Cerita ini berdasarkan novel Harry Potter dari J.K Rowling. Kesamaan karakter dan tempat hanya karena cerita ini sekedar Fanfiction.
A/N:
Terima kasih untuk yang sudah mereview chapter sebelumnya. Tidak disangka cerita dengan pairing yang tidak populer ini ternyata ada juga yang suka. Terima kasih sudah mau berbagi ketertarikan dan semoga kita bisa bersama sampai akhir cerita. Maaf untuk masalah update, karena masalah pekerjaan, tidak bisa stabil seperti yang diinginkan. Lagi pula, jujur aku tidak begitu suka update dengan chapter yang terlalu pendek.
Membahas soal Marcus Flint memang menarik, karena ia termasuk tokoh yang jarang muncul. Meski aku yakin ada lumayan banyak fans HP yang suka pairing ini, tapi kebanyakan memang di fandom berbahasa Inggis. Tapi untuk bahasa Indonesia sepertinya belum ada. Mengapa aku memutuskan memakai Marcus sebagai karakter saingan Harry, mungkin karena dia karakter yang 6 tahun lebih tua dari Harry, punya sifat tidak biasa yang membuatnya bagai kartu liar, yang bila di taruh di tempat tertentu, ia bisa jadi joker atau malah raja. Marcus juga seorang kapten yang jelas membuatnya bertubuh fit (aku suka model karakter protagonis macam ini), dan yang paling utama karena di Canon, Marcus baru lulus tahun 1994. Jadi dia gagal ujian dua kali; sekali di tahun ke 6, sekali di tahun ke 7. Jadi ia masih ada waktu beberapa tahun bersama Harry sebelum aku perlu memikirkan seperti apa nantinya menggabungkan kedua tokoh ini selama sisa masa studi Harry di Hogwarts.
Sekali lagi terima kasih yang mau mampir baca dan memberi review. Tentu saja itu punya efek, seperti stimulus untuk menulis. Karena buat apa di post jika tidak untuk dibaca, kan?
Well, terima kasih sudah mau berbasa basi. Langsung saja lanjut ke cerita selanjutnya.
-Dante-
2
Marcus Flint, seperti arti namanya; Marcus berasal dari kata Mars yang berarti dewa perang dan Flint yang merupakan batuan keras dengan sebutan batu api, jelas memberikan gambaran seperti apa orangnya. Entah itu disengaja atau tidak, orang tuanya telah memberinya nama yang sesuai dengan kepribadiannya. Ia bukanlah tipe orang yang mudah untuk didekati. Sulitnya seperti mencoba mendekati singa buas dengan daging buruan di mulutnya. Seperti itulah dunia melihatnya. Kendati begitu, bagaimana dunia melihat dan dirinya sendiri melihat pun tak jauh berbeda.
Marcus dibesarkan dengan cara yang sama seperti semua anak pertama dan penerus gelar keluarga Flint. Sepanjang hidupnya adalah bagaimana layaknya penerus gelar Flint yang sempura. Sampai Harry Potter masuk dalam gambaran. Awalnya ia hanya menganggap Harry Potter sebagai hiburan semata. Bukankah konyol jika ia bisa mempengaruhi pahlawan dunia sihir masuk ke Slytherin? Sebenarnya ia tak mengharapkkan itu benar-benar terjadi, tapi siapa sangka Bacon of The Light terseleksi ke tempat yang dipercaya sebagai berkumpulnya penyihir hitam.
Tidak berakhir disana, apa yang ada dalam kepalanya tentang gambaran Hero dunia sihir, terjungkir balik setelah berinteraksi dengannya. Ia mengharapkan bocah itu seperti Malfoy; dengan kepala lebih besar dari yang bisa ditanggungnya, bertingkah seakan dunia ada di genggamannya. Tapi yang ditemuinya malah Chickadee—burung kecil dengan kepala hitam dan sayap biru—pemalu yang bahkan tidak bisa mengangkat tumpukan bukunya sendiri, dengan mata jenaka yang menyembunyikan rahasia sekaligus akal bulus. Tanpa sadar Marcus telah jatuh dalam jebakan, dengan keras.
Mungkin Harry Potter memang bukan Gryffindor. Tapi ia punya keberanian—atau mungkin nasib mujur—yang melebihi apa yang dibutuhkan seorang Gryffindor untuk tetap bertahan berada disekitar Marcus yang terkenal termpramental dan tak segan bersikap kejam. Sang Chickadee bahkan tidak mengedip saat menyaksikan sendiri bukti langsung kekejaman itu terjadi di depan matanya. Tapi butuh lebih dari keberanian dan nasib mujur untuk meyakinkan seorang mesin pembunuh bahwa ia bisa menyentuh Unicorn.
Unicorn, icon dari sihir putih. Seumur hidup tidak terlintas di benaknya bahwa Unicorn mau disentuhnya, seorang penyihir hitam. Siapapun tahu Unicorn adalah hewan yang sangat pemilih, bahkan pada penyihir putih sekalipun, seandainya mereka pernah sedikit saja terkontaminasi dengan sihir hitam. Entah apa yang dilakukan Harry hingga mereka mau menyentuhnya, sungguh tak masuk akal. Tapi disanalah Harry, seperti orang suci dengan mata berkerlip dan senyum misterius, mengulurkan tangan yang bagaikan jembatan pada dunia yang tak bisa ia jangkau.
Ya, Marcus bisa saja menganggapnya seperti orang suci, lagi pula selamat dari Killing Curse bukan perkara yang bisa dialami manusia— yeah, ia seperti orang suci, andai ia bisa berhenti bicara omong kosong—
"—Lalu saat mobil itu mendarat, ia mendarat di atas Whomping Willow. Hei, apa kau tahu kalau di dalam Whomping Willow ada ruangan rahasia?—" Harry menegakkan punggungnya, kedua tangannya terangkat dramatis, membuat Marcus terhuyung ke depan, berusaha mengembalikan keseimbangan. Tidak menyadari kesulitan yang dibuatnya, ia terus mengoceh, "—aku penasaran apakah ruangan itu punya lorong rahasia seperti di dalam Hogwarts yang bisa membawa kita ke Hogsmade! Karena kau tahu, kan?" ia melemparkan tatapan penuh konspirasi, "—Whomping Willow masih termasuk Hogwarts!" ia mengayunkan kakinya dengan bersemangat, membuat Marcus menghela napas sambil memutar bola mata.
"Diam! Berhenti bicara atau aku akan menjatuhkanmu!" yang malah membuat bocah itu melingkarkan lengannya ke sekeliling lehernya, membuatnya sulit bernapas, "Potter!"
"Ssttt," ia menutup mulut Marcus, "Dengar baik-baik. Aku mendengar lagu ini dikepalaku semalam—" dan ia mulai bernyanyi.
Salazar... seandainya ia bisa diam!
Seandainya Marcus tidak pernah berharap begitu.
Karena Marcus untuk pertamakalinya menjadi saksi bagaimana Harry Potter bisa benar-benar diam. Dan itu menakutkan. Mata emerald yang semula bersinar, menjadi redup. Bahkan napasnya pun tidak terdengar, seolah ia takut pada sesuatu yang tidak bisa dilihat Marcus. Ia bagaikan mayat hidup yang bergerak hanya karena kebiasaan. Ia makan apa yang ada di depannya, bahkan jika itu sandwitch bawang (Harry benci sandwitch bawang). Ia pergi ke kelas, ganti baju, mandi, seolah terkena kutukan imperius. Puncaknya adalah saat ia tidak berdiri di depan kamar Marcus sambil memeluk bantal, alih-alih tidur di ranjangnya sendiri. Membuat mata Marcus berkedut dan instingnya berteriak waspada. Harry bahkan tidak merespon pembicaran, apalagi bentakan. Seoalah ada gelembung trasparan yang memisahkannya dengan dunia nyata.
Semua profesor memandangnya cemas. Dan setelah beberapa kali pertanyaan diabaikan, profesor Flitwick menyuruh Harry pergi ke bangsal kesehatan. Itu bahkan hanya karena Malfoy menariknya kesana. Seandainya Marcus ada pada tingkat yang sama dengan Harry, ia tidak akan mengalihkan perhatiannya. Tapi Marcus luput karena terbelenggu oleh kelas dan tanggung jawabnya sebagai kapten tim. Sehingga saat Harry menghilang dari bangsal kesehatan keesokan harinya, tidak ada yang tahu sejak kapan ia lenyap.
