Sakura memilih untuk tidur bersama Sasuke, jujur saja ia merasa sangat lega saat melihat ranjang bertingkat di kamarnya, tetapi pada akhirnya mereka harus tidur bersama. Dan satu jam telah berlalu semenjak Sakura membaringkan tubuhnya di samping Sasuke namun Sakura masih terjaga sepanjang waktu. Dia mengumpat dalam hati, mengapa hanya dia satu-satunya yang tidak bisa tidur? Terlebih, di posisi yang sama sepanjang waktu membuatnya lelah. Oh itu dia, Sakura mengangguk lalu membalikkan tubuhnya. Punggung yang lebar terpampang jelas di depan matanya. Namanya Sasuke kan? Dia memiliki mulut yang tajam 'aku tidak pernah ingin melakukannya' tapi dia bahkan menyelamatkanku.

Sakura menyunggingkan senyumnya, "terima kasih."

"Mmm..."

Huh? Apa dia baru saja meresponku?

"Mmm..."

Sasuke membalikkan tubuhnya tiba-tiba dan...

Cup...

...

Sakura menyentuh bibirnya, matanya bergetar saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

"Zzzzz"

"Apakah dia baru saja menciumku?"


TRUE LOVE SWEET LIES

Disclaimer: Masashi Kishimoto

SasuSaku

Rate: M


warning

typos, ooc, eyd berantakan


Sakura masih saja membatu. Tiba-tiba rasa panas menjalar di kedua pipinya.

"Yu...ri..."

Gumaman Sasuke memaksa gadis berambut pink itu untuk menatap kearahnya.

"Yuri?" Sakura bergumam menirukan nama yang baru saja disebut oleh Sasuke.

Dalam masih kebingungannya, Sakura melihat Sasuke membuka matanya perlahan dan menatap ke arahnya.

"Sasuke—"

Sasuke tesenyum sangat sangat lembut dan lalu mengusap kepala Sakura. Sentuhannya yang begitu lembut dan tatapannya yang dalam membuat jantung Sakura berdebar kian keras, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan jadi dia menutup matanya rapat-rapat. Namun tak berapa lama Sasuke berhenti mengusap kepalanya.

"Sasuke?"

Sakura membuka matanya dan menatap kearah pemuda yang sekarang sedang menutupi sebagian wajah dengan tangannya. Dengan cepat Sasuke mengusap bibirnya dan memutar badannya memunggungi Sakura.

"Zzzzzz."

"Dia tertidur lagi?"

Sakura kembali berpikir, mungkinkah sasuke melakukannya dengan tidak sadar? Yah, sepertinya memang seperti itu, dan memang harus seperti itu. Sakura menjelaskan pada dirinya sendiri lalu kembali memutar tubuhnya memunggungi sasuke. Namun setiap kali punggung mereka bersentuhan,untuk beberapa alasan bibirnya terasa sangat panas. Sakura menggerutu, kejadian tiba-tiba itu malah membuatnya semakin tidak bisa tidur..

Pagi harinya saat Sakura hampir saja terjatuh dalam mimpi...

Duk

"Waaahh!" Sakura berjingkat sambil melompat dari ranjangnya saat sesuatu menusuk tubuhnya. "sialan." Sakura mengumpat sambil memegangi punggungnya yang kesakitan.

"Mbeeeek.."

Sakura melongo kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Memastikan kalau dia masih berada di dalam kamar dan bukan di kandang kambing.

"Kenapa... ada kambing disini?" gumam Sakura.

"Bisakah kau tidak berisik pagi-pagi begini?" Sasuke masuk ke kamarnya dengan wajahnya yang merasa terganggu karena teriakan Sakura.

"Sasuke-kun..." saat Sakura menatap Sasuke peristiwa semalam tiba-tiba muncul dan memenuhi pikirannya, dan itu membuat jantungnya kembali berdebar tak beraturan. Sakura menoleh cepat, dia benar-benar tidak bisa menatap Sasuke lagi. "um... selamat pagi..."

Sasuke mendekati Sakura dan memicingkan matanya, "ada apa denganmu?"

Wajah sasuke begitu dekat saat bertanya seperti itu, dan hal itu membuat aliran darahnya mengalir sangat cepat ke kepalanya.

"Wajahmu merah." Kata sasuke.

"Sebenarnya aku tidak telalu merasa enak." Sakura tersenyum kecut sambil menyentuh dahinya, bagaimana bisa dia bilang kalau ini gara-gara ciuman semalam. Namun sekejap kemudian dia merasa panik, bagaimana kalau Sasuke tiba-tiba menyentuh dahinya dan tahu kalau dia berbohong, "-tapi aku sudah baikan kok."

Sasuke menatap tidak peduli kearah Sakura, "aku sama sekali tidak mengkhawatirkanmu."

Aku memang berpikir seperti itu. Sakura mendengus panjang. Tapi tetap saja... Sakura menatap kearah Sasuke dan berkata, "apa kau benar-benar tidak ing-"

"Mbeeeeek." Kambing yang entah dari mana asalnya itu menggosokkan dirinya pada kaki Sasuke.

"Ada apa Yuriko?" Sasuke menunduk.

"Y-yuriko?" Sakura bergumam, sepertinya nama itu tidak asing lagi.

"Mbeeek.."

"Oh, kau lapar? Kemari kemari.." Sasuke berjalan sambil mengipatkan tangannya dan kambing itu mengikutinya dengan ekornya yang bergerak cepat seperti anjing.

"Uhm, seperti yang aku katakan.." Sakura kembali meneruskan omongannya yang sempat terpotong. Namun dia kembali diam saat melihat Sasuke bermain dengan kambing itu dan melupakannya seolah dia ini transparan.

"Kau bahkan tidak pernah mendengarkanku bukan?" gumam Sakura.

Sasuke terkekeh saat kambing tersebut mulai menjilati wajahnya, "hentikan itu! Itu menggelikan."

