Chapter 2 update. :D

Apa ini udah kilat? Saya ga nyangka ada respon positif dari readers dan reviewer. Terima kasih banyak. :)

.

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

SUMMER IN SEOUL © ILANA TAN

LOVE IN KONOHA © AIRA Q-ARA CLEOPATRA

.

WARNING: AU, OOC , IDE PASARAN, TYPO(S), GAJE, ABAL, BAHASA TIDAK BAKU (maybe), DLL.

DON'T LIKE DON'T READ! DON'T FLAME!

.

.

"APAA?"

Sakura membelalakkan matanya. Ia masih tak percaya dengan ucapan Sasuke.

"Hei, jangan pasang tampang seperti itu," Sasuke menyeringai. "Maksudku bukan pacar dalam artian sesungguhnya."

Sakura mengernyitkan dahi, masih tak paham dengan perkataan Sasuke yang setengah-setengah.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura penuh penekanan. Ia merasa dipermainkan oleh laki-laki di depannya ini. Dan Sakura 'sangat' tidak suka itu.

Sasuke menghela napas. "Yaahhh... Maksudku hanya sebagai pacar 'palsu'. Kau cuma pura-pura pacaran denganku."

"Pura-pura?" tanya Sakura tak percaya.

Sasuke mengangguk. "Hn. Hanya pura-pura. Kan sudah kubilang kau itu bukan tipeku." Sasuke mengacak rambut pink Sakura dengan gemas. Sakura berusaha menghindar, tapi usahanya sia-sia. "Atau kau ingin jadi pacar yang sesungguhnya?" tanya Sasuke dengan seringai kebanggaannya.

"Ti-tidak!" jawab Sakura gelagapan. Ia mengalihkan pandangan ke objek lain, yang penting bukan Sasuke.

"Jadi kau mau?" tanya Sasuke penuh harap.

"Kenapa?"

Sasuke memutar mata bosan. Apa gadis di depannya tidak pernah menonton televisi? "Aku sangat butuh kekasih sekarang. Kau tahu bagaimana ganasnya fans wanitaku 'kan?"

"Kenapa harus aku?" tanya Sakura lagi.

Sasuke berpikir sejenak. "Aku tidak tahu. Tapi menurutku kau itu orang yang bisa dipercaya," sebelum Sakura membuka mulut, Sasuke kembali melanjutkan kalimatnya. "Dan yang paling penting, kau itu bukan fansku."

"..."

"Ayolah. Aku butuh bantuanmu." Sasuke berlutut memelas di depan Sakura. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada. Sorot matanya seolah berkata aku-akan-mati-jika-kau-tidak-mau-membantuku.

Sakura menghela napas panjang. Dia bukan tipe orang yang akan membiarkan orang lain menderita. Tapi membantu Sasuke sebagai pacar palsu agaknya tidak semudah yang ia bayangkan. Sasuke itu aktor! Fansnya tersebar dimana-mana.

"Aku tak mau mengambil risiko. Fans gilamu itu bisa mencabik-cabikku kapan saja!" Sakura menggerutu pelan. Mau tak mau hal itu membuat Sasuke tersenyum geli.

"Tenang saja. Mereka tak akan mengenalimu. Kau akan menyamar."

Sakura mengernyitkan dahi. "Menyamar?"

Sasuke mengangguk. "Sebelum tampil di depan publik, kau akan menyamar agar publik tak melihat sosokmu yang sesungguhnya. Identitasmu juga akan dirahasiakan." Sasuke menjelaskan dengan sabar.

"Bagaimana dengan pekerjaanku sebagai supir taksi?" tuntut Sakura.

"Ah-kau tenang saja. Posisi itu tak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku bisa jamin itu."

Sasuke menunggu jawaban dari Sakura dengan cemas.

"..."

Menyadari Sakura tak kunjung bicara, Sasuke kembali menghela napas. Ia akui, memang itu adalah pilihan yang sulit. Tapi sekarang Sasuke sangat butuh bantuan Sakura.