Alaram yang di pasang Madam Pomfrey tidak berbunyi, sehingga apapun yang membuatnya menghilang, tidak mengusik sihirnya. Hal ini membuat Dumbledore turun dari kantornya untuk ikut berdiskusi dengan profesor di ruang kesehatan. Saat kepala sekolah selesai mengamati sisa-sisa sihirnya sebagai Sihir Tak Disengaja, hal ini membuat semua profesor makin cemas. Siapapun tahu hanya ada dua alasan mengapa Sihir Tak Disengaja bisa terjadi. Pertama karena sihir yang masih berkembang saat masih kecil. Kedua apabila penyihir telah dewasa serta berada dalam bahaya. Semakin menit berlalu semakin resah terjadi, bahkan usul untuk memanggil Auror pun muncul.
Tapi tidak dengan Severus Snape yang berkepala dingin. Ia tidak akan hidup selama ini seandainya tidak memiliki kualitas itu selama menjadi mata-mata. Snape tahu jika menyangkut Harry Potter, maka orang yang paling paham adalah Marcus Flint. Maka, saat ia melihat sang kapten menyelinap dari ruang kesehatan, Snape mengikutinya. Ia mengikutinya dengan cepat, tapi bahkan itu tak bisa menyaingi langkah Marcus. Saat mereka memasuki koridor tak terpakai, kakinya menyibak genangan air dan ia melihat Marcus masuk ke toilet perempuan terbengkalai. Dari pendar di ujung tongkatnya, Snape tahu ia memakai mantra pelacak. Sungguh cerdas atau malah paranoid yang membuat mr. Flint merasa perlu menaruh mantra pelacak pada Potter. Tapi beruntung ia melakukannya, karena saat Snape sampai di ambang pintu, bukan pemandangan indah yang dilihatnya.
"Flint!" sang Master Ramuan terkejut melihat Marcus meraih tubuh Harry yang tergeletak diantara genangan air. Wajahnya pucat dan tubuhnya sudah sedingin es. "Cepat! Bibirnya sudah biru," bisik Marcus sementara Snape menggelontor ramuan ke mulut Harry. Mereka tahu jika terlambah sedikit saja maka Harry akan terkena hipotermia. Kedua Slytherin itu bertindak cepat. Beruntung Snape adalah master ramuan, dan prinsip master ramuan adalah selalu membawa persediaan.
Betapa terkejutnya para profesor dan madam Pomfrey saat kedua momok Slytherin itu masuk dengan membawa Harry Potter yang tidak sadarkan diri. Segera Pomfrey mengusir mereka yang tidak dibutuhkan dan sibuk menyelamatkan Harry Potter dari entah apa yang baru saja dialaminya. Bahkan Marcus pun dilarang untuk masuk, membuat emosi pemuda itu meledak-ledak, memuat anak tahun pertama menangis ketakutan. Syukurlah waktu-waktu kritis telah berhasil dilewati. Tapi Harry tetap tidur sekalipun waktu kritis itu berlalu. Marcus dan sebagian besar anak tahun pertama yang berkunjung hanya bisa diam menatap pada Harry yang tergeletak seperti orang sekarat. Warna kulitnya yang pucat dan bibirnya yang biru hampir membuat Marcus tak percaya jika ia akan bernar-benar bangun. Lucu menyadari sebesar apa perngaruh Harry pada anggota asramanya, karena semenjak ia sakit, hampir semua dari mereka datang berkunjung. Bahkan para pureblood rasis.
Harry terbangun dua hari kemudian dengan tiba-tiba. Ia terbangun bersama satu sentakan napas panjang yang berat. Segera Marcus berteriak pada madam Pomfrey.
"Harry," ia meraih tangan dingin itu, membuat mata hijau emerald tertuju padanya.
"Marcus," suaranya serak karena lama tak digunakan. Ia mengerjapkan mata, seolah berusaha mencerna apa yang ada disekitarnya. Madam Pomfrey yang datang dengan langkah cepat segera sibuk melemparkan mantra untuk mendiagnosis. Tak lama Dumbledore datang bersama profesor Snape.
"Anakku... apa kau baik-baik saja?" wajah tua Dumbledore mengembangkan senyum tulus. Marcus menyipitkan mata saat merasakan Harry beringsut bersembunyi. Instingnya membuatnya berdiri menutupi Harry hingga bocah itu tidak langsung berhadapan dengan kepala sekolah. Apa yang ditanyakan kepala sekolah pada Harry adalah juga apa yang membuatnya penasaran. Tapi Harry hanya menjawabnya dengan jawaban ambigu dan ekspresi mengawang-awang. Sesuatu yang tidak baru jika kau mengenal Harry Potter. Tapi juga tidak menjawab pertanyaan. Intuisi Marcus berkata, bahwa Harry menyembunyikan sesuatu.
Entah itu benar atau tidak, tapi apa yang bisa ditangkap Marcus dari jawaban berbelit itu adalah apa yang disebutnya 'Episode' biasa terjadi pada waktu acak. Harry menggambarkannya seperti ia terkunci dalam kepalanya sendiri. Snape menyindir bahwa gejala itu mirip dengan penyakit gila yang dimiliki muggle. Sesuatu yang membuat Harry berjuang menahan tawa seandainya ia tidak sedang berakting seperti baru terkena, apa yang disebut Snape tadi? Penyakit gila. Lengannya yang melingkari pinggang Marcus menahannya membalas kasar. Marcus menyipit saat melihat kerlip meredup di mata Dumbledore.
Untungnya interogasi itu berakhir, salut dengan madam Pomfrey yang mengusir kedua profesor untuk membiarkan Harry istirahat. Marcus tetap tinggal hanya karena Harry tak mau melepaskannya. Sang kapten memarahi Harry karena tidak memberitahunya soal episode, mengetahui hal itu bisa kambuh sewaktu-waktu. Dengan senyum rahasia, sang mediwitch meninggalkan mereka dalam percekcokan suami istri. Percekcokan yang membuat Harry berakhir sambil menangis di atas pangkuan Marcus yang memasang tampang menyesal. Saat Madam Pomfrey kembali, keduanya sudah terlelap dengan Harry bergelung di atas Marcus sementara sang kapten melingkarkan lengannya dengan sikap protektif. Siapa yang sangka Harry Potter mampu menjinakkan si Buas dari Slytherin. Tapi tentu saja, jika ada yang bisa mewujudkan sesuatu yang tidak mungkin, pastilah mr. Potter.
Jujur, berbeda dengan jawaban berbelitnya pada Dumbledore, Harry tahu benar apa yang disebutnya episode. Apa yang dikatakannya bahwa ia terkunci di kepalanya sendiri adalah benar, walau tidak semuanya. Ia terkunci dalam kepalanya yang memperlihatkan gambaran masa depan; tidak hanya satu, tapi banyak kemungkinan. Sehingga otaknya yang kelebihan muatan membentuk pertahanan dengan cara mengunci informasi itu, sementara ia dipaksa itu melihat. Tidak penting lagi apa yang terjadi di dunia nyata, selain kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Hal ini hanya terjadi saat akan ada kejadian besar dimasa depan. Seperti Basilisk, misalnya. Mungkin itu juga yang membuatnya berakhir di kamar mandi perempuan tak terpakai. Syukurlah ia tidak berakhir di Kamar Rahasia tanpa ada yang bisa menemukannya.
Harry menyesal membuat Marcus membatalkan latihan hanya untuk menemaninya. Ia sempat meyakinkan Marcus untuk meninggalkannya, lagi pula ia masih dalam pengawasan 24 jam oleh Madam Pomfrey. Rupanya walau tidak parah, ia sudah terkena infeksi saluran pernapasan. Tapi Marcus hanya mengibaskan tangan dan menyuruhnya berhenti mengkhawatirkannya. "Pikirkan kesembuhanmu sendiri, jadi kau bisa segera ikut latihan," geramnya sambil menarik Harry kembali ke dalam pelukannya. Marcus hanya meninggalkannya saat ia ada kelas, dan kembali lagi diantara pelajaran.
Begitu Harry dinyatakan sembuh di hari kelimanya—tentu dengan peringatan keras untuk tidak beraktifitas tinggi dan selalu menjaga tubuh tetap hangat—Marcus membawanya kembali ke aula besar karena saat itu jam makan siang. Secara harafiah membawanya, karena pemuda itu menganggap berjalan kaki adalah aktifitas tinggi.
Harry mengerang tiba-tiba, membuat sang kapten menaikkan alis. "Aku tertinggal pelajaran! Juga belum latihan quidditch!" serunya histeris.
Marcus menjawabnya datar, "Kau berbakat. Tanpa latihan pun kemampuanmu setara dengan mereka yang sehat. Tidak perlu khawatir, aku yakin saat pertandingan berlangsung kau sudah bisa menendang beberapa pantat tim asrama lain."
"Ini quidditch, bukan gulat!" yang hanya dibalas seringai khas Flint. Harry tahu pemuda itu tidak menyinggung pelajarannya. Dasar orang congkak, menganggap belajar tidak penting. Ukh, untung Draco bisa meminjamiku catatan, batin Harry.
