Senin, 4 Februari 2013
"Anezaki, untuk kado nya kita beli masing-masing saja atau bagaimana?"
"Hm, terserah kau saja Taka-kun" kata Mamori sambil mengerjakan berkas-berkas yang diberikan Hiruma.
"Baiklah kalau begitu masing-masing saja ya, supaya ada banyak kado"
"Yang mau berulang tahun kan Hiruma, Taka. Kenapa kau yang menanti-nantikan kado nya?" Tanya Yamato
"Memangnya kenapa? Aku suka melihat hadiah" kata Taka dengan mata berbinar-binar
"Ya, ya, terserah kau saja Taka. Anezaki, apa mantan anggota DDB tidak di beri tahu?"
"Hm, ya aku sudah memberitahu mereka semua, tapi sepertinya mereka semua sedang sibuk untuk berpartisipasi di acara nanti"
"Begitu... padahal akan lebih menyenangkan kalau ramai"
"Tapi sepertinya mereka akan datang, sepertinya"
"Untuk dekorasi ruang club nanti aku, Taka, Akaba, dan Ikkyu yang mengurusi… Oh, ya Anezaki, bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?" tanya Mamori menghentikan pekerjaannya itu untuk melihat Yamato.
"Itu, acara 'mendiamkan Hiruma'. Bagaimana denganmu?"
"Yah, sejauh ini baik-baik saja. Kalian sendiri bagaimana?"
"Hei, kenapa wajahmu merah begitu? Pasti terjadi sesuatu ya~?"
"Ti-tidak! Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Hahaha, akan ku cari tahu Anezaki... Yaah, sulit juga untuk mendiamkan orang seperti dia waktu latihan, kami hanya merespon sedikit seperti 'ya' atau 'tidak'. Tapi sepertinya dia tidak terlalu peduli"
"Hm… begitu. Yamato-kun, hari ini tidak ada latihan sore kan?" tanya Mamori sambil membereskan peralatan tulisnya.
"Sepertinya begitu, tadi Hiruma bilang dia akan ada urusan. Kenapa?"
"Aku mau cari hadiah untuknya, kalau begitu sampai besok ya. Jaa, mata ao. Taka-kun, aku pulang duluan ya"
"Jaa ne"
"Anezaki"
"Hm? Ada apa lagi Yamato-kun?"
"Bukankah lebih baik kau beristirahat? Ku lihat dari tadi kau sibuk ke sana kemari. Kalau kau sakit nanti tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan manajer lho"
"Ahaha, kau ini bisa saja Yamato-kun, terima kasih sudah mengingatkan, aku pasti istirahat setelah beli hadiah untuk You-Hiruma-kun. Jaa mata ne"
B'DAY
"Taka, ayo temani aku beli peralatan dekorasi"
"Mau beli di mana?"
"Dekat rumahmu saja, di sana ada toko seperti departement store yang menjual seperti itu kan?"
"Ah, iya. Ya sudah, ayo jalan"
Yamato dan Taka akhirnya sampai di toko yang mereka bicarakan itu. Begitu mereka memasuki toko, mereka di sapa oleh penjaga itu. Dan mulai memilih-milih peralatan dekorasinya. Yamato mengambil pita renda berwarna hitam dan merah. Taka mengambil balon berwarna hitam dan merah.
"Hei, Yamato"
"Apa?"
"Kau tahu, peralatan pesta yang bentuknya seperti kerucut yang ukurannya kecil dan ada talinya di ujung. Kalau kita tarik talinya bunyinya seperti meledak dan mengeluarkan pernak-pernik begitu. Itu namanya apa?"
"Aku tidak tahu, tapi aku tahu maksudmu. Ah, itu dia. Ambil saja Taka"
"Apa kau memerlukan topi pesta juga?"
"Seperti anak-anak saja"
B'DAY
De Louis Cake Store
"Selamat datang di De Louis tuan, ada yang bisa kami bantu?" sapa penjaga toko perempuan itu pada Jumonji.
"Aku mau pesan kue ulang tahun"
"Ya silahkan, ini kami punya berbagai macam desainnya, anda bisa memilih dulu" kata penjaga toko itu mengeluarkan sebuah buku album jenis-jenis kue tart.