Ekspresi yang baru saja di perlihatkan sasuke membuat sakura mematung. Melihat bagaimana Sasuke tersenyum pada binatang, bagaimana lembutnya dia memperlakukan binatang itu.. sementara dengannya, Sasuke bahkan bersikap sangat dingin padanya.

"Aku bermimpi kau semalam." Sasuke mengelus kepala kambing itu, senyumannya berubah kian halus, si kambing menjawabnya dengan embikan seolah dia mengerti apa yang Sasuke katakan, "dan kau menjilati bibirku seperti ini."

Huh?

"Aku tahu itu hanya mimpi, tapi anehnya itu terasa sangat nyata." Sasuke memiringkan kepalanya dengan raut wajah heran.

Di sebelah sana Sakura melotot tak percaya. Dia kembali mengingat saat sasuke bergumam nama Yuri, jadi saat dia berkata Yuri...

"Apa semalam dia berkata tentang Yuriko?"

"Hn?" Sasuke menoleh saat mendengar Sakura menyebut nama Yuriko dengan keras, "apa yang kau bicarakan, ha?"

Sakura menggeleng cepat, "bukan apa-apa..."

Sakura menggigit bibir bawahnya, mengetahui fakta bahwa Sasuke menciumnya karena dia pikir dia ini adalah seekor kambing.

"Seekor kambing." Entah mengapa sakura merasa ingin menjatuhkan dirinya ke dalam jurang..

"Jangan memanggilnya kambing. Dia punya nama, dan namanya adalah Yuriko." Tukas Sasuke.

Yuriko? Sakura melihat berulang kali kambing tersebut, tapi dari sisi manapun dia melihat kambing itu tetaplah jantan!

"mbeeeek"

Yuriko memberikan Sakura tatapan mengintimidasinya, sementara Sakura turut serta memberikan tatapan tak sukanya. Namun dia kembali berkata, "w-wow itu sungguh nama yang lucu untuk seekor kambing.."

Yuriko mengembik pendek sambil membuang mukanya.

"Yuriko." Kata Sasuke.

"huh?"

"Dia akan kesal kalau kau tidak memanggil namanya." Kata sasuke.

Yuriko kembali mengembik dan menatap kearah Sakura.

"Yuriko..."

Broot

. Sakura berjingkat saat Yuriko bersin dan mengeluarkan ingusnya. Apa dia baru saja bersin kearahku?

Yuriko mendengus mengejek kearah Sakura den kemudian berjalan mengikuti Sasuke.. Sakura tahu ini sungguh tidak masuk akal, tetapi kambing itu rasanya lebih baik dari dirinya.

.

.

.

.

Sakura mengikuti Sasuke turun ke kantor dan menemukan para detektif lain sudah berkumpul disana.

"Selamat pagi, Sakura." Pain mengangkat tangannya dan melambai ke arah Sakura.

Sakura menyunggingkan senyum terpaksanya dan menjawab sapaan Pain, "selamat pagi..."

Pain yang sebelumnya berkutat dengan komputer di mejanya berdiri dan menghampiri Sakura yang terlihat lesu, "ada apa? Apa kau lelah?"

"Ya..." Sakura menjawab singkat.

Mendengar jawaban Sakura, Sasori berdiri dari mejanya, "tunggu, apakah itu karena..."

Di meja lain Itachi memutar kursinya, "itu tidak mungkin, aku bisa menjaminnya."

Sasori mengangguk atas pernyataan Itachi, "hmm, kau benar.."

"Kau memiliki tenaga yang besar eh, Sasuke.." Pain mengangguk angguk dengan senyuman lebar di wajahnya.

Seolah mengerti apa yang sedang dibicarakan, Sasuke merespon dengan datar, "lebih baik aku makan cacing."

"Hey, tidakkah itu sedikit kasar?" Sakura mengerucutkan bibirnya, harusnya jika memang tidak terjadi apa-apa cukup katakan tidak, tidak perlu sekasar itu. Apa perlu dia bilang kalau semalam dia menciumnya?

"Baiklah baiklah." Pain mengganti topik saat melihat Sasuke dan Sakura mulai beradu pandang, "kami memiliki kamar untukmu, kau bisa menggunakannya malam ini."

"Baguslah kalau begitu." Kata Sasuke.

Sasori menoleh kearah Pain, "Kupikir sudah tidak ada ruang kosong lagi di tempat ini."

"Kami membersihkan gudang di sebelah kamar si kembar." Kata Gaara.

"Kembar? Kembar apa?" tanya Sakura.

"Aku dan Sasuke kembar. Kami kembar tidak identik." Jawab Itachi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.

Sakura mengangguk, pantas mereka tidak mirip.

"Baiklah mari kita bicarakan bisnisnya." Itachi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju tempat dimana semua orang sudah berkumpul.

"Pertama-tama kita jelaskan pada Sakura siapa yang dengan tidak sengaja terpotret di kameranya.." Pain menoleh kearah sasuke, sementara sasuke hanya mengangguk sambil memberikan tablet berisi foto yang di bicarakan oleh Pain.

"Kami sudah menyimpan semua foto yang dipublikasikan oleh daily news disana." Kata itachi.

"Jadi masalahnya adalah disini." Pain menekan kayar tablet tersebut dan men-zoom gambarnya, tepat di sekitar salah seorang pria disana.

Sakura dapat melihat seorang anak laki-laki menggunakan syal berdiri disamping seorang wanita.

"Seorang anak-anak?" gumam Sakura.

"Ya." Pain mengangguk, "tapi dia bukan seperti bocah kebanyakan."

"Namanya adalah Konohamaru, dan dia adalah pangeran dari Timur Tengah.. dia adalah kandidat pertama untuk menjadi seorang raja." Kata itachi,

Pain mengangguk lalu mengimbuhi, "wanita disebelahnya adalah pengawalnya, namanya Anko."

