"Kau serius hanya seorang pecundang? Heh, sudahlah, ayo pergi."

Kata-kata terakhir Kagami cukup membuat Kuroko menggigit bibir dan langsung berdiri dengan tegas dihadapan lima —ralat, empat pemuda tulen dan satu pemuda jejadian itu seraya menatap tajam. Kuroko melempar novel dan kacamatanya tak jauh dari tempat ia duduk, lalu dengan dingin berucap,

"Aku serius."

.

.

.

Teiko Gakuen © Hinamori Hikari

Kurobas © Tadatoshi Fujimaki

.

Terinspirasi dari dorama Majisuka Gakuen (©Yasushi Akimoto)

Hanya mengambil beberapa nama dan latar. Jalan cerita murni ciptaan saya.

.

.

Out of Chara, beberapa adegan kekerasan dan perkelahian.

.

.

.

"Wow wow wow, lihatlah, Tai-chan." Reo, atau lebih lengkapnya Mibuchi Reo, terlihat excited saat Kuroko dengan dinginnya menatap mereka. "Sepertinya Kurokuro ini serius menanggapimu."

"Cih, kau yakin bocah?" Kasamatsu menatap rendah. "Jangan sok kalau memang tidak bisa. Jika kau mati nanti, harga diri kami yang jadi taruhannya."

Furihata Kouki —pemuda dengan rambut coklat tanah— mengangguk sekali. "Akashi-san yang membuat peraturannya. Kami diperbolehkan berkelahi sebebasnya, dengan syarat tidak boleh ada yang mati diantara kedua pihak. Jika sampai ada yang melanggar, maka ia harus siap digantung terbalik selama 20 jam di lapangan dan setelahnya melawan satu anggota Rappapa tanpa diberi jeda sedikitpun."

Pandangan dingin Kuroko yang tak berubah lantas membuat geng Majiba ini mengernyit.

"Ano.. Sumimasen, Kuroko-san. Apa kau serius ingin melawan kami?" Sakurai bertanya ragu.

"Ya." Kuroko berucap tegas.

"Wah wah, besar juga nyalimu, bocah." Kasamatsu meludah ke samping. "Bosan hidup ya?" pemuda itu mulai menyingsing lengan, namun Kagami dengan cepat mengangkat tangannya.

"Tunggu."

"Cih, apa lagi?"

"Tidak adil jika lima lawan satu. Biar aku yang mengatasi bocah ini." Kagami menatap tajam Kuroko. "Bukan begitu, Ku-ro-ko?"

Kuroko tak kalah tajam membalas tatapan Kagami. "Aku tidak keberatan bila di tengah perkelahian nanti teman-temanmu ikut turun tangan."

"Sombong sekali kau."

"Cih, jangan tinggi hati dulu."

"Paling satu kali pukul sudah menyerah."

Kuroko bergeming saat hinaan demi hinaan terlontar padanya. Kagami memberi kode pada teman-temannya untuk menyingkir, memberikan akses lebih luas pada Kuroko dan Kagami untuk bertarung.

Tangan terkepal, Kagami memasang kuda-kuda. "Ayo, Kuroko."

Kuroko turut memasang kuda-kuda, namun dia hanya diam. Menunggu. Membuat Kagami tidak sabaran dan dengan cepat mengarahkan tinjunya pada Kuroko.

"Hyaaah!"

Namun gagal.

Pemuda biru itu dengan gesit menghindari pukulan Kagami, dan tanpa terduga menyerang sisi samping Kagami dengan lutut. Kagami terkejut dan menoleh. Belum sempat ia berucap, tinjuan kuat melayang pada pipi.

Mibuchi, Kasamatsu, Sakurai, dan Furihata terbelalak.

"Cih," Kagami memegang pipinya dan meludah, lalu menyeringai. "Boleh juga pukulanmu. Sepertinya aku terlalu meremehkanmu."

Kuroko hanya diam seraya memasang raut tenang.

Kagami kembali menyerang, kali ini tinjunya mengarah pada sisi kanan Kuroko. Melihat ini, dengan cepat Kuroko menghindar ke sisi kiri.