"Aku sudah punya desainnya, ini aku mau yang seperti ini"
"Eh- I-ini"
"Kenapa? Simple saja kan, bentuk kue persegi, nanti di beri tulisan Happy Birthday Hiruma Youichi, dan gambar bentuk bola amefuto itu" tanya Jumonji heran melihat penjaga toko ini.
"I-iya, baik tuan. Silahkan tinggalkan nomor telepon anda di sini. Nanti akan kami hubungi jika pesanan anda sudah jadi"
"Baik"
B'DAY
Kediaman Jumonji
KRIIING
"Hm? Nomor siapa ini... Halo?"
"Selamat malam, dengan Tuan Jumonji Kazuki?"
"Iya, siapa ini?"
"Kami dari De Louis Cake, kue pesanan anda sudah siap, mau kami antar sekarang atau bagaimana?"
"Tidak usah, besok aku akan mengambil dan bayar langsung di sana"
"Baik. Terima kasih"
"Hm. Ya"
"Cepat sekali, sepertinya aku baru memesan sekitar empat jam yang lalu" kata Jumonji heran sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
.
.
Mamori P.O.V
Di sini lah aku di pusat perbelanjaan yang letaknya kira-kira di antara Saikyoudai dan apartement kami. "Hm... apa ya kira-kira hadiah untuk Youichi... baju... tidak, jaket... dia punya banyak, sepatu... aku tidak tahu ukuran kakinya. Ah! Aku frustasi memikirkan hadiah saja"
BRUG
Aku tidak sengaja meluapkan rasa frustasi ku ini sampai menabrak seseorang yang berbadan besar dan tinggi... sepertinya aku mengenal orang ini. "Ah, maafkan sa- Kakei-kun?"
"Hm? Manajer Deimon?"
"A.. aku sudah lulus dari Deimon, Kakei-kun. Maafkan aku sudah menabrakmu tadi" katakusambil membungkukkan badan.
"Ah, ya tidak apa-apa, apa yang sedang kau lakukan di sini? Sendirian?"
"Iya, aku sendirian, aku mau mencari sesuatu. Kau sendiri sedang apa Kakei-kun? Sendirian? Bukankah kau ada di Amerika?"
"Ya. Aku mau mencari hadiah ulang tahun untuk kakak perempuanku, tapi aku bingung apa yang harus aku beli. Aku sedang berlibur ke Jepang"
"Oh, kau punya kakak perempuan? Pasti cantik ya"
"Hahaha ya begitu lah, kau tak kalah cantik kok"
"Ahaha, kenapa jadi aku… Kakei-kun, bagaimana kalau kita mencarinya bersama? Mungkin aku bisa membantumu?"
"Hm, baiklah. Mohon bantuanmu ya Anezaki" kata Kakei-kun tersenyum padaku
B'DAY
Normal P.O.V
Pria tinggi berkulit putih, rambut spike pirang, mata hijau emerald, Hiruma Youichi. Sedang berjalan menuju arah pulang menuju apartementnya. Ekspresi wajahnya saat ini dapat dikatakan tengah kesal, sangat kesal. Karena Mamori meninggalkannya di kampus begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu, Ia juga kesal dengan anggota tim nya sewaktu di tanya, mereka semua pergi berhamburan menjauhi dia.
Lalu, langkahnya berhenti ketika ia mulai melewati pusat perbelanjaan yang letaknya berada di antara Saikyoudai dan apartementnya. Ya… Dia melihat Mamori dan Kakei sedang melihat-lihat benda yang ada di pusat perbelanjaan itu. Dia lebih shock lagi ketika melihat mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Kakei tertawa kecil begitu melihat ekspresi Mamori yang sedang menggembungkan pipinya karena Kakei menjulurkan boneka teddy bear ke arahnya lalu ia tersenyum malu pada Kakei. Tanpa sadar. Hiruma mengepalkan tangannya dan giginya bergemeletuk.
'Sialan… Tch, lebih baik aku pulang'
Dan Ia segera meninggalkan tempat itu dan mempercepat langkahnya menembus udara dingin kota Tokyo yang baginya sangat panas ini.
