My Beloved Nii-chan~ Shitsuka
Naruto Masashi Kishimoto
Rate T agak nyerempet T+ Mungkin /dor
Genre Romance, Drama
Pairing SasuNaru dan kemungkinan akan muncul pair yang lain
Warning OOC, BL/Shounen – ai/Slash , Typos, Miss Typo, Judul dengan cerita gak ada sangkut pautnya, Bila ada kemiripan cerita sungguh itu ketidak sengajaan cerita ini real dari otak saya.
Yo, Readers! Shitsu balik lagi! Nyahahahahaha kali ini Shitsu membawa Fict multichap! Tapi kali Shitsu Cuma mau ngelanjutin fict kalau ada yang ngereview~ kalau gak ada ya udah... terpaksa gak shitsu lanjutin u.u
Selamat Membaca~
Mau nge – Flame, Mau meng – kritik, mau memberi saran, atau apa pun itu Shitsu terima, yang penting itu semua dapat membangun dalam pembuatan fict ini~
RnR?
::Chapter 1::
Naruto kecil terduduk ditaman bekang rumahnya. Sesekali bibirnya menyunggingkan seulas senyuman ketika ia melihat beberapa insekta atau kita bisa bilang serangga terbang kesana kemari di tamannya itu.
"Naru-chan!" panggil sang ibu.
"Kaa-san!" balas Naruto.
"Lihat siapa yang kaa-san bawa!"
Mata Naruto kecil mebelalak ketika ia melihat sesosok anak laki – laki yang nampaknya berbeda beberapa tahun darinya sedang menatapnya dengan tatapan datar diwajahnya.
"Kaa-san itu siapa?" tunjuk Naruto ke anak laki – laki di belakang Kushina. "Apa dia adik Nalu? Tapi dia tellihat tellalu tua untuk jadi adik Nalu.." Mendengar penuturan polos dari Naruto, mata bocah berambut raven itu membulat sempurna. Sedangkan Kushina? Ia hanya termangu dibuatnya.
"Ehm.. Sasuke memang tidak akan jadi adik Naru-chan," ucap Kushina setelah berdeham.
"Lalu?" tanya Naruto.
"Sasuke akan jadi kakak Naru-chan~"
"TIDAK MAU KAA-SAN!" Naruto menjerit dengan histeris. "NALU TIDAK MAU PUNYA KAKAK! NALU MAUNYA PUNYA ADIK! HIKS!"
"Aduh Naru-chan.. Jangan menangis," bisik Kushina menenangkan. Namun bukannya mereda tangisan Naruto semakin kencang. Sasuke yang melihat itu menghela napas lalu berjalan pelan kearah Naruto. Direngkuhnya tubuh mungil Naruto, lalu ia berbisik, "Jangan menangis, Dobe. Kalau kau menangis, kau terlihat jelek," bisiknya pelan. Dan binggo. Tangisan Naruto berhenti, lalu digantikan dengan teriakan. "AKU TIDAK JELEK TEME BODOH!"
.
.
.
Matahari yang mulai terbit dari ufuk timur dan cicit burung – burung gereja mengawali pagi yang cerah ini. Pagi yang cerah? Eh? Harusnya pagi yang cerah diawali dengan seulas senyum di bibir bukan? Tapi kenapa hanya wajah cemberut yang menghiasi wajah tokoh utama di cerita ini? Mari kita selidiki apa yang terjadi. Dan oh ternyata penyebabnya ialah ia bermimpi tentang Sasuke dan terlebih saat ini sang ibunda daripada tokoh utama kita ini masuk ke kamar Naruto dengan sepatah kalimat yang langsung membuat mood Naruto semakin down.
"Maafkan kaa-san Naru, hari ini dan besok kaa–san tidak bisa pulang karena kaa-san harus bertemu dengan client kaa-san," ucap Kushina dengan nada sesalnya.
"Tapi kaa-san aku tidak mau dirumah sendirian dirumah ini bersama si brengsek pantat ayam itu!" seru Naruto.
"Jaga mulutmu Naruto! Dia kakakmu!" balas Kushina tak kalah keras. Dan tentu saja hal itu langsung membuat Naruto bungkam.
"Lagian dulu siapa suruh kau meminta seorang adik hah?" ujar Kushina.