"Aku akan melakukan apapun yang kau mau."

Sakura menaikkan alis. "Apapun?"

"Ya. Asal permintaanmu masih dalam batas kewajaran." ujar Sasuke. Ia menyipitkan mata curiga. Jangan-jangan Sakura akan meminta terbang ke bulan sejenisnya?

.

Hening

.

Sakura masih tenggelam dalam pikirannya. Sekarang ia menatap langit biru cerah, seakan meminta nasihat dari warna cerah tersebut.

"Hhh... Baiklah." ucap Sakura pelan, namun masih bisa di dengar oleh telinga Sasuke.

Sasuke tersentak sesaat, tapi masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak melompat girang.

Sasuke menoleh untuk menatap emerald Sakura dan menyunggingkan senyum tipis. "Arigatou, Sakura." bisiknya. Tangan Sasuke perlahan menarik tangan Sakura ke dekatnya. Didekapnya tubuh mungil sang gadis. Ia bisa merasakan tubuh Sakura agak menegang di dekapannya, tapi toh Sakura juga tidak menolak.

"Hanya untuk sementara 'kan?" tanya Sakura, walaupun lebih ke nada perintah.

Sasuke mengangguk. Ia yakin Sakura mengerti karena Sakura tak bertanya lagi.

Sasuke melepaskan pelukannya. Kemudian ia menatap emerald cerah yang juga sedang menatapnya. "Ngomong-ngomong, boleh aku minta nomer ponselmu?"

"Aku tidak punya ponsel." Jawab Sakura polos.

"Tidak punya?" Sasuke memastikan jawaban Sakura. Ada raut ketidak percayaan di wajahnya. Mana mungkin ada orang yang tidak punya ponsel?

Sakura memutar mata bosan, seakan pertanyaan ini sudah biasa baginya. "Tak usah terkejut seperti itu. Untuk apa aku memiliki ponsel? Aku tidak butuh barang itu." Sakura mendengus pelan.

Sasuke menghela napas. "Lalu bagaimana aku bisa menghubungimu?"

Sakura berpikir sejenak. Benar juga kata Sasuke. Bagaimana bisa Sasuke menghubunginya kalau ponsel pun ia tak punya? "Ya terserah kau." Jawab Sakura acuh.

Sasuke tersenyum pasrah. Masalah komunikasi ini pasti bisa ia selesaikan. "Kau benar-benar merepotkan." Sasuke mengusap puncak kepala Sakura dengan lembut. "Ah~ sepertinya kita sudah terlalu lama di sini. Ayo pergi." Ajak Sasuke.

Sakura terkejut ketika menyadari ada tangan besar dan kekar yang menggenggam tangannya. Ia mendongak dan mendapati Sasuke yang sedang menatapnya lekat-lekat. Mau tak mau hal itu membuat darah Sakura berdesir.

Sakura hanya menurut ketika Sasuke menariknya berdiri dan menyeretnya menuju tempat dimana taksi yang mereka tumpangi terparkir. Ia tak kuasa menolak rasa nyaman dan kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya.

.:.:.

"Tadaima~" seru Sakura lemas begitu ia memasuki rumahnya. Ia merasa tubuhnya tak bertenaga setelah mengingat kejadian tadi siang. Bagaimana bisa ia menyanggupi permintaan seseorang yang baru ia kenal dengan mudahnya? Sekarang ia malah merasa dirinya sangat bodoh.

"Kau sudah pulang, Sakura-chan?" suara berat menyahut dari dalam. Sakura bisa mendengar suara berisik dan teriakan frustasi dari ruang tengah. 'Pasti Sasori main game lagi.' batinnya bosan.

Sakura segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dan benar saja. Ia melihat Sasori sedang menginjak-nginjak playstation dengan bernafsu dan mengumpat tak jelas.

"Gara-gara kau aku jadi kalah tau! Kenapa sih kau tak pernah membiarkanku menyelesaikan gamenya? Kau dendam padaku hah? Aku kan tak punya salah padamu! Sialan kau!" Sasori terus menerus melampiaskan kemarahannya pada playstation tak bersalah itu.