"Kakei-kun, dia itu laki-laki, masa aku beri boneka teddy bear seperti ini?" kata Mamori menggembungkan pipinya.
"Hm.. Laki-laki rupanya, pacarmu ya? Hiruma Youichi itu?" goda Kakei
"Eh.. Um.. I-Iya. Bagaimana kau tahu?" sahut Mamori tersenyum malu-malu
"Hahaha rumor. Tidak perlu malu-malu begitu Anezaki. Kenapa tidak kau buat syal saja? Kan lumayan untuk udara dingin seperti ini"
"Kalau buat, tidak akan cukup waktu, ulang tahunnya sebentar lagi, tanggal 6 bulan ini"
"Begitu… kau beli saja syal nya lalu kau rajut lagi seperti namanya atau apa"
"Hm, ya benar juga, ya sudah, aku beli syal dan beberapa alat jahit"
Setelah Mamori dan Kakei selesai berbelanja untuk hadiah, mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu Mamori membuka pintu apartement, dia terkejut melihat Hiruma yang berdiri di depan tempat melepas sepatu. Ia menggunakan sweater berwana hitam serta celana panjang hitam. Pengguna kacamata berbingkai hitam ini berdiri tegak dengan kedua tangannya bersembunyi di balik kantung celananya, wajahnya terlihat kesal tapi masih dapat ia sembunyikan dengan poker face andalannya.
'Ya ampun, kenapa Youichi ada di sini? Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak pandai dalam menghindari dia. Dia pakai kacamata... tampan'
"Darimana kau?"
Mamori tidak mungkin menjawab 'pusat perbelanjaan, membeli hadiah untuk mu'. Dia memilih untuk menunduk dan diam. Berpikir bagaimana caranya bisa lewat dari pertanyaan Hiruma ini.
"Apa.. maumu?"
"Aku bertanya kau menjawab, bukan aku bertanya kau bertanya!"
"..."
"Jadi ini caramu. Sudah punya pacar tapi pergi dengan laki-laki lain"
"Ti-tidak-"
"Tidak salah lagi bukan?" kata Hiruma sambil tersenyum... sedih? Dan berbalik badan menuju ruang tamu atau kamarnya meninggalkan Mamori.
"You, aku bisa menjelas...kan"
'Kepalaku pusing lagi, sial! Aku lupa kalau aku belum makan dari semalam, bodoh bodoh bodoh Mamori bodoh! Bagaimana kau bisa lupa? Lihat, sekarang kau nyaris jatuh ping-'
B'DAY
Gelap… Kenapa gelap sekali?
Umm…?" kenapa aku ada di kamar? Apa yang tadi itu hanya mimpi? Baguslah kalau memang mimpi karena itu mimpi yang sangat buruk, Youichi, dia salah paham. Tapi kalau itu mimpi berarti barang yang ku beli otomatis tidak ada? Haah.. lebih baik aku segera man- Eh? Aku... tidak bermimpi. Ini, baju ini aku pakai baju ini. Lalu, itu tas ku yang aku gunakan dan ini tas yang berisi syal dan peralatan jahit tadi. Kalau begitu Youichi...
"Sudah bangun eh?". Suara ini... Youichi. Ya, dia sedang berdiri di depan pintu kamarku, sejak kapan dia ada di sini?
"Youichi... ada apa ini sebenarnya?"
"21 jam 23 menit 10 detik kau mendiamkanku, menghindariku, dan sejauh ini kau sudah bisa berbicara padaku lebih dari 4 kata.. Hm.. lama juga ya" kata Youichi sambil melihat jam dinding yang ada di kamar ku.
'Gawat, aku keceplosan!'
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Ia menghampiri ku yang sekarang duduk di kasurku dan ia juga duduk di pinggir kasur ini. Aku sudah mengkhawatirkannya, nanti aku harus minta maaf karena sudah mendiamkannya.
"Baik" kataku sambil kembali meringkuk dalam selimut membelakangi Youichi menghadap tembok, menghindari kontak dengannya.
"Masih tidak mau bicara?"
Tentu saja tidak, kalau begitu acara diam-diaman ini bisa berakhir, tapi aku harus menjelaskan salah paham tadi.
