Sacrifice

By: Marchioness Phantomhive

Rate: T

Ini adalah bab 2 dari fanfic pertama saya. Maaf jika terdapat banyak typo. Selamat menikmati! :D

"…" perkataan

'…' pikiran

Disclaimer: Karakter-karakter dari fanfic ini sepenuhnya milik Toboso-sensei. Plot cerita berasal dari saya.

-Sacrifice-

Bab 2: Pesta Dansa yang Hancur

"Cieeel!" jerit Elizabeth kegirangan sambil merentangkan kedua tangannya. Ia berlari menuju Ciel yang berdiri di ambang pintu Phantomhive Manor House.

"Liz…" Ciel tercekik saking kerasnya dekapan Elizabeth. Sedetik setelah itu, entah bagaimana bisa, mungkin karena kekuatan super dari Elizabeth, ia berputar-putar di atas 1 meter seperti tonardo. Setelah beberapa kali putaran, ia menapak dan terhuyung mundur. Ia melihat tujuh bintang di sekelilingnya.

"Nona Elizabeth," sapa Sebastian dengan hormat. Ia membungkuk seperti biasa.

"Ah, Sebastian," balas Elizabeth membalas membungkuk ala Lady. Paula kehabisan nafas mengejar Elizabeth yang berlari kencang ke pintu depan manor house, telah tiba di samping Lizzy dan menyapa Sebastian.

"Selamat siang, Nona Paula," balas Sebastian, "sebentar lagi persiapan makan siang akan selesai, mari saya antar ke ruang makan."

Sebastian membawa koper Elizabeth dan Paula ke kamar mereka. Ciel menuntun Elizabeth ke ruang makan. Paula yang sudah pernah ke Phantomhive Manor House, meminta diri dan pergi ke dapur untuk bergabung bersama pelayan lain.

"Terima kasih Ciel, sudah mau mengadakan pesta dansa untukku," kata Elizabeth sambil tersenyum bahagia, "ini akan menjadi ulang tahun paling indah dalam hidupku."

Wajah Ciel merona merah, "Itu sudah tugasku untuk membuatmu senang," katanya parau.

"Ehehe," kekeh Elizabeth malu.

Hening sejenak. Ciel pun menggenggam tangan Elizabeth. Wajah Elizabeth juga ikut memerah. "Selamat ulang tahun, Lizzy."

Lizzy hanya mengangguk. Mereka berjalan pelan ke ruang makan sambil berpegangan tangan. Sambil berjalan, mereka mengobrol sedikit, tetap saja tidak dapat menghilangkan kecangguan mereka.

Mereka sampai di depan ruang makan. Ciel melepas pegangan tangannya dan membuka pintu ruang makan. "Silakan masuk, nonaku."

Lizzy dengan antusias melangkahkan kakinya ke dalam ruang makan.

-Sacrifice-

"Datang juga tamu utama kita," kata tamu-tamu lain, "Selamat ulang tahun, Nona Elizabeth!"

Walaupun sedikit, tamu-tamu ini sudah sangat Lizzy kenal. Ada Soma Asman Kadar, putra kedua puluh enam dari Raja Bengal dan pelayannya, Agni. Lalu, ada Lau, kepala Kun LunTrading Company cabang Inggris dan "adik"-nya, Ran Mao.

"Wah!" jerit Lizzy senang, "kalian datang!"

"Tentu saja," kata Soma sambil membusungkan dada, "aku tak akan pernah melewatkan ulang tahun "adik"-ku"

Ciel yang sudah menutup pintu langsung menyambar, "Adik?"

"Kau adalah teman baikku," kata Soma serius, "karena umurmu lebih muda, sudah seharusnya kau memanggilku kakak, begitu juga tunanganmu."

"Apa maksudmu?!" kata Ciel getir.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar," kata Lau menenangkan, "Ini adalah hari special. Jangan rusak hari yang menyenangkan ini."

