NOTE : (WARNING ALERT!) HARAP BACA, INI SEX SCENE YURI/GIRLXGIRL/GIRLSLOVE

BEFORE I KILL YOU...

aku hidup dalam kegilaan, dimana tak satupun dari kita akan menggunakan akal sehat.

(linda -kyanzha16-)

.

.

.

"kau pikir dirimu itu siapa, ya, Jeon Jungkook!" Perempuan bermata cokelat itu berkata sambil menekan sosok perempuan lainnya yang sedikit lebih tinggi di dinding kamar apartementnya yang kecil. "Kau sepertinya mengabaikan semua ancamanku, sepertinya aku harus memberikan hukuman yang tepat untukmu sekarang ...", seringai jahat terbentuk di bibir gemuknya.

Tanpa sepatah kata pun, dia memperlihatkan pisau lipatnya yang sedari tadi berada digenggamannya, pisau lipat jenis Stiletto dengan sistem Switchblade, saat si surai Blonde-Brown menekan tombol untuk mendorong pisau terbuka, dan tanpa ragu menggoreskannya dengan lembut disepanjang lekuk leher jenjang si surai Hitam, perempuan berkulit Alabaster itu jelas shock, mata bulatnya membola lebar.

Cairan merah turun mengalir keluar bersamaan ujung pisau tajam yang mengiris kulitnya, tidak terlalu deras, jatuh dari kulit selangka mengotori bahu dan dadanya yang terbalut pakaian santai.

Jeon Jungkook tengah ketakutan, setidaknya itulah yang dipikirkan perempuan bermarga Park saat netranya digulirkan untuk mengamati wajah saingannya.

Perempuan itu sedang menutup matanya, menyembunyikan iris hitam yang menurut pemuda dikampusnya mampu membuat siapapun tenggelam. Gigi kelincinya menyembul keluar, sedang menggigit kuat bawah bibir kenyalnya yang penuh. Ekspresinya sangat kentara tengah menahan ringisan.

Perempuan sakit itu, Park Jimin, merasakan kesenangan yang menjalar di vena-nya ketika melihat perempuan yang sangat dibencinya itu tampak tak berdaya.

Tubuh montoknya itu bergetar dalam tekanan-nya.

Kegilaan dari berbagai emosi menyakitkan yang membakar amarah dari ego dan kecemburuannya beberapa menit lalu, kini mengaburkan visinya saat melihat sosok yang akan diberinya pelajaran itu tampak pasrah dalam kungkungannya, hal-hal dari rencana jahatnya digantikan dengan keinginan gila yang lain.

Ia tahu jelas emosi apa yang memenuhinya kini; Ia menginginkan kuasa atas perempuan bermarga Jeon itu. Ego nya memberitahunya bahwa si surai hitam itu harus tahu tempatnya tak lebih dibawah seorang Park Jimin.

"J-Ji-Jimine..."

Jimin tersadar, keluar dari lamunannya. Menatap tajam iris Jungkook; tercermin refleksi dirinya saat ia memandang ke kedalaman mata malam yang berembun.

Raut Jungkook tengah memohon. Kedua belah bibir ranumnya terbuka sedikit, masih menyembulkan dua gigi putih kelincinya. Bau dari nafasnya yang harum menerpa permukaan wajah Jimin dengan sensasi panas.

Jungkook hendak berbicara, sedikit ragu, namun—

Jimin segera menarik pisau lipat kecilnya yang masih bersentuhan dengan kulit halus Jungkook menjauh dan menjatuhkannya kelantai dengan bunyi 'Tring' nyaring. Tangan kirinya yang kosong mulai menyisir mahkota jelaga Jungkook dengan jari-jari gemuknya.

Jungkook menahan nafasnya. Menelan kembali kata-kata yang belum sempat terucap.

Jimin menyukai-nya; perasaan jari-jarinya yang bermain disepanjang untaian panjang helai milik Jungkook, surainya begitu lembut, bersinar dan tercium seperti Strawberry.

Tubuh Jungkook membeku. Perlakuan ini jelas menyentak hal apapun yang dibayangkan Jungkook dari sosok Jimin.

Dan itu membuatnya bertanya-tanya mengenai seorang Jimin 'Sang Primadona Kampus'.

Jungkook perlahan rileks.

—Namun tak sampai hitungan menit, tubuhnya kembali menegang kala Jimin menggenggam kuat surainya, menyentaknya. Matanya seketika menyipit, kembali menatap tajam, wajahnya memerah marah, "aku. Sangat. Membencimu. Jeon Jungkook!" bentaknya, meludah penuh dengan racun.

Dan dengan kasar Jimin membenturkan kepala Jungkook berulang kali pada tembok beton dibelakangnya, jeritannya keluar menyakitkan tenggorokannya setiap kali kepalanya berciuman dengan dinding.

Jungkook bisa merasakan aliran darah yang keluar dari kepalanya mengalir melewati kelopak matanya yang mengabur sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran dan bertemu kegelapan.

...

...

...

"Jadi kau pikir kau bisa menggantikan posisiku dikampus dan juga mencoba merebut Taehyung dariku?"

Jungkook mengerang mendengar dengungan suara yang pastinya berada dekat dengannya. Mengumpulkan kesadarannya, denyutan menyiksa dikepalanya membuatnya mengerang sakit seketika. Mengedipkan matanya beberapa kali, Jungkook mencoba membiasakan pengelihatannya yang buram dan memfokuskannya pada bayangan seseorang yang berada diatasnya?.

Mengernyit bingung namun sesaat kemudian matanya membola ketika kesadarannya sepenuhnya pulih.

Tubuhnya tanpa sadar mengambil antisipasi saat Jimin tertawa dingin sembari memandanginya intens; membuat Jungkook menggigil.

Jimin menampar Jungkook nyaring saat ia menggeliat resah— Jungkook menarik-narik tali tambang yang diikat ketat dikedua pergelangan tangannya dikepala ranjang kamar tidurnya sendiri. Mendesis dengan nada penuh peringatan, "itu terlalu buruk untukmu, Jeon Jungkook, lihatlah kau tampak sangat menyedihkan saat ini, aku bahkan bisa meninggalkanmu mati terikat di sini dan takkan ada yang akan menolongmu".

Jimin menepuk pipi berdenyut Jungkook; yang disebabkan tamparannya. "Atau yang lebih buruk lagi aku bisa membiarkanmu dinikmati dengan beberapa lelaki suruhanku dan membiarkan seluruh kampus tahu, kau tak lebih dari seorang jalang!", mata Jungkook menatap Jimin tajam. Hal itu membuat Jimin sangat kesal, sehingga ia kembali mempertemukan telapak tangannya dengan pipi gembul Jungkook yang kini bengkak.

