. Hanabi dan Hinata segera menoleh, berusaha mencari-cari dengan mata pucat mereka sosok yang hampir dua jam mereka tunggu di tengah kerumunan yang keluar. Hinata mengangkat kertas yang dipegangnya tinggi-tinggi, sementara Hanabi terus melambai-lambaikan tangannya sambil setengah berteriak memanggil nama kakak angkatnya.

Lima belas menit berlalu, dan seluruh penumpang hampir keluar. Hinata sudah menurunkan kertasnya, dan Hanabi cuma melambaikan tangannya bosan. Tidak ada tanda-tanda dari Sai, dan itu sedikit membuat mereka kecewa.

Hanabi berbalik, melipat tangannya di dada dengan pandangan datar. "Aku mau menelpon jii-sama, mau protes. Nee-chan tunggu saja di sini. Kalau ada apa-apa, aku ada di kedai itu. Aku lapar sekali."

Tak berapa lama setelah Hanabi pergi, seorang lelaki berkulit pucat berjalan melewati pintu keluar yang hampir menutup, dengan koper besar yang ditariknya dan ransel yang bergantung di pundaknya. Lelaki itu sedikit kewalahan, namun tetap berjalan menjauhi pintu keluar sambil melihat sekeliling, setengah berharap ada salah satu suruhan kakeknya yang datang dan membantunya menarik koper. Saat dia hampir putus asa, matanya melihat seorang gadis berambut hitam keunguan sedang berdiri sambil membawa kertas bertuliskan namanya.

Hinata yang ditinggal adiknya sendirian itu mendesah pelan. Dia kembali menatap pintu, makin sedih saat melihat pintu itu sudah benar-benar tertutup. Ketika dia mau berbalik, tidak jauh dari tempatnya, dia melihatnya. Tepat di sana, kakak angkatnya, lelaki yang ditunggunya, berdiri menatapnya.

"Sai… nii-san?" bisiknya.

Senyum mereka terkembang bersamaan. Hinata dengan senyum senangnya, dan Sai dengan senyum manusiawi yang dilatihnya selama di Jermanmeskipun masih kelihatan aneh. Hinata segera melipat kertas yang dipegangnya, memasukkannya dalam saku, dan berjalan cepat ke arah Sai. Tangannya tanpa sadar mendekap mulutnya dengan penuh haru, meskipun tak mampu menyembunyikan senyum bahagia saat melihat kakak angkatnya lagi.

"Aku kembali," kata Sai. "Kuharap kau tidak bosan menungguku."

Senyum Hinata merekah. Dia menggeleng pelan, masih tersenyum lebar. Pelan-pelan, dia menurunkan tangannya, menatap kakaknya dengan jelas dan berkata, "A-aku tidak akan pernah bosan, ka-karena aku yakin nii-san akan menepati janjinya p-padaku.

"S-selamat datang kembali, Sai-nii-san. Ka-kami semua sangat merindukanmu…"

Sai hanya tersenyum. Dalam hatinya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Hinata. "Kau banyak berubah, Hinata-san. Rambutmu… lebih panjang dari dulu."

Hinata melihat rambut panjangnya yang menjuntai sampai ke pinggangnya, lalu kembali menatap Sai dengan pipi memerah. "Sai-nii-san j-juga banyak berubah."

"Aku tidak berubah. Aku masih Sai yang dulu," ujar Sai.

Gadis itu melihat barang bawaan Sai, dan berjalan mendekat sambil mengulurkan tangannya untuk menarik koper. "B-biar kubantu, Sai-nii-san."

Mereka berdua berjalan beriringan sambil menarik koper bersama menuju sebuah kursi panjang yang berada di dekat kedai tempat Hanabi masih memesan makanan. Karena mereka menarik koper berdua, koper itu sekarang berada di antara mereka berdua. Sai yang menyadari hal itu, tanpa sepengetahuan Hinata segera menarik koper itu ke sisi lain tubuhnya supaya dia dan Hinata bisa duduk cukup dekat. Dia melepaskan ransel dari pundaknya, lalu meletakkannya di atas koper.

"Hanabi-chan s-sedang membeli makanan. Nii-san tidak keberatan, kan, k-kalau menunggu sebentar?" tanya Hinata ragu.

Sai mengangguk.

Suasana hening segera tercipta setelah tak ada lagi dari mereka berdua yang berkata apa-apa. Hinata memandang ke arah orang-orang yang lewat di hadapan mereka, sementara Sai terus memandangi Hinata. Meski menyadari bahwa dirinya dilihati terus, Hinata hanya terdiam dan pura-pura tidak tahu.