"Betul juga," kata Ciel dan Soma.

"Omong-omong, hari ini hari special apa?" tanya Lau spontan.

"Sudah kuduga," kata Ciel datar.

Ruang makan dipenuhi canda tawa. Ciel yang tidak bisa menerima dirinya direndahkan, mulai adu mulut dengan Soma. Lizzy bercakap-cakap santai dengan pelayan-pelayan dan Lau. Tak lama, Sebastian datang dengan membawa trolly penuh makanan.

"Maaf mengganggu kesenangan," katanya sambil mendorong trolly mendekati meja makan, "Menu hari ini adalah Salmon Steak dengan Lemon Glace sebagai dessert dan Lady Grey Tea sebagai minuman. Selamat menikmati."

Ia berjalan kaku mendekati para pelayan. "Kalian akan menikmati hidangan di dapur setelah para tamu dan tuan muda selesai makan," bisiknya yang terdengar seperti peringatan. Pelayan lain mengangguk. Makan siang saat itu sangat menyenangkan. Lizzy tak berhenti tersenyum (yang membuat Ciel sedikit malu).

Setelah makan siang, mereka beranjak ke lounge. Ciel sudah menyiapkan segala permainan yang pabriknya buat. Kartu-kartu berjejer rapi di meja sebelah kanan lounge. Ada meja dengan papan catur yang huruf-hurufnya diukir dan dicat perak. Ada juga papan permainan yang mirip dengan "ular tangga", tetapi ini dibuat berdasarkan Kota London. Para pemain akan mengikuti jejak yang dibagi menjadi 100 kotak dan kotak terakhir terletak di Buckingham Palace. Di ujung ruangan berjejer boneka-boneka keluaran Funtom Company. Semuanya disiapkan khusus untuk Lizzy.

"Lucunya!" pekik Lizzy kegirangan. Ia berlari mengelilingi ruangan dengan mata berbinar-binar, "Ayo kita main ini!"

Lizzy mengangkat papan "ular tangga" ala London itu dan menempatkannya di meja bundar besar di tengah ruangan. Ciel dan tamu-tamu lain mengerubungi meja bundar itu dan mulai bermain. Permainan berlangsung lama dan menyenangkan. Ketika permainan baru setengah jalan, Sebastian datang dan memberitahu persiapan tea time sudah selesai.

"Kita harus berhenti?" tanya Lizzy muram.

"Terpaksa harus," kata Ciel, "Setelah ini kita akan bersiap-siap untuk pesta dansa. Kau tidak mau hadir, Lizzy?"

"Tentu saja aku mau!" hardik Lizzy sambil menggembungkan pipinya.

"Kalau begitu ayo," kata Ciel sambil berjalan ke luar dari lounge.

Mereka menikmati tea time di rumah kaca. Hidangan tea time sore itu adalah Petit Fours dan Darjeeling Tea. Mereka menyantap hidangan itu dengan cepat. Mereka selesai menyantap secara bersamaan dan beranjak kembali ke manor house untuk bersiap-siap.

"Ciel," kata Lizzy ragu-ragu, "aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

"Apa itu?" tanya Ciel membalikkan badan. Sebastian juga mengikuti.

"Aku ingin kau mengenakan pakaian pilihanku, boleh?" tanya Lizzy sambil memainkan jarinya yang mengenakan satung tangan putih.

"Tentu saja," kata Ciel sambil lalu, "hanya itu?"

"Iya!" balas Lizzy termangu-mangu. Belum pernah Ciel dengan senang hati mau mengenakan pakaian yang ia pilih, "Wah! Terima kasih, Ciel!"

Ciel sedikit terkejut, "Sama-sama. Kau tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugasku untuk membuatmu senang." Ciel membalikkan badan dan berjalan menuju manor house.

"Ini jarang sekali ya, nona?" kata Paula senang.