"Dan seperti yang di kabarkan Anko telah menculik sang pangeran." Kata Sasori

"Dan membawanya ke Jepang?" tebak Sakura, namun dari nadanya Sakura merasa tidak yakin.

"Kau sepertinya nampak ragu." Pain memamerkan deretan giginya. "aku mengerti. Tetapi ini adalah kenyataannya. Karena Tayuya sang ratu kedua sudah repot repot datang ke negara kita dan meminta bantuan kita untuk menemukan sang pangeran..."

Dia meminta bantuan mereka?

"Dia 'bilang tolong bawa kembali pangeran kami dengan selamat'." Lanjut Pain.

"Apa kau yakin dengan semua ini." Sakura menatap Pain tidak yakin, apa benar detektif seperti mereka bisa menangani kasus besar semacam ini.

"Kau benar-benar tidak mempercayai kami, benar kan?" ujar Sasuke.

"Ya..."

Kenapa ratu itu meminta bantuan pada detektif semacam ini? Begitulah yang selalu Sakura pikirkan. Mereka tidak terlihat handal.

"Dan untuk penjelasan terakhirnya, pengawal dari pangeran hanya wanita di gambar itu." Kata Itachi.

"Setelah mencari tahu sedikit, aku mendapat informasi bahwa ratu kedua ini tidak berada di negaranya saat semuanya terjadi." Sasuke berkata sambil menatap kearah laptop di pangkuannya.

"Dia benar-benar wanita yang cantik." Pain bergumam tanpa mempedulikan omongan dari Sasuke sebelumnya, "bertindak sangat anggun."

"Kau sungguh menjijikkan orang tua mesum." Sasuke menoleh sebentar lalu kembali pada laptopnya.

"Sassun, aku lebih sensitif dari kelihatannya kau tahu." Pain mengerucutkan bibirnya sok imut. Ia kemudian kembali berkata "sebenarnya itu bukanlah alasanku menerima kasusnya."

"Ya, aku pikir 1juta dollar yang membuatnya begitu." Itachi tersenyum miring, tentu saja dia tau apa yang benar-benar ada di pikiran ketua saat ini.

"SATU JUTA DOLAR?!" Sakura hampir saja jantungan kalau saja Gaara tidak menyadarkannya.

"Jangan berteriak." Protes Gaara.

"Maaf, aku kelepasan."

Tapi disini mereka membicarakan tentang 1 Juta dollar. Melihat penawaran setinggi itu, sepertinya mereka detektif yang sangat baik dari kelihatannya. Sakura melihat satu persatu detektif itu. Sasuke yang sedang sibuk dengan laptopnya, sang ketua yang sedang diejek oleh Itachi dan Sasori, juga Gaara yang hanya diam tak melakukan apapun. Apa tidak apa-apa mereka yang berbeda kepribadian seperti ini menangani kasus besar itu?

"Meskipun pangeran tersebut bukanlah putra kandung sang ratu, dia terlihat sangat depresi dan menginginkannya kembali." Kata Pain setelah sempat memukul kepala Itachi dan Sasori yang terus mengejeknya tadi, "Tayuya benar-benar wanita berhati baik."

"Apa maksudnya dia bukan putranya?" tanya Sakura.

"Konohamaru adalah putra dari ratu pertama. Namun semenjak meninggalnya ratu pertama, Tayuya sudah menganggap Konohamaru seperti putranya." Jawab Itachi. "dan dia mencintai Konohamaru seperti layaknya putranya sendiri."

"Dia ratu yang sempurna." Pain kembali menerawang, entah apa yang sebenarnya dia pikirkan, "bagaimana aku bisa menolak membantu wanita seperti dia? Kalau menolaknya aku tidak akan bisa menjadi seorang pria atau pun detektif. Kau juga berpikir demikian kan, Sakura?"

Sakura tersenyum kecut, "...tentu."

"Begitulah lebih kurangnya kasus ini." Kata Itachi , "jadi yang perlu kau beritahu kami adalah dimana kau mengambil gambar ini?"

Sasuke mengganti gambar menjadi sebuah map dari tempat itu.

"Itu di xxxx" kata Sakura, "aku pergi kesana lewat gang di belakang restoran disini." Sakura menunjuk sebuah spot di dalam map dan Sasuke berbalik ke laptopnya.

"Apa kau mengingat sesuatu? Seseorang yang bersama Anko?" Tanya Itachi.

Sekarang saat itachi menyebutkannya, ada seorang pria yang berdiri di belakang mereka di gambar tersebut. Namun Sakura tidak pernah tahu itu.

"Aku tidak yakin dengan itu." Sakura mengerutkan dahinya, "aku tidak menyadari tentang adanya wanita bahkan pria disana."

Itachi menghela napas. Dia memberikan dengusan jengkel pada Sakura.

"Maaf."

Sasori menyilangkan tangannya lalu menoleh kearah Itachi, "dia tidak bersalah. Dia hanya terlalu fokus mengambil gambar yang berada tepat di depannya."

"Padahal itu hampir diposisi yang tepat." Gaara kembali melihat foto tersebut.

"Baiklah semuanya. Semuanya bekerja dan mulai mencari petunjuk." Pain menepuk tangannya dan semua orang kecuali Sasuke yang masih kelesotan kembali ke mejanya.

"Ini dia." Perkataan Sasuke membuat semua rekannya kembali ketempat semula. Mereka duduk di belakang Sasuke.

"Ada apa, Sasuke?"

"Ada sebuah kamera pengawas didekat sana." Sasuke menuding layar laptopnya, "dilihat dari posisinya, kamera tersebut tepat berada di atas pangeran."

"Tapi kita bukan polisi." Itachi menyela. "mereka tidak akan menunjukkan rekaman itu meskipun kita memintanya."

"Benar. Salah satu hal yang menyedihkan saat menjadi detektif." Pain menghela napasnya.

