Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Frienship

Pair: Hinata, Sasuke

Warning: OOC, AU, Alur kecepetan

Hinata: 15 tahun

Sasuke: 15 tahun

Chapter 2

Hinata POV

TOK…TOK…TOK…

"Nona, sudah saatnya anda bangun."

Aku membuka mataku sedikit, saat mendengar salah seorang pelayanku membangunkanku.

"Iya, aku bangun sekarang."

Setelah memberi jawaban aku mulai beranjak dari kasurku menuju kamar mandi.

SRASH

Air hangat mengguyur tubuhku, tidak perlu waktu yang lama aku sudah selesai membersihkan tubuhku. Aku berjalan ke kasurku dan memakai seragam yang sudah disiapkan diatasnya.

"Pagi, Tou-san."

"Pagi."

Aku duduk di kursi meja makan di samping Tou-sanku. Aku mulai memakan sarapan yang sudah disiapkan pelayanku.

TIN…TIN…

Tak lama kemudian suara mobil terdengar.

"Kau itu tidak kasihan pada Sasuke? Setiap pagi menjemputmu padahal sekolah kalian berbeda."

"Hehehe…. Tidak apa-apa,kan? Lagipula kan yang nyetir sopirnya Sasuke. Sasuke juga tidak keberatan mengentarku dulu."

"Dasar kamu ini, ya sudah habiskan makananmu, nanti Sasuke yang telat masuk sekolah."

"Iya Tou-san."

TIN…TIN…

"Aaa, tidak sabaran. Tou-san, aku sudah selesai, aku berangkat dulu ya."

"Iya, sampaikan pada Sasuke terima kasih Tou-san."

"Iya, dah Tou-san."

Aku melangkah menuju luar rumah dan masuk ke dalam mobil Sasuke.

"Dasar lambat."

"Uhh… Aku kan masih makan."

"Kau dari dulu tetap saja lambat."

"Daripada kau pantat ayam."

"Hn."

"Huh… masih pagi sudah membuat aku kesal."

"Hn, lalu?"

"Setidaknya kan, kamu bisa bersikap baik padaku."

Sejenak Sasuke melirik ke arahku, lalu mengangkat salah satu tangan dan mencium punggung telapak tanganku.

"Selamat pagi, tuan putri."

Aku merasa wajahku sudah merah semerah tomat kesukaan Sasuke, langsung saja kutarik tanganku yang diciumnya tadi dan menghadap ke arah lain.

"Nah, itu kau sendiri yang tidak mau."

"Ta..tapikan bukan berarti yang seperti itu."

"Memangnya mau yang gimana?" Kata Sasuke sambil menatap lekat ke arahku.

"Aaa… sudah, gak usah aneh-aneh"

Aku dapat melihat Sasuke tersenyum ke arahku. Sebelum kembali menatap jalanan di depan.

"Nona sudah sampai."

Segera aku turun dari mobil itu. Tetapi Sasuke memegang tanganku, menahanku untuk keluar.

"Nanti aku jemput disini, belajar yang rajin sebentar lagi ujian."Katanya sambil mengacak rambutku.

"Iya..iya…" Aku langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju kelasku, sementara mobil Sasuke sudah pergi.

TENG TENG

Jam pelajaran sudah dimulai tetapi aku sama sekali tidak memperhatikan guru yang mengajar di depan kelasku.

Sudah 9 tahun aku berteman dengan Sasuke, walaupun SD dan SMP tidak 1 sekolah, aku tetap dapat setiap hari bertemu dengan Sasuke. Ingin juga,sih masuk sekolah yang sama dengan Sasuke. Jadi tidak sabar setelah lulus SMP ini aku akan masuk ke Konoha High School, sekolah yang ingin dimasuki Sasuke, aku jadi bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Sasuke.

Ups… ini rahasia ya, sebenarnya aku suka dengan Sasuke. Kira-kira dari awal masuk SMP aku sudah menyukainya.

"Hinata coba kerjakan soal di papan."

Perkataan guruku membuyarkan lamunanku. Aku memperhatikan soal di papan itu sejenak, sebelum maju dan mengerjakannya.

Tidak butuh waktu lama untuk mengerjakan soal tersebut, maklum saja bisa dibilang aku ini salah satu anak terpintar di sekolahku ini.

TENG TENG TENG

Akhirnya selesai juga pelajaran hari ini, aku tidak sabar pulang menemui Sasuke yang sudah menjemputku. Segera saja aku keluar sekolah dan mencari mobil Sasuke.

"Hhh…kok tumben belum dating."

Aku memperhatikan sekelilingku, berharap menemukan mobil Sasuke. Tidak terlalu lama menunggu, mobil Sasuke datang. Tanpa menunggu lebih lama aku masuk ke dalam mobilnya.

"Maaf, kamu sudah menunggu lama?"

"Tidak juga. Aku baru keluar."

"Hn."

Setelah sampai di rumah seperti biasa, Sasuke ikut masuk ke rumahku dan duduk di kasurku, Sasuke memang sudah seperti saudaraku, aku juga tidak mempermasalahkan keberadaan Sasuke di kamarku. Aku mengganti bajuku di kamar mandi, saat keluar Sasuke sudah sibuk mengutak-atik laptopku.

