Hari ke-2
Senin.
Hari ini Hinata memutuskan untuk membolos sekolah demi menghindari Sasuke. Ini adalah kali pertama Hinata membolos dan sejujurnya ia merasa sedikit takut dan bersalah. Ia berpura-pura sakit hari ini dan seluruh keluarganya langsung mempercayai itu. Mungkin ini karena dimata mereka Hinata adalah anak yang rajin dan tidak mungkin berbohong ditambah lagi kemarin Hinata sempat jatuh pingsan. Mereka semua benar-benar menganggap Hinata sedang sakit dan menyuruhnya beristirahat untuk memulihkan kondisi badannya.
Seandainya Hinata bisa memilih, ia ingin membolos sekolah selama seminggu hingga efek dari ramuan ajaib itu pudar. Tapi sialnya besok ada ulangan matematika dan sejarah, demi apapun juga ia tidak bisa melewatkannya.
Nasib memang selalu tidak berpihak padanya.
Hinata menghabiskan waktu seharian ini untuk belajar demi menghadapi ulangan besok. Ia tidak boleh mendapatkan nilai jelek. Ketika ia bosan belajar, Hinata mendengarkan musik sambil membaca berbagai pesan yang dikirimkan oleh teman-temannya. Inti dari pesan mereka adalah harapan agar Hinata lekas sembuh dan bisa kembali ke sekolah secepatnya.
Hinata menghela nafas, merasa bersalah karena telah berbohong pada teman-temannya.
Lalu Hinata kembali belajar, masih banyak hal yang perlu ia kuasai untuk menghadapi ulangan besok. Akan tetapi tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk.
"Nona," Panggil salah satu pelayan. "Ada salah seorang teman anda yang datang untuk mengunjungi nona."
Hinata sedikit tertegun. Teman? Siapa?
.
.
Setelah merapikan penampilannya, Hinata pergi menemui 'temannya' yang datang mengunjunginya. Hinata mengira mungkin itu adalah Ino atau Sakura yang mengunjunginya untuk memastikan keadaannya.
Alangkah terkejutnya ia ketika menjumpai sosok Sasuke Uchiha sedang duduk sopan menunggunya di ruang tamu.
Demi Kami-sama!
"U-Uchiha-san." Panggil Hinata sambil menyembunyikan rasa gugupnya.
Mendengar suara Hinata, Sasuke menoleh. Dengan ekspresi wajahnya yang datar dan kaku, Hinata tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran pemuda berambut hitam itu.
Meski Hinata merasa kurang nyaman dengan kunjungan Sasuke, ia mencoba bersikap sopan sebagai tuan rumah yang menghormati tamunya.
Meski tamunya adalah seseorang yang tidak diundang…
Sebelum Hinata sempat berbasa-basi, Sasuke langsung berbicara ke inti kunjungannya hari ini.
"Aku mengunjungimu karena kau tidak masuk sekolah hari ini. Ino mengatakan pada semua teman-teman jika kau sedang sakit sejak kemarin. Apa kau sudah baikan?"
Hinata hanya bisa melongo mendengar perkataan Sasuke. Butuh waktu sejenak agar ia mempu memberikan responnya.
"Te-terima kasih u-untuk kunjunganmu, Uchiha-san. Ko-kondisiku jauh lebih baik sekarang. Um… i-ini hanya sakit ringan biasa."
Hinata merasa sangat gugup saat ini. Ia dan Sasuke bukanlah teman dekat yang saling mengunjungi satu sama lain! Apa-apaan ini semua?!
Pasti ini adalah efek ramuan itu.
Pemuda itu kembali berbicara. "Sasuke."
"Eh?!"
"Panggil aku Sasuke, kita adalah teman."
"B-baik, um, Sasuke-san."
Sasuke mengangguk.
Oh Kami-sama… tolong bebaskan aku dari rasa canggung ini.
Ketika Hinata sedang sibuk memutar otaknya untuk mencari topik pembicaraan, Sasuke mengeluarkan buku dari tasnya dan menyodorkannya pada Hinata.
"Catatan dari pelajaran kita hari ini. Minggu depan akan ada ulangan fisika, pelajari dengan baik topik yang ada di bab terakhir."
"Terima kasih Uchi- ah maksudku Sasuke-san." Kata Hinata sambil menerima buku pemberian Sasuke. "A-aku akan mengembalikan buku ini padamu besok."
"Mm." Kini pemuda itu juga kembali mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Untukmu." Kata Sasuke sambil menyodorkan sebotol kecil madu. "Kudengar madu sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh."
"Te-terima kasih."
Hinata mengamati dengan seksama sebotol madu di tangannya ini.
Sasuke… benar-benar memikirkannya.
Ah bukan, ini pasti efek dari ramuan.
Kini hatinya diliputi perasaan bersalah. Tidak seharusnya ia melakukan hal ini pada Sasuke. Atau Naruto. Mempermainkan hati dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang buruk.
"Hey, kenapa kau menangis." Suara Sasuke membuyarkan lamunannya.
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
Huh? Sejak kapan ia menangis?
Hinata tertawa kikuk. "Ahaha… a-aku ha-hanya merasa sangat be-berterima kasih dengan semua perhatian i-ini."
"Hm." Sepasang mata kelam Sasuke menatap wajah Hinata dengan serius. "Wajahmu masih pucat, sepertinya kau masih belum sembuh total."
"Ahaha, um, a-aku hanya masih perlu banyak be-beristirahat."
Benarkah wajahnya pucat? Hinata tidak tahu.
