Chapter 2

Karena Kami Bersaudara

Disclaimer Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Family

Rate : T

Main cast : Sasuke, Sakura, OC

Cast lain menyusul . . . .

Pair : Sasusaku

Warning : AU, OOC, abal, bahasa non formal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll

Summary :: Dia kakakku, Dia penopang hidupku, dan Dia cinta pertama ku. Sebuah cinta terlarang yang ku rasa dan selalu ku pendam. Terhalang oleh 'dia' yang nyatanya selalu di cintai kakakku. Menangis tiap malam hanya demi mereka. Hingga di akhir hidupnya, aku masih tak sanggup mengungkapkannya. [Bad Summary]

.

.

~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~

.

.

Happy Reading~

.

.

*_**KKB**_*

Italic : Flashback

Bold + Italic : Inner

[Satsuki POV]

Entah aku harus bersyukur atau malah menyesali perasaan yang sudah di berikan oleh kami-sama karena mencintai saudara kandungku sendiri terlebih dia telah lebih dulu mencintai orang lain. Apa kalian tau rasanya cinta sepihak? Seperti lagu lawas asal Indonesia dulu 'ingin ku bunuh pacarmu' hanya saja kata pacar lebih tepat disebut 'incaran.'

Kejadian di atap sekolah kala itu mau tak mau melemparku lagi kedalam kenyataan yang pahit. Oh sial sekali nasibku ini. Orang pertama yang kucintai nyatanya adalah kakakku sendiri. Benar-benar bikin gemes.

Bel tanda istirahat telah berdering. Aku mengusap kasar air mataku dan berlalu menuju kantin. Untunglah air mata ku tidak sederas sinetron-sinetron disana. Sasuke-nii pernah bilang bahwa Sakura telah memiliki kekasih, dia menyebutnya serangga merah berkantung mata norak. Oke itu berlebihan maksudku – hei aku penasaran sebesar apa kantung mata laki-laki itu sampai Sasuke-nii punya sebutan khusus untuknya.

Suasana kantin begitu ramai, mood ku langsung down ketika sampai disana. Bau parfum yang begitu kentara bercampur menjadi satu membuatku pusing. Aku nyaris terjatuh jika saja tak ada seseorang yang menahanku.

DEG

Rambut merah, berkantung mata, dan –

"Kau tak apa?" suaranya mirip dengan Sasuke-nii. Begitu datar.

Aku mengangguk kikuk "A-aku baik-baik saja" laki-laki itu mengangguk pelan dan pergi begitu saja. Hei.. aku bahkan belum meminta maaf.

"A-ano.. eh? Kemana dia?" aku hendak mencarinya jika saja sebuah teriakan menginterupsi membuatku terdiam

"Satsuki-chaaaan!" Yeah.. trouble maker datang.

"Bisakah kau tidak teriak seperti itu, dobe?" Sasuke-nii berucap ketus.

Naruto-nii mendengus pelan "Kau tidak asik, teme."

"Sedang apa kau disini hm? Tidak makan?" Tanya Sasuke-nii. Oh jantung sialan bisakah kau berdetak normal?

"Ramai sekali di – "

"Gaara-kun!" ucapanku terhenti tatkala mendengar teriakan Sakura. Aku bisa melihat pandangan sendu Sasuke-nii. Tau kah kau bahwa bukan hanya dirimu yang terluka disini?

Tanpa peduli pada Sasuke-nii, gadis pink itu menghampiri Gaara dan duduk disampingnya. Dapat kulihat Gaara mengelus pelan rambut Sakura sekilas dan kembali melanjutkan makannya. Hebat! Bahkan tindakan kecil itu tak ada yang menyadari? Laki-laki itu benar-benar pandai mencari timing yang pas untuk merespon tindakan Sakura tanpa di deteksi oleh yang lain.

"Cih.." Sasuke-nii mendecih begitu pelan dan pergi dari kantin dengan tangan terkepal. 'Sasuke-nii.." diam-diam aku meremas rok pendekku.

"Hei teme, kau mau kemana?" Naruto dan yang lain mengejarnya dan yah aku ditinggal. Good job. Terima kasih banget lho!

.

.

Kami tiba di markas The Libels. Sebuah ruangan yang cukup komplit. Ada 4 sofa, kamar mandi, AC, dapur mini, dan beberapa meja kantor dengan sebuah laptop diatasnya. Benar-benar mirip apartemen.

"Kau ini kenapa sih, teme?" Naruto-nii kembali memberondong pertanyaan.

Shikamaru menguap bosan "Kau bodoh atau gimana sih Naruto? Jelas-jelas dia cemburu melihat pasangan GaaSaku."

Cukup..

"E-eh? Jadi karena itu?" Ucap Naruto-nii. Benar-benar laki-laki itu..

"Sasuke sampai kapan kau mau memendamnya?" Hening.