"Hinata-san," panggilnya, membuat gadis itu segera menoleh ke arahnya. "Akuboleh aku bertanya sesuatu? Aku lupa menanyakannya saat pergi, dan sampai sekarang aku masih memikirkannya."

"A-apa yang ingin nii-san tanyakan?" kata Hinata sambil tersenyum lembut.

"Ini tentangmu… dan Uzumaki Naruto itu," kata Sai langsung.

Senyum Hinata menghilang detik itu juga. "A-apa-apa?"

"Aku ingat, sekitar setahun dua tahun sebelum aku pergi, aku pernah berkata padamu tentang dia yang menyatakan perasaannya padamu, lalu aku bertanya apa kau menerima pernyataannya atau tidak," kata Sai tanpa memerhatikan wajah Hinata yang memucat. "Tapi kau tidak menjawab, dan setelah itu malah menjauhiku. Dan… sampai sekarang aku masih ingin tahu jawabannya."

Mata Hinata membulat. Sekelebatan ingatan masa lalu seakan muncul begitu saja di depan matanya.

Sai tersenyum pada Hinata. "Bagaimana?"

Hinata masih membeku, meski kemudian dia memaksa bibirnya berbicara, "A-aku… a-aku t-ti-tidak—a-aku ti-tidak menerimanya."

"Begitu?" Sai mengernyit, meskipun senyumnya masih terpasang di wajahnya. "Kenapa?"

"A-aku—d-dia… bisa m-me-mendapatkan p-perempuan yang le-lebih baik d-d-daripada aku," ujar Hinata terbata-bata. "S-seperti Sakura-s-san. D-dan, a-aku t-tidak begitu me-menyukainya."

"Apa saat itu kau sedang menyukai orang lain?"

Wajah Hinata tambah memucat. Dadanya merasa lebih sesak, dan kini pandangannya malah menjadi agak kabur. Aku perlu bantuan, batinnya.

"Hinata-san?" panggil Sai.

Gadis itu menatap Sai dengan mata pucatnya yang tak fokus. Sai balas menatapnya bingung.

"Hinata-san?" panggil Sai lagi.

"A-a-apa? E-eh, i-iyam-maksudku t-tidak. A-aku ti-tidak suka s-siapapun," kata Hinata dengan suara bergetar. "S-saat itu."

Sai cuma mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber-"oh" dengan polosnya. Lalu dia kembali berkata, "Apa sekarang kau sedang menyukai seseorang?"

"Ehem," sahut sebuah suara dingin di belakang mereka.

Mereka menoleh, lalu melihat Hanabi yang menatap mereka berduaterutama Saidengan pandangan membunuh. Dia memegang plastik berisi makanan di dadanya dengan tangan terkepal keras, dan bibirnya terkatup rapat sekali. Dengan suara sangat rendah dan mematikan dia berkata, "Ayo. Pulang. Sekarang."

Sai menelan ludah, sementara Hinata yang sudah mau pingsan tersenyum lemas sekali.

Mereka bertiga pulang dari bandara dengan perasaan yang berbeda-beda. Hanabi yang hampir mendengar seluruh isi pembicaraan antara Hinata dan kakak angkatnya memandang mereka dengan dingin dari kursi penumpang belakang. Sai yang diminta Hanabi untuk menyetir—karena Hinata kelihatannya sudah benar-benar mau tak sadarkan diri—hanya terdiam. Sementara sang gadis berambut hitam keunguan yang duduk di kursi penumpang depan itu menatap jalan di depannya dengan wajah kaku.

Sesampainya di rumah, Hanabi langsung menyuruh Hinata agar masuk duluan dan meninggalkan Sai dengannya. Hinata setuju, dan melesat ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa lagi. Adiknya tersenyum lega, kemudian menghampiri kakak angkatnya yang sedang menurunkan koper dari bagasi belakang mobil.

"Biar kubantu," kata Hanabi, lalu mengangkat bagian bawah koper dengan satu tangan. Sesaat kemudian, koper itu sudah berada di tanah.

"Terima kasih," ujar Sai. Dia mengamati Hanabi yang menatapnya datar, kemudian bertanya, "Eh… ada apa?"

"Kau… apa yang kau katakan padanya?" tanya Hanabi langsung.

Sai mengernyit. "Soal apa?"

