Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Vocaloid: Yamaha Corporation, dll.

.

.

.

Genre: adventure/fantasy/romance/mystery/hurt/comfort

Rating: T

Setting: dunia ninja di zaman Heian

.

.

.

I Am No Angel

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Pergi dari desa

.

.

.

Jiraiya mengangguk pelan dengan wajah sedih. Mata Naruto berkaca-kaca karena merasa terguncang dengan kabar buruk yang menimpanya.

"Itu benar, Naruto," Jiraiya memegang dua bahu Naruto. "Sebaiknya kita segera pulang untuk menemui Oka-san-mu."

Naruto mengangguk dengan tubuh bergetar. "I-Iya."

Jiraiya merasakan apa yang dirasakan Naruto lalu ia melompat dan diikuti Naruto dari belakang.

Untuk sementara waktu, Naruto melupakan tujuan awalnya yang ingin mencari gadis misterius itu. Lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Naruto disambut dengan pelukan dan isakan tangis Kushina. Jiraiya yang bersama mereka, turut menangis dalam suasana duka ini.

"Naruto ... Otou-san-mu meninggal, nak. Tim ANBU yang dikerahkan Kaisar untuk mencari Otou-san-mu dan beberapa orang penting lainnya, yang memberitahukan ini pada Jiraiya-san dan Oka-san. Hiks ... Hiks ... Hiks...," ungkap Kushina yang membenamkan Naruto ke dadanya seraya memeluknya.

"Itu tidak mungkin, Oka-san. Otou-san adalah Ninja Jounin yang terbaik di desa ini dan akan menggantikan Kaisar dalam waktu dekat ini," ucap Naruto yang juga menangis. "Tidak mungkin Otou-san meninggal begitu saja. Aku yakin Otou-san masih hidup."

"Kau harus menerima kenyataan ini, Naruto."

"Tidak!"

Naruto memberontak dan melepaskan diri dari pelukan Kushina. Ia berwajah penuh amarah dengan mata yang sembab karena kebanyakan menangis. Hatinya menentang keras kebenaran bahwa Ayah yang sangat disayanginya itu telah tiada sekarang.

"Naruto, kau tidak boleh begitu!" kata Jiraiya yang memberikan nasehat. "Tidakkah kau kasihan melihat Oka-san-mu yang begitu sedih karena kehilangan Otou-san-mu? Sementara kau malah membentaknya seolah kami membohongimu. Kenyataan yang sebenarnya adalah Otou-san-mu, Namikaze Minato, gugur dalam misinya."

Naruto yang keras kepala, tetap membantah kenyataan itu. "Tidak! Aku tidak percaya itu!"

Kushina yang masih menangis, tersulut emosi dan kemudian langsung menampar pipi Naruto.

PLAK!

Tamparan keras itu mampu membuat Naruto terdiam. Kushina berhenti menangis, memandanginya dengan tajam.

"Kau tidak mau menerima kenyataan ini, kan, Naruto? Apa yang kau lakukan jika Oka-san juga menyusul Otou-san-mu? Kau juga tidak mau menerima kenyataan jika kami berdua tidak ada lagi di dunia ini! Kau akan hidup sendiri tanpa ada kami berdua yang berada di sampingmu! Tidak akan ada yang mau mengurusmu selain kami berdua! Dan kau akan berusaha sendiri untuk melanjutkan hidupmu! Pikirkan itu!" bentak Kushina dengan suara yang sangat keras. "Oka-san tahu kalau kau menyayangi Otou-san-mu lebih dari nyawamu! Tapi, jika kau keras kepala begitu, kau tidak akan pernah menjadi Ninja yang hebat! Ingat pesan Oka-san yang terakhir ini, apapun yang terjadi, terimalah kenyataan pahit yang kau terima dan suatu saat kebahagiaan yang sesungguhnya akan menunggumu di lain hari! Kau mengerti, Namikaze Naruto?"

Hati Naruto berdegub kencang karena merasakan kalimat yang mengganjal dari perkataan Kushina. Sanggup membuatnya terdiam dan tersadar dari sikap keras kepala. Kepalanya tertunduk dengan tubuh yang bergetar hebat.

"Aku mengerti. Maafkan aku, Oka-san."

"Syukurlah, jika kau memahaminya."

Kushina meredakan emosinya dan bernapas lega. Ia pun mengambil sesuatu yang terletak di atas meja berkaki rendah. Naruto melihat sebuah senjata yang merupakan pedang milik Ayahnya yakni pedang Cakra. Kushina menyerahkan pedang Cakra itu padanya.

"Ini untukmu. Simpan baik-baik dan gunakan jika kau mengalami keadaan yang terdesak. Lalu, jangan beritahu siapapun kalau kau adalah anaknya Namikaze Minato, dan gunakan nama marga Uzumaki ketika kau sudah keluar dari desa ini," ingat Kushina yang tersenyum. "Jiraiya-san akan membawamu pergi dari desa ini, hari ini."

Naruto menerima senjata itu dengan bingung. "Kenapa aku harus pergi dari desa hari ini?"

"Jangan banyak tanya. Lakukan apa yang Oka-san katakan. Mengerti?"

"Mengerti."

"Bagus, kau memang anak yang baik, anakku sayang."

