Waaaa,, hontou ni gomennasai Senpai-Senpaikuuu...

Saqee-san: Arigato nee... :D

Vaneela-san: Gomen nee-san. "Dan" 2 ituu maksudnya tingkatan di judo.. trus kalo shinobi, hhe aku kira masih bisa pake setting asli Konoha. Hhe, gomen yaa... Kedepannya bakal aku koreksi Oke? soal SasuSaku, bereesss deh Senpaii hhi :DD

Agusthya-san: hhi.. makasih senpai.. XD

Disclaimer : (selalu!) Masashi Kishimoto

Pairing :

ShikaIno

SasuSaku

Slight NaruHina

Slight DeiIno

Happy Reading Minna-san

Don't like? Get Out of mine xP

*CHAPTER 2*

Dan sekarang Ino sudah ada di depan meja yang ditiduri oleh Shikamaru. Tidak! Ino tidak terpesona dengan wajah polos Shikamaru yang sedang tidur, memang pada saat bertemu untuk pertama kali –setelah ingatannya hilang– Ino merasa ada sebuah perasaan aneh di dirinya, seperti kerinduan yang mendalam kepada pria yang satu ini, tapi satusatunya ingatan tentang masa lalunya membuat dia tidak memikirkan perasaan itu lagi.

Ingatan tentang sahabat kecil sekaligus cinta pertamanya yang membuat dia bertekad tidak menyukai siapapun, karena Ino yakin jika dia bertemu sahabatnya, pastilah sahabatnya itu akan berusaha secepatnya mengaku pada Ino dan membantu Ino mengingatnya kembali, tapi Ino tidak tahu kalau dia salah.

Tidak semua orang akan melakukan hal yang seperti Ino pikirkan.

Setidaknya, tidak bagi Shikamaru.

"Heh, kenapa melihatku seperti itu? Terpesona,huh?" Shikamaru masih saja meletakkan kepalanya diatas meja, dia mendongak ketika mendapati Ino termenung dengan keadaan menatap wajahnya, "OI? Ino? Hoi,Ino"tanya Shikamaru semakin heran, tapi entah akibat mengantuk atau apa, tatapan Shikamaru meneduh, dia kembali merebahkan kepalanya sambil menghela nafas.

"Ino-chaan~..."gumamnya.

Anehnya kini Ino tersadar akibat gumaman Shikamaru, kepalanya terangkat dari kursi –yang berada di depan meja tempat Shikamaru meletakkan kepalanya– yang sejak tadi disandarinya. "Nee? Kau memanggilku apa?"tanyanya.

'Heh,,Sial! Dia malah sadar kalau aku menggumam nama kecilnya rupanya!'pikir Shikamaru.

"Aku memanggilmu Ino Yamanaka. Eh, bukan..bukan! Ekor kuda! Hahaha.. Kenapa? Dari tadi kau melihat wajahku kan? Kau suka padaku yaaa?"goda Shikamaru. Alibi yang benar-benar sempurna.

"Apa? Te-tentu saja tidak. Aku tidak menatap wajahmu, j-jangan PD ya rusa tua! Kau bisa dibunuh Nii-chan ku kalau dia tahu kau menjahiliku seperti ini." Kini wajah Ino memanas,dia menunduk.

Tapi pemuda Nara itu tidak suka. Shikamaru tidak suka mendengar kata-kata Ino barusan. Bukan karena Shikamaru tidak suka suara Ino, dia suka mendengarnya. Yang Shikamaru tidak suka adalah bagaimana cara Ino menyebut nama kakak tirinya yang sister kompleks itu. Kakak tiri Ino yang sudah dianggap Aniki baginya. Aniki yang dari mereka kecil sudah bermain bersama mereka. Aniki yang disayanginya, sekaligus aniki yang merubah masa lalunya.

"Heiii, kau tidak usah malu begitu padaku. Aku ini kan teman ke..."Shikamaru menghentikan ucapannya tiba-tiba.

"Apa? Kau mau bilang apa, Shikamaru?"tanya Ino.

Yang ditanya hanya merebahkan kepalanya sambil bergumam.

"Aku ini kan teman kesayanganmu'kan?"

'Gubrak! Demi apa aku menjadikannya teman kesayanganku,hah? Pria satu ini memang narsisnya tingkat dewa, kenapa cerita ini tidak diberi judul 'Shikamaru The God of Narsis saja?' setelah berpikiran –asal– begitu Ino akhirnya memutuskan untuk berdiri. "Sudahlah, aku mau pulang. Kau berjanji pada Sakura mau mengantarkanku kan?" Ino akhirnya menyerah, setidaknya untuk saat ini.

Shikamaru's POV

"Ah, kau tidak usah malu begitu padaku. Aku ini kan teman ke..." Astaga, aku salah bicara lagi. Mana mungkin aku mengaku padanya sekarang?

"Apa? Kau mau bilang apa Shikamaru?" tanya Ino padaku. Sial! Lagi-lagi aku hilang kendali hari ini. Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku tidak bisa menahannya, menahan rasa rinduku padanya dan melupakan janjiku pada Aniki.

Kuputuskan untuk kembali merebahkan kepalaku, "Aku ini teman kesayanganmu'kan?" ucapku sedikit narsis. Aku berharap dia tidak memikirkan perkataanku tadi. Kudengar suara kursi di depanku bergerak, Ino berdiri. "Sudahlah, aku mau pulang. Kau berjanji pada Sakura mau mengantarkanku kan?" kudengar suara langkahnya mulai menjauh. Aku tidak mau sendiri lagi. Aku tidak mau ditinggalkannya lagi. Aniki, maafkan aku.

Normal POV

Entah apa yang Shikamaru pikirkan sampai beberapa detik yang lalu. Sekarang yang jelas pergelangan tangan Ino sudah dicengkram erat oleh Shikamaru.

"Jangan pergi! Setidaknya jangan pergi meninggalkanku lagi..." desis Shikamaru sebelum akhirnya ia menghentakkan tangan Ino hingga tubuh Ino terhuyung goyah, dan Shikamaru langsung memeluk tubuh kecil itu.

'Ada apa dengan otak pris satu ini?' Ino sepertinya tidak mendengar desisan Shikamaru itu, karena sejak tangannya di cengkram tadi warna merah ceri sudah memenuhi wajahnya, dan yang dapat ia dengar hanyalah degupan jantungnya yang semakin keras menghantamnya sampai ia berada di pelukan pria ini sekarang.

Ino awalnya berpikiran untuk berontak, tapi entah kenapa ia nyaman dengan keadaan ini, ia hanya memutuskan untuk menenggelamkan wajahnya di dada bidang Shikamaru.

"Hontou ni gomennasai, Dei".

*Konoha Airport 07.30am*

"Hey, apa kau mau langsung ke tempat Yamanaka?" seorang pria. Bukan. Dua orang pria telah turun dari pesawat yang membawa mereka dari Tokyo. Pria yang bertanya tadi terlihat modis dengan berbagai aksesoris yang melekat di bagian tubuhnya. Dia memakai kaus hijau dengan bawahan celana model army ditambah dengan kacamata hitam. Disampingnya berdiri pria yang kelihatannya lebih tua memakai kaus hitam tanpa lengan yang memperlihatkan ototnya,berbeda dengan temannya tadi, dia tidak memakai aksesoris yang menurutnya merepotkan saja itu. Pria itu memakai celana santai yang hanya menutupi kakinya sampai sedikit dibawah lutut, sama dengan pria di sebelahnya, dia juga memakai kacamata hitam penutup wajahnya. "Iya!" jawabnya singkat.

To Be Continue