Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Skit Soulmate

Genre : Drama, Romance

Rate : M

Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.

Chapter : 2/5

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.

Summary : Awalnya, Sehun punya hubungan erat di antara dua cewek cantik; Zitao sebagai pacarnya, dan Luhan sebagai sahabatnya yang kekanakan. Hubungan Sehun dengan dua wanita itu masih baik-baik saja selama Sehun masih bisa mengendalikan perasaannya. Namun ketika perasaan lain memaksa untuk kembali dan mengendalikan semuanya, perlahan, hal yang dipertahankan akan hancur.

BGM : 너는 나만큼 (Growing Pains) by Donghae & Eunhyuk

"Kau benar-benar keterlaluan, Luhan,"

Yang mengeluh kini mulai memijit pelipis kepala dan merunduk; menyembunyikan raut sebal sekaligus lelah di wajah. Tubuhnya sudah tersandar pada kursi lengkung yang berada di boarding room, dengan tas tangan hitam besar yang nangkring di depannya. Sedangkan seorang yang dipanggil Luhan malah menoleh sembari melempar tatapan tidak bersalah dengan kedipan menggemaskan.

Gadis bermata rusa itu mengerucutkan bibir, kepalanya meneleng ringkas hingga membuat cepol ketat di atas kepalanya bergoyang. Kelopaknya mengedip memerhatikan tampang bete yang dilukis cowok albino yang duduk di sampingnya. Lama-lama dia ikutan memasang raut bete yang sama dengan Sehun.

"Kalau Bibi Oh tidak memaksaku untuk ikut pulang denganmu, aku juga tidak mau pergi," pembelaan diri itu terucap dengan amat ketus dari Luhan. Punggungnya terjatuh di sandaran kursi kemudian membuang pandangan.

"Sesampai di Korea, kita berpisah di Incheon."

Luhan kembali menatap wajah Sehun demi mempertanyakan akal sehat pemuda itu. "Kau membiarkanku naik taksi sendirian pukul 2 dini hari?"

"Memangnya kenapa?" Sehun membalas tatapan penuh tuntutan dari Luhan dan mendengus saat menyadari jika sahabat kecilnya sedang mencoba merayunya dengan kedipan mata rusa. "Seingatku kau tidak pernah takut dengan cowok mana pun."

"Tapi 'kan kasusnya beda," Luhan bersungut tidak terima. "Aku pulang ke Korea denganmu. Dan seharusnya kita pulang bersama dan kau bisa tidur di rumah keluargamu."

"Tapi aku tidak punya niat untuk pulang ke rumah," Sehun menyangkal kalimat Luhan. "Menurutmu, jadwal penerbangan dini hari ini untuk apa?"

Sehun melipat salah satu tungkainya dengan luwes, dua lengannya terjalin di depan dada saat pemuda itu memutuskan untuk membuang pandangan. "Aku akan langsung pergi ke apartemen pacarku. Jadi kau tidak bisa ikut."

Oh, pacar Oh Sehun. Luhan nyaris melupakan seorang gadis bermata kucing yang membuat dunia Oh Sehun jungkir-balik. Seorang gadis beruntung yang berhasil membuat Sehun tergila-gila; cantik, seksi, manja, dan segalanya. Jika dibandingkan dengan Xi Luhan, maka level keduanya akan tampak sangat berbeda. Huang Zitao jelas berada beberapa tingkat lebih tinggi dari Luhan.

Seumur hidup Luhan sudah tinggal berdekatan dengan Oh Sehun. Tetapi makin hari hubungannya dengan Sehun malah semakin memburuk.

"Kalau memang itu alasanmu," Luhan mengatakan kalimatnya dengan nada bergetar. Sakit hati akibat kekalahan mutlak yang didapatkannya mendadak membuat tenggorokannya terasa tercekat. "Kenapa kau tidak menjelaskan alasanmu ke Bibi Oh? Dengan begitu aku tidak akan ikut pulang!"

Luhan bangkit dari duduk dan menarik serta tas tangan mungil pink penuh gandul boneka lucu miliknya, meninggalkan tempat duduk Sehun dengan kedongkolan hati yang menyiksa. Sehun hanya menatapnya dengan tatapan pengusiran, lalu Luhan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi kosong yang letaknya cukup jauh dari Sehun.