Banyak kepala menoleh saat mereka memasuki Aula Besar. Teman-temannya mengangguk dan tersenyum lega. Ada juga yang tampak pucat pasi karena melihat Marcus kembali, tapi lebih banyak yang lega melihat Harry bisa tersenyum dan melambaikan tangan seolah ia sedang parade naik kuda, bukannya digendong. Diantara mereka Malfoy lah yang berkali-kali bertanya seakan untuk meyakinkan bahwa ia sungguh sudah sehat, tidak hanya tubuh, tapi juga mentalnya. Sepertinya Episode-nya membuat bocah itu ketakutan. Saat ia mendengar Harry mulai mengoceh ambigu, Malfoy menghela napas lega dan Marcus memutar bola mata. Jika ini bukan kebiasaan Harry, pasti siapapun mengira ia terkena Babbling Curse.
Saat itulah kepakan sayap burung hantu menandakan gerombolan burung pengantar surat datang bertubi-tubi ke aula besar. Tapi yang mengagetkan Harry adalah saat burung hantu cokelat hinggap di depannya dan mengangkat kaki tempat surat diikatkan. Bergoyang-goyang tak sabar supaya Harry segera mengambilnya. Sebelum pergi ia bahkan sempat mencuri sepotong daging. Sungguh hal yang tidak biasa karena ia tak pernah mendapat surat.
Saat ia membaca surat undangan Hagrid untuk minum teh di rumahnya, seketika kilasan telur naga yang menetas dan gubuk yang terbakar membombardir pengelihatannya. Saat ia mengerjapkan mata, wajah cemas Marcus yang pertama dilihatnya. Tersadar bahwa ia sudah jatuh seandainya tidak karena lengan-lengan keras itu, Harry tetap bersandar disana sambil berbisik, "Surat undangan minum teh dari Hagrid."
Setelah beberapa detik penuh spekulasi, ia akhirnya memutuskan pertanyaan sederhana, "Apa kau mau kesana?" mengabaikan rasa penasarannya karena tahu Harry tidak mau membaginya.
Harry menggeleng sambil menggigit bibir. "Apa kau kenal orang yang bekerja sebagai Dragon Keeper?"
Alis Marcus semakin tinggi. "Jika aku jawab ya?"
"Bisakah kau menghubunginya secara diam-diam agar ia datang ke Hogwarts sehingga kita bisa memberinya anak naga sebelum terlalu terlambat dan membuatnya membakar habis hogwarts?"
"Dan dari mana kau akan mendapatkan anak naga?"
Harry mengerdikkan bahu, dengan nada polos menjawab, "Kita akan mencurinya."
Apa yang membuat Harry bersyukur pada kepribadian Marcus adalah ia tidak banyak bertanya. Berbeda dengan Hermione yang menyukai fakta dan berusaha tahu segala hal dengan cara yang sedikit kurang pantas dan tak tahu malu. Marcus cenderung mengumpulkannya dengan mengamati. Ia tidak akan memaksamu menjelaskan sesuatu, karena dalam prinsipnya, kau akan bercerita jika itu memang yang kau inginkan. Tapi bukan berarti ia cuek. Marcus adalah satu dari banyak orang yang terlahir dengan prespektif. Jadi pemuda itu hanya mengangguk, melemparnya dengan tatapan penuh selidik, tapi tidak mengusik.
Marcus melayangkan surat pada temannya yang bekerja sebagai penjinak naga di Norwegia dan esok harinya jawaban positif datang. Mereka hanya harus berdiri di perbatasan Pelindung Hogwarts sehingga teman Marcus bisa menerima anak naga itu disisi yang lain. Ia akan datang tengah malam, sehingga mereka hanya punya waktu beberapa jam untuk mendapatkan anak naga yang jika pengelihatannya benar, telah menetas kemarin malam.
Marcus mengikuti Harry menjelang tengah malam menuju ke pondok Hagrid, tentu setelah memberikan berlapis-lapis mantra proteksi. Marcus menyuruhnya menunggu di depan sementara pemuda itu perlahan menyelinap memasuki gubuk yang dipenuhi suara dengkuran. Tak lama pemuda itu keluar membawa anak naga yang lelap karena mantra Bewitched Sleep—sebuah mantra tingkat tinggi yang membuat korbannya tertidur sangat lelap hingga tidak bernapas selama durasi mantra itu. Marcus memilih menggunakannya, bukannya mantra tidur biasa, karena cemas mantra biasa tak kan sanggup mengatasi naga yang punya daya tahan lebih pada sihir.
Sambil membawa anak naga dalam kandang burung hasil tranfugasi, mereka bergegas menuju wilayah paling ujung Hogwarts, tempat gerbang besi hitam berdiri. Teman Marcus sudah menunggu dibaliknya dengan tudung kepala yang menutupi wajah. Keduanya saling mengangguk sebelum teman Marcus ber-apparated membawa paket anak naga. Sekarang tinggal menghadapi tantangan terakhir; kembali ke asrama dengan selamat.
Marcus menyihir kaki mereka sehingga tidak ada langkah terdengar selama mereka menyusuri koridor-koridor temaram penuh lukisan yang tertidur. Saat mereka menyelinap menuju koridor yang nantinya akan membawa mereka ke bawah tanah, suara langkah kaki terdengar di ujungnya. Harry terkesiap karena siapapun tahu jika tidak ada tempat bersembunyi di koridor ini selain dibalik patung prajurit bertombak. Namun tetap tidak bisa menutupi tubuh tinggi Marcus. Berpikir cepat, Marcus meraih Harry dalam gendongan, "Kau percaya padaku?"
Harry mengangguk.
"Pura-pura tidur."
Harry menyandarkan kepalanya dan menutup mata bersamaan dengan Slytherin Prefect, Gemma Farley, muncul dari belokan koridor. "Flint!" seru gadis itu sambil terbelalak. "Apa yang kau lakukan tengah malam—apa itu Potter?!"
"Ssst diamlah. Dia tidur. Aku baru berhasil menemukannya setelah berjam-jam mencari. Potter mengigau sambil berjalan."
"Oh!" serunya dan menyipitkan mata. "Mengapa kau tidak menghubungi Prefect?"
Marcus menaikkan alis, "Kuharap kau lebih cerdas, Farley. Apa kau mengira aku mempercayakan Potter padamu setelah kalian membiarkannya di-bully? Lalu kau menganggap dirimu Slytherin. Sejak kapan Slytherin, apalagi prefect, mengabaikan anggotanya sendiri, terlebih anak tahun pertama! Ia baru sebelas tahun, demi Morgana!" gertak Marcus dengan hinaan tajam yang membuat prefect perempuan itu memerah. "Dan ku harap kau tidak menghinaku dengan memberiku hukuman, Farley!"
"Tidak, tentu tidak, Flint." Gadis itu terbatuk, "Kuharap kau bisa mencegahnya sebelum ia berjalan keluar lain kali"
"Kau pikir aku sendiri tidak tidur? Aku baru menyadarinya saat beban berat yang biasa menindihku lenyap," Flint memaksa ekspresinya tetap datar saat melihat Farley merona. "Selamat malam, Farley," katanya sambil membetulkan gendongannya sehingga ia bisa membenamkan wajahnya ke rambut Harry dan melemparkan pandangan peringatan pada Farley yang menggeliat dengan wajah merah padam, "Malam Flint," dan bergegas pergi. Marcus menyeringai diam-diam.
Saat mereka sudah aman di dalam kamar, Harry membuka mata. Marcus menurunkannya ke atas tempat tidur. Pemuda itu mengambil beberapa pakaian di dalam lemari yang kini juga dipenuhi baju Harry. Sama seperti tumpukan buku dan perkamennya diatas meja yang bercampur majalah quidditch Marcus. Harry hanya menelengkan kepala saat pemuda itu bergerak untuk melepaskan sepatunya. "Kau tidak mau mengganti pakaianku juga?"
"Apa kau mau aku mengantikan pakaianmu?" balasnya tanpa off-beat yang membuat Harry melesat ke dalam kamar mandi dengan wajah merah padam. Sambil memandang pintu yang tertutup, Marcus berbisik, "Kau sungguh penuh misteri, Harry Potter."
Pada akhir pekan di awal bulan oktober, Marcus meninggalkannya bersama anak-anak tahun pertama dan kedua yang masih belum diijinkan pergi ke Hogsmeade. Ia memakai pakaian bepergian khas pureblood, berupa tunik dan jubah berbordir simbol keluarga Flint yang menandakan ia seorang pewaris. Jubah itu berwarna biru gelap hampir hitam senada dengan celana panjang dan sepatu dragon boot. Warna itu membuat mata gelapnya menjadi lebih tajam dan tampak berbahaya. Ia sangat tampan, walau pendapat ini bisa dibantah oleh banyak orang, tapi secara pribadi Harry menganggap tidak ada orang sekeren Marcus.
