Baekhyun bukan sosok wanita spesial atau gadis beruntung yang lahir di keluarga kaya. Ia perempuan biasa-biasa saja, kedua orangtuanya meninggal karena sebuah kecelakaan saat ia masih sangat kecil dan ia pun sempat hanya hidup berdua dengan neneknya di Bucheon.

Setelah neneknya tiada, Baekhyun memilih untuk pindah ke Seoul, berusaha mendapatkan pekerjaan apapun dengan bekal ijazah sekolah menengahnya saja.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan Jongdae, seorang lelaki pemilik bar yang cukup terkenal di Hongdae. Baekhyun awalnya hanya bekerja sebagai pelayan di siang hingga sore hari, namun tawaran gaji yang lebih banyak membuatnya memilih bekerja di malam hari, di waktu umumnya sebuah bar akan sangat ramai.

Berawal dari seorang 'pesuruh', selama hampir tiga tahun Baekhyun belajar banyak hal mengenai dunia Seoul dari bar tempatnya bekerja. Banyak hal yang terjadi di tempat itu, dari hal misterius hingga hal menjijikkan yang Baekhyun enggan lihat. Namun begitu, ia tetap tutup mulut. Gadis itu pintar menyembunyikan rahasia, membuat Jongdae akhirnya mempercayainya untuk menjadi pelayan ruangan VIP di tahun ketiganya ia bekerja.

Baekhyun tahu apa yang dimaksud dengan pelayan ruangan VIP. Pelayan dengan bayaran paling tinggi di bar itu, bahkan tak jarang mendapatkan bonus tak terduga dari pelanggan di ruangan itu. Baekhyun juga sempat mendengar bahwa beberapa pelayan ruangan VIP seringkali diminta memuaskan pelanggannya, meski tidak semuanya berakhir di ranjang.

Perempuan itu enggan sebenarnya, namun tawaran uang yang Jongdae sebutkan tiba-tiba membuatnya buta. Akhirnya ia pun memutuskan menerima tawaran itu. Toh, ia tahu menjaga diri untuk tak terlibat lebih jauh.

Di minggu pertamanya menjalani jabatan barunya, Baekhyun tak banyak mendapat masalah. Ia hanya melayani pria-pria paruh baya yang sibuk minum-minum bersama beberapa simpanannya yang ia bawa, atau mencuri dengar beberapa transaksi terlarang yang Baekhyun enggan ingin tahu sama sekali.

Tapi di minggu kedua, pelanggan yang ditemuinya berbeda. Hanya seorang lelaki muda yang bertubuh tinggi tegap yang ia temui di ruangan besar bercahaya minim itu.

"Ini pesanan anda, Tuan,"

Baekhyun menundukkan badannya untuk meletakkan sebotol vodka serta gelas kosong di atas meja rendah di depan sofa yang lelaki itu duduki. Ia tidak sadar jika lelaki itu tengah memperhatikan salah satu bagian tubuhnya saat itu.

"Tubuhmu mungil tapi pantatmu berisi juga," ucapan yang agak tidak senonoh itu menjadi kalimat pertama yang lelaki itu keluarkan.

Baekhyun berdeham sebentar. Ini bukan pertama kalinya para pelanggan mengatakan hal itu padanya, salahkan saja seragamnya yang memang begitu pendek dan ketat di bagian bawah tubuhnya.

"Apa ada yang ingin anda pesan lagi, Tuan?" Baekhyun berusaha tidak menghiraukan ucapan lelaki itu.

"Sejak kapan kau bekerja di sini? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya?" lelaki itu kembali melontarkan pertanyaan lain.

"Saya baru bekerja di bagian VIP satu minggu ini," Baekhyun berusaha menjawab sopan meski dalam hatinya ia sudah mulai merasa tak nyaman dengan tatapan lelaki di hadapannya itu.

"Pantas kau terlihat lebih polos dibanding pelayan biasanya,"

Polos yang lelaki itu ucapkan mungkin mengenai make-up yang Baekhyun kenakan atau penampilannya. Pelayan lain di bagian VIP memang cenderung ber-make-up serta berpakaian lebih sexy dari dirinya.

Suasana di ruangan itu mendadak menjadi hening. Baekhyun tampak menundukkan kepalanya dengan gugup, berusaha menghindari tatapan lelaki di hadapannya yang entah tengah memikirkan apa mengenai dirinya.

