SAATNYA PELAJARAN
Saat Minum teh!
Malaysia dan Inggris: Berlatih Minum teh ala Bangsawan.
Di suatu sore yang damai Inggris sedang minum teh bersama Mala. Tanpa sengaja Mala menjatuhkan gelas cantik milik Inggris. Itu bukan kesalahannya, itu karena ada suara gaduh yang dia dengar di kejauhan.
Melihat ini Inggris merasa marah. Dia membentak Mala. Hampir saja dia memukul Mala, tapi ditahannya. Dia hanya memukul tangan Mala. Mengajar seorang gadis menjadi Lady memang ternyata butuh kesabaran. Mala ketakutan.
"Ah, maafkan aku Mala, kadang memang aku terlalu berlebihan. Mari kita ulangi bagaimana minum teh yang benar. Seperti seorang Lady"
Indonesia dan Belanda : Berlatih membuat teh untuk bangsawan.
"Hei mana siapkan Tehnya."
Dari kejauhan Indo perlahan membawakan teh yang diraciknya khusus. Belanda meminumnya, kemudian dia memuntahkannya. Dia memandang Indonesia marah.
"Kamuu... bagaimana kau bisa jadi istri yang baik kalau kau tidak bisa membuat teh. Dasar kamu India"
"Tapi nama saya bukan India."
"Terserah aku kan, kamu timurnya India ya India timur saja. Susah sekali. Sekarang ulangi panggi aku Tuaaan... dengan lembut. Berikan intonasi.."
Mempertahankan diri.
Malaysia dan Inggris : Pelatihan menggunakan senapan.
Suara peluru meletus dari pistol Malaysia. Mendengar itu Mala agak ketakutan, dia menembak ke sasaran bulat dan berhasil. Melihat ini Inggris bertepuk tangan karena Malaysia kena Bulls Eye. Saking senangnya Malaysia pistol Malay meletus hampir melukai dirinya. Inggris kemudian mendekati Malaysia. Dia membentak dan memukul Malaysia.
"Kalau kena orang bagaimana." bentak Inggris
Mendengar itu Malaysia menangis, dia menangis keras. "Su.. Sudah kubilang kan! aku tidak suka senapan. Kau yang menyuruhku memakainya.
Inggris sedikit menyesal dan menenangkan Malaysia.
"Maaf Malay aku sedikit berlebihan. Aku tahu kau tidak suka bertempur. Tapi di luar sana berbahaya dan kau harus bisa mempertahankan diri. Walau kau seorang Lady kau harus bisa bertempur. Maaf, ya."
Mempertahankan diri.
Indonesia dan Belanda : Latihan Praktik.
Suara peluru meletus dari pistol Belanda. Peluru itu langsung bersarang ke apel di atas kepala Indonesia. Indonesia ketakutan bukan main. Belanda hanya tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana Indo. Aku hebat kan."
Indonesia jatuh berlutut hampir menangis.
"Cengeng, bagaimana kau bisa hidup di dunia cengeng begitu."
Indonesia berdiri dan menahan tangisnya. Dia berdiri dengan bangga dan kuat.
"Ah, bukan apa-apa kok, cemen."
Belanda mendengus "Mungkin ini saatnya kubawa kau menemui beruang liar..."
Berkebun.
Malaysia dan Inggris : Mari menanam bunga.
Tangan Malaysia kotor oleh tanah kebun. Di belakang Inggris menemaninya dan memberinya Instruktur sekaligus membantunya. Bersama mereka menanam benih-benih yang Malaysia tidak tahu. Setelah mereka selesai mereka duduk dan makan bersama.
"Inggris, kita menanam apa?"
"Itu Mawar."
Malaysia agak heran "Mawar itu apa?"
"Mawar itu bunga, memang pertama kita perlu bersusah payah tapi itu akan terbayar ketika bunga mawar tumbuh menghiasi kebun kita."
"Seperti apa ya mawar itu?"
"kau harus menunggu Malaysia sayang."
