Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu. Memperlihatkan ketegasan dan kemutlakan dirinya. Semua mata langsung tertuju pada pria itu, menatap tak percaya pada kehadiran sosok yang sangat dihormati.
"O-otou-sama?" Batin Seijuurou setelah nelihat sosok ayah di hadapannya. Wajah minim air muka dan tatapan tajam dari sang ayah membuat Seijuurou sedikit bergidik. Ia menyadari sesuatu―sang ayah memberikan kode kepada Seijuurou untuk keluar. Seijuurou lantas berdiri, menghampiri sang ayah dan pergi dari ruangan. Personil Kisedai menatap nanar kepergian pemimpin grup mereka. Pikiran mereka tertuju pada suatu hal, apa ada masalah antara sang ayah dengan sang anak?
Setelah tiba di tempat sang ayah memakirkan mobil, Seijuurou ingin membuka suara. Namun sang ayah telah mendahuluinya, "Apa yang kau pikirkan, Seijuurou? Apa alasanmu membuat grup musik seperti ini?" tanya sang ayah lirih, wajah sang ayah mulai menampakkan mimik yang kini dimengerti Seijuurou.
"A-ku tak mengerti mengapa aku begitu ingin melakukannya, Otou-sama. Aku hanya mengikuti hatiku," jelas Seijuurou pada kepala keluarga Akashi yang tengah menginjak kepala empat. Sang ayah mendesah, mengusap surai sang anak yang merupakan gen darinya. Manik sang ayah menatap jauh ke dalam manik Seijuurou, "Kau juga menyembunyikan alasan lain, bukan? Seijuurou tersentak, ia merasa bahwa sang ayah mengetahui semuanya. Seijuurou tak dapat berbuat apapun di hadapan ayahnya. Karena kamutlakannya tak dapat melawan sang ayah.
"Ya, aku menyembunyikan alasan lain. Otou-sama pasti mengerti," tutur sang anak seraya mengulas senyum tipis. Akashi hanya mengangguk.
[Sorot balik, di malam perpisahan SMP Rakuzan]
Alunan melodi piano yang indah tercipta, menggema di seluruh sudut ruangan. Sang pianis tersenyum, jemarinya lincah menekan tuts-tuts piano yang berjajar. Seakan jemarinya dapat bergerak sendiri menghasilkan irama.
Rangkaian kenangan terikat menjadi satu,
Menceritakan semua kejadian lalu,
Tak peduli senyum maupun sendu,
Terangkai begitu saja menciptakan rindu,
Yang kini mencekam kalbu,
Akankah kita dapat kembali bertemu?
Riuh para siswa SMP Rakuzan memenuhi gendang telinga sang pianis. Ia kemudian memberikan salam hormat pada kawan satu angkatannya dan turun menuju bawah panggung.
"Akashi-kun, perminan pianomu sangat mengagumkan. Maukah kau mengajariku?" Ucap seseorang pada Akashi―sang pianis. Akashi menepuk bahu orang tersebut, "Dengan senang hati, Tetsuya. Aku akan mengajarimu, tuturnya seraya mengulas senyum tipis. Jauh di dalam benak remaja bersurai merah itu, ia sangat mengharapkan saat-saat seperti ini, disambut oleh seorang Kuroko Tetsuya, sang violinis terkenal di SMP Rakuzan. Alasan di balik itu, ia tak mengetahuinya secara pasti. Hanya saja perasaan bergejolak telah memenuhi relung batinnya semenjak mereka bertemu pertama kali di klub musik.
"Apa aku sudah gila? Apakah ini diriku?" Batin Akashi berulang-ulang setiap merasakan persaaan gejolak tersebut. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang ia rasakan. Hanya saja, ia selalu nyaman berada di sisi remaja berkulit pucat dengan manik biru langit yang cerah itu.
Setelah malam perpisahan di SMP Rakuzan, Akashi bergegas pulang. Sebelum itu, ia mencari sosok Tetsuya. Untuk apa? Entahlah, ikuti pemikiran Akashi saja.
"Tetsuya, ikutlah denganku!" Setelah berpapasan dengan Kuroko, Akashi lantas menarik tangan Kuroko dengan paksa. Membuat Kuroko hampir terjatuh apabila ia tak segera menyeimbangkan diri. Akashi terkekeh dalam batinnya, ia berhasil melakukan langkah awal.
