Disclaimer : Masashi Kishimoto/ Kishimoto Masashi
Story : Punyaku ya, sodara-sodara(?)
Insaf Chapter 2
Please enjoy
Insaf
By Cavallone-Vesavillius Vanilla
Chapter yang lalu...
"Kiba, nanti datanglah ke rumahku. Yang lain juga datang, please?" kata Kankurou sambil memohon kepada teman-temannya.
"Umm... Baiklah." jawab Kiba, disertai anggukan dari murid yang lain.
"Kiba! Kau akan dilatih menjadi seorang pribadi yang baik selama 1 minggu!"
Chapter 2
"Kiba! Kau akan dilatih menjadi seorang pribadi yang baik dalam 1 minggu!"
"Hah? Kalian tidak usah berbuat hal semacam itu, Kankurou!"
"Sudahlah, Inuzuka-kun."
Kiba tengah berkeringat dingin saat ini. Entah karena dorongan apa yang membuat para teman-temannya menjadi... Baik?
"Kita pasti bisa menyelesaikan tantangan dari si jelek itu! Udah jelek, idup lagi!" seru Ino menyemangati, sedikit mengejek juga.
"Minna..."
"Kiba, ayo berjuang bersama-sama." sahut Naruto. "Arigatou gozaimashu, minna." ucapnya sambil tersenyum.
"Paling-paling tidak akan bertahan lama" ujar Sumaru dengan nada yang -sangat- sinis. "Lupakan saja.".
"Jangan sombong! Enak sekali kau berkata hal macam itu! Mentang-mentang paling kaya di sekolah ini!" jawab Tenten memperingatkan.
"Ucapan dan perbuatan paling-"
DAAK!
Tenten melempar penghapus papan tulis dan langsung mengenai kepala Sumaru. "Jangan remehkan aku, buto ijo!" teriaknya. "Wow, Headshot... Wahahaha!" komentar anak-anak di kelas itu sambil tertawa-tawa. Kiba ikut menahan tawanya.
"Orang yang luarnya bagus tapi dalamnya jelek adalah sampah." kata Suigetsu, memainkan action figure-nya.
"Enak saja!"
"Pokoknya, kalian yang ikut mendukung Kiba harus tiba di rumahku sore ini!" ancam Kankurou. "Kankurou... Aku merasa tidak enak terhadap kalian..." kata Kiba sambil tertunduk. "Kenapa begitu?" tanya Kankurou.
"Karena... Aku 'kan telah menyakiti kalian semua dan menimbulkan beban yang berat."
"Hm, tidak apa-apa kok." Sahut Kankurou.
"Kalau begitu... Gomenasai! Gomenaisai! Gomenasai, minna!" ucap Kiba, membungkuk-bunkukkan badannya berkali-kali. Kankurou tersenyum. "Ya. Tidak mungkin kami tidak memaafkanmu.".
"Bagaimana dengan kelas lain? Aku sudah banyak membuat onar kepada anak-anak kelas A! Bagaimana kalau mereka tidak akan memaafkanku?" tanya Kiba penuh emosi. "Oi, tidak perlu pakai emosi. Nanti aku akan bicara kepada Gaara dan Neji mengenai hal ini, waktu istirahat pertama. Tenang saja! Serahkan kepada Kankurou-sama!"
"Baiklah. Tapi jangan bicara yang macam-macam! Jangan mengada-ada cerita yang tidak ada!" ucap Kiba, singkat. "Tentu. Orang yang berbohong sama saja dengan orang yang tidak berguna."
"Arigatou..."
"Halah, banyak gaya se-"
DUAK!
Sebuah sepatu berukuran 38 terlempar dari depan kelas dan sukses mengenai wajah Sumaru. Pelakunya tak lain adalah Temari.
"HEH! Jangan bicara sembarangan ya! Awas kau!" ancamnya. "Cih.".
Kakak yang terlalu overprotective...
"Anak-anak, waktunya siap untuk pelajaran! Keluarkan buku Bahasa kalian!" seru wali kelas yang datang tiba-tiba, Kurenai Yuuhi-sensei.
"Kurenai-sensei, bukankah belum bel? Kenapa sudah dimulai?"
"Belnya rusak. Sedang ada perbaikan di tower sekolah." jawab guru muda itu. Semua anak ber-"Oh" ria.
Kurenai lalu menutup pintu kelas dan menguncinya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan anak-anak yang terlambat masuk.