"Semuanya. Wajahnya sepucat itu, bibirnya terus bergumam tidak jelas, dan tangannya bergetar seperti ketakutan. Apa yang kau katakan, sehingga bisa membuat adik angkatmu itu sampai seperti itu?" tanya Hanabi sambil menatap mata Sai. "Sebelum kau bertanya apakah nee-chan menyukai seseorang atau tidak, APA YANG KAU KATAKAN?"

Sai baru mau membuka mulutnya sebelum Hanabi kembali berbicara.

"Aku mendengar pertanyaan terakhirmu," kata Hanabi dengan nada serendah mungkin. "Itu adalah pertanyaan sangat sensitif untuknya. Sepuluh tahun lebih… kau menjadi kakak kami, bahkan mengerti tentang kami pun tidak pernah. Bagi nee-chan, itu pertanyaan yang harusnya tidak berhak untuk kauseorang kakak yang bahkan tak pernah ada untuknyatanyakan seolah-olah kau selalu memperhatikannya."

"Aku hanya mau tahu," potong Sai. "Kalau Hinata-san mau aku berhenti bertanya, seharusnya dia bilang padaku."

Hanabi menutup matanya sejenak, menghela napas panjang, lalu membuka matanya dan memandang lelaki di depannya dengan tatapan datar. Katanya pelan, "Jangan bertanya tentang hal seperti itu lagi. Tidak akan ada untungnya bagimu, karena kau juga tidak akan pernah peduli padanya, bukan? Seperti tahun-tahun saat kau mengabaikan perhatian yang diberikannya untukmu."

Hening.

"Sejak kecil, dia selalu mencari perhatianmu, memperhatikanmu agar tercipta hubungan kakak beradik yang harmonis antara kita bertiga. Dia melakukan segala cara, sampai-sampai aku perlu menasehatinya agar tidak terlalu baik padamu. Tapi kadar perhatiannya tetap besar seperti dulu, bahkan mungkin lebih. Aku takut, kalau alasan perhatiannya untukmu tidak seperti yang kukira."

Sai membuka mulutnya, lalu mengatupkannya rapat-rapat.

"Aku adik kandungnya. Aku mengetahuinya sama seperti aku mengetahui tentang diriku sendiri," ujar Hanabi. "Pandangan matanya padamu, dan semua perlakuannya untukmu, itu karena dia begitu menyukaimu. Dia sangat menyukaimu, sangat menyayangimu."

Lelaki itu menatap mata Hanabi yang sepucat purnama dengan kaget.

"Sejak pertama dia bertemu denganmu. Tapi mungkin sekarang sudah tidak lagiaku harap begitu. Ketika dia menjauh darimu, dan ketika kau pergi ke Jerman, mungkin sedikit membantunya melupakan perasaan konyolnya itu, tapi ketika kau bertanya siapa yang dia suka…" Hanabi menghela napas, "itu sangat keterlaluan."

"Aku sama sekali tidak mengerti," kata Sai bingung. "MaksudkuHinata-san…"

"Sekarang aku sudah menceritakan semuanya, sekarang bisakah aku bertanya padamu, kenapa kau bertanya hal seperti itu padanya?" tanya Hanabi.

"Bertanya soal apa?"

Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ekspresinya yang sendu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi mengerikan. "Berapa umurmu?! Tentu saja bertanya siapa yang dia suka! Kenapa kau bertanya tentang siapa yang dia suka? Kenapa aku harus menjelaskan hal sedetail itu padamu?! Kenapa kau begitu tidak peka dan tidak mudah mengerti?!"

Sai tersenyum, namun senyumnya sangat muram.

"Jadi…" lanjut Hanabi ketika emosinya sudah kembali mereda. "Kenapa?"

"Aku… aku hanya penasaran saja," jawab Sai sambil mengangkat bahu. "S-seperti yang kau katakan, aku bukan orang yang peka, dan sepertinya aku harus berubah menjadi kakak yang peka pada kalian."

Hanabi mengernyit, kemudian tersenyum kecil. "Bohong. Beberapa tahun terakhir, sebelum kau pergi ke Jerman, aku menyadari kau agak dekat dengannyaberusaha agak dekat, maksudku. Ingat waktu kau pulang bersamanya setiap sepulang ekstra Scientist Club? Ingat saat kau berusaha mengobrol dengannya ketika dia sudah tidak terlalu perhatian padamu, ketika dia menjauh padamu setelah kau bertanya tentang Uzumaki-san padanya? Ingat ucapanmu padanya tentang kau yang akan kembali ke sini? Aku menyadari kalau kau tidak berjanji pada kami, melainkan padanya saja. Kau ingat?