Gotcha!

Dengan gerakan sangat cepat, tinju kanan Kagami berganti haluan menjadi tinju kiri dan tepat mengenai rahang Kuroko. Pemuda biru itu sedikit tersungkur, namun dengan cepat kembali tegak. Dirinya agak terkejut.

Perpindahan antara tinju kanan dan kiri terjadi sangat cepat. Bahkan manik tajam Kuroko tidak bisa menangkap pergerakan itu. Kagami melayangkan tinju kanan hanya untuk mengelabui Kuroko agar pemuda biru itu menghindar ke arah kiri, sehingga Kagami bisa menyerangnya dengan tepat.

"Ya, Kuroko." seakan bisa membaca pikiran Kuroko, Kagami tersenyum miring. "Itulah keahlianku. Membuat gerakan yang sulit dibaca musuh." dan tanpa memberi jeda, tendangan tiba-tiba dari samping berhasil membuat Kuroko terjungkal.

Kuroko kembali bangkit. Kakinya nyeri sekarang.

"Bagaimana? Mau menyerah?"

"Ini bahkan baru dimulai."

.

.

"Wah, sepertinya seru ya."

"Hn."

"Laporan yang menarik bagi Akashi, benar?"

"Hn."

"Bocah itu kuat, tapi Kagami tak kalah kuat. Tapi sayangnya Kagami tak pernah berhasil mengalahkanku, bahkan sejak kami masih di Amerika."

"Hn."

"Huh, kusuruh Murasakibara menghancurkan li-nov mu, tahu rasa."

"Jangan, kasihan gadis-gadis cantik ini."

"..."

"..."

"Are you being crazy because Akashi would never had notice you?"

"Damn. Shut up one-eye-mother."

.

.

Baik Kuroko dan Kagami sama-sama tak ada yang mau mengalah. Serangan demi serangan bertubi-tubi dilancarkan dari keduanya, membuat empat orang di tepian terpana dibuatnya.

"Benar kata Hayama, bocah itu kuat juga ternyata." Kasamatsu menatap tertarik pada pemandangan yang tersaji di depannya.

"Bahkan Kagami sekalipun kepayahan dibuatnya." ujar Furihata.

"Haruskah kita membantu?" Sakurai menatap simpati pada Kagami yang mulai kelelahan.

"Jangan," Mibuchi bergumam. "Kita pemain bersih, bukan? Benar kata Tai-chan, tidak adil jika lima lawan satu."

"Biarkan aku turun," Kasamatsu menatap Mibuchi. "Aku ingin menguji sendiri kemampuan bocah biru itu."

Mibuchi balik menatap Kasamatsu, lalu menghela napas. "Apa boleh buat. Ku larang sekalipun juga kau tetap akan nekat, kan? Baiklah, tapi hanya Yuki-chan saja yang turun. Sisanya tetap disini."

Kasamatsu menyingsing lengan kemejanya, lalu berlari ke tengah-tengah Kagami dan Kuroko.

"Apa yang kau lakukan?!" Kagami berseru pada Kasamatsu yang mengganti posisi dirinya melawan Kuroko.

"Kau sudah kepayahan, tiger. Biar aku yang ganti melawannya." tanpa aba-aba, satu tendangan diarahkan pada sisi samping Kuroko, yang dengan sigap ditangkis dengan tangan.

"Boleh juga tangkisanmu, bocah." Kasamatsu kembali menendang, kali ini dengan gerakan bertubi-tubi. Kuroko gesit menghindar, dan saat ada celah, satu pukulan dari bawah sukses menghantam rahang Kasamatsu.

"Akh!"

Mengambil kesempatan, kali ini gantian Kuroko yang membalaskan serangan dengan bertubi-tubi. Tubuh kecilnya cukup membantu untuk melancarkan serangan dengan cepat. Kakinya berputar, tepat mengenai pelipis Kasamatsu dan ujung sepatu dari kaki lainnya menendang kasar wajah sang lawan.