"Tapi kan aku maunya adik bukan kakak brengsek seperti si pantat ayam itu!" sanggah Naruto yang langsung membuat Kushina menghela napas.
"Tidak bisakah kalian akrab sedikit?" tanya Kushina.
"Tidak. Dia tidak menyukai ku dan begitu pun aku," jawab Naruto.
"Oh asal kau tahu kau dan kakakmu itu terlihat seperti sepasang kekasih," Mendengar ucapan ibunya Naruto ingin (sekali) menjedotkan kepalanya ke tembok terdekat. The hell! Apa – apaan itu? Terlihat seperti orang pacaran?! Mengganggap eksistensi kakaknya saja dia ogah, apalagi membayangkan kalau mereka menjadi sepasang kekasih? Kh— Menyeramkan.
Naruto bergidik ngeri akibat imajinasinya sendiri, melihat tingkah laku sang buah hati, Kushina pun mengernyitkan dahinya.
"Ada apa? Apa ucapan kaa-san ada yang salah? Atau..." Kushina menghentikan ucapannya sejenak dan lalu ekspresi terkejut pun hadir di wajah cantiknya itu. "Kau dan Sasuke benar – benar sepasang kekasih?!" Dan setelahnya dapat kita pastikan bahwa Naruto langsung menjedotkan kepalanya ditembok setelah mendengar ucapan dari ibunya itu.
.
.
.
Setelah aksi menjedot – jedotkan kepala di temboknya selesai, Naruto berjalan gontai kearah ruang makan. Disana sudah terlihat Sasuke -yang kita tahu ia berperan sebagai kakaknya Naruto di cerita ini- telah menunggunya dengan tampang datar ala alas setrikaan miliknya.
"Lama," ucap Sasuke ketus.
"Bawel. Tadi aku habis bicara dengan kaa-san," balas Naruto sambil mengambil tempat duduk tepat di depan Sasuke.
"Berbicara?" Sasuke menyipitkan matanya ketika ia melihat ada bekas kemerah – merahan yang membekas di jidat Naruto. "Kalian membicarakan apa sampai jidatmu jadi kemerah - merahan seperti itu, Dobe?" tanya Sasuke dengan angkuhnya.
"Bukan-" Sebelum Naruto menyelesaikan perkataannya ibunya, Kushina telah memotongnya terlebih dahulu. "Kami membicarakan tentang hubunganmu.." ucapnya sambil menunjuk Sasuke. "dan Naruto, Sasu-chan," Sasuke membulat sempurna. Bukan. Bukan karena mengenai apa yang telah Naruto dan Kushina bicarakan. Tapi itu—err apa – apaan itu namanya jadi 'Sasu –chan'
"Sasu-chan.." Sasuke bergidik ketika ia mengucapkan kalimat itu. Dan lihat bagaimana reaksi Naruto saat ini. Dan binggo Naruto sedang berusaha mati – matian menahan tawanya.
"Sasu-chan~" ucap Naruto mengulangi ucapan sang ibu.
"Hentikan itu, dobe!" seru Sasuke menahan rasa malunya. Sedang si pelaku yang telah mengubah nama Sasuke itu hanya tersenyum dengan innocentnya.
"Nahkan kalian terlihat seperti sepasang kekasih," komentar Kushina setelah melihat pertengkaran Sasuke dan Naruto.
"BUKAN!" sergah keduanya kompak. Dan Kushina pun tertawa terbahak – bahak melihat reaksi dari kedua putrannya yang sangat ia sayangi itu.
"Pfft.. Akhirnya kalian bisa kompak juga~" seru Kushina sambil bertepuk tangan. " Ah!" tiba – tiba Kushina memekik ketika melihat jam tangan berwarna putih yang melingkar manis di tangannya. "Sudah jam segini! Aku bisa telat," serunya panik.
Sesegera mungkin Kushina bangkit dari tempat duduk dan mulai mencium kening Sasuke dan Naruto.
"Sasuke, Naruto, jaga diri kalian baik – baik ya. Lusa kaa-san akan pulang. Dan kaa-san harap rumah tidak akan kacau balau akibat aksi kalian, oke?" Setelah berpamitan dengan kedua putrannya, Kushina pun berlalu meninggalkan kediaman Uzumaki itu, meninggalkan keheningan diantara Sasuke dan Naruto yang masih berada di ruang makan.
