Jungkook membalik kursi terakhir ke atas meja. Memperhatikan jam dinding di atas kasir sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Dia berjalan sedikit terburu ke ruangan hoseok. Mengetuk pintu tiga kali sebelum membukanya pelan. "Hyung? Kau masih di sana?"

Hoseok memutar kursinya menghadap jungkook yang berdiri di pintu. "Kau sudah mau pulang? Mau kuantar?"

"Ya dan tidak." Jungkook mengangguk lalu menggeleng. Menjawab pertanyaan hoseok yang beruntun. "Aku hanya ingin pamit pulang. Kau mau menginap di sini hyung?"

Hoseok menggelengkan kepala, terkekeh. "Aku tidak gila kerja sampai seperti itu. Lagi pula besok hari minggu, restoran tutup." Ia meletakkan kacamata bacanya, seolah mengingat sesuatu hoseok menjentikkan jarinya. Bibirnya membulat penuh. "Aku hampir lupa. Tadi daehyun bilang ada sisa bahan makanan di dapur. Kau bisa membawanya pulang untuk kakakmu."

Jungkook mengangguk. "Baiklah, aku pulang dulu. Kau juga cepatlah pulang hyung. Good night, sir."

"Night." Hoseok memandangi pintu yang mulai menutup. Menghela napas lalu memijit pangkal hidungnya pelan. "Sepertinya aku memang harus cepat pulang. Lalu tidur."

.

SHADOW cake

.

.

BANGTAN!

Disc (c) Shadow Cake

.

Kuperingatkan. Jangan membaca kalau tidak mau membaca. Jangan berkomentar kalau tidak mau berkomentar. Jangan menjadi pecundang, sudah membaca tapi tidak berkomentar.

Tidak ada keuntungan yang kuambil dari fanfiction ini. Kecuali kepuasan.

(Jangan dianggap serius *grin)

.

Rated T+ (Bimbingan Orangtua/? Haha) / Crime / Slice of Life / Action / Bloody Scene / Boys Love / Typo / Cara Penulisan Kurang Profesional / Pairing Dirahasiakan / BTS Fanfiction

.

.

SHADOW cake

.

Berkali-kali jungkook membenahi letak tas ranselnya yang sekarang terlihat lebih menggembung dibandingkan tadi pagi. Seharusnya jungkook menolak tawaran bosnya untuk membawa sisa bahan makanan dari dapur. Tapi jungkook juga tidak tega melihat sayuran yang besok pasti akan layu kalau dibiarkan di sana semalaman. Karena tidak terpakai lagi dan hanya akan berakhir di tempat sampah.

Jungkook menghela napas lagi. Bus yang sejak tadi ditunggunya juga belum datang. Padahal sudah hampir jam sepuluh. "Sial. Aku lupa bawa payung." Tangan jungkook menengadah merasakan air hujan yang mulai turun.

Ia lupa membawa payung karena terburu-buru. Padahal jungkook sudah tahu kalau sekarang adalah musim hujan.

"Ck, payah." Jungkook mengumpat pelan lalu kembali duduk menunggu busnya datang.

Mata kelinci jungkook memperhatikan handband di pergelangan tangan kirinya. Menurunkannya sedikit, memperlihatkan tanda selar sebuah lingkaran dengan huruf aneh yang tidak dimengerti jungkook di tengahnya.

Kadang tanda itu masih terasa panas dan menyakitkan. Gatal. Jungkook bahkan pernah ingin menghilangkannya dengan pisau. Mencoretnya atau mencukilnya. Tapi jungkook tidak pernah punya keberanian. Jungkook takut merasakan sakit. Membayangkan ujung pisau yang tajam menggores permukaan kulitnya saja sudah membuat jungkook merasa ngilu.

Kepalanya menoleh ke samping saat ia merasakan keberadaan seseorang di sebelahnya. Buru-buru merapikan handbandnya. Jungkook hanya merasa kalau tidak ada yang boleh tahu tentang tanda selar itu selain dirinya sendiri.

"Jimin hyung?"

Orang yang dipanggil menunjukkan senyum tiga jarinya pada jungkook. "Hai jeongguk!"

"Kenapa kau bisa di sini hyung? Rumahmu di sekitar sini?" Jungkook mengabaikan kebiasaan jimin saat memanggilnya. Bukan masalah besar.

Jimin terkekeh. "Tidak." Lalu menunjukkan ponselnya pada jungkook. "Aku baru saja mengambil ponselku dari rumah teman. Kau baru pulang kerja?"

"Iya hyung." Jungkook mengangguk mengiyakan. "Tadi seharusnya junhong pulang bersamaku, tapi katanya dia disuruh menjemput ibunya dulu."