"Hei, ingat kata-kataku semalam?"
Iya, iya, aku ingat kok
"Jaga kesehatanmu Manajer Sialan bodoh. Makan yang benar, jangan makan makanan menjijikkan itu terus. Aku tidak mau menggendongmu lagi gara-gara kau pingsan" kata Youichi, nada nya terdengar kesal, lagipula siapa suruh menggendongku, aku kan tidak minta di gendong.
"Jangan pura-pura tidur, ayo bangun, kau harus makan". Youichi menarik selimut yang aku gunakan untuk bersembunyi ini.
"Tidak maaaauu" kata ku sambil menarik kembali selimut yang dibuang Youichi ke lantai.
"Ayo cepat! Kau yang sedang sakit itu merepotkan tahu!"
Mau tidak mau aku harus makan, sebenarnya aku tidak merasa lapar setelah menelan omelan-omelannya tadi. Di meja makan sudah tersedia semangkuk bubur ayam yang masih mengepul. Apa ini? Siapa yang memasak? Kulirik Youichi yang duduk di depan ku. Ah, dia masih menggunakan kacamata itu, aku baru sadar.
"Apa? Kau meragukan kemampuan memasakku hah?"
Lalu aku kembali menatap semangkuk bubur ini, baunya harum. Lebih baik cepat-cepat ku makan daripada dia mengamuk. Enak... aku tidak tahu kalau dia bisa memasak. Ku habiskan bubur ini sampai habis dalam diam karena Youichi juga tidak membuka suara.
"Ini obatnya, cepat di minum" kata Hiruma dengan segelas air putih dan tablet obat di tangan kiri kanan nya. Aku segera meminumnya dan beranjak dari sana untuk mencuci mangkuk itu. Tapi Youichi melarang dan menyuruhku kembali ke kamar untuk istirahat.
Tumben sekali dia baik padaku, sampai mau mencucikan mangkuk, hihihi. Sering-sering saja kau baik seperti ini You.
"Heh, mau sampai kapan kau berdiri di situ? Cepat tidur". Ah, aku tidak sadar kalau daritadi aku berdiri di depan kasur. Kau tidak perlu membentak ku begitu You, dasar menyebalkan. Tinggal bilang 'tidurlah, kau harus istirahat' saja sambil marah-marah begitu. Ya sudahlah aku langsung naik ke kasur untuk segera istirahat.
B'DAY
Hiruma P.O.V
Manajer Sialan itu, aku lupa mau menanyakan kejadian tadi. Tch, lebih baik aku tidur, besok akan ada latihan pagi.
Aku tidak bisa tidur, daritadi yang kulakukan hanya membalik-balikkan posisi tidur sialan ini. Manajer Sialan itu, dari kemarin aneh sekali. Kenapa dia menghindariku dan… pergi dengan Mata Sialan itu. Anak-anak Wizards Sialan itu juga, kenapa mereka menghindari ku? Waktu aku tanya di mana Manajer Sialan tadi mereka semua langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan ku. Damn it! Kenapa aku kesal sekali? Bukankah setan sepertiku ini sudah biasa menyendiri? Kekeke, sekarang aku sudah gila mulai tertawa sendiri.
"Hiruma"
"Yo Gendut Sialan, Orang Tua Sialan"
"Hiruma! Aku rindu padamu, Musashi juga. Akhirnya liburan ini selesai juga, aku tidak sabar untuk latihan lagi"
"Kekeke, dasar Gendut Sialan, kau itu setiap hari datang ke apartement ku dan mengajakku pergi lah, latihan lah, ke proyek Orang Tua Sialan itu lah, kau masih saja rindu? Kekeke. Aku ini normal tahu!"
"Ya Kurita, dia itu normal, buktinya dia jatuh cinta pada manajer kita, ups"
"Kau bilang apa Orang Tua Sialan?"
"Tidak~"
"Hm, tapi kan tidak menyenangkan kalau sendirian, aku lebih senang bersama dengan sahabat-sahabatku"
Gendut Sialan, Orang Tua Sialan, ku rasa aku rindu pada kalian, Kekeke.
