Lie from the Past Chapter 2
Author: Haaaaii minnaaaaa, ketemu lagi sama sayaaaaa.
IA: Gausah basa basi, cipika cipiki segala, udh cepetan bacain disclaimernya!
Author: IA kamu jadi bersemangat gitu .
IA: Iya ya? Masa sih?
Kaito: Jiaah nih orang…
Author: Lah darimana lu Kai? Mumpung baru muncul bacain disclaimer yaaw~
Disclaimer:
Vocaloid beserta tokoh2nya bukan punya BakAki, dia hanya punya ceritanya
Warning: abal, banyak typo, ide pasaran, jelek, OOC, alur kecepetan, ending gampang ditebak
DON'T LIKE DON'T READ
Len POV
Hari-hari membosankan sudah dimulai lagi. Aku paling bosan dengan hari-hari sekolah, tidak bisakah hari Minggu di ulang kembali? Oh iya aku belum memperkenalkan diri ya. Namaku Kagamine Len, saudara kembar Rin, lebih tepatnya adik kembar.
Aku berjalan malas-malasan ke sekolah dibuntuti dengan Rin yang kelihatannya sudah tidak bisa sabar lagi melihat cara berjalanku yang malas-malasan.
"Leen tidak bisakah kau jalan lebih cepat?"
"Kenapa sih? Lagipula sekolah mulai masih lama, kalau kau mau kau duluan saja."
"Benar tidak apa-apa?"
"Iya, aku bukan anak kecil lagi yang ke sekolah harus terus bersama kakaknya."
"Baiklah, sampai jumpa Len!"
Setelah berkata begitu Rin berjalan dengan sangat cepat, aku heran kenapa dia bisa sesemangat itu, ada apa dengannya? Oh baik itu tidak penting. Sebentar, apa dia seperti itu karena belum mengerjakan PR ya? Gawat aku juga belum mengerjakan, sepertinya aku harus berlari agar aku punya waktu banyak untuk mengerjakan PR!
Beberapa menit kemudian aku sampai di sekolah lalu berjalan menuju kelas dan saat sampai kelas semua ternyata sedang mengerjakan PR, sepertinya semua lupa ya. Aku berjalan menuju mejaku yang terletak di sebelah jendela dan langsung membuka buku matematikaku untuk mengerjakan PR.
"Ohayoooooouu!"
Semua masih sibuk dengan PRnya masing-masing kecuali aku yang menengok ke arah sumber suara tersebut. Suara itu milik IA, perempuan yang kusukai, walaupun dia menyukai Kaito, si rambut biru tua itu, padahal jelas-jelas aku lebih keren daripada dia (oke Len kau pede sekaleeh).
"Ohayou IA" Sapaku pada IA yang sedang meletakan tasnya di kursinya yang terletak di depan mejaku.
"Ohayou Len" Sapanya kembali padaku sambil tersenyum. Tak kusadari wajahku memerah, kenapa senyumnya manis sekali?
"A-ah IA, ka-kau sudah mengerjakan PR matematika?" Tanyaku dengan terbata-bata, aku tidak tahu wajahku seperti apa sekarang.
"Sudah kok, kau belum? Mau pinjam? Ini pinjam saja" Jawabnya sambil menyodorkan buku PRnya.
"Bo-boleh? A-arigatoou!" kataku sambil mengambil buku itu dari tangannya lalu membuka buku itu dan langsung menyalin apa yang ada disitu. Aku nakal? Heheh ini terpaksa, pelajaran matematika adalah pelajaran Meiko-sensei, dan bisa gawat kalau tidak mengerjakan karena dia yah, sangat galak.
Setelah itu aku melihat IA berjalan ke meja Kaito yang berada 2 meja disampingku dan memberikan sebuah kotak kecil. Apa itu? Hadiah ulang tahun? Kaito hari ini ulang tahun? Peduli apa aku tentangnya.
Aku mengerjakan dengan sangat cepat tak peduli tulisanku sejelek apa, karena soalnya banyaak sekali dan sebentar lagi bel, dan akhirnyaaa selesaaaaaii! Aku menyelesaikannya bertepatan dengan bel yang berbunyi.
"Ini aku sudah selesai, terimakasih ya, soalnya banyak sekali" Kataku berterimakasih dan menyerahkan buku PR IA padanya.
"Ya ampun Len lihat tulisanmu, acak-acakan sekali, hihi" Komentarnya sambil melihat tulisanku dan tertawa kecil.
"A-ah iya, aku terburu-buru, sangat terburu-buru, kau tahu kan soalnya banyak dan waktunya sedikit" Jelasku membela diri.
"Haha iya iya, aku mengerti kok" Katanya sambil tersenyum, lagi-lagi wajahku memerah.