"Sensei, bukankah masih ada anak yang belum masuk?" tanya salah seorang murid di pojok kelas. "Tidak akan ada ampun lagi. Kemarin 'kan kita sudah bersumpah. Ya 'kan Kiba?" tanya Kurenai. "I-iya sensei."
"SENSEIII!" seru Lee dengan kencang. "Kami sudah berjanji akan merubah Kiba-kun kok, bu! Tanya saja pada Kankurou-san!"
"Lee?"
"Itu benar, sensei! Demi Inuzuka-kun, kami rela melakukan apapun untuk merubahnya menjadi orang yang lebih baik daripada orang yang sebelumnya! Kami yakin dengan hal itu!" seru Sasame menambahkan.
"Fuuma-san?"
"Yup. Ayahku sering berkata,"Lebih baik mantan penjahat daripada mantan kyai. Karena bisa saja mantan penjahat menjadi seorang kyai, dan mantan kyai bisa saja menjadi seorang penjahat." jelas Ino.
"Kerja yang bagus. Apa sensei ini boleh ikut?" tanya Kurenai sambil tersenyum. "Boleh. Tentu saja."
BRUAAAK!
Pintu didobrak dengan keras. Tampak seorang berambut silver-lurus masuk. Pintunya menjadi rusak.
"Ohayou gozaimashu, minna..." kata Sakon dengan malas, disusul Kidomaru, Jirobo dan Tayuya di belakangnya.
"Dasar anak tidak sopan! Berani sekali kau mendobrak langsung pintu ini! Sudah yang keberapa ini, hah?" tanya Kurenai dengan sedikit membentak. "Setiap hari, sensei. Memangnya ada apa?"
"Hari ini kau dihukum untuk-"
"Untuk membersihkan kamar mandi? Sudah sering, sensei. Ganti kenapa?"
"Cepat ke ruang Kepala Sekolah! Kiba, tolong antarkan mereka!" perintah Kurenai. Kiba mengangguk. "Ha'i!".
"Sensei, bolehkah aku ikut?" seru Naruto sambil berdiri. Kurenai mengernyitkan alisnya. "Apa? Ikut dihukum?".
"Bu-bukan begitu, sensei! Ma-maksudku ikut mengantar mereka ke ruang Kepala Sekolah... Untuk mengantisipasi kalau adanya... Yang tadi itu lho, sensei..." jawab Naruto gelagapan. Kurenai menyetujui. "Baiklah kalau begitu. Aku izinkan, Naruto.".
"Uwaaaaaaaaah! Arigatou, sensei! Ayo semuanya, JALAN... GRAK!"
"Ayo yang lain kerjakan halaman 206 pilihan ganda!"
Cavallone-Vesavillius Vanilla
"Satu, dua, tiga, majuuu... Jalan!"
"Huft..."
"Naruto, hentikanlah."
"Diamlah anak bodoh!"
"Apaan sih? Pokoknya, MAJUU... JALAN!"
Beginilah suasana berisik yang 'diterapkan' oleh Naruto. Sepanjang perjalanan, ia hanya memerintahkan sesuatu yang tidak jelas dan tidak berujung.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang di belakang mereka. Suara baritone-nya terdengar jelas di telinga. Ternyata ialah Neji Hyuga, ketua kelas 11-A.
"Neji? Sedang apa kau disini?" tanya Naruto. Neji mengernyit. "Bukankah aku yang bertanya kepada kalian, huh?"
"Oh, kami sedang mengantarkan mereka ber-4." jawab Naruto sambil meringis. "Apa maksudmu dengan ber-4? Kami?" tanya Neji. "Oh!"
"Aku belum memberitahumu. Hari ini, Kiba belum melakukan sebuahpun kesalahan seperti hari kemarin. Jadi kami ber-2 yang mengantarkan ke-4 tersangka ini." jelas Naruto panjang lebar.
Yang dibilang tersangka tadi menatap Naruto dengan tajam.
"A-ano, Neji..." akhirnya Kiba angkat bicara. "Hm?"
"GOMENASAI, NEJI! GOMENASAI!" seru Kiba, membungkuk-bungkkan badannya berkali-kali. Naruto sweatdrop.
"Tentang?" tanya Neji. Kiba keheranan. "Apa? Kau tidak , menyadari?"
"Kau ini bicara apa, Inuzuka?"