Sang kapten membiarkan Harry mengantarnya hingga gerbang sekolah (dibawah tatapan geli profesor Sprout), dimana kereta-kereta tanpa kuda menunggu. Pemuda itu mengusap lembut pipi Harry sambil berkata, "Aku tidak akan lama."
"Jangan lupa membeli hadiah untuk natal, juga pesananku." Harry tidak bisa pergi sendiri untuk membelikan hadiah natal teman-temannya. Jadi ia meminta tolong Marcus.
"Tentu, princess." Ia menjentik hidung Harry sebelum menyusul teman-teman seangkatannya. Beberapa anak tahun atas dari asramanya menepuk Harry dan menyuruhnya untuk tidak khawatir, ia tidak akan sendirian terlalu lama, yang membuat Harry cemberut (beberapa Hufflepuff berseru gemas). Ia tidak sabar bisa segera mengunjungi Hogsmeade bersama Marcus.
Harry terkejut saat Marcus kembali lebih awal dari yang dikiranya karena jam malam berakhir sampai jam 10 dan sekarang matahari bahkan belum terbenam! Tapi hal itu tidak menghentikan Harry untuk menyambutnya dengan antusias. Dengan jubah masih penuh salju dan pipi yang memerah—seakan ia habis berlari kembali secepat mungkin—Marcus meraih Harry dalam gendongan. Membawa mereka berdua kembali masuk ke ruang rekreasi. Api di perapian menyala untuk menyambut mereka yang baru datang, bersama beberapa cangkir teh yang masih hangat.
Marcus mendudukkan Harry diatas pangkuannya, sebelum meraih sesuatu di sakunya. Sebuah gelang dari perak dengan mantra perlindungan yang masih berdengung berakhir di pergelangan tangan Harry. Seketika ruang menjadi hening. Perhatian keduanya tersita satu sama lain untuk menyadarinya. "Aku menyempatkan mampir ke Gringotts dan mencari sesuatu di Vault yang cocok untukmu," beberapa dari mereka yang mendengar terkesiap.
"Uh..." masih sambil mengamatinya, Harry berkata, "Trims Marcus, tapi ini terlihat sangat mahal dan berharga." Gelang perak itu memiliki hiasan safir yang membuktikan bukan barang yang murah. Dan ini hadiahnya dari sekedar kunjungan ke Hogsmeade? Wow!
"Well, tentu. Itu relik keluarga, lagi pula."
"Kau tidak apa-apa, aku memiliki ini?"
"Aku memberikannya padamu, kan?"
Harry tersenyum lebar, sekali lagi berterima kasih pada Marcus. Marcus hanya mengerdikkan bahu seolah itu tidak penting. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Karena Marcus tentu tidak mungkin tidak tahu tentang tradisi Pureblood. Memberikan relik keluarga, terutama perhiasan, pada orang lain adalah masalah serius. Dalam tradisi pureblood, sebuah tindakan dilakukan sebagai simbol untuk menggapai tujuan. Misalnya memberikan perhiasan, itu adalah sebuah klaim. Satu langkah pertama menuju ikatan. Praktek yang biasa dilakukan pada sesama pureblood di usia yang masih sangat muda saat kedua keluarga merencanakan pernikahan mereka. Walaupun itu bisa dibatalkan sewaktu-waktu, berbeda dengan kontrak sihir. Tapi semuanya menuju ke arah yang sama. Marcus sudah mengajukan klaim di hadapan saksi yang membuat klaim itu sah di mata sihir. Saat tatapan Marcus beralih pada mereka yang ada ruang rekreasi, mata itu seolah bicara 'coba saja kalau kalian berani bicara.' Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk melayangkan surat pada lord dan lady dalam keluarga bahwa Heir Flint mengajukan klaim pada Heir Potter dalam ikatan sihir tradisional.
Tentu tak sampai waktu lama hingga lord Flint mendengarnya. Tapi tidak ada tindakan dalam waktu dekat karena mereka semua tahu klaim itu bisa dibatalkan sewaktu-waktu. Tapi ini tetap membuat adanya pergeseran politik. Keluarga Flint sekalipun merupakan penyihir hitam, namun mereka tergolong Neutral dalam politik. Sehingga ikatan yang dilakukan Marcus pada Heir Potter membuatnya cenderung ke arah penyihir putih. Tapi semuanya tahu bahwa Harry Potter adalah Potter terakhir dan ia berada di Slytherin, sehingga kemungkinan malah bisa jadi terbalik, bahwa Flint mengaliansi dirinya pada penyihir hitam dengan nama Potter. Semua itu perlu menunggu, paling tidak sampai Harry berumur 16 tahun dan bisa menentukan kedudukannya dalam politik dan sihir. Seandainya mereka semua tahu jika Harry Pasemoulth.
Marcus mempunyai kebiasaan baru saat menyapa Harry, yaitu mengusapkan bibirnya ke gelang yang akan berpendar dengan sihir pelindung tiap kali melakukannya. Alasan Marcus adalah untuk memperkuat sihirnya karena sebagai sebuah relik keluarga Flint, hanya seorang Flint yang mampu mengisi sihir pelindung disana. Setiap kali Marcus melakukannya, Harry merasakan sihir itu menjadi lebih kuat, sehingga ia tidak protes, walau terlihat memalukan saat melakukannya di tengah-tengah aula. Lagi pula jika ia bisa bertahan selalu di gendong kemana-mana, satu atau dua kali usapan bibir di pergelangan tangan tentu bukan apa-apa, kan? Andaikan Harry tahu.
Esok harinya gerombolan Gryffindor terdengar berbisik-bisik soal naga hilang dan Hagrid yang menangis. Rupanya mereka mendengar curhatan Hagrid yang menangis kehilangan anak naganya; Norbert. Yang menurut teman Marcus dalam suratnya adalah naga perempuan sehingga Harry memutuskan memanggilnya Norberta dalam kepalanya. Gerombolan Gryffindor itu menyayangkan lenyapnya hewan sihir itu sebelum mereka bisa melihatnya. Sesuatu yang membuat Hermione menegur mereka tentang bahayanya bermain-main dengan naga dan sungguh tidak bijaksananya Hagrid membawa naga itu ke lingkungan Hogwarts (Sesuatu yang disetujui Harry). Seandainya Hermione tahu 'bijaksana' adalah kata terlarang dalam kamus Hagrid seperti banyak hal logis yang lain. Lucu bahwa muggleborn memiliki pikiran yang lebih relevan menyangkut hewan sihir dibandingkan pureblood, karena sebodoh-bodohnya Ron Weasley, ia tetap pureblood yang dibesarkan di tengah-tengah pemahaman bahwa sihir bukan sekedar mainan anak-anak. Ia tidak seharusnya memiliki kenaifan muggle born yang menganggap bahwa Sihir hanya ajaib. Argumentasi itu berakhir dengan Ron menghina kepribadian Hermione dan membuat gadis itu berlari sambil menangis.
Mengerutkan kening, Harry menegur Ron, bahwa perkataannya terlalu kasar. Hal itu mengawali adu mulut antara Malfoy dan Weasley. Jika kau mengira dengan berkah bisa melihat masa depan, maka Harry selalu siap menghadapi segala situasi, maka kuingatkan padamu bahwa Harry masih sebelas tahun. Tetap menyakitkan saat mendengar orang yang selalu menjadi sahabatmu, menghinamu hanya karena kau masuk asrama Slytherin. Seandainya pengelihatannya tidak menunjukkan penghianatan Ronald Weasley diberbagai kesempatan dan alternatif yang lain, mungkin ini akan jauh lebih menyakitkan. Tapi Harry tahu Ronald Weasley bukan tipe orang yang bisa benar-benar setia.
Draco Malfoy dan Blaise Zabini bergerak mendekat dibelakangnya. Sementara Dean Thomas dan Seamus Finnigan berdiri mendukung Weasley. Bibir saling mencibir dan hinan saling dilontarkan. Ron yang menganggap diamnya Harry sebagai kesempatan, menghujatnya semakin menjadi-jadi. Seakan selama ini, ia hanya ragu antara menyikapi Harry sebagai Pahlawan dunia sihir atau lumpur Slytherin. Sekarang menjadi pukulan terakhir untuk memutuskan bahwa Harry sama seperti Slytherin lainnya; rendahan dan dark lord. Lucu mengingat orang-orang yang ia hina punya power politik lebih dibandingkan keluarga Weasley.
