"Hei kau," Sasuke tidak bisa menahan lagi nafsu vampire nya ketika ia mencium godaan aroma darah yang masih terbungkus kulit indah di tubuh gadis ini. "Apa kau mau menjadi pengantinku?" tawar Sasuke malam itu terlihat aneh di mata Hinata.

.

.

.


MY LOVELY WITCH


MY LOVELY WITCH©HACHI BREEZE©2013

ORIGINAL CHARACTER©NARUTO©MASASHI KISHIMOTO

The first MY LOVELY WITCH was©2011

Fic lama yang terbengkalai kini dilanjutkan dengan akun yang baru. Repost dengan perubahan dan inovasi baru.

Latest by : ©Hachibi Yui


Chapter: Blood Contract


.

.

.

"E-Eh? G-Gomen, a-aku kesini mencari s-seseorang bukan u-u-untuk menjadi pe-pengantinmu." Hinata melangkah mundur memeluk Sas.

Sementara Hinata melangkah mundur, Sasuke berjalan maju mendekatinya. "Kau mencari siapa disini?"

"K-K-Kau tidak akan mengenalnya." Hinata memalingkan wajahnya dari pandangan pemuda di depannya.

"Siapa namamu?" Sasuke berjongkok memungut satu barang Hinata yang tercecer berantakan.

"Eh?A-Aku, H-Hyuuga H-Hinata."

"Hyuuga? Aku tidak pernah mendengar ada marga itu di sekolah, apa kau murid baru?" selidik Sasuke dengan membolak-balikkan barang kecil yang ada di tangannya.

"B-Bukan, a-aku baru s-saja datang kesini tapi a-aku bukan seorang m-murid. H-Hei, j-jangan pegang-pegang barang-barangku!" pekik Hinata terkejut ketika Sasuke sudah membuka kantong yang di pegang Sasuke.

"Kau penyihir, eh?" Sasuke menyeringai ketika Hinata merebut paksa benda yang ada di tangan Sasuke.

"E-Eh?! D-D-Darimana kau t-t-tau?" Hinata mendekatkan dirinya berjalan ke arah Sasuke.

"Barang-barang itu dan sapu terbangmu," tunjuk Sasuke ke barang-barang Hinata yang masih saja berantakan. "Aku akan membawamu ke satu orang yang mungkin bisa membantu. Dan lagi, kau jangan terlalu dekat denganku jika tak ingin darahmu kuhisap." Tambah Sasuke lagi dengan menatap Hinata menahan nafsu vampire nya.

"E-Eh?!"

"Kau tahu aku ini apa, hmm?" tanya Sasuke mendekat dengan memegang rambut panjang Hinata yang halus.

"M-Manusia?" Hinata memejamkan matanya ketika pemuda disampingnya ini mencium helaian rambutnya yang dipegang.

Sasuke menyeringai, "Kau hanya menjawab satu, tapi aku ini adalah Vampire. Bukan, masih Dhampir."

"E-Eh? U-Uchiha?! M-M-Makhluk i-itu bukannya sudah p-punah?" Hinata menarik rambutnya yang di genggam Sasuke.

Sasuke mendengus pelan dan menarik tangan Hinata. "Itu hanya mitos, bodoh. Ayo ikut aku."

"T-Tunggu, B-Barang-barangku!" pekik Hinata terkejut ketika melihat barang-barangnya masih berantakan. Sasuke berhenti dan mengeluarkan tangannya dari saku lalu membuat sihir kecil agar barang-barang Hinata segera beres.

Hinata memandang takjub Sasuke. Seorang Vampire..bisa melakukan sihir? "D-Darimana kau bisa melakukan sihir?" tanya Hinata menerima sebungkus kecil barang-barangnya yang sudah dibereskan Sasuke.

"Ikut aku maka kau akan tahu." Jawab Sasuke menggenggam tangan Hinata. Hinata hanya menurut dengan memeluk Sas erat.

.

.

.

"T-T-T-The L-Lord?" Hinata menjatuhkan barang-barangnya ke lantai begitu melihat apa yang ada di depannya.

