MARRIAGE CONTRACT
Cast :
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Wen Junhui
others
Summary :
Di kisah ini, pernikahan bukanlah akhir bahagianya, melainkan awal dari penderitaannya.
"Asalkan kau janji eomma tidak akan tahu kalau kau masih berpacaran dengan Jun, deal?"
"Deal."
Chapter 2
"Ahjumma… Ahjumma kenapa bisa seperti ini.." setelah Wonwoo masuk ke dalam ruangan eomma Mingyu, ia langsung memeluk wanita paruh baya yang tertidur lemas diatas ranjang. Senyum lemah terlukis di wajahnya namun beliau senang dapat melihat calon menantunya itu.
"Wonwoo-ya, sayang.. Mulai sekarang panggil eomma jangan ahjumma lagi. Eomma ingin Wonwoo menjaga anak eomma walaupun eomma sudah tidak bersama kalian lagi." tangan eomma Mingyu mengusap pipi Wonwoo pelan, seakan tidak ingin namja manis di hadapannya ini menunjukkan ekspresi sedih karenanya.
Mendengar permintaan calon mertuanya itu, Wonwoo memilih untuk bungkam. Ia tidak bisa menjanjikan hal itu. Karena walaupun ia bersedia menikah dengan Mingyu demi eommanya, pada akhirnya juga mereka akan berpisah dan Wonwoo akan kembali bersama Jun.
"Apa? Wonwoo, tidak. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu kalau kau tetap akan menikah dengan Mingyu. Dan aku tidak ingin kau menikah dengannya."
Penolakan dari Jun memang sudah Wonwoo duga akan terjadi saat ia menjelaskan semuanya, Wonwoo langsung menggenggam kedua tangan kekasihnya. Wonwoo juga tidak mau menikahi Mingyu dan memutuskan hubungannya dengan Jun yang sudah jalan selama 7 tahun dengan penuh perjuangan itu. Apalagi, selama ini hanya Jun yang selalu ada untuknya terutama di saat dimana Wonwoo merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.
Wonwoo sama sekali tidak mempunyai pemikiran untuk menikah dengan orang lain selain Jun-nya itu. Tapi, ternyata hidup tidak berjalan semudah yang ia inginkan.
"Jun... Tolonglah. Eomma Mingyu itu sudah seperti eommaku sendiri, aku sangat menyayanginya. Beliau yang mengurusku dari kecil saat eommaku sendiri sibuk bekerja." Wonwoo menghela napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Kumohon, hanya 6 bulan dan aku janji akan kembali padamu. Sementara itu, tolong tunggu aku."
Jun tidak habis pikir dengan kekasihnya ini, tapi akhirnya ia mengangguk menyetujui. Toh hanya 6 bulan. Hubungannya selama 7 tahun saja tidak retak sedikitpun.
"Baiklah, tapi jangan berbuat macam-macam dengannya."
Wonwoo terkekeh, "Janji."
Sudah 3 minggu berlalu dan akhirnya hari pernikahan yang dinanti-nanti oleh eomma Mingyu pun tiba. Baik Mingyu maupun Wonwoo selama 3 minggu itu bahkan tidak pernah bertemu untuk sekedar merundingkan persiapan pernikahan mereka, karena segala persiapan telah disiapkan oleh wedding organizer pilihan Mingyu, tentu tanpa sepengetahuan eomma Mingyu karena beliau ingin pernikahannya murni mereka berdua yang mengurus. Tapi, nyatanya Mingyu terlalu sibuk bekerja dan Wonwoo tidak peduli dengan persiapan pernikahannya.
Akhirnya mereka berdua setuju untuk menggunakan wedding organizer, sebenarnya Mingyu yang mengusulkan dan Wonwoo terserah-terserah saja.
Tamu undangan pun mayoritas hanya dari keluarga Mingyu, keluarga Wonwoo, dan beberapa kerabat yang dekat dengan mereka. Pernikahan yang cukup tertutup tapi tetap megah.