"Kalau mereka tidak mau menunjukkannya, kita hanya harus melihatnya sendiri." Sasuke berdiri dan berjalan ke mejanya.

"Sasuke, kau..." seolah mengerti apa yang akan dilakukan adiknya itu, Itachi mengikutinya.

"Aku akan meng-hacknya." Kata Sasuke.

Klik klik klik

Sasuke mulai menekan tombol keyboarnya dengan kecepatan yang luar biasa. Angka dan huruf terus melayang di layar hitam di komputernya. Sementara Sakura hanya bisa menganga melihat bagaimana jari-jari Sasuke begitu lincah, bahkan Sasuke tidak perlu melihat kearah keyboard saat melakukannya.

"Hentikan." Itachi dengan cepat meraih tangan Sasuke dan menariknya.

"Apa?" Sasuke menoleh dan mencoba melepaskan genggaman Itachi, namun itu percuma.

"Hacking terlalu berbahaya." Lanjut Itachi.

Sasuke menghela napasnya, "jangan khawatir, aku bisa..."

"Tidakkah kau mengerti? Kita bukan satu-satunya pihak yang mengejar mereka. Jika kita membuat sebuah kesalahan, kita mungkin akan mendapatkan masalah diluar kendali kita." Kata Itachi.

"...aku mengerti itu."

"Kalau begitu hentikan."

Sasuke menyahut kembali lengannya, "...baiklah. Aku tahu aku hanyalah..." Sasuke berdiri dan langsung mendorong Itachi dengan kasar sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan.

"Sasuke..." Itachi memegangi kepalanya, pria berusia 27tahun itu mendudukkan dirinya sendiri di kursi Sasuke. Namun setelah itu dia menarik napas panjang dan kembali berdiri, "baiklah, ayo temukan petunjuk lainnya."

"Roger.." Sasori memberikan hormatnya kemudian mengambil tablet miliknya yang sudah berisi foto-foto yang beberapa lalu didiskusikan.

"Baiklah, Sakura. Kau jaga tempat ini." Pain menyahut jaketnya.

Mereka kembali memeriksa spot yang sudah ditandai dan meninggalkan ruangan. Sementara Sakura menuruti apa perintah ketua untuk tetap tinggal, Sakura memutuskan untuk tinggal di kantor dan membaca buku disana sampai malam hari. Namun tetap saja peristiwa siang tadi mengganggu pikirannya, emeraldnya lantas menoleh kearah meja Sasuke, saat itu dengan jelas wajah Sasuke... Sakura memukul kepalanya cukup keras lalu mengembalikan bukunya ke rak. Sakura memutuskan untuk berjalan ke sekeliling mencari Sasuke. Jujur saja dia merasa sedikit khawatir, kejadian waktu itu Itachi terlihat sangat sedih terlebih saat Sasuke mendorongnya. Meskipun mereka kembar, Sakura menyadari bahwa mereka tidak terlalu akrab.

Sakura terus berjalan dan melihat sekeliling sampai dia tiba di lantai satu. Dia menoleh pada sebuah bar tepat di sebelahnya. Saat dia melihat pintu bar tidak menutup sempurna, dia memutuskan untuk melongok kedalam. Bar bersetting sangat rapi dengan pencayahaannya berwarna oren seperti cahaya matahari terbenam, di pojoknya terdapat sebuah piano besar. Suara lantunan jazz yang seksi terdengar menenangkan. Dan disana Sakura melihat seseorang yang selama ini dia khawatirkan duduk sendirian. Sakura tidak terlalu yakin bagaimana caranya untuk menghampiri Sasuke, jadi dia memutuskan untuk diam dan berdiri disana. Sementara sakura berdebat dengan dirinya sendiri untuk masuk atau tidak, seseorang muncul dari balik meja bar dan mendekati Sasuke.

"Ada apa, Sasuke?"

"Cukup berikan aku sesuatu, Kiba." Ujar Sasuke.

"Apa kalian bertengkar lagi? Kalian berdua memang tidak berguna." Pria berambut coklat itu membalikkan tubuhnya dan memberi Sasuke segelas bir.

Sakura menghela napasnya lalu memutuskan untuk pergi. Sepertinya dia akan menyerahkan urusan Sasuke pada bartender itu.

.

.

.

Sakura kembali ke kantor dan duduk di sofa sambil mununggu para detektif untuk pulang. Emeraldnya melirik kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, semakin malam dan mereka tidak ada tanda-tanda untuk pulang. Sakura berdiri dari sofa dan berjalan keluar, ia memutuskan untuk pergi tidur karena ini sudah terlalu malam. Lagi pula mereka semua pria, tak perlu ada yang dikhawatirkan.

"Sepertinya kemarin mereka bilang kamarku ada tepat di samping kamar si kembar." Sakura bergumam, "apa ini?"

Klik

Sakura membuka pintunya dan mendapati kamar yang sangat gelap di hadapannya. Dia menutup pintu perlahan dan mulai meraba pada dinding mencari tombol untuk lampunya. Dia terus merayap di ruangan saat tiba-tiba kakinya tersangkut sesuatu.

Duk

Sakura berguling cukup keras, Sakura buru-buru duduk dan berharap dia tidak memecahkan barang berharga di ruangan tersebut.

"Disini kau rupanya."

Dengan sangat jelas Sakura mendengar suara laki-laki di ruangan itu. Dan tak lama setelah itu seseorang memeluknya dengan erat dari belakang.

Suara itu...

"Aku mendapatkanmu." Sasuke berbisik, "aku sudah mencarimu. Tapi aku sangat khawatir saat tidak menemukanmu dimana pun."

Kenapa? Kenapa dia berkata seperti itu padaku?

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."

Pelukan Sasuke semakin erat, Sakura bahkan dapat merasakan hembusan napas pria itu di telinganya, dan hal itu malah membuatnya semakin kebingungan. Sakura diam, tubuhnya membeku seketika, seolah dia sedang berada di bawah pengaruh sihir atau semacamnya.