Kakashi yang baru saja membuka pintu juga sama kagetnya seperti gadis yang dibawa Sasuke. Kakashi yang awalnya mendengar Hinata berbisik kata The Lord langsung menghembuskan nafasnya. Di dunia manusia hanya Itachi, Sasuke dan beberapa siswa penyihir terdampar di dunia manusia saja yang tahu jika dia adalah The Lord. Tidak ada yang mengetahui jika Kakashi adalah The Lord kecuali di dunia sihir. Kakashi masih tidak bisa berpikir jernih dengan sebutan barusan yang telah lama tak di dengarnya. Kakashi membukakan pintu ruangannya lebar-lebar mempersilahkan Hinata dan Sasuke masuk kedalam rumahnya. Sapu terbang Hinata mengikuti tuannya, terbang dan sedikit menjauhi dari Sasuke yang menurutnya adalah orang yang jahat. Mereka bertiga duduk di kursi ruang tamu rumah Kakashi. Perlahan Kakashi mulai memperhatikan Hinata dari kepala sampai kaki. Pakaian yang sangat ia kenal berasal dari dunianya, tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang putih, rambut panjang, matanya yang lavender pucat. Tunggu, lavender..pucat?

Kakashi masih mencoba mengingat-ngingat lagi memorinya di dunia sihir akan penyihir bermata lavender pucat. Banyak sih yang mempunyai mata yang sama di sana, bahkan banyak penyihir bisa memanipulasi dengan mengubah warna mata dan wajah untuk penyamaran yang sempurna. Tapi mata ini sungguh sepertinya Kakashi kenal, mata yang sangat khas dan susah untuk ditiru oleh sembarang penyihir jika dia bukan Thunder Knight, The Lord atau..klan Hyuuga. Nah! Itu dia!

"Siapa kau?" tanya Kakashi memastikan.

"A-Aku Hyuuga H-Hinata, The Lord." Hinata masih menunduk diam disamping Sasuke yang duduk dengan menyandarkan tubuhnya malas.

"Hyuuga? Pantas saja, sudah kuduga itu kau walau sulit mengingatnya," Kakashi tersenyum lembut ke gadis yang baru mendongakkan wajahnya menatap Kakashi. "Ada urusan apakah ayahmu menyuruhmu kesini?"

"Umm, e-e-eto...sebenarnya T-Tou-san tidak ada urusan dengan The Lord hingga menyuruhku kesini," Hinata menggenggam erat ujung pakaiannya. Sas yang ada di sampingnya hanya melompat-lompat.

"Lalu?"

"A-A-Aku ingin meminta tolong kepada The Lord!" Hinata menatap Kakashi dengan memohon.

"Pertama-tama, bisakah kau tak memanggilku The Lord? Panggil saja Kakashi-sensei." Hinata hanya mengangguk.

"B-B-Baiklah," Hinata sih sebenarnya sudah tahu nama The Lord nya tapi untuk menghormati jadinya yah kau taulah.

"A-Aku ingin m-meminta bantuan K-Kakashi-sensei u-untuk kabur." Jawab Hinata mantap.

"Kabur?" beo Kakashi dan Sasuke bersamaan.

"T-Tousan, dia berniat menerima lamaran A-Akasuna-san. Dan m-menikahkanku," Hinata menjawab dengan lirih. "Padahal di A-Akasuna-"

"APA?!" Kini Sasuke yang memuncak.

"Tak kusangka ya, dulu terakhir kali aku bertemu ayahmu adalah ketika kau masih dalam kandungan ibumu. Dan sekarang kau sudah akan dinikahkan begini. Waktu sangat cepat be-"

"Tidak boleh! Begini sensei, aku juga datang untuk menjadikan Hinata sebagai pengantinku. Aku sudah memilihnya. Dan aku menginginkan dia." Jawab Sasuke dengan tatapannya yang tajam.

"EH?!" semua yang ada diruangan hanya terkejut mendengar ucapan Sasuke yang tadi sudah memotong ucapan Hinata.

"Apa?" tanya Sasuke ketika Hinata meliriknya dengan bersemu merah.

"T-Tunggu Sasuke, Hinata kabur kesini untuk menghindari menjadi anggota klan Akasuna. Tapi kau disini malah ingin membuatnya menjadi pengantinmu? Jangan gila." Hinata hanya mengangguk mendengar ucapan Kakashi.

"Kau tahu siapa itu Akasuna? Dari kabar burung yang kudengar, Akasuna adalah pemimpin Thunder Knight. Dan kau tahu siapa mereka? Orang-orang terhormat dan tinggi level sihirnya untuk melindungi dunia sihir. Jika kau macam-macam, dia bisa saja memusnahkan dirimu yang seorang Dhampir hanya dengan jentikan jari saja." Tambah Kakashi dengan memijit kepalanya.