"Yah... kemarin 'kan... kau dan... um... Tenten... A-ano... sengaja kutabrakkan denganmu dan... dia..."
"Inuzuka, kalau bicara yang jelas!" tegur Neji dengan tegas. Kiba menghentikan aktifitasnya.
"Yah... kemarin itu... kau dan Tenten... lalu... 'kan aku merasa tidak enak kalau kalian... berjauhan? Kalian 'kan sudah kenal dari kecil?"
"Oh. Tidak ada apa-apa. Kami masih berteman kok." jawab Neji, kalem. Kabi menghela nafas panjang.
"Syukurlah kalau begitu. Sekali lagi, maaf ya!"
...
...
...
Tok... tok... tok...
"Masuk!" seru seseorang dari dalam ruangan.
"U-Uzumaki?" tanya kepala sekolah dengan wajah setengah tidak percaya. Yup, Tsunade-shisou.
"A-ano, Saya dan Kiba kemari karena kami disuruh oleh Kurenai-sensei mengantarkan mereka." jelas Naruto. Tsunade manggut-manggut. "Kukira kau yang dihukum."
Pandangan Tsunade beralih pada Kiba.
"Hmph, belum berulah 'kan, Inuzuka?" tanya Tsunade dengan jahil. Kiba terlonjak. "Te-tentu saja belum! Akan saya usahakan untuk tidak melakukan hal itu, shisou!"
"Anak pintar..."
Anak pintar? Kedengarannya aku malah seperti hewan peliharaan, pikir Kiba sambil membayangkan seekor anjing yang mengejar bola yang bisa berbunyi,"Ckiiit!", layaknya bunyi mainan anak-anak dan sepatu bayi yang berbunyi jika ditekan keras-keras.
Kenapa malah sampai ke sini?
Tak tahu lah.
Te-tentu saja bukan begitu!, pikirnya lagi.
"Saya ingin lihat, mana pelakunya? Jangan katakan kalau-"
Dan benar saja. Mimpi buruk bagimu, Tsunade!
Empat orang anak kelas 5-B yang berjalan beriringan dengan memasang tampang innocent, bagaikan mereka tidak terikat apapun yang berhubungan dengan masalah besar. Yup, Sakon, Kidomaru, Jirobo, dan Tayuya berjalan dengan santai. Urat-urat kemarahan mulai muncul di kepala Tsunade.
"Kalian... Kalian tidak tahu malu! Kali ini, kalian dihukum-"
"Membersihkan kamar mandi? Bosan, shisou! Udaranya lembab, menjijikkan pula!" sela Kidomaru meremehkan, dan sukses mendapatkan jitakan keras dikepalanya.
"JANGAN SEMBARANGAN! KAMAR MANDI ADALAH TEMPAT YANG MULIA! TANPA KAMAR MANDI, KALIAN PASTI AKAN MATI DETIK INI JUGA KARENA TIDAK PERNAH-"
"Cu-cukup, Tsunade-shisou. Jangan katakan hal 'itu' disini." sela Shizune. Yang lain sweatdrop. "Maaf."
"Hmph! Pokoknya kalian mendapat tambahan! Kalian harus membersihkan SELURUH SEKOLAH setiap hari sampai lulus!" perintah Tsunade dengan penekan pada kata "Seluruh Sekolah".
"Tidak mau."
Naruto dan Kiba mulai merasakan firasat yang tidak enak.
"Oi, Kib"
"Hm?"
"Kabur dari sini, yuk."
"Apa?"
"Yup, kabur dari sini. Aku mulai merasakan firasat yang tidak enak."
"Sebetulnya aku juga..."
"Ya sudah. Ayo kabur sa-"
BRUAAAAAAAK!
"...ja..."
Ternyata Tsunade menggebrak meja di depannya dengan keras. Pakai emosi.
"KAALIIIAAAAN! AWAS KALIAAN!" teriak Tsunade, mengangkat meja guru tanpa bantuan orang lain ke arah mereka berempat. *Shizuo mode : ON*
BRUUUAAAAAAK!
"TIDAK ADA AMPUN! HEAAAAAH!" kini, Tsunade melempar foto-foto bagaikan melempar kunai. Tapi mereka menghindar dengan cepat.
PRAAAAAAANG!
Kaca-kaca yang pecah berserakan dimana-mana.
"Tsu-Tsunade-shisou! Hentikan! Kalau tidak, ruangan ini akan-"
"SAKON! KIDOMARU! JIROBO! TAYUYA!" teriak Tsunade, melempar kursi dan sofa.
