Pada suatu hari, di mana mentari pagi menyinari begitu hangatnya di hari minggu, terlihat sepasang anak sedang bermain kejar-kejaran dengan senangnya, di sebuah halaman belakang rumah bernuansa oriental yang kental.
"Tunggu, Kak Boruto," sang gadis kecil begitu kewalahan mengejar kakaknya yang begitu energik serta bersemangat.
"Ayo, Dek. Tangkap aku selagi bisa," senyum lebar terlukiskan diwajah sang Kakak.
Mereka terlihat menyenangkan, menikmati permainan mereka dengan hati riang gembira. Bahkan seorang wanita dengan kecantikan oriental tingkat tinggi, menampakan senyum keibuan yang menyejukan hati siapa saja yang melihatnya.
"Hati-hati, anakkku sayang. Jangan sampai terjatuh karena terlalu bersemangat."
"Hati mereka begitu gembira,benar-kan sayang?" sang Suami hadir di samping istri tercintanya, tertarik untuk menikmati kesenangan dan kebahagian yang begitu menular di rumahnya.
"Mereka gembira karena akhirnya mereka bisa menikmati tiga hari bersama ayah mereka."
"Tiga hari yang sangat berharga, berlalu begitu cepatnya. Aku merasa bersalah karena tidak mampu memberikan waktu yang begitu banyak untuk keluargaku, terutama anak-anakku, sebagai ayah."
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu telah menjadi ayah yang baik untuk mereka, serta suami yang hebat untukku," sang Istri melontarkan pujian dengan senyumnya yang khas. Indah, cantik, dan menyejukkan hati.
"Maaf lagi-lagi aku harus meninggalkanmu beserta anak-anak kita untuk waktu yang lama," nada penyesalan terdengar dalam ucapan sang Suami.
"Tidak apa-apa, Suamiku sayang," sang Istri kemudian menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain kejar-kejaran, "Mari kita mengatar Papa kerja."
Kedua anak itu menangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka langsung berlari menuju ayahnya, mengandengnya di kedua sisi dengan riang.
"Pa, kali ini Papa kemana?" tanya sang Kakak.
"Papa akan ke Eropa. Mau dibelikan oleh-oleh?"
"Mau,Pa!" jawab sang Adik.
"Mau dibelikan apa, anakku sayang?" sang Ayah tersenyum ke kedua anaknya.
"Aku mau robot-robotan."
"Aku mau boneka."
Papa tersenyum kembali mendengar jawaban anaknya. Mereka saling bencengkrama dengan riang gembira, dengan Mama yang sesekali tertawa kecil ketika melihat kelakuan mereka tepat di belakang. Hingga tak terasa mereka sampai di depan rumah, dan di sana telah menunggu jip militer beserta sopir yang sudah membuka pintu belakang jip tersebut.
"Papa berangkat dulu, baik-baik di rumah dan jangan merepotkan mama," Ia mengatakannya sambil mencium kening kedua anaknya.
"Baik, Pa!"
"Aku pergi dulu, Sayang. Jaga anak-anak kita," Ia juga berpamitan dengan istrinya, disertai ciuman hangat kepada istri tercinta sebagai tanda bahwa ia menyayanginya.
"Hati-hati, Sayang."
Di dalam jip, dalam perjalanana menuju lapangan udara…..
"Sepertinya keluarga tuan Uzumaki tidak menyadarinya."
"Ya, kau benar, Katakura."
Ia menampakkan wajah bersalah, sambil mengamati pemandangan luar melalui kaca jendela samping. Ia ditugaskan oleh Komandan Tertinggi untuk menjadi perwakilan JSDF untuk Enigma, kerjasama militer luar biasa yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Kenapa dikatakan luar biasa? Apa yang membuat kerjasama militer ini lain daripada yang lain?
Ini bermula ketika di seluruh dunia muncul kejadian abnormal, kejadian yang seharusnya manusia biasa tidak mampu melihatnya ataupun merasakannya, mulai merasakan dampak dari aktifitas supernatural. Pertama kali muncul di Eropa, dengan munculnya perasaan yang sama pada seluruh manusia di sana. Perasaan terhadap aura suci, mirip aura pahlawan yang agung. Terasa sangat kuat di Perancis, dan dikabarkan pangkalan militer di sana mengalami malfungsi massal pada alustista yang mereka miliki.