"D-Dhampir ?" Hinata menatap Kakashi heran.

"Sudah kubilangkan tadi, aku Vampire." Jawab Sasuke menatap Hinata yang ada di sampingnya.

"Tapi belum sempurna. Ya, dia adalah keturunan vampire dari klan Uchiha yang terakhir. Namanya Uchiha Sasuke. Dia dan kakaknya, Uchiha Itachi, mereka adalah satu-satunya Dhampir dari klan vampire. Dhampir adalah sejenis vampire setengah manusia. Dia memiliki kekuatan vampire tapi dia memiliki darah manusia," Kakashi tersenyum ketika Hinata hanya mengangguk. Sasuke hanya mendengus kesal menatap obyek lain.

"Ayahnya, Uchiha Fugaku adalah seorang vampire murni sedangkan ibunya, Uchiha Mikoto adalah manusia murni dari dunia manusia. Dan saat mereka berdua menikah, anak mereka tentu saja memiliki campuran DNA dari manusia dan vampire yang menghasilkan seorang Dhampir. Di klan mereka, Dhampir sangat dibenci dan di anggap kotor sehingga seluruh klan mencoba untuk membunuh Itachi dan Sasuke." Hinata hanya menutup mulutnya tidak percaya jika pemuda yang duduk disampingnya ini mengalami hidup yang sulit.

"Saat pertama kali aku datang ke dunia manusia sebagai Vampire Hunter, aku bertemu Fugaku. Kami berdua bertanding. Dia satu-satunya vampire terhebat yang pernah aku temui. Tapi pada akhirnya dia menyerahkan diri padaku. Dia rela ditahan ketika Sasuke baru saja lahir, takut mengancam nyawa keluarganya maka ia menyerahkan diri untuk ditahan di dunia sihir." Tambah Kakashi lagi. Sasuke dengan cepat menatap Kakashi penuh tanya. Ini pertama kalinya Kakashi menceritakan tentang mengapa ia dipisahkan dari ayahnya.

"Ya, Fugaku melakukannya untuk keselamatan keluarganya. Untuk Mikoto, Itachi, dan kau..Sasuke," Kakashi melirik Sasuke sekilas ketika raut wajah pemuda itu berubah tak karuan. "Aku berjanji di depan Mikoto dan Fugaku untuk menjaga anak mereka. Kami tinggal berpisah waktu itu, hingga Itachi menemuiku dan menitipkan Sasuke kepadaku. Saat itu Itachi dan Sasuke sedang di bantai habis-habisan oleh ketua klan Uchiha. Karena itulah Sasuke sangat membenci darah manusianya yang di anggap kotor klan. Tapi bukan berarti ia membenci ibunya, dia ingin menjadi vampire yang sempurna dengan meminum darah dari pengantinnya saja." Tambah Kakashi semakin memijat kepalanya.

"Vampire itu setia. Hanya menemukan sekali pasangannya, dan hanya bisa meminum darah dari pengantinnya saja. Dan kau jangan cemas jika aku akan lari." Tambah Sasuke meremas jemari Hinata yang ada disampingnya. Hinata hanya memukul pelan tangan Sasuke.

"Setelah itu dia hanya akan bisa minum darah hanya dari pasangannya saja. Vampire juga unik. Sejak saat itu aku merawat Sasuke disini, karena Sasuke tak mungkin kubawa ke dunia sihir jadi aku harus tinggal disini dan merawatnya." Akhir cerita panjang Kakashi yang hanya ditanggapi anggukan Hinata.

"J-Jadi S-Sasuke-san tinggal dengan K-Kakashi-sensei?" tanya Hinata takut-takut.

"Aku tinggal di asrama sebelah." Jawab Sasuke menuding ke arah jendela rumah Kakashi.

"L-Lalu, bagaimana dengan Itachi-san?"

"Aku belum mendengar kabarnya. Mereka berdua telah ku anggap seperti anakku sendiri dan aku tak bisa berfikir bagaimana jika nanti ia dibantai lagi oleh klannya." Hinata mengangguk mengerti. Sas masih saja melompat-lompat disamping Hinata.

"Jadilah pengantinku, buat aku menjadi vampire sempurna untuk melindungimu." Sasuke mencium tangan Hinata yang sedari tadi dipegangnya. Sas hanya memukul Sasuke dengan kepalanya.