Padahal Luhan tidak pernah merasa sesakit ini jika dicompare dengan Huang Zitao. Sialan. Air mata di kelopak matanya ingin sekali jatuh dari sana. Luhan ingin menangis karena lubang menganga yang baru diciptakan Oh Sehun di hatinya.

OoOoO

Seorang gadis berambut panjang bergelombang kini sedang menyandarkan kepala serta keseluruhan tubuhnya pada sosok cowok di sampingnya. Lengannya yang sekurus ranting melingkar di sekitar dada pemuda itu; ujung jemarinya bergerak melukis gambar abstrak pada bidang dada di hadapannya.

Seorang pemuda berkemeja putih linen yang menjadi sandaran Huang Zitao sama sekali tidak keberatan dengan tingkah manja mantan kekasihnya semasa SMA. Ketika mereka masih terdaftar sebagai siswa di China. Dagunya yang licin bersandar pada pucuk kepala Zitao, punggung tangannya memberi remasan lembut pada pundak sempit Zitao—sesekali berpindah untuk memberi belaian di punggung.

Setelah pertemuan tidak terduga di restoran itu, Zitao mengajak Kris untuk makan malam di apartemennya. Lalu keseluruhan cerita mereka mengalir tanpa bisa ditahan. Kris berada di Korea untuk menghadiri pembukaan cabang baru perusahaan milik sahabatnya. Dan tanpa diduga, dia malah bertemu dengan mantan kekasihnya.

Huang Zitao yang masih dicintainya. Adik kelasnya di SMA, gadis mungil berengsek yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kisah cinta mereka karena sebuah alasan klasik; ingin menerima beasiswa pendidikan di Korea. Lantas hubungan keduanya tandas di tengah jalan secara sepihak. Karena Kris sama sekali tidak setuju untuk mengakhirinya.

Jikalau memang berjodoh; mereka pasti akan kembali bertemu dalam sebuah keajaiban. Ketidak sengajaan yang membawa pada takdir. Seperti yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.

"Menginap saja," Zitao membenarkan duduknya, menekuk dua tungkainya dan merapatkan tubuhnya pada Kris. Pipinya yang tirus memberi gesekan yang menggetarkan ujung syaraf Kris. "Sudah terlalu malam untuk menyetir ke hotel."

Kris tertawa mendengar kalimat Zitao. "Seoul itu kota yang tidak pernah tidur, Ziezie," ujarnya.

Zitao tersenyum ketika mendengar panggilan manis itu terlontar dari Kris; panggilan sayang yang begitu dirindukannya selama enam tahun belakangan. Nama kecil pemberian Kris yang penuh afeksi nyata.

"Terserah mau menyebut Seoul sebagai kota apa," Zitao mendongak, bola matanya yang berkilau oleh sinar zamrud keperakan memancar meluluhkan perasaan Kris. Telapaknya menelusuri alur urat leher Kris, dan berhenti tepat di pangkal leher pemuda itu. "Tetapi, Gege harus menginap."

"Katakan," Kris ikut meraih rahang lancip Zitao sedangkan ibu jarinya bergerak membelai dagu serta sisi bibir Zitao. "Kenapa aku harus menginap di sini?"

Zitao memutar mata jengah, tetapi dia tetap menyandarkan kepala pada dada Kris. Kepalanya mendongak dan bergerak cepat untuk memperpendek jarak di antara bibir keduanya. Kelopaknya mengedip sekali sesaat sebelum memberi kecupan singkat pada bibir Kris. Pemuda itu terkejut sedangkan Zitao tersipu.

"Sudah lama kita tidak .., bertemu," Zitao mengatakannya dengan malu-malu. Tetapi setelahnya dia langsung memasang raut cemberut yang lucu. Seolah-olah sedang menunjukkan kekesalannya atas sikap keras kepala Kris yang ingin pulang. "Apa sih susahnya menginap?"

Kris memutuskan untuk melingkarkan dua lengan kekarnya pada pinggang Zitao, menarik tubuh gadis itu agar semakin mendekat. "Nakal sekali," ujarnya penuh hasrat terbakar yang masih tersembunyi dalam raut profesionalnya. "Seingatku, dulu kau tidak pernah mencuri ciuman dariku."

