Mission Imposibru : Menculik Hinata
by Rei.N
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 2 : Operation Begin
Disebuah ruangan markas rahasia para intel. Terlihat beberapa orang agen sedang melakukan diskusi.
"Menurut informasi dari beberapa anak buahku, orang yang bernama Pain itu yang akan menangkap Hinata Hyuga. Kemarin juga terjadi pembunuhan disebuah bar disudut kota, pasti perbuatan Akatsuki," jelas seorang agen berambut silver dengan masker yang menutupi sebagian wajah tampannya.
"Pain ya? Aku pernah mendengar dari salah satu tahanan di Suna, bahwa Pain adalah pembunuh bayaran terkenal. Dia memiliki hubungan dekat dengan Nagato," kata seorang yang lebih tua berambut putih panjang.
"Jiraya-sama apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
"Tetap lanjutkan misi Naruto. Kita kirimkan informasi ini pada mereka."
"Akhirnya ada misi yang melibatkan kita berdua ya, Sakura-chan!" kata Naruto sambil memamerkan cengiran andalannya pada gadis disebelahnya.
Sementera si gadis pink itu tak menghiraukannya. Dia sudah terbiasa dengan bencana seperti ini. Tinggal menunggu waktu untuk bencana sesungguhnya.
Kini mereka sedang berada didalam apartemen yang terkenal itu. Menyewa kamar yang paling dekat dengan kamar Hinata adalah salah satu cara untuk mempermudah penculikan, atau justru mempersulit.
Satu lantai dari tempat mereka berdiri sekarang sudah terlihat sosok lima orang (yang) berambut orange dengan tindikan diwajah. Salah satunya adalah pria berinisial Pain Tendo. Mereka sudah sangat dekat untuk melakukan hal jahat.
"Bagaimana? Kamar gadis itu hanya dibawah kita, tapi penjagaannya ketat pada lantai itu. Khususnya kamar gadis itu," kata seorang pria yang berambut- ehm yang tak berambut diantara mereka.
"Kita tanyakan saja pada bos kita yang ganteng ini, huh Tendo?" kata pria lainnya yang dipanggil Gakido.
Sepertinya teman-teman Pain sangat mengaggumi dirinya, sebagai seorang pembunuh handal. Sudah tak terhitung jumlah manusia tak berdosa atau mungkin berdosa yang dia bunuh. Dan pengalaman pertamanya membunuh adalah pada pemimpin kota Ame, Hanzo si pengkoleksi Salamander.
Flashback..
Saat itu tengah terjadi penyerangan gangster di kediaman Hanzo. Semua pasukan dan anak buahnya sudah dikerahkan untuk mengatasi serangan yang tiba-tiba itu.
"Sialan! Siapa gerangan yang bisa mengalahkan semua pasukan dan anak buahku?!" teriak Hanzo ditengah kegelisahannya menunggu ajal menjemput dan bertemu Grim Reaper mencabut nyawanya.
"Pak! Semua polisi diluar sana sudah hampir habis! Mohon maaf sepertinya ini akhir dari jabatanmu sebagai walikota, aku pamit undur diri. Istri dan anakku sudah menunggu dirumah, dan mungkin Istri dan anak anda juga sudah menunggu diakhirat sana.." kata seorang anak buahnya yang langung pergi berlalu.
"UAPA! T-tunggu dulu!" Suara Hanzo tak terdengar seiring nyaringnya suara tembakan serta teriakan pilu diluar sana.
Tapi Hanzo tak tinggal diam. Dia mengambil sepucuk pistol dari laci mejanya. Mungkin akan berguna untuk memperpanjang masa hidupnya. Tiba-tiba pintu dibuka secara kasar dan menampakkan sosok anak buahnya yang berlari ketakutan. Tapi tunggu dulu.. itu anak buahnya yang tadi.
"Hei apa yang-"
"Pak tolong ak-" JDER ! Sebuah lubang tercipta tepat setelah butiran peluru melesat menembus kepala anak buah itu.
"Cih, sepertinya kau yang harus menunggu istri dan anakmu di akhirat sana!" ejek Hanzo merasa keadaan berbalik, atau mungkin.. akan sama.
Dibelakang mayat anak buahnya, berdiri sosok pria sangar sambil menatap sadis dengan dua buah pistol dalam genggamannya. Pria itu sudah mengacungkan ujung senjatanya kearah Hanzo.
"K-kau? Bukankah kau sudah.." Hanzo tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Aku yang dulu, bukanlah yang sekarang," kata pria itu dingin.
"Maka aku akan membuatmu seperti dulu!" Hanzo menarik pelatuknya dengan kecepatan tinggi dan menembakkan beberapa peluru ke tubuh pria keji didepannya.
JDER! JDER! JGLEK!
Peluru habis dan hasilnya sia-sia. Pria bertindik tadi masih berdiri tegak walaupun sekujur tubuhnya penuh dengan lubang peluru.