"Hei!" komplain Sasuke memegang dahinya yang memerah.

"Kau yakin, Sasuke?" Kakashi menyandarkan dirinya di sofanya.

"Ya sangat. Dia memiliki aroma yang sangat memabukkanku." Jawab Sasuke dengan matanya yang merah.

"A-Aku tidak.., k-kau jangan m-memperlakukanku s-seperti m-makanan S-Sasuke-san."

"H-Hei! Kau ini bagaimana sih? Jika kau ingin melawan ayahmu, kau harus jadi pengantinku dulu! Kita harus melakukan perjanjian darah."

"T-Tidak mau!" Hinata berteriak kecil dan mendorong kepala Sasuke yang berniat menggigit tangannya.

"Sudah hentikan! Kau cepat kembali ke asrama mu, dan Hinata kau tinggal sementara di rumahku."

.

.

.

Minggu pagi, Sasuke sudah mengetuk pintu rumah Kakashi. Kakashi yang baru saja bangun dengan masker yang baru dipakainya, terlihat dari pemakaiannya yang berantakan, hanya melirik Sasuke malas. Hinata sudah bangun sedari tadi pagi. Ia sudah berada di dapur milik Kakashi dan menggunakan apron.

"Aku ingin bertemu Hinata." Jawab Sasuke cepat ketika melihat Kakashi yang sudah ingin bertanya.

Sasuke melangkah masuk tanpa Kakashi persilahkan. Sasuke mengendus aroma yang ia kenal adalah aroma darah Hinata. Menciumnya saja sudah membuat Sasuke sering berubah warna matanya menjadi merah. Sasuke menemukan Hinata masih konsentrasi dengan bahan-bahan di dapur. Sasuke memeluk Hinata dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Hinata. Hinata hanya terkejut akan kejutan pagi Sasuke.

"S-Sasuke-san.."

"Hn?" Sasuke masih memejamkan matanya menghirum aroma darah Hinata.

"L-Lepaskan, a-aku se-"

"Aku bantu." Sasuke melepaskan pelukannya dan meraih apa yang sudah selesai masak. Sasuke memindahkan masakan Hinata ke meja makan. Kakashi yang melihatnya hanya tersenyum kecil dibalik maskernya. Ia membenahi letak masker yang sedikit berantakan saat ia pakai.

"Wah! Makanan khas dari dunia sihir ya? Sudah lama aku tidak memakan ini." Kakashi duduk pertama kali di meja makan ketika Sasuke dan Hinata membawakan makanan terakhir dari dapur. Sasuke hanya mendengus melihat Kakashi yang menurutnya aneh. Hinata tersenyum.

"Apa ini layak makan?" Sasuke menatap makanan yang menurutnya aneh dari kesan pertama melihatnya.

"I-Itu adalah m-makanan kebanggaan kami, k-ka-kau akan menyukainya." Jawab Hinata dengan menaburi Sas stardust. Sas hanya melompat kecil dengan stardust yang mengitarinya.

"Hmm, enak sekali! Coba saja Sasuke. Kami yakin kau akan suka." Kakashi memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya.

Sasuke memandang yakin ke makanan yang seperti jelly dan penuh krim gel warna-warni. "Aku tidak suka manis."

Hinata memotong sedikit dan meletakkan ke piring, ia menebarkan sedikit sihir. "I-Ini, tidak m-manis."

Sasuke menatap piring yang tadi sempat Hinata beri sedikit sihir mungkin, ia dengan ragu meraih sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "E-Enak." Gumam Sasuke takjub karena baru makanan seenak ini untuk pertama kalinya.

"Apalagi yang memasak penyihir asli dari dunia sihir, jelas sekali. Aku rindu makanan ini." Kakashi dengan cepat memakan makanan yang ada di hadapannya.

.

.

.

"Cepat ganti bajumu." Sasuke masih berdiam disamping Hinata yang mencuci piring.

"K-Kenapa?" Hinata melirik Sasuke yang masih bersandar di dinding menatap langit-langit rumah Kakashi.

"Pergi."

"K-Kita mau kemana S-Sasuke-san?" tanya Hinata lagi dengan membasuh tangannya.

"Aku akan mengajakmu jalan-jalan." Wajah Hinata bersemu merah ketika Sasuke memandanginya.

