Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Memories © Haruno Aoi

Warning: AU, CRACK, OOC, TYPO(S)

Keterangan tambahan:

Konoha = ibu kota

Suna = kota besar

Kiri = desa

Seperti di animanga, antara Konoha dan Kiri dipisahkan oleh laut, tapi tetap dalam satu negara.

.

.

.

Terima kasih banyak kepada para readers dan reviewers…

Sasa, dwi amakusa, Suika Reckless, Ray Ichioza, NAMIKAZE sana-chan, Shaniechan, MyDirthly Diamond, Rufa Kha, Akasuna Nee, ZephyrAmfoter, demikooo, Pik-pik, Aira Mitsuhiko, Ind

Maaf tidak membalas yang review lewat PM…

.

.

.

~Memories~

-2-

.

.

.

Normal pov

Musim semi ditandai dengan pergantian seragam musim dingin yang tebal—yang terkadang ditambah syal, mantel, jaket atau sweater—dengan seragam musim semi yang biasanya mirip dengan seragam musim gugur. Seragam musim semi atau musim gugur biasanya lengkap, mulai dari atasan putih, dasi, blazer atau jas, rompi atau vest, dan rok untuk perempuan serta celana panjang untuk laki-laki.

Bagi Hinata, musim ini menggantikan seragam SMP dengan seragam baru SMA.

Di SMA Konoha, untuk seragam yang ditentukan di musim ini, yaitu atasan putih lengan panjang, blazer warna hitam dengan logo Akademi Konoha di dada kiri, dasi panjang warna abu-abu, ditambah vest berbahan sama dengan blazer dan bawahan. Vest senada dengan blazer dan bawahan yang juga berwarna hitam. Untuk perempuan, di musim semi ini menggunakan kaos kaki hitam panjang selutut dan sepatu pantofel hitam. Murid laki-laki juga menggunakan sepatu pantofel hitam.

Sekarang sudah memasuki bulan April. Satu April. Di Akademi Konoha, upacara pembukaan—Shigyou shiki—untuk memulai tahun ajaran baru dan upacara masuk sekolah—Nyuugaku shiki—untuk menyambut siswa baru, telah selesai dilaksanakan.

Ayah Hinata—Hiashi—yang datang untuk upacara masuk sekolah, sedang pamit ke Hinata untuk kembali ke Kiri. Mereka sekarang sedang berdiri di depan gedung SMA Konoha, seperti halnya beberapa murid lain dan orang tuanya—yang juga siap melepas putera-puterinya untuk tinggal di asrama.

"Kau harus bisa jaga dirimu sendiri, karena kau tidak bisa terus-terusan mengandalkan Neji," tutur Hiashi pada Hinata. Walaupun nada bicara Hiashi terdengar tenang dan tegas, tapi Hinata bisa mendengar dan melihat kekhawatiran ayahnya. Sejak SD, Neji sudah terbiasa sekolah di ibu kota—Akademi Konoha—karena prestasinya. Untuk Hinata, ini adalah pertama kalinya ia jauh dari orang tua. Karena itu, Hiashi merasa khawatir.

"Iya, Otou-san…" jawab Hinata patuh.

"Jangan lupa makan teratur. Itu pesan dari ibumu," lanjut Hiashi.

"Iya." Lagi-lagi Hinata hanya mengangguk patuh.

"Jaga dirimu baik-baik," bisik Hiashi sambil memeluk erat Hinata, seolah tidak rela untuk melepasnya.

Hinata hanya mengangguk di dalam pelukan Hiashi. Ia yang biasanya hanya melihat sikap dingin ayahnya, kini bisa merasakan kehangatan yang ditunjukkan ayahnya secara terang-terangan.

"Sudah, masuk sana. Otou-san akan pulang sekarang," ucap Hiashi sambil melepas pelukannya. "Kalau libur, pulanglah…" lanjutnya sambil mengecup lembut kening Hinata.

Hiashi membalikkan badannya. Berjalan semakin jauh meninggalkan Hinata yang masih terpaku dengan mata berkaca-kaca. Tangan kanan Hinata terus melambai walaupun Hiashi tidak bisa melihatnya lagi.

"Hey!" Tiba-tiba suara Tenten mengagetkan Hinata, sehingga membuat Hinata tersentak. "Gomen, kau kaget ya…" lanjut Tenten menunjukkan wajah menyesal.