Appa Mingyu beserta eomma Mingyu yang duduk diatas kursi roda menitikkan air matanya melihat anak semata wayangnya berdiri diatas altar bersanding dengan calon istrinya. Begitu pula dengan appa dan eomma Wonwoo, walaupun kemarin mereka dikejutkan oleh Wonwoo yang memberitahukan bahwa ia memutuskan hubungannya dengan Jun dan rela menikahi Mingyu. Padahal eommanya sendiri was-was jika Wonwoo tidak mau menikah dengan Mingyu dan telah mempersiapkan segala ancaman untuk anak sulungnya itu.
Setelah Wonwoo tiba diatas altar, matanya bertemu dengan Mingyu. Tatapannya kosong dan hampa, disisi lain, terbesit perasaan bersalah di benak Mingyu karena telah merebut pernikahan idealis dalam kehidupan Wonwoo. Wonwoo menunduk, berharap acara ini cepat selesai, namun, ia merasa tangannya tiba-tiba digenggam oleh seseorang— yang tak lain adalah Mingyu.
"Maaf, hyung. Terima kasih." bisik Mingyu lirih. Wonwoo mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Mingyu. Wajah yang melukiskan kesedihan yang rumit menurutnya.
"Apakah kau, Kim Mingyu, bersedia menerima Jeon Wonwoo sebagai istrimu, dari saat ini hingga seterusnya, dalam keadaan baik maupun buruk, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian?"
"Saya, Kim Mingyu bersedia menerima Jeon Wonwoo sebagai istri saya, dari saat ini hingga seterusnya, dalam keadaan baik maupun buruk, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kami."
"Apakah kau, Jeon Wonwoo, bersedia menerima Kim Mingyu sebagai suamimu, dari saat ini hingga seterusnya, dalam keadaan baik maupun buruk, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian?"
Wonwoo menutup kedua matanya rapat-rapat, lalu ia hembuskan nafas yang tidak ia sadari telah ia tahan sedari tadi.
"Saya bersedia menerima Kim Mingyu sebagai suami saya, dari saat ini hingga seterusnya, dalam keadaan baik maupun buruk, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kami."
"Dengan ini, saya menyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami-istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan manusia."
Mingyu menatap Wonwoo cemas, khawatir jikalau Wonwoo tiba-tiba menamparnya kalau ia menciumnya. Tapi, mau tidak mau mereka harus ciuman karena kedua orang tua mereka dan seluruh tamu undangan tengah memerhatikan mereka.
Namun tidak ia sangka, Wonwoo malah menganggukkan kepalanya seakan memberitahunya bahwa ia tidak apa-apa, Mingyu pun langsung mendekatkan wajahnya dan mencium kening Wonwoo pelan.
"Ini pertama dan terakhir kalinya kau bisa menyentuhku, Kim. Ingat itu." ucap Wonwoo saat Mingyu melepaskan tautan bibirnya pada kening Wonwoo. Mingyu hanya tersenyum kecil.
Setelah pesta pernikahan, Mingyu dan Wonwoo akhirnya pulang ke apartemen yang menjadi hadiah pernikahan dari kedua orang tua mereka. Mingyu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Wonwoo telah berganti pakaian, tetapi bukan dengan baju tidur.
"Mau kemana?" tanya Mingyu pelan, sembari mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuk.
Tanpa menatap sang suami, Wonwoo beranjak ke arah pintu depan untuk memakai sepatunya.
"Bukan urusanmu." balasnya singkat dan terkesan dingin.
"Hyung. Kau ini istriku— setidaknya orang-orang diluar sana mengira kalau kau istriku. Apa kata mereka kalau melihatmu keluar di malam pertama pernikahan?"
"Aku mau menginap di rumah Jun."
"Hyung! Kalau eomma tahu kau menginap di rumah Jun-hyung sesaat setelah pernikahan kita, keadaan eomma bisa memburuk!" Mingyu langsung naik pitam saat mendengar alasan mengapa Wonwoo ingin pergi. Ia memang sudah janji untuk membiarkan Wonwoo berhubungan dengan Jun, tapi tidak benar-benar sesaat setelah pesta pernikahan mereka!