"T-Tapi-"

"Diam dan cepat ganti. Lalu ikuti saja aku." Hinata berjalan memasuki kamarnya dan di ikuti Sas. Tapi Sasuke dengan cepat Sasuke menangkap Sas yang hendak masuk ke kamar Hinata.

Pertengkaran Sasuke dengan Sas, sapu terbang Hinata terjadi. Kakashi hanya membalikkan lembaran koran dengan santai. Tak lama setelah itu Hinata keluar dengan pakaian manusia yang diberi Kakashi. Dengan cepat Sasuke menarik Hinata keluar rumah Kakashi. Hinata hanya menganut saat Sasuke menggandeng tangannya. Wajah Hinata perlahan merona karena malu karena ini baru pertama kalinya Hinata digenggam erat jemarinya oleh seorang pemuda. Tak hanya Hinata, sebenarnya Sasuke juga baru pertama kali menggandeng seorang cewek. Rona merah dengan tipis menghiasi pipi Sasuke. Sasuke mengajak Hinata jalan-jalan ke taman bermain. Keduanya memasuki wilayah taman bermain yang ramai. Banyak wahana baru yang belum Sasuke coba. Apalagi Hinata yang baru datang ke dunia ini, ia hanya memandang takjub.

"Kau suka?" tanya Sasuke sedikit tersenyum ketika melihat Hinata merona merah memandanginya.

"Y-Ya." Jawab Hinata sedikit menundukkan kepalanya.

"Ayo, aku tunjukkan sesuatu yang tak pernah kau temui di dunia sihir." Sasuke menarik lagi tangan Hinata.

.

.

.

"Hanabi, apa kau melihat Hinata?" suara berat Hiashi membuat Hanabi menghentikan langkahnya yang baru masuk dari pintu belakang.

"A-Ah, e-eh? A-Ano, Hinata-nee pergi camping. Ya, camping. hahahaha!" tawa Hanabi hambar di depan Hiashi dan beberapa orang berambut merah.

"Oh begitu. Sayang sekali, padahal keluarga Akasuna ingin melihatnya. Apa Hinata sudah tahu tentang ini?"

Glek

"M-Mungkin t-tidak." Jawab Hanabi asal.

"Sasori-san, lebih baik kita berbincang saja dahulu dan merileks kan tubuhmu. Kau pasti lelah setelah menjadi Thunder Knight di bagian Utara, bukan? Akan kami siapkan pelayanan terbaik kami." Hiashi tertawa dengan mempersilahkan pemuda berambut merah dengan pakaian Thunder Knight. Topeng Thunder Knight masih melekat diwajahnya sehingga Hanabi tidak bisa melihat jelas wajah pemuda yang akan menikahi Hinata. Sepeninggal Hiashi dan keluarga Akasuna, Hanabi masih berdiam.

'Hinata-nee sudah pergi Tou-san, dan lagi Hinata-nee pasti juga tak tahu cara kembalinya.'

Hanabi berlari takut masuk kedalam rumah. Ia takut jika Hiashi akan kembali lagi mempertanyakan Hinata dan mengetahui kebohongannya. Ia tak memperdulikan sepupunya, Neji, yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya.

.

.

.

"H-Hari i-ini menyenangkan ya Sasuke-san? T-Terima kasih." Hinata masih berjalan disamping Sasuke dengan tangan kirinya memeluk boneka kecil yang mereka dapatkan dari bermain.

"Hn"

"A-A-Aku baru pertama kali i-ini memakan makanan m-manusia." Hinata masih memakan permen kapasnya yang manis.

"..."

"A-Aku t-tak mengira jika d-dunia ini begitu i-indah dan menyenangkan." Hinata masih tertawa ketika Sasuke memandanginya.

"Apa di negerimu tak ada taman bermain seperti ini?" tanya Sasuke dengan memasukkan tangan kedalam saku celananya.

"T-Tidak.."

"Kalau begitu kita lakukan ini saja setiap hari jika kau mau," Jawab Sasuke dengan tersenyum kecil.

"A-Ano, t-terima kasih atas semuanya S-Sasuke-sa-"

"Asal kau mau memanggilku dengan suffix '-kun' maka aku akan mengabulkan semuanya." Tambah Sasuke memotong ucapan Hinata.

"E-Eh?" Hinata hanya merona.