Sakura menggeleng pelan. Walaupun sudah 22 tahun, Sasori tetap maniak game. Dan kebiasaan buruknya ketika ia kalah adalah menyalahkan playstationnya. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang.

"Nii-san!" Sasori menoleh ke sumber suara. Ia baru sadar Sakura ada di sana. Seketika wajahnya berubah ceria dan melupakan playstation setelah melihat adik kesayangannya.

"Sakura-chan? Bagaimana pekerjaan barumu?" Sasori berjalan mendekat dan memeluk Sakura singkat.

"Yahh, cukup lancar." Jawab Sakura tak bersemangat.

Sasori menyipitkan mata. "Apa ada masalah?" tanya Sasori bingung.

"Tidak," Sakura menggeleng pelan. "Aku hanya lelah."

Sasori mengangguk paham. "Oh ya, Sakura," Sasori teringat akan sesuatu. "Besok Nii-san akan ke Oto."

Sakura membelalakkan mata, seakan tak percaya dengan perkataan kakaknya barusan. "Kenapa tiba-tiba?"

"Perusahaan Kaa-san di sana butuh bantuan Nii-san. Kau kan juga tahu Kaa-san dan Tou-san sangat sibuk sehingga tidak bisa mengerjakannya sendiri."

"Kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu." Sakura berjalan menuju kamarnya, berniat menyiapkan baju-baju untuk ke Oto besok.

"Kau tidak akan ikut, Sakura-chan!" suara Sasori menghentikan langkah Sakura.

Sakura menatap Sasori dengan bingung. Seakan tahu pikiran Sakura, Sasori melanjutkan kalimatnya. "Kau akan tetap di Konoha. Kau 'kan sudah punya pekerjaan di sini."

"Ah Nii-san! Aku 'kan bekerja hanya untuk mengisi waktu luangku!" protes Sakura. "Aku ikut ke Oto, ya?"

Sasori menghela napas. Ia tahu adiknya ini sudah mulai merajuk. "Kau tidak boleh meninggalkan tanggung jawabmu, Sakura-chan. Bukankah kau sendiri yang ngotot ingin bekerja?"

"Ayolah, Nii-san. Masa aku harus tinggal sendiri? Nanti siapa yang masak? Aku juga ingin ke Oto. Aku ikut ya?"

"Tidak." Ucap Sasori tegas.

Sakura segera berjalan cepat menuju kamarnya. Ia menghentak-hentakkan kaki sekeras yang ia bisa agar kakaknya tahu kalau ia sangat marah. Sesampainya di kamar, Sakura membanting pintu sangat keras sampai-sampai tembok juga ikut bergetar.

.:.:.

Sakura segera mengganti baju dengan tanktop hitam dan celana pendek di atas lutut. Ia segera merebahkan tubuh di kasur empuknya. Suasana hatinya sekarang benar-benar buruk. Pertama, ia baru saja bertemu dengan seorang aktor! Dan ia menyanggupi permintaannya sebagai pacar palsu. Kedua, kakaknya akan pergi ke Oto dan meninggalkannya seorang diri di Konoha. 'Benar-benar kakak yang kejam,' batinnya jengkel.

Pikirannya melayang pada kejadian tadi siang. Kenapa ia sama sekali tidak menolak saat Sasuke menyentuhnya? Ia sendiri bingung mengapa tubuhnya terasa begitu nyaman saat berada di dekat Sasuke. Padahal dulu ia tidak pernah membiarkan satu pun laki-laki yang menyentuhnya.

Perlahan-lahan matanya menutup. Sebelum menutup sempurna, terbesit keinginannya agar semua kejadian hari ini adalah mimpi. Dan ketika ia bangun besok, kehidupannya akan kembali seperti semula, kehidupan sebelum ia bertemu dengan Uchiha Sasuke.

.:.:.

