You want to be tough, better do what you can
So beat it, but you want to be bad

[Michael Jackson – Beat It]

. . .

Puas?

Warning: M for violence. AU. OOC possibility: positive. Non-baku. Badass!Marco

Shingeki no Kyojin© Isayama Hajime

Cover art by F_Crosser on Twitter

. . .

1. Fire

. . .

Sebuah pipa besi melayang dan ditangkap oleh tangan yang cekatan. Jean menggenggam senjatanya erat di sisi badannya, sesekali ia ketukkan ujungnya di aspal sambil menatap tajam sang lawan untuk intimidasi. Jujur ia kagum melihat Marco yang nyalinya tak menciut sedikitpun; seringai khasnya ia umbar sebagai bentuk penghargaan.

Kedua geng beradu suara. Saat itu lah ia melesat.

Marco reflek merunduk menghindari ayunan pipa besi yang mengarah ke kepalanya, namun reaksinya kurang cepat ketika Jean menendang betisnya dengan keras hingga terjatuh. Sesaat kemudian, Marco menopang tubuhnya dengan kedua tangan, mengayunkan tubuhnya ke samping, kakinya yang merentang menjegal pergelangan kaki Jean sama keras. Jean pun kehilangan keseimbangannya dan terjerembab, Marco menggunakan kesempatan itu untuk segera berdiri kembali.

"Satu-satu," celetuk Marco.

Jean menggeram dan bangkit, tak mau dianggap kalahan oleh teman-teman gengnya. Kemudian ia maju lagi, kini mengarahkan pipanya ke badan Marco dan ditangkis dengan sukses. Marco membalasnya dengan tendangan tinggi ke kepala. Sebelum ujung sepatu mengenai sisi kanan wajah lawannya, Jean dengan cepat menangkap pergelangan kakinya. Ia meringis sebelum menggunakan sepersekian detik keterkejutan Marco untuk menjegal kaki lain pemuda berbintik itu.

"Dua-satu. Cuma itu yang kamu bisa?" tantang Jean.

Tawa singkat justru yang keluar dari bibir Marco. Ia bangun, sambil menyeka keringat di dahinya dan membalas, "Enggak... Aku masih bisa yang lain, kok. Mau dicoba?"

Jean merasakan urat-urat dahinya menegang. "Jangan bercanda!" raungnya lalu melancarkan tinjuan ke wajah pemuda berambut gelap itu. Meleset, ia ayunkan pipanya lagi hanya untuk menghantam udara tepat ketika Marco melakukan roll samping. Mendadak Jean didekap dari belakang, belum sempat membalas apapun tubuhnya sudah dibanting ke aspal.

"Dua-dua. Seri lagi—ugh!" sisi kiri Marco kena telak hantaman pipa besi Jean dan membuatnya oleng. Iris cokelat keemasan itu menangkap kesempatannya, ia gunakan itu untuk bangkit dan mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sebelum diayunkan ke pemuda di depannya. Untung Marco cekatan, kedua tangannya pun berhasil menahan pipa yang nyaris mengenai kepalanya. Kedua ketua geng itu pun saling adu kekuatan.

"Kenapa orang sepertimu bisa di posisi yang sejajar denganku?" Jean menggeram.

Marco menatapnya berani, "Aku punya alasan sendiri. Mungkin setelah ini akan kuceritakan."

Jean pun memutuskan untuk menendangi sisi kanan Marco. Setelah dirasa genggaman tangan pada pipanya melemah, Jean mengangkatnya kembali dan ditonjoknya Marco tepat di wajah dengan tangan satunya.

"Tiga-dua! Pelajaran buat bocah sok sepertimu!" seru Jean, disambut sorakan meriah dari anggota gengnya. "Sekali lagi kuperingatkan, orang macam kamu harus keluar dari sini!"

Nyeri mulai terasa sana-sini, ia bahkan dapat merasakan aroma metalik yang menguar dari sisi bibirnya. Ini masih luarnya saja, begitulah yang besuara dalam benak Marco. Ia mendengar pula sorakan kawan-kawannya, semangat dan cercaan pembakar mental mereka kembali merasukinya. Sambil memegangi sisi kanan badannya, ia bangkit lagi. Menyeka darah dari bibirnya, tangannya dapat merasakan hembusan nafas yang mulai terengah. Tubuhnya memang sudah tidak sekuat tadi. Tapi, ia belum sampai batasnya.

Toh dirinya sendiri yang memutuskan untuk memasuki dunia seperti ini.

"Ini belum berakhir," kata Marco. Ia menggemeretakkan jemarinya kemudian kembali memasang kuda-kuda bertarung. "Tadi aku bilang kalau aku masih bisa melakukan yang lain, kan?"