"Jadi.. kita hanya berdua dirumah ini, Teme?" tanya Naruto memastikan.
"Iya. Kenapa?" jawab Sasuke dengan sebuah seringai yang menghiasi bibir pucat kemerah – merahan miliknya itu.
"Kh! Pasti akan sangat membosankan!" seru Naruto kesal.
"Oh? Siapa bilang?" balas Sasuke dengan seringaian yang lebih lebar.
"Hentikan seringaianmu itu bodoh. Kau terlihat lebih bodoh ketika menyeringai," ucap Naruto sambil memutar kedua sapphire itu.
Bukannya menghilangkan seringaiannya, ia malah mengulas seringai yang lebih lebar dari sebelumnya. Perlahan ia bangkit dari tempat duduknya, dan kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Naruto. Perlahan – lahan Sasuke mendekatkan wajahnya kearah Naruto..
10 cm...
8 cm...
6 cm..
5 cm...
Naruto yang menyadari bahwa wajah Sasuke semakin dekat dengannya pun mendadak gugup, dan tiba – tiba saja jantungnya bekerja 2 kali lebih cepat. Ketika jarak wajah mereka semakin tipis, Naruto pun tak kuasa untuk menahan kelopak matanya tetap terbuka, jadi ia memutuskan untuk memejamkan matanya erat – erat.
Satu menit berlalu dan Naruto tetap memejamkan matanya. Nampak ia kebingungan karena tidak ada bibir yang menyambar bibirnya ataupun jidatnya ataupun pipinya itu. Eh? Tunggu! Apa Naruto berharap Sasuke menciumnya? HELL NO! Perlahan namun pasti kelopak mata yang membungkus sapphire indah milik Naruto pun terbuka. Dan dapat dilihatnya wajah Sasuke yang hanya berjarak kira – kira 5 centimeter dari wajahnya sedang menatapnya dengan senyuman mengejek dibibirnya.
"Kau berpikir aku akan menciummu eh, Dobe?" sindir Sasuke sambil tetap mempertahankan posisi wajahnya itu.
"Brengsek!" seru Naruto sambil melayangkan tangan kanannya kearah Sasuke, namun dengan mudah Sasuke menahan tangan kanan milik Naruto itu. Sehingga dapat dipastikan tidak akan ada lebam biru yang akan menghiasi wajah tampannya itu.
"Ups, sebagai adik kau harus bersikap manis Naru-chan," bisik Sasuke tepat di telinga Naruto.
"G..geli.. Teme brengsek! Jauhkan mulutmu dari telingaku!" seru Naruto lengkap dengan umpatan khasnya.
"Pfft.. sudah terpojok masih saja keras kepala. Dasar Dobe," ucap Sasuke dengan suara rendahnya. Sebelum ia menjaukan wajahnya dari telinga Naruto, Sasuke mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia mengecup pipi chubby milik Naruto lalu setelahnya Sasuke melenggang pergi ke arah kamarnya.
Sadar bahwa pipi sucinya baru saja di nodai oleh Sasuke, dengan tak ke prikesendalan ia pun langsung melempar sendalnya kearah Sasuke pergi.
"TEME IDIOT! BRENGSEK! MATI SAJA KAU DI LAUT! ARGH PIPI SUCIKU TELAH DI NODAI OLEH MANUSIA PANTAT AYAM!" raung Naruto.
Sasuke yang mendengar jeritan Naruto dari ruang makan hanya menyeringai senang didalam kamarnya. "Well, Dobe adikku tercinta. Ini baru awalnya saja sayang," ucapnya bermonolog ria dan kemudian disusul aura mengerikan dari balik tubuh pemuda berwajah tampan ini. Oh tolong Sasuke jadi yandere sekarang.
.
.
.