"Iya," kata Lizzy tersenyum-senyum, "jarang sekali ia setuju dengan pendapatku. Oh!" Lizzy tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ada apa, nona?" tanya Paula.

"Ah… aku ingin melanjutkan permainan tadi," kata Lizzy sambil berjalan dengan lesu menuju manor house.

"Kenapa, nona?" tanya Paula penasaran.

"Aku belum sampai ke kotak terakhir!" kata Lizzy muram, "pionku berada di kotak yang gambarnya seorang wanita telanjang berambut pirang di rantai berdir gemetaran di depan gua. (Hanya terlihat tubuh bagian belakang dari wanita itu) 'Sacrifice for the Grey Wolves', begitu tulisannya. Sedangkan Ciel dan yang lain tidak sekali pun menginjakkan kaki di kotak-kotak seperti itu!"

Paula kaget. "Mengerikan," gumamnya bergidik, "Omong-omong, apa arti dari kalimat 'Sacrifice for the Grey Wolves'?"

"Aku tidak tahu," jawab Lizzy, "sepertinya aku harus bertanya pada Sebastian."

-Sacrifice-

Tok… Tok…

"Lizzy, kau sudah selesai?" tanya Ciel di luar pintu. Ciel mengenakan pakaian parlente coklat dengan boots coklat tinggi. Ia terlihat keren.

"Sebentar," jawab Lizzy terengah-engah, "aku sedang memakai petticoat. Sebentar lagi selesai."

Ciel pun berdiri bersandar di pintu. 'Menjadi perempuan sungguh merepotkan,' pikir Ciel dalam hati. Ia teringat kejadian saat ia memakai korset. Sungguh memalukan. Ia mendengus jijik. Dalam hati, ia mengaggumi Lizzy yang tidak berteriak histeris sepertinya saat memakai korset.

Pintu pun terbuka. Ciel langsung membalikkan badan. Sesaat, ia tak mempercayai pemandangan yang ia lihat. Seorang gadis cantik, mengenakan gaun coklat serasi dengan pakaian parlente-nya, rambut diikat setengah dan pada bagian ujung rambut yang terurai diikal-ikal kecil. Mata hijau fancy sapphire-nya menatap Ciel malu-malu.

"Bagaimana?" tanya gadis itu, "aku merubah sedikit tatanan rambutku dan gaya berpakaianku, bagus tidak?"

Ciel terpaku di tempatnya. Ia hanya menatap gadis di depannya dengan mulut ternganga-nganga.

"Ciel?"

Ciel tersadar. Ia pun menjawab, "Cocok sekali." Ia berdeham dan mengulurkan tangannya, "Mari kita pergi, M'Lady."

Lizzy menyambut uluran tangan dengan anggun, "Iya."

-Sacrifice-

"Wah, cantik sekali!" kata Mey Rin terpukau.

"Uwoo, itu Nona Elizabeth, 'kan?" gumam Bard tercengang-cengang.

Lizzy mengubah tatanan rambutnya, menjadikannya seperti gadis anggun. Ditambah dengan ekspresi lembutnya, bukan cengiran seperti biasanya, membuatnya terlihat lebih dewasa dari biasanya.

Ciel menuntun Lizzy menuruni tangga. Wajahnya sedikit merona karena perubahan mendadak Lizzy yang tidak ia sangka. Belum pernah ia melihat Lizzy seanggun ini.

Mereka segera memisahkan diri. Lizzy berjalan dengan anggun menuju Paula dan Mey Rin yang sedang bercakap-cakap. Sedangkan Ciel menggabungkan diri dengan Soma, Lau, Agni, dan Ran Mao.

"Tak kusangka, adikku ternyata secantik itu," kata Soma bangga.

"Apa yang kau banggakan?" tanya Ciel ketus.

"Tentu saja, anda tahu, Earl," kata Lau sambil merangkul Ciel, "anda tidak pernah menyangka kalau tunangan anda secantik itu, bukan?"