"Sekarang, sekarang Jungkook, berhenti membuat perlawanan dan jangan menangis—". Jimin tersenyum remeh melirik genangan cairan asin di mata bulatnya, sekali saja Jungkook berkedip, cairan panas itu akan jatuh keluar. "Karena aku tidak akan merasa kasihan sama sekali denganmu"

Jungkook mencoba tenang, meski begitu tubuhnya tak bisa berhenti gelisah; nafasnya sedikit tak menentu dengan berat tubuh Jimin yang duduk menindihnya disekitaran pinggangnya.

"kumohon Jiminie, lepaskan aku, sudah kubilang aku tak tahu apapun dan aku menyesal untuk apapun perbuatanku yang membuatmu marah tanpa sengaja hingga seperti ini, aku berjanji akan menjauhi Taehyung mulai sekarang!". Jungkook memohon mencoba beralasan dengan Jimin. Meskipun ia sadar bagian akhir perkataannya itu bohong.

Jimin menyipitkan matanya dan menyeringai, "Dan aku percaya kau menyesal, Jungkookie. Tapi... Aku masih harus menghukummu"

Jungkook mulai panik, lagi, siapa yang tahu jenis penyiksaan sakit apa yang direncanakan Park Jimin untuknya?!

Jimin menertawakan ekspresi ketakutan Jungkook yang kentara.

Melepaskan seluruh pakaian yang menempel ditubuh Jungkook, juga membebaskannya kekangan tali yang melukai pergelangannya. Kedua tangannya terasa kebas; luka lecet dari tambang tampak jelas mengitari kedua tangannya dengan warna merah –kebiruan.

Jungkook tidak bergerak ataupun mengucapkan sesuatu, kembali menggigit bibir bawahnya, ia bergetar kedingingan saat hawa dingin angin malam menerpa tubuh telanjangnya dari pintu jendela kamar yang terbuka.

Menjauh dari hangat suhu tubuh mangsanya, Jimin turun dari ranjang kecil Jungkook untuk berdiri didekat jendela.

—Bersandar dengan kedua tangan disilangkan dibawah payudaranya. Netra coklatnya kini dipenuhi kabut, secara terang-terangan memindai setiap lekuk tubuh polos tanpa cela Jungkook, harus Jimin akui tubuh Jungkook memang terbentuk dengan bagus, saingannya itu sangat mirip dengan Boneka Barbie koleksinya— cantik dan menawan. Kedua gumpalan payudaranya—besar. Perutnya rata dengan lekuk pinggangnya yang ramping, belum lagi dua bongkahan pantatnya bulat berisi.

Kekaguman terlihat jelas dari ekspresinya.

Tanpa sadar, Jimin menjilati bibir gemuknya yang merah saat matanya berhenti meneliti keindahan dibawah perut Jungkook,—area surgawi-nya. Seperti anak berusia 12 tahun, kewanitaannya terlihat mulus.

Semu merah tersiram diwajah Jungkook tatkala ia melirik sekilas apa yang dilakukan Jimin sebelum mengalihkan kepalanya kesamping, kesisi yang berlawan dari tempat Jimin meneliti dirinya.

Jimin tersenyum miring— menghampiri Jungkook dengan langkah pelan. Duduk dikasur sebelah tubuhnya, Jungkook sekali lagi tersentak saat dirasa jari-jari dingin tangan kanan Jimin bergerak dari bawah kedua kakinya yang menempel rapat; dengan main-main berlari kearah pahanya dengan seductive. Memberikan sensasi menggigil kembali pada tubuh Jungkook.

Akan bohong rasanya jika Jungkook tidak merasakan sesuatu akan apa yang dilakukan Jimin, ia terangsang. Jungkook kian merapatkan pahanya, elusan Jimin berpengaruh besar pada kewanitaannya yang kini berkedut-kedut.

Menekan kuat kedua bibirnya untuk menahan rengekan-nya keluar.

Sentuhannya terasa lembut bagaikan beludru, mengelus paha-kanan kirinya bergantian sebelum rengekan Jungkook berubah menjadi jeritan terkejut— jimin meremas kuat paha kirinya. Kuku-Kuku panjang dan bagus yang dihiasi cat ungu sengaja menggali kedalam kulit daging pahanya.

Jimin tertawa serak melihat Jungkook kesakitan, sedang mencoba merangkak menjauh darinya. Yang sia-sia.

Jungkook merasa tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak banyak. Jimin pasti melakukan sesuatu pada dirinya saat ia pingsan!

Jimin itu perempuan sama sepertinya; sama-sama makhluk lemah lembut. Dan memang seperti itulah Park Jimin, Primadona Kampus yang terkenal di Universitas-Nya dengan Kecantikan dan Keanggunan Diri kecuali fakta bahwa ia memang sangat sombong dan senang membual.

Namun entah mengapa Sosok Jimin yang ada bersamanya saat ini tak pernah ia perkirakan ada didalam dirinya.

Jungkook tahu Jimin itu memang nekat, banyak desas-desus yang beredar mengenai Primadona Kampus yang masih berdasarkan rumor. Jungkook tidak menyangka, sosok kejam dalam diri Jimin benar-benar ada dan sekarang tengah dikeluarkannya untuk menyakitinya hanya karena seorang pemuda bernama Kim Taehyung?

Yang benar saja! Pesona 'Pangeran Kampus' yang dimiliki Tuan Muda Kim itu memang luar biasa, hingga mampu membuat perempuan disebelahnya ini bertindak sedemikian rupa mengerikan padanya.

Tentu saja, mencintai Iblis Taehyung mampu membuat perempuan manapun hilang akal. Jungkook tahu itu! Sebab tidak hanya segelintir perempuan kampus yang sakit hati dipermainkannya ataupun Jimin yang gila saat ini. satu-satunya saudari-nya, kakak-nya tercinta, JEON JUNGRI pun kehilangan masa depannya akibat mempercayai pemuda itu.

Taehyung tak lebih dari sebuah Toxic.

Disisi lain, Jimin sangat menyukainya; melihat keadaan Jungkook yang gemetar olehnya. Ia sangat sangat menyukainya. Menatap paha yang lecet oleh kekejaman kuku cantiknya. Perasaan menggebu karena gairah langsung mengalir disetiap alirah darah tubuhnya. Perasaan ini sungguh baru baginya, hasrat aneh, yang belum pernah ia rasa bahkan saat ia sedang bergumul saling menciptakan ekstasi bersama Taehyung.

Jantungnya berdetak lebih cepat dua kali lipat, Jimin mencoba menormalkan deru nafasnya yang membuatnya semakin tak sabar. Pembalasannya untuk menyingkirkan Jeon Jungkook berubah seketika dalam niatannya dengan yang lain dan Jimin tahu apapun yang akan ia lakukan pada jungkook untuk memberinya pelajaran— Pasti akan menyenangkannya lebih dari pelayanan Taehyung.