"UWAAAAAAAAH!"
BRUAAAAAAAAAAK!
"Shizune-sensei, lebih baik kalau sensei memanggil seluruh orang di sekolah ini agar dapat menghentikan err... Amukan?" usul Naruto bergidik ngeri.
"Ide yang bagus. Kiba, kau mengevakuasi barang-barang yang berceceran di ruangan ini bersama Naruto!" perintah Shizune, meninggalkan ruang kepala sekolah dan berlari sekencang-kencangnya.
"Ha'i!" jawab mereka berdua. Kursi-kursi yang tidak pada tempatnya mereka kembalikan ke tempat semula.
"WEEE' Tidak kena! Tidak kena!" seru Kidomaru yang berhenti tepat di depan Kiba.
"Ki-Kidomaru?"
"AWAS KAU ANAK NAKAAL!
BRUUUUUSH!
Dua buah bantal dilempar dan dibelah menggunakan gunting untuk dijadikan pengecoh. Terlihat semacam bulu-bulu halus beterbangan di sana-sini. Kesan pertamanya adalah : Indah.
"Sugoi..." kata Naruto lirih. Baginya, ini malah seperti pertunjukan musikal.
"Bye-bye!" seru Tayuya, meninggalkan kelas. Tsunade yang melihat ini tidak tinggal diam. "TUNGGU KAU, ANAK NAKAL!" teriaknya. Tsunade membawa kursi lipat sebanyak empat buah.
"Tayuya!" seru Sakon dari belakang. Ia ikut menyusul keluar.
"Kiba, ayo kita hentikan mereka! Jangan sampai mereka memasuki area kelas! Bisa gawat kalau kelas-kelas di sekolah ini hancur lebur!" seru Naruto, padahal Kiba ada di sampingnya persis.
"Hm. Tapi jangan teriak-teriak. Aku tidak punya penyakit telinga macam dirimu."
"Baiklah."
Naruto dan Kiba berlari menuju ke kelas mereka, 5-B. Dengan tergesa-gesa, mereka berteriak,"Bahaya! Bahaya!"
"Bahaya apa, huh?" tanya Kakashi yang datang dengan wajah memelas. "Kakashi-sensei? Tsu-Tsunade-shisou! Shisou mengamuk setelah-"
BRUAAAAAK! SRAAAAK!
Suara pohon tumbang mengagetkan seluruh warga sekolah. Dengan hati-hati, Kakashi mengintip dari balik pilar yang cukup besar. Ia melihat adegan-adegan yang biasanya diperankan oleh pemain film kelas atas. Kakashi kebanyakan menonton film.
"Ini gawat. Kita harus memanggil seluruh guru yang ada!" kata Kakashi dengan tegas.
"Perhatian-perhatian, diharap seluruh warga sekolah berusaha untuk menghentikan Tsunade-shisou yang- KYAAAA!"
PET!
Suara yang berasal dari megaphone terhenti. Listrik padam. Rupanya Tsunade telah merusak sumber listrik.
"Hm. Arigatou." ucap Kakashi, menutup telepon.
"Telepon siapa sensei?" tanya Naruto. "Angkatan Darat dan Angkatan Udara." jawab Kakashi.
"NA-NANIII?"
Dan benar saja. Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah berada di depan sekolah. Mereka memanjat pintu gerbang karena pintunya terkunci. Suasanya chaos.
Tiba-tiba, handphone Kakashi berdering.
"Moshi-moshi? ... Ha'i." pembicaraan selesai.
"Siapa lagi, sensei?"
"Shizune-sensei. Dia memintaku untuk memberitahukan kepada murid-murid agar cepat diliburkan."
"Ka-kalau begitu, aku akan ke kelas saja! Ayo, Naruto!" seru Kiba, berlari meninggalkan Kakashi. "Yare, yare... Anak jaman sekarang..."
Kiba berlari dengan cepat. Naruto merasa sesak. Jantungnya berdetak cepat akibat berlari tadi. Kepalanya seperti terbentur dinding berkali-kali. Ia memutuskan berhenti.
"Ki-Kiba... hosh... tunggu... a-aku... hosh...hosh..." kata Naruto setengah berteriak. Ia malah kelihatan seperti orang yang barusan mandi keringat.
