Chapter 01

Part 2

Catatan:

"…" Bicara

'…' Bergumam/ berpikir

[…..] Bicara melalui kertas

shiawaseninarushiawaseninaru shiawaseninarushiawaseninaru shiawaseninarushiawaseninaru shiawaseninarushiawase

[Apa?!] pekikku kaget. Ya, bagaimana aku tidak terkejut jika mendengar berita yang benar-benar mendadak seperti ini. Salahkan si pemberi berita itu.

"Maaf, aku juga baru diberitahu kemarin," ujarnya padaku. Ia melangkah menuju dapur mengambil sebuah gelas kemudian ia isi dengan sekotak jus tomat kesukaannya yang sudah kupersiapkan sebelumnya.

[Tapi, ini benar-benar sangat mendadak Teme!] kuikuti ia sampai ke dapur. Kusandarkan punggungku di pinggir meja kecil ditengah-tengah dapur tersebut.

Ia berbalik menatapku, dilanjutkan dengan membaca tulisan yang kutulis tersebut. Ia menyeruput jus yang ada ditangannya pelan kemudian ia menghela nafas sambil tetap memandangku.

"Dengar. Walaupun ini mendadak tapi aku tetap harus melakukannya Dobe. Ini kesempatan kita memperbaiki kehidupan yang selama ini kita jalani, dan aku perlu dukunganmu untuk itu, sangat perlu!" ia menatapku dengan kedua onyxnya itu, meyakinkan diriku bahwa apa yang ia katakan benar. Mencari kepastian di kedua sapphireku bahwa ia menginginkan aku untuk mendukungnya dengan sepenuh hati.

[Berapa lama?] kusodorkan buku catatan kecilku itu padanya. Ekspresiku masih sama, antara kecew, kesal dan sedih.

"Hanya selama 2 minggu Dobe," nada bicaranya semakin lembut padaku.

[Hanya kau bilang? Kau tahu bagiku itu cukup lama Teme!] ku kerucutkan bibirku, kesal! Kata-katanya membuatku kesal!

"Che! Aku janji hanya 2 minggu tidak lebih. Pegang kata-kataku itu Dobe!" ia meletakkan gelas berisi jus tomat itu di atas meja tepat disisi sebalahku berdiri. Ia mencengkram kedua lenganku erat—namun cenkraman tersebut tidak membuat lenganku tersakiti, lembut dan hangat itulah yang kurasakan.

"Percayalah, hanya 2 minggu tak akan lebih, aku janji," ia mengucapkan kata-kata itu tepat disebelah telinga, hembusan nafasnya membuat ku merasa geli. Akupun sedikit merinding ketika ia menghembuskan nafasnya seperti itu.

[Baik, aku pegang janjimu Teme!] ku peluk tubuhnya yang lebih tinggi 7cm dariku. Ya, aku percaya padamu, Teme!

"Arigatou na~" ia mengecup lembut dahiku.

"Hanya 2 minggu," ia mengecup lagi pelipis kiri dan kanan ku.

"Aku janji," kini ia mengecup puncak hidungku.

"….." ia mengangkat wajahku kearahnya.

"Tunggulah aku, karena hanya dirimu tempatku untuk pulang," ia menatapku lama, memandang sangat dalam kearah sapphireku yang kini mulai berkaca-kaca. Ia mengecup lelehan air mata yang perlahan mengalir itu. Menyesapnya hingga tak ada lagi yang mengalir.

[…..] aku hanya mengangguk. Kukecup tangannya yang menangkup kedua pipiku. Hangat. Tangan yang sangat hangat jika kusentuh ini, selama 2 minggu kedepan tak akan bisa kusentuh. Memikirkannya membuatku ingin menangis. Entah mengapa jika ia tak berada disini aku seperti tak nyaman, perasaanku tiba-tiba menjadi tak enak.

"Untuk beberapa jam kedepan aku akan menemanimu, aku akan memelukmu hingga kau tertidur, aku a—" kuletakkan jari telunjukku di belahan bibirnya, menghentikan setiap ocehannya yang mungkin membuat aku semakin merasa ingin menangis.

[Hentikan semua ocehan panjang lebarmu Teme, apa kau ingin membuatku semakin sedih hah?] ia hanya tertawa membaca apa yang kutuliskan di sana.

"Kau memang pintar merusak moment romantis yang ku buat Dobe," ia menyentil hidungku. Sakit! Kuelus hasil sentilannya yang membuat hidungku sedikit memerah.

CUP

Ia mencium pipiku tiba-tiba yang cukup mengagetkanku. Tidak hanya dipipiku, ia mulai menjelajahi lagi wajahnku dengan kecupan-kecupannya, membuatku merasakan geli lagi.