Kushina memeluk Naruto lagi. Kali ini, lebih erat. Tetesan air bening berjatuhan dari pelupuk matanya karena harus berpisah dengan Naruto. Hatinya berat untuk melepaskan Naruto pergi.

Naruto yang tidak mengerti dengan situasi ini, mencoba untuk melakukan apa yang diminta Ibunya. Ia juga menangis karena teringat Ayah dan terpaksa harus berpisah dengan Ibu.

Menyaksikan suasana melankolis ini, Jiraiya semakin menangis. Tidak sanggup untuk menahan gejolak hati ini.

.

.

.

Setelah itu, Naruto membereskan perlengkapan ninja, pakaian, dan benda-benda penting lainnya ke dalam bungkusan kain - maklum zaman Heian, tidak ada yang namanya tas ransel. Tidak lupa ia membungkus pedang Cakra dengan kain putih dan disandangnya di pinggang. Lalu ia menyandang tas kain itu di bahunya dan bergegas menemui Kushina dan Jiraiya yang menunggunya di luar rumah.

Di ambang pintu itu, Kushina berdiri berhadapan dengan Naruto. Ia sedikit membungkukkan badannya agar menyamakan tingginya dengan badan Naruto yang cukup pendek. Kedua tangan putih yang lembut itu, memegang bahu Naruto dengan erat.

"Kau sudah menjadi Ninja sekarang, Naruto. Untuk latihan selanjutnya, belajarlah dengan Jiraiya-san. Oka-san harap kau menjadi Ninja yang berguna bagi orang lain," ujar Kushina yang tersenyum. "Lalu jangan pernah kembali ke desa ini. Apapun yang terjadi, kau harus mendengar apa yang dikatakan Jiraiya-san ya?"

Naruto mengerutkan keningnya. "Kenapa aku tidak boleh kembali ke desa ini, Oka-san?"

"Jangan banyak bertanya lagi. Sudah Oka-san bilang begitu sebelumnya, kan?"

"Ah, baiklah."

"Kalau begitu, cepatlah pergi sebelum terlambat. Jiraiya-san, aku titip anakku padamu."

Jiraiya yang berdiri di belakang Naruto, mengangguk cepat. Ia tersenyum. "Ya. Serahkan saja padaku."

Kushina senang mendengarnya. Naruto yang masih bingung, memperhatikan keduanya secara bergantian.

"Terima kasih, Jiraiya-san."

"Sama-sama."

"Naruto, ayo, cepat!"

"Baiklah, sensei!"

Naruto tergesa-gesa mengikuti Jiraiya dari belakang. Ia sempat menoleh ke belakang. Kushina masih berdiri di ambang pintu rumah tradisional adat Jepang itu, seraya melambaikan tangan padanya. Senyuman terukir di wajah Kushina yang berseri-seri.

"Selamat tinggal, anakku! Kau tenang saja, Oka-san akan baik-baik di sini!" teriak Kushina dengan suara yang sangat keras.

Naruto yang mendengar itu, tersenyum tapi air bening mengalir dari iris birunya. Ia juga melambaikan tangan. Ya, Oka-san!"

"Selamat tinggal!"

Sekali lagi, Kushina mengatakan itu. Naruto yang terus melangkah, berat untuk meninggalkan Kushina. Jiraiya yang berjalan di depan, menoleh ke arahnya.

"Naruto, kau kenapa?" tanya Jiraiya.

"Aku merasakan firasat yang sangat buruk," jawab Naruto.

"Ah, itu hanya perasaanmu saja. Ayo, cepat jalan!"

"Iya."

Naruto mempercepat langkahnya begitu Jiraiya semakin menjauhinya. Mereka pun menjauh dari jangkauan pandangan Kushina.

Satu jam setelah Naruto dan Jiraiya pergi, muncul pasukan Ninja dari desa lain yang menyerbu desa Konoha. Banyak Ninja yang terpilih ikut bergabung untuk melawan mereka termasuk Kushina sendiri.

Perang ninja terjadi di desa itu, karena ada pihak lain yang ingin memperebutkan kursi kebesaran Kaisar yang memimpin desa Konoha - tidak ada istilah Hokage yang memimpin desa Konoha - karena ingin menguasai desa Konoha tersebut.

Untuk itu, Minato yang direncanakan untuk menggantikan Kaisar, telah terlebih dahulu disingkirkan ketika Kaisar meminta kelompok Minato untuk menjalankan misi ke desa Ame. Minato yang termasuk anggota ANBU, dianggap gugur dalam misi itu.

Peperangan besar itu berlangsung sangat lama dan banyak memakan korban jiwa. Kushina termasuk salah satu korban, turut gugur di medan perang.

Kebakaran hebat melanda desa Konoha. Anak-anak, bayi-bayi, dan remaja diselamatkan sebelum perang terjadi. Mereka diungsikan ke desa tetangga terdekat oleh pasukan ANBU terpilih.

Hari yang kelam, menjadi berduka atas kematian para Ninja desa Konoha. Pasukan Ninja dari desa lain itu, yang memenangkan peperangan itu.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Terima kasih banyak ya bagi yang udah baca secara silent reader dan yang punya akun ffn.

Minggu, 17 Februari 2019