Mengejutkan Harry, bahwa Ron mampu bersikap serendah seperti bertanya tentang perasaan orang tua Harry seandainya mereka tahu ia masuk Slytherin. Rasa ngeri melandanya saat menyadari bahwa Ron memiliki sikap rasis yang sama buruknya seperti Draco Malfoy dengan muggle-born. Ia tersadar bahwa seandainya posisi mereka ditukar; Ronald yang kaya raya punya potensi arogan dan sombong. Seperti halnya Draco yang punya potensi untuk menjadi pemberani dan setia pada orang yang ia sayangi.
Malfoy membalas, "Blood Traitor! Seolah kau tidak tahu sebelum Charles dan James Potter, semua Potter terseleksi masuk Slytherin!"
Harry menutup telinganya dengan kedua tangan. "Hentikan, kumohon... HENTIKAN!" tembok disekelilingnya bergetar. Ron menelan ludah, lalu ia mendesis jijik pada Harry sebelum mengajak teman-temannya pergi dari Slimy-Slytherin.
"Potter," Malfoy memegang bahunya.
"Tolong tinggalkan aku," masih tampak pucat.
"Sebentar lagi makan malam."
Harry menggeleng. "Aku hanya akan ke perpustakaan."
Malfoy saling berpadangan dengan Zabini sebelum akhirnya mengangguk, "Jangan terlalu terbenam dalam buku. Kau bukan Ravenclaw."
Itu membuatnya tersenyum, "Aku tahu, Malfoy."
Madam Pince tidak melihatnya dua kali saat melihatnya masuk ke perpustakaan karena sudah terbiasa. Tak jarang orang menemukannya terlelap diantara tumpukan buku karena matanya terlalu berat sekalipun hatinya belum ingin berhenti. Mungkin itu juga yang membuat Madam Pince yang terkenal galak kecuali dengan anggota asrama Ravenclaw, punya sisi lembut untuk Harry.
Disanalah Marcus Flint menemukannya. Pemuda itu tidak menghiraukan tatapan galak Madam Pince setelah Marcus 'tanpa sengaja' merusak beberapa buku. Pemuda itu memakai seragam khas asramanya dengan lipatan yang masih rapi menandakan ia baru selesai membersihkan diri setelah menghabiskan waktunya di lapangan.
Marcus duduk di sebelahnya dengan keras, membuat Harry tersentak dan kacamatanya jatuh ke ujung hidungnya. "Kau tidak makan malam," gerutu pemuda itu.
"Em..."
"Aku dengar Gryffindor mengganggumu."
"Kau sendiri tidak makam malam, Marcus?" ia mendongak mengamati pemuda itu yang menatap tumpukan bukunya dengan jijik. "Masih ada banyak waktu untuk makan malam."
Marcus memutar bola mata, "Jangan mengalihkan pembicaraan."
Harry mengerdikkan bahu, memandang bukunya dengan tatapan sedih.
"Hentikan wajah terlipat itu," ia menarik dagu Harry sehingga mereka saling menatap. "Ayo kau bisa melanjutkannya setelah makan malam. Tubuhmu masih dalam proses sembuh," lalu ia meraih pinggang Harry, memaksanya untuk bangkit dan menggendongnya. Mata Madam Pince mengikuti mereka dari balik buku tebal, menutupi mulutnya yang menga-nga.
Koridor-koridor dari perpustakaan menuju aula besar gelap dengan obor-obor menyala khas Hogwarts yang selalu membuatnya berkesan mistis. Beberapa patung prajurit membawa tombak dan pedang berdiri di antara lukisan-lukisan bergerak yang membuat paranoid seandainya kau muggle. Tapi Harry penyihir, jadi ia juga termasuk barang menakutkan bagi muggle, kan? Jadi tidak seharusnya ia merasakan rasa takut yang merambati tulang punggungnya seolah memberinya firasat akan ada yang terjadi. Tapi, seaneh apapun benda sihir disekeliling mereka, tentu bau busuk yang mereka cium sekarang bukanlah hal yang wajar! Terlebih jika Marcus menjadi setegang batu dan matanya bagai elang yang mengamati bahaya diujung koridor.
Lalu teriakan buas membuat mereka melonjak. Troll! Benaknya berseru bersamaan dengan suaranya. Membuat Marcus berkata tak percaya, "Troll?" yang hanya dibalas anggukan sementara pikiran Harry bergerak cepat memilah pengelihatan yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia tahu ada Troll masuk Hogwarts, tapi ia tidak tahu jika makhluk itu masuk di malam Halloween. Seharusnya ia bisa menebaknya, ini malam Halloween lagi pula!
Harry menggeliat keluar dari gendongan dan berlari ke ujung koridor tempat suara raungan itu berasal, sementara Marcus mengejarnya. Pemuda itu berhasil meraihnya saat mereka sampai di ambang pintu toilet perempuan, bersamaan dengan suara jeritan Hermione. "Marcus!" teriakan Harry menyadarkan pemuda itu dari kebekuan. Ia mendorong Harry menyingkir, menendang pintunya dengan keras dan bersamaan melemparkan mantra proteksi berkali-kali sebelum melangkah masuk. Sihir siap di ujung tongkat sihirnya saat Troll itu mengayunkan tongkat kayunya ke atas kepala Hermione dan bersamaan merusak beberapa bilik. "Confrigo, confrigo!" Flint bergerak cepat bagai binatang buas mengamuk di medan perang. Gerakannya tajam dan penuh perhitungan saat berlari, melompat dan menghindari tongkat raksasa Troll sambil melontarkan mantra. Mata hitamnya menunjukkan bahwa ia sangat menikmati pertarungan, sementara bibirnya menyeringai. Ia sungguh berada dalam elemennya. Marcus mengakhirinya dengam mantra tingkat tinggi yang menghancurkan separuh tubuh Troll dengan jentikan kuat tongkat sihirnya, "Bombarda!" membuat darah mengucur deras, bersamaan teriakan kesakitan. "Accio bocah Griffindor!" menarik Hermione padanya bersamaan dengan Troll yang jatuh berdebum ke tempat semula Hermione berdiri.
Marcus masih berdiri memunggungi mereka dengan napas terengah dan kepuasan yang tampak ditiap jengkal pori-porinya. Energi statis masih bermain-main diantara jari-jarinya, seakan sihirnya senang telah dipakai setelah terkekang lama. Hermione jatuh terduduk sambil menangis histeris dan Harry memeluknya sambil mengucapkan kata-kata menenangkan. Itu sungguh pengalaman traumatis untuk gadis sebelah tahun, menyadari jika nyawanya nyaris lenyap di bawah tongkat troll.
Mereka tidak beranjak sampai suara-suara langkah kaki terburu mendekat dan suara McGonagall berseru terkejut, "Merlin! Apa yang terjadi disini!"
"Mr. Flin! Mr. Potter!? Apa itu mayat Troll?!"
"Kumohon profesor!" seru Harry sambil menghapus air mata Hermione saat melihat gadis itu panik.
"Tolong jelaskan apa yang terjadi. Mengapa anak tahun pertama berada disini? Mr. Flint?"
Hermione berseru, "Ini salahku, profesor—"
"Tidak!" sahut Harry sambil memberinya tatapan keras, memperingatkan.
Harry berdiri dan meraih tangan Flint. Pemuda itu otomatis bergerak di belakangnya dengan sikap protektif. Ia tampak menakutkan berdiri disana dengan darah yang menodai seragam dan menetes dari pipinya. Tubuh Harry berhenti gemetar saat tangan besar mendorong dadanya ke belakang, membuatnya bersandar pada tubuh keras Marcus. "Kumohon. Aku akan menjelaskannya."
"Lakukan," kata prof Dumbledore.
"Uh... ini diawali aku pergi ke perpustakaan, sir. Aku tidak begitu ingin pergi makan malam—"
"Kau harus tahu dengan kesehatanmu sekarang seharusnya kau tidak melakukan itu, mr Potter." Sahut prof McGonagall.
"Maaf, profesor. Seperti yang kubilang tadi, aku ke perpustakaan. Lalu Marcus datang untuk membujukku pergi makan malam," yang dibalas anggukan setuju oleh McGonagall. Lalu saat kami menyusuri koridor ada bau busuk khas Troll dan suara raungannya."
"Lalu kau memutuskan untuk lari kesana seperti Gryffidor, bukannya malah memanggil profesor?" bentak Snape yang membuat Harry merona.
"Tapi profesor! Jika Potter dan Flint tidak datang, aku... aku..." lalu gadis itu mulai menangis lagi.
Marcus mengambil alih, "Saat kami datang, monster itu sudah hampir menghabisinya, sir." Membuat para profesor melemparkan tatapan kasihan pada Hermione. Lalu Marcus melanjutkan, lebih kepada Profesor Snape, "Lagi pula anda seharusnya punya kepercayaan pada anak tahun keenam sepertiku untuk mampu mengatasi masalah sekelas Troll, profesor. Lagi pula aku menyuruh Harry menunggu di luar sehingga ia tak melukai dirinya." Hal itu membuat mereka mengangguk dan bernapas lega. "Aku yakin, miss em..."