"Aaa…..aaee….aaaa," maksudku 'Apa yang kau lakukan Teme!' tapi yang keluar hanya deretan huruf vocal saja. Yah tapi kuyakin ia pasti mengerti apa yang ingin aku ucapkan.

"Hanya ingin mencicipimu," ujarnya pelan ditengah-tengah kegiatannya menciumi setiap inchi wajahku.

Ia terdiam sesaat ketika ciumannya itu mencapai bibir atasku.

"Nggghhh…" ia dengan cepat melumat keras bibir atasku, membuatku mengeluarkan desahan-desahan itu.

"Kau semakin manis, Dobe," tepat disaat itu ia memeluk pinggangku dengan erat, menekannya kearah depan, membuat tubuhku semakin melengkung kedepan. Dan tidak hanya itu saja, lidahnya dengan cepat melesak memasuki rongga mulutku. Aku terkujut! Tak biasanya ia menciumi ku dengan ganas seperti ini. Memang, kuakui kalau kami sampai saat ini belum pernah melakukan hubungan yang lebih intim. Hanya sekedar ciuman semata. Bukan kami tak ingin namun ada sesuatu yang sudah kami komitmenkan, sesuatu yang cukup membuatku bahagia. Ya, dan walaupun kami berdua tinggal dalam satu atap tapi kami belum resmi mengikat janji sebagai sepasang kekasih. Pasangan kekasih yang berjanji selalu bersama selamanya sampai ajal menjemput. Kami berdua belum sampai pada tahap itu, maka dari itu kami berdua tidak akan melakukan hubungan yang lebih intim lagi sampai saat itu tiba. Saat yang seharusnya tinggal menghitung hari lagi, tapi batal karena tawaran pekerjaan yang didapatnya itu. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa aku sangat terkejut dengan berita yang dibawanya tadi.

[Aaa….nnn…aaaa…eee…] dan karena ini pula, aku sangat jarang sekali mengeluarkan suaraku. Lihat saja, untuk mengucapkan sesuatu saja aku seperti orang yang akan kehabisan nafas, inilah kekurangan yang aku miliki, bisu. Dan karena kekuranganku ini orang-orang suka sekali mengejekku, mempermainkan diriku, mereka anggap aku ini adalah mainan mereka, mainan yang digunakan untuk memenuhi kesenangan pemiliknya. Tapi aku masih bersyukur karena aku menemukan dirinya, menemukan seseorang yang memperlakukanku dengan hangat, walaupun aku memiliki kekurangan ini.

"Naruto… haah… haah.." ia menatapku dengan nafas yang terengah-engah. Dan akupun begitu. ia mendekapku dengan erat—sangat—membuatku semakin sulit bernafas.

"Aaa aaa?" kutarik kaos yang ia kenakan dari belakang. Ia melepas pelukannya itu dariku. menatapku kembali dengan sangat intens.

"Maaf untuk hari itu, setelah aku kembali kita akan segera melaksanakannya," ia mengelus sebelah pipiku, ada nada penyesalan disana.

"Iaa aaa aaa, eeee.." aku tersenyum kearahnya, yah walaupun tadinya aku kesal tapi kini aku berpikir aku tak bisa egois terus kan?

"Bolehkah jika kita melakukannya saat ini?" tangannya sedikit bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu, dan bisa kulihat ada sedikit rona merah dikedua pipinya walaupun tak sejelas rona merah pada umumnya. Ia malu, hihihhi… Aku tertawa tepat didepannya, membuat dirinya mengerutkan dahinya. Kuanggukkan kepalaku pelan, ia terlihat bahagia.

Dirangkulnya diriku, kemudian ia mengangkat tubuhku membawanya ke kamar yang hanya berjarak 6 langkah dari dapur ini.

Aku sedikit malu dibopong seperti ini olehnya. Terlihat dari semburat merah diwajahku saat ini. Kudekap dengan erat lehernya, menenggelamkan wajahku ditengah-tengah ceruk lehernya saat ini.

"Naru-Dobe," ia meletakkanku dengan lembut diatas futon. Menatapku, kemudian menciumi seluruh wajahku dimulai dari kening hingga ke pangkal dagu.

"Nnnn…" ku pejamkan mata ini menikmati rasa hangat yang ia salurkan lewat kecupan-kecupan itu.

"Aku akan pelan-pelan," ia memandangku meminta persetujuan sekali lagi. Akupun membalasnya dengan sebuah anggukan.