"Kau dan junhong sudah lama tidak ikut aku latihan." Jimin memasukkan ponselnya ke saku celana, masih menatap jungkook. "Apa karena kerjaan kalian banyak?"

"Akhir-akhir ini aku menghabiskan hari liburku dengan kakakku hyung. Dia senang sekali diajak jalan-jalan."

"Benarkah?"

Jungkook mengangguk antusias meskipun gurat lelah di wajahnya tidak menghilang. "Yoongi hyung menghabiskan uangku untuk bermain claw machine. Sampai-sampai kami harus pulang jalan kaki. Aku menggendongnya di tengah perjalanan. Aku juga harus istirahat beberapa kali untuk minum."

"Kau tidak jengkel? Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah memarahi kakakmu itu."

"Kau tidak akan bisa marah hyung kalau kakakku saat itu terlihat manis sekali. Aku jarang melihatnya sesenang itu. Sejak kemarin dia terus membawa boneka beruang itu ke mana-mana. Saat tidur, di dapur, nonton tv bahkan dia membawa beruangnya ke kamar mandi."

Jimin ikut tertawa renyah bersama jungkook. Menepuk paha jungkook pelan. "Busmu sudah datang." Matanya mengerling ke arah bus yang datang dari kejauhan. "Aku juga mau pulang dulu. Selamat malam, jeongguk-ah. Sampaikan salamku pada kakakmu ya."

Jungkook balas melambai pada jimin yang mulai berlari, memakai topinya untuk menghindari gerimis agar tidak bersentuhan langsung dengan kepalanya.

.

SHADOW cake

.

"Aku pulang."

Jungkook membuka pintu. Mengernyit bingung. Biasanya pas jungkook pulang, lampu ruang tamu masih terang. Karena sedikit was-was dia dengan cepat berjalan ke arah saklar menyalakan lampu setelah meletakkan sepatunya di rak. Hanya untuk mendapati Yoongi tidur di sofa ruang tamu.

Perasaan lega menyelimutinya. Paling tidak kakaknya ada di rumah. Jungkook ke dapur lebih dulu untuk menyimpan bahan makanan. Lalu kembali ke ruang tamu membangunkan yoongi yang tertidur sambil memeluk boneka beruangnya.

"Hyung." Jungkook menepuk pipi yoongi pelan. Membuahkan lenguhan. Yoongi hanya mengubah posisinya menjadi membelakangi jungkook.

Menghela napas. Jungkook memilih membopong kakaknya ke kamar. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar dan itu mengharuskan jungkook berbagi ranjang dengan yoongi. "Uh, hyung kau berat sekali."

.

Biasanya jungkook membutuhkan setengah jam untuk mandi sepulang kerja. Tapi dia membuat pengecualian untuk hari ini. Belum genap sepuluh menit jungkook sudah keluar dengan celana training dan kaos singlet hitam. Jungkook hanya mengantisipasi kalau dia terlalu lama di bathtub bisa-bisa dia kebablasan tidur. Dan kulitnya mengkerut semua. Seperti kakek-kakek tua. Beruntung kalau hanya mengkerut, bagaimana kalau jungkook tenggelam di bathtub lalu mati? Bahaya.

"Seharusnya aku mandi pakai air dingin saja tadi." Jungkook membiarkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut tersampir di kepalanya saat ia mengeluarkan lagi banyak sayuran yang dibawanya dari restoran, sedikit daging yang tersisa dari dalam kulkas dan ramyun instan di rak. Sebenarnya dia tidak tega menghabiskan daging yang tinggal sedikit itu. Tapi seminggu ini jungkook sudah menahan diri untuk tidak makan daging. Jadi kali ini biarkan jungkook egois.

Di sela kegiatannya menunggu air yang ia panaskan mendidih, bel rumahnya terdengar. Jungkook menghela napas panjang, mengecilkan api kompor lalu pergi membukakan pintu.

"Jangan menekan bel terus-terusan hyung. Nanti kau membangunkan kakakku." Jungkook melebarkan sedikit matanya pertanda dia sedang marah karena diganggu.

Tamu tak diundang di depan jungkook hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Berdeham sebentar. "Aku ingin memberi kakakmu ini. Berhubung aku baru pulang dari jalan-jalan."

Mata jungkook kembali normal. Melirik kantung belanja yang diulurkan padanya.

Daging.

Daging.

Daging semua.

"Hyung, kau memberi kakakku daging? Kenapa?" Jungkook penasaran. Kenapa kakaknya bisa mendapatkan daging sebanyak ini? Dari tetangga sebelah. Gratis lagi.

"Kemarin kakakmu membantuku membersihkan rumah. Aku pikir dia suka daging karena saat makan siang dia hanya makan dagingnya saja dan menyisakan semua nasinya."