Ciel yang ingin membantah hanya terdiam karena bingung ingin membantah dengan apa. Ia memang tidak tahu kalau Lizzy secantik itu. Ia diam-diam melirik Lizzy, yang juga melirik Ciel. Mereka langsung memalingkan wajah. Wajah mereka memerah.

"Ada apa, Tuan Ciel?" tanya Agni.

"Tidak apa-apa," kata Ciel.

Terpikir dalam benak Ciel untuk berdansa bersama Lizzy. Ia menghampiri Lizzy yang sedang bercakap-cakap dengan Paula dan Mey Rin. Paula dan Mey Rin langsung menyingkir sambil tersenyum penuh arti kepada Lizzy.

"Will you dance with with me, M'Lady?"

Lizzy terdiam canggung. Semua orang melihat ke arah mereka berdua. Dengan hati mantap, ia menyambut ajakan Ciel, "My pleasure."

Ciel dan Lizzy berjalan ke tengah aula dansa. Setelah mebungkuk hormat, mereka memposisikan diri untuk berdansa. Alunan musik indah menenangkan berubah menjadi waltz dengan alunan lambat. Ciel dan Lizzy mulai berdansa. Dengan anggun, mereka berputar. Gaun Lizzy tersibak anggun, menambah keindahan dansa mereka.

"Kita juga berdansa!" kata Finny menggamit tangan Mey Rin dan Soma.

Tamu-tamu lain juga ikut berdansa, lebih tepatnya menari. Lau dan Ran Mao hanya terdiam di salah satu pilar penyangga, sedang bermesraan. Mey Rin, Soma, dan Finny membuat lingkaran kecil sambil menari seperti anak kecil. Agni berdansa dengan Paula. Pak Tanaka menyeruput the hijaunya di salah satu pilar dekat mereka. Musik waltz lambat terus mengalun dengan indah.

Tiba-tiba…

PRAANGGG!

Terdengar suara barang pecah dari lantai atas. Dilanjutkan dengan gebrakan dan dentuman bertubi-tubi. Kemudian, terdengar lagi suara barang pecah, gebrakan, dan detuman. Setelah itu hening mencekam. Suara-suara tadi dapat membuat bulu roma berdiri. Sangat menyeramkan.

"Apa itu?" gumam Lizzy ketakutan.

Semua orang berhenti berdansa. Bahkan Pak Tanaka berhenti menyeruput tehnya dan bergabung dengan yang lain. Ciel melepas pegangan tangannya. Ciel menyuruh Lizzy, Paula, dan pelayan-pelayan Phantomhive lain untuk menjauh dari tengah aula dansa. Mereka mendekat ke Lau. Ran Mao berancang-ancang, siap untuk menghajar musuh yang mendekat. Ciel, Soma dan Agni berdiri di tangah aula. Mereka memperhatikan lantai atas lekat-lekat.

"Seseorang masuk ke dalam manor house," kata Ciel lambat.

Sebastian dan Bard yang sedang mempersiapkan makan malam di dapur, berlari tergesa-gesa ke aula. Mereka menghampiri Ciel dan yang lain.

"Apa yang terjadi?" tanya Sebastian.

"Kami tidak tahu," jawab Agni tanpa memalingkan wajah dari lantai atas.

"Apa sebaiknya kita periksa lantai atas?" tanya Sebastian memandang Ciel.

"Sebaiknya begitu," kata Ciel, "Mey Rin, Finny, Bard, kalian tetap di sini dan jaga Lizzy. Sebastian, Lau, Agni, ikuti aku memeriksa."

"Baik."

"Bagaimana denganku?" rengek Soma.

"Tolong jaga Lizzy," kata Ciel tidak memedulikan rengekan Soma, "Lau, beritahu Ran Mao agar ia tinggal di sini."

"Baiklah," kata Lau pasrah.

"Ayo."