T-tunggu sebentar!

Sakura berusaha melepaskan dirinya, tapi itu malah membuat Sasuke semakin erat memeluknya.

"Hey, diamlah." Bisik Sasuke.

Apakah dia serius saat ini?

Sakura masih terus meraba dinding sampai akhirnya jari-jarinya menemukan tombol lampunya.

Klik

"Maaf." Sakura berucap lantang saat Sasuke mulai menggesek pipi masing-masing..

Sasuke membuka matanya, dia menatap kaget pada Sakura tengah berada di pelukannya. Sasuke tanpa basa basi segera melepaskan pelukannya, dan menatapnya dengan tatapannya yang bingung.

"Kau bukan Yuriko." Kata Sasuke

Huh? Sekali lagi sakura tak percaya, untuk yang kedua kalinya Sasuke berpikir dia ini adalah seekor kambing.

"Jangan membodohiku seperti itu!" Sasuke berdiri dari tempatnya dan keluar dari kamar Sakura.

Bukankah dia sendiri yang datang kemari dan tiba-tiba memelukku? Batin Sakura.

Sakura menyandarkan tubuhnya lalu menyentuh bibirnya. Dia bahkan menciumku malam itu. Apakah aku benar-benar seperti kambing? Sakura tak dapat berbuat apa-apa selain mendesah putus asa. Namun, dengan sangat jelas Sakura masih bisa merasakan hangat tubuh Sasuke ditubuhnya. Tangannya yang kuat, sensasi napas di telinganya saat itu... hanya memikirkan tentang itu membuat suhu tubuhnya meningkat.

Tenanglah Sakura... Lagi pula untuk apa harus merasa berdebar-debar? Dia bahkan hanya mengira kau seekor kambing. Ingat, kau hanyalah seekor kambing!

.

.

.

"Selamat pagi."

Hari berikutnya. Sakura turun dan masuk kedalam kantor dan mendapati sang ketua sedang tertidur di kursinya sambil mendengkur dengan damai. Ini sudah jam 10. Ugh, Sakura menutup hidungnya saat bau alkohol mulai tercium.

Klik

"Oh, selamat pa—"

Sakura berbalik dan melihat seorang wanita seksi berdiri disana. Wajahnya di penuhi dengan make up tebal. Wanita berambut pirang tersebut memandang Sakura dengan tatapannya yang aneh.

"Siapa kau?" tanya wanita tersebut.

"A-aku? Uhh.. aku.."

"Bicaralah nona, aku tidak bisa mendengar apapun darimu!"

"Maakan aku." Sakura membungkuk.

Tunggu, kenapa aku harus meminta maaf?

"Berhenti menakuti pegawai baruku, nona Tsunade." Pain mengucek matanya dan berdiri di dekat mereka.

Pegawai? Terlebih berapa banyak kau minum ketua?!

"Hentikan tatapan menakutkan kalian padaku." Ujar Pain.

"Kenapa aku baru saja mengetahui hal ini?" wanita bernama Tsunade itu berkacak pinggang. Dia benar-benar seksi dengan dada yang begitu besar.

"Ya, karena aku tidak memberitahumu." Pain mendengus, atau lebih tepatnya terdengar mengejek.

"Kau sangat susah membayar uang sewa dan sekarang kau tanpa sungkan membawa gadis kemari?" Tsunade meraih krah baju Pain dan mulai menceramahinya.

"Aku hanya bercanda, dia hanya membantu kami memecahkan sebuah kasus." Kata Pain, "benarkan, Sakura?"

"Ya..."

Tsunade melepaskan krah baju Pain dan mulai memandangi Sakura dari atas sampai bawah.

Pain merapikan bajunya lalu menunjuk kearah Tsunade, "dia adalah pemilik gedung ini. Tsunade."

"Aku Haruno Sakura."

"Jadi dimana uang sewanya?" Tsunade nampak tak tertarik dengan Sakura dan kembali menghadap kearah Pain.

"Seperti yang aku katakan, setelah kasus ini selesai aku akan membayarnya full."

Klik

Mereka bertiga menoleh saat pintu kantor terbuka, untuk sesaat Sasuke terlihat diam di depan pintu.

"Oh selamat pagi Sasuke." Tsunade membalikkan badannya kearah Sasuke. Namun pria itu tidak merespon dan...

Slam

Sasuke pergi.

Tsunade mengerutkan dahinya dan berlari mengejar Sasuke, "kembali kemari sekarang!" Tsunade membuka pintunya secepat kilat dan menarik lengan Sasuke. "Kau baru saja muncul. Tinggallah dan ikut mengobrol."

"Tidak bisa." Kata Sasuke.

"Huh, apakah kau berbicara sesuatu?"

"Aku tidak bisa."

"Mmm, aku tidak bisa mendengarmu..." Tsunade terus menyeret Sasuke masuk tanpa mempedulikan ocehannya. Hingga akhirnya tanpa diduga Tsunade membalikkan tubuh Sasuke dan menekannya di dinding sementara kedua tangannya di kunci di belakang.

"M-menyingkirlah." Sasuke berusaha memberontak, "kalau kau semakin mendekat aku akan..."

"Memelukmu!"

Sakura menganga saat wanita itu tiba-tiba memeluk Sasuke begitu eratnya.

"Lepaskan!"

Sasuke terus meronta dan menggeram di pelukan Tsunade, tapi itu hanya membuat Tsunade lebih senang. Tsunade kemudian menoleh kearah Pain, "Yahiko, aku ingin meminjamnya sebentar."

"Silakan saja."

Sakura menoleh kearah Pain, apa maksudnya meminjam sebentar?

"Hey kupikir kau..." belum sempat melanjutkan omongannya Sasuke sudah menghilang bersama wanita itu.