Kasamatsu tersungkur. Belum sempat Kuroko mengambil napas, Kagami sudah berada di belakangnya seraya melayangkan tinjuan yang langsung dihindari Kuroko. Pemuda biru itu menangkap tangan Kagami, memelintirkannya lalu menendang perut si alis cabang dengan kuat. Seakan belum cukup, satu tendangan lagi diarahkan pada wajah Kagami hingga terjungkang ke belakang.

Selesai.

Mibuchi, Furihata, dan Sakurai melongo. Kemampuan Kuroko ternyata diluar ekspetasi mereka. Tidak cocok dengan rautnya yang datar dan tubuhnya yang kecil.

Kuroko sendiri lekas merapikan kemejanya yang kusut, lalu mengambil kacamata dan buku di bawah pohon lalu beranjak pergi dari lokasi. Sementara ketiga anggota Majiba yang sedari tadi menonton, bergegas menghampiri Kasamatsu dan Kagami yang masih terkapar di tengah-tengah.

Dan dua pemuda lain yang menonton dari kejauhan, hanya tersenyum lalu menghilang sekejap mata dibalik embusan angin yang tiba-tiba datang mengusik.

.

.

"Wah, sepertinya menarik." Akashi terkekeh saat mendengar laporan dua anak buah yang merupakan informan Rappapa.

Mayuzumi Chihiro dan Himuro Tatsuya.

Dua anggota Rappapa yang ditugaskan mengawasi seluruh murid Teiko, merangkap mata-mata untuk mencari seluruh informasi yang dibutuhkan.

"Baru hari pertama masuk, dia sudah mengalahkan Hayama-Izuki dan ketua Majiba? Hebat sekali." kekehan lembut Akashi kembali mengudara. "Aku jadi penasaran dengan anak itu. Siapa namanya?"

"Kuroko Tetsuya. Pindahan dari Seirin." Mayuzumi mengulurkan sebuah map berisi data diri Kuroko. Akashi membukanya lalu mengangguk-angguk.

"Seirin, ya? Bukankah itu sekolah normal yang berisikan murid-murid normal juga? Apa alasan dia pindah kesini?" Akashi bergumam. Manik rubi nya membaca sederet profil siswa baru tersebut.

"Apapun itu, kurasa bukan alasan biasa." Himuro berujar. "Dia baru datang dan langsung mengalahkan anak-anak kuat disini. Dimulai dari HayaIzu, lalu Majiba. Bukan tidak mungkin kalau Rappapa menjadi incaran selanjutnya."

Akashi terdiam sebentar, namun sedetik kemudian ia tersenyum. "Bukannya tidak mungkin lagi—"

Mayuzumi dan Himuro saling pandang.

"—tapi memang tujuannya kemari adalah melawan Rappapa."

.

.

Hari kedua menjadi murid Teiko berjalan seperti kemarin. Semua mata tertuju pada Kuroko saat ia berjalan, entah di lapangan atau kala melintas koridor. Namun arti tatapan itu berbeda dengan kemarin. Jika kemarin mereka menatap Kuroko seperti predator mengincar mangsa, maka hari ini sebaliknya. Selayaknya mangsa yang menjumpa predator yang tenang. Sepertinya berita tentang kekalahan HayaIzu dan Majiba sudah menyebar hingga seluruh murid.

Duduk di bangkunya dengan tenang, Kuroko membuka novelnya yang sempat tertunda. Kacamata yang bertengger sedikit dinaikkan. Tak ada yang berani mengusik Kuroko seperti kemarin. Hayama dan Izuki sekalipun nampak enggan mendekat.

Kuroko terlalu larut dalam bacaannya, sehingga tidak menyadari kehadiran geng Majiba di dekatnya.

"Hei, Kuroko."

Pemuda biru itu mengangkat pandangannya, menatap Kagami beserta antek-anteknya yang berdiri di depannya. Tanpa izin, Mibuchi menempati bangku depan Kuroko yang kosong, sedangkan Kagami, Furihata, Kasamatsu, dan Sakurai menarik bangku dan duduk mengelilingi Kuroko.

"Sebelumnya aku mau minta maaf. Kemarin aku terlalu merendahkanmu." Kagami memulai percakapan.