Sakura menggeliat kesal di tempat tidur. Tangan kecilnya berusaha menggapai jam beker yang sedari tadi berbunyi nyaring. Setelah menemukan apa yang ia cari, segera ditekan tombol di jam beker tersebut. Ia bersiap-siap tidur lagi sebelum suara nyaring terdengar oleh gendang telinganya.

Kali ini kesabaran Sakura sudah habis, ia menekan tombol jam beker dengan perasaan dongkol. Tetapi suara itu masih terdengar. Sakura langsung beranjak dari tempat tidur empuknya. Setelah mengumpulkan nyawa, ia melayangkan pandangan ke sekeliling. Ternyata jam bekernya sudah tidak berbunyi.

Ah ternyata suara itu bel rumah. Sakura berjalan cepat menuju pintu depan.

'Siapa sih yang datang pagi-pagi begini?' batinnya dongkol. Sekarang sudah jam 10. Tapi itu terlalu pagi bagi seorang Haruno Sakura.

Sakura membuka pintu dengan terburu-buru. Ia melihat seorang pemuda gagah memakai jaket hitam dan celana jins. Kedua tangannya disembunyikan di saku mantel. Menambah kesan keren dalam dirinya. Sakura melihat wajah tampan yang tak asing, dan napasnya langsung tercekat.

"Sa-sasuke?" tanya Sakura ragu.

Sasuke menyunggingkan senyum tipis. "Ya."

Entah mata Sakura yang salah atau apa, Sakura merasa ia melihat semburat merah muda tipis di pipi Sasuke.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu rumahku?"

"Aku punya banyak koneksi. Kau tidak menyilakanku masuk?" gurau Sasuke.

Sakura segera sadar dari kekagetannya tadi. "Silakan masuk," Sasuke berjalan menuju kursi ruang tamu. Dia mendudukkan dirinya di sofa, di ikuti Sakura yang duduk di sebelahnya.

"Ehm... Sakura?" Sasuke tersenyum canggung. Sakura mengangkat alis bingung. "Aku juga laki-laki normal lho." Senyum Sasuke tergantikan oleh seringai mesum.

Sakura semakin bingung dengan perkataan Sasuke. Laki-laki normal? Apa hubungannya dengan Sakura?

Sakura melihat mata Sasuke yang menatapnya dengan pandangan aneh dari bawah ke atas. Dan sekarang ia sadar akan kesalahannya. Ia masih memakai tank top hitam dan celana pendek!

PUK

Sebuah bantal mendarat mulus di kepala Sasuke. Sakura segera berlari menuju kamar dan berganti baju secepat yang ia bisa.

"Kau lebih cocok dengan pakaian tadi." Sahut Sasuke masih dengan seringai anehnya.

Sakura mendelik. "Enak saja!" Ia sudah berganti baju dengan kaos biru dan celana jins panjang. Sakura berjalan menuju sofa, dan mendudukkan dirinya di samping Sasuke.

"Jadi, ada apa kau ke sini?" tuntut Sakura.

Sasuke menyenderkan badannya ke sofa. "Aku hanya ingin membicarakan tentang kesepakatan kita," jawabnya bosan. "Dan aku juga ingin memberimu ini." Sasuke merogoh kantung jaketnya. Ia mengeluarkan kotak biru yang sudah dibungkus rapi. Diletakkannya kotak itu di pangkuan Sakura.

Sakura mengernyitkan dahi. "Apa ini?"

"Itu ponsel untukmu. Agar aku bisa menghubungimu kapan saja."

"Kau tidak—"

"Tidak apa-apa," potong Sasuke. "Oh ya, nomernya juga sudah kubuat semirip mungkin dengan nomer milikku."

Sakura tersenyum tulus. "Arigatou, Sasuke."

Sasuke terlihat agak salah tingkah melihat senyum Sakura. Rasa gugup juga masih menggerogoti aktor berusia 21 tahun ini. Ini adalah pertama kali ia memberikan sesuatu kepada seorang wanita—kecuali ibunya tentu saja.

"Ehm... Sakura, aku minta kau tidak memberitahu siapapun tentang kesepakatan kita ya?" pinta Sasuke.