Setelah membangun energinya kembali, kali ini Marco melakukan serangan pertama. Ia memulai dengan serentetan tendangan rendah dan menengah yang mampu membuat Jean kewalahan dalam menahannya. Matanya pun menangkap sebuah celah, di situlah ia manfaatkan untuk berbuat hal yang tak terduga.

Jean tentu melihat sesuatu yang berkilau dari bawah. Sayang, belum sempat otaknya memberitahu ia sudah dikejutkan dengan Marco yang memberinya uppercut hingga membuat pipi kanannya berdarah. Pemuda bersurai cokelat kepirangan itu pun mundur beberapa langkah. Sambil menahan darah yang keluar, matanya melebar setelah berhasil mengetahui benda yang sekilas dilihatnya tadi.

Di hadapannya, berdirilah Marco yang kini menatapnya berapi-api dengan tangan kanan menggenggam sebuah pisau lipat bernoda darah segar.

"Bertarunglah dengan sportif, Jean," ungkap Marco, merujuk pada pipa besi yang dipegang lawannya.

Sebuah pertandingan yang sedang seru-serunya berlangsung mendadak berubah kacau ketika datang interupsi. Itulah yang dilakukan sekelompok petugas keamanan yang berlari mendekati sambil meneriaki mereka dari kejauhan. Kedua ketua geng itu mengutuk dalam diam sebelum saling bertatapan, seakan-akan percikan api muncul diantara keduanya.

"Urusan kita belum selesai," Jean mendesis sengit.

Marco menyeringai, "Ya... Kita lakukan sendirian? Membawa banyak orang justru kesempatan untuk interupsi makin besar, kau tahu?"

"Heh, oke kalau begitu. Kuharap kamu masih ingat gang tempatmu dikeroyok kemarin. Jam empat sore, jangan sampai telat. Sekali telat, kita ancurin sekolahmu!" ancam Jean sebelum bergabung dengan teman-temannya untuk mencari tempat bersembunyi di sekitar area sekolahnya.

Marco mengangguk mantap. Ia lalu kembali pada barisan kelompoknya, menyuarakan komando untuk berpencar mencari tempat aman masing-masing agar lolos dari sergapan petugas.

.

=sirupmarjan=

.

Pintu masuk ruang tamu yang tak terkunci itu terbuka, memperlihatkan sosok remaja laki-laki dengan muka masam yang diperindah lagi dengan hiasan luka-luka lebam—dan tentu saja sebuah perban menempel di pipi. "Aku pulang..."

"Apa lagi yang kau lakukan, nak?"

Jean mengalihkan pandangan dari pria paruh baya berkumis tipis yang menyambut kedatangannya tepat di depan pintu. Sambil menyentuh pipi yang kini diperban setelah terkena sabetan pisau tadi, ia jawab dengan malas, "Rampok, Om Nile."

"Orang yang merampok wilayah gengmu lagi, maksudmu?"

Sial. Memang susah untuk menyembunyikan fakta dari pamannya.

"Semacam itu lah, om."

Om Nile hanya mampu menggelengkan kepala.

"Om... tahu dari mana?"

"Rekan Om yang memberitahu."

Jean menepuk dahinya sendiri. Ia lupa kalau pamannya adalah kepala kepolisian di daerahnya. "Ck. Oke. Om nggak menghukum atau semacamnya, gitu? Menahanku di lapas?"

"Kamu minta hukuman?"

"B-bukan, maksudku—"

"Ya sudah. Semua rokok, pemantik dan majalahmu om buang."

"H-hei—?!"

"Om tidak perlu menahanmu seperti bocah-bocah lainnya."

Kaget dan bingung menyatu dalam diri Jean setelah pernyataan ini dilontarkan.

"Orang seperti kau ini akan sangat merepotkan Om kalau sampai melakukan kebodohan yang sama di tiga hingga sepuluh tahun yang akan datang."

Jean menatap heran Om Nile yang kini melangkah menuju tangga lantai dua. Dirinya bahkan tidak menyadari bahwa ia telah terpaku di tempat selama beberapa menit sementara pikirannya terngiang-ngiang kalimat pamannya barusan.

Bukankah aneh jika seorang kepala polisi mengijinkan keponakannya bergabung di komunitas preman sekolahan yang dimusuhi para penegak hukum? Andai kedua orang tuanya masih menyatu—juga tidak pergi sendiri-sendiri dan melupakan anaknya begini—ia yakin mereka sudah mengomelinya lima jam non-stop.

Jean cepat-cepat menyusul Om Nile ke lantai dua dan mendapati pria itu berada di kamar si keponakan, berkutat dengan tumpukan majalah lama dan baru untuk dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik besar.