Jimin membuat Jungkook menatap tepat kematanya, memelototi perempuan malang itu dan menyebabkan lebih banyak air mata jatuh dari mata blackhole-nya. "Sudah waktunya untuk memberimu pelajaran, Jungkookie-ah, dan aku tahu aku akan menyukai menyiksamu sebanyak kau akan menikmatinya nanti", desis Jimin seraya menyeringai lebar.

Jungkook menggelengkan kepalanya sambil berteriak, "Kumohon Jimin, jangan! Apapun yang ingin kau lakukan, tolong hentikan!"

Jimin tertawa lebih keras lagi, "Aku tidak akan berubah pikiran, pelacurku yang cantik, dan aku akan membuatmu merasakan sesuatu ... aku rasa kau akan kehilangan sesuatu yang sangat penting malam ini" katanya dengan nada manis sambil mencangkup wajah Jungkook oleh jari-jari tangan kirinya.

Jimin menampar keras pipinya kembali,

kian menambah rasa panas terbakar dipipi-nya yang sudah bengkak. Ia membuang kepalanya jatuh, menyentaknya kebawah, wajahnya menempel pada bantal dengan posisi miring. Surainya yang berantakan, menutupi sebagian wajah terlukanya.

Lagi, Jimin suka melakukannya, tangannya panas setelah bertabrakan dengan pipi gembulnya.

Suara isakan Jungkook terdengar indah dipendengarannya.

Menatap tubuh Jungkook sekali lagi. Jimin membiarkan tangannya mengelus kulit porselen halus -pelan dan lembut- tangannya bergerak memeta dari atas ke-bawah dan bergerak kembali dari bawah ke-atas. Hangat dan oh-kulit yang disentuhnya... terasa seperti sutera.

Menangkup pipi gadis kelinci-nya. Jungkook melirik sayu ke arah mata cokelat Jimin, bertanya-tanya apa yang sedang dimainkan Jimin.

Jimin menyatukan bibir mereka.

Kaget. Jungkook menutup maniknya, pada awalnya ia berjuang melepaskan ciuman bernafsu Jimin tetapi segera berhenti melihat betapa sia-sianya perlawanannya. Sedikit ragu, Ia mulai membalas ciumannya saat merasakan bahwa bibir jimin begitu penuh— kenyal dan manis, menciumnya rakus hampir penuh amarah.

Ciuman itu membuat Jungkook mempertanyakan kewarasannya juga. Ia Sangat Menikmatinya.

Bagaimana bisa seorang perempuan yang tampak rapuh diluar, yang selalu Taehyung manfaatkankan untuk keuntungannya, saat ini tampak berbeda dan begitu penuh dominasi? Meski kegilaannya masih ada.

Pikiran Jungkook terganggu oleh Jimin yang mendorong-nya untuk mengakhiri ciumannya. Jungkook mendongak menatap Jimin diatasnya, maniknya membola lebar ketika Jimin mulai melepas bajunya sendiri dengan gerakan tergesa, —dan hanya meninggalkan Bra dan G-String yang menutupi surgawi-nya.

Primadona Kampus... penuh dengan Pesona. Benar-benar indah dan—cantik.

Kulit yang sama putih dan halus sepertinya, sangat menggoda. wajah memerah yang disirami gairah terlarang, menambah kesan sexy akannya. Bibir gemuknya yang basah menampilkan senyum miring setengah dengan mata menyayu, menatap lekat padanya, dikedalaman iris cokelatnya ada keinginan mendesak yang menjanjikan kenikmatan.

Apa yang dilihatnya dari Jimin terlalu banyak. Pandangannya sepenuhnya mengabur, Rasionalitas-Nya sepertinya akan benar-benar meninggalkannya.

Park Jimin; Perempuan Gila; Sadis dan begitu mendamba cinta Taehyung. Namun saat ini tengah berada diatasnya, mengontrolnya dalam kesenangan, menekan tubuh keduanya bersama, mengerang tepat dicupingnya dan menjilatinya sensual.

Park Jimin yang menggairahkan dirinya dan penuh dosa. Seorang, Aphrodithe...

...

"A-apa yang kau lakukan Jiminie?", Jungkook bertanya terengah-engah ketika Jimin turun dari atas tubuhnya kesisi ranjang dan kembali menempatkan kedua kaki lincahnya dilantai dingin,—berdiri menghadap Jungkook yang mengernyit.

Maniknya cokelatnya membalas dengan tatapan mencemooh lalu mulai membuka satu-satunya pakaian dalam terakhir yang melekat ditubuhnya.

Jungkook menatap tak percaya saat dia menyaksikan Park Jimin melepaskan Bra-Nya dalam gerakan slow motion dan dengan seductive. Mengelus perut ratanya sendiri, sebelum kedua tangannya bermain-main di G-String Nya dan melepaskan untaian tali pita dikedua sisi pinggang bawahnya -meluncurkannya turun- menampilkan keindahan dari kewanitaannya yang gemuk.

Jimin kemudian berjalan ke meja rias Jungkook yang berada di dekat kasurnya.

Jungkook memperhatikan dengan seksama bagaimana kedua pantat sintalnya bergerak, dan mengambil sebuah benda dari tas miliknya yang ia simpan disana, mata Jungkook melebar lagi ketika dia menyadari bahwa benda yang Jimin ambil adalah pistol.

"A-Apa yang akan kau lakukan dengan itu J-J-Jiminie?" Jungkook bertanya dengan gugup berusaha bangun; susah payah dengan tubuh gemetar lemas.

Ia mencoba pergi ketika Jimin mulai memuat senjata itu.

Sambil menyeringai, Jimin mulai berjalan ke arah perempuan yang wajahnya dipenuhi berbagai kengerian dan tatapan memohon itu. Menghalangi jalan keluarnya dipintu kamar. mencengkram lengan Jungkook dengan menyakitkan, sebelum, Lagi, menampar keras Jungkook dengan gema nyaring hingga membuat tubuh gemetarnya jatuh mencium lantai. Hal yang disukainya.

Mengunci pintu dibelakangnya dan membawa kunci-kunci miliknya dalam genggamannya. Jimin berjalan santai ke ranjang kusut, duduk dengan kaki menyilang diujung sisi ranjang, matanya tidak pernah meninggalkan Jungkook sedetikpun. "Sekarang Jungkook, hukumanmu..." —menodongkan pistol di pangkuannya kearah Jungkook. "Merangkak kemari dan puaskan aku!", suaranya terdengar ramah seolah hendak menawarkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan situasi mereka saat ini.

jimin menunggu, memiringkan pistol itu dengan wajah licik.