"Yah. Boleh-lah" katanya sambil minum teh. Mendengar ini Inggris tertawa. Mereka menatap bangga taman yang akan mereka nikmati bersama esok hari.
Berkebun.
Belanda dan Indonesia : Mari menanam apa ini? Ganja?
Belanda sedang minum kopi dan makan kue sambil baca koran saat kebunnya sedang diurus oleh pelayannya yang setia bernama Indonesia. Indonesia sedang menggali tanah dengan tangan kotor dan masih mengenakan pakaian sehari-hari.
"Belanda, kita menanam apa? Apa kita menanam bunga?"tanya Indonesia.
"Bukan. Kita menanam barang mahal. Karena itu hati-hati. Awas kalau rusak"
"Ini apa?" Indonesia mengamati pohon itu.
Mari belajar literatur.
Malaysia dan Inggris : Mari belajar bahasa Inggris.
"Ayo kita belajar Malaysia, Mari belajar bahasa Inggris." kata Inggris "Saya seorang Lady!"
"I am Lady"kata Malaysia.
"bagus! Lalu sekarang 'saya suka kue.'"
"mm..mmm. I suka kue,.."
"hahaha, jangan tertukar ya. Yang benar I like cookie." Inggris hanya tersenyum.
"Maaf." Malaysia agak malu menutup wajahnya dengan buku.
"Tak apa, aku suka semangatmu. Ayo kita ulangi lagi."
Mari belajar literatur.
Malaysia dan Inggris : Mari belajar bahasa Aneh itu.
Pada suatu hari belanda sedang berjalan-jalan. Dia melihat Indonesia bicara aneh dengan saudaranya. Dia kemudian tertarik.
"Dia bicara bahasa apa Indo?"
"Ah itu bahasa X, lalu bahasa Y, lalu Z."
"Bagaimana caranya? Bahasa yang aneh? Hei ajari aku bahasa itu."
Akhirnya tiap sore belanda datang untuk belajar bahasa-bahasa saudara Indonesia. Dia juga sering mengajari nama-nama dan keunikan saudara-saudaranya.
Hasil.
Semakin lama Malaysia semakin menjadi Lady seperti yang Inggris inginkan. Inggris hampir puas dengan hasil didikannya, tapi entah kenapa Inggris selalu merasa ada ketidakpuasaan dalam diri Malaysia. Dia sudah seperti putri raja, walau sedikit manja dan keras kepala dia adalah seorang Putri yang baik hati. Walaupun demikian Inggris selalu menangkap Malaysia sedang merenung, dia nampak sedih dan sedikit melankolis.
Sebenarnya Malaysia merasa tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Tidak menjalani hidupnya sendiri.
…
Semakin lama Indonesia semakin tahu cara mempertahankan diri. Entah dengan menipu atau melawan langsung. Dia semakin sering kabur dari tugas, semakin hafal taktik licik belanda. Dia juga semakin pandai berkelahi, tidak takut menghadapi senjata belanda dengan bambu yang diruncingkan. Setiap hari dengan mudah bisa terpicu perkelahian dan dengan belanda.
Indonesia tumbuh menjadi gadis yang mempunyai semangat kemerdekaan, berani dan sangat membenci penindasan. Selalu bersikap seperti kakak perempuan bagi orang lain. Indonesia menjadi bangsa yang kuat, orisinal dan penuh mimpi. Sayangnya muncul lah kebiasaan Indonesia yang hidup serampangan, tidak rapi dan sedikit jorok. Gadis yang sedikit kasar dan brangasan. Yah, tidak semuanya salahnya.
BONUS : CATATAN SEORANG ASAL BELANDA.
Pada suatu hari seorang pria belanda bernama Multatuli sedang jalan-jalan menikmati keindahan. Tiba-tiba dia terkejut dengan seorang gadis mengambil tanah dengan sendok dan memakannya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ah, maaf, aku sedang menanam." kata gadis itu.
"Tapi kenapa kau memakan tanah?"
"Ah, aku pasti kelaparan. Aku kira nasi. Eheee"