"Tidak apa-apa…" ucap Hinata sambil menggelengkan kepalanya.

Jawaban Hinata membuat Tenten kembali tenang dan menunjukkan senyumnya.

"Ayo ke kelas!" ajak Temari.

"Iya…" balas Hinata dan Temari secara bersamaan.

Mereka bertiga menggunakan elevator untuk menuju lantai dua—lantai di mana ruangan kelas satu berada. Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba ada seorang siswi yang berlari masuk ke dalam lift. Membuat Hinata yang hampir keluar, terdorong kembali ke dalam lift.

"Hey, kau! Apa-apaan sih!" seru Temari. Yang tidak tega melihat Hinata hampir terjatuh, jika Tenten tidak menahan Hinata dari belakang.

"Gomengomen… ini darurat…" balas siswi yang rok seragamnya terlihat lebih pendek daripada siswi lain itu.

Akhirnya Hinata, Tenten, dan Temari keluar lift dengan bungkam. Seorang siswi yang kini berada dalam lift sendirian, dengan cepat menutup pintu lift.

"Seenaknya saja…" gumam Temari.

Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka.

"Oi! Kalian bertiga!" Suara menggelegar ini membuat mereka bertiga berhenti dan melihat sumber suara. Seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu dan potongan rambut… nge-bob, sedang berlari ke arah mereka. Sepertinya salah satu guru di SMA Konoha. "Kenapa kalian biarkan si pink itu lari, hah?" lanjutnya setelah berdiri di depan mereka dengan nafas terengah-engah.

"Maksud Gai-sensei… siswi yang baru saja masuk lift?" tanya Tenten sedikit ragu.

"Memangnya siapa lagi!" seru guru yang bernama Gai itu.

"Memangnya kenapa, Sensei?" tanya Temari.

"Dia itu memakai rok yang terlalu pendek, memakai kaos kaki kendur warna-warni, memakai anting-anting, dan membawa ponsel ke sekolah. Jelas-jelas semua itu melanggar peraturan SMA Konoha! Dua temannya sudah berhasil kutangkap. Tinggal dia saja. Dan lagi… rambutnya itu pink! Jangan-jangan dicat! Itu juga melanggar! Bagaimana bisa dia lolos inspeksi, dan ikut upacara masuk sekolah dengan rambut seperti itu!" tutur Gai panjang lebar dengan berapi-api.

"Kenapa Gai-sensei marahnya ke kita?" Tenten angkat bicara.

"Karena kalian juga kelas satu 'kan… Kalian juga harus tahu tentang peraturan SMA ini! Terlebih, peraturan Akademi Konoha!"

"Kami sudah tahu, Sensei…" Temari menambahkan dengan nada bosan.

"Kau, pirang! Rambutmu dicat juga?" tanya Gai sambil menunjuk Temari.

"Ini asli…" jawab Temari tanpa rasa takut.

"Ya sudah… Kembalilah ke kelas!" perintah Gai sambil berjalan meninggalkan mereka bertiga.

Mereka bertiga menghela nafas lega dan meneruskan berjalan ke kelas sambil berbincang.

"Dia pasti siswi baru di Akademi Konoha. Terlihat sekali karena melanggar peraturan." Temari mengawali perbincangan, bisa dibilang… menggosip.

"Maksudmu… seperti aku?" tanya Hinata yang juga merasa menjadi siswi baru di Akademi Konoha. Karena ia baru diterima di Akademi Konoha pada jenjang SMA.

"Iya. Tapi, kau 'kan tidak melanggar…" sahut Tenten.

"Kalian sudah berapa lama di Akademi Konoha?" tanya Hinata.

"Aku sejak SD. Kalau Tenten, sejak SMP," jelas Temari.

"Kami sudah kenal sejak SMP, lho…" tambah Tenten.

"Pantas saja kalian terlihat akrab," gumam Hinata. Tapi, suara Hinata yang pelan masih bisa didengar Tenten dan Temari. "Ngomong-ngomong… kalian berasal dari mana?"

"Aku dari Suna. Saudaraku juga sekolah di sini. Sejak SD, dia selalu duduk di kelas A. Sebenarnya aku iri," jawab Temari, yang sepertinya agak menyimpang dari pertanyaan Hinata.

"Kalau aku, asli Konoha," jawab Tenten.