Kemudian, menjalar ke negara-negara tetangga, meskipun dampaknya tidak sehebat di Perancis, namun begitu, merepotkan dan membuat para perwira militer kalang kabut. Saat masalah ini belum mereda, muncul lagi laporan adanya manusia yang hilang secara misterius. Dikabarkan, yang hilang secara misterius ini merupakan manusia-manusia yang dikatakan berbeda, dan ada laporan mereka mengalami diskriminasi karena mereka dikatakan indigo, ataupun memiliki kemampuan semacam poltergeist, dan sebagainya.
Dan akhirnya negara-negara di dunia dengan pertimbangan sisi spiritual(?) dan supernatural(?), serta humanity(?), mereka membentuk kerjasama pertahanan, karena melihat dampkanya yang begitu membahayakan bagi manusia yang ada di dunia ini.
"Kuasa manusia yang bisa mereka lakukan saat ini untuk dunia mereka. Manusia akan bertindak dengan sungguh-sungguh ketika mereka dihadapkan dalam kondisi yang bisa membuat mereka sangat rugi."
"Maksud tuan, Enigma?"
"Bukan hanya mereka," Ia langsung memalingkan tatapannya ke depan. Lapangan udara sudah terlihat dalam pandangannya, "Yang berkaitan dengan supernatural, berkaitan pula dengan nyawa."
"Karena mereka memiliki senjata yang sangat dahsyat. Dikabarkan mereka memiliki salah satu senjata yang bisa membunuh Tuhan."
"Dalam suatu kepercayaan yang tertulis bersama senjata tersebut," Ia tersenyum pahit, "Di dunia ini banyak kepercayaan. Tapi sepertinya, dari perkataanmu, kau telah menemukan sesuatu tentang mereka,eh."
"Belum pasti."
"Seperti yang diharapkan dari keturunan ksatria agung," Ia tertawa ringan.
"Tidak sebanding dengan tuan yang sudah dekat dengan hal-hal supernatural seperti tuan, yang membuat tuan masuk ke dalam Enigma. Dan mereka tahu apa itu mereka."
Tak teresa mereka telah sampai di lapangan udara. Katakura membawa jip militer menuju dekat dengan pesawat yang akan membawa Naruto Uzumaki, tuannya, menuju ke Eropa.
"Terima kasih, Kojuro Katakura."
"Sama-sama tuan, dan jangan memanggil saya dengan nama tersebut," Katakura membenarkan posisi kacamatanya dengan tangan kirinya, setelah melakukan sikap hormat untuk tuannya sekaligus komandannya di JSDF.
"Seharusnya ia cukup memanggilku dengan margaku atau pangkatku di militer. Apa boleh buat, ia serta keluarganya melayani Hyuuga," batin Uzumaki sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Kuasa Manusia
sebuah cerita tentang pembukitan manusia di dunia mereka
©Project Prototype (AU)
Hari yang cerah, hari yang cocok untuk menikmati teh hangat di kebun yang asri. Budaya Inggris, tentu berlaku bagi sebagian besar orang Inggris, tak terkecuali Ladius. Ia sedang menuju ke gazebo yang terbangun elegan di tengah kebunnya yang indah. Ia ingin menikmati teh yang telah disiapkan oleh salah satu pelayannya.
Ketika ia hendak menuju ke gazebo, di mana sekarang ia sedang berada di teras belakang rumah yang langsung tersambung ke kebun melalui jalan setapak kecil, ia melihat seorang gadis, tenang berdiri di atas rerumputan yang hijau. Mulutnya merapalkan kalimat yang indah, meskipun hanya terdengar samar di telinga Ladius. Angin tampak perlahan menari-nari di sekitarnya, Ia terlihat menyatu dengan alam.
"Sedang berlatih?"
Gadis tersebut sedikit terkejut, lalu dengan sekejap ia tersenyum.
"Teh anda sudah siap, tuan," Ia mempersilahkan tuannya menuju ke gazebo untuk menikmati teh hangat di sore hari.
Ladius tersenyum melihat respon manis yang diperlihatkan pelayannya tadi. Gadis pelayan yang sedang berlatih sihir alam dengan balutan gaun dengan perpaduan indah putih dengan merah muda, serta telinga runcing yang cocok dengan wajahnya yang cantik. Siapa yang tidak jatuh hati jika melihatnya? Bahkan Peter Ladius yang terkenal dengan kesannya yang sedikit cuek, luluh dengannya. Bahkan sekarang, ia masih menampakkan senyum kecil di wajahnya ketika ia minum teh.