"Kenapa kau melakukan semua itu? Kenapa kau bertanya apakah ada orang yang sedang disukai oleh nee-chan atau tidak?" tanya Hanabi sambil tersenyum. "Bukankah semua itu sudah jelas?"

Sai cuma menatap Hanabi dengan tatapan tak mengerti.

"Kau sebetulnya sudah sadar, kan, kalau kau juga suka dia?" tanya Hanabi lagi. "Tidak perlu kukatakan semua hal tidak penting seperti tadi, kau juga sudah tahu, kan?"

Kernyitan kecil di kening Sai memudar, digantikan oleh tatapan setengah tak percaya, setengah terkejut.

"Beritahu saja aku kalau kau sudah menyatakan perasaanmu padanya, oke? Jadi aku tidak perlu bertanya pada nee-chan apa dia menerimamu atau tidak," sindir Hanabi. "Dan nee-chan tidak perlu menjauhiku. Sampai jumpa, Sai-nii-san."

Gadis bermata pucat itu pergi sambil menarik koper dan menggendong tas milik lelaki itu ke dalam rumah, meninggalkan Sai yang terpaku sendirian menatap punggungnya.

—"—

Hinata terduduk sendirian di ranjangnya sambil menatap sebuah foto. Di sana terdapat seorang wanita yang sangat mirip dengannya, duduk di atas kursi kayu dan tersenyum manis sambil menggendong seorang anak lelaki berusia sekitar setahun yang memiliki rambut seperti rambut wanita itu. Di sampingnya, berdiri kakak angkatnya, memegang pundak si wanita dan tersenyum kepadanya juga. Mereka terlihat sangat serasi.

Dia mengelus wajah wanita itu, sembari mengingat-ingat cerita Hanabi tentang apa yang adiknya itu bicarakan dengan Sai. Dia sama sekali tidak tahu, karena beberapa hari setelah dia menjemput kakak angkatnya dari bandara, dia kembali ke kampusnya untuk menyelesaikan skripsi yang harus segera dikumpulkan. Dia hanya bertemu beberapa kali dalam sebulan dengan Hanabi maupun Sai, dan tak ada satupun dari mereka yang mengatakan tentang hal itu.

Bingung, terkejut, dan sedih. Dia tidak tahu perasaan mana yang lebih dominan. Yang dia tahu, dia benar-benar menyesal tidak mengingat apapun. 'Kalau saja aku ingat sesuatu,' batinnya, 'aku tidak perlu sebingung ini.'

Dia mendengar suara pintu kamarnya terbuka pelan. Dia mendongak, tersenyum kecil kala menyadari bahwa tamu yang masuk adalah Sai.

"San-nii-san," sapanya. "S-selamat malam."

Sai berhenti bergerak ketika untuk ke sekian kalinya Hinata memanggilnya dengan panggilan "nii-san". Namun dia tetap tersenyum. "Malam, Hinata-san," balasnya.

Dia mendekati Hinata, kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang yang ditempati perempuan bermata pucat itu. Dia sesaat melihat foto yang tengah dipegang Hinata, dan saat menyadari foto apa itu, matanya melebar.

"Hinata-san," panggilnya. "Siapa yang memberikan foto itu padamu?"

Hinata melihat foto di pangkuannya, lalu menyerahkan foto itu ke tangan Sai dengan ekspresi takut dan berkata pelan, "M-maaf kalau aku m-melihatnya, t-tapi Hanabi-c-chan b-bilang tidak apa-apa."

"Dia yang memberikannya padamu?" tanya Sai lagi.

Mau tidak mau Hinata mengangguk.

Sai tersenyum sekilas, kemudian meletakkan foto itu di atas meja di sampingnya. Dia menatap foto itu penuh kasih sayang, kemudian kembali menatap Hinata. Pandangannya menyiratkan kesedihan. Hinata tahu itu, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunduk. Rasa bersalah yang entah dari mana asalnya serasa mendatanginya saat ini.

"Apa kau tahu siapa yang ada di foto itu, Hinata-san?"

Wanita itu mendongak, lalu berkata pelan. "I-itu nii-san, kan? D-dan bayi itu, s-sepertinya itu anak nii-san, be-benar, kan? D-dan… perempuan itu—" Hinata menelan ludah. "A-apa itu aku? T-tapi aku ti-tidak mengerti—m-maksudku, a-aku merasa t-tidak pernah—"

"Tidak apa-apa," potong Sai pengertian. "Jangan paksakan dirimu. Lama-lama kau juga ingat sendiri. Lagipula… sudah lebih baik kau tahu kalau kau mengalami amnesia, Hinata-san."