Dengan perlahan ia merangkak keatas tubuhku, melepaskan kaos atasan yang ia kenakan. Memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sedikit berbentuk. Aku yang melihatnya hanya bisa menutup sebagian wajahku, malu melihat keindahan sosok yang menjadi kekasihku itu. Ia menarik kain yang kupakai untuk menutupi sebagian wajahku saat ini. Dielusnya surai pirangku lembut, dengan gerakan perlahan ia kecup bibir merahku, sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, dan yang kelima kalinya ia melumat pelan bibirku. Kedua tanganku kuangkat keatas, kuletakkan disurai ravennya, menariknya lembut, terkadang pula kutekan kepala bersurai itu kuat seiring lumatan yang ia lakukan pada bibirku.

Setelah puas ia bermain dengan bibirku, ia beralih pada kulit leherku. Dilakukannya hal yang sama seperti ketika ia memulai menciumi bibirku, dikecup kemudian ia hisap kulit leherku dengan kuat, meninggalkan sebuah tanda kemerahan disana.

Sebelah tangannya ia masukkan kedalam bawahanku, dirabanya kakiku, dari lututku naik keatas hingga kepahaku, membuatku sedikit merasakan sensasi geli. Tangannya semakin bergerak keatas, memasuki area paha dalamku. Kadang-kadang tangannya dengan sengaja menyentuh 'milikku'. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk meraba bagian dadaku,mencari-cari tonjolan kecil disana, setelah ia dapatkan, ia memutar-mutar jarinya mengelilingi tonjolan kecil yang sudah sedikit mengeras itu. Ia berhenti beberapa detik, kemudian ia lanjutkan lagi dengan memelintir tonjolan itu,menariknya kemudian ia lepas lagi. Membuatku semakin merasa terangsang. Bulu romaku saja berdiri semua akibat ulahnya itu.

"AAAA!" pekikku ketika ia dengan tiba-tiba meremas apa yang ada dalam bawahanku itu, tak hanya itu kegiatannya ia barengi dengan menggigit kecil tonjolan yang tadi ia mainkan itu.

"Hn," ia menatapku sebentar masih sambil menggigiti tonjolan-tonjolan kecil itu. Dan tangan yang tadi dengan jahil meremas 'milikku' itu kini dengan lembut memanjakan tubuh bagian bawahku itu. Akupun yang merasakan sensasi kenikmatan itu hanya mampu untuk menutup mulutku. Jangan gila! Ini masih jam 10 malam, dan kami kini berada di apartement yang mana antara satu dinding dengan dinding yang lain saling berjarak sangat tipis. Walaupun aku bisu, tapi suara aneh yang bisa saja mengundang kecurigaan dari tetangga pasti akan terdengar dan aku tak ingin mengambil resiko yang cukup besar akibatnya untuk kami, jadilah aku menutup rapat mulutku saat ini.

"Nnnn…aaa…" desahan yang tak sengaja keluar saat kurasakan 'milikku' memasuki sebuah ruangan yang lembab, dan ketika ku tolehkan kepala ku menatap apa yang saat ini ia lakukan pada benda milikku itu, betapa kagetnya aku ketika kudapati ia dengan dan tanpa rasa jijik sekalipun menjilat dan mengulum 'milikku' kedalam mulutnya.

Aku berusaha mendorong kepalanya dari bagian bawahku itu, namun sepertinya usahaku tak berhasil malah ia semakin jahil mengerjai bagian bawahku itu, menggigitinya, mengulum, menghisapnya, membuat tubuhku semakin melengkung kedepan karena sensasi aneh tapi nikmat yang kurasakan.

"Aaa…nnnnn…" nafasku terengah-engah meladeni permainan yang ia lakukan padaku yang baru pertama kali kurasakan.

SREETTT…

Dibaliknya tubuhku dengan tiba-tiba tanpa aba-aba apapun, ditariknya bagian pinggangku agak keatas hingga menampilkan bongkahan pantatku yang kenyal dan menekan kebawah bagian pinggang keatas.

"Aaa aaan aau aauuaann?"kutanyakan apa yang akan ia lakukan padaku dengan gerakan tiba-tiba seperti itu.

"Aku akan mempersiapkan dirimu dulu Dobe," ia mengambil sebuah lotion didekat laci sebe;ah kiriku, dan yang baru aku tahu ternyata dia punya lotion seperti itu. Ia menuangkan lotion itu diantara celah kedua bonkahan pantatku, rasa dingin segera menjalar dari sana.