'jimin pasti benar-benar sudah gila, apa yang salah dengannya? Aku tidak pernah mendengar kabar ia akan bertindak seperti ini terhadap sesama jenis sebelumnya, terlebih terhadap perempuan yang merebut pujaannya. Oh tapi mengapa aku harus mengeluh? Dia mendatangi aku ditempat pertama, bukankah ini akan berguna untuk melanjutkan sisa rencanaku?', Jungkook berpikir pada dirinya sendiri saat dia mulai merangkak seperti anak anjing yang patuh mendekati Tuan-Nya, dan mengangkang kedalam pangkuan Jimin.

Kedua remaja perempuan itu saling menatap satu sama lain— Jimin dengan cepat mengambil bibir ranum Jungkook dan saling menghancurkan mulut mereka; Menggigit, menjilat dan saling mengecap darah dari luka gigitan masing-masing.

Jungkook segera mulai menggiling Jimin, mendorongnya untuk tertidur dikasur yang dibalut sprei merah muda, pinggulnya bergerak dengan ciuman panas yang menyebabkan kedua remaja perempuan itu merintih didalam cumbuannya.

Jimin kemudian memisahkan diri, mengisi paru-parunya yang sesak, menarik jungkook keras agar berbaring disebelahnya, "Aaakhh" tangannya dengan kasar menyentuh buah dada menggempal, meremasnya sampai puas tanpa belas kasih. Menekan kuat pinggang rampingnya, kukunya lagi-lagi menggali kedalam kulitnya, menariknya untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman di atas kasur.

Menelantangkan tubuh Jungkook yang miring kearahnya. Jimin segera bergerak bangkit, mendaki di atas Jungkook, jimin kembali menekan tubuh keduanya.

"Ohh... Gods", keluh Jungkook.

Rasanya sangat luar biasa, kedua gumpalan buah dada keduanya menyatu saling menekan. Jimin memposisikan kedua paha kakinya berada ditengah paha Jungkook— paha padatnya dengan sengaja menggesek pada surgawi Jungkook yang basah begitupun miliknya yang sengaja ia gesekan dipaha mulus Jungkook.

"Eunggg", keduanya mengerang bersamaan.

Jungkook kagum pada seberapa lihainya Primadona Kampus, tidak ingin kalah, Jimin tersenyum ketika si gadis bergigi kelinci itu beringsut menekan lebih kuat pinggul keduanya. Telapak tangan dan jari-jarinya bermain dipunggungnya; mengelusnya putus asa sebelum berlari turun ke dua bongkahan kenyal pantat-nya, dengan lancang tangannya menampar pipi pantatnya.

Jimin sedikit merintih saat memanja leher Jungkook dengan jilatan basah dan kecupan bernoda, sampai akhirnya tenggorokannya tersedak— Jungkook meremat pantat kenyalnya dan membantu-nya menekan-menggesek lebih keras pada paha Jungkook mengirimkan gelombang listrik kenikmatan melalui tubuh Jimin.

Jungkook, mengerang lagi dan lagi, menyodorkan pinggulnya sedikit untuk mendapat tekanan yang lebih nikmat dari paha Jimin.

Mulutnya membuka-tutup, mencoba mempertahankan pernafasannya yang kian sulit saat lidah Jimin menyapu permukaan leher— turun ke dada-nya untuk mengambil salah satu buah dadanya kedalam mulutnya; mengulum dan menggigit putingnya sebelum menyusu rakus.

Tangannya mengelus helai hitam dan pipi bengkaknya, menekan bibir bawahnya dengan ibu jari mungilnya dan memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam mulut Jungkook yang penuh liur, mengabsen deretan gigi-gigi putihnya dan mengajak bermain lidah merah muda-nya yang menganggur.

Satu tangan lainnya meremas sprei kuat seraya menahan bobotnya agar tidak sepenuhnya terjatuh diatas tubuh molek Jungkook.

Jimin mendesah puas, senang bermain-main dengan puting Jungkook yang sepenuhnya tegak dan basah oleh liurnya. Mengagumi bagaimana terampilnya ia menciptakan kissmark diseluruh leher dan dada atas Jungkook. Belum lagi kesenangan dibawahnya masih berlanjut, saling menggesek putus asa untuk mendapat lebih banyak kesenangan. Kewanitaan keduanya benar-benar basah dan licin.

Jimin mengangkat kepalanya, matanya yang berkabut menyaksikan jungkook menjilati dan menghisap jari-jarinya seperti anak kucing yang mencoba menikmati makanannya.

Menonton Jungkook menghayati hal itu dengan mata tertutup dan wajah porselennya merah dihiasi nafsu, sangat pasrah dan menikmati perlakuaan kasarnya, mengejutkan Jimin betapa ia sangat menginginkan-tidak-membutuhkan Jungkook untuk melepaskan seluruh emosi dan rasa sakit hatinya dalam percumbuan panas, persetan dengan rencana-nya diawal.

Masalah awal yang mengakibatkan semua ini terjadi bisa diselesaikannya nanti. Ia menginginkan pelampiasan. Jimin jadi semakin tidak sabar.

Menghentikan kegiatannya untuk hidangan utama. Jungkook menatapnya bertanya, sedikit tidak rela kehilangan rasa panas dari kontak fisik. Jimin mulai tersenyum kali ini dengan tulus, hati Jungkook berdesir karena senyuman itu begitu hangat terlebih Jimin sangat seksi dengan tatapan laparnya; yang dengan senang hati Jungkook akan membiarkan dirinya dilahap habis sepuasnya oleh Jimin.

Lupakan mereka ber-gender sama, toh Jungkook pun tidak semurni yang diperlihatkan pada semua orang. Lagipula siapa yang mampu menolak pesona Primadona Kampus yang seksi?

Jimin memiringkan tubuh Jungkook dan mengubah posisi keduanya menjadi 69.

"Kau tahu apa yang harus dilakukan", katanya serak memerintah.

Ragu-ragu sejenak, Jungkook menempatkan kedua kaki Jimin dipundaknya dan kepalanya diantara kedua paha Jimin— mengikuti apa yang Jimin lakukan terhadapnya.

Ada perasaan malu didalam dirinya ketika Jimin menghirup keras bagian terlarangnya dan mengatakan miliknya berbau harum. Netra hitamnya menatap takjub pada Milik Jimin. Meneguk ludahnya sendiri. Ia gugup namun kewanitaan Jimin terlihat lezat dan berbau harum mawar juga.

Ini adalah pertama kalinya ia diposisi seperti ini. OH TUHAN... Jungkook bahkan masih perawan! Dan ia praktis menjatuhkan dirinya sendiri dalam belaian seorang perempuan sadis yang berfikir ia tak lebih dari sebuah duri dihubungannya bersama pemuda Playboy-Nya dan beberapa saat yang lalu berniat menghabisinya!

Tetapi ia juga menginginkan ini.

Terlepas dari hal apapun setelah ini bersama Jimin akan menguntungkannya atau tidak, ia tidak peduli. Jungkook tidak mau menghentikan dirinya sampai disini-yah seperti jimin akan membebaskannya saja-.