"Nii-san… ta-tadi Hanabi-chan bercerita padaku," ujar Hinata mengubah pembicaraan. "T-tentang Sai-nii-san."

Hinata bercerita pada Sai apa yang dikatakan Hanabi padanya beberapa waktu yang lalu. Awalnya Sai kaget, karena Hinata masih ingat soal kedatangannya ke Jepang. Namun belum sempat dia menenangkan kekagetannya, Hinata mulai bercerita tentang Hanabi. Dia hanya membeku di tempat saat Hinata dengan gugup berkata soal adiknya yang mengulang ucapannya yang isinya bahwa Sai menyukai Hinata. Ingin rasanya dia menghentikan cerita Hinata, namun Sai tidak berkata apa-apa sampai gadis itu berhenti bicara.

"J-jadi… begitulah," kata Hinata akhirnya, dengan pipi memerah. "M-maaf, nii-san."

"Oh," kata Sai. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tersenyum seperti semula. "Ehm, kuharap itu tidak mengganggumu, Hinata-san. Sebaiknya jangan terlalu dipikirkan."

Wanita itu balas tersenyum, meski senyumnya murung. Dia berkata gugup, "T-tapi… a-apa nii-san pernah berkata k-kalau n-nii-san suka p-padaku s-sesudah itu? K-kalau b-benar, m-maafkan aku ka-kalau aku lupa."

Sai terdiam, mencoba mengingat-ingat, dan akhirnya menggeleng. Dia menatap mata Hinata, lalu berkata lembut, "Tidak apa-apa, Hinata-san."

Hinata menatap mata Sai lekat-lekat, dan tidak menemukan apapun selain tatapan penuh perhatian dan kasih sayang yang ditujukan padanya. Tatapannya membuat wanita itu menjadi lebih nyaman, setelah apa yang dia ketahui hari ini. Juga, dia bisa melihat Sai yang dia ingat sangat berbeda dengan Sai yang berada di hadapannya sekarang ini. Dan entah kenapa itu membuatnya senang.

"L-lalu… a-anak itu," ucap Hinata. "D-dia… apa dia—m-mu-mungkinkah?"

Sai mengangguk. "Dia Mitou. Kau sendiri yang memberinya nama saat itu, Hinata-san."

Wanita itu terkesiap.

"Tapi—seperti kataku tadi—jangan terlalu memaksamu untuk ingat, Hinata-san. Yang terpenting sekarang, kau harus segera sembuh."

—"—

Hari demi hari berlalu, kesehatan Hinata mulai pulih. Kakinya yang patah karena kecelakaan enam bulan lalu kini mulai kuat menopang tubuhnya setelah menjalani terapi beberapa kali seminggu, sehingga dia tidak perlu lagi menggunakan kursi roda. Sembari memulihkan keadaan tubuhnya, wanita itu juga berusaha keras untuk bisa mengingat masa lalunya—seperti terus-terusan melihat foto-foto dirinya, Mitou, dan Sai—dan setengah memaksa Hanabi agar menceritakan kehidupan tentangnya bersama Sai. Hal itu terkadang membuatnya merasa pusing, seperti yang dialaminya sekarang.

"Nee-chan tidak apa-apa?" tanya Hanabi saat selesai bercerita. Ekspresinya penuh kekhawatiran. "Sudah kubilang, jangan memaksakan diri seperti itu. Lama-kelamaan kau juga akan ingat dengan sendirinya, nee-chan…"

"A-aku tidak apa-apa, Hanabi-chan," ujar Hinata sambil memijat kepalanya. "T-teruskan ceritamu. Sampai d-di mana tadi?"

Adiknya berdecak. "Untuk hari ini, sudah dulu. Aku tidak mau kau selalu merasa pusing seperti ini lagi. Kau tahu, ingatanmu bukanlah yang dikhawatirkan semua orang saat ini, tapi kesehatanmu. Dan usahamu ini—ini bisa membuat kesehatanmu menjadi lebih buruk. Apalagi minggu depan kau sudah boleh pulang. Kau mau cepat pulang, kan?"

Hinata terdiam, namun dia menganggukkan kepala.

"Kalau begitu, jaga kesehatanmu. Aku akan memberesi foto-foto ini, supaya kau tidak memikirkannya lagi."