Cukup..

"Sasuke benar-benar mencintainya ya?" 'Ino-nee cukup!'.Aku mengepalkan tanganku.

"Sasuke benar-benar pengecut untuk – "

BRAK!

"CUKUP! kenapa? Kenapa kalian terus membicarakan hal yang buruk tentang Sasuke-nii? Dia bukan pengecut dan dia TIDAK mencintai Sakura!"

'Cukup sudah! Aku tidak bisa bertahan lebih lama disini'. Aku berlari keluar tanpa menoleh sedikitpun kebelakang setelah menggebrak meja. Jujur aku takut. Takut karena menyinggung mereka. Tapi entah kenapa emosiku memuncak seketika mendengar bahwa Sasuke-nii mencintainya sekalipun itu benar.

Aku sampai di sebuah taman kecil di belakang ruangan The Libels. Aku duduk memeluk kedua lututku. Menangis sejadi-jadinya dan menyesali perbuatanku. 'Minna.. gomen ne'

GREP

"Sa-sasuke-nii" dia memelukku. Menenggelamkan wajahku di dadanya yang hangat. Wangi tubuhnya benar-benar memabukkan.

"G-gomen ne onii-chan. Aku benar-benar tidak terima dengan itu semua. hiks.. A-aku – "

"Aku tau. Mereka benar, aku memang pengecut. Dan mereka benar, bahwa aku.. mencintai Sakura. Lebih dari yang mereka tau. Aku.. mencintainya Satsuki. Sangat." Dan pelukannya semakin mengerat disertai suaranya yang terdengar lirih dan menyakitkan.

DEG

'Itaiiyo.. Aku tau itu Sasuke-nii. Aku bahkan tau sebesar apa perasaanmu padanya. Karena aku juga merasakannya. Tapi mendengar kata-kata itu langsung darimu terasa amat menyakitkan.' Aku menangis. Meremas kuat seragamnya. Menyalurkan sakit yang kurasa berharap ia bisa merasakannya.

.

.

.

[Author POV]

Hari-hari terus berlanjut. Kisah cinta mereka kian menyakitkan dan cukup untuk menyulutkan api pertengkaran. Satsuki tidak membenci Sakura, hanya saja ketika ia teringat perjuangan kakaknya untuk terus memendam perasaannya, itu menyesakkan untuknya. Bahkan untuk melihat wajah Sakura pun ia tak sanggup. Satsuki begitu ingin membicarakan ini pada Sakura. Ia ingin tau perasaan Sakura meskipun ia tau bahwa diantara kakaknya dan Sakura ada Gaara yang berstatus kekasih Sakura.

Sementara itu, di atap sekolah…

GREP

"Sudah menunggu lama?" bisik Gaara sambil tetap memeluk gadis pink dihadapannya dari belakang penuh posesif. Gadis yang biasa disapa Sakura itu menggeleng pelan.

Setelah mencium pipi Sakura, Gaara berpindah berdiri disamping Sakura. Menatap taman sekolah dari atap. Mereka hanya terdiam hingga bermenit-menit kedepan.

"Bagaimana pertandingan basketmu lusa nanti, Gaara-kun?" Tanya Sakura masih menatap taman.

"Siap. Kau pasti datang menontonku kan?" Gaara menatap Sakura. Berbalik untuk berhadapan dengannya.

Sakura melakukan hal yang sama "Aku ingin. Tapi tidak ada kendaraan untuk kesana."

"Biar ku jemput dirumah mu." Sahut Gaara. Sakura sontak menatapnya bingung.

"Tidak takut dicurigai yang lain kalau kita tiba disekolah bersama? Atau biar Sasuke-nii yang menjemputku." ada sedikit penolakan disana.

"Kau itu kekasihku Sakura.. Lagipula ini keputusanku. Mengerti?" tegas Gaara 'Sasuke.. Selalu Sasuke.'

Sakura mengangguk mengerti membuat Gaara tersenyum. Laki-laki itu mendekat dan mencium kening Sakura dengan lembut. Meraih pinggangnya dan memeluknya erat.

Sementara di kejauhan, sesosok laki-laki berambut raven menatap mereka dengan pandangan sakit. Tangannya mengepal melihat adegan tersebut. Di sisi lain, tak jauh dari tempat laki-laki itu, seorang gadis bersandar di tembok sambil memegangi dadanya.

'Lagi-lagi pandangan itu. Kami-sama.. berikan kami kekuatan menghadapi orang yang kami cintai. Ku mohon..' Satsuki berlari meninggalkan tempatnya. Tak lama, Sasuke mengikutinya untuk meninggalkan tempat dimana ia melihat semuanya.

.

.

.

TBC

Holla… chap 2 hadir. Pendeknya? Gomen ne.. emang sengaja ga dibikin panjang. Oke ga perlu panjang-panjang mohon riview nya yaaa…