Tubuh Jungkook dipenuhi kebutuhan hasrat yang membara. Terkutuklah Ia, Jimin dan gairah terpendamnya yang menyukai sisi gelap Park Jimin yang membuatnya sakit.

"Aku tidak peduli lagi bahwa ini pemerkosaan, aku ingin Jiminie dan aku menginginkannya SEKARANG!", katanya tanpa mampu berpikir koheren lagi ketika Jimin tanpa ragu menyeruput surgawinya dimulutnya. Menjilatinya, bermain diarea klistoris, mengigit kecil membuat tubuh Jungkook merinding geli dan nikmat secara bersamaan.

Jungkook refleks merapatkan kedua kakinya, menekan kuat kepala Jimin dipahanya. Jimin tidak keberatan malah semakin memanja Milik-Nya dengan lidah lihai— menekan-nekan lubang kewanitaannya, menciptakan lenguhan teredam dari Jungkook yang melakukan hal sama pada Jimin.

"Apa ini baru untukmu? Bersama seseorang sepertiku? Apakah pelacur sepertimu suka diperlakukan seperti ini?", Jimin bertanya disela jilatannya.

"Emmm..."

"katakan padaku?!" Tuntutnya dengan tamparan keras di pantatnya.

"Yah... Semua ini baru untukku", jawabnya terengah.

Tubuh Jimin membeku sesaat mendengarnya, kulumannya di kemaluan Jungkook terhenti. Jungkook merengek kecil layaknya bocah yang kehilangan kado natalnya. Namun ia tidak berkata apapun.

"Kau masih perawan?"

Jungkook ikut menghentikan lumatannya juga. Menekan bibirnya sendiri, rasa dari Milik Jimin menempel di lidahnya, ia terdiam dan seperti ragu untuk menjawab. Memilih untuk mengelus paha Jimin.

"JAWAB AKU!" Bentaknya, Jimin orang yang tak sabaran rupanya. Menampar lagi keras paha-nya yang sudah perih dan lecet akibat kuku-kuku berwarnanya yang panjang. Seluruh tubuhnya dianiaya oleh perempuan sadis macam Jimin dan Jungkook bahkan tidak berniat membuat tubuh Jimin sama memarnya. Terlebih kukunya tidak ada yang panjang sama sekali!

Sedikit meringis dan mengendus kesal dalam hati, Jungkook menjawab, "Aku tidak pernah bercinta dengan lelaki manapun sebelumnya, tidak juga dengan perempuan. Ya, aku masih perawan Jiminie"

Fakta itu bukanlah hal yang memalukan sebenarnya, terlebih Jungkook hanya fokus untuk mengejar impiannya dulu, bersaing bersama Sang Kakak Tercinta untuk menjadi yang terbaik sebelum akhirnya ia kehilangan Kakak-Nya karena Kim Taehyung brengsek yang mencampakkannya; memperdayanya dalam cinta palsu satu malam hingga membuatnya bunuh diri.

Fokusnya saat ini hanyalah untuk balas dendam.

Itulah yang menjadikannya anak pendiam, tak lagi seceria dulu. Ia tidak ingin bergaul dengan siapapun lagi apalagi berteman selain menuntut balas pada Kim Taehyung— Membuatnya jatuh tergila-gila padanya-sudah berhasil- menuruti semua keinginannya, membuatnya merana dan meninggalkannya dengan tanpa harapan hingga hidupnya akan putus asa dan sama menderitanya seperti yang dirasakan kakaknya. Sungguh, Jungkook berharap ia mati.

Sayangnya, ia lupa untuk memperkirakan Park Jimin.

Catatan mental untuk dirinya sendiri, 'jangan pernah menganggap remeh orang yang dibakar api cemburu, karena mereka bisa berbuat lebih nekat'.

Tetapi tentu saja, mengakui dirinya masih perawan pada perempuan lainnya terlebih Park Jimin, membuatnya malu seakan ia memang tidak menarik perhatian satu Pria manapun untuk menidurinya.

Namun-Oh... Bukankah Jimin akan dapat menguntungkannya? Yah, tentu saja, bawa saja jimin masuk kedalam rencananya.

...

Park Jimin terkekeh geli, menggeleng tidak percaya. Rumor yang mengatakan Jungkook masih perawan ternyata benar adanya.

Jungkook berdecak sebal mendengar suara kekehan Jimin.

Jimin mencium pahanya penuh kasih. "jangan khawatir, kau akan menyukainya...jalang kecilku"

Kembali menjilati kewanitaannya, mendatangkan lenguhan nikmat kembali dari mulut Jungkook.

"Lakukan seperti yang aku lakukan padamu"

Jimin menjilati ketiga jari-jarinya sendiri, melumurinya dengan air liurnya hingga benar-benar basah. "Rileks... Oke?", meskipun Jungkook tidak mengangguk, Jimin tahu ia mendengarkan.

Jimin mendorong masuk satu jari tengahnya. Nafas Jungkook tersendat, suaranya tercekat ditenggorokannya. Oh sial, rasanya sakit dan sangat tidak nyaman. Kuku Jimin menyakitinya, membuatnya perih, meneroboskan jari tengahnya sekaligus.

Jungkook menggigir bibir bawahnya kuat hampir membuatnya berdarah menahan rasa sakit. Tangannya mencengkram paha Jimin. Tubuhnya tidak bisa rileks, penuh antisipasi apalagi Jimin langsung menggerakan jari tengahnya maju-mundur, lalu berputar-putar didalamnya tanpa membuat Jungkook terbiasa menyesuaikan.

Tanpa peringatan lainnya, jari lainnya ikut menggali masuk dengan kuku tajam yang merobek selaput dara-nya. Melakukan hal yang sama tanpa Jungkook bisa terbiasa dengan kedua jari gemuk Jimin di lubang perawannya.

FUCK! Ini seperti siksaan rasanya, kenikmatannya hilang seketika.

"Arrgghhh..." Kali ini rasa sakitnya tak bisa ia tahan saat Jimin memasukan Jari Ketiga-Nya dengan tergesa. Kuku-kuku tajam itu benar-benar menyakitinya.

Jungkook terisak, matanya berkaca-kaca dan saat ia berkedip, setitik air mata jatuh menetes ke permukaan bantal. Sialan, Park Jimin pasti sengaja melakukannya!

Jimin tampak berbeda, ia sangat menikmatinya. Kagum dengan apa yang dilihatnya— Bagaimana Lubang Vagina Jungkook melahap tiga jarinya.

Lubang Jungkook ketat dan menekan kuat jari-jarinya. Jimin meneteskan liur diujung bibirnya, ia kelaparan. Tak pernah ia membayangkan mencicipi lawan sejenisnya akan sebegini membuatnya hilang akal. Ia bahkan tak pernah tertarik pada perempuan manapun. Atau mungkin karena perempuan ini Jungkook? Saingannya, orang yang sebanding dengannya dalam segala hal? Yang mengancam posisinya sebagai primadona kampus?