Hanabi mengumpulkan puluhan foto-foto yang bertebaran di atas ranjang Hinata, kemudian memasukkannya ke dalam tasnya. Tidak lupa dia mengambil foto-foto lain yang terletak di atas meja dekat ranjang kakaknya, di atas sofa, atau di bawah ranjang. Gadis itu sejenak ingin mengambil foto yang tengah dipandangi Hinata, namun dia mengurungkan niatnya. Dia tahu, itu foto yang dia berikan ketika dia selesai bercerita tentang kepulangan Sai enam tahun lalu, dan mungkin itu foto pertama yang dilihat kakaknya.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada urusan sedikit dengan Konohamaru-san, dan sepertinya dia sudah menungguku di luar," kata Hanabi sambil berjalan meninggalkan kakaknya. "Kalau ada apa-apa, hubungi aku—atau Sai-nii-san. Dan, nii-san sebentar lagi datang, kok."

"T-tunggu, Hanabi-chan," cegah Hinata.

Hanabi berbalik. Dia mengernyit saat melihat kakaknya tersenyum malu kepadanya.

"Ada apa?"

"Euh… a-aku titip salam pada Konohamaru-san, ya," kata Hinata malu-malu. "D-dia hampir selalu da-datang ke sini, t-tapi aku b-belum pernah menyapanya a-atau bahkan mengobrol d-dengannya."

Pipi Hanabi merona sedetik, kemudian digantikan oleh senyuman manis. "Aku tahu maksudmu, nee-chan. Tapi kami cuma teman—mungkin. Sudah dulu, ya. Nanti aku ke sini lagi."

Gadis itu berjalan keluar, dan sebelum menutup pintu, dia menengok ke dalam kamar dan mengedipkan matanya pada Hinata sekilas.

Hinata masih tersenyum saat adiknya kembali menutup pintu. Dia melihat ruangannya, mulai merasa sepi karena tak ada satupun orang di ruangan bercat putih tulang itu selain dirinya. Matanya menatap ke luar jendela, melihat pemandangan perkotaan yang dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung pencakar langit. Lewat jendela itu pula, sinar matahari yang lembut karena tertutup awan memasuki kamarnya.

Wanita bermata pucat itu mengambil kruknya, kemudian dengan hati-hati menurunkan kakinya dari ranjang. Dia terdiam sejenak saat rasa nyeri tiba-tiba menjalar dari kakinya, lalu dia segera mengabaikannya dan dengan bertopang pada kruknya, dia menegakkan badannya di atas lantai. Senyumnya mengembang tipis ketika menyadari dia tidak terjatuh.

Tertatih-tatih, dia berjalan menuju ke jendela besar di kamarnya itu sambil menarik pelan tiang infusnya. Beberapa kali dia berhenti karena badannya hampir oleng atau tiang infusnya tersenggol kruknya sendiri. Setelah berjalan selama beberapa menit dari ranjangnya menuju jendela yang berjarak satu meter, dia akhirnya bisa tersenyum senang sembari melihat pemandangan kota Tokyo.

"Hinata-san?"

Dia menoleh saat mendengar namanya disebut. Tepat di belakangnya, di seberang ruangan, Sai berdiri membeku dengan tatapan tak percaya.

"Sai-nii-san, s-selamat datang," kata Hinata sambil tersenyum.

Gadis itu memutar badannya dengan sangat hati-hati dan lama sekali, ketika dia benar-benar sudah berbalik, dia terlonjak kaget karena Sai sudah berada di hadapannya.

Mata mereka bertemu. Sai menatap Hinata dengan ekspresi yang wanita itu tak tahu maknanya. Tidak ada senyum, atau raut wajah marah. Ini mengingatkan Hinata saat pertama kali dia bertemu dengan kakak angkatnya itu. Tanpa disadarinya, senyum yang sedari tadi terpasang di wajahnya memudar.

"A-ada apa, nii-san?" tanyanya takut.

Sai menggeleng. Bibirnya perlahan-lahan terangkat, membentuk sebuah senyuman lembut. "Kau baik-baik saja, sendirian di sini? Hanabi-san memang bilang kalau dia mau pergi, tapi aku tidak tahu kalau kau sendirian. Maafkan aku."

Wanita itu cuma menatapnya dalam diam.

Sai melihat ke belakang Hinata, ke arah jendela yang menampakkan pemandangan kota yang semarak. Dia berjalan melewati Hinata, tanpa sadar meletakkan tangannya ke depan kaca, lalu berkata, "Kalau kau sudah keluar dari rumah sakit, kita akan jalan-jalan keliling kota. Ajak Mitou-chan, Hanabi-san, dan jii-sama. Mungkin Konohamaru-san ikut juga."