"Hermione Granger," bisik gadis itu sambil mengusap ingus.
Marcus melanjutkan, dengan nada monoton, "Yeah, aku yakin dia tidak tahu ada troll disana dan sedang melakukan urusannya—apapun urusan saat menggunakan toilet, profesor." Harry memutar bola matanya.
McGonagall berdehem seakan berusaha menahan senyum, "Tindakan yang sangat berani, mr Flint," Marcus mengerutkan kening seolah merupakan hinaan disebut pemberani layaknya Gryffindor. "Aku yakin 20 point untuk Slytherin bagi keberaniaan kalian."
"10 point untuk Slytherin karena bertindak tanpa berpikir,10 point untuk Slytherin karena mau membantu anggota asrama lain," sahut Profesor Dumbledore. Pada intinya tidak memberikan mereka point.
Saat Harry melihat Snape, pria itu mendesis, "50 point untuk sihir tingkat tinggi yang dilakukan Flint. 10 point untuk kebodohan mr Potter berlari menuju bahaya."
Dumbledore tersenyum pada sang master ramuan, lalu kembali pada ketiganya, ia berkata, "Ruang Kesehatan sepertinya perlu untuk dikunjungi, siapa tahu ada yang terasa sakit dan satu botol Sleeping Draught untuk masing-masing kalian agar tidur nyenyak?" erangan Harry membuat mereka semua tersenyum karena tahu Harry baru saja bebas dari penjara madam Pomfrey. "Ayo! Ayo! Aku yakin kalian juga lapar. Aku akan menyuruh house-elf untuk mengantarkan makan malam ke ruang kesehatan. Cop cop!" seru Dumbledore sambil bertepuk tangan.
"Terima kasih, Potter. Flint." Bisik Hermione dengan senyum yang lambat laun memudar, membuat Harry merasa sedih. Mungkin ia teringat alasan mengapa ia disini. Seandainya saja mengutuk Ron tidak membuatnya mendapat detensi.
Harry memeluk gadis itu, "Tidak apa-apa, Hermione. Panggil aku Harry dan ini Marcus."
"Tidak," kata Marcus sambil melemparkan pandangan membunuh yang bukan membuat Hermione takut, tapi malah membuatnya tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Harry. Terima kasih, Flint," kata Hermione kini jauh lebih berani, berkata sambil memandang mata Flint.
Pemuda itu mengerang sambil memandang ke atas seolah bicara pada dewa-dewa, ia bergumam, "Aku punya pamor yang perlu kupertahankan, kau tahu."
Harry memukulnya, "Kau sayang padaku, lagian."
"Diam," lalu tanpa peringatan ia meraih Harry dalam gendongan yang disambut protes tiada henti.
"Berhenti bergerak. Cukup sudah adernaline untuk hari ini!"
Hermione mengikuti mereka sambil tertawa geli.
Seandainya Harry tidak melihat pipi Marcus berdarah, mungkin ia tidak berhenti protes. Setelah berpikir sebentar, Harry membuat Marcus membeku dan Hermione menggeliat, saat ia mendaratkan ciuman ke pipi Marcus, dekat tempat yang terluka. Lalu beralih pada luka yang ada di dahi. Sebelum ia mencium luka yang ada di daun telinga, Marcus menahan hidungnya.
"Apa yang kau lakukan?" sergah Marcus yang memandangnya dengan aneh. Harry hanya mengerjapkan mata bingung. Setelah melihatnya melakukan itu tiap Marcus terluka, Harry menganggapnya sebagai jimat kesembuhan dan tanpa pikir panjang melakukannya. Lagi pula bibi Petunia juga melakukannya pada Dudley.
Setelah beberapa saat mengamati, Marcus menghela napas sambil mengusap rambutnya frustasi, lalu melanjutkan melangkah sambil membawa bundelan naif yang akan membunuhnya perlahan dengan kepolosan. Hermione mengikuti mereka sambil menutupi wajah. Telinganya terlihat merah.
Sejak saat itu, dimanapun Harry sendirian, Hermione akan menemaninya. Ia seperti bayangan kedua setelah Marcus. Sepertinya gadis itu sudah tidak peduli lagi dengan komentar-komentar Gryffindor. Kini ia melakukan apa yang ia suka dan tidak lagi peduli dengan yang lain. Membuatnya tampak bebas dan bersemangat. Bahkan ia beberapa kali duduk di meja Slytherin, disamping rasa kesal yang lain, mereka terlalu takut pada Marcus untuk melarang Hermione. Sedangkah Harry tampak tak menyadarinya. Ia hanya peduli akhirnya mendapatkan satu dari dua sahabatnya kembali. Walau bukan Hermione dalam versi yang sama. Ia jauh lebih prespektif, berpikiran terbuka dan tidak bergantung pada otoritas. Hermione yang ini seperti gabungan Hufflepuff dan Ravenclaw dengan sedikit tendensi Gryffindor. Harry tidak mengerti mengapa gadis itu tidak masuk Ravenclaw dengan otaknya? Hermione dengan nada sedihnya berkata bahwa ia berpikir dengan masuk Gryffindor ia akan mudah mendapatkan teman. Rupanya ia salah. Hal itu membuat Harry memeluknya, dan Marcus menggeram kesal seperti Beruang selesai hibernasi.
Kedua kembar Weasley tiba-tiba muncul di belakang Harry. Keduanya mengembangkan senyum lebar yang membuat semuanya curiga karena siapapun tahu kembar Weasley adalah rajanya jahil. "Dengan kerendahan hati, pangeran Slytherin!" seru mereka, bersamaan dengan Draco melancarkan protes. "Karena prefect kami, si besar kepala Percy, tidak punya otak, (dikejauhan Percy tampak merah padam), jadi kami mengantikannya mewakili asrama Gryffindor untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, my lord," katanya dengan dramatis, lalu pada Marcus, "dan pada mu wahai Troll Slayer! Karena telah menyelamatkan salah satu anak bebek kami dari troll."
Harry tertawa, dan dengan nada yang dibuat-buat, membalas dengan sikap arogan ala Malfoy, "Dengan sungguh-sungguh aku menerima terima kasih kalian," lalu keduanya bergantian mencium tangan Harry dan merunduk sambil mengundurkan diri.
Pada Marcus mereka berseru bersamaan, "Semoga tongkatmu selalu tajam untuk menebas habis Troll, wahai Troll Slayer!" tidak peduli pada tatapan membunuh yang diarahkan pada mereka. Harry masih menyeringai lebar saat si kembar kembali ke meja asrama, diikuti oleh tatapan geli siswa dan profesor.
Fred dan George adalah Weasley favoritnya.
Draco menggerutu, "Apa itu tadi. Seakan tongkat adalah pedang. tongkatmu selalu tajam, my lord," yang dibalas Harry dengan, "Aku tidak tahu kau menganggapku lord, Malfoy," yang menyebabkan merah padam. Hermione tidak bisa menahan rasa gelinya, tergelak hingga hampir terjatuh ke atas puding. Marcus tidak terhibur sama sekali, seperti biasa.
"Dan kalau ada yang menjadi pangeran Slytherin, tidak ada yang lebih pantas selain aku! AKU!" seru Malfoy dramatis. Yang membuat lucu adalah ia sungguh-sungguh berpikir begitu.
Hermione benar-benar terjatuh ke atas puding.
Ya. Seperti yang dikatakan si kembar, kini Flint punya julukan baru selain kejam, jahat dan tempramen untuk melengkapi koleksinya. Troll Slayer,itu apa yang didengarnya. Harry terkikik, membuatnya mendapat pukulan lembut di puncak kepala. "Bukankah itu cocok untuk image mu, Marcus? Kejam, kasar, jahat dan juga Penebas Troll."
"Masih tidak bisa menyaingi Bocah Yang Bertahan Hidup."
"Hei! Aku bukan bocah!"
"Hm? Kerdil kalau begitu." Bukannya marah, Harry malah tergelak keras sambil bergumam, 'Kerdil Yang Bertahan Hidup'. Ujung bibir Marcus berkedut.
Untungnya keberuntungan bertahan hidup tidak hanya terbatas di depan Kutukan Tak Termaafkan, karena sepertinya Harry butuh semua keberuntungan itu hanya untuk melanjutkkan hidup. Harry tahu jika quidditch adalah salah satu olah raga yang berbahaya. Tapi ia mengantisipasi bahaya itu sekedar karena hantaman Bludger atau Quaffle, bukan karena sapu terbangnya dikutuk! Belum lagi ini pertandingan pertamanya dan ia bagai buntelan gugup!