"Iya. Maaf ya Kuro-chan. Soalnya badanmu kecil sih." Mibuchi terkekeh.

"Namaku Kuroko Tetsuya, bukan Kuro-chan."

"Araa~ bagaimana kalau kupanggil Tet-chan saja? Lebih manis."

Kuroko diam.

"Abaikan Mibuchi. Dia memang begitu." Kagami menghela napas. "Kemarin kita sudah berkenalan, namun aku ingin berkenalan lagi dengan lebih formal. Aku Kagami Taiga. Kelas 2-2." Kagami mengulurkan tangannya.

Kuroko hanya diam, menatap tangan Kagami dengan datar. Kagami yang merasa tangannya diabaikan, pun menurunkannya.

"Cih, sombong sekali. Jangan karena kau mengalahkanku dan Kagami, lalu kau berlagak, ya." Kasamatsu mendecih.

"Aku Mibuchi Reo, panggil aku Reo-nee~ Aku sudah kelas tiga lho," Mibuchi iseng mencubit pipi Kuroko. "Kawaii ne~"

"Aku Furihata Kouki. Kelas 2-3." Furihata memperkenalkan diri.

"Sumimasen, Kuroko-san. Aku Sakurai Ryo. Panggil saja aku Sakurai. Kelas 2-2 juga seperti Kagami-san. Kalau kau tidak berkenan, maafkan aku. Sumimasen! Sumimasen!"

Kuroko sedikit mengernyit.

"Yuki-chan, tinggal kamu lho~"

"Cih. Kasamatsu Yukio. 3-4."

Kuroko bergeming. Ia hanya mengangguk sekali sebagai salam dan kembali melanjutkan novelnya.

"Aku kesini untuk mengajakmu bergabung dalam Majiba."

Kuroko menurunkan bukunya. "Maaf?"

"Kau tidak tuli, Kuroko. Kagami mengajakmu bergabung dalam geng kami, Majiba."

Terdiam, Kuroko setelahnya menutup buku. "Maaf, tapi aku tidak tertarik."

"Selain sombong, kau juga anti sosial, ya?"

"Kasamatsu-senpai, cukup." Kagami mengangkat tangannya. "Kuroko mungkin butuh waktu untuk berpikir. Apalagi yang mengajaknya bergabung adalah geng yang seenaknya menantang dan merendahkan dia." Kagami berdiri, diikuti antek-anteknya.

"Ku tunggu jawabanmu, Kuroko Tetsuya."

.

.

"Oh, jadi Rappapa terancam?"

Di ruangan Rappapa, diadakan rapat mengenai anak baru yang mengancam kondisi Rappapa, tak lain tak bukan adalah Kuroko Tetsuya.

Akashi Seijuurou duduk dengan anggun di sofa utama. Di sebelahnya berdiri seorang Midorima Shintarou. Sedangkan enam orang anggota Rappapa lainnya duduk manis di sofa yang melingkari meja.

"Iya, Aomine." Midorima menjawab.

Aomine Daiki, pemuda berkulit gelap dan bertubuh kekar, terlihat acuh tak acuh seraya mengorek kuping. Anggota Rappapa paling tidak sopan, ya dia.

"Jadi, bagaimana nih Akashicchi? Mau langsung menurunkan kita saja?" Kise berujar semangat. "Aku bosan, sejauh ini selalu bisa memenangkan perkelahian dengan mudah. Kan tidak asyik-ssu! Mawar-mawarku juga butuh tantangan, tahu."

"Bukankah itu terlalu terburu-buru?" sela Takao Kazunari, pemuda dengan rambut belah tengah yang khas.

"Tidak baik menunda-nunda pekerjaan, Takaocchi. Siapapun yang mengancam Rappapa harus dihabisi, benar-ssu?"

"Memang benar apa yang dikatakan Kise," Akashi berujar tenang. "Tapi Takao juga benar. Masih terlalu cepat untuk kalian turun."

"Lalu bagaimana-ssu?"

"Bagaimana kalau kita menggertaknya sedikit?" Aomine memberi usul.