Hinata—untuk kedua kalinya—berputar badannya. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya, karena dia juga ingin kembali melihat ke luar jendela. Setelah berhasil memutar seluruh badannya, dia berjalan perlahan ke arah jendela, dan menyejajarkan tubuhnya dengan Sai.

Dengan mata pucatnya, dia melihat gedung-gedung yang seolah berlomba-lomba, siapa yang paling tinggi di antara mereka. Tapi menurutnya tidak ada yang lebih tinggi dari pada gedung di depannya. Gedung yang seakan dibangun dari kaca itu menampakkan para pegawai yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah, dan matanya bisa melihat jalanan yang ramai dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang. Di kanan-kiri jalan itu, di atas trotoar beton, ratusan orang yang seperti sekecil semut juga ikut meramaikan jalan. Rasanya seperti melihat parade.

"Kau harus melihat pemandangan ini saat matahari terbenam, Hinata-san," ujar Sai. Dia menunjuk langit di belakang gedung kaca itu. "Matahari terbenam di sebelah sana. Pemandangan jadi lebih indah karena efek cahayanya."

Hinata masih melihat jalan raya dengan terkagum-kagum, sampai akhirnya matanya melihat secara langsung sebuah kecelakaan yang terjadi di bawah sana. Dia melihat sebuah truk tak sengaja menabrak bagian samping mobil di persimpangan jalan, sehingga mobil itu terpental dan naik ke atas trotoar dan menabrak orang-orang yang berjalan di sana. Hinata hanya mendekap mulutnya, berusaha untuk tidak berteriak agar Sai tidak tahu yang terjadi. Mencoba melupakan rasa mual di perutnya, dia mencoba mengamati jalanan itu lebih lama. Dia tidak bisa melihat ekspresi orang-orang lain yang melihat kecelakaan itu, atau mendengar jejeritan mereka. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu.

"Sai-nii-san," panggilnya tanpa melihat kakak angkatnya.

"Iya?" sahut Sai tanpa mengalihkan pandangannya ke arah langit.

"B-bisa ceritakan padaku… t-tentang kecelakaan y-yang kualami dulu?" pinta Hinata.

Sai tersentak kaget. Dia langsung menoleh, menatap wajah Hinata yang menunduk, masih melihat kecelakaan di bawah sana. Karena Hinata tidak berkata apa-apa lagi, lelaki itu akhirnya mengikuti arah pandangan Hinata, dan kernyitan kecil muncul di keningnya. Dia kembali menatap Hinata.

"Kenapa kau mau tahu soal itu, Hinata-san?" tanya Sai. "Itu bukan hal yang bagus untuk diingat."

Hinata mendongak, namun masih tidak membalas tatapan Sai. "A-aku hanya mengira, ka-kalau mungkin itu b-bisa membuatku ingat sesuatu. B-bukankah itu lebih baik?"

Sai terdiam. Dia masih menatap wanita di sampingnya dengan matanya yang sehitam malam.

"A-aku hanya ingin tahu, nii-san," kata Hinata pelan. "K-kumohon."

Sai mendesah pelan, lalu berucap, "Baiklah, kalau begitu. Waktu itu…"

Enam bulan yang lalu…

"Apa kita sudah hampir sampai di rumah?"

Hinata memandang ke arah belakang. Dia tersenyum lembut saat berkata, "Kalau Mitou-chan mengantuk, bisa tidur dulu, kok. Kita akan sampai dua jam lagi."

Mitou mengangguk lemas, kemudian membaringkan tubuhnya di jok tengah. Samar-samar Hinata bisa mendengar hembusan napas yang tenang dari anak kecil itu.

"Kau juga bisa tidur, Hinata-san."

Wanita itu menoleh. Dia menatap seorang pemuda yang duduk di kursi pengemudi dengan pandangan lembut. "Aku menemani Sai-kun terjaga saja."

Malam itu adalah malam yang cerah, meskipun agak mendung dan agak dingin karena baru awal musim semi. Kendaraan mereka tengah membawa mereka melewati jalan yang dipenuhi hutan yang cukup lebat. Jalan yang berkelok-kelok sedikit membuat Hinata agak was-was.

Mereka duduk di dalam mobil yang sedang melaju itu dalam diam. Karena suasana yang begitu tenang, rasa kantuk mulai menyerang Hinata dan Sai. Beberapa kali Hinata memejamkan matanya, namun sedetik berikutnya dia kembali terjaga. Sementara itu, di sampingnya, Sai hanya menguap pelan.