Apa ini yang membuat Taehyung berpaling darinya? Karena Jungkook masih Suci dan Terjaga sedang ia sudah pernah terjamah beberapa kali? Atau wajah cantiknya dan bagaimana ia terlihat rapuh dan pasrah dalam kungkungan? Dan menunggu seorang monster untuk menghancurkannya?

Jungkook terlihat sejuta kali lebih cantik saat ia menangis, memohon, terluka, dan melenguh dalam ekstasi.

Jimin bertanya-tanya bagaimana rasanya jika ia menikmati Jungkook sebagai seorang lelaki? Bukankah enak dimanja dengan lubang ketat yang belum terjamah? Uh, pikiran Jimin meninggalkan kewarasannya. Ia ingin menggapai surga segera hanya dengan memikirkan bagaimana ia bisa terus melecehkan tubuh Jungkook.

Dan ia akan membuat Jungkook ikut menggapai surga bersamanya.

Mengabaikan desisan sakit dari mulut Jungkook. Tangannya terus bergerak liar didalam Lubang Vaginanya. Sebelum akhirnya Jimin tersenyum senang, desisan sakit jungkook berubah menjadi lenguhan nikmat.

"Ou-Oohhh~ Jimin~", erangnya keras. Tubuh Jungkook melengkung, bergetar, mulutnya terbuka dan matanya melebar. Jimin menekan spotnya.

"Kau suka itu". Jungkook mengangguk bersemangat. Jimin menekannya lagi, mendatangkan erangan lainnya dari Jungkook yang mendapatkan lebih banyak kesenangan.

Menatapnya secara tidak sengaja, membuat kemaluan Jimin basah kembali dengan kedutan minta diisi. "Lakukan hal yang sama untukku Jungkookie-ah. Isi aku dengan jarimu"

Jungkook menurunkan pandangannya, menatap Jimin beberapa saat dengan mata yang berkedip.

Bulu mata panjangnya sangat lentik saat Jimin mengamati Jungkook yang menutup matanya sebelum mengibarkannya terbuka diiringi senyum yang belum pernah dilihatnya ada diraut wajah Jungkook sebelumnya. Itu tampak nakal.

Jungkook bermain-main dengan kemaluannya sebelum memasukan tiga jarinya secara bersamaan dan tanpa aba-aba, mendatangkan jeritan kesakitan dari jimin.

Ia memang tidak perawan namun tindakan seperti itu juga membuatnya tidak hanya linu namun juga sangat kesakitan.

Menatap tajam Jungkook yang mengabaikannya dan memfokuskan jari-jarinya bergerak didalam Jimin. Ia yang mudah terangsang seketika melenguh dan mengerang saat Jari Panjang Jungkook mengenai tepat ke Spot-Nya.

Dan ia melanjutkan hal yang sama untuk perempuan montoknya.

Jari-jari mereka saling menganiaya lubang kewanitaan masing-masing dengan tubuh yang saling melilit dan bergerak random. Saling menciumi paha dan mengecap kulit pasangannya.

Euforia yang didapat membuat mereka lupa segalanya. Hanya ada kesenangan dan kenikmatan. Mencoba menggapai langit dan menginginkan puncak surga segera dalam warna-warni dosa. Tubuh keduanya penuh keringat, ruangan semakin memanas dengan suara-suara tangisan desahan dan erangan ekstasi tiap kali jari memukul Sweet-Spot.

Kata-kata cabul ikut memenuhi keduanya. Bercinta penuh gairah gelap seolah ini yang pertama juga terakhir bagi keduanya.

"Ah Jimin! Aku-Aku tidak bisa mengambil lagi, aku a-akan datang!", Jungkook berteriak, mengerang akan dorongan jari yang keluar masuk memukul titik-nya.

"Hanya hahh-sedikit lagi-Hh..."

Kedua-nya akan sampai— semakin bergerak tak beraturan.

Tak lama kemudian kedua-nya memberikan teriakan terakhir yang nyaring penuh kepuasan dengan punggung keduanya yang saling melengkung, bergetar hebat dan mata yang menjuling ketika mereka berdua datang, menyemprotkan dengan deras cairan kental bening.

Jungkook yang pertama kali menarik jari-nya keluar, tangannya terentang dengan nafas yang berburu didadanya yang naik turun. Matanya terpejam, ia kelelahan.

Jimin tidak segera mengeluarkan tangannya, matanya yang setengah menutup melirik kebawah pada Jungkook, senyum miring tersungging melihat betapa kacaunya Jungkook olehnya. Menarik Jarinya, cairan cinta Jungkook memenuhinya dan tanpa ragu Jimin menjilatinya, memasukannya dalam mulutnya penuh.

Rasanya aneh tapi enak. Dilihatnya sebagian cairan Jungkook keluar turun dari vaginanya, Jimin mengambil inisiatif untuk mengambilnya kedalam mulutnya— melebarkan Paha Jungkook dan meminumnya-menjilatinya-habis. Itu menimbulkan sensasi geli seperti setruman listrik, tapi Jungkook terlalu lelah untuk peduli. Tubuhnya masih merasakan Euforia Pasca-Seks.

...

Jimin bangkit dan berbaring di samping Jungkook yang menutup matanya, ia terengah-engah dan berusaha menarik napas.

"Jadi ... Bagaimana sekarang? Apakah kau tahu dimana tempatmu sekarang?" Dia bertanya lelah saat dia berbalik ke arah Jungkook. Pertanyaan tak masuk akal!

Masih terengah-engah Jungkook perlahan berbalik sendiri untuk menghadapi Jimin dan meringkuk kedalam pelukannya. Jungkook menciumi dagu Jimin—beralih ke lehernya—menempatkan kepalanya didada Jimin, ia dapat mendengar detak menggebu jantung Jimin. "Tolong maafkan aku Jiminie, kurasa aku tidak bermaksud merebut Taehyung darimu. Ia sendiri yang mengatakan bahwa kau bukanlah siapa-siapanya dan hanya menginginkanku" Jawabnya, sengaja bergumam dengan nada menyindir pada bagian terakhir.

Hati Jimin panas kembali ketika dia mendengar ini; perasaan terkhianati kembali bersarang didadanya membuatnya sakit dan marah.

Maniknya melirik Jungkook tengah membenamkan wajahnya dilekukan lehernya. Jimin masih cemburu padanya, namun ia tidak menemukan niatan untuk menyakiti perempuan bersurai jelaga yang indah ini lagi. Ini jadi membingungkannya.

"Kalau begitu jawablah aku satu pertanyaan..." Katanya mendorong Jungkook dari kehangatan tubuhnya dan berdiri, berjalan mengambil sesuatu yang terlupakan dilantai; sebuah pistol sialan!