Hinata melihat wajah Sasuke yang mendadak pucat tapi pemuda itu masih saja tersenyum lembut ke arahnya. "T-Tapi it-, baiklah. S-Sasuke-k-kun,"

Tanpa aba-aba, Sasuke langsung memegang dagu Hinata dan menciumnya. Hinata hanya melebarkan matanya ketika bibir mereka bersentuhan. Itu first kissnya. Sederhana tapi berlangsung dengan lama. Sasuke mendadak lemas dan hampir jatuh, Hinata dengan cepat menangkap Sasuke kedalam pelukannya.

"Ke-Kenapa?" tanya Hinata masih merona memeluk Sasuke.

"G-Gomen, t-tenagaku hampir habis. Aroma darahmu yang menggoda hampir saja membuatku hilang kendali," Jawab Sasuke masih dalam pelukan Hinata. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang membuatnya selalu berubah warna matanya menjadi merah.

"Apa saja yang kau makan sehingga membuatku seperti ini, huh?" tanya Sasuke mulai memeluk Hinata dan menghirup aroma darah dari kulit Hinata.

"E-Eh?"

"Aku lelah hari ini. Tenagaku hampir habis, aku ingin sekali meminum darah agar tenagaku bisa pulih lagi." Jelas Sasuke melepaskan pelukannya.

"J-Jangan!" Hinata melangkah mundur.

"H-Hei, siapa mau meminum darahmu? Aku mau minum darah di asrama, jadi ayo pulang." Sasuke tertawa melihat wajah Hinata. Ia menggandeng tangan kecil gadis itu keluar taman bermain.

"Tak secepat itu Uchiha, Sasuke..."

"Siapa kau?" Sasuke dan Hinata menghentikan langkahnya ketika melihat seorang berjubah yang menghalanagi jalan mereka.

Sasuke mengisyaratkan agar Hinata bersembunyi di balik tubuh Sasuke. Sedangkan seorang misterius berjubah hitam itu masih berdiri mencegah jalan Sasuke dan Hinata ketika akan pulang. Perlahan tudung itu ia lepas dan menampakan wajahnya yang menyeringai seram hingga membuat Hinata menyembunyikan wajahnya takut di punggung Sasuke.

"Sakon?" gumam Sasuke memastikan ingatannya. Sakon, pelayan klan Uchiha.

"Ya tuan muda Uchiha, saya senang anda masih mengingat saya. Mendapatkan tugas membunuh anda sungguh mudah. Kurasa kematian anda akan tiba hari ini tuan khekhe," suara itu membuat Hinata merinding. Wajah yang aneh, senyuman yang aneh, kuku pandang dan taring. Hinata tak percaya jika klan Uchiha masih ada. Ia tak percaya jika vampire masih ada.

"Jangan berharap."

"Oh, tuan membawa makanan rupanya? Aromanya sungguh sedap. Akan saya ambil darahnya sampai habis jika sudah selesai dengan anda." tawa Sakon membuat Sasuke mengeluarkan taring dan matanya berubah menjadi merah.

"Dia. Hanya. Milikku!" Hinata melepaskan cengkramannya di baju Sasuke ketika pemuda itu berlari menyerang orang bernama Sakon di depan mereka.

Sasuke menyerang Sako dengan menggunakan sihir yang Kakashi ajarkan padanya. Sungguh membantu memang. Hinata yang melihat hanya bisa berdo'a karena mengingat Sasuke tenaganya hampir habis. Sasuke yang seorang Dhampir bisa mengusai sihir jauh lebih baik ketimbang dirinya yang penyihir untuk menyerang. Hinata terpesona sesaat. Penyihir murni seperti dirinya saja masih belum menguasai sihir serangan seperti itu. Bagi Sakon, walaupun ini agak menyulitkannya karena sihir yang dikeluarkan Sasuke. Tapi ini belum apa-apa baginya, Sasuke hanyalah Dhampir yang belum sempurna. Sangat mudah untuk Sakon mengalahkan Sasuke, apalagi Sasuke sedikit melemah.

Sasuke sudah terlalu lelah mengeluarkan semua energinya hingga habis. Hinata sangat mengerti jika Sasuke saat ini membutuhkan darah, tapi Hinata belum siap menjadi pengantin siapapun. Sasuke sudah jatuh dari pertahanannya sendiri. Lututnya yang bergetar tak sanggpu menahan beban tubuh Sasuke sehingga pemuda itu hanya berlutut. Wajahnya yang pucat dan goresan di pipinya akibat melawan Sakon. Sakon hanya tersenyum menang.