Sakura mengangguk mantap. "Baiklah, Tuan Uchiha." guraunya. Sasuke tersenyum geli dan langsung mengacak rambut Sakura.

"Kau tinggal sendirian?" tanya Sasuke. Onyxnya mengamati ruangan dengan seksama.

Ah. Sakura teringat kejadian kemarin malam. Tadi pagi ia tak melihat Sasori, jadi bisa dipastikan Sasori sudah berangkat ke Oto. 'Nii-san benar-benar meninggalkanku ya? Awas saja kalau pulang. Akan kukunci semua pintu rumah supaya Nii-san tidur di luar,' batinnya kesal.

"Tidak. Aku tinggal dengan kakakku. Tapi sekarang dia sedang pergi ke Oto." Jawab Sakura.

Selama beberapa menit suasana menjadi hening. Sakura dan Sasuke sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Jika dipikir-pikir, apa ini tidak aneh?" pertanyaan Sakura memecah keheningan diantara mereka.

"Hn?" Sasuke menatap Sakura bingung.

"Kita baru saling mengenal kemarin, bahkan belum sampai 24 jam. Tapi entah kenapa kita sudah akrab seperti ini."

Sasuke tersenyum tipis. "Mungkin ini takdir."

"Takdir?" tanya Sakura.

Sasuke mengangguk. "Ya. Takdir."

"Hei, Sasuke!" panggil Sakura ceria. Sasuke mengangkat alis dan menoleh ke arah Sakura. "Ceritakan tentang dirimu lagi." Pinta Sakura.

"Bukankah aku sudah menceritakannya kemarin?"

"Aku ingin lagi." Sakura sudah mulai merajuk.

Sasuke terkekeh pelan. "Aku akan menceritakan semua tentang diriku, asal kau menciumku." Ujar Sasuke dengan seringainya.

Sakura langsung memberinya deathglare. "Kalau begitu aku tidak jadi ingin tahu." Jawabnya ketus.

BRAK

Sakura dan Sasuke langsung menoleh ke arah pintu. Di sana terdapat pria jangkung berambut panjang yang terlihat terengah-engah.

"Sakura-chan! Kata Sasori kau sendirian di rumah. Jadi aku diminta untuk mene—" perkataannya terputus ketika ia melihat Sasuke. Mata lavender pria itu menatap curiga pada Sasuke dan Sakura bergantian. Sesaat suasana menjadi canggung di antara ketiganya.

"Ne—Neji-kun?" bisik Sakura pelan.

TBC~

Wuaa! Chapter ini lebih abal dari chapter sebelumnya! #ngais-ngais tanah.

Lebih ancur! #lari keliling lapangan. Gaje #pundung. Semoga ada yang baca #gigit kaki.

Bales riview dulu. :D

.

Princess Iceberg: Benarkah? Makasiihh #glundung-glundung. Ah iya, saya akan perbaiki di chapter-chapter selanjutnya. Apa ini sudah cukup panjang? :D. Makasih udah nge-fav fic abal ini #terharu.

Lady Zhion: Apa ini sudah kilat? :). Makasih ucapan semangatnya, sangat berarti untuk saya. :D

Rizuka Hanayuuki: Tanpa komen pun saya udah seneng Rizuka-san mau review fic abal saya ini #glundung-glundung. Apa ini udah cepet? :D

KristaL: Ini udah update. :D

Eru River Rorait0: Waahh makasih banget atas pujiannya #jungkit balik. Di chapter ini mungkin udah ada jawabannya :D. Ini udah update. :)

Michiko haruno: Benarkah? Makasiihh .. Ia tuh Sasuke, laki-laki macam apa itu? *nunjuk-nunjuk Sasuke* #dichidori. Di sini mungkin udah ada jawabannya. Syukurlah kalo Michiko-san suka :D.