"Tidak biasanya tuan tersenyum hari ini," Pelayannya saja keheranan dengan sikap tak biasa Ladius sore ini.
"Sihirmulah yang membuat hatiku rileks hari ini, Ellis. Memang high-elf ahlinya dalam berinteraksi dengan alam."
"Tuan terlalu memuji saya," Ellis merendah, "Saya dengar tuan telah setuju bergabung dengan Enigma."
"Memang benar," Ladius terus menikmati teh Assam kesukaannya, "Tolong jaga House of Ladifour untukku, Ellis."
"Tuan," Ia memandang tuannya dengan wajah sedikit sedih. Entah apa yang membuatnya demikian, namun ia segera menyingkirkan perasaan tersebut dan kembali menampakkan ekspresi ramah.
"Dan juga, tolong berhenti memanggilku dengan panggilan tuan. Cukup dengan Ladius saja. Tolong beritahu ke Miria juga. Tidak enak jika aku dipanggil terus-menerus sebagai tuan, karena kalian sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Aku menganggap Miria sebagai kakakku sendiri dan juga dirimu sebagai ibuku sendiri."
"Tuan ini, padahal tuan sendiri memiliki ibu yang pasti menyayangi anda selalu, meskipun berada di timur sana," Ellis tertawa kecil.
"Benar perkataanmu, Ellis."
"Jangan berlebihan, oke? Saya khawatir jika tuan terlalu antusias tentang idealisme itu,"
"Tidak, tidak akan. Satu lagi, baru saja aku memberitahumu, dan kamu lagi-lagi melupakannya."
"Eh, maafkan aku, tuan, eh, maksudku, Ladius. Ngomong-ngomong tentang lupa, saya hampir melupakan tentang upacara yang harus dilakukan untuk anda."
Seolah teringat akan sesuatu, Ladius mengehela napas panjang. Ia tahu, upacara yang dimaksudkan oleh Ellis adalah upacara seperti penobatan. Upacara yang akan menggantikan marganya dari Ladius menjadi marga asli keluarganya, Ladifour.
"Aku merasa, aku masih belum layak menyandang nama itu. Aku bahkan tidak sehebat Ayah," Ladius menampakkan wajah masam.
"Anda sangatlah hebat, Ladius. Anda pasti layak menyandangnya, jadi jangan merendahkan diri anda, Ladius," ucap Ellis sambil mengisi kembali cangkir teh Ladius yang hampir kosong.
02:00 a.m. (GMT)
Seharusnya manusia telah terlelap dalam tidurnya, bermain-main di dalam mimpi mereka masing-masing. Namun, di House of Ladifour melakukan hal sebaliknya. Mereka sedang melaksanakan upacara, bisa juga disebut sebagai ritual. Upacara untuk menobatkan Peter sebagai kepala keluarga resmi Ladifour.
Peter fokus dalam mengalirkan sihir-sihir di dalam tubuhnya, seragam formal Enigma yang dikenakannya melambai-lambai, yang hampir serupa dengan seragam Allgemeine SS dengan perbedaan tidak adanya unsur swastika dan juga armband merah dengan lambang pedang bersayap, dibalut dengan trench coat hitam dengan epolet perak yang menandakan bahwa ia berpangkat Leutnant.
Chiamata All'altare
Lingkaran sihir yang telah dibuat di atas lantai menyala hijau. Sangat terasa aliran sihir yang kuat menuju ke pusat lingkaran tersebut. Mungkin bagi orang biasa, jika mereka berada di dekatnya akan mengalami sesak napas, karena konsentrasi tinggi layaknya ruang dengan udara yang dikompres dengan tekanan tinggi.
Inizio!
O noble spirit, on assistance to my family, dedication for the purposes of my family, I ask once again to borrow your strength,
Aliran sihir semakin kuat, Dan di atas lingkaran sihir mulai terbentuk wujud pemanggilan oleh Ladius, dengan bantuan Miria dan Ellis. Miria sebagai pendukung dan peningkatan kemungkinan berhasil sementara Ellis sebagai pengendali dengan kekuatan sihir alamnya yang lembut, dikarenakan sihir dengan intensitas dan kapasitas gila telah memenuhi ruangan ini.
RISE UP!
Cahaya menyilaukan langsung terpancar begiitu Ladius mengakhiri rapalan pemanggilan, yang menandai upacara ini telah selesai. Setelah cahaya yang begitu menyiluakan telah musnah, munculah seorang seperti dewi dengan rambut bewarna turquoise, iris bewarna ungu, dan bagian yang paling mencolok, pakaiannya yang terbuka.