"Holy shit!" umpat Hanzo." Kumohon, ampunilah aku! Kau boleh mengambil seluru Salamender peliharaanku, tapi jangan yang berwarna hitam, itu mahal!"
"Hei keparat! Aku tidak membutuhkan hewan sialan itu! Berani juga kau tawar menawar disaat seperti ini!" bentak si pria bertindik a.k.a Pain.
"Ups, maaf. Tapi rasakan ini!" Hanzo melemparkan seekor salamander hitam yang berbisa dan langka kewajah Pain. "Hahaha! Sebentar lagi wajahmu akan korengan dan melepuh! Racun salamender itu juga bisa membunuhmu!"
Tapi Pain hanya tertawa jahat melihat aksi Hanzo,"Hahaha, sepertinya salamender yang kau beli dari Danzo tak berguna!"
GLEK!
Hanzo menelan ludah terakhir kalinya sebelum sebutir peluru dari Pain menghiasi kepala dan otaknya. Walikota itu akhirnya mati mengenaskan ditangan seorang pembunuh muda yang menjadi awal ke-profesionalitas-nya.
End of Flashback..
Pain tersenyum sejenak mengingat masa lalu yang menyenangkan itu. Baginya, membunuh seorang walikota diawal karir merupakan sebuah kebanggan tersendiri.
Beralih pada Shikamaru yang berada di dalam truk sampah. Mengawasi terhadap sesuatu hal yang tidak diinginkan. Dan baru saja dia mendapat informasi penting dari markas.
"Gawat, aku harus memberi tahu Naruto dan Sakura," gumam Shikamaru tapi berusaha tetap tenang.
Naruto dan Sakura kini sudah berada tak jauh dari kamar Hinata. Dan disana hanya terlihat dua orang penjaga.
"Naruto, Sakura! Berhati-hatilah terhadap orang ini. Dia orang yang juga akan menculik Hinata!" ujar Sikamaru memperingatkan sambil mengirim data tentang Pain ke gadget Naruto.
"Oke! Kami sudah siap akan hal itu!" kata Naruto.
"Ingat Naruto, kita tidak boleh meremehkan orang ini," kata Sakura.
Ternyata orang yang dimaksud tak berada jauh dari mereka. Saat Naruto dan Sakura berbelok, Pain sudah berada tak jauh didepan mereka. Naruto memandang orang itu sejenak, lalu ia sadar bahwa orang didepannya mirip dengan orang dalam foto yang dikirimkan Shikamaru.
"Sakura itu orangnya. Kamar Hinata ada didepan, apa yang harus kita lakukan?" Naruto berbisik pada Sakura.
"Aku tahu. Tapi tenang, ada dua penjaga didepan sana-" Sakura terkejut melihat peristiwa didepannya. Pain menembak dua penjaga itu, lalu mengarahkan pistolnya pada Naruto dan Sakura.
Dengan sigap Naruto mengeluarkan pistol andalannya yang diberikan oleh sang guru. Terjadilah aksi tembak menembak antara dua agen itu dengan keenam pembunuh bayaran. Hinata yang saat itu masih berada didalam kamarnya terkejut mendengar suara letusan senjata yang sangat banyak.
Anak buah Pain yang bernama Gakido tiba-tiba maju dan menjadikan tubuhnya pelindung. Dengan tubuh yang besar dan tebal, semua peluru yang melesat tak bisa menembusnya. Sakura dan Naruto kewalahan dengan hal itu.
"Bos, cepat kau culik gadis itu.. ukh.. sebelum aku mati!" kata Gakido yang kondisi tubuhnya terlihat sangat mengenaskan.
"Hmm, Shurado! Cepat ledakkan pintu itu!" perintah Pain pada anak buahnya yang berkepala botak kurang licin.
Sakura dan Naruto sudah tidak menembaki lagi. Mereka lebih memilih berlindung daripada melakukan hal sia-sia dan tidak ber-keperimanusiaan.
DUARR!
Sebuah ledakan yang cukup besar menghancurkan pintu kamar Hinata. Kepulan asap membuat penglihatan terganggu dan membatasi jarak pandang.
"Si-siapa kalian?" tanya Hinata yang terkejut dan ketakutan melihat lima orang bertampang suram mendekatinya.
"Diamlah gadis manis! Kami hanya akan membawamu ketempat yang indah!" bentak seorang anak buah Pain yang ternyata wanita.
"Tidak kenapa jadi kacau begini!' gumam Naruto melihat apa yang sedang terjadi sekarang. Dengan susah payah dia berdiri.
"Hei bos, orang itu masih bisa berdiri rupanya," kata seorang anak buah lainnya yang berbadan besar dengan rambut spiky.
"Hmm, sepertinya ledakan tadi kurang hebat, Shurado." Pain menatap Shurado dingin.