"Aku jadi menginginkan dirimu,"

"Huh?" Baekhyun memekik terkejut tanpa sadar, kepalanya seketika mendongak dan mata sipitnya menatap tajam pada lelaki satu-satunya di ruangan itu.

"Aku menginginkanmu," ucap lelaki itu lagi dengan sebuah senyuman tipis di wajahnya.

"Tapi saya tidak menerima tawaran tidur-,"

"Siapa yang memintamu untuk tidur denganku?" lelaki itu dengan cepat memotong ucapan Baekhyun.

"Aku bilang, aku menginginkanmu. Aku ingin memilikimu,"

Pertemuan hari itu berakhir dengan Baekhyun yang kabur dari ruangan tanpa pamit. Perempuan itu menganggap mungkin saja lelaki tinggi yang ia temui saat itu sedang mabuk, atau lebih parahnya mungkin baru saja minum 'obat'.

Tapi di kemudian hari saat lelaki itu kembali datang, Baekhyun menjadi tidak bisa berkutik sama sekali.

"Semakin lama dilihat, kau ternyata semakin cantik,"

Baekhyun tak tau harus bereaksi apa dengan ucapan gombal lelaki itu. Dalam hati ia mengutuk Jongdae yang mengutusnya untuk melayani lelaki itu lagi.

"Butuh berapa lama lagi kau akan jatuh ke pelukanku?" ucapan lelaki itu semakin tidak jelas saja, dan Baekhyun mulai merasa kesal.

"Mohon maaf, Tuan. Tapi di sini saya hanya bekerja sebagai pelayan, bukan untuk menjadi jalang anda,"

Lelaki itu entah bagaimana terkekeh, bahkan semakin lama semakin keras membuat Baekhyun tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi lelaki itu.

"Aku tidak memintamu menjadi jalangku," lelaki itu berucap setelah berhasil menahan tawanya. Senyum menggoda terlihat saat ia memajukan badannya ke arah Baekhyun.

"Aku menginginkanmu, menjadi milikku, istriku,"

Apa lelaki di hadapannya ini tidak waras?

Baekhyun tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki yang baru dua kali ditemuinya itu tiba-tiba memintanya menjadi istrinya.

Apa ini sebuah lamaran? Atau ancaman?

"Kalau saya tidak bersedia?" Baekhyun bertanya dengan sedikit nada takut di ujung kalimatnya.

Lelaki itu tampak mengendikkan bahunya acuh, lalu kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang ia duduki.

"Gampang saja. Aku yang akan membuatmu jatuh padaku,"

Entah bagaimana kalimat itu seolah menjadi mantra hipnotis yang kemudian membuat Baekhyun memusatkan perhatiannya pada lelaki itu di hari-hari berikutnya.

Bagaimana tidak? Setelahnya, lelaki itu datang setiap hari, menjadi satu-satunya pelanggan yang harus ia layani, dan selalu mengajaknya berbicara tidak jelas di ruangan besar yang di pesan lelaki itu.

"Jadi kau hanya lulusan SMA?" lelaki itu bertanya ulang setelah sebelumnya Baekhyun menceritakan mengenai segala kekurangan yang ia punya, berharap lelaki di hadapannya itu berubah pikiran untuk menjadikannya istri dan sejenisnya.

Lekaki itu tampak mengangguk beberapa kali dengan tampang berpikir.

"Sempurna sekali. Kau memang benar-benar wanita yang aku cari,"

Baekhyun menghela nafas lelah, entah bagaimana lagi membuat lelaki ini menghilangkan niat gila di kepalanya. Jika cara lembut tidak bisa ia lakukan, apakah harus ia melakukan cara kasar?

"Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak akan melayani lelaki itu lagi meski aku harus menjadi pelayan bawahan kembali,"

Baekhyun sudah bertekad, dan ia sudah tak mau lagi dipaksa Jongdae untuk melayani lelaki tidak normal itu.

Saat permintaannya diterima, Baekhyun pikir ia akan benar-benar terlepas dari lelaki itu. Namun kemudian sebuah kejadian yang tidak ia duga membuatnya kembali membuang nafas kesal.