"Itu dulu," Zitao mengingatkan, menumpangkan salah satu kakinya tepat di atas kelelakian Kris hingga pemuda itu mengeram tertahan. Dia malah terkikik senang saat merasakan kehangatan mutlak dari sana. "6 tahun lalu, saat aku masih gadis umur 18 tahun; yang ingusan, tidak punya pikiran, dan .., memilih opsi untuk meninggalkanmu."

Kris melayangkan kecupan penuh hisapan pada bibir Zitao sesaat setelah kalimat penuh keluhan itu terlontar padanya. Telapak tangan Zitao menarik-narik tengkuknya dengan agresif. "Opsi untuk pergi ke Korea bisa dimaafkan, Ziezie. Itu untuk karir hidupmu," ujarnya dengan suara serak dan dalam. "Bagusnya, kita bisa kembali bertemu."

Lalu Kris kembali mencium bibir Zitao sebelum mendapat jawaban apa pun. Tubuhnya telah meninggalkan sandaran sofa, kini punggungnya melengkung demi meraup bibir semerah ceri milik Zitao. Sedangkan gadis itu mencondongkan tubuhnya tanpa keberatan, seolah mempersilahkan tangan-tangan nakal Kris untuk membelai buah dadanya yang hanya tertutupi selembar gaun tipis serta bra rendanya.

Ciuman itu berlanjut hingga spotnya berpindah-pindah tempat. Kris memberi kecupan sensual pada tiap jengkal kulit tubuh Zitao, meninggalkan bekas terbakar yang melenyapkan akal sehat Zitao. Pemuda itu melucuti gaun musim panas Zitao dengan cepat, tanpa perlawanan hingga pandangannya bisa menemukan tubuh sempurna Zitao di hadapannya. Terpampang dengan begitu pongah dengan kain pelindung yang didefinisikan sebagai pakaian dalam.

Zitao nyaris menertawakan raut binal di wajah Kris ketika memerhatikan keseluruhan tubuhnya. Perlahan, dia malah mundur namun kepalanya masih terjulur ke depan. Kecupan itu tercipta tanpa tautan lidah. Dia sedang mencoba mengerjai Kris yang sibuk melepas kejemanya.

"Jangan dibuka," Zitao berucap saat dia melepaskan ciuman mereka. Gadis itu mundur dan meninggalkan sofa, berdiri di depan meja sambil memandang kancing-kancing kemeja Kris yang nyaris terbuka sepenuhnya. "Aku yang punya tugas untuk membuka semuanya."

Kris terbakar oleh kata-kata Zitao. Dia berusaha diam saat menemukan fakta bahwa Zitao sedang berusaha melucuti pakaian dalamnya, tepat di hadapannya sambil memasang raut konfrontasi. Gadis itu menggigit bibir saat berhasil meninggalkan bra serta thongnya. Gawat. Keindahan di hadapannya benar-benar sukses membuatnya turn on secepat ini.

Pemuda itu bangkit dan langsung merengkuh tubuh Zitao, tangannya bergerak menggoda puncak payudara milik Zitao dan berhasil membuat gadis itu mengerang tidak tahan. Tangan buta Zitao bergerak membuka kemeja Kris, lalu turun ke bawah hingga mencapai pengait celana flanel Kris.

Dan ketelanjangan keduanya menjadi awal untuk saling membelit dalam sapuan gairah. Kris terus memberi manuver penuh godaan pada tubuh Zitao, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain mendesah penuh damba. Saat Kris melesakkan dirinya jauh di dalam tubuh Zitao, gadis itu mendesis tetapi berulang kali mendesah keenakan.

"Kris, seperti itu," Zitao nyaris menggelepar tidak berdaya saat Kris menggoyang pinggulnya selama beberapa kali. Titik kenikmatan itu benar-benar dapat direngkuh dalam sekejap, dia bisa melihat fatamorgana atas orgasme yang akan menghampiri.

Kris mengeram layaknya singa saat merasakan dirinya dijepit kuat oleh Zitao, pinggulnya terus bergerak tiada henti demi memberi ransangan yang tidak terlupakan. Ketika Zitao meneriakkan namanya dan disusul oleh semburan hangat oleh lava cinta di dalam sana, Kris baru mengeluarkan suara desahnya. Lalu dia ikut menyusul untuk menyemburkan benihnya.