"A-Akashi-kun, kau ingin mengajakku ke mana? Ini sudah malam, Akashi-kun. Bagaimana bila orang tuaku ..." belum sempat Kuroko menyelesaikan kalimatnya, Akashi berhenti mendadak. Sontak Kuroko menabrak punggung Akashi. "Diamlah. Tak perlu khawatir, serahkan itu padaku, Tetsuya." Tutur Akashi. Kuroko mengelus dahinya yang sempat megenai tulang belakang Akashi lantas mengangguk mengiyakan ucapan Akashi. Akashi kemudian menarik Kuroko kembali dan mengajaknya masuk ke dalam mobil pribadi Akashi.
Selama mereka di perjalanan, tak ada yang membuka suara. Akashi terlarut dalam pikiran kalutnya, sedangkan Kuroko tengah membaca novel kesukaannya. Dalam pemikiran Akashi, ia tak ingin atmosfer seperti ini menyelimuti mereka berdua.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Akashi. Kuroko tertegun, ia tak mengira bahwa dirinya akan dibawa Akashi menuju rumah yang terlihat seperti istana di pengamatan Kuroko.
"Akashi-kun, apa jangan-jangan kau ingin mengajakku bermalam di rumahmu?" Ucap Kuroko tepat sasaran. Ya, Akashi berniat mengajak Kuroko tidur di rumahnya. Mengingat esok hari adalah hari pertama di musim liburan. Bukankah menyenangkan mengajak kawan untuk berlibur di rumahnya?
"Ya, sekarang masuklah ke rumahku," jawab Akashi seraya berjalan menuju rumahnya. Kuroko mengekori Akashi, karena sesjujurnya dia belum pernah singgah di rumah Akashi. Alasannya sangatlah mudah, ia tak sempat.
"Masuklah ke kamar ini, anggap kamar ini adalah kamarmu, Tetsuya. Aku akan kembali. Ingat, jangan keluar dari kamar apapun yang terjadi sebelum aku kembali!" Titah Akashi seraya menunjuk salah satu kamar miliknya untuk Kuroko. Kuroko hanya dapat menuruti perintah Akashi, karena ia yakin bahwa bila ia membantah sama saja dirinya akan mati. Sedikit menyusahkan bila berteman dengan seorang Akashi Seijuurou, pikir Kuroko.
Akashi menyeringai setelah ia ta lagi melihat punggung Kuroko dari dalam kamar pribadi keduanya. Lebih tepatnya, Akashi tersenyum puas. Namun lagi-lagi ia bergumam, "Apakah aku gila? Apakah ini diriku yang sebenarnya?" Sungguh, ia masih tak mengerti. Ia mencoba tak menghiraukan pikiran itu dengan melangkah menuju kamarnya yang terletak di seberang kamar Kuroko.
Akashi melirik jam dinding kamarnnya, ternyata telah memasuki tengah malam. Ia berfikir sejenak, apakah Kuroko sudah terlelap? Sedikit ragu, namun ia ingin mencobanya. Akashi lantas mengganti pakaiannya dengan piyama untuk tidur. Lantas ia menghampiri kamar Kuroko.
Tok tok tok
"Ini aku, Akashi Seijuurou," ucap Akashi tepat di depan pintu kamar Kuroko. Cukup lama Akashi menunggu di depan pintu kayu jati berukirkan naga itu. Tanpa pikir panjang, Akashi membuka pintu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Kuroko yang tengah terbaring di atas ranjang dengan posisi tak nyaman. Akashi tersenyum, lantas ia mendekati tubuh ringkih Kuroko. Membenahi posisi tidur Kuroko dan memberinya selimut. Tak lama setelah itu, Kuroko tersenyum kecil. Entah apa arti senyuman itu, namun hal tersebut membuat Akashi ikut tersenyum.
"Apakah aku gila? Apakah ini diriku yang sebenarnya?" Gumam Akashi seraya menyibakkan surai biru langit Kuroko yang menutupi sebagian wajah manis Kuroko. Akashi belum mendapat jawabannya, ia terus memandangi wajah polos Kuroko, namun tak lama kemudian sebuah panggilan membuat Akashi harus meninggalkan remaja polos itu.
(Mulai dari sini, marilah kita memanggil Akashi dengan panggilan Seijuurou :D)
"Seijuurou, siapa yang sedang berada di dalam kamarmu?" Suara khas seorang ayah membuat Akashi Seijuurou bergidik sejenak. Seijuurou hanya tersenyum kecil seraya menutup pintu kamarnya.
"Hanya teman dekat, Otou-sama. Satu hari saja perkenankan dia berada di sini." Pinta sang anak pada sang ayah. Kepala keluarga Akashi hanya diam tak bergeming, kemudian meninggalkan Seijuurou yang masih berdiri di depan kamar.