"Hei IA, lihat ke depan, Meiko-sensei sudah datang" Kataku memperingatkan.
"Ah benar" Katanya sambil membalik badannya ke depan.
Jam pelajaran ini akan menjadi sangat membosankan, karena aku benci pelajaran matematika.
-oOo-
(Skip time)
Akhirnya pelajaran yang kutunggu-tunggu datang, yaitu pelajaran musik. Kenapa aku menyukai pelajaran ini? Karena, sederhana saja, pelajaran ini tidak seperti matematika yang harus menguras banyak pikiran. Pelajaran musik membuatku lebih santai setelah pelajaran membosankan sebelum pelajaran ini.
Aku berjalan menuju ruang musik bersama sahabatku, Piko Utatane. Kami berjalan dalam keheningan sampai aku memecah keheningan.
"Ah iya! Aku melupakan sesuatu!" Kataku setengah berteriak lalu langsung memberhentikan langkahku disusul dengan Piko.
"Kenapa Len? Ada yang tertinggal?" Tanya Piko setelah memberhentikan langkahnya.
"Iya, aku ke kelas sebentar ya, kau duluan saja!" Jawabku lalu berlari menuju kelasku. Aku baru ingat aku lupa membawa senar gitarku yang baru kubeli kemarin. Aku baru mau memasangnya di ruang musik.
Saat aku baru mau masuk ke ruang kelasku, aku melihat seseorang berambut kuning keemasan panjang yang diikat sebelah. Akita Neru? Sedang apa dia, di meja IA? Ah gawat dia menuju ke sini, aku harus segera ke ruang musik, soal senar gitarku? Itu urusan belakangan, yang penting aku tidak ketahuan Neru.
Aku berlari dengan sangat cepat menuju ruang musik yang jaraknya lumyan jauh dari kelas.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu ruang musik lalu masuk.
"Maaf aku terlambat, aku tadi mengambil barangku yang ketinggalan" Kataku mengucapkan permohonan maaf pada Haku-sensei, guru musikku.
"Ya tidak apa-apa, cepat duduk" Katanya, untung Haku-sensei tidak segalak Luka dan Meiko-sensei, kalau iya, aku bisa dihukum berdiri di depan kelas sekarang, yah maksudku dia galak tapi tidak segalak mereka. Tidak lama kemudian Neru mengetuk pintu dan masuk ke ruang musik.
"Maaf aku terlambat, tadi aku ke toilet sebentar" Ke toilet? Aku tahu jelas-jelas dia berbohong, dia dari kelas sama sepertiku, ini mencurigakan, kenapa dia berbohong seperti itu?
"Ya sudah, cepat duduk" Kata Haku-sensei pada Neru.
"Hei Neru kenapa bisa pas sekali ya, tadi Len baru masuk juga loh beberapa detik sebelum kau masuk, tadi kalian bertemu tidak?" Aku mendengar Rin berbisik-bisik pada Neru, aduh Riiiinn.
"Bertemu? Apa dia dari toilet juga? Tentu tidak, dia kan toilet laki-laki dan aku perempuan" Jawab Neru.
"Tidak bukan dari toilet, dia dari kelas, katanya mengambil barangnya yang ketinggalan, toilet dan kelas kan bersebelahan, kenapa tidak ketemu ya?" Riin, aduh kenapa kau mengatakannya pada Neru.
Tidak terdengar jawaban dari Neru, aku melihat ke arahnya dan dia memasang death glare-nya yang sangat mengerikan padaku. Aku langsung mengalihkan pandangan ke Haku-sensei yang sedang menjelaskan pelajran. Sekarang aku tidak tau apa yang harus kulakukan, aku sudah ketahuan mengintip apa yang dilakukan Neru, walaupun aku belum tahu apa yang dilakukan Neru tadi.
-oOo-
(Skip time)
Jam pelajaran terakhir adalah jam pelajarannya Miku-sensei, yaitu bahasa inggris. Ditengah-tengah pelajaran Miku-sensei bertanya pada Rin tentang keuangan kelas.
"Rin, sudah berapa uang yang terkumpul untuk membeli hiasan kelas untuk natal?" Tanya Miku-sensei pada Rin yang memang bendahara kelas.
"Ah, jumlahnya sudah banyak, sudah diatas 1 juta, biar kuambil catatannya dan uangnya" Kata Rin kemudian lalu mengorek-ngorek isi tasnya untuk menemukan benda yang dicarinya.
"Sebentar, aku yakin menaruhnya di sini, kenapa tidak ada ya catatan dan uangnya" Tanya Rin pada dirinya sendiri.
"Kau yakin menaruhnya disitu Rin? Kau tidak memindahkannya?" Tanya Miku-sensei panik.