Jawaban dari dua teman barunya, membuat Hinata merasa minder. Dua-duanya sama-sama dari kota, sedangkan dirinya dari desa. Dua-duanya juga pandai, karena mereka sudah lama menempuh pendidikan di Akademi Konoha—yang menjadi idaman para pelajar di Konoha dan sekitarnya.

"Namamu Hyuuga Hinata 'kan?" tanya Tenten pada Hinata.

"Iya," jawab Hinata sambil mengangguk.

"Apa hubunganmu dengan Hyuuga Neji? Eh, maksudku Neji-senpai…" tanya Tenten ragu-ragu.

"Dia kakakku," jawab Hinata tenang.

"APUAAA?" Suara keras Tenten membuat para siswa-siswi di sekitar mereka, melihat ke arah Tenten. Tenten yang merasa menjadi pusat perhatian, menarik Temari dan Hinata untuk berlari ke kelas mereka. Kelas 1-B.

"Jangan lari-lari di koridor," perintah datar yang datang dari depan kelas 1-A, menghentikan langkah cepat mereka.

"Eh, Gaara…" ucap Temari sedikit kikuk.

Tenten tersenyum dipaksakan. Sedangkan Hinata hanya menunduk.

Si rambut merah yang bernama Gaara itu, terlihat tidak sendirian di depan kelasnya. Ia bersama seorang siswa berambut hitam yang berwajah tenang, dan seorang lagi berambut kuning dengan mata biru yang menyejukkan. Sepertinya, mereka bertiga sedang berbincang sebelumnya.

"Hi, Sasuke-kun…" sapa Temari.

"Hn." Jawaban singkat terkesan dingin meluncur dari mulut Sasuke.

"Hi, Naruto-kun…"

Degh!

Mendengar nama itu, membuat Hinata mendongakkan kepalanya seketika. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat senyum tipis yang diarahkan si rambut kuning kepada Temari.

"Hi juga, Temari…" balas Naruto yang terkesan lebih ramah daripada Sasuke.

"Na..Naruto-kun…" Suara Hinata membuat lima orang lainnya melihat ke arah Hinata.

Temari dan Tenten tidak menyangka kalau Hinata yang baru masuk Akademi Konoha, bisa mengenal Naruto yang pernah menjadi teman sekelas mereka saat duduk di bangku SMP.

"Ya?" Naruto yang semula terlihat tenang seperti Gaara dan Sasuke, berubah sedikit kebingungan saat melihat Hinata. Ia memandang Hinata seperti memandang orang asing yang baru pertama ditemuinya.

Senyum Hinata mengembang saat Naruto balas menatapnya, saat mata lavender-nya menemukan sosok yang sangat ingin ditemuinya.

"Kau…"

Hinata dengan penuh harap menunggu kelanjutan kalimat Naruto.

Naruto masih mengamati Hinata. Alisnya yang berpaut seolah menunjukkan bahwa ia sedang berusaha mengingat sesuatu.

"… siapa?"

Senyum Hinata perlahan memudar…

"A..aku Hinata. Hyuuga Hinata. Ka..kau ingat 'kan?" tanya Hinata dengan gugup dan ragu.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Kita dulu teman satu SD di Kiri…" kata Hinata dengan suara bergetar. "Ka..kau Uzumaki Naruto-kun 'kan… Kau—"

"Kau salah… Aku Namikaze Naruto, bukan Uzumaki Naruto," potong Naruto.

Hinata masih memandang Naruto dengan tatapan tak percaya. Hinata tidak terkejut jika marga Naruto—dari ibunya yang sudah meninggal—berubah, karena mungkin saja yang sekarang adalah marga ayah Naruto. Tapi, yang membuatnya tidak percaya, karena Naruto tidak mengenalnya. Di mata Hinata, sosok yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Naruto teman masa kecilnya. Tapi, kenapa Naruto yang sekarang tidak mengenalnya. Semudah itukah ia dilupakan? Apa waktu enam tahun bisa membuat Naruto melupakannya? Apa mungkin ia bukan Naruto yang dikenal Hinata? Apa mungkin ia hanya mirip Naruto?

.

.

.

~To Be Continued~

.

.

.

Kritik, saran, flame? Terserah mau review dalam bentuk apapun…

.

.

.

~Go Koui~

~Arigatou Gozaimashita~

.

.

.

~Review Please~

.

.

.