Sapu terbang pembelian Malfoy itu bergerak-gerak dengan liar seperti ia sedang menaiki kuda rodeo. Jeritan dan seruan ketakutan terdengar disepanjang arena selama ia berusaha bertahan. Tapi sentakan keras, membuat pantatnya keluar dari gagangnya dan grafitasi mulai menariknya jatuh sementara tangannya berusaha dengan keras mempertahankan genggaman. Keringat dingin dari rasa takut membuat jari-jarinya licin. Harry mengutuk nasibnya yang seperti film thriller. Lalu, seakan ia akan berakhir menjadi telur ceplok dibawah sana, tiba-tiba sapunya berhenti. Tanpa menunggu Harry kembali ke atas sapunya dan melesat mencari snitch, menghiraukan teriakan tertahan dari para penonton atau pemain.
Udara dingin dan kecepatan sapunya membuat dadanya sedikit sakit, tapi Harry tidak berhenti sampai tubuhnya terdorong ke ujung tongkat sapunya dan kedua tangannya bergerak menangkap Snitch yang terbang tak jauh dari atas tanah. Sebelum ia sempat meraihnya, ujung sapunya turun ke bawah, membuatnya terjungkal keluar dan mendarat sambil berputar ke tanah berumput dengan lembut.
Seruan kagum Lee Jordan dari Gryffindor yang menjadi komentator pertandingan tidak bisa ditahan bahkan pada Harry yang berasal dari Slytherin setelah melihat gaya terbangnya yang entah harus dibilang luar biasa berbakat atau malah luar biasa sembrono. Teriakan terkejut dan suara ping keras menadakan permainan berakhir saat Harry memutahkan benda keemasan dari mulutnya. "POTTER MENDAPATKAN SNITCH! POTTER MENANGKAP SNITCH DENGAN MULUTNYA!" microfon berdenging. "POTTER MEMPERTAHANKAN KEMENANGAN BERUNTUN SLYTHERIN SELAMA DEKADE TERAKHIR. POTTER MEMENANGKAN SLYTHERIN VS GRYFFINDOR!" seruang kemenangan menggemuruh diseluruh lapangan hingga membuat tanah bergetar. Tapi Harry tidak bisa mendengar semua itu karena otaknya sedang memproses saat Marcus datang seperti binatang buas dan mengangkat Harry ke bahunya hanya untuk memberinya pukulan pantat seakan ia anak berusia lima tahun! "HARRY POTTER MENDAPAT PUKULAN PANTAT DARI KAPTEN MARCUS FLINT—"
"—mr. Jordan!" seru McGonagal.
"—KARENA MELAKUKAN MANUFER TERBANG YANG BERBAHAYA ATAU HANYA KARENA FLINT INGIN MELAKUKAN SESUATU YANG KINKY PADA POTTER—"
"Mr. Lee Jordan! Detensi bersama Profesor Snape!" bentak McGonagal dengan murka terdengar dari pengeras suara. Tapi itu tidak menyurutkan kemeriahan perayaan kemenangan Slytherin. Atau bahkan jika komentar Jordan benar, siapa mereka untuk menghakimi Marcus dan Harry? Lagi pula siapapun tahu hubungan keduanya tidak biasa.
Tak lama sampai Harry diserang oleh rambut keriting liar yang memeluknya dengan erat. "Hermione!" gadis itu memakai syal slytherin, tak peduli sikap jahat teman-teman satu asramanya.
"Harry! Bodoh! Bodoh! Harry!" serunya sambil memukuli Harry.
"Hei! Hei! Hermione. Aku tidak apa-apa! Tidak ada yang terluka. Lihat?"
"Kau selalu saja tidak berpikir! Bagaimana kalau kau jatuh dari sapumu! Lain kali tangkap dengan tangan!"
Marcus membawa Harry ke ruang rekreasi Slytherin. Dikelilingi warna hijau, Hermione tidak tampak begitu canggung. Para pureblood rasis memilih mengabaikannya seperti bakteri, tapi karena Hermione cuma peduli pada Harry dan Marcus, ia mengabaikannya. Bahkan gadis itu menanggapi dengan sakartis komentar rasis Malfoy yang membuat bocah itu tidak tahu apakah itu hinaan atau tidak. Hermione tidak mengedip sama sekali saat Harry naik ke pangkuan Marcus seakan itu kursi pribadinya. Ketika pesta berakhir dan Harry mengatarkan Hermione keluar, gadis itu menariknya ke koridor sepi dan berkata setelah memastikan tidak ada orang disekitar mereka, "Harry. Aku tahu siapa orang yang mengutuk sapu terbangmu."
Ia menaikkan alis, "Siapa?"
"Snape!"
"Snape?"
Gadis itu mengangguk, lalu mengisahkan deduksinya tentang luka di kaki Snape dan hubungannya dengan usahanya memasuki ruangan lantai tiga. Bagaimana ia mendengar beberapa anak Gryffindor yang tersesat karena tangga bergerak berakhir di ruangan lantai tiga dan melihat monster mengerikan. "Monster itu yang menggigit Snape, Harry." Lalu ia menceritakan petualangannya menyelinap ke tempat duduk guru dan menyalakan api ke jubahnya untuk menghentikannya membaca mantra.
Harry tertawa keras karena bisa membayangkannya dari potongan masa depan yang ia lihat. Harry tidak mengira itu akan tetap terjadi walau ia masuk ke asrama berbeda. Well, melihat sapunya masih terkena kutuk, tentu kemungkinan macam itu masih bisa terjadi.
"Oh Hermione! Aku bisa meyakinkanmu jika itu bukan profesor Snape!"
Hermione menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu?"
"Hm... aku tahu karena ini bukan pertama kalinya ia berusaha mencelakai siswa."
Hermione membelalakkan mata. "Troll? Kau mengira jika orang itu yang memasukkan Troll ke dalam kastil?" melihat Harry mengangguk, ia menambahkan, "Siapa?"
"Kau tidak perlu mencemaskannya, Hermione. Karena Kepala sekolah dan banyak guru bergantian untuk menjaga barang yang dia cari," jawabnya ambigu. Hermione memandangi wajahnya yang mengawang-awang dan menggigit bibir. Lalu ia menganggu. "Jadi itu ada hubungannya dengan barang yang dijaga di lantai tiga."
Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Juga membuat Harry kaget karena gadis itu mampu mendeduksi sampai sejauh ini. Ia mengangguk. "Bagaimana kau bisa tahu ia mengincar sesuatu di lantai tiga?"
Hermione memutar bola matanya. "Itu jelas sekali. Dumbledore membuat pengumuman untuk menjauhi lantai tiga agar siapapun yang mengincar apa yang ada disana terpancing.
Harry mengangguk, "Benar sekali, tapi kau tidak perlu cemas karena benda disana bukan yang asli. Sekalipun para profesor bergiliran untuk menjaganya, tapi mereka tidak tahu jika benda yang asli tetap disimpang Dumbledore."
"Bagaimana kau bisa tahu banyak hal!" gerutu Hermione sambil cemberut. Harry cuma menyengir sambil mengerdikkan bahu. Hermione terkesiap, "Oh tidak! Aku mendengar beberapa anak Gryffindor bertaruh untuk pergi ke lantai tiga!"
Harry mengerutkan alis, "Kau harus mencegah mereka sebisa mungkin Hermione. Tempat itu berbahaya." Gadis itu mengangguk. "Sebaikkan kau segera kembali ke asrama. Sebentar lagi jam malam." Setelah memeluk Harry singkat, gadis itu berlari keluar dari koridor ruang bawah tanah. Saat Harry berbalik, rasanya jantungnya seakan melompat keluar dari mulut dan pura-pura mati saat melihat Marcus bersandar sambil bersedekap menunggunya.
"Sudah selesai bermain detektif?"
Harry memutar bola matanya. "Itu hanya Hermione. Tapi aku sudah memperingatkannya untuk menjauhi lantai tiga."
"Hm... sebenarnya apa yang ada dilantai tiga?"
"Sesuatu yang diincar penghisap Unicorn," jawabnya ambigu. Marcus menarik lembut rambutnya, tapi tidak mengungkitnya kembali.
"Tapi kau tidak akan ikut campur dengan hal yang berbahaya, kan?"
Harry menggeleng, "Tentu saja tidak," ia melemparkan tatapan seolah berkata, kau kira aku siapa.
"Tidak walau pun seandainya miss Granger terlibat?"
Hal itu membuatnya menyipitkan mata, "Aku akan mencegahnya sebelum itu terjadi."