"Tidak bisa, Naruto! Kita harus-"
"Inuzuka, Uzumaki! Ambil tas kalian, dan cepatlah pulang ke rumah!" seru Kurenai memperingatkan. "Na-nani? Tidak mungkin sudah separah itu!"
"Sudahlah. Turuti kata Kurenai-sensei, Kiba." saran Naruto. Kiba berhenti. "Baiklah."
"Kiba! Naruto! Ayo cepat datang ke rumahku sebelum sekolah ini hancur!" teriak Kankurou dari dekat ruang UKS. Ia sudah membawa tasnya. Teman-temannya pun juga sama.
.
.
.
"Hooaaaam~ Kalau kita tidak beranjak dari tempat mengerikan itu, mungkin kita sudah mati... Mendokusei..." ujar Shikamaru sambil menguap lebar-lebar. Sepertinya ia tidak menyadari kalau ada lalat yang pingsan karenanya.
"Shikamaru, jaga sopan santunmu. Ini tempat umum, bukan kamarmu." tegur Neji sambil melipat kedua tangannya. Matanya memincing tajam daripada yang sebelumnya.
"Iya, iya, aku tahu itu."
"Hei, lihatlah teman-teman!" seru Kankurou sambil menunjuk seorang nenek-nenek yang diperkirakan usianya sudah mencapai 70-an tahun. Ia membawa setumpuk belanjaan dari supermarket. Nenek itu tampak ragu-ragu ketika ingin menyeberang jalan.
"Apa hubungannya, Kankurou-san?" tanya Matsuri berkacak pinggang. Kankurou nyengir. "Basic job! Kiba, kau harus membantu nenek itu menyeberang jalan! Tidak ada tapi-tapian!" perintahnya. Kiba menggerutu.
"Tahu saja kau ini. Baiklah akan aku lakukan..."
Kiba berjalan mendekati nenek itu. Sekalian saja, arah rumah Kankurou sama arahnya dengan arah yang dituju nenek itu. Anak-anak yang lain duduk manis untuk menonton pertunjukan pertama.
"Permisi, bolehkah saya membantu nenek?" tanya Kiba dengan ramah. Mata nenek itu berbinar-binar. "Benarkah? Kau memang anak yang baik." puji nenek itu.
"Tidak juga, Nek. Mari saya bantu!"
"Tolong angkatkan belanjaan nenek ya! Antarkan juga belanjaan nenek! Nenek sudah tua!" kata nenek itu. Ia memberikan dua kantung plastik belanjaan yang penuh dan berat. Kiba terlihat sedikit keberatan. Teman-temannya mengikik pelan.
"I-iya, Nek..." jawab Kiba. Ternyata nenek itu bisa menyeberang sendiri. Kankurou cengo' di tempat. Tinggal ia yang kesusahan membawa belanjaan nenek itu. Orang-orang yang sekedar lewat ikut terkikik.
"Kasihan sekali sih, si Kiba! Hihihi..."
"Hm, ternyata nenek itu masih sehat toh?"
"Wahahaha... Kiba seperti dimanfaatkan saja."
"Bisa juga nenek itu! Ternyata ia masih punya semangat masa muda yang tinggi! Daku terharu... Daku terharu pada nenek itu... Nenek itu begitu keren! Daku ingin meminta tanda tangannya... Huhuhu..."
"Ayo cepat nak!" seru Nenek itu dari seberang. Kiba tertawa miris. "I-iya!"
"Aku bantu, teman." Ucap Naruto dari belakangnya. Kiba tersenyum. "Arigatou, Naruto."
Mereka berdua menyeberang jalan dengan hati-hati, agar belanjaan tidak jatus dan berakhir dengan terlindas truk gandeng. Yang lain mengikuti dibelakang. Akhirnya sampailah mereka di rumah sang nenek.
"Arigatou Gozaimashu... Sebagai ucapan terima kasih, nenek akan memberikan ini." ujar Nenek itu sambil memberikan sebuah pohon mangga yang masih kecil. Pohon itu ia taruh di dalam pot.
"A-arigatou Gozaimashu... Apakah tidak apa-apa, nek?" tanya Kiba. Dari nadanya, ia terlihat sungkan. "Tidak apa-apa... Nenek tidak keberatan, nak."
"Kalau begitu, Arigatou Gozaimashu!" seru Kiba sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Yang lain tertawa.
"Datanglah kapanpun kau mau, nak!"
"Hm. Arigatou..."
.
.
.
Krek.