"Tidak," Midorima menggeleng. "Bukan cara kita untuk menggertak seseorang. Lagipula, kita harus benar-benar mengetahui dulu tujuan dan alasan dari anak baru tersebut."

"Jadi, Aka-chin mau kami bagaimana?" sosok paling tinggi diantara mereka yang sedari tadi asyik mengunyah, angkat bicara.

Akashi tersenyum. "Aku mau kalian diam dulu, bisa? Mayuzumi dan Himuro akan turun untuk menyelidiki lebih dalam tentang Kuroko. Kalau mereka sudah mendapat informasinya, baru aku memerintahkan Four Heavenly Kings untuk turun."

"Asyik!" Kise dan Takao saling ber-high five. "Akhirnya aku tidak jadi mati bosan-ssu!"

"Benar! Aku penasaran dengan bocah ini. Sekuat apa sih dia?"

"Yang pasti, dia takkan bisa mengalahkanku." Aomine menguap. "Yang bisa mengalahkanku, hanya aku."

Midorima mendecih. "Kau lupa siapa yang membuatmu koma selama dua minggu di rumah sakit, aho?"

Aomine merotasikan matanya. "Baiklah baiklah. Yang bisa mengalahkanku, hanya aku.. Dan Akashi."

"Hoi! Aku juga mengalahkanmu, Ahomine."

"Kau tidak kuhitung. Kerjaanmu kan hanya mengekor Akashi saja."

"Sialan."

"Cukup." Akashi mengangkat tangannya. "Jadi, Mayuzumi dan Himuro boleh mulai mencari informasi hari ini. Dan untuk Four Heavenly Kings, kalian bersiap-siap saja. Jangan sampai membuatku turun tangan, okay?"

"Siap! Aku tidak akan mengecewakan Akashicchi-ssu!"

"Hum! Tidak akan kubiarkan anak baru itu menyentuhmu, Akashi."

"Cih. Dia takkan menang melawanku."

"Siapapun yang ingin melawan Aka-chin akan kuhancurkan."

"Ah, aku terharu." Akashi tertawa kecil. Lembut, seperti lonceng yang berdentang. "Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengundang kembaranku, ne?"

"Sebelum dia sempat meraihmu, akan kubuat bocah itu gila terlebih dahulu." gumam Midorima.

Akashi yang mendengarnya lantas tersenyum. "Kau ingin membuat anak orang kehilangan akal, Midorima?"

"Kalau itu memang mengancam dirimu, harus kukatakan iya."

"Ululu, Midorimacchi so sweet sekali-ssu~"

"Diam, Kise."

"Shin-chan, kau juga akan melindungiku sama seperti kau melindungi Akashi, kan?"

"Jangan berharap, Bakao. Bahkan kau mati sekalipun aku tidak peduli."

"Hidoii-na! Akashi, kau rela kalau aku mati?"

Akashi terkekeh. "Tentu saja tidak. Tenang, kau tidak akan terbunuh selama masih dalam pengawasanku."

"Tuh kan! Akashi saja peduli padaku."

"Takaocchi, kalau kau mati, nanti namanya berubah jadi Three Heavenly Kings dong!"

"Sepertinya lebih bagus Three Heavenly Kings daripada Four Heavenly Kings."

"Shin-chan jahat!"

Gelak tawa terdengar setelahnya. Memang benar mereka adalah geng tertinggi, terkuat, dan tersadis di Teiko. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki hati, benar? Buktinya, jalinan pertemanan mereka bahkan sekuat baja, seerat simpul tali, dan sehangat mentari senja.

Seperti keluarga.

.

.

Kuroko duduk di kusen jendela seraya menatap langit malam yang polos tanpa penghias apapun. Sebelah kakinya menggelantung, sedangkan tangannya menggenggam selembar foto lusuh yang memperlihatkan dua orang anak sedang bergandengan tangan sambil tersenyum.

Manik biru Kuroko beralih pada foto lama di genggamannya. Senyum pahit terukir. Begitu banyak kenangan yang tercipta diantara mereka berdua. Namun sayangnya, semua itu hanya masa lalu. Tak bisa lagi semua kenangan itu terulang.