Ciel, Sebastian, Agni, dan Lau berlari ke lantai dua. Sementara itu, Lizzy dan Paula gemetar ketakutan. Mereka yakin sesuatu telah terjadi.

"Apa Ciel akan baik-baik saja?" tanya Lizzy kepada Soma.

"Tenang saja," kata Soma menenangkan, "selama ada Khan-sama-nya, Ciel akan baik-baik saja." Lizzy pun terdiam. Ia takut akan terjadi sesuatu pada Ciel.

Tetapi ia salah…

Seketika, kaca jendela yang berada dekat dengan mereka pecah berkeping-keping. Paula, Mey Rin, dan Finny yang berada paling dekat dengan jendela, tertusuk oleh pecahan-pecahan kaca. Lizzy dan yang lain tergores oleh serpihan kaca. Paula, Mey Rin, dan Finny jatuh terkapar di lantai. Lizzy membeku. Kakinya takdapat ia gerakkan. Ia benar-benar ketakutan. Tangan besar menggenggam lengannya dan menjauhkannya dari jendela kaca.

"Tetap berada di dekatku!" kata Soma keras.

Bard dan Ran Mao mengeluarkan senjata yang mereka bawa. Lizzy terpaku di tempatnya. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Baru pertama kalinya ia sangat ketakutan. Muncul sosok berjubah hitam di jendela yang pecah itu. Seakan-akan terjadi dengan cepat, asap memuakkan memenuhi aula. Lizzy tidak dapat melihat apa pun kecuali kabut putih yang menyelimuti seluruh ruangan. Lalu, terdengar teriakan dan erangan kesakitan. Tangan besar Soma pun terlepas. Lizzy pun jatuh berlutut, ketakutan. Ia menangis tertahan. Ulang tahun yang ia impikan selama ini, menjadi kekacauan mengerikan.

Tiba-tiba, seseorang menggamit pinggangnya dengan keras. Seakan ada yang menguatkan mentalnya, ia mulai sadar dengan situasi yang sedang ia hadapi. Ia meronta, tetapi saking kerasnya dekapan itu, ia tidak dapat melepaskan dirinya. Kemudian, mulut dan hidungnya dibekap dengan sapu tangan berbau aneh yang memusingkan. Ia melihat sekilas lengan jubah sosok hitam itu. Sedetik kemudian, ia pingsan. Sosok berjubah hitam itu membawa Lizzy keluar dari manor house. Kaca jendela yang tidak pecah, merobek jubah hitam sosok itu dan gaun Lizzy. Orang berjubah hitam itu melarikan diri. Terdengar bunyi keresek semak-semak yang menutupi Phantomhive Manor House, menandakan seseorang yang berlari tergesa-gesa, menyeberangi lautan semak yang membingungkan.

Tubuh Lizzy dipapah dengan mudahnya oleh sosok jubah hitam. Lizzy tidur dengan tenang. Ia tidak sadar, kalau ia dibawa pergi, pergi ke tempat yang tidak ia ketahui. Pergi jauh dari Inggris. Dari situ, kesengsaraan menunggunya, sampai ia mati. Ia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan lagi…

.

-Bersambung-

.

Sedikit pesan dari penulis:

Berjumpa lagi di fanfic saya yang pertama! *membungkuk rendah* Terima kasih sudah mau membaca bab 1 (atau hanya sekadar melirik) dan membaca bab 2 ini. Akhirnya saya bisa me-upload bab 2-nya. Sesuai review, saya mencoba membuat alurnya cepat dan sedikit lebih panjang.

Mungkin sedikit tidak jelas ya? Harap dimaklumi. Maaf kalau terdapat banyak typo dan kosa kata yang tidak sopan dalam fanfic ini.

Saya sangat sangat sangat sungguh berterima kasih karena sudah mau mereview fanfic ini agar fanfic ini lebih baik: Hwang Mayumi, clara ciel

Terima kasih banyak! :D

PLEASE REVIEW