Pintu dibukakan oleh Gaara. Kankurou membuka pintunya lebar-lebar.
"Okaeri."
"Mari masuk!" ajaknya. Yang lain gembira.
Sementara itu, Gaara memilih untuk menonton berita di televisi daripada harus berurusan dengan orang-orang yang berisik.
"Um... Kankurou?"
"Nani?"
"Apakah... boleh menanam pohon mangga ini di pekarangan rumah ini?" tanya Kiba harap-harap cemas. Kankurou mengangguk. "Yup. Siapa bilang tidak boleh?"
"Arigatou..." ucap Kiba. Ia meletakkan pot itu di pinggir taman. "Hahahaha..." tawa Kankurou. Kiba mengernyit. " Ada apa?"
"Hm... Bukan apa-apa."
"Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat masuk!" perintah Temari. Ia memakai celemek masak. Kankurou dan Kiba masuk ke dalam rumah.
Di dalam, terlihat Gaara yang sedang berdiam diri. Pandangannya lurus ke depan.
"A-ano, Gaara-san..."
Gaara menoleh tanpa merespon.
"GOMENASAI, GAARA!" seru Kiba membungkuk-bungkukkan badannya berkali-kali. Yang lain tersenyum senang.
"Aa." jawab Gaara singkat. Entah itu jawaban iya atau tidak. Ia kembali menonton televisi.
"Yokatta! Ayo semuanya, kita naik ke atas!" ajak Kankurou, berseru. Yang lain mengikuti, kecuali Gaara. Dia sedang menonton berita di televisi dengan serius.
BREAKING NEWS
Selamat sore, pemirsa. Kami akan menyuguhkan berbagai macam berita yang terjadi beberapa saat yang lalu, bersama saya, Yakumo Kurama.
Ya, berita kali ini, Kepala Sekolah Konoha International Highschool menghantamkan berbagai macam benda-benda disekitarnya dan menyebabkan 27 kelas hancur tak tersisa, 16 orang luka ringan, dan 39 luka serius dan harus dirawat di rumah sakit.
*Ganti ke lokasi kejadian*
*Narasi*
Hari-hari yang indah di Konoha International Highschool tergantikan dengan mimpi buruk. Pagi ini, kepala sekolah Konoha International Highschool mengamuk dan membanting benda-benda di sekitarnya seperti kursi lipat, tempat sampah,hingga pohon beringin terbesar di sekolah ini. Menurut saksi mata, sang Kepala Sekolah kesal terhadap empat orang anak dari kelas 11-B yang sering melanggar tata tertib di seklah selama dua bulan berturut-turut. Hal ini mengakibatkan 27 kelas hancur, 16 orang luka ringan, dan 39 luka serius, sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kerugian ditaksir sebanyak 1,5 miliar...
Pip.
Televisinya dimatikan.
Cavallone-Vesavillius Vanilla
"Ayo semuanya, silahkan duduk! Maaf ya berantakan." ujar Kankurou mempersilahkan. Yang lain malah terkikik.
"Ini sih, seperti kapal pecah." sahut Sai dengan tampang innocent. Kankurou cemberut. "Enak saja. Ini sudah kubersihkan satu bulan sekali!"
"Satu bulan? Kenapa lama sekali?" jawab Sai sambil membereskan kamar Kankurou. Yang lain ikut membantu.
"Sekarang kita tidak bicara tentang kapal pecah atau apa. Sekarang kita bicara tentang Kiba, dan bagaimana caranya agar dia bisa menemukan jati dirinya yang telah hilang beberapa tahun lamanya karena ajaran yang salah dari kalayak ramai." jelas Kankurou panjang lebar. Kiba mengernyit.
"Kalimatmu yang barusan bagaikan aku adalah mantan homoseksual, Kankurou." katanya sambil melipat kedua tangannya di dada. Anak perempuan terkikik sampai wajah mereka memerah. Tahu 'kan maksudnya?
"Maaf, kawan. Kalau kau mantan homoseksual pasti-"
"SSssshh! Sudahlah Kankurou! Dari tadi, kau bicara tentang homoseksual melulu!" sela Temari. "Lagipula, kau mau kusamakan dengan para homoseksual di luar sana?" lanjutnya seraya menaruh cangkir teh di meja. Kankurou menggeleng cepat. "T-tentu saja tidak! Aku 'kan masih normal?"
"Ya sudah!"
Hening.