Jungkook mengedipkan matanya sekali. Benar. Yoongi hyung tidak pernah makan nasi kalau tidak dipaksa jungkook. "Kalau begitu terima kasih hyung. Selamat tengah malam. Semoga tidurmu nyenyak." Belum sempat mendengar balasan, jungkook lebih dulu menutup pintu.

Terburu-buru kembali ke dapur. Antara takut air yang tadi ia panaskan akan habis menguap atau terlalu senang karena sekarang banyak daging yang akan mengisi kulkasnya. Dan dia tidak akan merasa bersalah lagi karena menghabiskan sisa persedian daging mereka minggu ini. Ingatkan jungkook untuk berterima kasih pada kakaknya besok pagi.

.

SHADOW cake

.

Sekarang hari minggu. Akhir pekan. Hari libur. Dan hari tidur panjang untuk jungkook. Semalam dia tidur jam setengah tiga pagi karena nonton pertandingan bola di televisi.

"Huwahhh! Aku tidak bisa bernapas!" Jungkook mendudukan dirinya tiba-tiba. Ia bermimpi sedang tenggelam. Kakinya ditarik gurita raksasa berwarna merah, wajahnya mengerikan. Sampai membuat napasnya jadi sesak.

"Selamat pagi." Ternyata kakaknya yang menutup hidung jungkook sampai susah bernapas.

"Hyung, aku bisa mati kehabisan napas." Jungkook protes, mengerutkan dahinya tidak suka.

Yoongi mengedipkan matanya dua kali. Duduk bersila di samping jungkook, memeluk beruang dan menopangkan dagu di atas kepala beruangnya. "Mati? Apa itu makanan? Enak?"

Menghela napas, jungkook mengusap mukanya. Mengucek kedua matanya yang masih sipit. "Kenapa hyung membangunkanku?" Tidak menjawab pertanyaan yoongi.

"Ah. Aku memasak enak. Ayo sarapan. Kelinci suka daging kan? Tadi pagi aku lihat banyak sekali daging di dalam enng fris.. eng..."

"Freezer."

"Ngah! Furizereu!" Jungkook berpikir kenapa kakaknya tidak menyebut kulkas saja daripada freezer?

"Tapi yoongi hyung bisa membangunkanku dengan lebih lembut kan." Jungkook mencebilkan bibirnya.

"Lebih lembut?" Yoongi berpikir agak lama dengan jari telunjuk di bibirnya. Kemudian sebelah tangannya meraih pipi jungkook, mengelusnya pelan. "Selamat pagi kelinci." Jungkook melihat kakaknya tersenyum lucu saat mengucapkan kalimat sapaan paginya. Membuat jungkook tersihir untuk ikut tersenyum.

Kiss.

Dan ciuman selamat pagi dari yoongi di kening jungkook.

"Selamat pagi hyung."

.

SHADOW cake

.

Badannya yang dibalut jaket parasit sudah berkeringat penuh. Meskipun sekarang hujan bisa datang kapan saja, hoseok bersyukur minggu paginya tidak hujan. Karena dia sudah berencana untuk lari pagi keliling taman.

Hoseok mencari bangku taman yang kosong. Berbagi dengan orang lain bukan masalah, paling tidak ada ruang untuk hoseok duduk. Dia sudah hampir satu jam mengelilingi taman, dia lelah dan dia ingin duduk. Istirahat. Minum sebentar.

Hoseok menemukan bangku itu. Bangku yang bisa dia pakai. "J hope?" Tunggu.

Lima langkah lagi hoseok bisa merehatkan bokongnya di tempat yang layak. Tapi karena dia lebih terpaku pada ruang bangku yang kosong, hoseok melupakan orang yang sudah duduk lebih dulu di sana. Dan orang itu memanggilnya, apa tadi? J hope? What the?! Itu inisial hoseok masa sekolah menengah!

"Seokjin sunbae?!"

Astaga. Ya tuhan.

.

.

To be Continue

.

A/n.

1. Kalau ada typo akan segera diperbaiki. Hahaha.

2. Terima kasih reviewnya. Terima kasih alertnya. Terima kasih. Oh iya, apa boleh nama kalian aku tulis di sini? Besok di akhir chapter kalau ff ini sudah selesai? Karena sudah review ff aku. Tidak keberatan?

3. Aku tidak bisa kasih tahu sekarang, ada apa dengan suga. Yang jelas suga tidak gila hahaha. Tapi kayaknya di sini keliatan kan ya suga itu kenapa?

4. Di sini aku mau bikin ffnya dari sudut jungkook, hoseok sama kelompok bangtan.

Membosankan? Cara penulisan tidak enak dibaca? Pemilihan kata buruk? Makanya kasih masukan. Kasih saran. Kasih pelajaran. Biar aku tau.

.

Sign,

SHADOW cake