"Maafkan aku Sasuke. Aku berdoa untuk keberuntunnganmu." Pain mengatupkan kedua tangannya dan berdoa.

"Astaga." Itachi masuk tepat setelah Sasuke di bawa entah kemana, "Sasuke sudah dibawa ke ruang siksaan pagi-pagi begini?"

Ruang siksaan?

BLAAAAARRRRR

"WAAAAA! HENTIKAAANNN!"

Sakura berjenggit, tak lama setelah suara ledakan terdengar Sasuke turut berteriak.

"Bertahanlah, Sasuke.." Pain kembali megatupkan kedua tangannya.

"Apa tidak apa-apa? Apa Sasuke-kun akan baik-baik saja?" Sakura menoleh kearah Itachi dan Pain bergantian. Namun kedua pria itu hanya tersenyum.

"Mari kita sebut saja itu ritual pengorbanan." Kata Pain.

"Itu hanya hukuman karena kami gagal membayar sewa." Lanjut Itachi.

"Aku tidak gagal. Aku sudah menyicilnya."

"Menyicil? Apakah kau mau kita terus menerima siksaan dari tangan wanita itu?"

"AHHHHH! HEY!"

"BERHENTILAH BERTERIAK! TUTUP MULUTMU DAN JADILAH PRIA!"

"UUGGGHHH!"

"Maafkan aku Sasuke. Itu hanya sampai kita mendapatkan 1juta dolarnya." Pain lagi-lagi mengatupkan tangannya.

"Apakah ini tidak terlalu kejam bagi Sasuke?" Itachi bergumam namun masih sempat terdengar.

"Nah terapi seperti ini sangat efektif." Kata Pain.

"Jika kau membiarkan seperti ini, dia akan bereaksi lebih buruk pada wanita." Sambung Itachi.

Bereaksi semakin buruk? Itu aneh. Sasuke bahkan tak pernah bereaksi saat bersamanya.

.

.

.

Sakura kembali ke kamarnya dan berdiri di balik jendela. Obrolan Pain dan Itachi barusan membuatnya berpikir. Sakura heran kenapa. Maksudnya, bukan berarti dia ingin Sasuke bereaksi negatif padanya. Tapi sedikit menyakitkan saat Sasuke menganggapnya tidak ada. Meskipun begitu dia sudah 22tahun, dan sudah bisa disebut dewasa bukan?

"Mbeeekkk." Yuriko mendekati jendela Sakura dan menatap kearahnya,

"Kau sangat luar biasa Yuriko. Kau bisa dengan mudah menarik hati pria."

"Mbeeeek"

"Meskipun sebenarnya kau adalah jantan."

Crack

Yuriko dengan kasar menanduknya dari jendela.

"Owwww!"

"Mbeeeek!"

"Maaf maaf. Aku tidak akan mengatakannya lagi."

Dia sangat kasar padaku, tapi bersikap lembut pada Sasuke..

"Ngomong-ngomong, bisakah kita berteman?" Sakura mengulurkan tangannya namun Yuriko membuang mukanya.

Tok tok

Sakura berbalik dan berjalan kearah pintu. "Aku datang."

Klik

"itu sangat cepat." Kata Gaara.

"Huh?"

"Kau harus lebih berhati-hati." Gaara masih saja menampakkan wajah datarnya saat berbicara, "Jangan membukakan pintu sebelum kau mengetahui siapa diluar. Atau tidak kau akan kembali diculik."

A-apa dia mengujiku?

"Maafkan aku."

"Aku tidak bisa melindungi seseorang yang ceroboh." Imbuhnya.

"Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Sampai jumpa lagi..."

Saat Sakura menutup pintunya, Gaara menahannya dengan kakinya. Dan tanpa memberikan Sakura penjelasan lain, pria berambut merah itu menarik lengannya.

"Ini dia." Gaara melepaskan lengan Sakura saat keduanya sampai di kantor.

"Terima kasih." Itachi menoleh kearah Sakura, "Hey, bisakah kau membantu kami dengan si brengsek ini?"

"Si brengsek?" Sakura melihat ke sofa dan mendapati Sasuke sedang berbaring disana. "Huh? Darah?"

Sasuke berdarah dari ujung bibirnya. Apakah gara-gara nona Tsunade?

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Sakura.

"Dia mendapatkan beberapa masalah." Kata Itachi, "kami akan pergi lagi. Jadi bisakah kau merawatnya?"

"Uhm, baiklah..."

"Dia masih setengah sadar, jadi sepertinya akan baik-baik saja." Imbuh Gaara.

Apa yang oke dengan itu? Apa dia punya kemampuan menahan rasa sakit atau semacamnya?

"Kalau begitu jagalah dia."

"T-tentu."

Sakura membasahi kapas dengan antiseptik kemudian menekankan perlahan pada luka dibibir sasuke. Namun..

Sasuke membuka matanya lebar-lebar, "..."

"Sasuke-kun?"

"A-apa yang kau lakukan?" Sasuke melotot, ia buru-buru bangun dan menghindar dari Sakura.

"Aku sedang merawatmu."

Itachi dan Gaara yang hampir saja pergi kembali masuk ke kantor saat mendengar suara sasuke. Itachi buru-buru berlari dan menenangkan Sasuke. Namun Sasuke tidak menggubrisnya, tatapan Sasuke sepenuhnya tertuju pada Sakura.

"H-hentikan." Sasuke melemparkan sembarang benda saat Sakura mencoba untuk mendekatinya.

"Tapi."

"Kau...Kau... seorang wanita!" Sasuke kembali melemparkan benda lain kearah Sakura.

"Kau baru menyadarinya sekarang?" Sakura mengernyitkan dahinya.

"Kau adalah wanita! Menjauhlah! Jangan menyentuhku! Menyingkir dariku!"

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Dia benar-benar tidak berguna." Itachi bergumam kemudian menarik paksa Sasuke dan memeluknya, " hey, Sasuke, tenanglah. Tak apa-apa."