"Ceritanya bagaimana sih? Kenapa sampai ke homoseksual segala?" tanya Sakura tidak sabar.
"Namanya juga orang aneh. Biarkan saja, Haruno." lerai Sasuke sambil memberikan secangkir teh pada Sakura. Yang lain bertepuk tangan(?).
"Pelajaran pertama! Kiba, bagaimana cara mengucapkan kalimat "Selamat Pagi!" dengan benar?" tanya Kankurou tiba-tiba. Kiba terkaget-kaget.
"Heeeee? Kenapa malah seperti casting pemilihan calon pemeran utama, sih?" tanya Kiba, balik. Kankurou menggeleng.
"Yang namanya orang baik itu harus punya tata krama yang bagus di kalayak ramai. Agar bisa disegani maksudnya. Kalau disegani orang 'kan perasaan jadi senang? Cari teman, gampang. Cari kerja, juga gampang. Meskipun nggak gampang-gampang banget. Bahkan cari istripun, gampang."
"Kankurou, belum saatnya kau membicarakan tentang mencari istri. Kasihanilah anak-anak laki-laki yang ingin cepat-cepat menikah layaknya Shikamaru itu." tegur Shino dengan tatapan dingin.
"Hei?"
Kankurou meringis. "Maaf deh."
"Baiklah, akan kucoba semampuku." jawab Kiba sambil berdiri. Kankurou tersenyum puas.
"Itu baru namanya laki-laki!" seru Kankurou meledek. Kiba cemberut lagi.
"Memangnya selama ini kau berpikir kalau aku ini banci?" tanyanya.
"Sepertinya."
"Dasar kau ini."
"Cepatlah. Tidak usah banyak bacot!" lerai Shikamaru sambil menguap.
"Selamat Pagi!" seru Kiba sambil tersenyum manis, posisi tubuh siap dan tegap, tangan sedikit diulurkan, tanda ingin berjabat tangan. Hal itu membuat para anak perempuan yang masih jomblo terpesona sejenak.
"That's a good news! Acting-mu bagus sekali lho!" seru Kankurou memuji. "Aturan, kau harus bisa menerapkan hal yang barusan itu ke kehidupanmu sehari-hari." lanjutnya. Kiba hanya manggut-manggut.
"Akan kuusahakan." jawabnya mengiyakan. Yang lain ikut manggut-manggut.
"Ayo teman-teman! Kita pasti menang melawan si jelek yang idup itu!" seru Ino menyemangati. Yang lain setuju.
"Yosh!"
Cavallone-Vesavillius Vanilla
Rombongan anak-anak memasuki gerbang sekolah dengan antusias, termasuk Kiba. Walaupun ia belum merasa siap untuk menanggung beban yang akan terjadi, dia tetap mengusahakan santai, atau bahasa kerennya, easy going. Walaupun hasilnya tidak memuaskan seperti yang ia kira, ia akan terima apa adanya. Walaupun ia hanya mendapat tatapan sinis dari teman-temannya ia biarkan saja. Toh juga kalau ditanggapi yang rugi diri sendiri bukan? Itu sudah menjadi tekadnya, sebagai Kiba yang baru, bukan sebagai Kiba di masa urakan.
"Selamat pagi!" sapanya ketika pertama kali masuk ke kelasnya. Ia melakukannya sama seperti latihan di rumah Kankurou kemarin sore. Senyum, badan tegap, melambaikan tangan. Tapi yang paling bahaya kalau gaya bicara yang melambai.
"Selamat pagi!" balas mereka serempak. Senyum cerah terukir di wajah para anak-anak di kelas itu. Kehangatan mulai menyelubungi kelas itu. Bagaikan saudara yang tidak terpisahkan, mereka akan selalu bersama.
"Selamat pagiii..." sapa Sumaru ketika sampai di kelas. Hanya jawaban yang tidak memuaskan terlontar dari siswa-siswi di kelas itu. Tetapi Sumaru mengacuhkannya.
"Oi Sumaru!" panggil Kankurou sambil mendekat ke bangku Sumaru. Sumaru membalasnya dengan tatapan sombong. "Ada apa, bocah bercat?"
"Enak saja memanggilku begitu! Dasar rumput laut!" balas Kankurou. Sumaru melipat kedua tangannya.
"Huh, bodoh sekali. Rumput laut 'kan tanaman laut yang indah. Melambai-lambai jika arus datang. Menjadi sumber kehidupan bagi kita, para manusia. Rumput laut membuat keindahan laut lebih tampak dibandingkan tidak ada satupun rumput laut yang tumbuh. Bagaimana, huh?"