"Apakah anda tuan saya?" Dewi tersebut memecah keheningan dalam ruangan bawah tanah ini.
"Benar. Peter Ladifour, meminjam kekuatanmu untuk meraih tujuanku."
"Baik," Dewi tersebut menghilang, merubah wujudnya menjadi roh. Kemudian, muncul tanda segel sihir dalam punggung tangan kiri Ladius.
"Kali ini punggung tangan, setelah 2 abad berlalu," Ellis tersenyum melihat suatu hal yang sudah lama tidak dilihatnya. Lama sekali, bagi umur manusia, "Akan tetapi, tanda sihirnya seperti bertumpuk. Seperti ada 2 tanda sihir berbeda menjadi satu."
"Maka kemungkinan ada yang terpanggil selain Dyshana."
"Saat ini kita tidak dapat mengatasinya. Ladius, berhati-hatilah, jikalau itu terlalu agresif, maka musnahkanlah dengan perintah mutlak."
"Baik, Miria," Ladius kemudian memakai sarung tangan yang tergeletak di meja tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ada sesuatu yang harus anda miliki, Ladius," Ellish menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang.
"Ini," Ladius terkejut melihat isi dari kotak sedikit usang tersebut. Sebuah pistol, perpaduan gaya klasik dan modern menjadi identitas bentuknya. Larasnya sedikit lebih panjang daripada pistol pada umumnya, dan memiliki sebuah switch yang mengubah mulut pistol dari lingkaran menjadi celah sempit berbentuk segi empat.
"Ini milik ayahmu. Seharusnya ini ada sepasang, namun yang satunya telah hilang entah kemana."
"Voice of Executions, Terima kasih, Ellis," Ia kemudian menepuk lembut kepala Ellis, membuatnya hanya bisa tersenyum dengan rona tipis merah jambu di pipinya.
"Sudah saatnya untuk berangkat, Ladius."
"Baiklah, tolong urus mansion ini selama aku pergi."
"Sebelum itu Ladius, tolong tundukkan kepalamu sejenak," Ellis mencium kening Ladius, sebagai tanda kasih sayangnya terhadap Ladius, "Tolong kembalilah dengan selamat, oke?"
"Aku janji," Ladius kemudian mengenakan topi visornya, bersiap-siap untuk meraih tujuannya sebagai manusia.
Idealisme-nya sebagai seorang manusia.
Bersambung…
Terinspirasi dari Fate Series dan Agarest: Generation of War
Manusia? Kau yakin?
Namaku Ladifour. Jikalau kalian semua bertanya-tanya tentang sesosok 'aku' di dalam kumpulan tulisanku yang berisikan perjalanan hidupku serta idealisku. Kalian dapat menemukan ini dalam sebuah surat yang tersembunyi di dalam liontin istriku. Yah, aku melipatnya hingga kecil sekali. Jika telah menemukannya, tolong simpan baik-baik untuk diwariskan kepada keturunanku kelak. Yang berati, kamu, anakku. Tolong ingat pesan ayahmu, kakekmu, kakek buyutmu.
Aku tidak akan menulis banyak, namun perlu diketahui, kita tidak sendirian di dunia ini, nak. Mereka benar-benar nyata. Kau tahu maksudku kan?
Janganlah takut, percayalah pada dirimu sendiri. Sword of Oaths akan senantiasa melindungimu.
Aku merasa pada suatu saat nanti, para manusia yang terkenal di zamanku, bahkan di zaman sebelumku, bangkit dan mencari tujuan sejati mereka. Untuk itu, tolong, bertemulah dengan gadis Perancis. Hanya bertemu.
Satu lagi, jangan termakan dengan tujuanmu, oke? Jatuh cintalah, menikahlah. Ini pesan dari istri tercintaku, Valeria.
Aku menyerahkan semua keputusan kepadamu. Buatlah jalan hidupmu.
Berjuanglah apa yang kau angap benar, Lindungilah orang yang berharga bagimu.
-Ladifour-
Oke, Arata Gocharenko kembali.
Terima kasih atas kritiknya, serta pujiannya :)
Tolong kritik serta sarannya lagi, dan jikalau kalian semua ada pertanyaan, fell free to ask. Saya akan menjawabnya dengan sepenuh hati :)
Akhir kata, terima kasih telah membaca :) dan sampai jumpa di waktu yang akan datang :)
Salam hangat,
-Arata Gocharenko-