Sejenak Jean menyayangkan koleksi majalahnya—astaga, Om Nile dari mana tahu tempat dia menyimpan majalah-majalah pornonya segala—tapi ia tak bisa lagi melanggar kesepakatan, bukan?

"Om, aku mau tanya."

Om Nile menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Jean.

"Memang Om dulu anak geng juga?" Jean tembak langsung.

"Ya. Ketua geng sekolahmu tujuh angkatan sebelum kau."

Jean hanya mampu menganga.

.

=sirupmarjan=

.

"Dia bilang kamu suruh datang sendiri, lho. Ngapain bawa-bawa aku segala?"

"Kamu anak dokter, kan?"

Connie baru paham mengapa ia disuruh Jean untuk membawa seperangkat lengkap pertolongan pertama milik ibunya di dalam ransel.

Esoknya di sore hari, kedua remaja itu tiba di lokasi pertemuan; sebuah gang kecil yang diapit oleh minimarket tempat kejadian perkara kemarin dan toko suvenir. Di dalam sana nampak sosok Marco yang berdiri bersandar di tembok bangunan bersama seseorang.

Orang yang bersama Marco tadi beranjak dari sandarannya dan menghadap kedua tamu di mulut gang, "Kukira kamu nggak jadi. Kita udah nunggu dari tadi."

Jean memicingkan matanya, "Eren. Kamu ngapain di sini?"

"Aku hanya ingin melihatmu babak belur. Kamu sendiri ngapain bawa tuyul?" balas Eren tajam.

Connie yang merasa dirinya disebut langsung menyanggah, "Sembarangan! Aku bawa pertolongan pertama!"

Sebelum situasi di luar kendali, Marco segera menengahi, "Sudahlah, kawan. Kenapa kalian berdua tidak duduk saja?"

Dengan malas, Eren dan Connie mengambil tempat duduk mereka masing-masing di dalam gang; Eren duduk bersandar di dekat pipa paralon bangunan sementara Connie berada di seberangnya. Keduanya pun memperhatikan bos mereka saling berhadapan, siap menghajar satu sama lain kapanpun.

"Pertarungan kali ini tidak menggunakan senjata," ujar Marco sambil mengangkat tangannya. "Bagaimana?"

Jean mengangguk-angguk setuju. "Oke," Jean mengangkat tangannya pula, tanda bahwa ia bertangan kosong. "Ayo, tuntaskan sekarang juga. Yang berhasil menjatuhkan lawannya tiga kali, dialah yang menang."

"Baik. Kalau aku menang, kamu akan melepas area ini," ungkap Marco.

"Siap. Jika aku menang... kau dan gengmu harus membayar denda berupa uang pada kami."

Marco membelalak mendengarnya.

"Kalau tidak... siap-siap terima serangan besar yang belum pernah kau rasakan sebelumnya," Jean menyeringai sadis. "Bagaimana?"

Ini tidak adil. Tapi Marco tahu ia tak dapat berbalik lagi. Ia tatap Eren dari sudut matanya meminta kepastian, pemuda bersurai cokelat gelap itu menatapnya balik dengan sorotan yang mengobarkan bara api. Marco pun mengambil nafas dalam, kemudian ia hembuskan kembali untuk merilekskan diri.

Kedua petarung itu pun menyiapkan diri. Mereka saling terfokus satu sama lain, siaga akan tiap gerakan-gerakan kecil yang bisa menjadi pemicu serangan pertama. Tanpa menunggu lama, Jean mengawali dengan serangkaian pukulan.

Marco menangkis tiap serangan yang datang, kemudian ia balas dengan gabungan pukulan serta tendangan rendah dan menengah. Semua serangannya dapat ditangkis kecuali satu tendangan tinggi ke arah kepala yang berhasil kena telak dan membuat Jean tersungkur.

"Haha! Satu-kosong!" seru Eren dari posisi duduknya.

Jean memegangi sisi kiri pipinya yang sakit terkena sol sepatu kets yang Marco kenakan untuk menendangnya barusan. Ia bangkit dan bertanya, "Sial... dari mana kamu belajar berantem?"

"Dari game. Tujuan awalku belajar itu hanya untuk sekedar melindungi diri," jawab Marco.

Jean tersenyum sinis, "Persetan buat melindungi diri. Ngaca dulu baru ngomong!" Jean kembali menyerang, kini dengan gerakan yang jauh lebih cepat. Ketika serangan-serangan ke kepala selalu berhasil di tangkis, maka ia tarik pundak Marco dan menendang perut pemuda berbintik itu dengan lututnya. Marco yang tidak menduga serangan itu pun langsung terdorong jatuh.