Memang susah melawan anak pidato, pikir Kankurou sambil menggerutu di dalam hatinya. Sumaru tersenyum puas.
"Oi Sumaru, kelas A ikutan." kata Sasuke tiba-tiba. Sumaru terheran-heran. "Mau apa kalian kesini?"
"Kami di sini untuk mendukung Kiba. Kami akan melakukan apapun-yang penting halal-yang kami bisa!" seru Neji, memecah rombongan. Ia balas tersenyum sinis.
"Cih, tidak ada bagian untuk kalian! Dari mana kalian bisa berbuat begitu?" tanya Sumaru dengan kasar. Neji menggelengkan kepalanya. "Kami tidak menginginkanmu untuk melayani kami. Tetapi KAMI MENGINGINKANMU UNTUK MENGABULKAN SEMUA PERMINTAAN KELAS 11-A DAN B!" kata Neji dengan penekanan di dalam kalimatnya. Suamru bergidik ngeri.
"Apa-apaan? Kenapa malah tambah parah sih permintaannya?" tanya Sumaru balik. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.
"Beda kok." sahut Shino, membetulkan posisi kacamatanya.
"Beda apanya?" tanya Sumaru balik.
"Beda kalimatnya."
GUBRAK!
Kupikir Shino adalah orang yang dingin dan tidak mempunyai selera humor. Ternyata setelah kejadian ini..., pikir Kiba menerawang. Ia manggut-manggut layaknya hiasan bunga energi matahari yang sering di pasang pada bagian depan mobil.
"Sudah, sudah. Ini ceritanya bagaimana?" tanya Naruto balik. Yang lain menoleh. "Ta'u tuh. Jadi gimana Sumaru?"
"Ka-kalian harus bisa memainkan drama kolosal tentang apa saja! Yang penting drama kolosal!" pinta Sumaru sedikit tergagap-gagap.
"Ke-kenapa jadi berbeda? Pe-pertama 'kan bu-bukan seperti i-ini?" tanya Hinata, protes. Sumaru membalas,"Kalau kalian tidak dapat melakukannya bahkan tidak mau melakukannya, berarti aku menang dan kalian harus menjadi budak-budakku!"
"Munafiq" sahut Gaara yang tiba-tiba muncul. Wajahnya menampakkan keseriusan.
"Da-dari mana kau bisa memutuskan kalau aku ini orang munafiq? Kau 'kan tidak mengikuti setiap peristiwa yang kita lalui? Memangnya kau ini apa? Kucing?" tanya Sumaru, sembarangan.
"Perkataan dan perbuatanmu sungguh berbeda. Itu adalah salah satu ciri orang yang berbuat nifaq, yang sebenarnya ada tiga." jawab Gaara, alim. Kepribadian kyai-nya keluar.
"Oke! Kalau setelah itu masih ada syarat yang aneh-aneh lagi, berarti kau kalah." Ujar Kankurou dengan lantang. Kiba hanya bisa menonton dengan harap-harap cemas.
To be continued
Maaf deh kalau aneh. Namanya juga orang aneh, pasti tulisannya aneh. Yah, walaupun tidak semuanya sih. Mungkin tidak banyak yang membaca? Tidak masalah. Hanya untuk menyalurkan bakat kok. Banyak typo? Maafkan saya. Saya tidak begitu canggih. Karakter yang tidak sesuai dengan selera? Maafkan saya. Saya bukan peramal. Kalau saya peramal, saya akan membiarkan bakat saya itu.
Oh ya, mungkin ada kata yang tidak mengerti?
- Buta Ijo : Sejenis raksasa berwarna hijau yang sering muncul pada sinema-sinema di M** Tv atau dalam pewayangan?
- Nifaq : Ya gitu deh. Seperti yang saya tulis diatas. Itu pun belum semuanya. Belum saatnya saya menjadi ustadzah.
- Munafiq : Orang yang berbuat Nifaq.
Soal kyai-kyai-an*Berarti bukan kyai beneran dong?* tadi, saya ambil dari kalimat guru saya. Maaf ya pak, hehehe...
Makasih banyak ya udah baca fic sampah saya ini. Insyaallah bakal update lebih cepet dah!*Walaupun gak di baca. Cuma buat happy-happy-an doang*