Berjalan kembali ke sisi Jungkook yang anehnya terdiam tidak menunjukkan Ekspresi apapun—bahkan tidak rasa takut sekalipun.

Mengarahkan Pistol itu dengan gerakan main-main pada tubuh berkeringat Jungkook. "Jeon Jungkook, aku tak bisa melihatmu bersama Taehyung! Tapi setelah apa yang kita lakukan, aku dapat mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu dan aku tidak bisa menyingkirkanmu. Tapi aku bersumpah akan menyakitimu jika kau yang membuatku terpaksa melakukannya. Jadi... katakan padaku, maukah kau menjadi milikku?"

Jungkook menatap Jimin dengan mata lebar, tak percaya dengan pendengarannya. Ia merasa sulit berkata tetapi segera mendapatkan kembali suaranya, "Y-Ya! Jiminie aku mau—" Jungkook terdiam sedikit lebih lama, Jimin menunggu dengan kesabarannya sendiri kala Jungkook menatapnya lekat. Iris hitamnya tak mampu dibaca Jimin. Akan tetapi Jimin menemukan dirinya menggigil dengan nada yang dipakai jungkook saat ia melanjutkan perkataannya, "Aku mau menjadi milikmu, setia padamu dan hanya mencintaimu. Perasaan ini baru untukku, tapi aku dapat menyakinkanmu seberapa inginnya aku memilikimu, Jiminie. Hal yang tak mungkin diberi Taehyung padamu, Kesetiaan Dan Komitmen-Nya... Sedang aku bisa memberikan semua yang kau mau—namun sebagai gantinya, aku ingin kau berhenti menjadi seorang boneka untuk Taehyung, dan hanya milikku... kita bisa saling memiliki. Bukankah itu terdengar bagus?"

Ada senyum tipis terpatri diwajahnya, sebelum kembali melanjutkan dengan mata berkilat. "Jiminie bisa memperlakukanku sesuka yang Jiminie mau... Kau bisa berkuasa akanku, jadikan aku budakmu! Namun sebagai balasannya aku ingin kau menyingkirkan Taehyung, Jiminie... aku sangat membencinya! Maukah kau melakukannya untukku? Jika Tidak... Maka aku tidak akan bersamamu dan aku akan bersama Taehyung dan menanggung resikonya bahkan jika kau berniat akan mengancamku atau menyakitiku", Jelasnya dengan tenang.

Jimin tidak mengerti kemana Jungkook yang menyedihkan yang takut akannya beberapa menit lalu? Darimana datangnya keberanian tiba-tibanya ini?

Aura Jungkook menekannya, membuatnya sedikit risih dan—takut.

Jimin memang menyukai Jungkook. Ia tidak tahu darimana perasaan itu bermula, apakah saat ia pertama kali melihatnya? Terpana pada cantinya yang natural secara diam-diam dibalik keangkuhan dan ketidaksukaan yang ditebarnya? Atau saat ia memutuskan menyelinap masuk apartemen kumuh Jungkook dan berniat melukainya untuk memberinya perhitungan akibat ia menghiraukan seluruh ancamannya sebab membuat Taehyung mengejarnya dan mencampakkan dirinya dengan penuh hinaan?

Ia menyukai perasaan memegang kendali atas Jungkook— tepat saat ia menekan-nya didinding.

Perasaan benci itu bercampur dengan yang lainnya saat tubuh keduanya saling menekan. Bulu matanya yang panjang menutup langit malam tanpa bintang. Bibirnya yang merekah, merah dan menggoda. Ya, ia memang mengagumi Jungkook diam-diam, dan saat ini menginginkannya. Tetapi Jimin juga masih sangat mencintai Taehyung, terlepas dari bagaimana sikapnya Taehyung padanya.

Ia baru mengenal Jungkook, menemukan perasaan suka pun baru. Dan ia masih ragu-ragu, namun ia menikmati sepenuhnya sesi percumbuan mereka dan ingin merasakan kembali seks mereka dilain waktu.

Tapi itu tidak berarti apapun juga, bukan? Dibandingkan dengan waktunya yang ia bagi bersama Taehyung selama beberapa tahun ini?

Jimin selalu berharap Taehyung benar-benar mencintainya tulus, meski harapan itu sia-sia. Apalagi saat ini jelas Taehyung mencintai Jungkook dan tergila-gila akan pesonannya. Jimin tidak mau melihat keduanya bahagia diatas penderitaannya jikalau keduanya benar-benar bersama.

Menyakiti Taehyung tak pernah terlintas ada dalam benak Jimin, sebarapa kalipun Taehyung membuatnya merana. Sayang sekarangpun melukai Jungkook secara nyata takkan sanggup Jimin lakukan.

Mengapa hal-hal dalam konteks romantisme selalu membuatnya lemah?

Tangan Jimin sedikit bergemetar, manik tajam Jungkook tak melewatkan itu, Jimin tengah berperang batin dan Jungkook mengulum senyum manisnya.

Taehyung akan kembali padanya jika ia bosan, bukankah selalu begitu? Lupakan saja tawaran Jungkook, mungkin saat ia kecewa nanti Jimin akan mengulurkan tangannya menunjukkan belas kasih dan kembali memberikannya kehangatan. Jadi ia tidak perlu kehilangan keduanya.

"Kim Taehyung sepertinya sangat mencintaiku dan ia akan melakukan apapun juga untukku..." Jungkook berbicara seakan tahu apa yang tengah dipikirkan jimin.

Mata Jimin menyipit menatapnya.

"Dia mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia merasakan sesuatu seperti perasaan tulus pada seseorang dan orang itu adalah aku. Aku akan menjadi persinggahan terakhirnya. Taehyung sudah membuangmu Jiminie... Umm, Well, Bukankah dari awal ia memang tak pernah menganggapmu selain mesin uangnya dan boneka pemuas nafsunya? Kau hanya mainan sama seperti yang lainnya, dan tak berharga! Jadi, bukan aku yang harus memikirkan jawabannya untuk pernyataan cintamu, tapi kau Jiminie... Maukah kau bersamaku dan menyingkirkan Taehyung? Atau kau hanya akan mengharapkan pemuda yang sampai kapanpun tidak bisa mencintaimu tulus?"

Pernyataan itu kembali menghujam jantung Park Jimin. Ia mencoba menyangkalnya meski ia tahu itu benar.

"A-Aaku orang yang harusnya memegang kendali..." Ucapnya putus asa.

Jungkook terkekeh geli. Matanya menatap lucu pada perkataan Jimin, "Tentu saja sayangku, kau bisa memegang kendali akanku. Tapi kau tidak bisa menyetir Taehyung berapa kalipun kau berusaha. Nyatanya kaulah yang distir, bukan? Taehyung tidak pantas bersamamu! Dan aku mau mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Tapi aku menginginkan kematian Taehyung"

"kenapa?" Akhirnya Jimin bertanya. Keingintahuan dan kebingungan melanda pikirannya dari rasa penasaran.