Semenjak saat itu, Harry mengamati dengan seksama turban profesor Quirrell. "Ia terlihat sakit," komentar Marcus yang dibalas Harry dengan anggukan. Ya, kemungkinan karena tidak bisa meminum darah Unicorn. Ia akan melemah dan jika beruntung akan kesulitan menghadapi jebakan di lantai tiga. Harry sudah memastikan siapapun nanti yang menghadapinya, akan mendapatkan keuntungan. Jadi dia akan mencuci tangan dari persoalan itu.
Salju semakin pekat menjelang natal. Bukit-bukit hijau kini menjadi permadani putih bagai kapas. Begitu lebatnya hingga menciptakan jejak panjang saat tubuh raksasa Hagrid menarik potongan pohon natal untuk melengkapi dekorasi. Harry bergelayut aman dalam gendongan seperti biasa, sementara kaki panjang Marcus membawa mereka menyusuri halaman. Hedwig terbang tinggi di atas kepala mereka. Satu persatu teman mereka berpamitan, bahkan Hermione. Meninggalkan hanya mereka berdua di asrama Slytherin. Para profesor melenyapkan semua meja panjang kecuali satu, membuat mereka semua makan bersama. Harry merasa kasihan pada siswa yang tersedak saat makan di depan profesor Snape. Tatapannya yang menakutkan sungguh tak mengenal istirahat. Tapi itu tidak masalah bagi Harry, karena ia punya si Slytherin kejam dan tempramen miliknya sendiri yang bisa ia monopoli.
Pada pagi natal, di dekat kaki ranjang sudah ada banyak bertumpuk-tumpuk hadiah dari teman-temannya dan satu hadiah tanpa nama yang berisi jubah menghilang yang ia tahu berasal dari Dumbledore. Apakah itu termasuk hadiah jika itu miliknya dari awal? Dumbledore meminjam dari ayahnya, lagi pula.
Harry mengabaikan jubah menghilang itu dan berlari menuju lemari. Ia meraih bundelan kecil yang ada disana dan segera kembali kepada Flint yang menatapnya dengan alis terangkat. "Aku tahu kau membelikan sebagian besar hadiah untuk teman-temanku, tapi aku tidak mau kau membeli hadiahmu sendiri. Jadi aku meminta pada Grigotts untuk mengirimkan jam tangan yang sempat kulihat terakhir kali aku kesana. Kupikir itu cocok untuk hadiah natal," katanya sambil menyodorkannya. Pemuda itu perlahan membukanya dengan hati-hati, hingga kotak itu menunjukkan jam tangan klasik dengan hiasan berlian dan emas, tapi tidak tampak terlalu berlebihan saat dipakai. Seandainya Harry tahu memberikan jam tangan adalah tradisi yang dilakukan lady pada kepala keluarga, entah itu ayah ataupun suami. Memakainya dengan mudah, jam tangan itu menyesuaikan ukuranya dengan pergelangan tangan Marcus.
Harry bergerak-gerak gelisah saat Marcus tampak berpikir keras sambil mengamati kadonya. Lalu tiba-tiba Harry ditarik ke dalam pangkuannya. Lengan-lengan berotot itu memeluk Harry dengan kuat, sementara Marcus mengusapkan bibir ke dahinya dengan sayang, "Trims, Harry. Sekarang giliranku," dengan jentikan jari, tiba-tiba jubah putih dengan bulu-bulu lembut yang menghiasi pinggirannya, jatuh menutupi punggungnya dengan lembut. Jubah itu sangat indah hingga membuat Harry terkesiap. Ia membenamkan wajahnya pada bulu-bulunya yang lembut, sebelum mendongak dengan senyum lebar, "Trims, Marcus. Selamat natal."
"Selamat natal, princess." Harry memukulnya keras.
Natal menuju musim semi terasa begitu cepat, terutama saat pikiranmu disibukkan dengan berbagai tugas dan pertandingan quidditch. Sesekali pengelihatan masa depan akan mengetuk sejenak kesadaran Harry, tapi tidak ada diantara mereka yang separah pengelihatannya tentang Basiliks. Walau ia tahu dimana dan caranya membuka kamar rahasia itu, Harry tidak berminat untuk masuk kesana. Andai bisa ia akan menghalangi terjadinya sebagian besar kejadian yang dilihatnya. Diantara semua itu sesekali profesor Dumbledore mengundangnya ke kantor kepala sekolah dan memberinya dorongan-dorongan tidak masuk akal penuh tendensi Gryffindor seperti berjalan-jalan sendirian dimalam hari dengan jubah menghilangnya.
Harry tahu jika pria itu ingin tahu isi kepalanya dengan melihat apa yang dilihatnya di cermin erised karena Legilimency-nya tidak mampu menembus kepala seer. Tapi sesungguhnya, diluar sepengetahuan Dumbledore, ia sudah mengunjungi cermin erised. Dan ia tidak punya niatan mengulanginya. Masih teringat jelas betapa kagetnya ia saat mengetahui ada perbedaan dari yang dilihatnya saat ia masuk Gryffindor dan sekarang. Ia tidak melihat kedua orang tuanya. Harry tidak mengerti mengapa ia tidak melihat orang tuanya? Mungkinkah karena ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa itu tak kan mungkin terjadi sehingga itu tidak lagi menjadi keinginan terdalamnya?
Kedua orang tuanya kini digantikan oleh gambaran dirinya dan Marcus. Bedanya hanya mereka beberapa tahun lebih tua dan Marcus masih tetap saja menggendongnya, sekalipun kaki Harry sudah jauh lebih panjang. Ia memakai jubah bulu hadiah natalnya sementara Marcus memakai jubah lord. Hal itu membuatnya tersenyum, tapi juga sedih karena menyadari jika ia tidak ingin mereka menjauh saat lulus dari Hogwarts. Malam itu, mengetahui ada yang membuat Harry kesal, Marcus menemani Harry duduk di depan perapian sementara ia perlahan jatuh terlelap.
Tidak ada yang istimewa terjadi setelah itu. Hanya Hermione memberitahunya bahwa Ron Weasley dan kedua kroninya, entah dengan deduksi model apa, memutuskan untuk menghentikan Snape mencuri apa yang dijaga di lantai tiga, Harry hanya menyuruh Hermione melaporkannya pada McGonagal. Ia tahu kepala sekolah sedang tidak ada di tempat—atau sengaja tidak ada di tempat. Sisanya tinggal sejarah. Ron Weasley dan kedua temannya ditemukan tak sadarkan diri di salah satu jebakan di ruangan itu, tapi hidup. Cermin erised pecah berkeping-keping. Tak ada yang tahu nasib profesor Quirell selain bahwa pria itu lenyap karena kegilaannya dan ketakutannya pada bayangannya sendiri. Banyak kasak kusuk antara percaya dan tidak pada ucapan Ron dan teman-temannya bahwa mereka berjasa menghentikan orang jahat yang berusaha mencuri apa yang dijaga di lantai tiga. Padahal mereka tidak melakukan apapun.
Tapi itu tidak menghentikan Dumbledore dengan pilih kasihnya, memberikan tambahan point untuk sikap pemberani dll (Harry tidak mendengarkan, atau tersinggung pada kerlip mata yang diarahkan padanya, karena terlalu sibuk bergelut pada Marcus sebelum mereka harus berpisah hingga tahun ajaran baru). Namun, biar dengan tambahan point itupun, mereka tetap tidak bisa mengalahkan point yang dikumpulkan Slytherin tanpa henti sepanjang tahun digabungkan dengan point dari piala quidditch. Sehingga seluruh aula berakhir dengan warna hijau dan emblem Slytherin. Sorak sorai terdengar, sementara Profesor Snape menatap dengan sombong di balik piala asrama yang ada di depannya. Apapun asal bisa menyenangkan sang master ramuan.
Harry kembali ke keluarga Dusley dengan hati berat karena harus berpisah dengan Marcus. Harry tidak melepaskan pelukannya, sekalipun mereka berdiri di tempat umum dan Marcus memasang topeng purebloodnya, tapi Harry tidak peduli! Pemuda itu hanya mengusap puncak kepala Harry tanpa kata-kata penghiburan. Tapi itu lebih dari cukup karena Harry tahu dibalik topeng pureblood, Marcus peduli. Buktinya ia tidak melepaskan diri walau Harry bertingkah seperti koala ditengah tatapan banyak orang, termasuk lord dan lady penyihir. Tapi itu tidak merubah kenyataan bahwa mereka harus berpisah, dan Marcus harus segera ber-apparated ke Flint Manor.
Pemuda itu menangkup pipi Harry dan berjanji untuk mengiriminya surat. Tapi Harry tidak yakin itu akan terjadi. Ia melihat pemuda itu melangkah pergi ke area khusus apparated. Harry berbalik, menghela napas dengan wajah penuh tekad. Memperiapkan diri pada takdir yang tidak mudah di depan mata. Selamat datang di neraka.
Bersambung.