"Ini tidak oke sama sekali!" Sasuke memberontak, namun semakin keras dia memberontak, Itachi malah semakin kuat memeluknya.

"Dengar, aku tahu dia ini wanita, tapi dia tidak akan pernah mengambil kesempatan darimu." Ujar Itachi.

Huh? Melakukan apa?

"Tentu saja aku tidak akan melakukannya!" tukas Sakura, "kenapa mesti aku melakukannya?!"

"Oh, maaf, bukan itu maksudku." Itachi masih memeluk Sasuke yang mulai tenang, "saat dia kecil, salah satu pelayan kami yang dia sayangi berusaha mengambil kesempatan darinya."

Apa pelecehan seksual?

"Dan dia membenci wanita sejak saat itu." Lanjut Itachi.

"Tapi kami tidur satu ranjang, dan dia tidak pernah bereaksi semacam ini." Kata Sakura.

"Dia tidak bereaksi dengan BENDA X." Tutur Gaara.

Benda x?

"Itu bentuk pertahanan diri." Sambung Itachi, "Semenjak kejadian itu dia sudah melupakan wanita. Baginya orang dibagi antara laki-laki dan benda x."

"Jadi aku adalah benda x?"

"Bukan..." Sasuke kali ini memberontak sekuat tenaga dan melepaskan dirinya dari Itachi, "Dia wanita!"

Slam

Itachi memijit pangkal hidungnya saat Sasuke pergi meninggalkan mereka, "sepertinya saat kau menyentuhnya tadi, dia mengingat kejadian dulu."

Sakura benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi, sekarang Sasuke terlihat sangat ketakutan jika melihatnya. Apakah ini akan baik-baik saja?

.

.

.

Malam itu, ketua mengundang Sakura ke lantai bawah di mana bar berada. Semua detektif berkumpul disana juga.

"Sakura, disebelah sini." Pain melambaikan tangannya sambil menepuk kursi di sebelahnya di mana di sebelah kursi kosong itu ada Sasuke. Tetapi Sasuke dengan cepat melompat saat melihat sakura datang.

Pain dan Sasuke saling pandang. Tentu saja, lebih baik dia pergi daripada duduk dekat dengan wanita.

"Baiklah, aku akan bertukar kursi denganmu." Itachi menghela napasnya kemudian memberikan kursinya pada Sasuke.

"Hm, tunggu. Apakah dia sudah berpikir kalau Sakura adalah seorang wanita sekarang?" tanya Pain.

"Sepertinya." Jawab Itachi.

"Oh, itu sangat cepat!"

Mereka kemudian mengobrol seperti biasa kecuali Sasuke yang memilih diam. Begitu pula Sakura yang hanya menjawab pertanyaan dari pria-pria tersebut. Tak lama si bartender memberikan pesanan mereka.

"Sekarang karena kita sudah mendapatkan minumannya masing-masing." Pain mengambil gelasnya disusul yang lain, "ayo bekerja keras dalam kasus ini jadi kita bisa menyelesaikannya tepat waktu."

Pain mengangkat gelasnya dan semua membenturkan gelas mereka masing masing. Namun, dengan tidak sengaja Sakura membenturkan gelasnya pada Sasuke. Sasuke terdiam dengan tangannya yang gemetaran dan lalu..

Pyar

Gelas di tangannya terjatuh.

"Maafkan aku!" Sakura meletakkan gelasnya dan membungkuk pada Sasuke.

"Dengar Sasuke." Itachi meraih lengan Sasuke namun ditepisnya.

"Aku hanya tidak bisa..." kata Sasuke yang kemudian berlari keluar dari bar.

"Woaa, dia bahkan tidak bisa membuat kontak tidak langsung dengan Sakura sekarang." ujar Sasori.

"Ini benar-benar serius.." imbuh Gaara.

"Hey, apa yang terjadi?" mendengar keributan di dalam barnya, Kiba berjalan mendekati mereka.

"Maafkan aku." Sakura berdiri dari kursinya dan mulai memunguti pecahan gelas Sasuke.

Tunggu, kenapa juga aku meminta maaf? Ugh, aku hanya ingin minum...

.

.

.

"Tidakkah kau pikir kau telah terlalu banyak minum?"

"Ahku bahik-bahik sahnja.."

"Ini sungguh merepotkan." Itachi mendesah sambil membenarkan pegangannya pada tubuh Sakura yang sedang mabuk.

Entah sudah berapa gelas bir yang Sakura minum. Itachi tidak tahu ada wanita yang kuat minum sebanyak itu. Bahkan rekannya yang lain sudah menyerah dalam beberapa gelas saja.

"Hm... ahnpa ihtu?" Sakura menunjuk bubuk putih yang tersebar begitu banyak di depan pintu kamarnya. Saat semakin mendekat dia sadar bahwa bubuk putih itu adalah garam, "huh? Kenapa ada garam disini?"

"Perlindungan dari setan." Kata Itachi.

"Setan?" Sakura berpikir sejenak kemudian menuding wajahnya sendiri, "Tunggu, maksudmu aku?"

"Yep."

Sasuke sepertinya benar-benar takut padanya. Tapi terserahlah, dia tidak akan mau mendekatinya lagi.

.

.

.

Beberapa hari berlalu tanpa Sakura mengobrol atau pun bertatap muka dengan Sasuke. Mereka diam, bahkan saat bersimpangan mereka tak saling menyapa. Boro-boro menyapa, setiap melihat Sakura Sasuke buru-buru berlari. Namun sekarang sudah lumayan membaik, saat melihat Sakura Sasuke hanya diam dan tidak mencoba untuk kabur.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sakura, jam masih menunjukkan pukul 8 pagi tapi ketua sudah memanggilnya.

"Oh, maaf sudah memanggilmu tiba-tiba kemari." Kata Pain, "sebenarnya aku memiliki permintaan untukmu."