"Gak ganti baju?"

"Kenapa? Kamu mau lihat?"

"Apaan sih? Dasar mesum."

"Kamu juga udah sering lihat aku ganti baju."

"Iya,sih. Tapi,kan sekarang kita sudah besar."

"Hn? Besar?"

"Iya, bes- eh? Dasar mesum apa yang kamu maksud."

"Kamu sendiri yang ngomong."

"Udah, sana ganti baju. Kamu bau keringat."

Sasuke memandangku agak lama.

"Apa?"

"Masih nanya?"

"Dasar."

Aku mendekati Sasuke dan melepaskan dasi seragam yang digunakannya.

"Masa begini saja, tidak bisa?"

"Hn. Kalau aku bisa juga, tetap kamu yang harus ngelepasin."

"Kenapa harus aku?"

"Hn, latihan jadi istri yang baik."

"Eh? I..istri? Memangnya siapa yang mau jadi istrimu?"

"Oh… jadi kamu gak mau?"

"Bu..bukannya tidak mau aku,kan tidak bilang begitu."

"Jadi mau?"

"Aaa… sudah ah. Jadi pacar saja belum."

"Mau jadi pacarku?"

"Hah?"

"Hmm…?"

"….."

"….."

"….."

"Berarti kamu mau. Mulai hari ini kamu pacarku."

"Eh? Aku,kan tidak bilang mau."

"Kau menolak aku?"

Sasuke memandangku dengan tatapan yang… Uh…aku belum pernah lihat sebelumnya. Tapi sepertinya Sasuke serius dengan ucapannya.

"Tapi kita kan mau menghadapi ujian."

"Kau takut tidak lulus."

Aku menggeleng.

"Atau kau takut saat ujian nanti kau malah menulis namaku di setiap jawabannya?"

"Sasuke…! Aku kan nggak separah itu."

"Lalu?"

"…"

"Selain lambat kau juga tidak pintar cari alasan."

"Huh.. Kalau begitu ngapain kamu punya pacar kayak aku."

"Jadi kamu pacarku?"

"Aaa…"

Lagi-lagi aku kalah bicara dengan Sasuke. Tapi masa iya ya aku cari alas an? Hhh…padahal aku hanya tidak siap saja.

"Hn, jadi Hinata-koi. Kapan kau akan bilang ke Tou-sanmu kalau kau sudah punya calon suami."

"Sasuke kita masih SMP."

"Tak masalah hanya tinggal lulus SMA, aku pasti akan melamarmu."

"Hah? Kau itu sebenarnya mesum atau maniak sih?"

"Kalau tentangmu, sih. Dua-duanya."

BUK

Aku melemparkan buku matematikaku yang berukuran jumbo tepat di kepalanya.

"Aww…. Hei kau ingin membuat aku hilang ingatan apa?"

"Iya."

"Kamu ingin aku dirawat di rumah sakit?"

"Iya."

"Kau senang membuatku menderita?"

"Iya."

"Kau ingin aku melupakanmu?"

"Iy- Eh? Bukan begitu."

Hah?… aku tidak sadar kalau Sasuke bertanya hal-hal seperti itu. Bagaimana sih aku ini malah menjawab seperti itu.

"Sasuke?"

"Ya baiklah kalau begitu."

Sasuke mengambil buku yang tadi kulemparkan dan memberikannya kepadaku.

"Katanya suka lihat aku menderita. Lempar lagi aja."

"Bu..bukan begitu." Aku melempar buku itu ke arah lain.

"….."

"Sasuke kamu nggak marah,kan?"

"Nggak."

"Bener?"

"Hn."

"Huh, ya udah aku telepon Itachi-nii aja." Aku mengembil hp-ku yang ada di dekat Sasuke. Sasuke menatap tajam kearahku.

"Untuk apa?"

"Ya untuk main ke sini. Kan kau lagi marah."

"Tidak usah telepon si baka itu."

"Lho,kan Itachi-nii itu anikimu. Masa tidak boleh ke sini."

"Tidak, mulai hari ini baka aniki tidak akan pernah kuijinkan masuk ke kamarmu lagi."

"Memangnya kau berhak?"

Aku dan Sasuke menoleh ke sumber suara, ternyata Itachi-nii datang.

"Itachi-nii."

Itachi-nii melangkah masuk ke dalam kamarku dan ikut duduk di kasurku tepat diantara aku dan Sasuke. Sasuke hanya melempar deathglare-nya pada Itachi-nii, tentu saja Itachi-nii tidak terpengaruh dengan tatapan Sasuke itu dan balik menatapku, memunggungi Sasuke.

"Hai, cantik. Bagaimana harimu? Apa menyenangkan bersama dengan otouto-ku ini."

"Hehehe….Buruk. Sasuke selalu saja menggodaku."

"Oh ya? Kalau begitu kau mau pergi denganku?"

"Kemana?"

"Hei, baka aniki! Jangan seenaknya kau mengajak pacarku pergi."

"Pacar? Hinata, kamu mau dengan anak seperti dia."

