Er... Maaf telat update *bow* Nah, chapter ini pendek... Saya ngerjain malem-malem sebelum tidur dan ini menyiksa. Besok sekolah dan saya belum ngerjain pr *headdesk* Dan abaikan urusan pribadi saya yang tadi. Sekali lagi, maaf telat update. Enjoy~

Chocolate © Me

Hetalia © The Awesome Hidekaz Himaruya

Warning: OOC, asal-asalan, imajinasi author yang berlebihan, yaoi.

.

"FUCK YOU! FUCK! YOU!" teriak Yao dengan amarahnya di pagi hari yang cerah ini. Kemarin Emil dan saudaranya berdiam diri di kamar. Er... kecuali Mathias yang menghabiskan stok bir di asrama ini dalam sehari. Dalam sehari.

Aku berlari menuruni tangga dengan tatapan datar. Yao jarang marah-marah di pagi hari. Apalagi dengan suara sekencang itu. Aku berjalan menuju ruang tamu dan kutemui seorang pria Russia tinggi -dan besar- di depan Yao. Ia terlihat kaget.

"Yao-Yao, tenanglah, da. Aku hanya mengajakmu kencan dan kenapa kau-" ucapan sang pria terpotong oleh teriakan lain.

"Chǔnhuò! Aku sudah bilang berkali-kali TIDAK MAU, aru! Dan kalau kau menyeretku lagi ke dalam kencan menyeramkan itu, aku akan membunuhmu, aru!" ancam Yao. Mukanya memerah marah, atau malu? Entahlah, benci dan suka bedanya tipis.

"Pagi-pagi berisik.." ucap Lukas yang entah sejak kapan sudah berada di sebelahku. Aku memutar bola mataku.

"...kalian diam." pinta Emil yang muncul diantara Yao dan Ivan -sang pemuda Russia. Ivan tampak ingin protes tetapi disela Emil. "Diam." serunya lagi. Kali ini dengan tatapan tajam dan Ivan benar-benar diam.

"Heya~ Emmy menyeramkan~" kata Mathias seraya merangkul Lukas. Pemuda berjepit itu memukul kepalanya dan Mathias pun kembali tertidur (baca; pingsan).

"Diam kau, blockhead." ucap Lukas tenang.

"...kalau dilihat, kelakuannya mirip denganmu, Hong." ucap Yao setelah menendang Ivan keluar rumahnya dengan tatapan sinis. Aku menaikkan satu alisku. Apa miripnya? Lukas terlihat pintar; silahkan lihat tumpukan buku yang ada di kamarnya. Aku? Pintar? Keajaiban dunia. Di kelas memerhatikan guru saja tidak.

"Terserah." kataku acuh tak acuh. Aku melirik Emil. Apa yang bisa kulakukan hari ini untuk menjahilinya? Emil menguap lalu menggaruk belakang lehernya. Ia berjalan kembali ke kamarnya yang ada di samping kamar milik Lukas.

"Lukas, kau tahu Emil takut apa?" tanyaku. Lukas menengok ke arahku. Yao menarik Mathias ke kamarnya yang ada di samping kamar milik Yong Soo. Pemuda pirang itu mengangkat bahunya.

"Entahlah. Dia tidak pernah terlihat ketakutan. Coba saja cari." Lukas menggaruk belakang lehernya seperti Emil beberapa menit yang lalu. Ia berjalan gontai kembali ke kamarnya. Benar benar adik kakak.

Nah, siapa yang mau menghabiskan hari yang cerah ini di kamar, meringkuk sendirian hanya dengan sebuah game di tangan?

.

Aku meringkuk di atas kasur. Stick Xbox 360 di tangan, secangkir green tea di samping tempat tidur dan game Condemned: Criminal Origins di layar LCD. Layar LCD di kamar, hebat kan? Hanya kamarku yang punya fasilitas seperti ini karena aku memaksa Yao untuk menaruhnya di kamarku. Lampu kamar tentunya kumatikan, tirai tertutup dan tidak ada cahaya sedikitpun kecuali dari layar. Hidup itu indah.

Aku berkedip menatap monster-monster yang muncul di layar. Lalu pintu kamarku terbuka, membiarkan masuk seberkas cahaya.

"Hong, aku pinjam senter." seru seseorang dari pintu kamarku. Emil. Aku menatapnya beberapa detik.

"Kenapa harus punyaku?" tanyaku. Aku kembali memerhatikan layar.

"Lukas sedang membaca buku, Mathias masih pingsan, Yao sepertinya sedang depresi karena pria besar yang datang tadi, Mei sedang pergi dengan temannya dan satu lagi masih tidur." jelas Emil seraya bersender ke dinding kamar Hong. "Senter." pinta pemuda mungil itu.

"Untuk apa?" mataku tak lepas dari layar.

"Lampu kamarku mati."

"Kau bisa menetap di sini." kataku seraya memutar bola mataku. Game sudah ku save, jadi kumatikan Xbox yang ada di depan kasur.

"Tidak mau." ucapnya. Ia memutar bola matanya lalu melihatku menghampirinya dengan tatapan datar. Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

"Kenapa?" tanyaku dengan tatapan malas.

"Kelakuanmu jelek. Apa lagi? Kau terlihat... mesum." ...hah? Mesum? Mesum katanya? Sepertinya menarik. Ya, karena menarik aku memutuskan untuk menjahilinya.

Aku mengangkat tangan kananku dan menaruhnya di dinding sebelah telinga Emil lalu mendekatkan wajahku. Aku tertawa pelan. "Mesum? Siapa yang mesum?" tanyaku setengah berbisik. Muka pemuda di depanku terlihat tegang dan kaget. Aku menaruh tanganku yang satu lagi di sisi yang berlawanan. Ia merapatkan punggungnya ke dinding.

"Hong, jangan bercanda." ucapnya ketakutan. Aku tersenyum licik.

"Siapa yang bercanda? Ah, lihat. Bibirmu merah. Aku penasaran seperti apa rasanya." ucapku pelan. Muka Emil memerah. Jangan tertawa Hong, itu akan merusak rencanamu. Aku berusaha sekuat tenaga agar tawaku tidak meledak.

"K-kau mau apa?" tanya Emil ketakutan.

"Hm.. Mau apa ya?" aku menempelkan kedua ujung hidung kami. Ah, aku bisa merasakan nafasnya yang hangat.

"Emil dimana-" suara itu masuk ke dalam kamarku. Aku memutar mataku, tidak menjauh se-inchipun dari Emil. "LEPASKAN ADIKKU!"

Dan hal berikutnya yang kulihat adalah hitam, gelap dan... menyakitkan.

.

Yao mengobati dahiku yang tergores... lebih tepatnya tertusuk pisau milik Lukas. Wajah Yao terlihat kesal.

"Yao, wajahmu tidak perlu sekesal itu." ucapku jengkel.

"Bercandamu kali ini keterlaluan, Hong. Emil masih kecil." Yao membersihkan darah yang terus mengalir dari dahiku.

"Dia enam belas tahun, Yao. Waktu yang cukup untuk memiliki hubungan dengan orang lain." ucapku sedikit meringis karena Yao menekan lukaku dengan kasar.

Lalu ceramah Yao mulai dari sana. Percaya padaku, kau tidak ingin mendengarkannya karen yang ia katakan sangat sangat sangat panjang dan bertele-tele.