"Satu-satu!" giliran Connie yang bersuara.

Sambil memegangi perutnya dan menahan sakit, Marco kembali bangkit. Setelah mengatur nafasnya yang mulai berantakan, ia memutuskan untuk mengawali serangan. Ia kirimkan dua kali tendangan memutar yang berhasil mengenai badan Jean. Namun ketika Marco akan memberi tonjokan, Jean memiringkan kepalanya sehingga meleset dan mendapat kesempatan untuk menangkap pundak Marco. Menggunakan kekuatan lawan, Jean pun membanting keras tubuh yang lebih tinggi darinya itu ke tanah.

"Yeah, Jean! Dua-satu!" sorak Connie.

Eren pun tak mau kalah, "Marco! Ngapain kamu?! HAJAAAR!"

"Udahlah, Marco! Nyerah aja!" Jean memanas-manasi.

Seakan tersulut, Marco menopang tubuhnya dengan satu tangan kemudian berputar cepat dan berhasil menyandung Jean seperti saat pertarungan awal mereka. "Dua sama. Aku memang nggak sekuat kamu, tapi jangan sekali-kali remehkan lawanmu, Jean," tutur Marco ketika ia berdiri kembali.

Di situ, Jean merasakannya.

Benar, ia tidak terima dengan kehadiran bocah sok polos yang berani menyaingi kedudukan dan nyaris menjatuhkan harga dirinya di hadapan kawan-kawannya. Tapi di sisi lain, Jean penasaran akan alasan itu.

Jean ingin tahu lebih banyak mengenainya.

.

"Ngomong-ngomong, aku merasa ada suatu hal tentangmu yang cukup... menarik,"

.

Ada apa dengan Marco Bodt ini?

"Inilah kenapa..." Dengan sisa-sisa tenaganya, Jean berdiri dan mundur beberapa langkah. Mendadak sorotan matanya membara, ia mengambil ancang-ancang sambil menarik salah satu lengannya yang telah mempersiapkan satu pukulan pamungkas, "AKU TIDAK SUKA ORANG-ORANG SEPERTI DIRIMU!"

Di saat yang sama pula, Marco juga memutuskan untuk mengakhiri pertarungannya. Setelah tangannya yang terkepal erat telah terkumpul sisa-sisa kekuatannya, ia lontarkan semuanya dalam satu pukulan telak, "SUDAH CUKUP!"

Kedua tinju tak dapat terhindarkan.

Eren dan Connie hanya bisa menonton bagaimana kedua kepalan tangan mereka akhirnya lepas kontak dengan wajah lawannya masing-masing, meninggalkan dua insan yang kini berdiri saling memunggungi. Energi terkuras habis, tubuh mereka telah dihiasi luka-luka yang tak lama lagi akan membentuk bekas hitam di permukaan.

"Jean..." Marco berkata pelan di sela-sela nafasnya, "Terima kasih... Kau telah memberiku... Pertarungan pertama yang bagus..."

Jean jatuh berlutut sebelum tergeletak telungkup dengan lemas, disusul Marco yang jatuh pingsan sesaat kemudian.

"Aku... kalah...?"

Matahari senja membuat atmosfir gang itu terasa begitu menekan dada. Dua manik cokelat keemasan yang terbuka lebar itu menyiratkan ketidakpercayaan, heran dan beragam emosi lain yang berkecamuk dalam dirinya. Tetap saja, sebuah kenyataan pahit harus ditelannya.

Jean mendengar Connie memanggil-manggil namanya, menanyakan keadaannya. Telapak tangan yang mengepal gemas dan pelupuk mata yang semakin lama semakin sembab menjadi respon utamanya.

"S-sial... Sial! SIALAAAN!"


(A/N)

Yo, readers!
Maaf lama update... Sudah mulai kuliah pertama, nih. Saya masih harus menyesuaikan diri dan pintar curi-curi waktu diantara tugas-tugas awal dan melanjut fic ini — Orz

Astaga, saya nulis apaan... Kenapa Marco jadi begini— /plak

Tentang lagu Beat It-nya Michael Jackson... coba dengerin versinya Fall Out Boy. Lebih sangar dan cocok sekali untuk didengarkan sambil baca fic ini \m/

OH MAKASIH BUAT YANG SUDAH FAV + FOLLOW + REVIEW + MEMBACA, saya mengucapkan terima kasih banyak buat kalian semuaaa~
Jujur aja, saya nggak nyangka fic gaje ini banyak yang suka, hehe. Makasih banyak, sekali lagi. Saya akan usahakan terus lanjut sampai kelaaaar! :"D

Matur nuwun sudah menyempatkan membaca. ^^

Mohon review/kritik/saran-nya, saya masih belajar. :D