"Maaf bos, aku tak- akh!" pria botak itu mengerang setelah dadanya ditusuk oleh Pain.
"Kau harus menyusul Gakido. Aku tak membutuhkanmu lagi," kata Pain seperti berbisik. "Jigokudo, habisi mereka!" perintah Pain.
Orang yang bernama Jigokudo tadi mendekati Naruto. Tapi sepertinya Naruto sudah tidak sabar. Dengan cepat dia berlari kearah Jigokudo dan menghajarnya dengan beringas.
"Setelah kau, orang yang bernama Pain itu akan mati!" kata Naruto.
"Mari kita buktikan!"
Jigokudo menyerang balik Naruto. Dia meninju perut Naruto. Lalu mengarahkan beberapa pukulan keras kewajah pria berambut pirang itu. Naruto jatuh tersungkur. Darah segar mengalir keluar dari mulutnya. Perlahan pandangannya kabur dan kepalanya terasa sakit. Dan pada akhirnya semuanya menjadi gelap.
"Naruto!"
Malam itu Naruto mulai tersadar dari pingsannya. Dia menatap sekitar ruangan.
"Dimana ini?" gumamnya pelan.
"Kau pingsan selama tujuh hari tujuh malam." Suara Shikamaru sontak mengejutkannya.
"What?! Selama itu?" kata Naruto heboh.
"Tidak aku bercanda, kau pingsan enam jam yang lalu," jelas Shikamaru.
"Berarti.. aku gagal.." gumam Naruto dengan wajah suram.
"Belum, kabar baiknya kita masih punya rencana B. Kau mau tahu kabar buruknya?" tanya Shikamaru dengan wajah serius. Naruto mengangguk. "Pria yang membuatmu pingsan, sempat masuk rumah sakit.."
"Lalu? Itu bagus 'kan?"
"Karena jitakan maut oleh Sakura."
DEG!
Mendengar kabar yang entah baik atau buruk itu, wajah Naruto makin suram. Pria yang membuatnya pingsan bisa masuk rumah sakit hanya karena jitakan seorang wanita? Benar-benar impossibru!
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Jitakan Sakura 'kan memang sudah melegenda dalam sejarah per-intelegensian. Urutan kedua setelah Tsunade-baasan."
"Ya, aku tahu. Bicara tentang Sakura, dimana dia sekarang?"
"Sedang mencari makanan. Kita para agen 'kan juga manusia yang butuh makan."
"Oh.. jadi bagaimana dengan rencana B yang kau bilang?"
"Itu.. rencananya masih sama, yaitu menculik Hinata. Tapi akan lebih sulit, karena kita akan menculik dari markas para mafia."
"Whoa! Aku jadi bersemangat mendengarnya! Lanjutkan!"
Disebuah tempat yang menjadi sarang untuk kejahatan, markas Akatsuki bagian barat. Terlihat anggota Akatsuki sedang menunggu seseorang. Tapi kali ini orang yang ditunggu sedang membawa hasil.
"Akhirnya datang juga.. Mana gadis itu?" kata Deidara senang melihat kedatangan orang yang ditunggu.
"Sebelumnya kirim dulu uangnya ke rekening berikut.." kata Pain sambil menunjuk sesuatu dibawahnya.
"Hei bung, kau tidak sedang bercanda 'kan?" ejek seorang pria berambut perak.
"Diam kau!"
"Sudah-sudah.. kita tak menginginkan pertikaian di malam yang indah ini 'kan? Aku sudah mengirimkan uang secukupnya ke rekeningmu, un," kata Deidara.
"APA! Secukupnya?!"
"Maksudku, seperti yang kau minta hehe.."
"Hmm, kalau begitu akan aku panggil anak buahku untuk membawa gadis itu. Hei bawa gadis itu!" panggil Pain.
Dari dalam mobilnya, dua orang wanita muncul dan salah satunya adalah Hinata. Matanya ditutup dan tangannya diikat. Hinata sudah tak bisa berontak lagi karena kehidupannya sudah terancam punah.
"Wah wah.. gadis ini lumayan juga.." kata Hidan dengan mata berbinar-binar.
"Dia bukan untuk dipakai bodoh!" bentak Deidara.
"Ya ya.. aku tahu!"
"Terima kasih atas kerja samanya, Pain," kata Deidara berniat menjabat tangan dengan Pain. Tapi apa daya tangan tak sampai. Pain langsung berlalu pergi.
"Oke, bawa dia masuk!"
TBC
A/N: Bagaimana chapter 2 ini? Semoga bisa menghibur secukupnya. Silahkan sampaikan kritik, saran atau unek2 di kotak review yang tersedia. Oh ya, genre fic ini udah saya ganti urutannya, dikarenakan humornya kurang hehe, maklum akhir2 ini sedang terjadi ulangan jadi saya harus ngebut. Sudahlah, silahkan review..