Entah bagaimana, lelaki itu tiba-tiba datang dengan mobil mewahnya saat Baekhyun dalam perjalanan pulang.

"Masuk,"

Suara berat nan mendominasi itu memenuhi telinganya. Meski ada sebuah senyuman tipis di sudut bibir tebal pria yang tengah membukakan pintu mobil itu, Baekhyun tetap menatap sosoknya dengan tatapan tak percaya dan penuh curiga.

"Kenapa harus?"

"Hanya masuk saja dan kau akan tahu alasannya,"

Tidak tahu apa yang mendorong Baekhyun hingga akhirnya ia pun duduk di kursi samping kemudi dan mengenakan sabuk pengamannya.

"Apa yang akan kita lakukan?" Baekhyun bertanya lagi setelah mobil mewah itu akhirnya melaju di keheningan malam.

"Kencan,"

"Kencan?"

"Kupikir kau gadis polos yang akan luluh jika ku ajak kencan, jadi aku akan melakukannya sekarang," lelaki itu kembali berujar tanpa mengalihkan fokus dari kemudinya.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, lalu melirik sekilas arloji di pergelangan tangannya.

"Tapi tidak tengah malam begini juga,"

"Justru di waktu sekarang-lah aku bisa mengajakmu kencan," ucapan lelaki itu kembali menciptakan kernyitan di dahi Baekhyun.

Hingga akhirnya Baekhyun memilih diam, sedikit penasaran juga mengenai 'kencan' macam apa yang akan lelaki berwajah dingin itu berikan padanya.

Namun apa yang Baekhyun lakukan saat mengetahui jenis 'kencan' yang dimaksud lelaki itu, justru di luar dugaan. Perempuan itu hanya membulatkan matanya dengan wajah tak percaya.

"Kau tidak suka?"

Bukannya menjawab, Baekhyun justru menatap lelaki tinggi itu dengan tatapan tajam.

"Tuan Park, ada sedang tidak bercanda, bukan?"

"Tentu saja tidak," lelaki itu menjawab acuh dengan wajah datar andalannya.

Baekhyun memutar bola matanya dengan malas. "Apa ini semacam kencan spesial di taman hiburan?"

"Ini bukan ideku," lelaki itu membuat alasan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Dan anda menyewa seluruh tempat ini hanya untuk kencan?" sebuah anggukan dari lelaki itu hanya bisa membuat Baekhyun membuang nafas kesal.

"Anda sepertinya senang sekali membuang-buang uang,"

"Well, it's nothing for me," lelaki itu menjawab dengan wajah yang –menurut Baekhyun– sangat menyombongkan diri.

"Beruntunglah dirimu karena aku tak akan melakukan ini jika bukan karena sikap keras kepalamu," ucap lelaki itu lagi, kali ini sembari menatap tajam Baekhyun.

"Feeling touched, huh?"

Suara berat, serta wajah lelaki itu yang entah sejak kapan sudah berada di depan wajahnya, membuat Baekhyun tiba-tiba tak bisa berkutik.

Mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang seperti ini?

.

.

.

.:Sick of You:.

.

.

.

A year later

"Apa ini?" Baekhyun menatap acuh pada sebuah kotak kecil yang Chanyeol letakkan di nakas samping tempat tidurnya.

"Kunci apartemen dan kunci mobil," Chanyeol menjawab dengan nada dingin yang biasa ia gunakan.

Baekhyun melirik kotak itu tanpa minat, lalu membuka tutupnya dengan sebelah tangannya.

"Kau bilang ingin keluar dari rumah ini setelah melahirkan. Jadi gunakan itu,"

Wanita yang tengah hamil tua itu beralih menatap lelaki yang menjadi suaminya itu dengan tatapan sinis.

"Apa aku baru saja dibayar karena sudah mengandung anakmu?"

"Terserah apa anggapanmu tentang itu. Aku hanya tak mau kau kembali ke apartemen kumuh yang kau gunakan dulu," lelaki itu kemudian berbalik untuk keluar dari ruang kamar Baekhyun sebelum sempat berhenti sejenak dan melirik kembali ke arah Baekhyun.

"Jika kontraksimu terasa, katakan saja pada Kyungsoo. Jongin yang akan mengantarmu ke rumah sakit,"

.

.

.

.

.

Curious about next story?

Shall i continue this?