"Akhirnya kau akan mati tu-"

"H-Hentikan!" Hinata berdiri di depan Sasuke dengan kuda-kuda bersiap melawan Sakon dengan sihir yang ia bisa.

"Menyingkirlah atau kubunuh kau gadis bodoh." Sakon menjilati bibirnya sendiri. Tangannya yang penuh dengan kuku tajam membuat Hinata sedikit bergidik ngeri.

"A-Apa yang kau lakukan? Pergilah. Larilah bodoh!" Sasuke menggeram melihat punggung Hinata yang berdiri di depannya.

"A-Aku tak akan membiarkan k-kau d-dibunuhnya, a-aku tahu jika ini memang b-bo-bodoh. T-Tapi aku akan melindungimu, dan tak a-akan membiarkanmu m-mati S-Sasuke-kun." Suara Hinata sedikit bergetar kala ia melawan Sakon.

"Hinata," Sasuke melihat Hinata mengeluarkan sihirnya untuk melawan Sakon. Meskipun Sakon lebih sering menghindar dan mencoba melukai Hinata, Hinata masih mengeluarkan sihirnya hingga ia terpental saat Sakon mendorongnya.

Dengan cepat Sasuke menangkap Hinata dan memeluknya dari belakang. Naluri vampire nya muncul lagi ketika ia memeluk Hinata, ia begitu haus kali ini. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ia menopang dagunya di bahu Hinata. Dengan cepat, ia membuka kancing atas dan menyibakkan kerah kemeja Hinata sehingga mengekspos leher jenjang Hinata. Taring-taring Sasuke telah muncul dan siap menembus kulit putih Hinata.

"Aku, menginginkanmu..H-Hinata," Sasuke masih menghirup aroma di pertemuan leher dan bahu Hinata.

"S-Sasuke?" Hinata yang terkejut dengan pelukan Sasuke hanya terdiam, masih tak mengerti situasi.

"Berikan aku kekauatan untuk melindungimu, berikan padaku semuanya!"

"A-Akh..i-ittai." Sekarang Hinata sadar apa yang Sasuke lakukan.

Rasa sakit dan perih yang dideranya sekarang rupanya taring Sasuke yang menggigitnya. Hinata bisa merasakan darah yang disedot Sasuke dari luka itu. Hinata merasa pusing. Pandangannya serasa perlahan mengabur. Darah mengalir dari leher Hinata menuju mulut Sasuke. Dengan lahap Sasuke meminum habis darah Hinata. Kini Sasuke telah menjadi Vampire yang sempurna. Mata Sasuke yang memerah kini terlihat semakin hidup. Bagaikan serigala. Mata Sasuke kini terlihat memerah dengan pupil vampire sempurna. Sakon hanya membulatkan matanya ketika melihat mata Sasuke. Vampire sempurna yang baru saja melakukan blood contract. Merasa cukup meminum darah Hinata, Sasuke melepaskan taringnya dan pelukannya pada Hinata yang sudah lemas. Ia mendekati Sakon untuk menghajar pemuda itu.

'H-Hebat! Aku, seperti terlahir kembali.'

"Kau, kau sudah berani menganggu gadisku dan mendorongnya. Dengan ini, matilah kau!"

Dengan evolusinya, ia menjadi kuat dan kekuatannya pun menjadi semakin berlibat ganda. Ia mengeluarkan sihir-sihirnya. Kekuatan vampire Sasuke telah mencapai puncaknya. Dengan kuat, Sakon terpental jauh dengan mengeluarkan darah dari mulutnya. Merasa sudah selesai, Sasuke berjalan mendekati Hinata yang masih memegangi lehernya yang telah ia gigit. Sasuke membantu Hinata berdiri.

"Kau tidak apa-apa Hi-"

DUAGH.

Hinata memukul Sasuke masih dengan memegang lehernya yang sakit. Wajahnya merona merah.

"Apa?! A-Apa yang kau lakukan?" Sasuke memegang wajahnya yang dipukul Hinata.

"K-Kenapa k-kau menghisap darahku? A-Aku tadi tidak bilang jika k-kau boleh menghisap darahku." Hinata menurunkan tangan kirinya yang sedari tadi memegang lehernya. Dilihat masih ada darah yang menempel di jemari kirinya.