Jungkook terdiam cukup lama, sebelum berkata dingin dan pahit, "Jungri Noona..."

Jimin mengernyit tak mengerti. Ia tahu siapa itu Jungri, —perempuan korban taruhan Taehyung dengan teman seperkumpulannya.

Jungri perempuan lumayan cantik, polos dan sangat Intorvert. Sejujurnya tidak menarik, selalu memakai kaca mata jelek dan berjalan menunduk dengan helaian hitam yang menutupi wajahnya. Seorang kutu buku dan cupu! Tetapi perempuan itu mahasiswi berprestasi yang satu jurusan dengan Taehyung. Prestasinya bahkan mengalahkan Taehyung dalam segala bidang akademis.

Jimin ada disana saat taruhan itu dibuat, meski sedikit tidak rela, ia tidak berkata apa-apa saat Taehyung menerima taruhannya dengan membuat Jungri mencintainya; lalu menjadikannya budaknya, menidurinya sebelum akhirnya diputuskannya.

Semua orang tahu Kim Taehyung memiliki REPUTASI di Kampus, jadi tak aneh lagi jia ia memang bersikap seorang bajingan. Seharusnya perempuan bodoh itu tidak terlena dan termakan rayuannya. Salahnya sendiri mempercayai Taehyung. Sampai akhirnya rekaman vidio yang sengaja Teman Taehyung ambil saat Taehyung mengambil kesucian Jungri tersebar diseluruh kampus dan Jungri yang tak mampu menerima konsekuensi atas rasa malunya membunuh dirinya sendiri.

Malang sekali. Perempuan yang bodoh yang mencintai Taehyung, sama sepertinya hatinya berkata.

"Apa hubu-"

"Jiminie tahu dia bukan?"

Jimin mengangguk tak mengerti arah pembicaraan Jungkook.

"Jungri Noona-ku yang malang, ia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Kakakku tercinta, dan karena Taehyung aku kehilangannya untuk selama-lamanya!" bentaknya penuh amarah, sebelum tersenyum lembut pada Jimin.

Jimin tersentak kaget akan informasi yang didapatnya, ia tidak tahu jika Gadis Culun itu memiliki saudari perempuan yang cantik. Pantas saja ia merasa sedikit familiar dengan wajah Jungkook.

TUNGGU, kenapa ia tak menyadarinya saat ia tahu jika marga Jungkook juga Jeon? Tak ada yang menyadarinya ada Marga Jeon selain Jungri yang masuk kampus setelah beberapa minggu masa berkabung atas kehilangan Jeon Jungri.

"Jadi... Ini... Karena dendam?"

Jimin mungkin bisa saja memberikan informasi ini pada Taehyung untuk membuatnya sadar; Bahwa hanya dirinya lah yang mampu memberikan cinta tulus tanpa pamrih untuknya. Tapi akankah ia percaya pada perempuan penuh obsesi sepertimu? Lagi-lagi suara dikepalanya berkata.

Jungkook menghela nafas, ia lelah dan menginginkan tidur sebenarnya. "Aku tahu Jiminie... Kau juga ikut campur dalam memberinya tekanan. kakakku itu bukan aku. Ia takkan kuat menerima perlakuan sadis dari jiminie-ku yang kasar. Tapi aku berbeda, jika kau benar-benar berniat menyakitiku, percayalah... Aku tidak akan tinggal diam! Ohh... Jiminie-Ku tersayang, aku akan memaafkan perbuatanmu, jika kau menebusnya dengan nyawa Taehyung"

"Tidak!" Tegasnya dengan lantang. "Semua yang kau ucapkan hanya omong kosong. Kim Taehyung tidak mungkin mencintaimu dan meninggalkanku, dia mungkin menginginkanmu saat ini tapi pada akhirnya hanya akan kembali dalam pelukanku"

"Kalau begitu, mau bertaruh?"

Park jimin terdiam.

"Ayo bertaruh... Kim Taehyung akan mencampakkanmu dengan rasa sakit yang tidak akan bisa kau tanggung rasa sakit dan kecewanya. Ia akan lebih senang memilihku, berubah demi aku dan menjadi budakku. Dan aku akan menunggu keputusan darimu sebelum aku menerima cinta Taehyung. Jika saat itu terjadi dan kau mencoba menyakitiku, aku takkan tinggal diam dan akan membalasnya dengan lebih sakit dan aku dapat pastikan itu tidak semenyenangkan dengan pelajaran apa yang jiminie beri padaku!"

Jimin merasakan takut, suara dikepalanya berteriak bahwa Jungkook berbahaya dan kata-katanya tidaklah main-main.

"Aku sungguh kasihan denganmu Jiminie, kau menyedihkan! tapi aku menyukaimu... Dan oh tolong jauhkan pistol mu itu dariku" Jungkook tidak merasa takut jika Jimin akan menarik pelatuk pistol itu untuk membunuhnya. Tidak, sebab ia tahu Jimin menginginkannya. Hanya saja tidak sebesar ia yang mulai mengharapkan Jimin menjadi miliknya. "Umm satu hal lagi Kau bisa pergi atau tinggal didalam apartemenku. Terserah, aku akan tidur untuk saat ini. dan pikirkanlah tawaranku sebelum terlambat, sayang..."

Dan dengan itu Jungkook menutupi tubuhnya dengan selimut dan terlelap menuju alam mimpi meninggalkan Jimin dalam kebimbangan.

Mencintai Kim Taehyung membuatnya menjadi sangat gila. Tapi ia tidak bisa melepaskan perasaan terkutuk itu! Hatinya sudah terikat untuk satu nama Kim Taehyung saja. Namun, ia juga tak bisa mengabaikan tawaran Jungkook. Jimin menginginkannya dibawah kendalinya lagi. Ia sangat menyukai perasaan dapat mengendalikan jungkook diranjang.

Bagaimana sekarang? Pikirnya lagi miris.

Jimin mengambil pakaiannya yang berceceran dilantai dan memakainya kembali lalu pergi dari Apartemen Jungkook dengan kepala yang dipenuhi kemungkinan.

Ia akan memastikan bahwa jungkook salah, Taehyung tidak akan pernah meninggalkannya. Seberapapun menginginkannya Taehyung saat ini pada Jungkook, ia tak mungkin mencampakkannya. Sebab Jimin telah memberikan semuanya pada Taehyung, SEMUANYA... termasuk akal sehatnya.

OH, JIMIN SANGAT-SANGAT MENCINTAI KIM TAEHYUNG.

.

.

.


.

sejujurnya aku ragu post ini, yah.. well... karena ini aneh. tapi ini ada di draft ku, sayang kalo dibuang gitu aja...

jadi... aku minta maaf buat yang tanpa sengaja baca tulisan gila ini.

.