"Emm…." Aku mengangguk.

"Wah…wah….Kasihan sekali tuan putri yang cantik jadi pacarnya seorang pangeran ayam."

"Urusai! Pergi saja kau aniki."

Sasuke mendorong-dorong Itachi-nii untuk keluar dari kamarku.

"Hahaha…..sampai jumpa saat makan malam nanti, putri cantik. Sasuke tak bisakah kau mengalah pada anikimu ini."

"Tidak dan tidak akan pernah."

Kata Sasuke sebelum berhasil mengusir Itachi-nii.

BRAAK

Pintu kamarku sukses dibanting oleh Sasuke.

"Cih, untuk apa dia ke sini. Merusak mood saja."

"Hehehehe….."

Aku tidak kuat menahan tawaku, saat ini seperti sedang melihat Sasuke saat pertama kali bertemu dulu. Wajah dan sifatnya seperti anak kecil.

"Apa?"

"Sasuke kau cemburu ya? Hehe…"

Godaku pada Sasuke, aku masih belum bisa menghentikan tawaku.

"Iya, kenapa?"

Jawaban Sasuke menghentikan tawaku. Aku tidak menyangka Sasuke akan menjawab seperti itu.

"Sasuke, kamu cemburu sama Itachi-nii?"

"Aku tidak peduli aniki atau orang lain. Aku tidak akan menyerahkanmu. Aku masih memegang janjiku dulu."

Sejenak aku kembali teringat janjiku dan Sasuke 9 tahun lalu.

'Iya ya aku kan yang minta janji kenapa jadi aku yang lupa. Tapi,kan aku tidak janji akan jadi pacarnya Sasuke.'

"Iya deh maaf."

"Hhh…. Sudahlah. Besok kau harus ikut aku."

"Kemana?"

"Ke sekolahku."

"Buat apa?"

"Lihat aja besok."

Aku terus memikirkan kira-kira untuk apa Sasuke ingin mengajakku ke sekolahnya? Sudahlah besok aku juga akan tahu. Akhirnya kupejamkan mataku dan mulai masuk ke alam mimpiku.

Aku menunggu mobil Sasuke menjemputku. Saat pelajaran tadi aku sibuk memikirkan alasan Sasuke membawaku ke sekolahnya.

Aku melihat mobil Sasuke dari jauh dan langsung masuk begitu mobil itu berhenti.

"Sasuke ngapain kamu ngajak aku ke sekolahmu?"

"Nanti,kan kamu juga tahu."

"Huh..Bikin penasaran aja."

Tak berapa lama akhirnya sampai juga di sekolah Sasuke. Memang berbeda dari sekolahku, sekolah Sasuke lebih besar dan lebih terlihat mewah. Aku mengikuti Sasuke turun dari mobil dan masuk ke dalam salah satu kelas di lantai 3 itu. Saat masuk ada beberapa siswa yang sudah ada di dalam.

"Sasuke kau lama sekali."

"Hn, jaraknya jauh."

"Sudahlah Gaara, Sasuke. Langsung saja."

"Hn. Hinata, kenalkan mereka teman-temanku."

Aku sebenarnya masih bingung tetapi ya sudahlah toh ada Sasuke.

"Aku Kiba, salam kenal."

Satu persatu mulai memperkenalkan diri padaku. Saat mereke semua selesai memperkenalkan diri aku melirik Sasuke mencoba menanyakan maksud dari ajakan Sasuke ke sekolahnya ini.

"Hebat juga kau, Sasuke. Kau yang paling pertama. Pacarmu cantik juga."

Perkataan seseorang yang kuketahui bernama Kiba, membuatku semakin bingung.

"Hhh….nih."

Gaara, anak yang berambut merah itu menyerahkan sebuah amplop kepada Sasuke.

"Taruhan ini aku yang menang,kan."

'Eh? Taruhan? Menang? Apa jangan-jangan Sasuke menembakku untuk bahan taruhannya?' Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari meninggalkan kelas itu dan juga Sasuke.

"Eh? Hinata!"

Aku menyadari Sasuke mengejarku, tetapi aku tetap berlari dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat. Aku menangis, aku bingung kenapa Sasuke bisa membuatku sebagai bahan taruhannya.

Aku berjalan memasuki rumahku, rasanya lututku sangat lemas.

"Hinata, lho mana Sasuke?"

"….."

Aku hanya menunduk saja. Itachi-nii yang saat itu melihatku menangis mengangkat sedikit daguku.

"Kau kenapa?"

Aku tidak menjawab pertanyaan Itachi-nii. Perlahan tangan Itachi-nii menghapus air mataku.

"Sudah, jangan menangis terus."

Tanpa sadar aku memeluk Itachi-nii. Menangis dalam pelukannya.

"Hinata! Ah?"

Aku mendengar suara Sasuke tetapi aku malah makin erat memeluk Itachi-nii. Aku sadar saat Sasuke pergi dari rumahku. Tapi aku tidak menghentikannya, aku sakit. Aku hanya diam begitu pula dengan Itachi-nii.

Apa harus semuanya berakhir seperti ini.

TBC