"Aku anggap itu sebagai persetujuan, Otou-sama," batin Seijuurou lantas memberikan salam hormat pada sang ayah. Setelah kepergian sang ayah, Seijuurou ingin kembali memasuki kamarnya yang digunakan oleh Kuroko. Namun niat itu ia urungkan, sebab sosok yang ia cari telah berdiri di luar kamar.
"Apa yang sedang kau lakukan, Akashi-kun? Ini sudah larut malam." Tutur Kuroko dengan nada yang berat. Ia mengucek matanya dan berjalan menuntun Akashi agar masuk ke dalam kamar.
"Sudahlah, Tetsuya, aku dapat melakukannya sendiri. Kau tidurlah kembali. Maaf membuatmu terbangun," jawab Akashi pelan, namun suaranya dapat ditangkap oleh Kuroko. Kuroko hanya tersenyum kecil, tak menanggapi ucapan Akashi. Ia terus menuntun Akashi hingga masuk ke dalam kamar.
Tiupan angin sang dewa membelaiku,
Membawaku pergi menuju surga,
Ditemani oleh sang dewi,
Dengan cahyanya yang memancar,
Kini tubuh ringkih terbalut kehangatan,
Yang kini membuatku bertahan,
Oh dapatkah aku memilikinya?
Dapatkah aku selalu mendapatkannya?
Suara bariton seorang Kuroko membuat Seijuurou tersentak. Ia tak menyangka bahwa Kuroko akan menyanyikan sebait puisi yang ia tulis. Ya, Kuroko telah memusikalisasi puisi karyanya. Sungguh melodi yang begitu indah bagi Seijuurou.
"Akashi-kun?" Kuroko melambaikan tangannya di depan wajah Seijuurou. Seijuurou menggeleng pelan, "Oh, maaf." Ucapnya seraya mengulas senyum.
"Apa nada yang kau ciptakan berasal dari hatimu, Tetsuya?" Batin Seijuurou lantas memasuki kamar dengan Kuroko. Tanpa mereka sadari, sepasang mata memerhatikan mereka. Sosok itu tersenyum senang, "Dia pantas."
[Sorot balik berakhir]
Mengingat kejadian malam itu, Seijuurou tersenyum, ia menatap sang ayah, "Otou-sama, apa dia pantas?" tanya Seijuurou. Angin malam membelai surai mereka, di sela-sela itu, bisikan angin juga terdengar. Akashi hanya diam, lantas menepuk kepala sang anak.
"Dia pantas, Seijuurou. Aku percaya itu," jawab sang ayah. Seijuurou menyeringai penuh kebahagiaan, ia akhirnya mendapatkan salah satu impiannya―menjadikan Kuroko sebagai pasangannya di ajang musik yang akan diselenggarakan dua minggu ke depan.
"Akashi-kun!" Sapaan seseorang membuat Seijuurou menoleh, wajah polos dari orang itu membuat jantungnya bergejolak kembali, "Apa ini? Apakah aku gila? Apakah ini diriku?" gumam Seijuurou pelan. Namun siapa sangka sang ayah justru menepuk bahu Seijuurou.
"Percayalah pada dirimu dan hatimu, Seijuurou. Bukankah kau telah mengatakan itu sebelumnya?" Sang ayah lantas pergi sebelum Kuroko memberi salam pada kepala keluarga Akashi itu.
"Aku belum sempat memberinya salam," gerutu Kuroko. Seijuurou hanya terdiam, namun kemudian ia merangkul bahu Kuroko.
"Ayo kita mulai latihan saja, Tetsuya. Lagipula ayahku telah selesai denganku," Seijuurou mengajak Kuroko memasuki bawah panggung, "Hai', Akashi-kun." Pancaran kebahagiaan terlihat dari wajah Kuroko. Ia bahagia, sebab Akashi Seijuurou kini mau berduet dengannya. Sebuah keajaiban baginya dapat berpasangan dengan Akashi.
"Apa kejadian malam itu mengubah pikiranmu, Akashi-kun?" Batin Kuroko.
Bersambung
Uwaaa~ akhirnya Kisedai no Gakudan update juga. Rada bingung pertamanya, tapi akhirnya kelar juga ._.
Eum ...ada yang ngerasa FF ini aneh? ._. Maksudku, ada feel yang gak kerasa atau apalah? ._. Sumimasen ne~ TT TT
Oke, sekian dari Liuzi :)) Jika ada kesalahan, maklumi Liuzi ya ^^v Jangan lupa beri komentar agar Liuzi dapat membenahi cerita ini :D Kalau suka, tolong follow atau favorite ya :')
Jaa neee~ ^^)/