"Setidaknya malam ini disinilah dulu. Aku akan tidur di ruang tengah, hyung tidurlah di kamar. Besok pagi baru akan kuizinkan keluar." pinta Mingyu sambil menarik lengan Wonwoo kembali ke kamar. Wonwoo, yang lengannya ditarik, langsung menepis genggaman Mingyu.
"Aku tidak butuh izin darimu."
Setelah mendecih kecil, Wonwoo berlalu ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kesal. Mingyu hanya bisa menghela napas sambil merebahkan dirinya diatas sofa, kepalanya tidak berhenti berdenyut sejak pesta pernikahan berakhir. Akhirnya, Mingyu pun memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan dirinya jatuh tertidur.
Mingyu merasa ada kehangatan di sekitar tubuhnya saat ia bangun dari tidurnya. Matanya mengerjap pelan saat melihat selimut telah melilit ditubuhnya. Seingat Mingyu, tadi malam ia hanya ditemani dengan bantal sofa dan keripik kentang yang ia ambil dari dapur saja. Lalu, darimana selimut ini—
Ah. Mau bilang mungkin dari Wonwoo pun Mingyu sangat ragu. Wonwoo tidak mungkin peduli pada Mingyu, walaupun Mingyu sedang diambang kematian karena kedinginan pun ia takkan diberikan selimut seperti ini.
Tapi, yang berada di apartemen ini kan hanya Mingyu dan Wonwoo? Tak ada lagi yang tahu kode pin mereka, tak terkecuali orang tua mereka sendiri.
Ah, lagipula kenapa ia sangat memikirkan hal itu? Yang penting tadi malam ia tidak mati kedinginan, terima kasih atas pengirim selimut ini.
Mingyu beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Jam baru menunjukkan pukul 7, masih ada waktu sampai jam masuk kerjanya tiba. Saat berjalan ke arah kamar mandi, Mingyu mengintip ke arah kamar tidur, kosong dan gelap. Wonwoo pasti sudah pergi sejak subuh tadi.
Mingyu menghela napas. Wonwoo pasti membencinya. Maksudnya— Wonwoo memang sudah membencinya, dan pernikahan ini akan semakin membuat Wonwoo membencinya. Mingyu hanya bisa berharap Wonwoo bisa menjaga rahasia dan bisa diajak berkompromi saat menghadapi orang tua mereka nanti.
"Jadi, bagaimana kabar suamimu, Wonwoo?"
Mendengar pertanyaan itu, Wonwoo tidak segan-segan mencubit perut kekasihnya— mantan— selingkuhan? Jun, yang dicubit hanya bisa meringis kesakitan namun terkekeh kemudian.
"Aku sudah bilang aku tidak suka membicarakan hal itu." Wonwoo kembali menyenderkan kepalanya di bahu Jun sambil menarik selimut. Sejak Wonwoo datang ke apartemen Jun tadi pagi memang mereka hanya menghabiskan waktu menonton TV di sofa ruang tengah.
Jun masih saja terkekeh, ia memang keberatan dengan keadaan mereka sekarang, dan sebenarnya ia tadi bersifat sarkastik, tapi dia sendiri yang merasa sakit karena pengalaman pernikahan kekasihnya ini tidak ia lalui bersamanya. Meskipun demikian, Jun bersumpah ia akan tetap setia menunggunya hingga kelak.
"Wonwoo-ya," Jun meraih tangan kekasihnya yang tengah mencari kehangatan dalam pelukannya, baru saja ia ingin bersuara, handphone Wonwoo yang tergeletak diatas meja membuat kata-katanya terhenti.
Wonwoo bangkit dengan malas untuk mengambil handphonenya yang berdering. Nomor tidak dikenal— ia menyerngit.
"Yeoboseyo?"
Sial. Itu suara Kim Mingyu. Dengan ragu-ragu ia menatap Jun, Jun yang merasa ditatap hanya mengangkat bahunya.
"Hyung, maaf kalau aku mengganggu acaramu dengan Jun-hyung, tapi, bisa temui aku sebentar? Setengah jam lagi eomma mau datang ke apartemen dan aku tidak bisa menghadap eomma sendirian."