Di dalam sana.

OoOoO

Sehun berdiri di depan sebuah pintu geser bandara dengan koper yang berdiri tepat di samping tungkainya. Dua lengannya tertekuk di depan dada, berusaha memasang raut tidak peduli kendati dia mengantuk sekali. Udara di luar bandara ternyata dingin sekali; pukul 2 dini hari dan nyaris tidak ada mobil yang melewati jalan besar di depan sana. Memang ada beberapa mobil yang tampak berhenti, mengantar orang-orang yang akan berangkat ke suatu tempat dengan penerbangan dini hari. Tetapi taksi umum sudah tampak jarang di sekitar sini.

Dan sialnya, sosok gadis yang ditunggunya belum juga keluar dari bandara. Padahal lima menit lalu dia melihat Luhan di area pengambilan bagasi, memerhatikan koper-koper yang berjalan melewati mesin pengecekan dengan mata mengantuk.

Sehun sudah mendapatkan kopernya, dan dia langsung menyerahkan nomor bukti pembayaran bagasi ke seorang petugas di pintu keluar. Begitu petugas itu mengatakan silakan dengan suara serak, Sehun menoleh dan mendapati Luhan yang menarik sebuah koper oranye yang penuh tempelan stiker lucu dari mesin pengecekan.

Jadi, mustahil sekali kalau Luhan sudah pulang duluan.

Gadis itu pasti sedang ngambek. Pemberontakan kekanakan akibat kalimat keterlaluan yang dilontarkan oleh Sehun di Jepang tadi. Setelah pertengkaran itu, Luhan benar-benar mengacuhkannya; tidak mau bicara dan duduk seperti patung bodoh sambil mendengarkan musik lewat earphone.

Seandainya saja Sehun bisa bersikap lebih cuek pada Luhan.

Dia tidak akan mau berdiri di pintu masuk bandara seperti saat ini. Sepuluh menit setelah berkutat pada pemikirannya sendiri, akhirnya Sehun menemukan sosok mungil Luhan sedang berjalan menghampiri pintu dengan kepala tertunduk.

Sehun mengeram begitu mendapati gadis itu hanya melangkah melewati dirinya. "Hei, hei!" teriaknya tidak terima. Kemudian telapak tangannya jatuh di pundak Luhan, menahan perempuan itu agar tidak melangkah lagi. "Masih betah untuk mengacuhkanku?"

"Siapa yang mengacuhkanmu?" Luhan berusaha menyingkirkan telapak tangan Sehun pada pundaknya. Dia tampak mengantuk dengan mata setengah terpejam seperti itu. "Bukankah kau harus cepat-cepat pergi ke apartemen pacarmu untuk memberinya kejutan tidak berguna ini?" lalu Luhan kembali berbalik.

Berniat kembali melangkah tetapi Sehun mencekal pergelangan tangannya. Tahu-tahu pemuda itu sudah berdiri di hadapannya, melempar tatapan menyerah kalah yang bisa diartikan Luhan sebagai kabar baik.

"Bagaimana aku bisa pergi ke sana dengan tenang saat membiarkanmu pulang sendirian dalam kondisi seperti ini?"

Dua bahu Luhan mengending tidak peduli. "Aku bisa pulang sendiri kok," katanya saat kelopak matanya sedikit terangkat sebab menangkap titik lampu dari kejauhan. "Kebetulan ada taksi yang mau lewat," katanya sambil menunjuk sebuah sedan kuning kenari yang memang datang ke arah mereka.

Taksi itu berhenti di halte taksi khusus dan Luhan segera menarik tangannya. Kakinya yang mungil menapaki lantai beton diikuti bunyi berisik dari roda kopernya. Supir taksi yang gendut itu segera keluar dari jok kemudi begitu melihat penumpang barunya yang cantik. Luhan berterimakasih saat orang itu membantunya meletakkan koper di bagasi.

"Bawa saja sekalian," seseorang memerintah sopir taksi itu dan menuai kerutan heran di wajahnya.