"A-Apa? T-Tapi aku hanya mengikuti keadaan saja! Aku hanya ingin melindungimu dan lagi.., setidaknya kau adalah pengantinku sekarang Hinata." jawab Sasuke dengan mencium tangan kiri Hinata.

Sasuke menjilati darah yang masih menempel dari jemari Hinata. Sasuke menyeringaimelihat wajah Hinata yang merona sedari tadi. Kakashi hanya bisa memijit pelipisnya melihat semua itu melalui bola kristal yang ada di kamarnya.

"Dasar anak muda." Gerutunya.

.

.

.

Ketika akan berpisah, tiba-tiba cermin lipat Hinata bergetar. Hinata langsung membuka cerminnya dan melihat Hanabi, adiknya seperti telah mencuri sesuatu dan takut ketahuan.

"Hanabi-chan? A-Ada apa?" Hinata melihat Hanabi menengok kanan dan kiri.

"Hinata-nee, kemarin ayah dan Akasuna-san datang mencarimu."

"L-Lalu kau jawab a-apa?" Hinata cemas melihat wajah Hanabi. Sasuke yang melihat wajah cemas Hinata mulai berjalan mendekati gadis itu.

"Camping,"

"Syukurlah!" Hinata menghela nafas lega. Sasuke berjalan kebelakang Hinata untuk melihat apa yang sedari tadi Hinata lihat pada cermin lipat.

"Harus bagaimana ini? Aku takut jika nanti ini semua terbongkar? Hinata-nee tau cara kembali kesini tidak?"

"E-Eto-"

"Tadi Neji-nii juga sepertinya sudah curi-, ah Hinata-nee, siapa itu?" Hanabi menuding Sasuke yang ada dibelakang Hinata. Hinata hanya melirik sekilas Sasuke yang penasaran dibelakangnya.

"E-Eto, d-dia,"

"Hei bocah, aku pengantinnya sekarang." Jawab Sasuke tanpa memperdulikan kedua bersaudara ini.

1 detik

5 detik

10 detik kemudian

"APA!"

"HIN-"

Sasuke langsung menutup pembicaraan itu dengan menutup cermin Hinata. Ia memegang cermin lipat Hinata lalu menatap Hinata dengan memegang pundaknya.

"Dengarkan aku, kau mulai sekarang adalah milikku. Tak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Tak ada yang boleh memilikimu selain aku. Dan kau hanya boleh melihat ke arahku saja. Aku akan melindungimu dari Akasuna, tak peduli siapa mereka. Mengerti?" Sasuke menatap tajam dan lurus ke mata lavender pucat Hinata.

"Y-Ya," Hinata mencoba berani menatap kedua mata hitam Sasuke.

"Bagus." Sasuke tersenyum lembut dan mengangsurkan cermin lipat kembali padanya.

"Ah!"

"Ada apa?"

"T-Tadi H-Hanabi-chan lupa mau memberi tahu t-t-tentang bagaimana caranya pulang." Jawab Hinata membuat Sasuke mengacak-acak rambut Hinata dengan lembut.

"Lupakan kembali ke dunia sihir. Hiduplah disampingku, my lady"

.

.

.

"HIN-ata-nee," Hanabi mendengus ketika sambungan telefonnya di putus.

"Ada apa Hanabi?" Hanabi terkejut ketika Neji tiba-tiba membuka pelan pintu gesernya.

"Ah, N-Neji-nii..hahaha tidak apa-apa hahahaha." Tawa Hanabi canggung mencoba membuat Neji menurunkan pandangan curiganya.

"Apa kau yakinbaik-baik saja, Hanabi?" Neji meraih cermin lipat Hanabi yang ada di atas meja.

Glek

"Y-Ya. Tentu saja Neji-nii!" Hanabi dengan cepat meraih cerminnya sebelum Neji sempat membuka.

"Aku akan mengawasimu terus Hanabi-chan," suara pelan Neji mampu membuat Hanabi terkena asma dengan memandang cermin lipatnya.

'Mati aku!!'

.

.

.

T.B.C


Well, ada yang merasa perubahannya?

Makasih ya yang sudah mau mampir. Mind to reviews? :)

Makasih buat silent readers, terima kasih sudah mau membaca.

Untuk reviewer, terima kasih :)

Ini saya update buat kamu yang sudah beri saya semangat pertama kali setelah fic ini jatuh.

Well, sampai jumpa lagi ;)