Wonwoo memutar bola matanya. Kenapa harus pagi-pagi seperti ini juga? Wonwoo baru saja tiba di apartemen Jun.
"Iya, iya, berisik." balas Wonwoo dengan kesal sebelum memutuskan sambungan. Ia langsung beranjak dari sofa setelah mengecup bibir Jun singkat.
"Aku harus pulang sebentar, nanti malam aku kesini lagi, ya?" sebenarnya itu bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan. Dan Wonwoo tidak butuh menunggu Jun untuk memberikan jawabannya karena ia sudah tahu Jun akan mengiyakan.
"Bertemu ibu mertua? Senangnya. Hati-hati, Wonwoo-ya." lalu Jun pun menerima timpukan bantal yang dilempar oleh Wonwoo.
"Eomma, appa, selamat datang!" Mingyu dan Wonwoo langsung memeluk kedua orang tua mereka. Sebenarnya Wonwoo tadi sempat mengira yang datang hanya eomma-appa Mingyu, eomma-appa Wonwoo sendiri juga datang berkunjung.
"Aduh, anak eomma~ Tadi malam pasti kalian bersenang-senang, ya." eomma Wonwoo yang bersuara langsung mendapat sikutan oleh suaminya.
"Mingyu tidak kasar padamu kan, Wonwoo? Kalau Mingyu main kasar, bilang saja ke appa. Nanti appa bogem." sekarang yang bersuara adalah appa Mingyu dengan khas bercandanya.
"Mingyu baik kok ke Wonwoo, appa. Tapi kalau appa mau bogem juga bogem saja." balasan dari Wonwoo ini mengundang tawa bagi semua orang kecuali Mingyu tentu saja. Padahal Wonwoo tulus meminta appanya untuk membogem Mingyu.
"Tapi kok kalian jauh-jauhan seperti itu, sih? Sedang bertengkar?" tanya eomma Mingyu yang melihat anak dan menantunya duduk saling berjauhan. Mingyu yang menyadari hal itu langsung menarik Wonwoo dan melingkarkan lengannya di pinggang Mingyu.
"Hyu— Wonwoo masih malu dekat-dekat dengan Mingyu, eomma. Maklum pengantin baru." Mingyu yang sebenarnya keringat dingin itu mengusahakan diri untuk berakting seprofessional mungkin. Berharap agar Wonwoo tidak membantingnya nanti.
"Apa, sih." Wonwoo mencubit lengan Mingyu agar menjauh darinya, tapi dengan lagak manja agar tidak mengundang kecurigaan dari orang tuanya. Walaupun berakting, cubitan yang diberikan kepada Mingyu sakitnya bukan main. Mingyu menahan diri untuk tidak mengerang kesakitan.
"Oh iya. Sebenarnya kami kesini ingin bilang kalau nanti malam kita semua akan makan malam bersama. Jadi kalian harus datang jam 8 nanti." appa Wonwoo mulai berbicara, dan Wonwoo langsung membesarkan matanya.
Sial, padahal aku sudah janji pada Jun.
Ia langsung menatap Mingyu berharap Mingyu menolaknya mungkin dengan alasan ada meeting atau apa, tapi harapannya pupus mengingat Mingyu akan melakukan apa saja asal eommanya bahagia.
Terbukti saat Mingyu tanpa persetujuan Wonwoo langsung saja mengiyakan ajakan orang tua mereka.
Wonwoo mengerang dalam hati. Ia hanya berharap Jun tidak akan marah padanya malam ini.
TBC
- author's note! -
hai. ini dia chap kedua. maaf lama, soalnya saya baru dapet anugerah. hehe. btw yang mau nebak-nebak ini ceritanya bakal gimana silahkan post aja sekalian review~ saya seneng kalo bisa tau pemikiran-pemikiran readers ttg cerita yang saya buat hehe
saya sebenernya shipper wonhui lho. sebenernya saya ship wonwoo sama siapa aja sih tapi wonhui itu bagaikan meanie wrecker saya (?) akhir akhir ini juga saya terkontaminasi sama soonwoo tapi saya tetep soonhoon kok nyehehe btw hari ini saya bakal double update, jadi sabar ya