Luhan menoleh dan langsung memberengut begitu mendapati Sehun. "Apa-apaan?"

"Bawa saja," Sehun memerintahkan sopir taksi itu agar segera meletakkan koper hitamnya ke dalam bagasi. Dia tersenyum puas saat sopir itu menuruti perintahnya. Pandangannya langsung beralih menatap Luhan yang cemberut. "Kita pulang bersama," ucapnya kemudian membuka pintu.

Luhan yang masih dilanda keterkejutan hebat hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Sehun baru saja mengatakan jika mereka berdua akan pulang bersama. Itu berarti, Sehun lebih memilih dirinya ketimbang Huang Zitao, bukan?

Hal bagus apa ini?

"Luhan," Sehun memanggil hingga menyentak kesadaran Luhan. "Cepat masuk atau aku akan meninggalkanmu."

Tentu saja Luhan menuruti apa yang dikatakan Sehun; dia langsung melompat ke jok penumpang lantas senyuman lebar terlukis di bibirnya. Pandangannya langsung tampak cerah ketika Sehun menyebut alamat kompleks perumahan Keluarga Oh, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakannya.

"Terimakasih, yaa," Luhan menoel-noel lengan atas Sehun dengan telunjuknya dan tersenyum-senyum aneh. "Kau memang yang terbaik."

Sehun memutar mata lantas meraih ponsel dalam saku jeansnya. "Simpan terimakasihmu untuk nanti," ujarnya tidak peduli. "Aku harus menghubungi Zitao dan kau harus diam. Mengerti?"

Sehun memberi tatapan tajam yang begitu mengancam; gadis itu hanya mengangguk sambil mengulum bibir. Desah panjang dihembuskan olehnya ketika jemarinya menari menekan papan tombol lalu sambungan telepon itu tersambung ke nomor Zitao.

Telepon baru diangkat pada dering ke lima. Sehun baru berhasil mengucap 'halo' tetapi suara pekikan Zitao membuatnya mengerutkan dahi penuh khawatir.

"Zitao?" panggilnya kalut, Luhan sampai menoleh menatapnya.

"O-oh! Aku har—rus angkat .., tel—ah, lepon!" suara Zitao terdengar begitu tertahan dan tersiksa. "P-please, oh!"

Pegangan telapak tangan Sehun pada ponselnya mengerat ketika mendengar desah tidak asing yang berasal dari mulut kekasihnya. Perlahan namun pasti, urat-urat pada pelipis serta lehernya mulai muncul ke permukaan.

"Sejak kapan kau tidak merasa malu ketika tubuh telanjangmu berjalan di hadapanku?"

Suara pemuda lain. Dan disusul oleh pekikan penuh kenikmatan oleh Zitaonya.

"G-Gege," Zitao terengah di antara alur nafas. Sehun semakin mengepalkan telapak tangan ketika mendengarnya.

"Katakan," suara serak pemuda itu terdengar amat menggoda. "Apa yang kau inginkan dariku, Ziezie?"

Sehun mendengar Zitao mendesah tidak tahan ketika pemuda itu selesai mengatakan kalimatnya. Keringat Sehun mengucur deras di dahinya dan Luhan yang duduk di sampingnya mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan.

"P-please," suara Zitao terdengar penuh tuntutan. "Aku tidak butuh jarimu di dalamku," dan kalimat itu berhasil menyulut api kemarahan Sehun. "Aku butuh dirimu di dalamku, Kris."

"Keparat," setelahnya, Sehun memutus panggilan itu.

TBC

Sekedar mau beritahu, yaa .. ff ini akan berakhir dengan couple HunHan. Kan di caption nya udah disebutin kalo maincast nya hunhan, jadi official couple yang lain cuman numpang ngeksis , yaaa hahahaha

Dan, ada yang bilang kalo semisal ff ini hunhan, harusnya fokus ke hunhan doang. Nggak bisa gitu dong hehehe harus ada selingannya dulu buat mengawali kebersamaan mereka. You get it, guys?

Nah. Terimakasih buat yang udah review di firts chap kemarin yaa. Aku tunggu reviews dari kalian lagi :3 bagi siders yang cuman baca, klik follow/fav tanpa ngetik review, aku juga nunggu tobat kalian hahahahahaa

Xoxo.