"Kalau mengantuk, sebaiknya berhenti dulu," ujar Hinata.

Sai menggelengkan kepalanya. "Lebih cepat sampai, lebih baik. Kalau kau benar-benar mengantuk, lebih baik kau tidur saja, Hinata-san."

Hinata memejamkan matanya. Namun baru lima menit dia tertidur, dia merasakan mobil yang dikendarai mereka melaju tak terkendali. Saat matanya benar-benar terbuka lebar, dia bisa melihat cahaya lampu dari arah depan dan bunyi klakson yang sangat nyaring. Lalu terdengar suara benturan yang sangat keras, membuat telinganya sakit dan pandangannya menjadi kabur. Meski begitu, dia tetap bisa merasakan kalau mobilnya tengah berguling-guling menuju dasar jurang yang gelap. Semuanya serasa berputar, berkali-kali kepalanya terbentur, entah oleh badan mobil atau benda-benda yang masuk lewat kaca jendela yang sudah pecah, lalu baru berhenti begituuntuk kedua kalinyamobil yang ditumpanginya terbentur keras.

Aku masih hidup, batinnya. Samar-samar, dia bisa mendengar suara orang memanggil namanya.

Wanita itu mencari sumber suara, lalu menemukan sesosok bayangan mendekatinya, seakan mengulurkan tangannya pada wajahnya yang lengket karena darah. Ingin rasanya dia menyambut uluran itu, namun tangannya terjepit sesuatu.

"S-Sai-kun…" bisiknya nyaris tak terdengar. Lalu semuanya gelap.

—"—

"Sudah siap?"

Hinata menoleh ke belakang. Dia tersenyum saat mendapati Sai tengah berdiri di depan pintu. "S-sebentar lagi."

"Aku tunggu di luar, ya," ujar Sai sambil berbalik.

Hinata menunggu lelaki itu menutup pintu kamar tempatnya dirawat selama ini, kemudian dia kembali menatap pemandangan di luar jendela di hadapannya sekarang. Dia menyentuh kaca itu pelan-pelan, kemudian tersenyum. Dia berbalik membelakangi kaca jendela, senang karena dia bisa melakukannya dengan cepat karena akhirnya, Tsunade mengizinkannya berjalan tanpa kruk. Dia berjalan melintasi ruangan itu, sambil sesekali melihat sekeliling. Sepertinya dia malah merindukan kamar pasien ini daripada merindukan rumahnya.

"M-maaf menunggu lama," kata Hinata sambil membuka pintu. Dia bisa melihat Sai tengah duduk di depan pintu kamar.

"Ayo," ajak Sai sambil berdiri. Dia baru saja akan melangkahkan kakinya begitu ada sebuah tangan menggenggam tangannya.

"Ehm… ayo, Sai-k-kun," kata Hinata sambil menunduk malu.

Lelaki itu mengernyit, meskipun dia akhirnya tersenyum kecil. "Kalau belum ingat, jangan dipaksakan, Hinata-san."

"A-aku hanya mencoba membiasakan diri, Sai-nii—eh—Sai-k-kun."

Senyum Sai semakin lebar, namun dia tidak mencoba melepaskan tangan Hinata. "Tentu. Nanti kita mampir dulu ke rumahnya Hanabi-san, soalnya Mitou-chan ada di sana."

Hinata cuma mengangguk. Genggamannya semakin erat, seakan tidak mau terlepas lagi.

.

Owari… ^-^

.


.

Author's note: This story was created to fulfill a request from Azure Vainamoinen a.k.a Regita (^^) sorry made you waiting for a very long time… I hope you sastified

Big thank to Hinata centric, Chan, andalice9miwa for the reviewes.

Arigato gozaimashu…

.

Balasan review:

Hinata centric: Salam kenal dari Nairi, terima kasih karena sudah mereview… sebelumnya mohon maaf karena nggak bisa update kilat, tapi semoga chap iniyg sekaligus dari last chap, lebih baik dari sebelumnya. Sekali lagi, arigato (^_^)

Chan: Sebelumnya, salam kenal dari Nairi, ya… dan terima kasih sudah mereview. Hinata mungkin masih amnesia pas ceritanya end, tapi paling nggak dia mulai sadar siapa Saisama statusnya, ya, kan? Semoga Chan puas dengan last chap ini, terima kasih banyak…

*Bagi yang log in, sudah sya balas lewat PM, insya Allah…

.