Karena jurang yang sangat dalam menjauhkan mereka berdua.

Di balik manik biru yang tenang itu, tersimpan banyak perasaan disana. Penderitaan, sakit, kecewa, amarah, benci, semua bercampur menjadi satu.

Dipandanginya lagi foto lusuh tersebut, lebih tepatnya mengarah pada sosok ceria di sebelah Kuroko.

Sosok yang menjadi alasannya masuk Teiko.

Sosok yang menjadi alasannya berjuang mengalahkan para petinggi Teiko.

Dan sosok yang menjadi alasannya mengeluarkan kepribadian aslinya.

Kuroko memilih turun dari kusen dan berjalan menuju meja belajarnya. Tidak, lebih tepatnya dinding di sebelah meja belajar. Dimana berjejer foto-foto yang sengaja disusun seperti piramida, dengan potret pemuda berambut merah yang menjadi puncaknya.

Kuroko mengambil spidol merah, lalu ia menunduk —lebih tepatnya memperhatikan foto yang terletak pada dasar piramida.

Foto berisi potret Kagami Taiga dan kawan-kawannya.

Kuroko mencoret foto mereka dengan bentuk silang. Di sebelah foto Furihata, terdapat foto Hayama dan Izuki yang masing-masing sudah tercoret silang dengan spidol merah yang sama.

Manik biru itu beralih pada foto diatasnya. Foto yang diambil dengan latar yang berbeda. Satu pemuda bertampang malas dan satu pemuda bertampang manis. Dua foto yang berbeda, namun ada kesamaan diantara mereka; pita merah yang terlilit di lengan kiri.

"Mayuzumi Chihiro dan Himuro Tatsuya, ne?"

.

.

Tbc

.

.

Hika's note:

Alurnya memang sengaja dibuat cepat, supaya enggak kebanyakan chap. Maklumin Hika yang jarang update, karena sibuk hehe /disleding/

(BYS-nya sepertinya ditunda dulu, saya benar2 kehilangan feel akan cerita itu. Kemungkinan, chap dua saya rombak lagi. Kalau misal engga sempat, chap tiga yang udah 3/4 selesai saya rombak dari awal lagi. Yup, jadi lama)

RnR?

Balesan review;

dzakyveageance okaayy ini update yaa / AySNfc3 yaaa kau tau Mibuchi kaya gimana lha ya xD / JT-chaaan wah, aslinya si dari MG, tapi Hika gatau kalo ternyata mirip anime lain hehe. Oke sip lanjut ya / wysan waaahh makasiih iya ini tentang preman2 (?) gitu hehe. Sip dilanjut ya / Yui chan iya ini based on MG. Kenapa Hika bikin Akashi kaya Yuko? Karna Hika anaknya maso, suka Akashinya kenapa-napa /digeplak/ yg diambil dari cerita asli cuma beberapa kok, kaya latar, nama, dan sedikit plot. / Seisawa09 oke sip oke sip(?), ini lanjut ya, makasiihh / Natsukeshi iya ini dilanjut kok, hehe. Untuk BYS-nya pasti dilanjut, cuman gatau kapan. I lost the feel huhu. Hika keep writing, kamu keep waiting. Kalo Hika ga writing, apa kamu tetep waiting? /dilindes/ hehe / Akaslut Seijuurhoe hehe makasih banget lho atas pengetahuan barunya soalnya Hika masih rada bingung ngebedain DID/MID sama alter. Bukannya nyari di gugel malah nekat nulis. Hika emang sotoy hehe. Hika justru berterimakasih banget sama orang yg mau kritik kekurangan Hika dengan cara yang baik. Oke ini dilanjut ya. Untuk BYS nya, sabar ya? / Yuu Yukimura Hayoo, pairingnya apa yaa kira-kira? ;) / Guest i love ukeshi very much, so bakal tetep ada unsur ukenya(?) tapi tetap strong dan berjaya! Hehe.

Makasih untuk review, fav, dan follownya ya!