"Benar kok sensei, aku tidak memindahkan ataupun mengeluarkannya dari kemarin" Kata Rin mulai panik. Sepertinya aku sudah bisa membaca apa yang terjadi tadi dan sekarang.
Aku melihat ke arah Neru dan dia masih memasang death glare-nya ke arahku, lalu aku langsung mengalihkan pandangan ke arah Rin dan Miku-sensei yang masih panik.
"Perhatian semuanya, sepertinya uang kas kelas kita diambil oleh seseorang" Kata Miku-sensei dengan wajah pucat dan Rin, dia sepertinya stres. Seketika kemudian kelas menjadi ribut dan semua orang mulai menuduh-nuduh.
"Ma-maafkan aku semua, a-aku memang sangat tidak bertanggung jawab atas uang kas kita yang hilang ini, ma-maafkan aku" Jelas Rin dengan terbata-bata, sepertinya dia mulai menangis. Siapa yang tidak stres jika kita dipercayakan untuk bertanggung jawab akan hal yang besar namun kita tak bisa mempertanggung jawabkan hal tersebut. Kulihat IA, SeeU, dan Neru mulai menenangkan Rin.
"Mohon diam! Kita akan melakukan pemeriksaan pada setiap tas, semua tolong periksa tas teman semeja kalian, dimohon untuk jujur ya" Kata Miku-sensei memberikan perintah.
Semua melakukan apa yang diperintahkan oleh Miku-sensei. Aku memeriksa tas Piko, aku yakin dia tidak mungkin mencurinya.
"IA…" Aku mendengar SeeU memanggil IA dengan suara yang sangat pelan.
"Ada apa SeeU?" Tanya IA masih memeriksa tas SeeU.
"Kau, maksudku, kau yang mengambilnya…?" Tanya SeeU ragu-ragu.
"Mengambil apa?" Akhirnya IA melepaskan diri dari pekerjaannya memeriksa tas SeeU.
"Itu! Itu dompet uangnya!" Teriak Rin yang tiba-tiba menengok ke arah SeeU ditengah-tengah tugasnya memeriksa tas Neru.
Semua orang spontan menengok ke arah SeeU yang sedang memegang dompet uang dan tas IA. Miku-sensei berjalan ke arah SeeU dan IA.
"Jadi siapa yang mengambil uang kas kelas?" Tanya Miku-sensei setengah marah. SeeU dan IA sama-sama diam, mereka diam mungkin bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, tapi mungkin karena bingung.
"SeeU darimana kau dapatkan dompet itu?" Tanya Miku-sensei.
"A-aku mendapatkannya dari tasnya IA…" Jawab SeeU gelagapan, IA yang mendengar itu tentu saja kaget, aku saja yang mendengarnya kaget, apalagi orang yang bersangkutan.
"IA, apa itu benar?' Tanya Miku-sensei menginterogasi IA.
"Tidak aku tidak pernah mengambilnya, aku berani bersumpah Miku-sensei…" Jawab IA yang sepertinya mulai menangis.
"A-ah Miku-sensei, sepertinya…" Kata-kataku terhenti saat melihat Neru memandangku dengan death glare-nya lagi 'sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang benar-benar sedang terjadi' Kataku dalam hati sambil tersenyum samar.
-oOo-
Author: Chapter 2 selesaaaaiii!
Len: Disini POV ku semua ya
Author: Eh, i-iya, kenapa ga suka ya Lenny?
Len: Jangan panggil gw kayak gitu, plis…
Neru: Kebanyakan death glare-nya… *men-death glare author*
Author: ^^' udah bisa nebak kan apa yang terjadi selanjutnya, jadi aku gausah lanjutin ceritanya dong *ditendang, dicincang, dibakar, digoreng, jadi deh OtaRocks goreng (?)* #abaikan
Neru: Lanjutin! Gamau tau.
Author: Oke oke kalo banyak review yg mau dilanjutin kulanjutin kalo pada udh tau lanjutannya ku discontinued…
Len: Yah gaasik lu!
Author: :'3
Neru: Lanjutin ga… *pasang death glare lagi*
Len: *ikut-ikutan nge-death glare*
Author: WAA IYA IYA KU LANJUTIN JANJI SUER KEWER KEWER BAKAL KULANJUTIN, TAPI JANGAN PADA NGE-DEATH GLARE GITU BISA KALI *kabur*
Len & Neru: *ngejar* WOI JANGAN KABUR LU UTANG FIC LU BELOM LUNAS!
Kaito: Yah sudahlah aku yang lanjutin biar mereka kejar-kejaran terus, jangan lupa ripiu-nya yaaaa, tinggal klik tulisan 'review' dibawah terus tulis deh apa yang mau kalian tulis (?) oke, jaa nee~