Valkyria Sapphire:Makasih atas pujiannya~ #jungkir balik. Ini belum ke inti fic, baru awal kok XD. Tenang, saya ga marah kok :D. Saya malah berterima kasih karna udah ngasih kritik dan saran. Saya juga cinta perdamaian #apacoba.

Uchiha Eky-chan: Apa ini udah pake kilat? :). Makasih pujiannya #glundung-glundung.

DEVIL'D: Iya tuh Sasuke *nunjuk-nunjuk*. Mungkin di chapter ini udah ada jawabannya :). Ini udah update. Apa udah cukup cepat? :D

lawranakaido: Waahhh makasiihh #ikutan jingkrak-jingkrak(?). Apa ini udah pake kilat? :D

Fidya Raina Malfoy: Makasih pujiannya :). Apa ini udah kilat? :D

cherryy mijeje males log in: Ini udah update :). Benarkah? Makasih banget :D.

Midori Kumiko: Ini udah update :D.

Fiyui-chan: Makasih pujiannya~ #guling-guling. Waahh tebakan Fiyui-chan tepat! :o. Sakura orang kaya di sini. Ini udah update :). Apa udah pake kilat? :D

Ichaa Hatake Youichi ga login: Makasih banget .. Saya sempet terbang lho waktu baca review Ichaa-san :). Ini udah update, apa cukup cepat? :D

Ayano Hatake: Makasih~ #glundung-glundung. Saya belum berani bikin fic yang terinspirasi Autumn in Paris. Nyesek ceritanya..hiks #ikutan nangis. Haha, entah kenapa saya suka supir taksi(?). Mungkin karena waktu tk cita-cita saya jadi supir taksi #curcol ga penting. Makasih Ayano-san udah nunggu. :D

cherryblossom sasuke gak login: Makasiihhh banget~~. Apa ini udah pake kilat? :D

Eun Jo: Iya, Sasuke saya jadiin sangat OOC disini. Buahaha #ketawa laknat. Keren? Wahh makasiihh~~ :). Apa ini udah cepet? :D

Hikari Shinju: Waahhh hebaatt, bayanganmu bener! :o. Makasih~ #jungkir balik.Ceritanya emang banyak yang menarik :). Apa ini udah pake kilat? :D

TaroChiha: Ga apa apa kok, saya udah seneng kalau Taro-san (boleh saya panggil gitu?) mau review :). Ini udah update.:D

Anak hilang: Makasih banget kritik dan sarannya~~. Saya akan berusaha mengemasnya dengan sesuatu yang beda. Ini udah update :). Apa udah cukup kilat? :D

vvvv: Mungkin di chapter ini ada jawabannya. :D

me: Ini udah update :). Makasih~~ #guling-guling. Di sini Sakura jadi orang kaya. :D

HarunoZuka: Wahh makasih~~ :). Apa ini udah pake kilat + guntur? Hehe. Saku bisa jadi manja, tapi bisa jadi tomboy. Kalo dari penampilan keliatan tomboy, tapi sebenernya dia itu manja. Saku itu dari keluarga yang kaya raya. Kalau ibunya Saku ada di Oto, tapi ayahnya di Suna, jadi pisah-pisah gitu. Umurnya Saso 22 tahun dan umurnya Saku sama kaya Sasu, yaitu 21 tahun. Mereka udah lulus kuliah. Ga papa kok Haru-chan :). Kalau masih ada yang bingun, tanya aja :). Saya siap membantu (^.^)

Makasih sekali lagi~~ :D

Natasya: Haloo juga Natasya-san! Wah makasih banyak~~ :). Sebenernya Sakura itu kaya raya. Umurnya 21 tahun. Dia jadi supir taksi cuma iseng doang, biar punya kerjaan gitu. Ga papa kok, saya orangnya santai #alah. Ini udah update. Apa cukup kilat? :D

Meity-chan: Makasiihh, Meity-chan~. Syukurlah kalau Meity-chan suka . Ini udah update. Apa cukup kilat? :D

.

Makasih sekali untuk yang sudah review. Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama.

Mind to Review?

~Satu review dari anda memberi satu juta harapan bagi saya~