Ia mengusap lotion itu dengan merata, ia selingi juga dengan kegiatan menusuk-nusukkan jarinya kedalam lubang sempit milikku itu. Beberpa kali ia lakukan hal itu, dan satu jari berhasil masuk kedalamnya, dimaju mundurkannya jari itu dengan pelan kemudian semakin cepat. Dan kini kurasakan sebuah jari berusaha masuk lagi menemani si jari pertama didalam sana, sakit memang tapi masih bisa kutahan. Lalu, jari selanjutnya menyusul, membuat bagian dalamku itu sesak, kali ini rasa sakitnya lebih terasa dari yang kedua. Ia terus memaju mundurkan jari-jarinya didalam sana hingga jari-jari tersebut berhasil menemukan sesuatu yang membuatku mendongakkan kepala, dan memekik tanpa suara. Tubuhku sedikit bergetar ketika jari-jari itu menyentuh sesuatu didalam sana.

PLOP, ia mengeluarkan jari-jarinya dari dalam sana. Ia menggantinya dengan sesuatu yang lebih besar dan panjang juga berdenyut yang telah ku ketahui apa itu.

"Tahan sedikit Dobe, ini mungkin lebih sakit," ia memelukku dari belakang membisikkan kata itu didekat telingaku dan terkadang meniup telingaku membuatku semakin geli. Sebelah tangannya memposisikan 'miliknya' agar tepat berada di lubang itu, dan tangan satunya lagi menyentuh 'milikku'. Perlahan ia mendorong tubuhnya kearah depan dan dengan otomatis 'miliknya'pun terdorong perlahan memasuki lubangku. Sakit! Walaupun ia tadi sudah mempersiapkan diriku tapi tetap saja terasa sakit.

"Mmmm!" kutahan rasa sakit itu dengan menggigiti futon dibawahku. 'KLOP' miliknyapun sepenuhnya telah berada didalam tubuhku.

"Aku bergerak, Dobe," hanya anggukan lemah yang adapat kuberikan sebagai balasan. Ia bergerak pelan, mengeluarkannya kemudian memasukkannya lagi dengan pelan, masih membuat bagian bawahku terasa sedikit sakit. Semakin lama gerakan yang tadinya pelan kini bertambah cepat, hingga tubuhku bergerak maju mundur dengan cepat, futon dibawahkupun ikut berantakan akibat gerakan yang kami lakukan.

"Aannnn….. nggghhh….. sssshhh…" desahnya disela-sela kegiatan yang cukup brutal yang ia lakukan pada bagian bawahku saat ini. Sakit yang tadi sempat kurasakan kini berganti dengan kenikmatan yang pertama kali kualami.

"Aaa…. Nnn.. aaa…" desahan ku keluar ketika kurasakan 'miliknya' yang berada dalam tubuhku itu berdenyut denyut dan ia semakin mempercepat laju gerakannya.

"Iku! Iku! Iku!" ketika itu juga kurasakan semburan sesuatu didalam tubuhku, membuat perutku terasa penuh. Dan beberapa saat kemudian akupun mengeluarkan cairan putih kental yang baru kutahu bernama sperma itu.

"Haa… haaa.. haaa…" ia berusaha mengatur nafasnya, dikecupnya dahiku, lalu untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata-kata yang sangat membuatku bahagia, "Aku mencintaimu Naruto," kubalikkan tubuhku agar aku dapat memeluk tubuhnya menghirup aroma tubuhnya dan membalas kata-kata yang ia ucapkan.

"Aaiieeeuuu oo eeeeee, eee"

'Aishiteru yo Teme, ehe'

Keesokan harinya….

To: Naruto

Terima kasih semalam.

Karena tak tega untuk membangunkanmu aku sudah berangkat duluan.

Aishiteru yo Dobe,

Tunggulah 2 minggu lagi.

From: Sasuke

Surat yang ia tinggalkan untuk pemuda bersurai pirang yang baru saja terbangun namun sangat panic begitu tak melihat sosok sang kekasih disampingnya. Namun, kepanikannya hilang ketika ia menemukan sepucuk surat singkat dengan secangkir teh yang Nampak sudah agak dingin beserta sarapan diatas meja didekatnya itu. Pemuda bersurai pirang itu hanya tersenyum membaca surat yang ditulis oleh sang kekasihnya itu.

'Cepatlah kemabali, Teme, aku juga sangat mencintaimu hehe,' batinnya, dikecupnya surat itu seolah-olah yang ia kecup adalah sang kekasih hati. Kemudian ia lipat surat itu dengan sangat rapi ia letakkan disebuah kotak berwarna jingga. Ia pun bergegas bangun, menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian melakukan rutinitas seperti biasa, bekerja. Bekerja sekalian mengumpulkan uang dan menunggun kepulangan sang kekasih tercinta…

shiawaseninarushiawaseninaru

Part 2

End