"...Apa itu?"

"Kita harus melakukan penyelidikan di Semenanjung Arab." Kata Pain, "Dan aku ingin kau pergi kesana."

"Aku?!"

Sakura tidak percaya Pain baru saja menyuruhnya untuk pergi ke Timur Tengah. Seriusan Timur Tengah?

"Kau adalah fotografer hebat yang kami miliki disini." Lanjut Pain, "Terlebih ini adalah waktunya hujan meteor disana."

Sakura mengingatnya, ia pernah membaca di sebuah berita beberapa waktu yang lalu tentang hujan meteor yang akan terjadi di Semenanjung Arab, disana adalah satu-satunya tempat kita bisa melihat hujan meteor atlantis dengan jelas.

"Kau menyukai hal macam itu kan?"tanya Pain, "Aku sudah memeriksa pekerjaanmu, jadi aku tahu kau menyukainya."

"Ugh.."

"Jadi?"

Sakura mengangguk.

"Baiklah, semenjak ini adalah misi rahasia kau akan pergi dengan seorang partner." Pain mengelus dagunya, senyuman aneh terukir dibibirnya.

"Tunggu. Apa baru saja kau bicara tentang partner?"

"Itu benar. Kau akan pergi bersama Sasuke."

"Tidak mungkin! Ini benar-benar tidak mungkin!"

Sasuke berusaha keras menjauh darinya akhir-akhir ini, jadi ini sama sekali tidak mungkin! Ketua tahu masalah ini, tapi mengapa dia mengirim mereka berdua bersama?

"Tapi tidak ada orang lain yang mau pergi." Pain menunduk menampakkan wajah lesunya.

Klik

"Apa yang terjadi." Sasuke masuk di saat yang tepat.

"Huh, apa kau mendengarnya Sassun?" tanya Pain.

"Siapa bilang aku setu—"

Pain berkacak pinggang, "Aku tidak bisa membantu kali ini. Bisnis adalah bisnis."

"Tetap saja, kenapa aku harus pergi dengan itu?"

Itu?

"Aku tidak suka kau menyebut Sakura dengan itu. Tapi... aku sudah mendapatkan tiket atas nama kalian." Pain tersenyum sambil menunjukkan tiketnya.

"Kalau begitu kau cukup mengganti namanya." Kata Sasuke.

"Aku memesannya buru-buru. Tapi karena aku mendapatkannya dengan harga diskon, sepertinya akan susah untuk menukarnya." Pain kemudian menoleh kearah Sasuke dengan tampang lesunya, "kau tahu kita ada di titik yang sulit kan, Sasuke."

"Tetap saja..." Sasuke merespon dengan menggertakkan giginya.

"Kalau kamu bersedia pergi, aku berjanji tidak akan membiarkan Tsunade menyentuhmu lagi." Pain mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Sasuke menoleh cepat kearah Pain dan terlihat berpikir.

"Baiklah kalau begitu, semuanya sudah diputuskan." Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke Pain memutuskannya seenak jidat.

"...Orangtua sialan." Umpat Sasuke.

"Baiklah. Ini adalah nomor kalian, jangan lupa memasukkannya dalam ponsel masing masing." Pain memberi secarik kertas dan Sasuke mulai memasukkan nomornya, sorot wajah tegang terlukis jelas di wajahnya.

"Benda X: xxxxxxxxxxxxxxxxx" Sasuke membacakan kembali nomornya.

Sakura meringis mengetahui namanya di ponsel Sasuke. Bagaimana mereka akan bertahan bersama di negara asing?


Tbc


PROFIL

HARUNO SAKURA

22 TAHUN

160CM

43kg

FREELANCE PHOTOGRAPHER

.

UCHIHA SASUKE

27 TAHUN

178cm

70kg

HACKER

.

UCHIHA ITACHI

27 TAHUN

177cm

68kg

MEKANIK

.

AKASUNA SASORI

26 TAHUN

175cm

60kg

AKTOR/ MASTER OF DISGUISE

.

SABAKU GAARA

28 TAHUN

177cm

60kg

PENGACARA

.

YAHIKO PAIN

35 TAHUN

177cm

68kg

BOSS

.


Jadi apa yang mereka pikirkan entang masing masing rekannya

Penilaian dari Itachi dan Sasuke terhadap Pain

Itachi: dia adalah pelindung kami. Meski pun dia sering bersikap seperti orang tua yang gila

Sasuke: ya, dan dia memiliki kambing transgender sebagai peliharaannya.

Itachi: ... apa mereka harus mengetahui itu?

Penilaian Itachi terhadap Gaara

Itachi: beberapa orang pikir dia kasar, tapi sungguh dia lebih kuat dari itu. Tipe pendiam. Aku tidak terlalu tahu kenapa, tapi dia seperti menjaga jarak dengan kami.

Penilaian Sasuke terhadap Sasori

Sasuke: apa? Dia? Um... dia seorang aktor. Selain itu dia tidak mempunyai daya tarik lagi. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu apa yang dia pikirkan. Tapi untuk beberapa alasan dia terlihat kesepian..

Penilaian Sasori terhadap Sasuke

Sasori: dia cukup mudah untuk bergaul. Aku tebak beberapa orang berpikir dia ini dingin. Tapi sungguh, sebenarnya dia orang yang cukup ceroboh.

Penilaian Gaara terhadap Itachi

Gaara: banyak orang yang bilang dia angkuh. Dia selalu berada di mood yang baik, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak peduli itu.


.

.

Terima kasih untuk reviewnya: Firza290, Kurochi haru, Sakulov, kHaLerie Hikari, zarachan, hanazono yuri, Prissa Armstrong, Lvenge, echaNM, moydini, zehakazama, sasa yu, undhott, un, uchihaliaharuno, uchiha javaraz.

Terima kasih sudah memaca sampai sini.. rnr?