Tak lama kemudian Sasuke berpamitan pulang. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah merupakan tugas Hinata mengantar kepergian tamunya hingga ke pintu gerbang.
"Aku pulang dulu."
Hinata mengangguk. "Hati-hati di jalan. Um, te-terima kasih untuk kunjunganmu hari ini, Sasuke-san."
"Mm."
Hinata lalu menatap punggung Sasuke yang berjalan menjauh. Namun baru beberapa meter berjalan, Sasuke berhenti dan berbalik menatap Hinata.
"Lain kali jika aku datang mengunjungimu, aku akan membawakanmu bunga." Kata Sasuke dengan serius.
Mendengar itu, wajah Hinata langsung memerah.
Sebelum Hinata sempat memberi respon, Sasuke langsung melenggang pergi.
Lain kali?! Apa maksudnya itu?!
.
.
Hinata menatap sebotol madu pemberian Sasuke dengan perasaan campur aduk.
Ramuan itu tidak mungkin manjur… kan?
Sasuke tidak mungkin menyukainya… kan?
Seandainya saja ramuan itu memang manjur dan Sasuke benar-benar menyukainya… apa yang harus ia lakukan?
Menghindarinya?
Tapi itu akan melukai perasaan Sasuke, apakah ia akan bersikap setega itu pada Sasuke?
Menerimanya?
Itu jauh lebih gila lagi!
Hinata menghela nafas. Ini adalah karma. Ia harus menanggung ini semua. Ia tidak boleh mengeluh. Sasuke hanyalah korban dari tindakannya yang salah, apapun yang terjadi Hinata harus bersikap baik pada pemuda berambut hitam itu. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan.
Hinata lalu membuka tutup botol itu dan mengeluarkan sedikit madu di ujung jari telunjuknya untuk mencicipi rasanya.
Manis.
Sangat manis.
Entah kenapa hati Hinata terasa hangat.
.
.
Sasuke adalah salah satu murid terpandai di SMA Konoha. Nilainya hampir selalu sempurna.
Itu adalah fakta.
Dan kini Hinata sedang menyalin catatan yang dibuat oleh Sasuke di bukunya. Tulisan Sasuke yang rapi membuat Hinata dengan mudah membacanya, terlebih lagi rangkuman yang dibuat Sasuke secara rinci dan sistematis membuatnya memahami dengan mudah topik pembahasan kali ini.
Ternyata kecerdasan Sasuke bukanlah pajangan semata.
Setelah selesai menyalin semuanya, Hinata meregangkan otot lehernya yang terasa kaku. Belajar memang sangat membosankan. Kemudian dengan iseng ia membolak-balik buku catatan Sasuke. Tulisan tangan Sasuke lebih indah dibandingkan miliknya, ia jadi sedikit iri.
Terkadang terdapat berbagai gambar kecil yang menghiasi sudut halaman, mungkin digambar Sasuke saat pemuda itu sedang bosan di kelas. Ah, Hinata ingat sekarang, Sasuke juga berbakat dalam bidang melukis.
Hinata tertawa saat menjumpai karikatur dengan wajah mirip Naruto sedang berlari dikejar dinosaurus yang berwajah mirip Iruka-sensei. Ternyata selera humor Sasuke unik juga. Tulisan dan catatan Sasuke sudah habis, menyisakan sepertiga halaman buku yang kosong. Hinata lalu membalik buku ini tepat di halaman terakhirnya. Biasanya seseorang akan menuliskan hal-hal tidak penting di bagian belakang buku mereka.
Ah, tidak ada yang spesial di halaman belakang ini. Hanya coretan-coretan kecil saja.
Hinata lalu membalik-balik halaman kosong buku itu dengan iseng, mencoba mencari karikatur lain lagi. Tapi halaman demi halaman telah ia balik dan ia tidak menjumpai apapun, hanya halaman kertas yang putih dan kosong.
Akan tetapi tak lama kemudian matanya tertuju pada salah satu sketsa yang dibuat oleh Sasuke. Jika Hinata tidak membolak-balik halaman kosong, mustahil ia bisa menemukan sketsa gambar ini.
Hinata mematung. Jantungnya mulai berdebar kencang, wajahnya merona hebat. Jari-jarinya membeku sedangkan sepasang bola mata lavendernya membulat sempurna.
Hinata mengenal sketsa wajah ini.
Ini adalah gambar dirinya.
Sketsa ini menggambarkan wajah Hinata yang terlihat dari samping. Dalam gambar ini ia sedang tersenyum, matanya menatap lurus ke depan. Rambutnya tergerai bebas di punggungnya. Sketsa ini… sangat mirip dengan dirinya.
Hinata tidak mungkin salah, ini adalah gambar dirinya.
Sasuke yang menggambar ini?
Mengapa?
Karena ramuan ajaib?
Karena ramuan itu membuat Sasuke memikirkan dirinya dan membuat sketsa wajahnya?
Hinata lalu membaca tanggal yang dicantumkan di pojok halaman ini.
Tanggal 12 bulan ini.
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Tanggal 12? Ia lalu meraih ponselnya, berusaha memastikan tanggal hari ini.
Tanggal 22.
Hinata mengerutkan alisnya.
12
22
Kini ia mencoba berpikir positif. Mungkin saja ini adalah sketsa yang digambar Sasuke hari ini, hanya saja Sasuke salah mencantumkan angka. Mungkin Sasuke berniat menulis 22 namun tangannya justru menulis angka 12.
Ini hanyalah sebuah kesalahan kecil. Tidak mungkin Sasuke menggambar ini 10 hari yang lalu… kan?
Tapi mengapa jantungnya masih berdebar kencang?
.
.
Please review^^