Oke mungkin meminta adik adalah perbuatan yang paling salah yang pernah ia lakukan 15 tahun yang lalu. Terlebih bukan ia yang menjadi kakak, malah si pantat ayam itu yang jadi kakak. Oh tolong menyesal adalah rasa pertama yang ia rasakan selama 15 tahun belakangan ini. Tapi mau dikata apa? Toh nasi sudah menjadi buburkan? Sekarang ia, Uzumaki Naruto dan Uchiha Sa—ralat Uzumaki Sasuke sudah terikat hubungan kakak – adik (walaupun mati – matian Naruto menyangkalnya). Tunggu. Kakak adik? Err tapi hubungan mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Bukan dilihat dari adegan romantis melainkan dari cara mereka bertengkar. Itu yang dikatakan Kushina, ibu mereka. Tapi hell persetan dengan itu! Naruto tidak sudi menjadi adik Sasuke apalagi menjadi kekasih Sasuke. Sampai lebaran Akatsuki pun ia tak sudi! Ngomong - ngomong soal Akatsuki, Akatsuki adalah perkumpulan orang – orang tampan dan keren di sekolah Naruto dan Sasuke. Tapi sialnya bagi Naruto, Akatsuki hanyalah segerombolan kakak kelas yang suka membully adik kelas demi mendapatkan ketenaran, tukang bikin ulah dan sok keren. Sungguh menggelikan.
Naruto mengehela napas berat. Hal ini adalah hal yang telah ia lakukan berulang – ulang kali sejak beberapa jam yang lalu. Ia lelah dengan semua ini. Ia lelah dengan perlakuan kurang ajar Sasuke.
"Sasuke brengsek!" jerit Naruto kesal.
"Hn?" balas Sasuke yang ternyata sedari tadi duduk disebelah Naruto.
"Idiot! Kau mengagetkan ku bodoh," seru Naruto ketika ia sadar bahwa Sasuke ternyata duduk disebelahnya. "Ng.. mau kemana kau?" tanya Naruto setelah mengontrol kekagetannya.
"Aku? Haruskah aku menjawabnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke malah bertanya balik.
"Tentu saja kau harus menjawabnya bodoh! Aku ini kan adi—err—"
"Adi..?" Sasuke yang paham maksud dari ucapan Naruto yang sengaja tidak ia selesaikan itupun menyeringai. "Jadi kau mulai mengakui eh, bahwa kau ini adikku?" bisik Sasuke dengan suara beratnya.
"Tidak akan! Dan jangan harap!" balas Naruto sambil menatap Sasuke dengan nyalang.
Sekali lagi Sasuke ditolak Naruto. Ia pun menghela napas berat dan beranjak dari tempat duduknya. Menyadari Sasuke yang mulai beranjak, Naruto pun menahan tangan Sasuke.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Teme,"
"Aku mau jalan – jalan. Mau ikut?" ajak Sasuke. Naruto menimbang – nimbang apakah ia ikut atau tidak. Dan ia pun memilih untuk ikut.
"Aku ikut," balas Naruto pelan, malah terkesan seperti bisikan.
"Baiklah, ayo."
.
.
.
**TBC**
Pojokan author :
Hohohoho ayo tebak mereka mau pergi kemana hayo~~ x3 /seemsambigay
Oh ya maapkan shitsu yang telat pake banget updatenya QwQ si bebeb ilham baru nibanin kepala shitsu masa u.u
OH YA! makasih untuk reader tachi yang udah ngingetin shitsu kalo kemarin harusnya 180 derajat bukan360 derajat~ muehehehe maacih~ x3
Dan oh ya oh ya by the way naik busway disini ceritanya mulai ketika si Naru udah gede ya bukan pas dia masih bocah .w. abisnya dia kasian sih kalo disiksa pas masih bocah u.u /SLAPPED
Dan terakhir berhubung banyak yang minta fict ini diubah ke rate uhukMuhuk. Kemungkinan besar chap depan fict ini akan shitsu ubah jadi uhukMuhuk ratenya~~ *pasang muka innocent* /kicked
Special thanks for :
ocana gak login Naarusuke Arum Junnie Aristy Namikaze Rizky yunaucii kagurra amaya Icha Clalu Bhgia shia naru michaelis yuki Satsuki Naruhi 7D Himawari Wia Cah Wadon laelileleistiani GerhardGeMi gueeesssttt xxx oguri miruku and for all silent reader!
nah sekali lagi kelanjutan fict ini ada di tangan reader tachi sekalian~ Jika mau lanjut diharapkan review~ jangan pelit pelit ya ini demi jalannya alur cerita u.u ayo dong! Semakin banyak yang review semakin cepet shitsu updatenya~ soalnya kan semakin banyak yang review berarti semakin banyak pula yang suka sama fict shitsu ini~ x3
bye bye~ sampai jumpa di chappie depan~ :D
Mind to :
R
E
V
I
E
W
W
^w^
